Showing posts with label Menulis. Show all posts
Showing posts with label Menulis. Show all posts

Friday, January 25, 2013

BUDAYA MENULIS

Oleh Hasan Al-Jaizy


BUDAYA MENULIS

Budaya menulis layak digalakkan di situs ini. Yang saya maksud adalah menulis tulisan bersekian paragraf berisikan 'what do you think', dengan ada upaya memperbobot kandungannya. Betapa indahnya jika kita membuka beranda/wall, lalu beberapa tulisan teman menunggu dibaca. Mungkin, kita tidak sependapat dengan si penulis, namun tetap setidaknya beri dia apresiasi atas upayanya menaburkan isi fikiran agar dibaca orang lain. Lebih-lebih jika yang ia tulis bermanfaat. 

Dahulu, budaya copy-paste sangat jamak terwujud di situs ini. Tanpa meminimalisir penghargaan saya kepada kawan, tapi dahulu terlihat seolah dia yang tersering dan terbanyak copy-paste nya adalah yang tertinggi keilmuannya. Mungkin itu hanya perasaan buruk saya saja. Dan syukurlah, sekarang adalah sekarang dan bukan seperti dahulu. 

Kita -menurut saya- soal tulis menulis dan menjulurkan ide melalui tulisan, masih kalah dibanding teman-teman Liberal, Sekuler atau yang memang berlatar belakang pendidikan umum non-Islami. Banyak dari mereka mampu mewujudkan gejala dalam fikiran, bayangan dalam kepala dan pendapat sebagai tulisan, yang bisa dibaca orang, dengan aluran yang lancar, menarik dan renyah. Bisa Anda buka Kompasiana. Lihat tiap 5 menit selalu ada 1 atau 2 tulisan baru. Mereka menulis sekehendak mereka.

Tuesday, January 8, 2013

Mengukir Nisan Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy


Pak Aris berkata di salah satu komentar pada salah satu statusnya di akunnya di suatu ketika:

"Apa beratnya sih nulis sumber kutipan, kan lebih pendek daripada copasannya yg panjaaaang panjaaaang itu..?"

Kalimat di atas dalem sekali. Saking dalemnya, yang terjerumus ke dalamnya mungkin bisa merasa sakit. 

Gabungkan dengan seseorang yang mengirim pesan di FB menulis:

"*Pencipta karya tulis = tidak mempermasalahkan karyanya dicopas tanpa membubuhkan namanya karena pada dasarnya ia tetap mendapat pahala dari Allah.
*Ahli (copas,nukil,sadur) = seharusnya menampilkan sumber sebuah tulisan untuk menjaga amanah ilmiyah.
KESIMPULAN
"Menyertakan sumber dari sebuah tulisan amatlah penting untuk mengetahui kevalidan tulisan itu,tidak lebih.(bukan supaya penulisnya terkenal)"

Friday, January 4, 2013

Jalan Pintas Lewat Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy

Sebagian orang merasa dirinya jauh lebih memaknai dan meresapi ilmu jika ia menulisnya ulang [mengetik ulang]; karena selagi mengetik, ia berfikir dan mendalami tulisan ketikannya.

Jika itu benar terjadi pada dirimu, maka lakukanlah kemudian sebarkan di Internet; baik itu di Blog, Facebook atau lainnya. Sehingga ada makhluk yang membaca. Jikalau ada yang juga meresapi bahkan tertunjuki melaluinya, maka investasimu lah ia untuk akhiratmu. Jikalau tiada yang meresapi, setidaknya ada yang menghabiskan waktunya membaca tulisanmu itu. Itu lebih baik. Menjadikan orang menyempatkan membaca sebuah kebaikan lebih baik daripada tidak sama sekali.

Banyak orang berkata, 'Saya ingin cara ringkas dan simple saja. Efisiensi waktu!'
Dan silahkan berprinsip begitu. Namun, jangan salahkan mereka yang tidak mau main ringkasan dan berlama-lama dalam menggali makna. Tahukah engkau, rata-rata orang sukses bukan karena main singkat-singkatan dan memilih jalan cepat?

Mungkin ada yang berkata, 'Buat apa menulis ulang? Menghabiskan banyak waktu. Cukup sekali baca saja! Atau dua kali!'
Itu benar. Menulis ulang memang menghabiskan banyak waktu...untuk kebaikan, manfaat dan ilmu. Banyak orang yang mencari metode belajar singkat dan simple beralasan 'tidak mau habiskan banyak waktu berkutat pada itu-itu saja'. Namun setelah mereka belajar, mereka habiskan waktu untuk menonton TV melihat program emak-emak memasak selama sejam plus iklannya. Oh, mungkin itulah yang disebut efisiensi waktu. Meminimalisir masa untuk membaca dan menulis, dan meliberalkan masa untuk entertainment.

Bukankah itu kita?

Thursday, January 3, 2013

Mentahdzir Maling


oleh Hasan Al-Jaizy


Sejujurnya saya merasa sebal sangat jika melihat suatu notes atau artikel blog yang saya tahu itu bukan hasil karya pemilik keduanya; melainkan hanya tekan Ctrl C + V atau retyping, namun sama sekali TIDAK menyebutkan sumber atau nama penulis aslinya [creator] atau minimal [ini paling minimal] menulis 'copas dari teman' dan kalimat semacamnya.

Kalau catatan atau artikel tersebut bukan hasil nukilan murni, melainkan hasil tulisannya yang mirip sekali dengan artikel lain, namun dibedakan gaya penyampaiannya dan berbeda kalimat-kalimatnya, maka ini layak disebut karyanya; karena memang ia memiliki hasil perasan otak di dalamnya. Bukan murni hanya gerakan singkat jemari.

Dan kebanyakan manusia yang melakukan itu [copas buta tanpa penyebutan sumber/link atau penulis asli] disebabkan beberapa hal:

Friday, December 21, 2012

Tentang Catatan Akhir Tahun


oleh Hasan Al-Jaizy

Tentang Catatan Akhir Tahun

Alhamdulillah, akhirnya bilangan 50 'nyampe' juga untuk status serial 'Catatan AKhir Tahun'. Penulis ingin mengungkapkan kepada pembaca jawaban-jawaban untuk pertanyaan ini:

[1] KENAPA disebut Catatan Akhir Tahun?
[2] KENAPA diberi nomor [urut]?

Jawaban:

[1] Karena momennya memang akhir tahun 2012. Dan tidak hanya itu, kata 'catatan' itu seolah menunjukkan bahwa ini adalah kumpulan tulisan di akhir tahun. Saya hendak menunjukkan pada siapapun -tanpa meninggi- bahwa tiap-tiap kita BISA membuat catatan dan PUNYA.

[2] Dengan adanya nomor urut, saya sejujurnya berharap siapapun agar terpincut dan

Tuesday, December 18, 2012

CAT : [39] "SESUATU UNTUK PENULIS STATUS"


oleh Hasan Al-Jaizy


Setelah 'belagak' mengamati, saya mempunyai kesimpulan bahwa di bulan ini [Desember], teman-teman FB yang mulai menulis tulisan status panjang berjamak paragraf meningkat. Dan itu adalah hasil fikiran sendiri. Bukan seperti 2010 atau 2011, di masa ketika semuanya beralasan 'ilmiah dan menjauhi sok-tahu' tetapi mengumpulkan paragraf-paragraf tulisan orang lain di status dengan pragmatisnya. Itu tidak buruk. Bagus. Tetapi menciptakan milik sendiri dengan menggali dari yang dipunyai dalam diri adalah S.E.S.U.A.T.U..

Bahkan frekuensi status panjang bulan ini lebih sering dibanding bulan sebelumnya (November). Kalau sampeyan memang menyadarinya, perbedaan itu sungguh terasa. Sangat bagus jika kita yang punya kesempatan usia ekspresikan sesuatu dengan tulisan; karena teman-teman kita di dunia lain, yaitu penganut Sepilis atau Epilepsi, bisa menulis dan ekspresikan syubhat dalam fikiran mereka dengan tulisan. Nah, sekarang baiknya kita banyak-banyak membaca, baik itu membaca kitab atau gejala alam, lalu diresapi, dimaknai, digali, diramu, diracik dan

Friday, December 14, 2012

CAT : [31] "JANGAN TANYA JUDUL"

oleh Hasan Al-Jaizy


Selain bisa dicerna atau merasuk ke hati pembacanya, tulisan yang juga -menurut saya- 'sukses' adalah yang bisa membuat pembaca -sadar ataupun tidak- terpengaruh dengan gaya bahasa atau penulisannya; sehingga ketika pembaca menulis di lain kesempatan, ia -sadar atau tidak- menulis dengan gaya bahasa mirip/serupa dengan tulisan yang sukses tersebut.

Ukuran sukses atau tidaknya sebuah tulisan, tidak dengan banyaknya pembaca atau likers; meskipun itu bisa jadi. Tetapi, masuk atau tidaknya dan berpengaruh atau tidaknya, entah dari segi ide, ataupun style. Dan itu tidak mesti akan membuat pembaca me-respon dengan reply atau komentar. Karena kadang ada pembaca yang tetap bisu meski terpengaruh. Maksudnya: ketika ia membaca, ia terasuki. Setelah membaca, ia tidak merespon balik; bisa jadi karena memang merasa tidak perlu berkomentar, bisa pula karena memang 'gengsi' seraya bergumam: 'jangan sampai penulis tulisan ini tahu atau mengira bahwa saya menyukai karyanya atau minimal terpengaruh'.

Sebagaimana seorang penceramah yang berupaya memperbaiki gaya ceramahnya dan menuai topik dengan baik, begitu pula dengan penulis. Dan hadirin tidak harus mengatakan, 'Aku suka ceramahmu' atau 'Aku suka suaramu' atau 'Aku suka kamu' jika memang suka. Ekspresi manusia berbeda. Gengsi juga berbeda. Tetapi, ceramah yang berhasil adalah yang bisa dicerna dan masuk ke fikiran pendengar/hadirin. Jika ternyata style ceramah itu kemudian ditiru orang -sadar atau tidak-, maka penceramah tersebut memegang 2 keberhasilan.

Jika tidak/belum bisa ceramah, menulislah...

Jika belum bisa membuat tulisan, nukillah milik orang...

Tapi jika selamanya menukil milik orang...tidak akan bisa membuat tulisan sendiri

Manusia dihakimi karena kebiasannya pula.

Thursday, November 29, 2012

Menggali Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy

Lumayan mnyesal kenapa dahulu di Salatiga dan Pontianak tidak menulis diary, buku harian atau minimal buku semesteran untuk merunut kejadian-kejadian. Lalu diberi judul Kitab Kejadian. Nah, sekarang saat ingin mengenang, rupanya banyak cerita yang membangkai tak hidup lagi. Padahal banyak cerita yang layak diceritakan. Dan banyak pelajaran bisa digali pula. Tapi mau apa lagi?

Salah satu cara agar bisa menulis dengan baik atau terbiasa menulis adalah dengan menulis buku diary. Kalau hari gini, Anda bisa menggantinya dengan menulis status atau tulisan di blog. Dulu, mayoritas penulis diary adalah perempuan. Dampaknya, mereka lebih pintar dalam melukiskan cerita dan peristiwa dengan tinta dibandingkan pria. Kalau kata beberapa pria, 'Cuih, buat apa sih nulis diary? Ga ada manfaatnya!?'

Mereka berkata seperti itu seolah-olah mereka sudah menggunakan seluruh waktu untuk meraih manfaat. Memangnya menonton TV program hiburan lebih bermanfaat?! Soal manfaat, menulis apapun selama dalam proses pelatihan akan memberi manfaat pada pelaku. Dan komentar manusia tidak selalu bermanfaat. Jadi, untuk perkara ini, lebih baik Anda menjadi pelaku

Monday, November 19, 2012

BULUGHUL MARAAM

oleh Hasan Al-Jaizy

Seperti membaca, menulis juga bukan tujuan akhir. Membaca adalah wasilah besar tuk dapatkan maklumat. Menulis adalah wasilah besar tuk sebarkan maklumat. 

Apa maklumat itu? Maklumat berasal dari bahasa arab, yang berarti 'sesuatu yang diketahui' atau 'pengetahuan'. Ada juga kita kenal kata 'maklum'. Makna maklumat dan maklum sebenarnya serupa. Yang membedakan adalah penggunaan. Maklum lebih condong kepada maksud 'wajar, biasa atau lazim'. Sementara maklumat condong pada 'pengumuman, pemberitahuan hingga ilmu'. Praktek penggunaan kalimat:

MAKLUMAT

"Maklumat ini saya sampaikan agar

Saturday, November 10, 2012

Petromak Di Langit Gulita

oleh Hasan Al-Jaizy

Manusia yang sekadar bisa membaca kitab terjemahan dengan niatan belajar dan berusaha beri yang ia dapatkan dari ilmu dengan ikhlas, itu jauh jauh jauh sekali lebih baik dibanding orang yang mampu membaca kitab aslinya (arabic) dengan baik namun kemampuannya itu justru menjadi fitnah bagi dirinya dan umat. Bagi dirinya karena sombongnya, tau ujubnya, atau ketidakikhlasannya. Bagi orang lain karena pembenaran terhadap penyimpangan, atau jidal tanpa faedah, atau menikam ulama, atau menginjak awam dan lainnya.

Membaca buku bukanlah tujuan. Tetapi mengambil faedah, menerapkan dan menyiarkannya adalah tujuan. Siapa yang menjadikan membaca sebagai tujuan, ia bagaikan menjadikan gelar sebagai pencapaian akhir, bukan service terhadap umat. Karena itulah, orang yang hanya ingin kelihatan 'banyak baca buku' entah dengan cara apapun, Anda akan melihat mereka sebenarnya tidak tahu apa yang dibaca dengan baik. Atau bahkan nihil. Karena tujuan akhirnya: membaca, bukan mengambil faedah. Sama juga yang hanya ingin dapat gelar. Kau akan laksana melihat pepesan kosong. Tidak berisi. Bobotjya hanya bungkus yang ditumpang tindih.

Orang-orang yang sebenarnya tidak suka membaca tapi ingin dipandang suka membaca

Friday, November 2, 2012

Tidak Bisa Ngarab?

oleh Hasan Al-Jaizy

Anda tidak bisa berbahasa Arab?
Anda tidak bisa membaca kitab?

Jangan bermuram durja ketika mengaca diri dan melihat bahwasanya, 'wah, gue ga bisa berbahasa Arab, lho.' Ketahuilah, bahwa mempelajari dan menguasai Bahasa Arab itu tidak wajib. Tidak wajib. Tidak wajib kecuali:

--> sebagian dzikir dalam shalat dan mana Surat Al-Fatihah. Juga sebagai bonus tambahan ayat-ayat lain.
--> bagi yang BERKONSENTRASI di ilmu syariah.

Jangan minder ketika di pengajian, ternyata teman-teman bisa memahami bahasa Arab. Karena mungkin mereka diberi rizki lebih, yaitu pendidikan di pondok dulu, atau pendidikan kampusnya, atau mengenal bahasa Arab lebih dahulu. Tapi minderlah ketika punya teman dekat, kenal bahasa Arab bareng, satu pengajian, dan bedanya:

Sunday, October 28, 2012

Karena Kau dan Mereka Bisa Bersyukur


oleh Hasan Al-Jaizy

Coba hadirilah kajian atau majelis ilmu. Di manapun itu. Lalu sempatkan untuk melihat gelagat hadirin. Ada satu gerakan yang menarik, yaitu manggut-manggut.

Salah satu bagian kecil dari pemandangan yang menentramkan hati seorang guru, dosen, ustadz atau pemateri, adalah mengangguknya kepala-kepala. Trust me and believe me. Karena itu tanda si pengangguk memperhatikan, berusaha mencerna dan memahami. Jangankan mengangguk, jika engkau berbicara di depan hadirin, lalu kau lihat mereka melihat dan menyimakmu, maka kau akan senang dan termotivasi untuk berbagi. Terlebih jika ada yang mengangguk!? Sebuah isyarat tanda mengerti. Maka akan lebih senanglah engkau.

Dan rasa senang itu bukan berarti kebanggaan negatif ataupun sombong. Tapi, rasa tersebut adalah kelaziman yang manusiawi dan wajar. Tidak ada presentator yang tidak senang kalimatnya difahami manusia. Tidak ada penceramah tak berubah rasa di hati ketika tahu orang-orang memahami ceramahnya.

Begitu juga dengan

Tuesday, October 9, 2012

Kalau Kamu Menjadi Aku...


oleh Hasan Al-Jaizy

Kalau kamu menjadi aku, kamu akan mengatakan bahwa Facebook is a serious business, yang bisa menjadi wadah juga wasilah untuk memanen pahala dan dosa. Bisa juga menjadi wadah dan wasilah untuk mengasah kemampuan plus modal merajut masa depan..

Kalau kamu menjadi aku, kamu akan fahami alasanku mengapa seringnya menulis dan membaca sebelum menulis. Mengapa juga yang tertulis seringkali hal-hal tidak penting yang dipenting-pentingkan. Kamu akan fahami alasanku.

Kalau kamu menjadi aku, kamu akan merasakan bahwa semua yang terjadi adalah pelajaran dan selalu berhikmah. Jikalau tiap-tiapnya terdeteksi dan dipetik untuk diserap di jiwa, akan menghasilkan buah pemikiran yang membuatmu

Sunday, October 7, 2012

Buku Bajakan, Mahasiswa dan Pulsa

oleh Hasan Al-Jaizy

Mahasiswa tidak punya buku? Jadi mahosiswo sajo. Maka jadilah mahasiswa masa kini, biarpun tidak berprestasi, yang penting punya pulsa dan buku. Pulsa harus yang seminim-minim pengeluaran untuknya, namun semax-max penggunaan dengannya. Adapun buku, biar aspal [asli palsu: asli tulisannya, palsu cetakannya] yang penting ada dan 'gue-punya'. Jadi, masalah buat lo?

Fenomena bajak-membajak buku demi kebajikan dan kemaslahatan bersama itu sangat ada. Semakin subur beranjak sepadannya kesuburan artikel dan dokumentasi online. Faktor itu banyak. Salah satunya adalah keinginan keluar modal sedikit, namun bisa meraih intinya. Salah duanya adalah harga buku original yang kelihatannya sengaja 'dinaikkan' sehingga mahasiswa mengatakan 'eman-eman, gan...ada gak yang lebih murah dari Hit? Yang lebih aspal banyak!'.

Kita kupas satu-persatu faktor-faktor itu:

Tuesday, September 25, 2012

Pembahasan Itu Banyak Sekali!

oleh Hasan Al-Jaizy

Sesuatu yang bisa dibahas itu berbuih banyaknya di samudera. Ketika Anda ingin menulis sesuatu yang masih majhul (belum diketahui tepatnya mau menulis apa), Anda akan berusaha menggali memori untuk membangkitkan kembali ide-ide keramat atau wacana-wacana yang pernah mampir di fikiran. Jika seseorang sudah merasa lumpuh dalam menentukan wacana global yang akan dibahas, maka lebih beku lagi dengan perincian wacana.

Itu karena Anda tidak sadar bahwa wacana brjubel-jubel banyaknya sementara pandangan Anda hanya mentok satu senti ke depan atau ke samping. Apa yang Anda lihat sekarang bisa menjadi sebuah topik perbincangan, bukan?

Seperti: Anda menyaksikan seekor, eh....seorang bayi di sebuah taman mawar bersama ibunya. Bayi tersebut sedang belajar berdiri, namun selalu gagal terjatuh. Namun ia tetap berusha kembali berdiri dibantu dan disemangati oleh ibunya.

Nah, dari scene sederhana dan potongan realita tersebut, ANDA BISA...YA...ANDA BISA...membuat 10 pilihan wacana atau lebih. 

Saturday, September 22, 2012

At Least Jangan Direndahkan


oleh Hasan Al-Jaizy

Setidaknya, DIAM atau HARGAI Selama Itu Positif

Cobalah Anda baca buku atau suatu artikel baik-baik. Setelah selesai, cobalah mempresentasikan kepada teman atau siapapun secara oral. Bincangkan apa yang Anda baca dan hembuskan opini Anda. Susah atau mudah? Bagi Anda yang terbiasa membaca asal-asalan atau yang memang sedianya jarang membaca, pasti bakal menemukan kesulitan atau bisa bicara namun point penjabaran Anda begitu miskin.

Sekarang yang kedua, cobalah Anda baca 4 buku yang bersatu genre-nya. Anggaplah itu semua buku antropologi. Ambil bab-bab yang berkaitan dengan pengaruh kultur terhadap kemajuan peradaban suatu bangsa. Setelah melahap semuanya yang terkait, coba susun dan tuangkan segala yang Anda fahami lewat tulisan. Susah atau mudah? Tidak mudah. Susah. Bahkan bagi sebagian orang yang memang sedianya malas membaca dan malas memegang pensil/pena, hal tersebut bagaikan memindahkan gunung ke tengah samudera.

Karena itu, ketika Anda mendengar presentasi seseorang, baik itu

Tuesday, September 18, 2012

KEGALAUAN 'ILMIAH' PELAJAR MUDA ILMU SYAR'I [Risalah Kecil Untuk Pelajar Muda]


oleh Hasan Al-Jaizy

 Kegalauan ILMIAH Pelajar Muda Ilmu Syar'i    [Studi Subjektif Akan Realitas, Kausalitas dan Solusinya]

Kegalauan yang termaksud adalah kegelisahan, entah terukur kecil maupun besar. Dan sifat 'ilmiah' yang tersemat di judul menunjukkan bahwa kegelisahan tersebut berkaitan dengan ILMU syar'i, yang menggaung di dada pelajar muda. Tulisan ini hanyalah pandangan subjektif yang berdasarkan pengamatan realitas, kausalitas [penyebab] dan mencoba menawarkan sedikit dari solusi untuk menanganinya.

Kegelisahan semacam ini belum tentu keburukan, namun bisa pula bibit kebaikan. Seorang pelajar yang mempunyai impian dan cita-cita tinggi, ia akan terbakar rasa iri melihat guru atau temannya yang mengagumkan dari segi ilmu, entah karena kuantitas hafalan atau kualitas pemahaman atau penjabaran jempolan. Dan rasa iri yang menggelisahkan semacam ini bukanlah keburukan; karena ini adalah sinonim 'kecemburuan ilmiah' dan terjemahan dari uluwwul himmah [high desire] untuk ilmu.

Dalam posisi dan juga ketika merasakan gelombang hati seperti ini, seorang pelajar perlu menyeimbangkan [balancing] diri agar tidak terjerumus pada kedengkian, namun juga jangan sampai mematikan impian. Layak ia ketahui bahwa semua ustadz atau syaikh yang ia kagumi, pernah merasakan gelombang ini di fase belajar dahulu. Karena ini adalah kelaziman, modal dan perkakas penting untuk bangkit berdiri dan naik meninggi.

  Bentuk Kegalauan Dalam Realitas   

Karena berkenaan dengan realitas, penulis akan memberikan contoh yang benar-benar terjadi. Meskipun tidak terjadi pada semua pelajar, tapi setidaknya pernah terjadi pada sebagiannya. Inilah di antaranya:

Friday, September 14, 2012

MENULISLAH!


oleh Hasan Al-Jaizy

Menulislah...

Menulislah selagi itu ada gunanya untukmu
Menulislah selagi muda
Menulislah selagi wadah, waktu dan kesempatan itu masih ada
Menulislah selagi kau belum dikalahkan

Remehkanlah...

Tuesday, September 11, 2012

Anda Gantian Menulis!


oleh Hasan Al-Jaizy

Berkali berselancar di Kompasiana, saya mendapat satu user yang rupanya adalah seorang penulis 'cilik' di blog 'keroyokan' tersebut. Dia baru lulus SD, namun sudah memiliki beberapa post tulisan tentang berbagai hal, mulai dari guru-guru favoritnya, kesenangannya akan HP Android dan lain-lain. Walau masih ada kesan childish dalam beberapa kalimat terjabar, tapi saya pribadi cukup kagum dengan kemampuannya mengutarakan yang terfikir lewat tulisan di umur belia.

Di usia semuda itu, ia sangat berpeluang kelak menjadi penulis handal dan ilmiah. Yeah, kalau melihat hal semacam ini, biasanya hati akan terpincut, ingin juga seperti dia dan perasaan-perasaan aneh pun mulai beredar. Tapi, terkadang kita sendiri yang tidak pernah mau berusaha memulai. Jikalau sudah sekali mulai, kita menyerah lalu melupakannya.

Oh ya, by the way, tiap hari Anda membaca status orang gak? Tiap hari membaca berita di koran ataupun internet gak? Tiap hari Anda membaca tulisan2 ilmiah religius karya teman2 gak?

Jika iya jawabannya....sekarang...Anda yang gantian menulis. Ayo, mulai dan teruskan....stuck? Stagnasi? Sampai kapan berharap jadi?

Oh ya...

Tulisan anak yang baru lulus SD itu dibaca oleh puluhan hingga mungkin ratusan Kompasioner yang rata2 orang2 kantoran, intelek dan dewasa. 

Sebagaimana membangun sesuatu lebih sulit daripada meneliti di mana kesalahannya, maka menulis sesuatu lebih sulit dibanding mengomentarinya, apalagi sekedar menekan tombol 'like' nya.

Tapi, bangunan dan tulisan, harga dan karyanya adalah milikmu, bukan milik liker, bukan pula reader, bukan juga komentator.

Friday, September 7, 2012

Setiap Anda Punya Potensi!

oleh Hasan Al-Jaizy

Bukan muluk-muluk saya katakan bahwa setiap dari Anda memiliki potensi untuk membela agama ini [bukan membela kelompok ini atau partai ini]. Potensi adalah power dan kekuatan, entah itu berupa fisik, skill atau makna. Fisik bisa tercontohkan dengan kekuatan badan atau harta. Skill bisa seperti kemampuan menulis dan berbicara, atau bahkan kemahiran menembak dengan senapan. Makna bisa dimaksudkan sebagai ilmu pengetahuan. Jadi, fisik dan makna, keduanya independen. Sementara skill pasti berkaitan dengan salah satu dari keduanya [fisik atau makna]. Fikirkan itu, wahai kamu!

Dan kamu juga diperintahkan untuk mengerahkan kekuatan atau potensi yang telah Allah titipkan padamu demi menegakkan yang benar dan menenggelamkan yang salah. Allah berfirman:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ

"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka KEKUATAN apa saja yang kamu sanggupi" [Q.S. Al-Anfal: 60]

QUWWAH dalam ayat di atas berbentuk nakiroh yang bermakna