Showing posts with label Ibu. Show all posts
Showing posts with label Ibu. Show all posts

Tuesday, March 26, 2013

Musafir Perjuangan

oleh Hasan Al-Jaizy


Berawal seseorang dari ketiadaan, lalu berakhir pula dengan ketiadaan. Berawal penciptaan seseorang dengan kesepian dan kesendirian, lalu berkhir pula dengan keduanya. Berawal terlahir manusia dengan keentahan dan ketidaktahuan, dan apakah engkau ingin mengakhiri dengan jawaban, "Aku tidak tahu!" !?

Yang merawatmu sejak sebelum hijrahmu dari perut ibu menuju perut bumi adalahAllah. Yang menjagamu di dalamnya. Setelah keluarnya pun kau tetap Dia jaga. Sepanjang suratan dan siratan sirah hayatmu, Dia lah yang mengaturnya. Rizki telah tertunaikan tanpa setitikpun terkurangi. Nasib telah ditakdirkan tanpa setitikpun kezaliman. 

Apakah kau mengingat-Nya? Bagiamana cerita hatimu kini akan-Nya?

Dia Dia...Dia-lah yang menciptakan kedua orang tuamu, yang menitipkan pada keduanya dirimu. Makhluk pertama yang peduli terhadapmu adalah ibumu. Kemudian, masih ibumu. Lalu, ibumu tak henti peduli. Setelahnya, muncullah nama bapakmu.

Tuesday, January 1, 2013

Pisau Bermata Dua + Orang Tua

oleh Hasan Al-Jaizy

Teringat di rekaman kajian Syarh Hilyatu Thalib Al-Ilm [Syaikh Bakr Abu Zaid] oleh Syaikh ibn Al Utsaimiin -rahimahumallah-, ketika membahas tentang 'Syuhrah' [kemasyhuran], beliau kira-kira berkata yang maknanya:

"Tidaklah seorang penuntut ilmu menuntunya li ajli [DEMI] kemasyhuran. Bahkan kadang penuntut ilmu yang tidak menuntut kemasyhuran dan berusaha ikhlas, Allah menjadikannya masyhur di tengah manusia."

Ucapan beliau adalah kebenaran dan seragam dengan realitas.

Kemasyhuran di satu sisi berpotensi fitnah, namun di sisi lain merupakan ladang berkah. Seorang alim yang masyhur, kemasyhurannya bisa jadi hibah dari Allah, berkah dari-Nya, dan amanat agar ia memanfaatkan kemasyhurannya untuk terus menanam bibit pahala dan manfaat di tengah manusia. 

Thursday, December 20, 2012

CAT : [46] "AIR TUBA DIBALAS AIR SUSU"


oleh Hasan Al-Jaizy


Ada seorang nenek berdagang dengan anaknya di pasar. Namun, anaknya tidak selalu ikut berdagang. Mereka menyewa tempat di depan rumah Pak Haji. Rumahnya rupanya di pasar itu dan ia pun juga menjual buah-buahan depan rumahnya. Namun, Pak Haji satu ini, meskipun sehari-hari ramah, ternyata memang 'tegaan'. 

Nenek ini berdagang makanan lauk. Di sampingnya pun ada pedagang tahu, seorang ibu-ibu. Sang nenek beberapa kali 'dianggap' telat membayar uang sewa tempat. Ia ditegur dengan kalimat tidak menyenangkan oleh Pak Haji. Kadang menyakitkan hati. Suatu hari, Pak Haji mengusirnya dengan kalimat pedas karena memang sang nenek telat membayar entah sehari atau selebihnya.

Nenek itu pun pulang ke rumah dengan sakit hati. Ia menceritakan itu semua pada anaknya dengan sedih. Mereka kemudian berembug mencari tempat lain untuk berniaga. Beberapa hari lamanya, mereka tak terlihat lagi di pasar hingga akhirnya mereka menemukan tempat lain yang cocok untuk berjualan padanya.

Namun, meski sakit hati, mereka tetap menyapa Pak Haji jika berpapasan di jalan. Dan itu membuatnya malu sendiri. Belum lagi, si anak kadang shalat di mushalla yang mana Pak Haji

Wednesday, December 19, 2012

Tak Tahu Harus Menjudulkan Apa


oleh Hasan Al-Jaizy

Sebelum kau berpisah dengan mereka, jadikanlah dirimu sebagai pengelus hati mereka.

Sebelum kau benar-benar terpisah dari mereka selamanya, berikanlah yang terbaik termampu olehmu meski wujudnya tak sebanding dengan wujud seluruh kasih mereka terhadapmu.

Dan ketika benar-benar kalian berpisah...

...bahkan yang larut berbakti ketika hayatnya, masih tersesal mengapa belum tunaikan yang terharap.

Bagaimana jika pintu surga masih terbuka namun kau masih bermain dan bercanda?
Apakah menunggu tertutupnya ia, baru kemudian kau menangis darah dan meminta yang terkubur bangkit darinya? Tidak akan pernah...

Sesungguh sesalan setelah kehilangan takkan kembalikan yang hilang selamanya...
dan sesuatu takkan sempurna diketahui arti keberadaannya, kecuali setelah hilangnya...


Tuesday, December 18, 2012

CAT : [41] "YANG TAK TERLUPA"

oleh Hasan Al-Jaizy


Seperti kata siapa...
"Orang yang sering berdoa
mendoakan kebaikan
bagimu
adalah ibumu, juga bapakmu
Hingga saking derasnya doa
dan harapan mereka padamu
mereka luput doakan mereka sendiri"

Seperti kata siapa...
"Orang yang menangis haru
ketika menangismu
memulai hari dunia
adalah ibumu, juga bapakmu
terlebih jika kau adalah
anak pertama
Hingga saking harunya
ketika besar kau lupa
betapa mereka mengawali hidupmu
dengan tangis bahagia
dan jangan kau buat mereka
ulangi tangisan berupa
tangisan didurhakai"

Seperti kata siapa...
"Orang yang dulu ajarimu
bahasa isyarat dan lisan
adalah ibumu
Maka ketika besarmu
jangan kau ajari mereka
menangis sakit hati
disebabkan bahasa lisanmu"

"Bayangkan ketika kau letih mendidik
mengajari anakmu bahasa
hingga sempurna
lalu tumbuh anakmu sempurna
dan ia menikammu dengan bahasa
yang dulu pernah kau ajari
padanya...
ketika ia tidak bisa apa-apa"

Masih ingatkah aku ketika itu?
Ketika aku dimandikan dengan air segar
oleh ibuku
Ketika aku dikenakan baju seragam
di awal-awal sekolah
Hingga ibuku menata kancing dan kerah
lalu mengusap-usap dada dan kepalaku
Kemudian antarkan aku
dengan sepeda sederhananya
Namun hati ibu tiada sederhana
megah akan kasih selama hayatnya

Masih ingatkah aku ketika itu?
Ketika ayah membeliku mainan
di awal bulan
Lalu gembiranya aku
dan gembiranya ayahku
Diajak di hari Minggu
tamasya ke taman bahagia

Ayah...Ibu...
masih ingatkah aku...
jasa-jasa kalian
sehingga hingga kini aku pun
belum sebanding
membalas yang terjasa
meski aku harus menguras
atau
memercikkan air mata
Meski segala keringatku
air mata bakti
belum sebanding dengan
kasihmu bermasa-masa

Jangan biarkan aku, wahai diriku
Jangan biarkan aku kelak
menitiskan hujan air mata
menuai sesal ditinggal
di tepi kubur ayah ibu
Dua hamba-Nya yang tak terlupa...

Sunday, November 4, 2012

Emak-emak


oleh Hasan Al-Jaizy

Belajar banyak dari emak saya. Yang mengajari hingga berhasil mampu membaca baik di usia 5 tahun adalah emak saya. Yang sampai di usia ini, orang yang saya persilahkan mengelus-elus kepala saya dan membejek-bejeknya di tengah keramaian pasar hanyalah emak saya. Yang kalimatnya selalu didengar dan diserap maknanya meski bukanlah ia sabda Nabi, adalah emak saya.

Emak saya adalah emak rumah tangga, yang bisa merangkap banyak profesi sampingan. Sebenarnya banyak emak-emak yang jauh lebih hebat dari bapak-bapak. Atau agar lebih global saya katakan:

"Banyak perempuan lebih hebat dari lelaki"....terutama dari segi perjuangan. Bahkan sudah lazimnya perjuangan perempuan dalam melahirkan dan merawat generasi masa depan, jauh lebih besar dibanding lelaki. Perempuan, yakni emakmu dan emak saya,

Wednesday, October 31, 2012

...dan Orang-orang Tua Pun Menangis III


oleh Hasan Al-Jaizy


4

Ada seorang ayah yang hidup tak berkecukupan dan terlilit hutang. Ia hanya memiliki harta hayati, yaitu seorang anak laki-laki. Keduanya tinggal serumah dan tiada siapa-siapa lagi. 

Suatu hari, terdengar suara gedoran dari pintu depan. Sang putra pun bukakan pintu menjawabnya. Tiba-tiba, penggedor itu, seorang laki-laki, mendorong pintu dan langsung merasuk ke rumah tanpa salam ataupun penghormatan wajar. Lalu menghampiri sang ayah dan memegang kerahnya keras-keras.

"Bayarlah hutang-hutangmu. Tidak malukah engkau!? Aku sudah menunggu di luar batas kewajaran! Habis sudah kesabaran! Apa kamu sedang menunggu apa yang akan aku perbuat padamu???"

...dan Orang-orang Tua Pun Menangis II


oleh Hasan Al-Jaizy


3

Tentang seorang remaja berumur 18 tahun. Baru lulus sekolah rupanya. Sedari kecil tak dididik benar-benar meski dirawat benar-benar. Ia tinggal serumah seatap dengan kedua orang tua kandungnya di daerah seberang Volvo, dekat Kalibata. Ibunya, yang dahulu berletih penuh sejarah payah selama berbulan mengandung, sekian menit melahirkan, dan berpeluh tahun mengasihi, adalah seorang pekerja di sebuah rumah sakit daerah Salemba, Jakarta. Sementara bapaknya adalah teman lama ibu saya. Bapaknya bekerja sehari-hari menjadi tukang ojek.

Bukanlah keluarga kecil itu keluarga bergelimang rupiah dan benda diharta. Namun, serasa rumah hanyalah tempat singgah bermalam. Seakan ia adalah penginapan untuk satu keluarga. Pagi hingga menjelang matahari tutup umur hari, tiap penginap [ayah-ibu-anak] keluar rumah. Sibuk dengan kesibukan masing-masing. Sang ibu sibuk dengan kerjaan di Rumah Sakit. Bapak pun tak sempat banyak membelai hati si anak. Tentu ia lebih sering merawat motornya yang menghasilkan uang cukup dibanding merawat hati anak. Sementara si anak, tak mau peduli dengan siapa yang melahirkan dan siapa yang membiayai kehidupan. Yang ia tahu hanyalah, 'Segala yang kuhasratkan harus teradakan'.

Anak ini adalah anak muda yang hidupnya berlumuran sejarah setan. Budi pekerti terhadap orang tua tercabut hingga sirna tak berjejak. Atau memang sedari kecil tiada sama sekali. Karena tumbuhan takkan tumbuh jika tiada penumbuh atau penanamnya. Pernah dulu ia memaksa orang tua untuk membelikan motor.

Sehari-hari, jika ada saja yang salah dari orang tua, atau tidak diberi uang untuk melampiaskan syahwat duniawinya, ia tega mencaci maki orang tua. Berlakon-lakon sudah wayang setan berlidah api neraka ia peragai di rumah.

Hari itu bukanlah hari luar biasa. Si anak durhaka ini hendak keluar rumah, sepertinya selepas maghrib atau jam-jam setelahnya. Ia meminta sesuatu namun tiada terkabul dari pihak yang dipinta. Siapa lagi kalau bukan orang tua. Akhirnya terlafadzkan kalimat ini di depan muka mereka:

"Setan luh!"

Lalu ia bergegas keluar dan melaju bersama motornya menuju kegelapan dan kesuraman. Tak lama kemudian, terdengar dering telepon. Diangkat oleh salah satu dari kedua orang tua. Terkesiap tak berkejap-kejap mereka mendengar kabar. Anaknya kecelakaan di jalan. Terkirimlah jasad di sebuah rumah sakit. Dan kabar itu dipastkan benar.

Betapapun durhaka anak pada orang tua, masih ada beberapa bait kasih tersisa dalam hati mereka. Berdua bergegas ke rumah sakit yang dimaksud. Duhai malangnya nasib satu keluarga. Hati telah hancur. Tulang-tulang si anak remuk namun ia masih tetap hidup. Ia lumpuh. Lumpuh tak berdaya. Terbaring menghitung masa. Hingga kini, sudah berbulan lamanya, terkabari seperti itu adanya.

Apa yang kemudian bisa didapat jika tiada bertaubat dari durhaka terhadap kedua orang tua? Namun, orang tua pun bisa pula durhaka terhadap anaknya. Jika apa? Jika mereka tak mendidik keduanya adab dan agama....dan orang-orang tua pun menangis.

Tuesday, October 16, 2012

Kangen Nyak Kepada Otong


oleh Hasan Al-Jaizy

Atau Kangen Simbok Kepada Tole, atau Kangen Simbah Kepada Gendhuk...atau atau atau.

Yaitu kangen orang tua kepada anaknya; yang mungkin sedang merantau menimba ilmu di negeri lain; nun jauh di sana, di luar desa. Dulu, para bapak dan ibu mengantar anaknya bersama keluarga ke terminal, atau stasiun, atau bandara. Zaman ketika Handphone belum merakyat. Zaman ketika kontak elektronik masih gaib; yang ada hanya kontak batin antara jiwa-jiwa. Remember, kontak batin itu tak bersuara dan tak tertulis, sebagaimana SMS atau telepon. Namun, kontak batin itu lebih dalam dan mengena.

Nyak-nyak dan mbok-mbok menangis sedih akan kepergian buah hatinya ke kota jauh. Batinnya lebih terkuras dibanding batin Shakhru Khan ketika gadis kesayangannya naik sepur ekonomi, berangkat dari stasiun. Si gadis sempat melemparkan selendangnya ke dirinya; sebagai sisa kenangan. Kuch Kuch Hota Hai? Kok jadi ke sana?

Maksud saya, tangisan nyak-nyak

Saturday, October 13, 2012

Perut Kehidupan dan Kematian

oleh Hasan Al-Jaizy

==> Kau keluar dari perut ibumu...kau menangis
sementara ibu dan orang-orang sekitarmu tersenyum. Jikalau mereka menangis, itu karena haru atau bahagia. Lalu kenapa kau menangis ketika itu? Seakan kau merasa tetap ingin tinggal di dalam perut. Seakan kau mengira bahwa perut ibumu lebih luas dibanding dunia ini. Seakan kau...seakan kau....pastinya kau bukan siapa-siapa kala itu

==> Lalu bertahun-tahun kau hidup...mengisi perut
bertahun lamanya kau menangis dan tertawa, sedih dan gembira. Seringkali kau lupa bahwa tadinya kau bukan siapa-siapa, atau bahkan hingga kini kau masih bukan siapa-siapa. Suatu hari di hadapanmu adalah maut. Duhai, mengapa kau menangis lagi??? Seakan kau merasa tetap ingin tinggal di dunia selamanya. Seakan kau mengira bahwa dunia ini satu-satunya tempat tinggal dan tiada alam lain lebih luas.

==> Kau pun dikubur dalam perut bumi...mereka menangis
sementara kau tersenyum atau menangis?

Sunday, July 15, 2012

Jalan Menuju Bakti Pada Orang Tua

oleh Hasan Al-Jaizy


Sebagaimana kebanyakan segalanya, kita tidak memandang itu semua dari satu sisi saja, sehingga tidaklah kita menganggap segalanya bisa diukur sama dan disamaratakan.

Seperti baktinya seorang anak pada orang tua. Antara seorang dengan seorang lainnya berkadar beda. Kau tak bisa menyamaratakan dan tak mungkin mengkiaskan segala kisah hidup manusia dengan milikmu semata.

Beberapa gambaran:

Adakalanya seseorang tidak akan terbukti berbakti kecuali jika setelah ia melewati panjangnya jembatan tinggi menjulang, sementara ia dikepung oleh kabut-kabut cerca, dan di bawah jembatan, menunggu keganasan yang siap melumatnya.

Adakalanya seseorang belum berbakti sebelum ia harus terbelenggu tangannya dan kulit tangan disayat satu satu dengan silet; sehingga yang bisa ia lakukan hanya menangis meringis tiada habis...

Adakalanya seseorang harus berbakti dengan membuyarkan segala impian, harapan, asa dan cita-cita. Yang kemudian ia hanya mampu menangis merelakan perpisahan dengan apa yang ia bangun bertahun-tahun...

Adakalanya seseorang berbakti cukup mencium tangan keduanya, senyum kepadanya, membantu mereka dalam kesulitan sederhana...

Adakalanya seseorang cukup berbakti dengan mengirim sms, atau telepon, karena ia dalam perantauan, dan tak perlu memikirkan keadaan rumah...

Yang mungkin selalu sulit:

Jika engkau tidak bisa lagi berbakti melainkan hanya sekedar irama isak doa yang kau gemakan di buana...karena tidak hadirnya lagi keduanya. 

Meskipun engkau kemudian berjalan merayap susah payah menuju keduanya, yang kau temukan kemudian hanya tatapan kosong pada gundukan tanah di pekarangan....

...sepi


Hasan Al-Jaizy, 15 Juli 2012

http://www.facebook.com/notes/hasan-al-jaizy/jalan-menuju-bakti-pada-orang-tua/493438697339023

Tuesday, June 19, 2012

Baktimu Menawar Berkah

oleh Hasan Al-Jaizy

Risalah penting bagi yang kedua orang tuanya masih hidup. Kalimat yang layak dijadikan bahan renungan dari Syaikh Sa'd Al-Buraik -hafidzahullah-:

وما من عملٍ أسرع من أن يرى الإنسان بركته في الدنيا مثل بر الوالدين، وصلة الرحم

"Tidaklah dari amalan yang BERKAHnya paling cepat terlihat di dunia, seperti berbakti pada kedua orang tua dan menyambung tali rahim."

وما من عملٍ أسرع من أن يرى الإنسان شؤمه وعقوبته في الدنيا مثل: عقوق الوالدين، وقطيعة الرحم

"Tidaklah dari amalan yang HUKUMANnya paling cepat terlihat di dunia, seperti durhaka pada kedua orang tua dan memutus tali rahim."


Seperti:

[1] Seorang anak muda yang berusaha memuliakan kedua orangtuanya, menutupi aib dan menahan emosi atas kekurangan keduanya, bersabar, berusaha berbakti dan ketika ada rizki dari Allah berupa harta, ia sisihkan untuk keduanya. Biarpun kiranya ilmu anak ini tak seberapa banyak, amalan tak seberapa besar, kontribusi pada umat tak semegah anak lain, Allah akan mengangkat derajat anak seperti ini dan memberinya keberkahan dalam hidup. 

Bisa jadi, orang-orang yang sukses perniagaannya dan tampak berkah meski minim ilmu agama, disebabkan bakti mereka pada orang tua.

Bisa jadi, ustadz2 yang kita kagumi, juga para Syaikh, yang dikabarkan dulunya hanyalah orang desa dan buta warna dunia, kini bisa sehebat itu dan jelas terkira berkah ilmunya, disebabkan bakti mereka pada orang tua.


Seperti:

[2] Seorang anak muda bekerja mencari penghasilan, atau bahkan ia menambah kebaikan untuk dirinya dengan mempelajari ilmu agama dan berusaha mendalami, namun ternyata kesehariannya pada orang tua adalah seperti harimau bertemu dengan kijang. Menggarang dan berlisan seperti belati terbang yang siap menebas hati-hati yang mengharap kebaktian. Lalu Allah hinakan ia secepatnya. Yang terperih adalah kegundahan hati, lalu diiringi pengkhianatan teman-temannya, ditambah manusia yang memandangnya jelek meski berilmu; meskipun manusia tak tahu ia menghinakan kedua orang tuanya. Namun Allah memiliki balasan yang perih pedihnya.

Bisa jadi, bertahun-tahun seseorang menimba ilmu agama namun berujung pada NOL, disebabkan oleh kedurhakaannya pada orang tua.

Bisa jadi, orang2 yang tadinya kita kagumi, tiba2 terhinakan begitu saja dalam sekejap, disebabkan kedurhakaannya pada orang tua.

Dan terburuknya adalah jika kesehariannya adalah pengasingan dan kedurhakaan.


Ada sebuah cerita nyata:

Seorang anak laki-laki yang sangat sangat durhaka pada kedua orang tuanya; karena sejak kecil TIDAK DIDIDIK. Tiap hari ia membenci segala yang dilakukan keduanya. Namun ia selalu menguras harta keduanya.

Suatu hari, sebelum ia berangkat pergi dengan motornya [dan betapa adanya sejumlah anak muda yang durhaka pada orang tua karena motor atau HP], ia marah pada ibunya perihal sesuatu yang mungkin saja sepele, hingga terlisankan kalimat: "Anj*ng lo!" lalu berlalu pergi.

Dan tak beberapa lama, sang ibu mendapat kabar anaknya ini kecelakaan di jalan. Yang saya ketahui [dari cerita], kedua telapak kaki anak tersebut patah. Yang tersisa hanya tulang kering yang membuntu...

Cerita nyata...


Dan ayat yang terlalaikan oleh banyak anak:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً

"Dan Rabb-mu memerintahkanmu agar kamu tidak menyembah kecuali hanya padanya dan berbuat baik kepada kedua orang tua." [Q.S.Al-Isra: 23]

Kalimat dari Syaikh Shalih Al-Maghamsy -hafidzahullah-:

إن برك بأمك أو بأبيك خير لك من ألف محاضرة تحضرها؛ لأن ذلك أمر أوجبه الله

"Jika engkau berbakti kepada ibu atau bapakmu, itu lebih baik bagimu dari SERIBU muhadharah [kajian] yang engkau hadiri; karena berbakti itu adalah perkara yang diwajibkan oleh Allah."


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/405843352790389

Saturday, June 16, 2012

Risalah Untuk Wali Santri

oleh Hasan Al-Jaizy


Bagi para wali santri, yang menyantrenkan anaknya di pondok kami, dikarenakan melihat dan mengagumi beberapa lulusannya, kami senantiasa doakan buat anak-anaknya. Mudah-mudahan bisa lebih hebat dari beberapa lulusan yang mereka kagumi; dan lebih baik dari yang diharapkan.

Adapun jika ternyata selama mondok, ia justru menjadi buronan dan suka melanggar hingga tidak naik kelas, jangan langsung berputus asa sehingga mengira masa depannya jauh dari harapan. Jangan pernah menyangka seperti ini. Berbaik sangkalah pada Dzat yang takkan menzalimi makhluk.

Bahwa masa remaja penuh godaan, terpaan, ujian, jua keindahan. Orang-orang yang dikagumi karena ilmunya atau keutamaannya kini, belum tentu dulu ketika mondok adalah santri terbaik. Tidak mesti. Bisa saja di antara mereka dulu justru termasuk santri buronan satpam. Dan tidak sedikit...benar, tidak sedikit...yang dulunya adalah santri baik-baik, adem ayem, kalem dan tersayang, kini tak berbekas...tak terlihat adanya tanda-tanda kesantrian dalam tingkahnya. Yang ada justru tanda-tanda kiamat sudah dekat pada dirinya.

Maka, bagi yang anaknya mondok, atau baru lulus, tetap beri arahan dan doakan. Warna itu banyak sekali; sementara manusia dalam hidupnya berwarna-warni. Maka, ketika terlihat hitam ia, jangan hakimi ia hitam selama-lamanya.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/404646856243372

Risalah Untuk Wali Santri

oleh Hasan Al-Jaizy


Bagi para wali santri, yang menyantrenkan anaknya di pondok kami, dikarenakan melihat dan mengagumi beberapa lulusannya, kami senantiasa doakan buat anak-anaknya. Mudah-mudahan bisa lebih hebat dari beberapa lulusan yang mereka kagumi; dan lebih baik dari yang diharapkan.

Adapun jika ternyata selama mondok, ia justru menjadi buronan dan suka melanggar hingga tidak naik kelas, jangan langsung berputus asa sehingga mengira masa depannya jauh dari harapan. Jangan pernah menyangka seperti ini. Berbaik sangkalah pada Dzat yang takkan menzalimi makhluk.

Bahwa masa remaja penuh godaan, terpaan, ujian, jua keindahan. Orang-orang yang dikagumi karena ilmunya atau keutamaannya kini, belum tentu dulu ketika mondok adalah santri terbaik. Tidak mesti. Bisa saja di antara mereka dulu justru termasuk santri buronan satpam. Dan tidak sedikit...benar, tidak sedikit...yang dulunya adalah santri baik-baik, adem ayem, kalem dan tersayang, kini tak berbekas...tak terlihat adanya tanda-tanda kesantrian dalam tingkahnya. Yang ada justru tanda-tanda kiamat sudah dekat pada dirinya.

Maka, bagi yang anaknya mondok, atau baru lulus, tetap beri arahan dan doakan. Warna itu banyak sekali; sementara manusia dalam hidupnya berwarna-warni. Maka, ketika terlihat hitam ia, jangan hakimi ia hitam selama-lamanya.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/404646856243372

Kumaha Kabar Orang Tua?

oleh Hasan Al-Jaizy

Kumaha kabarna?

Kedua orang tua saya -alhamdulillah- dalam keadaan sehat dan dijaga oleh Yang Maha Merahmati. Lalu, bagaimana dengan kedua orang tua Anda? 

Tahukah Anda kabar terkini berkaitan dengan mereka?
Jika ternyata baik segalanya, falhamdulillah...mereka masih dijaga oleh-Nya 
Jika ternyata tidak baik kondisinya, falhamdulillah...tiada manusia terlepas dari cobaan dan ujian

Tahukah Anda kabar terkini berkaitan dengan mereka?
Jika belum tahu, Short Message Service adalah sebuah fadhilah dan nikmat dari Allah untuk mengetahui secara cepat bagaimana kabar mereka nun jauh di sana.
Jika ternyata satu atau keduanya telah kembali ke alam lain, sudikah menyempatkan masa tuk mendoakan keduanya agar diperluas dan dilapangkan isi pusara?


Sungguh ada, kawan-kawan....

Sungguh ada anak muda yang ia serumah dengan kedua orang tua, tiap hari bertemu, namun tak sepatah kata pun tertutur, kabar adalah keentahan, seakan tiada saling kenal.

Bukankah mungkin saja seorang anak yang jiwanya berkalungkan maksiat dan hatinya berlumutkan dosa, namun ia senantiasa menjaga shalat dan teramat bakti pada kedua orang tua, lalu Allah memaafkannya, mengangkat derajatnya, memberinya hidayah serta berakhir hayat dalam kesalihan dan terakhir ditempatkan di barisan orang-orang salih.

Sesuatu takkan terfahami jelas arti dan harganya, kecuali jika telah hilangnya ia...

Maka jangan tunggu jenazah tershalati, untuk berbakti...


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/404392779602113

Monday, June 11, 2012

Emak Saya...Emak Kamu

oleh Hasan Al-Jaizy

Emak Saya...Emak Kamu

Emak saya memiliki impi dan asa sejak mudanya dulu yang belum tertunaikan hingga kini. Ketika remajanya, emak sering melukiskan rasa hati dan menumpahkan lirih-lirih harapan dalam puisi yang terkumpul di buku catatannya. Yang sebenarnya hal ini temurun pada pemilik status ini.

Merupakan kebiasaan emak saya sedari dulu jika punya harapan, akan selalu disimpan dan tak disia-siakan. Siapa tahu kelak doa-doa itu terbukti jawabnya dan terharu rasanya. Karena bisa jadi sebuah harapan besar baru bermekar jawabnya setelah wafat pemilik dan pendoa.

Bagaimana denga emakmu? Ku tak tahu....

Seperti kalimat orang Arab yang bermakna: 'Anak perempuan akan berbangga akan bapaknya'. Anak laki sewajarnya bangga akan ibunya. Bangga dalam kewajaran dan tabiat. Karena hidup laki-laki pun tak lepas dari perempuan.


Hidup laki-laki pun tak lepas dari perempuan...awal atau akhirnya...

Ketika kamu lahir, saudaraku...yang pertama kali merasakan keberadaanmu di bumi adalah ibumu. Perempuan. Ia pun menangis setitik air mata.

Ketika kamu wafat, saudaraku...yang pertama kali merasakan kesedihan itu adalah ibumu...atau kekasihmu. Perempuan. Tangis tertumpah.

Awal atau akhirnya...selama hidup, dua pangkuan kasih yang paling berarti:
--> Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia
--> Kasih istri kepada suaminya terhingga sepanjang masa mau memberi berharap ada kembalian bagai langit kucurkan hujan kadang-kadang...dan kadang hawakan panas siang

Dalam dan berarti bagi yang berfikir
Lawak dan sampah bagi yang jarang berfikir


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/402126333162091

Wednesday, June 6, 2012

Baktimu Lebih dari 1000 Kajian!

oleh Hasan Al-Jaizy

Sekedar mengingatkan bagi yang kedua atau salah satu dari kedua orang tuanya masih hidup, sebuah kalimat dari Syaikh Shalih Al-Maghamsy -hafidzahullah-:

إن برك بأمك أو بأبيك خير لك من ألف محاضرة تحضرها؛ لأن ذلك أمر أوجبه الله

"Jika engkau berbakti kepada ibu atau bapakmu, itu lebih baik bagimu dari SERIBU muhadharah [kajian] yang engkau hadiri; karena berbakti itu adalah perkara yang diwajibkan oleh Allah."

Ditujukan untuk semua; terkhusus para mahasiswa/i atau pekerja yang keluar kota tinggalkan orang tua demi mencari ilmu atau penghasilan atau pengalaman.


Sekedar terbitkan pertanyaan-pertanyaan ini:

--> Sudahkan hari ini baktimu atau doamu kepada orang tua tercantum di catatan hari?
--> Apakah di hari terakhir berpisahmu pada mereka, hati mereka dalam keridhaan atau kemurkaan?
--> Bukankah sekedar sms menanyakan kabar mereka kini adalah sebuah bukti upayamu berbakti?

Tidak salah jika terkata: "Alangkah sayangnya, beberapa pencari ilmu syariah begitu pintar mengulik ilmu, namun ternyata ia durhaka pada orang yang telah melahirkannya atau yang telah biayainya sepanjang umur hingga kini."


Bahkan, tidak berlebihan terkata:

Bisa saja satu kali kau ambilkan sepiring nasi untuk bapakmu makan, itu lebih bernilai dari puluhan kajian yang kau hadiri dan simak.

Jika satu dari keduanya meninggalkanmu, sungguh telah tertutup satu dari sekian pintu surga dalam hidupmu.
Jika keduanya telah meninggalkanmu, sungguh telah tertutup dua pintu surga dalam hidupmu.
Dan kesempatan yang tersiakan, takkan terpanggil kembali...meskipun darah adalah yang menderas dari kedua matamu.

Dan...tidak ada manusia yang lebih ikhlas dan tulus dalam mendoakan manusia lain...melainkan doa orang tua pada buah hatinya

Maka, apakah menunggu perginya mereka baru kau berupaya menabur bakti?


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/399812550060136

Monday, February 27, 2012

Jauh Di Jangkau Dekat Di Kalbu

oleh Hasan Al-Jaizy

ku masih ingin harapan yang tersorot dari mata ibuku padaku tetap terjaga adanya
ku masih ingin harapan yang terdoa di sela penghujung malam bapakku tetap terjaga adanya

inginku keduanya masih hidup kala aku berhasil tunaikan tuntutan mimpi-mimpi...

meskipun...

...meskipun aku sebenarnya tak tahu siapa yang lebih dulu meninggalkan...
aku? atau keduanya?
inginku kita selalu ada bersama....jauh di jangkau dekat di kalbu

http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/338123899562335

Tuesday, February 7, 2012

Ibuku dan Ibumu =

oleh Hasan Al-Jaizy

Ibu saya tidak hafal dalil-dalil begitu kuat, tidak hafal metode Ushul Fiqh dan bukan keturunan Ahli Bait, namun beliau adalah:

--> Orang yang nasihatnya membekas di banyak orang, termasuk saya
--> Orang yang telah mengajari, mendidik dan membimbing saya banyak kebaikan dalam hidup...yang hingga kini tak satu pun dari ustadz2 mampu menyamai kehebatan metode bimbingan alamiahnya, meskipun ustadz2 

lebih ilmiah; karena seringkali keilmiahan tanpa kealamiahan bagai masuk telinga kanan keluar sebelah kirinya.

Jika Anda katakan 'Pantas saja! Semua orang katakan ibunya terbaik mendidiknya'
Saya katakan 'Tidak! Banyak anak yang membanggakan ibunya namun lisannya palsu, cerita berkarakter dibuat-buat karena memang ibunya kurang baik mendidik.'





Semoga Anda berfikir hal yang sama akan ibu kandung Anda. 

Dinamakan 'ibu kandung' karena sebelum Anda lahir, beliaulah yang rela mengandung Anda. Belum tentu sang bapak rela janinnya dipindah ke perutnya.

Dinamakan 'bahasa ibu' karena setelah Anda lahir, beliaulah yang ajarkan bahasa-bahasa simple berbalut kasih dan harapan. 

Dinamakan 'kasih ibu' karena selagi mengandung ia mengasihi Anda, selagi melahirkan ia merintih sakit mengasihi Anda, setelah Anda lahir ia orang yang masih merasa sakit namun tetap menjadi nomor pertama mengasihi Anda, selagi Anda tumbuh ia menyuguhkan kasihnya setiap hari, bahkan hingga akhir hayatnya atau hayat Anda, kasih sayangnya adalah fitrah tak bisa terpatah...





Saturday, January 7, 2012

LEARN FROM LIFE : Lisan, Kasih dan Ego

oleh Hasan Al-Jaizy

Setiap ibu mampu mengajar 2 bahasa ke setiap anaknya; yaitu bahasa lisan dan bahasa kasih. Lisanmu dahulu kelu, lalu diluruskan ibu. Hatimu dahulu baku, lalu dilunakkan ibu.

 Lisan, Kasih vs Ego
--> [Bahasa Lisan] Ingatkah kamu ketika ibumu tak terpayah tiap hari lafadzkan segala kata untukmu? Tidak ingat. 
--> [Bahasa Kasih] Ingatkah kamu ketika ibumu terletih menggendongmu di bis kota? Tidak ingat.
--> [Bahasa Lisan + Kasih] Ingatkah kamu ketika tangismu terpecah tengah malam, lalu ibumu berkata , 'cup...cup..ssshh...jangan menangis' lalu menggendongmu dan menggerak-gerakkan tubuhnya hingga antenglah kamu? Tidak ingat. 

--> [Bahasa Ego] Ingatkah kamu ketika bapakmu mengusirmu dan ibumu dari kamar karena tangismu tengah malam dengan katakan, 'Bawa keluar saja dia!' ? Tidak ingat.


 Siapakah...?

Jika ada orang paling berjasa dalam hayatmu yang harus terawal kau baktikan padanya kini adalah ibumu, selama ia masih hidup.

Jika ada orang paling berjasa dalam hidupmu yang harus selalu kau doakan kebaikan untuknya kini, esok dan seterusnya adalah ibumu, kala hidupnya...atau setelah wafatnya.


 Ibumu tak perlu terperlunya akan senandung, lagu dan syair demi memujanya. Tak pula ia memerlukan istana sebagai imbalan kasih sayangnya atau hari perayaan dengan hadiah-hadiah materi.

Lukiskan baktimu, tuturkan lisan beradabmu, persembahkan akhlakmu, serta lirihkan bait-bait doamu ... yang semoga bahagiakanmu, orang tuamu, keluargamu serta yang tercinta dunia akhirat.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/305435622831163