Showing posts with label [Serial KUBURAN KERAMAT]. Show all posts
Showing posts with label [Serial KUBURAN KERAMAT]. Show all posts

Wednesday, February 6, 2013

Pendidikan Kuburan Keramat

oleh Hasan Al-Jaizy

Dulu, kuliah di Madinah, Mekkah, Riyadh, Yaman, bahkan di lipia, adalah sebuah kejarangan dan tantangan. Banyak pelajar berhasrat, namun takdir untuknya tak semuanya tersirat. Sehingga lulusan sana adalah orang2 yang tahu agama, melebihi pengetahuan di atas rata-rata.

Itu masih hingga sekarang. NAMUN, kadarnya tak sewajar dahulu. Pelajar ilmu syariah akademik sekarang toh banyak yang 'ga jadi'. Mudah2an bukan termasuk saya dan kawan-kawan sekalian. Sekarang, semua orang bisa belajar ilmu syariah. Baik berbayar atau gratis.

Jikalau Internet benar-benar dimanfaatkan maksimal, bukan tidak mungkin anak pengajian rutin mingguan 2x, bisa setara pengetahuannya dengan anak-anak akademik formal. Ini jika kita tidak melihat dari segi kapasitas penguasaan ilmu alat mereka (Arabic, Ushul Fiqh dst). Tapi, Internet kini benar-benar curahan rahmat sekaligus...

fitnah

Satu sisi, saya pribadi senang sekali dengan kemajuan kawan-kawan Jogja yang dengan kegigihan, keteraturan, keseimbangan dan 'konspirasi' yang rapi bisa menjadikan generasi yang ngampus ilmu dunia, tapi bisa juga ngaji ilmu akherat. Sehingga, lahirlah para asaatidzah yang tadinya tak mempunyai latar belakang pondok pesantren atau pedepokan religius. Ini karena kegigihan dan konspirasi yang patut diacungi jempol dan dicontoh.

Namun, di sisi lain, saya menerawang sesuatu ke depannya. Sebelum saya jabarkan, perlu ditekankan bahwa tiada gading yang tak retak. Satu sisi Internet adalah rahmat, satu sisi Internet bertaburan kualat. Satu teori dan metode boleh keren di masa kini, namun di masa depan bisa ditinggalkan.

Begini:

Sunday, February 3, 2013

Mengadili Kuburan Keramat

oleh Hasan Al-Jaizy

Pertama, saya pribadi kangen dengan sosok Pak Dr. Daud Rasyid.

Kedua, nasehat Pak De Sa'id periode Mekkah untuk Pak De Sa'id periode Hizby sudah tersebar. Nasehat PK setengah S untuk PKS sedang disebar. Dan yang menyebarnya sekarang adalah ikhwah salafiyyuun, sebagai bentuk nasihat untuk saudaranya. Padahal sebenarnya sudah lama. Nah, suatu saat, jika ada nasehat dari Waskito AM aka Ath-Thaliby atau orang semacamnya untuk ikhwah salafiyyiin, mohon berlapang dada dan jangan langsung berpaling muka seolah-olah tidak punya dosa. Seperti yang tak sekali terjadi. Senang menasehati orang luar, rela dinasehati orang dalam, namun kurang berkenan dinasehati oleh orang yang dianggap bukan daleman. Just be fair lain kali.

Ketiga, setiap hizb senang dengan aturan dan kebersamaan sesama. 

Keempat, semakin hari politikus semakin banyak, bercokol di wall FB. Tidak masalah berkomentar dan mengeluarkan isi fikiran. Tapi, once again, try to be fair; karena adakalanya penasehat itu salah dalam bertingkah. Jika dinasehati orang luar, jangan salah tingkah.

Kelima, whatever...topik hizbiyyah (baik itu hizbiyyah resmi seperti ormas atau partai, maupun hizbiyyah terselubung seperti para fanatics pada gurunya atau hizbiyyah tembakan seperti dituding hizby karena berteman dengan kawan partai) adalah topik asin. Makan yang asin-asin sekali-kali enak. Namun, hati-hati jika terlalu sering, karena membahas hal-hal semacam itu terlalu sering, justru menaikkan tensi dan malah jadi kelihatan sebenarnya dia sendiri juga ber-hizb.

Saturday, February 2, 2013

Mari Bersama MENGGALI KUBURAN KERAMAT!

oleh Hasan Al-Jaizy



Saya sangat cemburu, ketika mendengar khutabaa' di masjid-masjid, atau di majelis-majelis, menyampaikan kalimat-kalimat ajaib yang menggugah dan terkesan berlebih, sehingga memacu manusia atau pendengar untuk takjub. Saya cemburu karena rupanya kalimat itu dinisbatkan kepada Al-Mustafha, Muhammad -shallallahu alaihi wa sallam-. Saya cemburu karena dengan keajaiban kalimat itu, tak sedikitpun keterangan sahih atau dhaifnya atau maudhu'nya. Tak sedikitpun penyebutan siapa perawinya. Apa mungkin disebabkan kitab-kitab kuning yang mereka pelajari dan dalami memang tak mencantumkan sedikitpun akan itu? Atau mungkin mereka terlalu longgar, super permisif dan tak peduli sama sekali akan keabsahan dan kepalsuan penisbatan kalam pada Nabi.

Bukan karena benci terhadap para khuthabaa'; melainkan ini kecemburuan yang juga diliputi rasa takut. Lancang mengklaim sesuatu tersambung pada Nabi, sementara tak terbukti dan tercurigai tidak tersambung. Lancang mengklaim bersanad dan berketurunan dari keluarga Nabi, sementara tak menjulurkan bukti bahkan terkesan suspicious bahwa itu hanya sebuah pencitraan semata.

Dan apa hasil dan natijah dari longgarnya manusia pada hal seperti ini? Bid'ah ( baik itu disebut hasanah atau dhalalah), takhayyul, khurafat dan ketidakpedulian akan sunnah.

Wednesday, January 30, 2013

Menyimak Kuburan Keramat

oleh Hasan Al-Jaizy


Pertanyaan keramat hari ini adalah "Pak Ustadz, apa hukumnya mendengarkan lantunan Al-Qur'an dari seorang Qari HIZBI? Seperti Syaikh XX yang terkenal itu?"

Pak Ustadz: "Baiknya antum mendengar lantunan dari Qari Ahlus Sunnah saja! Tapi, sebenarnya tidak apa-apa."

*^%^$&*$%$%#%^*^

"Pak Ustadz, apa hukumnya diimami seorang imam hizby?"

Pak Ustadz: "Baiknya antum cari imam Ahlus Sunnah saja, seperti saya misalnya."

"Pak Ustadz, apa hukumnya tidak menghizbikan orang hizby?"

Pak Ustadz: "Berarti orang itu hizby."

===================================

Cari versi lain saja. Begini:

"Pak Ustadz, apa hukumnya mendengar bacaan Qari Hizby?"

Pak Ustadz: "Hukumnya maklum, tatacaranya masyhur, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah"

"Pak Ustadz, apa hukumnya diimami seorang imam hizby?"

Pak Ustadz: "Selama kehizbian tidak membatalkan keislaman, shalat dan imamah, maka pertanyaan ini jawabannya jelas."

"Pak Ustadz, apa hukumnya tidak menghizbikan orang hizby?"

Pak Ustadz: "Berarti antum ga ada kerjaan lain."

"Pak Ustadz, apakah boleh menimba ilmu dari seorang guru yang manhajnya ga jelas?"

Pak Ustadz: "Yang ga jelas itu manhaj gurunya atau antum? Kalau manhaj gurunya ga jelas bagi antum, bisa jadi karena antum sendiri yang ge jelas. Kalau antum merasa manhajnya sudah jelas dan menilai manhaj guru antum ga jelas, maka jelaskan manhaj antum pada guru tersebut, setelah jelas manhajnya, barulah berguru padanya. Repot, kan?"

"Pak Ustadz, apakah antum hizby?"

Pak Ustadz: "Inilah pertanyaan yang ga jelas maunya apa."

=================================

Hizbiyyah (dalam artian: fanatisme) bisa menghalangi seseorang dari kebenaran. Sibuk dalam pelabelan hizbiyyah juga bisa menghalangi seseorang dari pembelajaran.

Saturday, January 26, 2013

Menjaga Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy

Para gadis yang disebut akhwat itu, selama berselancar di situs ini, setidaknya menjaga diri agar jangan sampai kekagumannya terhadap seorang lawan jenis terendus, tercium dan tersebar begitu saja di tengah warga. Simpan baik-baik jika memang punya rasa. Jangan menabur cerita. Bahkan kisi-kisinya pun tidak perlu diwarta. Simpan saja. 

Karena meskipun tidak semua, tetapi banyak gadis [baik disebut akhwat, ikhwit, ikhwan atau gaswat] yang sudah mencapai usia 22 ke atas, apalagi menjelang 30 dan belum menemukan teman bobo, rentan pada fikiran-fikiran ke penyebaran undangan. 

Baru kagum sebentar, mungkin sudah berfikir 'sepertinya dia jodohku'. 
Tambah kagum, jadi berdoa 'Ya Allah, jadikanlah ia pasanganku'.
Muhawalah [berusaha] interaksi, lalu diladeni, jadi berfikir 'Kyaaa, jangan-jangan dia memang benar jodohku'

Lalu mencari cara bagaimana agar perasaan di hatinya tertuang dalam kehidupan nyata. Entah bicara pada teman perihal manusia yang dikagumi. Atau sekadar bikin status mujmal [global atau tidak jelas dan tidak tertentu menuju ke siapa] yang menghembuskan kekaguman. Atau yang lebih terasa 'salehah', berdoa, "Ya Allah, jadikanlah ia jodohku. Jikalau ia bukan jodohku, maka jadikanlah aku jodohnya."

Kalong Kuburan Keramat!


oleh Hasan Al-Jaizy

Menuru Mas Ari, teman FB saya, "Kecepatan internet Indonesia, berada pada posisi 115 dunia!" Seperti itulah status FB nya.

Anda boleh heran dengan posisinya; disebabkan negara kita sebenarnya 'kaya' dan berpenduduk banyak. Pengguna internet -saya yakin- termasuk terbanyak di dunia. 

Tapi, saya tidak heran. Dan tidak heran juga kenyataan tersebut [kecepatan yang tergolong 'terlambat ngebut' dibanding 114 negara dalam skala umum nasional] MENYEBABKAN:

...beberapa orang ketika baru dapat rejeki bisa mendownload sesuatu dengan IDM berkecepatan 500 kbps atau 1 mbps atau malah 3 dan seterusnya, pada KESENENGAN. Lalu upload foto hasil screenshot, kemudian tag teman-teman yang diharapkan akan 'takjub' dan semoga akan bertanya, 'Wah, loe kok bisa gitu, gan? Koneksi dewa! Gimana caranya, gan?'

Tuesday, January 22, 2013

Mengejar Wahabi + Mengeramatkan Kuburan Keramat!


oleh Hasan Al-Jaizy

Ternyata kita ini hebat dan keramat! Lebih keramat dari para wali Allah, yaitu para sahabat, tabi'in dan seterusnya.

Lho, kok bisa? Begini ceritanya:

Seorang salafi mengatakan kepada seorang Sufi:

Salafi: "Saudaraku, usahlah kau dan kawanmu merayakan Prophet's Birthday atau Hari Ultah Nabi 1434. Itu tidak ada syariatnya sama sekali."

Sufi: "Ah, kau ini. Usahlah larang-larang aku dan kawanku. Niatku baik, kau tahu?"

Salafi: "Iya, tapi hal semacam itu baiknya kita tinggalkan, kawan."

Sufi: "Memangnya ada pelarangan Maulid di Al-Qur'an dan Hadits yang berbilang begini: 'Wahai kaum muslimin, janganlah kalian bermaulid!" Ada tak?"

Saturday, January 12, 2013

Mengangkat Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy

Keterkenalan orang, jangan salahkan keterkenalannya. Jangan salahkan orangnya yang terkenal itu. Jangan salahkan orang-orang yang mengenalnya. Tapi, salahkan dirimu, kok orang lain yang terkenal, kamu yang mempermasalahkan!? Memangnya situ siapa ya?

Banyak orang miskin mencibir melihat orang-orang kaya. Padahal orang-orang kaya tersebut tidak menindas mereka. Menyenggol mereka pun tidak. Tapi, kenapa si miskin sebal sendiri?

Memangnya orang kaya atau orang terkenal salah ya karena mereka kaya atau karena terkenal?

Tadinya tidak terlihat salah sama sekali...

Tapi rata-rata orang yang berada di ketinggian akan dianggap bersalah dan dituntut oleh orang-orang di bawahnya. Meskipun mereka belum tentu bersalah.

Tuesday, January 8, 2013

Memimpikan Kuburan Keramat

oleh Hasan Al-Jaizy


Internet adalah rahmat, jika dipandang dari segi positifnya. Rahmat yang -saya yakin- nenek moyang kita secuil pun tak pernah membayangkannya. Kalau dahulu para imam/ulama perlu safar berpuluh hingga beratus kilo demi satu hadits, atau bahkan ada yang safar jauh hanya untuk memastikan satu lafadz hadits saja [!!!], kita kini tinggal klik dan ketik. Klik dan ketik, jika digabungkan menjadi klitik.

Tapi, rahmat yang tak terkira ini, bisa meletihkan dan mengalihkan. Kata orang, Facebook bisa menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Kata orang juga, Internet bisa menjauhkan diri dari yang sulit-sulit; karena terbiasa denganya sangat berefek pada kondisi menghadapi rintangan serta kesulitan.

Ada beberapa keluhan dari manusia pada manusia lain, dan ini juga keluhan saya. Keluhan ini berkenaan dengan teknologi zaman ini. Kita punya HP, PC dan lain-lain. Dan kita -jika difikirkan- adalah makhluk yang ketergantungan akan itu semua.

Mengukir Nisan Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy


Pak Aris berkata di salah satu komentar pada salah satu statusnya di akunnya di suatu ketika:

"Apa beratnya sih nulis sumber kutipan, kan lebih pendek daripada copasannya yg panjaaaang panjaaaang itu..?"

Kalimat di atas dalem sekali. Saking dalemnya, yang terjerumus ke dalamnya mungkin bisa merasa sakit. 

Gabungkan dengan seseorang yang mengirim pesan di FB menulis:

"*Pencipta karya tulis = tidak mempermasalahkan karyanya dicopas tanpa membubuhkan namanya karena pada dasarnya ia tetap mendapat pahala dari Allah.
*Ahli (copas,nukil,sadur) = seharusnya menampilkan sumber sebuah tulisan untuk menjaga amanah ilmiyah.
KESIMPULAN
"Menyertakan sumber dari sebuah tulisan amatlah penting untuk mengetahui kevalidan tulisan itu,tidak lebih.(bukan supaya penulisnya terkenal)"

Sunday, January 6, 2013

Mencuci Kompor Di Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy


Ada baiknya para perjaka berterima kasih pada para pengompor yang menganjurkan mereka untuk menikah, atau memancing-mancing pembahasan. Karena ini adalah bab nasehat SELAMA tidak mengganggu, merong-rong atau menyakitkan. 

Karena kompor, jika tidak berhenti mengompori, bukannya justru memberi maslahat, melainkan mafsadar. Bayangkan saja panci putih yang terus dikompori tak henti-henti. Ia akan menghitam sebelum waktu yang tepat.

Mengompori boleh dengan candaan, bukan melulu kekakuan. Api kompor kadang bergoyang kesana-kemari, bukan. Tetapi, bukan berarti merendahkan kemudian, mengejek kemudian, hingga bahkan menghina terang-terangan.

Anda sudah memiliki pekerjaan dan penghasilan, bukan?

Friday, January 4, 2013

Jalan Pintas Lewat Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy

Sebagian orang merasa dirinya jauh lebih memaknai dan meresapi ilmu jika ia menulisnya ulang [mengetik ulang]; karena selagi mengetik, ia berfikir dan mendalami tulisan ketikannya.

Jika itu benar terjadi pada dirimu, maka lakukanlah kemudian sebarkan di Internet; baik itu di Blog, Facebook atau lainnya. Sehingga ada makhluk yang membaca. Jikalau ada yang juga meresapi bahkan tertunjuki melaluinya, maka investasimu lah ia untuk akhiratmu. Jikalau tiada yang meresapi, setidaknya ada yang menghabiskan waktunya membaca tulisanmu itu. Itu lebih baik. Menjadikan orang menyempatkan membaca sebuah kebaikan lebih baik daripada tidak sama sekali.

Banyak orang berkata, 'Saya ingin cara ringkas dan simple saja. Efisiensi waktu!'
Dan silahkan berprinsip begitu. Namun, jangan salahkan mereka yang tidak mau main ringkasan dan berlama-lama dalam menggali makna. Tahukah engkau, rata-rata orang sukses bukan karena main singkat-singkatan dan memilih jalan cepat?

Mungkin ada yang berkata, 'Buat apa menulis ulang? Menghabiskan banyak waktu. Cukup sekali baca saja! Atau dua kali!'
Itu benar. Menulis ulang memang menghabiskan banyak waktu...untuk kebaikan, manfaat dan ilmu. Banyak orang yang mencari metode belajar singkat dan simple beralasan 'tidak mau habiskan banyak waktu berkutat pada itu-itu saja'. Namun setelah mereka belajar, mereka habiskan waktu untuk menonton TV melihat program emak-emak memasak selama sejam plus iklannya. Oh, mungkin itulah yang disebut efisiensi waktu. Meminimalisir masa untuk membaca dan menulis, dan meliberalkan masa untuk entertainment.

Bukankah itu kita?

Memasang Kompor Di Atas Kuburan Keramat

oleh Hasan Al-Jaizy


Kalau saya perhatikan, situs forum ilmu syariah terbagus itu -sebatas pengetahuan saya- adalah ahlalhdeeth. Pernah saya melakukan komparasi atau perbandingan kecil-kecilan antara ahlalhdeeth dengan forum ilmu syariah lainnya. 

Kesimpulan sementara: Forum ahlalhdeeth memang benar-benar untuk thullab al-ilm. Sementara ada satu dua forum lainnya bukan untuk thullab al-ilm, melainkan lintah-lintah dan lalat-lalat penjilat bangkai. Wah, buruk sekali penyifatan dari saya. Kok begitu?

Karena perbandingannya begini:

Coba perhatikan di antara Muntada dalam Ahlalhdeeth, apa yang paling banyak/laris?

[1] Muntada Rehat/Istirahat, berjumlah 16.000 thread lebih.
[2] Muntada Syar'i Aam, berjumlah 35.000 thread lebih.
[3] Muntada Khizanah Kutub/Abhaats, berjumlah 33.000 thread lebih.

Memilah-milah Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy


Begini, bro. Kebenaran itu bisa menjadi bersifat relatif karena dirimu sendiri. Bisa jadi, aslinya kamu mengakui itu benar, tetapi karena beberapa faktor, kamu tidak 'membenarkannya', atau bahkan mencari-cari celah agar ia tidak tampak benar.

Gambaran:

[1] Pak De Su'aid ini sudah berumur 40 lebih. Suatu hari, ia membaca status Nawawi yang cukup panjang. Tanpa sepengetahuan siapapun, Pak De Su'aid memang suka 'mengintip-intip' tulisan orang. Tidak usah tekan 'like', apalagi sampai komentar. Alasannya? Banyak. Di antaranya: Jaga Wibawa, Jaga Gengsi dan seterusnya. Karena kalau sekali terlihat nge-like status orang, ia merasa gengsinya merendah. Bahkan, sekadar ikut komentar saja pun enggan; karena takut diketahui bahwa ia membaca tulisan orang.

Thursday, January 3, 2013

Menerawang Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy


Ini yang kesekian kalinya, lagi-lagi saya menceritakan apa yang terjadi ketika saya pulang dari kampus. Well, pekan ini adalah pekan UAS [Ujian Akhir Semester] di kampus. Selesai mengerjakan tes, langsung cabut ke rumah. Besok pagi insya Allah saya akan cabut lagi dari rumah. Selepas habis tes, saya cabut lagi ke rumah. Jadi, kehidupan saya ini cabut-cabutan. 

Dan tadi, saya menumpang dibonceng teman saya, seorang perjaka Madura yang tinggal di sekitar Condet. Teman sekelas. Madura tulen. Saya kadang 'berdiskusi' dengan teman yang satu ini soal perguruan hijau dan fenomena anti-Wahabi. Sebenarnya teman-teman 'hijau' saya banyak di kampus. Semuanya bagus-bagus. Fair dalam menilai dan menimbang. Cuma mungkin mengekspresikannya berbeda macam dan ragam.

Nah, tadi pagi, kami sempat membicarakan kehebatan ulama di zaman dahulu.

Monday, December 31, 2012

Bisnis Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy

Setengah kilo dari rumah saya, ada kuburan keramat. Dikunjungi banyak dari rakyat. Terutama Hari Jum'at. Ramenya melalat. Campur baur laki perempuan = ikhtilat. Mereka memang tidak takut kualat. 

Bisnis paling menguntungkan saat ini adalah 'Bisnis Kuburan Keramat'. Awalnya kuburan biasa, tidak mengeluarkan duit, berlumut, becek pas hujan, pecah-pecah pas kemarau dan tiada istimewa. Lalu, diklaim kuburan ini adalah kuburan seorang wali!

Ciyus, kalau kuburan wali, miyabi?

"Kalau itu kuburan wali, maka kuburan itu penuh karomah. Karomah berarti kemuliaan. Kemuliaan dari Allah. Karomah di-Melayu-kan menjadi Keramat," terang Suyuthi dari atas pohon.

Boneng juga si Suyuthi itu, gan. Kenapa dibilang keramat? Karena berasal dari karomah, yaitu kemuliaan. Nah, kemuliaan yang dimaksud bisa 2 arti:

Membangkitkan Kuburan Keramat

oleh Hasan Al-Jaizy

"Gus, waktu ente mondok dulu, kitab pikihnye pake apaan?" tanya saya di kelas pada seorang Gus-gus, teman dekat saya di kampus. Ia adalah lulusan pondok NU alias perguruan hijau. 

"Dulu, ane pake kitab Fathul Mu'in kalau di majelis. Tapi di kelas pake Fathul Qorib," jawabnya.

"Oh, gitu ya, Gus!? Bisa dua gitu, ya? Kenapa Fathul Mu'in ga dimasukkan jadi kurikulum sekolah aja?" tanya saya selanjutnya.

"Yo, ga cukup lah, San. Kan lebih tebal. Nanti ya ga habis buat sekian semester."

"Oh, ngerti lah ane. Jadi, kalo di majelis [pengajian pondok], pake Fathul Mu'in karena memang lebih luas dan ga terkait sama silabus resmi ya!?" Saya mengangguk-angguk.

Gus pun berkata, "Dulu tuh ya, waktu ane jadi santri, ane ngeliat ustadz ane ngejelasin Fathul Mu'in kagum buanget. Lancar banget ngejelasin."

"Ciyus?"

Mengingat Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy

Sabtu sore. Turun dari kereta ekonomi. Lalu turun tangga peron. Stasiun Pasar Minggu Baru. Saya melihat seekor kucing. Kaki belakang sebelah kanannya buntung. Iba. Lebih mengiba dari pengemis jalanan atau orang sesat.

Sebelum Jum'atan Jum'at kemarin, saya sempatkan diri melewati kuburan keramat dan masjid besar di sampingnya. Di kedai depan masjid, beberapa nenek-nenek sudah nongkrong. Berikut cucu-cucu mereka. Apa yang akan mereka lakukan?

Game Online! Bukan. Melainkan sekadar permainan tangan. Maksudnya? Maksudnya, kau akan menyaksikan kala Jum'atan mereka mulai menebar pesona dan aura kemiskinan. Memasang muka memelas kasih. Memamerkan perut tangan mengemis asih. 

Saturday, December 1, 2012

Mengelus Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy

Sanjunglah wanita secara umum dan tuturkanlah kelebihan wanita, niscaya akan banyak wanita tersanjung dan mendukung tuturanmu. Padahal belum tentu sifat yang kau sanjung itu ada dalam kepribadian si wanita yang tersanjung.

Katakanlah tentang kejelekan wanita secara umum dan tuturkan kekurangannya, niscaya akan banyak wanita yang tidak terima. Seakan sifat-sifat kurang itu ada pada mereka sang pemrotes.

Maka begitulah jika makhluk tercipta dahulukan rasa dibanding akalnya. Karena itulah dalam

Mengenang Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy

Jika seseorang bersahabat dengan buku, maka ia beruntung. Karena ia mendapatkan sahabat yang bisa membuatnya menambah maklumat, membuatnya tunduk, tanpa meminta imbalan materi ataupun jasa dari semua maklumat dan ketertundukan kepala. Jika seseorang membawa buku kemana-mana, maka ia akan menemukan buku tetap setia bersedia menjadi teman ketika tidak ada teman. Menjadi teman di masa sepi. Jika buku menceritakan padanya cerita lucu, ia menghiburmu. Jika buku menceritakan tentang perkara ngeri, ia menakutkanmu. Jika buku memberitakan sesuatu di negara nan jauh bermil-mil sana, terbayang di benakmu gambaran sesuatu. Namun, hal-hal ajaib tersebut tidak akan kau dapatkan di satu jenis buku. Yaitu: Buku Gambar.

Jadikanlah semua buku adalah teman yang seolah benar-benar bicara padamu. Karena ada beberapa dari manusia menjadikan semua buku layaknya adalah buku gambar. Hanya namanya saja buku gambar, tetapi ketika membacanya, tidak tergambar di benak pembaca apapun. Siapakah beberapa manusia itu? Yaitu mereka yang enggan membaca buku, meskipun sadar bahwa membaca buku memiliki kepentingan sendiri dalam hidup dan bahkan bisa membentuk karakter seseorang. Namun, baginya, semua buku berisikan kosong laksana buku gambar. Bayangkan jika ada 1000 buku gambar di rak rumahmu, apa faedah dari membaca