Showing posts with label Khilafah. Show all posts
Showing posts with label Khilafah. Show all posts

Sunday, December 16, 2012

CAT : [35] "HANYA WACANA CUMA WICARA"


oleh Hasan Al-Jaizy


Pernah seorang berilmu membahas topik Bersuci. Ia berusaha mengasah keilmuannya dengan membicarakan apa yang baru saja dibaca dari buku. Tiba-tiba muncul seorang pemuda, 'Hare gene, Tong, lo masih ngemeng Bersuci?'

Ada beberapa dari kita baru merasa terangsang jika berbicara masalah 'Khilafah', perjuangan Palestina, demokrasi, sekularisme, aliran sesat dan sebagainya. Jika ada pembahasan Kitab Tauhid, Bab Takut Akan Syirik ---> skip skip skip. Hare gene ngebahas Syirik? Katanya, 'Lo kira gue rendahan en bodo ga ngerti sirik?'

Padahal orang yang banyak ilmunya, suka berbicara tentang agama dan banyak menukil ayat-hadits, bisa terjatuh dalam 'kesyirikan ashghar' jika ada riya di hatinya. Sekarang, bagaimana

Monday, November 26, 2012

Membuang "Hajat" Di Depan Umum

oleh Hasan Al-Jaizy

Semua orang bisa saja mengaku-ngaku. Semua orang bisa saja mengklaim diri sebagai....Semua golongan bisa saja mensifati golongannya sebagai...

Sebuah komunitas bisa saja mengklaim adanya kerinduan mereka akan syariah dan khilafah. Dan siapakah dari engkau tiada rindu akan syariah dan khilafah!? Tapi, mungkin lawakan dunia ini tidak mesti tersurat sebagai lawak; namun cukuplah orang-orang tertentu mengerti bahwa itu adalah lawak. Seperti Pak De Su'aid mengklaim kerinduannya akan negeri yang bermadzhab murni Syafi'i, namun rupanya sebatas 'ngemeng'. Karena di keseharian yang dibicarakan hanya sawah, sawah, dan sawah.

Ironi bercerita padaku tentang ironi. Yaitu ketika para perindu syariah sehari-hari hanya bicara tentang perpecahan, fitnah, nafas fanatisme kelompok, dan lainnya. Lalu kemana gerangan

Saturday, September 22, 2012

Beberapa Point

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point untuk sore Ahad kali ini:

[1] Pencari ilmu muda yang tergesa-gesa dalam menuntut ilmu, menandakan adanya penyakit yang menyusup pada niatnya. Ia ingin cepat dapat ini dan itu, seperti gelar atau posisi di mata manusia. Inilah kengerian yang menjamur ada di zaman sekarang. Mari, kita melihat pada diri kita kemudian.

[2] Nah, sebagaimana pula yang terpaku pada dua hal: 'Khilafah' dan 'Penegakan Syariah', TANPA mengerahkan dan menyerahkan diri untuk belajar tekun bermasa-masa mendalami syariah. Ada juga yang sekadar menjadi ekor ikut kemana-mana sembari mempromosikan ide penegakan Syariah dan Khilafah [dua pencapaian yang mulia], namun sendirinya tidak menerapkan syariah pada dirinya dan tidak mampu menjadi khalifah bagi jiwa-nafsunya.

[3] Menunjukkan adanya kedangkalan pemahaman, atau kecacatan niat. Ketergesaan menyebabkan terhalangnya penggagas dari tujuan. Meskipun semangat membadai [hamasah] dan kekuatan gemuruh membahana [voice], tapi jika tidak diimbangi dengan isi [ilmu] dan penerapan [praktek], berarti itu seperti mengharapkan kucing jantan bertelur. Orang yang tak punya takkan memberi.

[4] Kalau begitu, jangan heran ketika idealisme gagap yang bergaram namun tanpa sayur-mayur, menghambarkan rasa. Sebenarnya kekosongan yang didapat. Jikalau ada sesuatu yang didapat, maka itu hanyalah sensasi semu semata. Terlihat seperti melihat oase di tengah padang pasir, namun setelah berlari semangat membunuh haus, haus kembali menjadi sebuah momok kekosongan yang menyebabkan asa mati, juga merasa semuanya sia-sia dan menganggap diri terkhianati.

You percaya atau tidak, tidak akan mengubah kepercayaan saya.

Friday, June 1, 2012

Gandengkan Dua Pemahaman!

oleh Hasan Al-Jaizy

Gandengkan Dua Pemahaman!

Kami tidak menemukan rekan-rekan muda [terutama mahasiswa] yang keseringan ngoceh tentang Fiqhul Waqi [pemahaman realitas] melainkan mereka memilki kualitas yang sangat rendah mengenai Fiqh AN-Nushush [Pemahaman Teks/Tekstual]. Dan buruknya, mereka merasa sudah bisa menegakkan agama dan kepemimpinan hanya bermodal Fiqhul Waqi.

Menceburkan hati dalam kabar dunia Islam, wawasan umum dan tinjauan realitas tentu tidak tercela. Namun ingat, itu TIDAK menjadikan seseorang menjadi faqiih dalam agama. Karena itu, bisa dikatakan wajar ketika mereka mencela kami dengan sebutan 'orang-orang yang terpaku pada teks dan kitab kuning'.

Kami sungguh memaklumi keadaan jiwa mereka yang sebenarnya labil. Jiwa tanpa pegangan tentunya labil; meskipun mereka merasa kuat tertancap di realitas. Namun realitas mewartakan pada kami bahwa mereka adalah kuli fakta dan buta warna. Yeah, kuli fakta namun buta warna hukum syariah.

Fakta realitas dikumpulkan namun di mana warna tekstual? No...hitam-putih. Ke mana pemahaman mereka akan bahasa Sang Pencipta? No...hitam-putih.
Fakta mereka memang banyak terwarta...namun sungguh mengenai syariah, mereka adalah buta.

Apakah ini yang disebut calon pembangun syariah di Indonesia?

Kami tidak ingin tertawa.


Huruf realitas takkan menjadi kalimat tanpa gandengan grammar tekstual [Al-Quran = As-Sunnah]

Karena mereka mencoba menterjemahkan hukum untuk realitas dengan perasaan dan emosi muda [HAMASAH?], namun mereka enggan dan tidak mampu memang untuk menterjemahkan hukum untuk realitas dengan TEKS [ILMU].

Semangat tanpa ilmu? Ceburkan saja diri sendiri pada kali yang keruh.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/396660860375305

Friday, May 25, 2012

Tiket Menuju Neraka

oleh Hasan Al-Jaizy

Tiket menuju keabadian siksa neraka itu tidak hanya pada konser Lady Gaga, tapi ada juga tersedia di kuburan2 keramat.

Kalimat di atas sebatas sarcasm untuk beberapa ikhwah dari hizb tertentu yang menentang perencanaan konser tersebut karena masalah AQIDAH. Tentu saja kita mengamini penentangan itu. Terlepas dari cara, namun substansinya...baik.

Jika itu alasannya [yakni: AQIDAH] maka jangan salahkan kami juga ketika kami membahas masalah kesyirikan di kuburan2 keramat yang sebenarnya lebih umum dan merata dibanding konser LG. Jadi, jangan kalian halangi kami berbicara karena kami juga bicara masalah asasiyyah, yaitu Aqidah.

Namun, jika ternyata suatu saat kalian me-ridicule wacana kami, maka kami siap me-reply dengan link hizb kalian bahwa dulu kalian juga menentang kekufuran dan kesyirikan, dengan cara yang belum tentu lebih baik dari kami.

Intinya: Ya, selamatkan aqidah umat.
Tajamnya: Selamatkan aqidah umat sebelum berbicara masalah khilafah syar'iyyah.
Tajamnya lagi: Selamat aqidah di hati sendiri dulu sebelum menata aqidah umat.

Untuk setiap upaya, insya Allah ada ganjarannya.



Friday, March 30, 2012

Ingin Bersatu? Tunaikan Jama'ah Dulu!

oleh Hasan Al-Jaizy

Pernah shalat berjama'ah? Alhamdulillah. Now, apa yang Anda rasakan ketika keluar pintu masjid selepas shalat? Adakah rasa lega, tentram, ingin beramal baik kemudian dan semacamnya? Jika ada, kabar gembira untuk Anda, karena itu adalah salah satu tanda Anda telah beramal salih. Jika tidak ada dan sama saja, coba dicek hatinya ikhlas atau tidak ketika ingin berjamaah.

Pernah shalat fardhu sendirian tanpa alasan? Alhamdulillah ala kulli hal. Rasanya gimana? Beda, toh? Shalat wajib sendirian, kesepian, belum lagi godaan dan bisikan. Serigala kerubungi domba yang single, bukan?


Sebelum berbicara tentang persatuan umat, kita berfikir cermat...pada diri kita sendiri. Bagaimana mungkin kita obral kata persatuan, sementara ketika ada kumandang 'Hayya alas solaaaah', kita tak menjawab dan tak ikut serta. Kumandang adzan adalah seruan persatuan, bukan?

Logikanya: Anda meminta umat bersatu dan tidak berpecah belah. Tapi ketika Anda dipanggil dan diseru untuk bersatu, ternyata Anda tidak mau. 

Malah memilih berpencar. Baiklah, shalat berjama'ah itu menurut madzhab Syafi'i bukan wajib ainy; meskipun ada kandungan persatuan di dalamnya. Tapi...

Apa ga pengen kita bersatu dengan umat Islam 5 kali sehari?
Apa ga pengen masuk surga bareng2 umat Islam melalui jama'ah?
Apa ga pengen melihat persatuan 5 kali sehari tanpa pandang perbedaan?
Apa ga pengen persaudaraan semakin erat dengan barisan?
Apa ga pengen nanti di akhirat kita melihat saudara kita lalu mengingat ia adalah orang yang paling sering berpapasan atau bersebelahan ketika shalat di masjid?

Apa ga pengen dapat keutamaan peninggian derajat 25-27? 

Ingin Bersatu? Tunaikan Jama'ah Dulu...


 Ingin Bersatu? Tunaikan Jama'ah Dulu...

Coba deh liat kakek-kakek rajin sekali shalat Jama'ah. Mereka seperti itu karena terbiasa sejak muda.
Apa ga pengen nanti di masa tua kaki tidak terasa berat menuju masjid?

Coba liat deh beberapa pedagang di pasar atau jalanan beberapa sempatkan waktu menuju masjid tuk berjama'ah.
Apa ga malu, pendidikan tinggi dan punya penghasilan tapi kaki rasanya berat ke masjid?

Sebenarnya bukan kaki yang berat, namun HATI. Hati yang berat akan jadikan segalanya berat. Nah, mari yuk dicek lagi hati nya.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/357064124334979

Tuesday, March 27, 2012

Mereka Tidak Mendengarmu

oleh Hasan Al-Jaizy

Saya mengerti dan berusaha memahami perasaan kawan-kawan mahasiswa yang berdemo dan berunjuk rasa atas nama Anti-Kenaikan BBM. Tapi, apakah kawan-kawan mengerti dan berusaha memahami perasaan saya yang sebenarnya sedih dan benci melihat kawan-kawan berkerumun seperti itu di tengah jalan!?

Saya juga bagian dari rakyat, kawan-kawan. Kalau mau dibilang kecil, saya juga rakyat kecil, bahkan mungkin l

ebih kecil dari kalian. Disuruh bayar biaya kuliah pun, saya sangat tidak mampu. Tiap hari bergelut di dunia angkutan umum dan saksikan kesengsaraan manusia di jalanan, tak jadikan jasad dan hati ini tergerak berdemo ke jalanan.

Kalian toh juga penerus mereka...penerus orang-orang yang kalian demo. Berbuat serupa pada siapapun, maka siapapun kelak akan berbuat serupa padamu. Nanti ketika kalian menjabat dan meninggi, akan terjadi hal serupa padamu. Junior-juniormu akan menggugat keputusanmu di jalanan. Sebagai calon / penerus, apakah kalian terus-menerus ingin menjadi generasi 'turun-jalan-teriak-terkepal-genggaman' sementara solusi yang lebih sehat ala mahasiswa bijak masih bisa dicari.





Apakah mereka dengar teriakanmu? 
Apakah mereka ijabkan protesmu?
Apakah mereka takuti kepalan tanganmu?
Ataukah semuanya adalah belaka bernilai debu?

Sebagai the-nex-generation, kita persiapkan dari sekarang untuk menjadi the-next-big-thing. Dan itu tidak dengan cara gerakan fisik yang sebabkan kemacetan lalu lintas dan sumbatan fikiran. Jalanan membuat kita esmosi...semakin esmosi, semakin menjadi-jadi. Yang akhirnya, justru berubahlah alur hati...yang tadinya ingin memberi aspirasi....eeeh, malah jadi ingin dilihat, dianggap, dipandang bahwa....

"Aku adalah mahasiswa yang punya suara"
"Aku adalah pembela rakyat kecil"
"Aku berdiri di sini demi kalian"

No, suara mahasiswa yang emosional tak dianggap
No, rakyat kecil juga merasakan kemacetan akibat kalian
No, kami di sini justru jadi esmosi melihat kalian

mengatasnamakan rakyat kecil...semua nya mengatasnamakan rakyat kecil...mengaku pembela...benarkah itu? Ask your heart!





Friday, December 30, 2011

Memulai Khilafah Darimana?

oleh Hasan Al-Jaizy

Memulai dari diri sendiri tak selalu mudah; mungkin pula sulit dan butuh waktu.

Tanyakan: 'Memulai dari diri sendiri saja tak mudah dan butuh waktu, bagaimana pula dengan membuat orang lain memulai?'

Tanyakan: 'Membuat 1 jiwa tuk memulai saja tak mudah dan butuh waktu, bagaimana pula dengan membuat satu negara memulai?'

Jadi,

mulailah praktekkan syariah pada 'orang pertama tunggal' [First Singular Person] sebelum 'orang kedua tunggal' [Second Singular Person]. Lalu bagaimana dengan 'Second Plural Person'? Jangan terburu-buru, kawan. Kau tak terbebani kecuali apa yang dirimu termampu.

http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/301042773270448

Monday, December 19, 2011

A Frame of Mind

oleh Hasan Al-Jaizy

 Frame of mind

Description and Solution

a. Description: Syi'ah menyerang [sebagaimana Yahudi laknatullah alaihim] umat Islam Ahlus-Sunnah dengan fisik dan non-fisik. 

Dengan fisik ketika mereka punya daya secara fisik, melukai, menyiksa, membunuh, merampas kehormatan dan menganiaya Ahlus Sunnah di Iraq bekerjasama Iran-Yahudi-USA. Khususnya ahlus Sunnah di Iran.

Dengan non-fisik, ketika mereka belum punya daya secara fisik. Mereka menyebar propaganda ala syi'ah, dengan menyusup ke masyarakat, inteleknya atau awamnya, melalui pengajian2 tersembunyi, yayasan2 tertutup, majelis2 dzikir, ziarah2 makam para wali dan sebagainya. Dan itulah YANG SEDANG digencarkan di Indonesia; sadar atau tidak, kesadaran hanyalah dimiliki oleh yang akal dan hatinya terbuka.

b. Solution:
--> Belajar, terutama Aqidah, makna2 ayat dan hadits, juga bahasa Arab.
--> Mengamalkan ilmu Syariah, dimulai dari praktek pribadi.
--> Menyebarkan ilmu. Jika tidak punya majelis, sebarkan ke teman terdekat. Dan betapa banyak dan berapa juta individu muslimin MEREMEHKAN dakwah via FB.
--> Minimalisir menonton TV

Dan tiada solusi/jalan keluar kecuali untuk DIPRAKTEKKAN. Meskipun ada 1000 solusi namun sekedar teori tanpa usaha praktek, tak berikan perbedaan.

Wallahu a'lam


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/295165930524799

Sunday, November 6, 2011

Sedikit Tentang Khilafah

oleh Hasan Al-Jaizy

Khilafah adalah hibah dan hadiah termulia bagi umat Islam. Hadiah tersebut [khilafah] adalah janji dari Allah. Dan janji Allah takkan diberi tanpa ada syarat. 

Allah Ta'ala berfirman, yang maknanya:

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka BERKUASA dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa" [Q.S. An-Nuur: 55]

Dari ayat di atas, layaknya kita mengambil kesimpulan bahwa syarat agar mendapat 'hadiah' tersebut adalah:

1. BERIMAN. Dan perihal beriman bukanlah hal yang mudah dan ringan di neraca; karena kita harus mengetahui, mengilmui dan mengamalkan. Artinya: tegakkan dahulu kalimat TAUHID. 

Fact: Yang kita saksikan, beberapa ikhwan pemrakasa kalimat 'Khilafah' justru meremehkan masalah tauhid atau bahkan mengabaikannya. Diperparah oleh sikap sebagian yang merendahkan ikhwan lainnya yang berusaha mendalami masalah tauhid, berdakwah dengannya dan mendakwahkan manusia padanya.

2. BERAMAL SALIH. Begitu pula beramal salih bukanlah perkara simple; karena segala amal memiliki syarat. Artinya: beramal salih adalah mengamalkan sesuatu berlandaskan tauhid dan ittiba' kepada Nabi.

Fact: Yang kita saksikan, menggebu sebagian dari kita beramal salih dengan mengabaikan apa yang ada di hati dan juga pelaksanaannya; apakah sesuai, apakah disetujui atau apakah melanggar Sunnah!? Sehingga semua merasa beramal salih; yang zahirnya mungkin salih namun batinnya adalah rusak.

Wallahu a'lam


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/272100206164705