Showing posts with label Ijtihad. Show all posts
Showing posts with label Ijtihad. Show all posts

Monday, July 15, 2013

Pembagian Ulama Umat dan Siapakah 'Ulil Amri'?

DAKWAH kepada Allah dan menyampaikan sunnah Rasul-nya merupakan syiar bagi golongan yang beruntung (para ulama) dan para pengikutnya, sebagaimana firman-Nya:

قُلْ هَٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

"Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik"." [Q.S. Yusuf: 108]

Yakni mereka yang menyampaikan apa-apa yang datang dari Rasulullah berupa penyampaian kata-kata (dan maknanya), perbuatan dan ketetapan beliau. Berdasarkan hal itu, ulama dibagi menjadi 2 golongan:

[PERTAMA] = AHLI HADITS

Mereka adalah pemelihara hadits yang menjaga dan memelihara, serta mengamalkannnya. Mereka adalah para imam dan pemuka-pemuka agama Islam yang memelihara pondasi-pondasi agama dan ajarannya dari penyelewengan dan perubahan isinya. Mereka adalah golongan yang disebutkan Imam Ahmad dalam khutbahnya yang terkenal ketika membantah golongan Zindiq dan Jahmiyyah.

[KEDUA] = AHLI FIQH

Thursday, August 30, 2012

Coba Bandingkan...

oleh Hasan Al-Jaizy

Kalau di Mesir, keberadaan beberapa syaikh yang selain rutin memberikan kajian kitab-kitab dan tausiyyah namun juga membahas perkara politik negeri adalah keberadaan. Bukan berarti mereka mencari jabatan, tapi berusaha mengayom dan menjawab pertanyaan2 umat. Yang begini nih sebenarnya yang juga kita perlukan.

Sehingga kalau nanti ada pemilu pilkada, manusia yang rutin mengaji memiliki pegangan kalimat, apakah ia harus diam, atau harus terus mengamati saja, atau harus bergerak, atau harus berkomentar. Terlebih di beberapa situasi genting, saat para thullab mempertanyakan 'aku harus gimana?' Karena kejadian, fenomena dan peristiwa bumi itu mutajaddid alias terperbaharui. Yang sudah menjadi teks suatu kitab tahun

Friday, July 6, 2012

Jangan Belagak

oleh Hasan Al-Jaizy

Seharusnya sebagian dari kita jangan terlalu lantang bersuara begini:

"Begitulah mereka [yang dimaksud: pihak yang dianggap sebagai Ahlul Bida' atau yang menyelisihi], yang tidak pernah mau membuka kitab-kitab ulama; tidak mau mengetahui bagaimana ulama salaf menafsirkan ayat atau memaknai hadits."

Pertanyaan kami untuk siapapun yang berkata seperti ini:

[1] Apakah antum sendiri sebenarnya benar-benar sudah berupaya membuka kitab2 ulama salaf yang sejatinya berbahasa Arab itu?

[2] Apakah antum sendiri sudah mengamati dan membandingkan pendapat2/pemahaman ulama tentang ayat/hadits LANGSUNG dari teks di kitab2 mereka?

Jika tidak atau belum, atau pernah namun hanya sekali, kami mohon jangan terlalu lantang berucap seperti di atas.


Karena:

[1] Mungkin saja mereka [pihak yang menyelisihi atau pihak yang dianggap ahlul bida'] justru juga membuka kitab2 ulama salaf LANGSUNG dan meneliti. Dan lebih tidak asyik lagi, mereka tahu isi kitab2 dan pendalilan, sementara kita tidak...karena kita sekedar menjadi muttabi' atau muqallid.

[2] Mungkin saja mereka salah dalam memahami; namun mereka berusaha meneliti. Ini sudah mendapat satu kebaikan, toh?

[3] Mungkin saja itu adalah perkara khilafiyyah yang mu'tabarah; dan mereka men-tarjih apa yang lebih zahir di mata mereka, tentu dengan dalil. Jikalau mereka salah karena salah memahami, semoga diampuni oleh Allah. Jikalau mereka salah karena 'sengaja' atau sekedar 'pembenaran', sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.

[4] Melihat diri sendiri dulu sebelum mengucapkannya. Sungguh aneh mempertanyakan pihak lain karena tidak membuka literatur klasik namun sendirinya juga belum melakukannya.


Dan merujuk langsung pada kitab2 ulama, lalu mengumpulkan perkataan2 ulama, menimbang satu persatu, mentarjih atau menjama, semua itu BUKAN PERKARA MUDAH.

Terkadang hanya satu permasalahan sepele sekali, seperti permasalahan air 2 kullah saja, untuk melakukan pembahasan ilmiah yang langsung membuka kitab2, mengumpulkan, menimbang, kemudian mentarjih mana yang benar, bisa saja membutuhkan waktu setengah hari penuh.

Itu semua membutuhkan konsentrasi dan penelitian yang mendalam.

Kita semua ingin agar para ustadz dan masyaayikh [terutama Syaikh Al-Albany dengan juhd nya yang sungguh besar] dihargai...

dan seberapa besar apresiasi kita pada upaya, usaha orang yang menyelisihi kita namun ia pun juga menawarkan pembahasan ilmiah?

...terkecuali jika memang ia terkenal akan penyimpangannya dan kesesatannya...


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/416645151710209

Thursday, May 24, 2012

Orang Kafir Menertawai...ITU KATAMU

oleh Hasan Al-Jaizy

Orang Kafir Menertawai...ITU KATAMU

Ketika kita berselisih pendapat, beradu argumen dan mencari mana yang benar, maka jangan langsung disalahkan atau dianggap berpecah belah, selama masih dalam koridor lazim. Diskusi sehat dan saling tukar fikiran itu boleh, toh?

Sekarang menjamur komentar-komentar tak berkualitas. Banyak macamnya. Salah satunya ini akan kudongengkan padamu:

Ketika kita memperbincangkan permasalahan agama dan berbeda pendapat, lalu saling beradu argumen, seakan-akan sedang berkelahi, tiba-tiba ada yang nyeletuk: 'Sudah...sudah! Hentikan ini semua! Orang-orang kafir menertawai kita saat melihat kita seperti ini!'

Selalu saja ada komentar semacam itu!


Taburkan point-point:

--> Tahu darimana mereka tertawai kita ketika kita beradu argumen?
--> Tidak perlu beradu argumen, sebenarnya kita ditertawai sejak lama. 
--> Orang2 Kafir [beberapa atau sebagian besar] di Jakarta juga menertawakan kita wahai kaum muslimin ketika kita merayakan Maulid [atau semacamnya] secara berlebihan. Bukankah sebagian kita berteriak seperti orang kurang waras namun merasa 'berdzikir' dan selawatan? 
--> Sebagian orang kafir juga menertawakan kita ketika ternyata idolanya adalah pemain bola [tidak sekedar menonton, tapi mengidolakan]
--> Sebagian orang kafir juga menertawakan kita ketika adzan berkumandang, namun sebagian besar kita sibuk urusan dunia.

Sebagian setan juga menertawaimu karena kamu berdalih dengan 'Orang2 kafir menertawai kita'.


Lalu dikomentari juga:

"Kalian selalu saja menjustifikasi dan memecah belah!"

Balas pula:

=> Memangnya sebelum kami berbicara, umat sedang bersatu? Sehingga setelah bicaranya kami, umat jadi terpecah belah?
=> Bukannya umat ini memang sudah berpecah belah?
=> Yang saya tahu, kebanyakan dari kita tidak tahu caranya bersatu dan solusinya; karena itulah rata2 orang yang berusaha mempersatukan dan memberi solusi justru dianggap memecah belah.


Sumber atau titik awal berpecah belah umat itu ada 2:

1. Sikap berlebihan. Bisa dalam ibadah, bisa dalam maksiat. Dalam beribadah, berkaitan erat dengan yang namanya bid'ah. Dalam maksiat, berkaitan erat dengan yang namanya kekerasan hati dan pembangkangan.

2. Sikap bermudah-mudah. Bisa dalam ibadah, bisa dalam maksiat. Dalm beribadah, seringkali disebabkan oleh yang namanya bid'ah [ingat: satu bid'ah terlaku, satu sunnah membeku]. Dalam maksiat, seringkali bermuara pada kemalasan dan kebodohan.

Sekarang, siapa sih pemecah belah umat? Take a mirror.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/392227317485326

Tuesday, December 13, 2011

Kekakuan dan Sikap Ekstrim Dalam Belajar

oleh Hasan Al-Jaizy

Kekakuan dan sikap ekstrim dalam belajar adalah ketika kita hanya mau menerima kebenaran dari individu terbatas dan tertentu. Adapun jika kebenaran dikibarkan kelompok lain, kita berpaling atau bahkan menjempolbawahkan. Inilah salah satu sikap jumud dan tasyaddud.

Cobalah tengok cermin dan persiapkan bedak untuk me-make-up hati.


Kekakuan dan sikap fanatik dalam belajar adalah ketika individu atau kelompok yang kita sukai berbuat salah atau membuat keputusan salah, kita tidak mengingkarinya. Adapun ketika dinasihati individu/kelompok lain bahwa ada kesalahan terjadi, kita berpaling atau bahkan mencibir. Inilah ciri fanatisme dalam wajah keburukan.

Cobalah tengok cermin dan persiapkan bedak untuk me-make-up hati.



http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/291234980917894

Semakin Banyak Kelompok Islam....

oleh Hasan Al-Jaizy

Ada suatu kelompok muslim, mengatasnamakan Islam, namun ketika peluang menegakkan Syariat itu terbuka luas baginya, mereka membelakangi dan mengambil jalan yang disebut 'moderat'. 

Hanya terbetik fikiran, jika dalam ramainya saja mereka berani menolak Syariat, tanya bagaimana dalam kesendirian mereka?

Terbukti bahwa nama dan sematan baik-baik tak menjamin empunya sejalan dengan kebaikan. Namun banyak manusia yang fanatically butakan diri akan bukti.

 Intinya:

Semakin banyak kelompok Islam, tetapi tidak Islami, karena sekedar mengatasnamakan Islam.

Artinya:

Jika ingin menjadi bunglon politik, gunakan jubah Islam biar menarik, tapi prinsip-nya warna-warni; jadi banyak yang diraup dan diraih.



http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/291199267588132

Friday, December 9, 2011

Ibadah Jangan Norak!

oleh Hasan Al-Jaizy

Tanpa dzikir sebelum + selepas Subuh yang dikeraskan lewat Speaker, kita punya beberapa advantage:

--> Kebid'ahan diminimalisir
--> Yang mengaji--Pelajar--pembelajar tak terganggu di rumah
--> Yang qiyamul lail merasa nyaman dan khusyu'
--> Non-muslim tak terganggu
--> Menjauhi sikap norak dalam berdzikir yang kadang terjadi

Tapi, dikandani...tetap saja mereka ngeyel. Sebutnya, "Ini adalah ibadah dan kebaikan"

Ya, itu ibadah dan kebaikan menurut sempitnya akal kecilmu.

http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/289189527789106

Thursday, December 8, 2011

Tentang Ijtihad Sedikit

oleh Hasan Al-Jaizy

Imam Al-Haromain Al-Juwainy berkata:

"Seorang mujtahid jika berijtihad dan mengamalkan [hukum dzanny hasil] ijtihadnya, kemudian terjelas bahwa ijtihad tsb menyelisihi nash [yang qath'ie], maka tiada keraguan bahwa ia harus kembali ke nash."

Kitab Al-Burhan fi Ushuul Al-Fiqh

 Namun ingat, bahwa ijtihad dasarnya adalah perkara dzanny, bukan qath'ie yang 100% benar. Tapi seseorang yang bukan mujtahid [atau katakanlah belum memiliki kapasitas sebagai mujtahid] tidak boleh melawan hasil ijtihad seorang mujtahid dan menentangnya.

Wallahu a'lam