Showing posts with label [Serial NASIHAT TUK PENASIHAT]. Show all posts
Showing posts with label [Serial NASIHAT TUK PENASIHAT]. Show all posts

Sunday, October 28, 2012

[4] : "Sibukkan Koreksi Aib Sendiri"


oleh Hasan Al-Jaizy

Memulai nasehat ini, kembali penulis mengingatkan bahwa risalah ini adalah untuk mengingatkan penulis sendiri dan juga siapapun yang membacanya. Sebuah faedah akan benar menjadi faedah bagi yang mengambil faedah darinya, dan tidak akan menjadi faedah jika tidak diambil darinya faedah. Bermula dari sebuah hadits:

كل بني آدم خطاء و خير الخطائين التوابون

"Setiap anak Adam banyak salahnya. Dan sebaik-baik orang-orang yang banyak salahnya adalah mereka yang [sering] bertaubat." [H.R. Tirmidzy]

Perhatikan lafadz 'khattaa'', yang menunjukkan bahwa sifat tiap manusia, siapapun itu, sering berbuat kesalahan. Dan perhatikan pula lafadz 'tawwaabuun'. Kenapa bukan 'taa'ibuun'? Karena Tawwab, menunjukkan seringnya ia bertaubat. Tidak hanya sekali. Bahkan berkali-kali. Dan semakin sering bertaubat hamba, semakin disayang Sang Pencipta.

Jika ada yang merasa dirinya sesuci malaikat tak bernoda, maka berhentilah dari tulisan ini dibaca. Hanya bagi manusia yang ingin selalu memeriksa dirinya. Duhai saudara, tiap-tiap kita benar-benar tahu secara zahir dan benderang aib-aib masing-masing terpunya. Biar sejuta manusia tak tahu yang kita sembunyikan dari aib, tapi kita benar-benar tahu dimana ia berada.

Men-jarh, menikam atau menurunkan nama seseorang terkadang bisa menjadi bagian dari nasehat dan ranting dakwah. Dan itu bukan satu-satunya bagian, bukan pula satu-satunya ranting. Terkadang, atau bahkan seringkali, hal itu justru adalah ghibah, namimah dan memperbesar mafsadah. Kita mungkin pernah melihat ada seorang hamba Tuhannya tak pernah mau berbicara kecuali membicarakan para dai atau para asaatidzah. Dan rupanya seringkali kalimat-kalimatnya menusuk banyak persona tertentu dari belakang. Lebih dekilnya lagi, jikalau yang ditusuk adalah orang-orang shalih, atau orang-orang bersalah namun tak mempromosikan kesalahannya dengan sengaja. Kita mungkin pernah merasa bahwa kita seperti itu dulu. Jadi, melihat pemandangan, seakan melihat cerminan masa lalu. Jika sekarang sudah membaik dan berusaha tak ulangi lagi, maka segala puji adalah bagi Allah.

Bukanlah kalimat berikut potongan puisi yang dipuitiskan, melainkan ia adalah ucapan manusia pilihan, yang tak perlu berpuisi untuk menjadi yang paling dalam kalimatnya:

يبصر أحدكم القذى في عين أخيه و ينسى الجذع في عينه

"Ada salah seorang diantara kalian yang bisa melihat debu di mata saudaranya namun ia lupa akan batang yang ada di pelupuk matanya." [H.R. Ibnu Hibban, disahihkan oleh Syaikh Al-Albany]

Duhai saudaraku, ketika engkau melihat adanya setitik debu di ujung mata saudaramu, apakah mampu kau melihat sebiji peluru di tengah matamu? Bahkan ketika kita mampu melihat orang lain secara keseluruhan, dari depan hingga belakangnya. Namun, kita rupanya tak mampu melihat belakang kepala kita sendiri, atau punggung sendiri.

Bagaimana mungkin kita sibukkan bicara kekurangan orang selain kita, sementara kekurangan kita sendiri tak pernah menyembuh?

عجبت لمن يبكي على موت غيره ... دموعًا ولا يبكي على موته دما
وأعجب من ذا أن يرى عيب غيره ... عظيمًا وفي عينيه عن عيبه عمى

"Aku heran pada siapapun yang menangisi kematian temannya dengan air mata
namun rupanya ia tak bisa tangisi kematiannya sendiri dengan darah"
"Dan aku heran pada siapapun yang melihat aib temannya begitu besar
namun pada aibnya sendiri matanya membuta"

Ibnu Abbas -radhiyallahu anhuma- pernah berkata:

إذا أردت أن تذكر عيوب صاحبك؛ فاذكر عيوبك

"Jika kamu ingin menyebut aib-aib temanmu, maka sebutlah [pula] aibmu."

Bukan berarti beliau meminta kita tuk sebutkan aib teman dan aib kita. Tapi, fikirkanlah pula, maukah kita menyebut-nyebut aib kita di depan manusia? Jika tidak mau, maka tahanlah penyebutan aib orang lain dari lisan kita.

Aun bin Abdillah berkata:

لا أحسب الرجل ينظر في عيوب الناس إلا من غفلة، قد غَفَلها عن نفسه

"Aku tidak menganggap seseorang yang menatap pada aib-aib manusia kecuali ia adalah termasuk dari orang-orang lalai. [Dan] ia [justru] lalai akan aib yang ada pada dirinya." [Sifatu Ash-Shafwah: 3/101]

Pernah juga seseorang berkata pada seorang alim, "Wahai saudaraku, sesungguhnya aku MENCINTAIMU di jalan Allah [Uhibbuka fillaah]."

Kemudian sang alim tersebut menjawab, "Demi Allah, wahai saudaraku, sekiranya engkau tahu seperti apa aku ini, kau akan mengatakan : 'sesungguhnya aku MEMBENCIMU di jalan Allah' padaku."

Sekarang, wahai penasehat yang mulia, apakah kau dan aku benar-benar semulia para penasehat? Terlebih ketika kita membicarakan aib manusia, apakah benar itu bagian dari nasehat? Jikalau memang itu bagian dari nasehat, apakah benar sebenarnya niat kita untuk menasehati?

Perhatikan bait-bait berikut:

شر الورى مَن بعيب الناس مشتغلاً ... مثلُ الذباب يُراعي موضعَ العِلَلِ

"Seburuk-buruk makhluk adalah yang sibuk dengan aib manusia
laksana lalat berkeliaran di sekitar kotoran-kotoran"

Mari koreksi diri kita. Ketika kita bermajelis, entah di masjid, entah di kampus, entah di FB bahkan, atau di grup dunia maya, kita meneliti aib-aib saudara, ustadz, syaikh, ulama dan siapapun. Apakah memang itu tugas kita? Atau justru kita 'menugaskan' diri? Apakah memang itu kepentingan kita? Atau justru kita 'mementingkan' diri?

Demi ALLAH, Sang Pembolak-balik hati, takutlah akan sesuatu yang tak terharap namun tersyahwat untuk memperbincangkannya. Perhatikan ucapan seorang alim:

إني لأرى الشيء مما يعاب، ما يمنعني من غيبته إلا مخافة أن اُبتلى به

"Sesungguhnya aku melihat sesuatu yang dianggap aib dan dicela, tidaklah ada yang mencegahku untuk meng-ghibahi [aib tersebut] kecuali rasa takut kelak aku akan diuji dengan [tertimpanya aku dengannya]."

Bisa sekarang kita tertawai fulan dan fulan yang begini begitu...
Bisa sekarang kita membahas fulan dan fulan yang menyimpang dan ekstrimis...

bisakah sekarang kita pastikan kelak kita tidak seburuk fulan dan fulan yang kita bincangkan aibnya????

Nasehat Untuk Para Penasehat...

Friday, October 26, 2012

[03] "Hizby Teriak Hizby"

oleh Hasan Al-Jaizy

Menuding golongan lain sesat dan melabeli mereka sebagai ahlul bida' dan ahwa', sementara sendirinya tak sadar telah terjerumus dalam kesesatan dan mencerminkan kebid'ahan serta pengekor hawa nafsu. Ini adalah sebuah gambaran ngeri yang tiap-tiap kita berlindung pada Allah darinya. Di sini, saya pribadi berusaha mengingatkan diri melalui tulisan ini serta pembaca sekalian, yang harapnya menjadi para penasehat bagi hati sendiri dan orang lain.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata:

الواجب على كل مؤمن أن يحب ما أحب الله ورسوله؛ وأن يبغض ما أبغضه الله ورسوله مما دل عليه في كتابه، فلا يجوز لأحد أن يجعل الأصل في الدين لشخص إلا لرسول الله - صلى الله عليه وسلم - ؛ ولا لقول إلا لكتاب الله عز وجل

"Yang wajib atas setiap mukmian adalah ia mencintai apapun yang Allah dan Rasul-Nya cintai, dan membenci apapun yang Allah dan Rasul-Nya benci bersandar dari apa yang tertunjuk dalam kitab-Nya. Maka TIDAK BOLEH bagi seseorang menjadikan ASHL [Sandaran] agama dengan seorang manusia kecuali Rasulullah; dan dengan perkataan kecuali kitabullah Azza Wa Jalla" [Majmu Al-Fatawa: 20/8]

Maka, beliau pun

[02] "Dakwah Kita Untuk Semua"

oleh Hasan Al-Jaizy

Maka, jadilah penyeru kebaikan untuk semuanya. Berusahalah tuk menjadi seorang yang maqbuul [diterima] untuk semua manusia. Meskipun takkan mungkin semua manusia menerima kita. Namun, upayakan berhias dengan kebaikan yang diridhai fitrah manusia, baik itu melalui tutur, ataupun pekerti. Menjaga lisan untuk bertutur baik selalu dan berhikmah selamanya bukan sesuatu yang mudah. Menghias diri dengan pekerti berbudi juga perkara yang perlu dilaku berhari-hari.

Syaikh ibn Baaz -rahimahullah-, seperti yang diceritakan salah seorang muridnya, yaitu Syaikh Al-Ariify, dahulu berbondong manusia menuju kajiannya. Di antara mereka ada yang menyandarkan diri [muntasib] kepada golongan2 ini dan itu. Tiap-tiap mereka beragam corak dan latar belakang. Namun, beliau [Syaikh ibn Baaz] berhasil mempersatukan mereka dalam majelis ilmu. Inilah majelis impian; karena dakwah kebenaran adalah untuk semua. Semua berhak mereguk kebenaran; meski tidak semua hendak menerimanya.

Maka, apa jadinya jika dakwah hanya untuk kalangan tertentu saja!? Bagi yang berdakwah atas nama Salaf, lalu mengkhususkan audiens untuk bermanhaj salaf terlebih dahulu. Jika tidak, maka tidak boleh ikut kajian. Harus bersih dari pemasangan foto makhluk hidup, jika tidak, maka harus segera dibersihkan keberadaannya dri grup. Seakan selain golongannya adalah kotoran yang harus dienyahkan dari pandangan. Atau yang berdakwah atas nama partai dan ormas, mensyaratkan seragam dan tanda tertentu tanpa kepentingan darurat. Orang luar yang ingin ikut serta menimba ilmu, jika belum memenuhi syarat keorganisasian atau tidak recommended, maka dilarang ikut.

Apa gunanya dakwah jika seperti itu?

Sekarang, ada beberapa tanda tanya untuk para penasehat, termasuk penulis:

[A] Ketika ada gereja atau kumpulan kaum Kristen mengundang Anda [anggap saja Anda adalah tokoh agamis terpandang di masyarakat] untuk ceramah di depan mereka, dengan topik BEBAS, apakah Anda bersedia hadiri dan mempromosikan Islam tepat di depan mereka?

Jika Anda berfikir jauh dan berhasrat tinggi ingin menjadi pengantar hidayah Allah untuk kaum tersesat, maka Anda takkan sia-siakan itu, bukan? Satu orang saja mendapat hidayah Islam melalui lisan Anda, maka itu lebih baik dari barang termewah sedunia. Pahala berlipat-lipat.

[B] Sekarang, jujurlah saja. Ketika ada yayasan, ormas, atau kelompok tertentu yang 'Islami' mengundang Anda untuk ceramah di depan mereka dengan topik bebas, apakah Anda menghadirinya?

Apakah Anda menghadirinya?
Apakah Anda berkenan menjadi penebar kebaikan di sana?

Subhanallah...betapa terbaliknya banyak manusia. Ketika kita mencela sebagian dai televisi, 'Dai televisi mata duitan. Mencari dan mengejar dunia semata. TIDAK AKAN MAU CERAMAH KECUALI IMBALANNYA BESAR!' ternyata tingkah kita seperti ini:

"Tidak akan mau ceramah/menyampaikan kebenaran kecuali pada kelompok/golongannya sendiri"

Maka, jadilah seorang penasehat dan penyeru untuk umat, bukan untuk golongan sendiri. Dakwah pun tak terbatas di antara tiang dan tembok masjid atau di dalam kelas. Dengan tutur dan pekerti, bisa pula kita berdakwah dan menjadi perantara hidayah bagi manusia.

Contohlah para masyaayikh dan ustadz yang merangkul banyak audiens dari berbagai corak mereka. Jangan contoh sebagian penyeru yang hanya ingin merangkul yang setuju, menendang yang tidak setuju. Menjadi penyeru berarti bertugas sebagai penyampai, bukan sebagai penentu eksekusi penalti. Dakwah kita adalah untuk semua.

[01] "Setan Pun Takkan Mengupahi"


oleh Hasan Al-Jaizy

Risalah ini untuk siapapun yang berusaha menebar manfaat dan hikmah dalam berdakwah, entah itu sekadar klaim semata, atau memang cerminan realita. Bahwa sebagian lisan berpedang kalimat memerangi pengkotak-kotakan dan hizbiyyah, namun keberadaan dan tingkah mereka justru menjadi sebuah kekentalan hizbiyyah baru. Dan ketika kita mengiba-iba mengidam-idam mengharap-harap di depan umat bahwa inginnya kita adalah persatuan umat, justru kita sehari-hari menikam umat dan menambah perpecahannya. Jikalau ada penyembah setan melihat kondisi kita seperti itu, mereka tambah jumawa dengan tanduk-tanduk kambing Baphomet. Jikalau kaum atheis mengerti gejolak perpecahan yang kita buat, niscaya kemenangan mereka diterjemahkan oleh bahak-bahak.

Berusahalah dalam berdakwah untuk tidak man-tashniif dan mengkotak-kotakkan muslimin, terlebih mengencingi martabat mereka. Padahal mereka adalah bagian dari kaum muslimiin. Jika ketika bersuanya kita dengan seorang Kristiani, lalu kita langsung mengumbar perbedaan dan aib agamanya atau pemimpin agamanya, maka sehentak detik ia akan marah terhadap kita. Maka, apa fikirmu jika yang kita tikam adalah juga seorang muslim? Dan di mana akal pergi jika yang tertikam adalah orang-orang shalih yang hanya berbeda pendapat di beberapa perkara?

Jika pernah kita berlaku seperti itu, maka