Showing posts with label Bahasa. Show all posts
Showing posts with label Bahasa. Show all posts

Tuesday, December 25, 2012

CAT : [65] "MELAYU MENDAYU-DAYU"


oleh Hasan Al-Jaizy


Indonesia = Melayu
Malaysia = Melayu [lebih pekat]
Indonesia dan Malaysia adalah SAUDARA! Baik itu saudara serumpun, terlebih saudara se-Islam. 

Melayu. Kenapa dikatakan 'Melayu'? Apa Asbabun Nuzul perihal Melayu? Sependek yang penulis ketahui, ada dua pendapat:

[1] Melayu berasal 'Mala' dan Yu'. Mala bermakna permulaan. Yu bermakna negeri. Makna murakkab [gabungan]: Negeri yang Mula-mula Ada.

[2] Melayu adalah me+layu yang bermakna 'merendah' dan 'tunduk'.

Saya fikir, makna kedua lebih cocok. Diserasikan dengan budaya dan tabiat orang Melayu, baik itu Indonesia, Malaysia, Brunei dan lainnya. Kita [anak Melayu] sebenarnya lebih suka melayu dibanding menegak. Kita lebih suka merendah dan lebih sukai orang merendah.

Jika menelusuri adat dan tradisi negeri atau kampung-kampung, tentu kita dapatkan beragam bahasa, yang membedakan banyak penggunaannya. Dan itu sangat menunjukkan 'kerendahan'. Saya beri contoh:

[1] "SAYA", kata 'saya' berasal dari 'sahaya'. Di adat Melayu, kata 'AKU' menunjukkan

Friday, December 14, 2012

CAT : [30] "JAKA GOLOK BAWA SEMBUNG!"


oleh Hasan Al-Jaizy


Guru Qiro'ah : "Mister, huruf hija'iyyah terdiri dari 26, loch!"

Guru English : "Ciyus, I haru bilang 'waw' gituch?"

Guru Qiro'ah : "Yo alif ba ta dulu dong, Mister. Masak langsung ke huruf 'waw'?"

Dalam membaca atau mendengar, kita perlu memahami kata dan kalimat yang terbaca atau terdengar. Perlu juga memahami sikon, personality pembicara dan lainnya. Jika memahami dengan benar dan pada tempatnya, maka nyambunglah. Namun, jika salah dalam memahami, maka sembunglah!

Dalam salah satu ilmu bahasa Arab, dikenal istilah Haqiqah [hakekat] dan Majaaz [Majas]. Kalau hakekat, maksudnya adalah makna sebenar atau asal atau asli dari suatu kata ataupun kalimat. Sedangkan majas, maksudnya adalah makna yang tidak sebenarnya, atau bukan aslinya dari

Monday, December 10, 2012

AHLU SUNDA WAL JEME'EH


oleh Hasan Al-Jaizy


AHLU SUNDA

Saya sudah pernah mengumumkan pada makhluk hidup seperti Anda bahwa para mojang atau emak-emak Sunda bisa membuat saya kelepek di tempat jika mereka bicara memakai bahasa atau logat Sunda. 

Bagi saya, Sunda memiliki sesuatu yang spesial. Salah satunya adalah intonasi dan logat. Mana tahan?

Sebagai orang yang punya cita-cita hidup di tanah Sunda, maka saya pun ingin kelak bisa berbahasa Sunda dengan logat yang pas. English saja bisa diambil, masak Sunda tidak bisa sich?

Saya pernah beberapa kali menelusuri desa-desa Jawa (Jateng+Jatim) dan Sunda (Jabar). Ada perbedaan madzhar yang blatant alias jelas antara keduanya.

Jika Anda mengintip desa-desa suku Jawa terlebih melihat mayoritas rumahnya, Anda akan menemukan rumah-rumah sederhana dan kurang istimewa secara dzahir. Saya tidak bermaksud merendahkan wong2 ndeso dari suku Jawa. Bapak dan Mbah saya juga ndeso kok. wkwk

Tuesday, December 4, 2012

CAT : [4] "HARE GENE? MASIH KEBET KAMUS?"


oleh Hasan Al-Jaizy

Pernah saya membuat sebuah status membahas dampak negatif dari malasnya tangan ngebat-ngebet buku kamus. 

[Sebentar: Ini khusus untuk pelajar yang ingin menguasai/mengerti bahasa asing. Pelajar adalah orang yang belajar atau mempelajari. Kalau seseorang bukan pelajar, lalu apalah dia!?]

Kamus adalah buku yang paling sering saya -pribadi- kebet dahulu. Dan sampai saat ini juga tidak jarang melakukannya. Dahulu, ketika awal-awal tertarik English, kamus English Hassan Shadily adalah teman tidur seranjang. Tiap hari kebat-kebet. Hingga buku yang tadinya sudah rusak dan hilang cover tersebut, tambah tak legit dipandang. Juga kamus Arabic di awal-awal mempelajarinya. Terjadi pula pada teman-teman.

Dahulu, barang semacam kalkulator yang bisa memberikan keajaiban berupa makna kata sekali klik adalah langka sekali. Pernah saya mencobanya. Alhasil: tidak suka. Tidak seru.

2012. Saya beberapa kali menguji beberapa kelas pelajar English. Terutama anak-anak SMP. Beri mereka kamus. Kemudian, mereka akan stress sendiri. Itu adalah hal terberat buat mereka. Kenapa? Karena di rumah tidak pernah membuka kamus. Lalu, kalau mau tahu arti dari sebuah kata, bagaimana caranya? Internet/Komputer!

Mungkin benar, masa ketika saya belajar bahasa asing itu ada kuno-kunonya juga. Masih suka kebat-kebet halaman kamus. Tapi, saya beruntung. Setidaknya, ketika buka kamus, saya tidak menjadi tertekan batin seperti anak-anak itu. Mudah sekali mereka menyerah. Itu baru English. Kalau mereka belajar Arabic lalu diminta membuka-buka kamus Arabic dan mencari banyak arti kata tertentu dari dalamnya, mereka akan jadi makhluk apa kemudian???

Tapi, ada satu alasan:

"Efisiensi waktu"

Atau: lebih enaknya: 'Pengiritan Waktu'. Alasan ini 'bisa' dibenarkan. Saya fikir, sah-sah saja. Ya, sah-sah saja jika seseorang menyandarkan diri pada 'kamus-tinggal-klik'.

Sebagaimana sah-sah saja seseorang menyandarkan diri pada 'Google'. Lalu salin+tempel.

Uniknya, biasanya yang seperti itu malah kelihatan 'ahli', 'jadi', 'pintar', dan 'menguasai'. Padahal? Padahal kebanyakan justru sebaliknya: 'tidak ahli', 'asal jadi', 'tidak membuat pintar' dan 'tidak menguasai'.

Kalimat 'Hare Gene Masih Kebet-kebet Kamus !?' menurut saya ya sama dengan kalimat 'Hare Gene Masih Belajar Ilmu Hadits !?' atau 'Hare Gene Masih Belajar Ilmu Ushul Fiqh!?'

Persamaannya begini:

--> Buka Buku Kamus? Udah ada yang lebih mudah dari itu dan benar. Kamus online, offline atau apalah ia berbentuk. Yang penting tinggal klik!

--> Belajar Ilmu Hadits? Semua hadits sudah ketahuan sahih-dhaif-maudhu'nya. Buat apa capek-capek belajar ilmu hadits!? Kita kan cukup tinggal menukil ini hadits dihukumi 'shahih' dan selesai.

--> Belajar Ilmu Ushul Fiqh? Udah ada fatwa online. Buku-buku fatwa banyak sekali. Cukup baca fatwa, maka hukum sudah jadi. Ikut sajalah. Efisiensi waktu, bro. Masih banyak ilmu lain yang lebih bisa kita konsentrasikan mempelajarinya.

Well well well...Anda buka buku kamus atau tidak...Anda belajar Ilmu Hadits atau tidak...Anda belajar Ushul Fiqh atau tidak...Anda beralasan efisiensi waktu atau tidak...saya ikut kaedah:

"Easy come easy go"
"Ma Sahula Majii'uh, Sahula Dzhaabuh"
"Yang mudah datang, mudah pula pergi"

It's your choice. Itu pilihan Anda masing-masing. Cuma nanti, kalau nyadar efek alasan yang katanya 'efisiensi' itu kurang menguntungkan, jangan salahkan kafilah yang berlalu jauh dan orang yang berusaha mencari penerangan. Namun jangan juga menjadi anjing menggonggong dan pencerca kegelapan.


Monday, November 26, 2012

"AABAA' = BAPAK-BAPAK"


oleh Hasan Al-Jaizy

Al-Aabaa' [الآْبَاءُ ] adalah bentuk jamak dari kata 'Al-Ab', yang berarti 'bapak'. Dalam bahasa Arab, penggunaan Al-Aabaa' mencakup kakek dan seterusnya. Dalam bahasa kita, dikenal dengan sebutan 'moyang'.

Al-Aabaa' bisa diartikan sebagai 'moyang'. Dan moyang maknanya adalah ayah, ibu, kakek, nenek dan seterusnya. Atau bisa juga dimaknai sebagai leluhur. Dalam banyak kepercayaan konservatif di negeri ini, leluhur dipercaya masih memiliki kehidupan di alam dunia, namun tidak terlihat oleh mata telanjang. Konon hanya mata batin dan orang-orang berhati luhur yang bisa melihat eksistensi leluhur. Kepercayaan semacam ini memberikan efek pada pembentukan adat dan tradisi. Sehingga dikenal kemudian hingga kini ritual-ritual 40 harian, haulan dan semacamnya. Diyakini bahwa arwah leluhur bergentayangan pada hari-hari itu. Mungkin di perkotaan, kepercayaan semacam ini semakin terkikis. Namun ritualnya masih jamak diselenggarakan. Hanya ada perbedaan tujuan. Kalau di zaman dahulu, mungkin bisa dikatakan benar orang-orang mengadakan ritual 40 harian dan lainnya untuk mendoakan mayyit leluhur. Namun hari ini tujuannya bergeser, yaitu: makanan atau amplop.

Dalam dunia Arab, 'Al-Aabaa' juga bisa mencakup 'paman'. Hanya pemutlakan makna terhadap bapak dan moyang lebih kuat dan asasi. Sebabnya pencakupan terhadap paman adalah karena paman itu laksana bapak bagi keponakannya. Dan di sini, terdapat nafas majas.

Saturday, October 27, 2012

Bagaimana Dahulu Anda Belajar BAHASA ASING?


oleh Hasan Al-Jaizy

Bahasa Inggris adalah bahasa yang diperlukan oleh manusia modern. Perkembangan zaman + teknologi dan modernisasi menuntut penduduk zaman untuk berkembang. Salah satu tanda berkembangnya seseorang adalah semakin kayanya akan pengetahuan. Dan di antara pengetahuan terbesar manfaatnya adalah pengetahuan akan bahasa, baik bahasa pribumi [daerah/nasional], terlebih bahasa asing.

Apakah seorang dai membutuhkan bahasa asing?

Jawabannya: YES. Bahasa Arab yang paling dibutuhkan. Bahkan sebagian ulama di zaman dahulu tidak menganggap seseorang layak banyak bicara agama jika belajar bahasa Arab saja enggan, meskipun ia adalah orang Arab. Lalu, bagaimana jika dia adalah seorang Maduran yang jauh dari berbahasa Arab? Weits, jangan tertawai Madurian dulu. Siapa tahu Anda, meskipun Batavian atau tinggal di 'Serambi Mekkah', juga tidak mau belajar Arabic!?

Friday, September 21, 2012

Sudah Bukan Jamannya Lagi

oleh Hasan Al-Jaizy

Lha, ini khusus untuk lulusan pondok [kalo wong Jowo menyebut pondok: pondhuok]. Yang saya maksudkan: sudah bukan zamannya lagi lulusan pondok masih terlihat culun, kumel, kucel, ga elok dipandang, jelita [jerawat lima juta] ga diurus, rambut kriwel-kriwel, sarung dipake dua bulan dan seterusnya.

Sudah ga nge-trend lagi lulusan pondok cuma bisa ngaji Qur'an dan kitab kuning, sementara skill lainnya 'nothing' [dengan mimik dan pelafalan ala Wendi Cagur]. Tahu ga sih kalau kita ini dituntun oleh zaman untuk banyak tahu dan banyak bisa? Bukan berarti kalau sudah mahir melantunkan Surat Yasin, lalu suci begitu saja. Atau jangan merasa jumawa sendiri kalau sudah bisa membaca kitab kuning yang botak tak berharokat bahkan kadang terlihat pitak karena salah cetak.

Sekarang ini people tidak mudah terkesima karena

Monday, September 10, 2012

Formal Berbahasa


oleh Hasan Al-Jaizy

Bukan akhir-akhir ini saja, melainkan sedari lama kita membaca artikel dari para penulis di media cetak maupun maya yang mengekspresikab keluhan atau sodoran tanda tanya MENGAPA berbahasa Indonesia dengan baik dan rapih menjadi perkara yang diremehkan.

Cerminan itu ada ketika kita lihat betapa banyaknya tulisan-tulisan menggunakan bahasa sms, chat atau bahasa gaul. Awalnya tidak salah menggunakan itu semua di masa yang tepat dengan orang yang tepat. Tapi, lihatlah efek dari peremehan terhadap formalitas suatu bahasa formal: rata-rata pelajar mahir mengutarakan sesuatu dengan bahasa standar umum, dan ketika mereka menggunakan bahasa yang formal, seakan dunia ini serasa dunia lain dan teman-teman tersungging bibir dengan senyum.

Jika ada cerita beberapa sarjana ngadat dalam berbicara bahasa formal, maka jangan merasa dilucukan dengan kenyataan anak-anak sekolah terdengar seperti makhluk-makhluk luar negeri atau luar angkasa ketika bicara. Bahasa gaul dalam perbincangan sesama teman adalah wajar. Tapi sewajarnya pelajar yang berpendidikan juga terlatih untuk berbicara formal sebagai modal masa depan. Kalau tidak, derajatnya sepadan dengan 'wong ndeso' yang medok logat bahasa desanya dan lemah berformal ria.

Saturday, September 8, 2012

Beberapa Point Untuk Yang Masih Muda


oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point yang berupa pesan-pesan berikut ini:

[1] Yang merasa masih muda, apalagi yang belum berkeluarga, cobalah mengasah skill 'menulis' setelah banyak-banyak membaca. Sebenarnya kalian [termasuk saya] ketinggalan oleh orang-orang umum dan kaum liberal dalam perkara menulis. 

[2] Kaum liberal yang edukatif dan intelektual, mereka menggunakan kemampuan linguistik untuk mengalirkan apa yang mereka fikirkan, bahkan untuk hal-hal kecil bisa dijadikan tema filosofis yang menarik. Padahal mereka tidak diimbangi dengan keilmuan syariah yang memadai atau manhaj yang sahih.

[3] Nah, sementara, bagi yang merasa belajar ilmu syariah dan merasa bermanhaj sahih, layaknya mengikuti perkembangan zaman juga. Bukan malah terpenjara dalam perasaan mentang-mentang sudah belajar dan bermanhaj. Perasaan ini sama saja dengan tazkiyyatun nafs yang negatif. Nanti siapa yang bisa melawan kedigdayaan kaum liberal yang mampu menyihir umat lewat karya tulis? Apa sekedar mengandalkan karya para ustadz? Atau mencari terjemahan?

[4] Karena itulah, mari kita sama-sama memulai melatih diri 'menulis'. Tidak mesti menulis topik yang berat. Kita mulai dengan topik ringan, seperti 'konfrontasi antara Khawarij dan Murji'ah'....lho???

[5] Itu bukan topik ringan, denk. Itu topik yang dianggap ringan oleh orang2 yang mencari sensasi saja atau pemula yang pengen cepat 'nyampe'. Topik-topik ringan itu seperti: 'bagaimana cara bobo dalam keadaan bersih?', atau menjabarkan pengalaman, bisa juga kampung halaman dan sebagainya. Tulisan itu toh tidak hanya berpatuk pada segi religius. Ada bidang2 lain yang bisa kita singgung sedikit, seperti sosial umum, kejiwaan, lingkungan, kesehatan, dan lain-lain.

NOTE:

Anak muda yang meremehkan perkara melatih diri untuk bisa membuat 'karya tulis' di zaman secanggih ini, dia laksana anak muda yang meremehkan perkara belajar bahasa Inggris. Untuk sekarang, ia boleh terkekeh, meremehkan, merendahkan, menurunkan nilai dan mengabaikan. Tapi, nanti saat semua orang sudah bisa menulis/berbahasa Inggris dan orang2 semakin maju dengan keduanya, ia baru menyesal kenapa dulu tidak begini-begitu; sementara dia ingin memulai belajar di masa tua, kendala waktu, anak, istri, pekerjaan dan problematika hidup tak mengizinkannya.

Mulailah menanam dari hari ini, insya Allah esok hari ada pertumbuhan. Jika esoknya semakin tumbuh, insya Allah suatu saat akan mendapatkan buahnya. 

Jika tidak menanam, ia takkan punya buah dari usahanya, melainkan sekedar melihat orang memetik buah di kebun, memanen dan meninggalkan ia dengan kekosongan tangan. Sementara, buah tersebut tidak bisa dibeli, sebagaimana kemampuan berkarya tulis dan berbahasa Inggris tidak bisa dibeli.

Friday, September 7, 2012

Setiap Anda Punya Potensi!

oleh Hasan Al-Jaizy

Bukan muluk-muluk saya katakan bahwa setiap dari Anda memiliki potensi untuk membela agama ini [bukan membela kelompok ini atau partai ini]. Potensi adalah power dan kekuatan, entah itu berupa fisik, skill atau makna. Fisik bisa tercontohkan dengan kekuatan badan atau harta. Skill bisa seperti kemampuan menulis dan berbicara, atau bahkan kemahiran menembak dengan senapan. Makna bisa dimaksudkan sebagai ilmu pengetahuan. Jadi, fisik dan makna, keduanya independen. Sementara skill pasti berkaitan dengan salah satu dari keduanya [fisik atau makna]. Fikirkan itu, wahai kamu!

Dan kamu juga diperintahkan untuk mengerahkan kekuatan atau potensi yang telah Allah titipkan padamu demi menegakkan yang benar dan menenggelamkan yang salah. Allah berfirman:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ

"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka KEKUATAN apa saja yang kamu sanggupi" [Q.S. Al-Anfal: 60]

QUWWAH dalam ayat di atas berbentuk nakiroh yang bermakna

Monday, September 3, 2012

Memperjelas Tujuan

oleh Hasan Al-Jaizy

Seseorang bertanya kepada seorang konsultan mengenai kelesuannya terhadap ilmu yang ia pelajari. Sebut saja namanya SKCK. Dan rupa-rupanya konsultan tersebut adalah saya sendiri. Tidak apa-apa menjadi konsultan dadakan; toh semua orang sebenarnya ada masanya menjadi konsultan.

SKCK: "Saya sudah setahunan belajar English di sebuah kursusan terkenal [dan mahal]. Tapi saya mengalami kelesuan dan merasa begitu-begitu saja. Saya juga berusaha belajar sendiri dengan giat, namun ternyata tidak merasuk"

Konsultan: "Apa tujuan dari kemampuanmu akan bahasa Inggris, anak muda?'

SKCK: "Untuk memperkaya kosakata, mampu melafalkan dll."

Konsultan: "Itu sekedar tujuan pembelajaran dan bukan tujuan final. Saya ubah bahasa pertanyaannya: "Kemampuanmu berbahasa Inggris kelak buat apa?"

Saturday, August 25, 2012

MERACAU : "Gregetan Namun Iri!"

oleh Hasan Al-Jaizy

Salah satu hal yang membuat saya pribadi gregetan, menggingit bibir kegemasan dan tercubit-hati adalah pemuda muda yang hafal Al-Qur'an [hafidz] namun benar-benar tidak benar bacaannya. Makhraj-nya tak beraturan, juga panjang pendek [madd rules] diabaikan. Ketahuan sekali ia tidak memulai sesuatu dari ushul. Artinya: Seorang yang hafal banyak namun kacau balau dalam membaca menandakan ia terdidik dengan menyegerakan hafalan tanpa menyempurnakan tajwid.

Bukan berarti saya ini mencela seorang hafidz Al-Qur'an

Sunday, August 5, 2012

MEMPERMASALAHKAN PENULISAN AMIN, AMIIN, AAMIN atau AAMIIN

oleh Hasan Al-Jaizy

Bantah Balik atau Bumerang Bagi Orang Yang:

MEMPERMASALAHKAN PENULISAN AMIN, AMIIN, AAMIN atau AAMIIN


Pertanyaan: Apakah ini pembahasan penting?
Jawab: GA penting. Kalau itu dianggap penting, ini yang paling penting:

Jutaan muslimin SALAH menulis nama TUHAN mereka.

Kok bisa?

Ya, bisa; karena jutaan muslimin menulis: ALLAH

Sedangkan yang benar adalah ALLAAH.

==========================

Sekarang, lebih bermasalah mana:
a.[dianggap] SALAH menulis kata amin, atau
b. SALAH menulis nama Tuhan sendiri

?


Pertanyaan: Sebenarnya ini dipermasalahkan ga sih?
Jawab: Itu cuma nyari kerjaan dan iseng cari masalah aja. Jikalau mau mempermasalahkan itu, maka ada yang paling bermasalah:

Jutaan muslimin SALAH menulis AGAMA mereka sendiri.

Kok bisa?

Ya, bisa; karena jutaan muslimin menulis: ISLAM

Sedangkan yang benar adalah ISLAAM.

==========================

Sekarang, lebih bermasalah mana:
a.[dianggap] SALAH menulis kata amin, atau
b. SALAH menulis nama Agama sendiri

?


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/427077770666947

Friday, July 13, 2012

Mau?

oleh Hasan Al-Jaizy

Di Internet, ada puluhan ribu rekaman kajian para masyaayikh Ahlus Sunnah, dari ilmu Aqidah, hingga ilmu Tarbiyyah [pendidikan] atau Nafs [psikologi]. Mulai dari kajian syarh ratusan kitab2 salaf hingga kajian bertema bebas. Kita bisa dapatkan itu semua secara free dan kemudian disimpan di hp/mp3 player, didengarkan berkali-kali berulang-ulang.

Di YouTube, ada puluhan ribu rekaman kajian para masyaayikh Ahlus Sunnah, sama seperti sifatnya di atas, hanya ini berformat video. Kita bisa dapatkan itu semua secara free dan kemudian ditonton entah di PC atau HP. Seakan Anda hadir di kajian para masyaayikh.

Di waqfeya, shamela dan archive, ada puluhan ribu kitab ulama dan masyaayikh Ahlus Sunnah, berformat PDF atau Shamela. Kita bisa dapatkan itu semua secara free dan kemudian dibaca entah di PC atau HP.


 Tapi?

Tapi, itu semua membutuhkan satu: 'kemampuan berbahasa Arab'.

Kemampuan berbahasa Arab berarti: Bisa membaca dan mendengarnya karena terbiasa. Nah, sekarang, bagi yang masih muda, tinggal pilih mau bisa atau tidak, itu pilihan masing2. Namun, setiap pilihan tentu ada konsekuensi dan akibatnya.

Akibat punya adalah mampu melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak punya.
Akibat tidak punya adalah tidak mampu melakukan sesuatu yang bisa dilakukan oleh orang yang punya.

[Status ini hanya bertujuan melecut semangat thullab al-ilm, bukan berusaha menundukkan kepala manusia]


Bagaimana jika...

Bagaimana jika sudah terlanjur sulit dan sepertinya tidak bisa belajar bahasa Arab [karena faktor usia atau kesibukan kerja]?

Tetaplah kita mempelajari sesuatu yang penting. Arabic bukan satu-satunya yang penting. 
Jika mempunyai anak, baiknya disekolahkan di sekolah tahfidz atau yang mendidik murid berbahasa Arab.
Jika mempunyai harta berlimpah, baiknya dermakan sebagian kecil miliknya untuk anak-anak muda yang belajar Al-Qur'an atau bahasa Arab.

Semua ada kesempatan membangun dan menyumbang kekuatan. 
Namun tidak semua membangun kesempatan dan memperkuat sumbangan.


Adakah kata terlambat?

Kata 'terlambat' itu ada kalau kita buka kamus.

Ini pemahaman ana: "Kita hrus bedakan antara 'terlambat' dengan 'telat'"

'Terlambat' bisa bermakna 'begitu lambat/lelet' namun masih punya kesempatan.
Sementara 'telat' bermakna 'ketinggalan' dan tidak ada kesempatan mengejar atau mengambil kembali.

Terlambat = terlelet = masih bisa mengejar. Dan ini tergantung diri sendiri dan pemikirannya. Kalau dia menganggap dirinya terlambat plus telat, ya berarti dia menutup dirinya sendiri dari pengejaran.


Pertanyaan: "Untuk apa belajar bahasa Arab?"

Jika nanti dijawab: 'Untuk memahami ayat Al-Qur'an', maka saya tanya lagi: "Apakah itu benar2 memang untuk memahaminya?"

Coba difikir dahulu jawabannya. Mungkin di situ akan ketemu sebab dan alasan mengapa kadang ada rasa jenuh.

Jenuh itu ada di hati. Karena itulah, permasalahan itu ada di hati Anda sendiri.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/418950871479637

Sunday, June 24, 2012

Makanya, Belajar Arabic!

oleh Hasan Al-Jaizy

Keberadaan Facebook ini merupakan kesempatan yang sangat besar untuk menyampaikan yang baik-baik. Karena itulah, banyak di antara ikhwah yang tidak ingin menyiakannya; sehingga bertaburan lah di dinding oret-oret kalimat berfaidah. Dan ini semua adalah bagian dari dakwah [atau ini adalah dakwah].

Namun, sayang sekali, ada beberapa ikhwah [minors] yang justru menyebarkan faedah, namun dengan bahasa asing, seperti bahasa Arab saja [tanpa terjemahan] dan bahasa Inggris [tanpa terjemahan]. Sementara para pembaca adalah orang2 Indonesia dan mereka tahu bahwa tidak banyak yang menguasai kedua bahasa tersebut di antara teman2 FB. Lantas, apa faedah dari status tersebut yang sebenarnya berfaedah???

===============================

Berbeda dengan:

Penyampaian yang terkadang diselingi istilah2 asing; karena ini wajar, maklum dan terkadang terpuji. Tidak semua ibarat bisa diibaratkan dengan bahasa lokal, sebagaimana tidak seisi alam tak bisa dipandang dari atas genteng.

Pernah dulu awal 2006, Ust. Abu Qatadah dan kawan2 mengadakan touring atau daurah di Pontianak. Saya hadir di sana. Salah satu ustadz, ketika menyampaikan ilmu, pernah menyelingi pertanyaan pada audiens: 'Apakah seringkali antum menemukan istilah2 asing [Arabic] dalam ceramah saya ini?' Yaitu, istilah2 syar'i atau kaedah2 atau penyebutan2 yang asing di telinga orang umum.

Audiens menjawab: 'Ya'

Sang ustadz menimpali: 'Nah, itulah dia. Itu bukan salah saya. Itu masalah antum; yang tidak pernah belajar bahasa Arab. Maka, mulailah belajar bahasa Arab, agar tidak merasa salah dan dipersalahkan saat tidak mudeng dengan istilah2 di ceramah.'

Kalimat tersebut menghujam sanubari para audiens. Karena itulah -walhamdulillah-, mereka pun mengadakan kajian pembelajaran Arabic, Nahwu dan Sharaf, tiap Sabtu dan Minggu malam.


Adapun mengenai tabiat dan dialek asli, maka orang memaklumi. Karena jika lisan sudah terlanjur ngapak, maka akan terus mengapak kemana-mana.

Berbeda dengan 'tingkatan-bahasa' dan 'pemilihan kalimat bahasa'. Karena kita tahu ada bahasa halus, bahasa menengah, bahasa kasar. Seperti yang ana katakan, tidak bisa santri Bangil menggunakan bahasa Ikan-Buaya di tengah-tengah bapak-bapak Solo. Masih syukur tomat terlempar, bagaimana jika ada yang melempar bata!?

Orang memaklumi dialek dan kemedokan.
Namun pemilihan bahasa yang salah sulit dimaklumi.



IYA, KAN? : Bahasa!

oleh Hasan Al-Jaizy

Iya, kan?

Inti atau tujuan dalam dakwah itu bukan PUJIAN audiens bahwa:
--> kamu [dianggap] bisa berbahasa asing [entah Arabic, entah English, entah Javanese, entah Ngapakish]
--> kamu pintar atau luar biasa

Tapi, dakwah itu ya untuk MEMAHAMKAN orang lain akan suatu perkara, demi meraih maslahat [kebaikan] dan mencegah mafsadat [kerusakan]. Dan untuk memahamkan, ada beberapa perkara asasi yang penting bagi pelayar untuk memperhatikannya, salah satunya:


BAHASA

Jika medan dakwah berisikan orang-orang berbahasa sepertimu, ya gunakanlah bahasamu. Medan Indonesia? Ya gunakan bahasa Indonesia; bukan malah menyampaikan dengan bahasa Inggris atau Arab ke mereka. Karena tujuannya bukan: 'Hey, saya memakai bahasa asing lho!'.

Meskipun dia beralasan: 'Saya menggunakan bahasa asing agar para pendengar tergebu untuk mempelajari bahasa asing sehingga tidak ketinggalan'. LOL

Justru selawannya, dampak negatif seperti ini akan nampak:

--> Yang tidak suka pelajaran bahasa asing, semakin tidak suka
--> Yang niatnya mencari faedah, justru terhalang dan terkendala
--> Yang memang tahu bahasa asing, malah jadi sombong [karena merasa tahu di antara orang2 yang tak tahu]

Maka, gunakan BAHASA SETEMPAT dan tercocok dalam menyampaikan. Selain itu, layak pula diperhatikan alunan dan paduan kata dalam bahasa. Bahasa yang celemotan, cemong dan tak tertutur rapi menunjukkan 'siapa' si pembicara. 

Bahkan, jika seorang dai asal Bangil, misalnya, ketika dia berdakwah di tengah-tengah bapak-bapak di Solo, ia tidak layak menggunakan bahasa Bangil kelas menengahnya di ceramah. Padahal sama-sama bahasa Jowo.


Lalu, bagaimana....

jika si dai tetap bersikukuh, berkeras hati dan diri untuk tetap menggunakan bahasa yang membuat muka penduduk setempat bertambah kusam?

Ya, jangan salahkan penduduk jika:

--> Mereka mencibiri si dai
--> Mereka meninggalkan si dai ngoceh 
--> Mereka berburuk sangka bahwa si dai ini nyari pamor dan perhatian saja atau sekedar pujian

Karena YOU berdakwah, bukan untuk maslahat pribadi YOU di dunia, melainkan untuk maslahat semuanya dunia akhirat.


Tuesday, June 19, 2012

Bina

oleh Hasan Al-Jaizy

Seringkali kita berkata atau menulis yang dalam kalimat terkata atau tertulis ada kata: 'Membina'. Sebenarnya apa arti atau makna dari 'membina'? Apakah setiap dari kita memahami kata tersebut dengan baik?

Just simple. Bina berasal dari bahasa Arab, yaitu Binaa' [بِناء] yang artinya adalah 
1. 'bangunan' jika dimaknai dengan objeknya [yang terbangun], atau
2. 'pembangunan' jika dimaknai dengan perbuatannya.

Berarti: Membina adalah membangun.


Beberapa penggunaan kata BINA yang sering kita ucapkan/tulis/baca:

1. "Binaraga". Bina: Membangun. Raga: Badan/Jasad. Berarti: Membangun Badan. Maksud tambahan: Membentuk sebuah badan yang atletis dengan cara tertentu, entah dengan tujuan murni untuk kesehatan atau lainnya.

2. "Membina persatuan." Yaitu membangun persatuan. Karena tiap individu dan kelompok memiliki karakteristik dan perbedaan. Jika tiap2 tak memiliknya, maka tidak mungkin ada individu dan kelompok. Dan membangun persatuan sebenarnya adalah majas; kiasan seperti membangun bangunan. Ia memerlukan langkah, metode dan waktu. Tidak secara pragmatis dan dramatis terjadi dan terbangun begitu saja. Tidak ada kuli dapat membangun 1000 candi dalam semalam, bukan?


3. "Membina umat." Yaitu membangun umat. Yang ini tidak mesti bermakna 'membangun persatuan umat'. Karena terkadang pembangunan umat sekedar dengan suapan teori dan propaganda menurut para tokoh dan pemuka saja; tanpa membuka fikiran dan menyempitkannya. Seperti pemimpin majelis yang berusaha membangun member majelis hanya dengan pandangan sepihak. 

Gambaran positif: Ketika seorang istri melahirkan seorang anak, maka itu adalah langkah awal dalam membina umat. Yang berselang tahun-tahun kemudian jumlah anak bertambah, maka frase 'membina umat' cocok bagi pasutri [pasangan Edi Supono dan Fitri]. Bisa juga dengan 'Membina keluarga'.

Dan lainnya:

"Membina cinta"
"Membina persaudaraan"
"Membina kerjasama"
"Bina Tang"
dll


Ada juga 'membina/membangun' yang konyol.

Yaitu membina benteng cinta bagi orang2 yang kasmaran dalam kepalsuan.

Lihat saja gadis-gadis bermerk ababil itu. Ketika baru ditembak kemarin, hari ini ia tak henti berkata: "Aq ga pernah nemuin cowk seromantis km" "Aq cyng km" "CeMuNgUdH...CeMuNgUdH...ea kAkA"

Lalu berbulan berlalu, ketika si jejaka sudah merasa bosan, atau aib masing2 sudah terketahui, putuslah hubungan. Si ababil berbalik berkata: "Dasar cowok munafik!" "Dasar buaya!" "Gue nyesel pacaran ma loe!"

Ababil di sini mencakup segala umur dan segala jenjang. Bisa saja dari segi umur ia bukan teenager, berumur 20 ke atas tapi masih ngababil dengan kepalsuan. Atau jenjangnya bukan SMP-SMU, melainkan mahasiswa atau SARJANA, tapi mulut dan bahasa SMS nya lebih palsu dari kotoran keledai dibungkus daun pisang.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/405824689458922

Wednesday, June 6, 2012

Lafadz INNAMA

oleh Hasan Al-Jaizy

Para ulama atau fuqaha membahas juga awal kata dalam hadits yang sangat agung ini, yaitu lafadz 'innamaa'. Mungkin bagi sebagian kita perkara ini remeh, kecil dan tidak perlu dibahas panjang. Namun, bagi ahlu al-ilm dan para researcher, perkara ini tidaklah remeh; karena memiliki kepentingan tersendiri dalam memahami teks-teks ayat atau hadits. Berangkat dari kenyataan bahwa bahasa Arab adalah salah satu alat terpenting dalam memahami nash syar'i [Al-Qur'an dan As-Sunnah] yang tidak bisa berlepas sedikitpun dengannya, maka kami akan memberikan penjelasan tentang lafadz innamaa dengan nukilan-nukilan ilmiah dari kitab2 para ulama.

PERMASALAHAN PERTAMA

Pertanyaan: "Apakah lafadz INNAMA dimaksudkan sebagai AL-HASHR [Pembatasan]?"

Jawaban:
Dasarnya lafadz Innamaa dimaksudkan sebagai hashr [حصر] yaitu pembatasan [limitation]. Ini adalah madzhab Jumhur ulama bahasa dan Ushul Fiqh. Jika ada maksud lain, maka itu adalah untuk mubaalaghah [مبالغة ] yaitu berlebihan [overstatement].

Sebagaimana yang Imam Ar-Raazy katakan:

"Bahwasanya kata 'INNA' [إن ] bermakna itsbat [penetapan / konfirmasi / affirmasi] dan 'MA' bermakna nafy [penafian / peniadaan / denial]. Maka ketika bergabung keduanya [penetapan dan penafian], harus ada yang tetap tinggal salah satu dari keduanya. Maka kita penggabungan keduanya menjadi al-hashr [pembatasan]." [Al-Mahshuul: 1/538]

Ibnu Daqiiq Al-Iid mendefiniskan kata Al-Hashr [pembatasan] dengan:

إثبات الحكم في المذكور ونفيه عما عداه 

"Menetapkan hukum pada apa yang tersebut [dalam kalimat setelahnya] dan menafikan/meniadakan apa yang selainnya." [Ihkaamul Ahkaam: 1/11]


Kemudian:

Kemudian, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimiin menerangkan dengan baik dan gamblang hal ini dengan contoh yang mudah:

"Penerapan metode Al-Hashr [pembatasan] seperti ini:

Kamu mengatakan [زيد قائم] 'zaidun qaaimun' yang artinya 'zaid berdiri', maka tidak terkandung dalam kalimat tersebut makna pembatasan [karena tidak ada alat pembatas, seperti 'innamaa']. 

Namun jika kamu katakan: [إنما زيد قائم] 'INNAMAA zaidun qaaimun' yang artinya 'sesungguhnya Zaid berdiri', maka terkandung makna pembatasan. Difahami bahwa tidaklah ia berbuat apapun KECUALI berdiri." [Syarh Al-Arba'iin An-Nawawiyyah: 10]


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/399210196787038

Monday, June 4, 2012

Bu Siti, Ust Nur Hayyun dan Ust Khuzaimy

oleh Hasan Al-Jaizy

Akan selalu kuingat selalu jasa guru-guru yang membimbing pelajaran2 yang kini benar2 paling terpakai, mereka adalah Siti [Bahasa Indonesia, 1 SD], Ust. Nur Hayyun [Bahasa Arab Praktek, 1 SMP] dan Ust. Khuzaimi [Sharaf + Muthala'ah, 1 SMP]. 

Tentu saja ada banyak guru dan syaikh yang jauh lebih tinggi ilmunya, namun yang paling berjasa adalah mereka bertiga; karena membimbing di masa buta lalu masih merabun. Bukankah pembimbing di masa tersulit adalah pembimbing yang paling terkenang?


Orang2 biasa bisa ciptakan orang2 luar biasa

Dan Bu Siti dulu adalah guru biasa...yang sekarang sudah tua sekali usianya
Dan Ust. Nur Hayyun asalnya adalah orang kampung biasa
Dan Ust. Khuzaimi asalnya juga orang kampung biasa

Namun, mungkin saja seorang yang berasal dari kampung, ia berhasil mencetak generasi yang membangun sebuah negara...mungkin? Mungkin? MUNGKIN???

Mungkin...sungguh teringat kalimat dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimiin -rahimahullah-, yang maknanya:

"Betapa adanya seseorang tiada punyai harta jua nasab tinggi, namun Allah angkat derajatnya dengan ilmu"......hingga manusia dan seisi alam bersyukur padanya, berselawat untuknya dan memohon ampun baginya. Sungguh benar yang tersabdakan oleh Nabi bahwa dunia ini begitu terlaknat, kecuali apa yang terdzikir mengenai Allah, yang belajar dan yang berilmu.....


Sekarang...

ketika engkau sudah bertahta
ketika engkau sudah bergelimang harta
ketika engkau sudah merengkuh puncak ilmu
ketika engkau sudah menjelajahi segala lautan biru

tanya dirimu...
siapa dahulu...
yang ajarkan aku...
hingga tak lagi ku seperti dulu...?

Tersebut kemudian nama-nama guru di benakmu
Mereka yang berjasa namun tak meminta biaya darimu
Dan teringat kemudian siapa dulu yang membiayaimu
...............maka jangan lupakan orang tua


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/398204586887599