Showing posts with label [Serial MERABA MEDAN]. Show all posts
Showing posts with label [Serial MERABA MEDAN]. Show all posts

Sunday, May 13, 2012

MERABA MEDAN : [15] Berdebat Itu Buruk, Seburuk Pemancing Debat?

oleh Hasan Al-Jaizy


[DEBAT ITU BURUK...SEBURUK PEMANCING DEBAT?]

Point2 ini mungkin ada yang menyangkal terjadinya. Namun, jika memang itu benar terjadi, apa gunanya menyangkal?

[1] Ada si fulan mengatakan, "Maaf, saya tidak suka berdebat!", tapi sebenarnya dia lebih cocok mengatakan, "Maaf, saya tidak bisa berdebat!"

[2] Ada si fulan mengatakan, "Dilarang berdebat di sini!", tapi sebenarnya dia lebih cocok mengatakan, "Dilarang mendebati saya di sini!"

[3] Ada si fulan mengatakan, "Berdebat itu terlarang dan tercela!", tapi tingkahnya seperti makna kalimat ini: "Memancing perdebatan itu tidak terlarang dan tidak tercela!"



[4] Ada si fulan mengatakan, "Ini adalah bid'ah...itu adalah sesat...Fulan adalah ahlu bid'ah!", lalu ditanya: "Mana buktinya dan jelaskan!!!" Setelah itu, si fulan menjawab dengan 'link-copas' atau 'artikel-copas' dan cuci tangan cuci kaki. Ketika ditentang, buru-buru ia menulis 3 kalimat:

--> "Maaf, saya tidak suka berdebat!"
--> "Dilarang berdebat di sini!"
--> "Berdebat itu terlarang dan tercela!"

PADAHAL, INI ASLINYA:

=> "Maaf, saya tidak bisa berdebat!"
=> "Dilarang mendebati saya di sini!"
=> "Tapi, memancing perdebatan itu tidak terlarang dan tidak tercela!"

Ini pernah terjadi? Coba jawablah dengan cara menuding diri sendiri.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/385872078120850

Thursday, May 10, 2012

MERABA MEDAN : [14] Mengeluarkan Orang dari Barisan

oleh Hasan Al-Jaizy


[Mengeluarkan Orang Dari Barisan Sunnah]

Seorang alim [atau ulama] dan setaranya tercipta untuk menjadi imam. Imam berdiri untuk diikuti. Lalu, para muqallidiin, atau thullab al-ilm secara umum memanut dan mengikuti arahan-arahan sang Imam. Jika sang Imam berkata 'Ini adalah Sunnah...itu adalah Bid'ah', maka otomatis sebagian dari pengikut akan mengucap kalimat serupa, atau kalimat yang berlebih, dengan bumbu-bumbu pedas yang sering menjilat mata lawan dakwah.

Bagaimana jika sang Imam memiliki hobi akut nan merugikan yang juga digemari para muqallidiin umyaa [baca: pengekor; pembeo]? Seperti hobi men-jarh [menikam nama] para ulama, atau asaatidzah yang zahirnya mereka adalah orang2 baik. Great, baik bagi sebagian orang namun belum tentu baik bagi kalangan lain.

Masalah ini kita kerucutkan menjadi satu titik: 'Apakah layak menendang seseorang dari lapangan Sunnah karena masalah perbedaan pendapat dalam sebuah masalah ijtihaadiyyah?'


 Ingat prinsip ajaib ini:

"Kami adalah Sunnah...Sunnah adalah kami. Barangsiapa menyelisihi kami, maka dia telah menyelisihi Sunnah. Bagaimana mungkin orang yang menyelisihi Sunnah adalah Ahlu Sunnah!?"

Sekilas memang tampak lezat dan tepat. Namun, perhatikan pula aroma arogansi, hizbiyyah dan merasa paling-benar-sendiri dalam prinsip tersebut. Ajaib jika kunci Sunnah hanya dipegang oleh 'mereka'. Lebih ajaib lagi, jika ternyata ada yang membuat LSM [Lembaga Sertifikasi Manhaj] -meminjam istilah dari beberapa ikhwah- yang bertugas mencap stempel dan mengorbitkan nama-nama asaatidzah atau daaiyah yang telah keluar dari manhaj Salaf atau Ahlus Sunnah. Bukankah ini ajaib? Bukan! Ini arogansi!

Camkan biak-biak, wahai manusia, Imam Ahmad sendiri pernah berkata:

إخراج الناس من السنة شديد
"Mengeluarkan manusia dari Sunnah adalah perkara yang keras [besar]."

Bagaiman menurut Anda jika itu justru dijadikan hobi?


 Karena Foto, Keluar dari Sunni-Circle?

Foto modern termasuk perkara modern dan perlu pemikiran modern dalam melantunkan apa hukumnya. Yakni: Apa hukum memfoto makhluk hidup, manusia-jin-hewan-alien tanpa keperluan darurat? Sebagian ulama berpendapat haram, sebagian membolehkan [dalam artian: tidak bisa melarang begitu saja], dan sebagian mengatakan 'tergantung tujuannya'.

Lalu datang sepasukan yang buruan nafasnya seirama dengan ikhwah yang berkantor di LSM di atas, mencap jidat siapapun yang tertemu jika mereka memasang gambar makhluk hidup dengan kalimat : 'Antum bukan Salafi lagi, antum bukan Ahlus Sunnah'.

Karena apa? Karena foto seekor kodok.
Karena apa? Karena bekerja di yayasan sebagai guru.
Karena apa? Karena tidak seperguruan dan se-pengajian.

Jika mereka dan pengajian mereka berada di hutan saja terasingkan, maka nafas-nafas mungkin tidak lagi memanas. Silahkan cap jidat hewan-hewan itu sekehendaknya.


Terakhir:

Meminjam perkataan Syikh Hamd ibn Abdul Aziiz

ومن الظلم والجور الناتج في الغالب عن قلة العلم، أن يُخرج السني من السنة بمسألة يسوغ فيها الخلاف

"Merupakan [bentuk] KEZALIMAN yang berasal atau ternilai dari sedikitnya ilmu: Mengeluarkan seorang Sunni dari Sunnah, tersebab sebuah masalah yang terjadi di dalamnya khilaf [antara ulama] [yang mu'tabar]."


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/383628151678576

Monday, May 7, 2012

MERABA MEDAN : [13] Yang Ada Ketikamu Berlebihan

oleh Hasan Al-Jaizy


[Yang Ada Ketikamu Berkelebihan]

Maknailah kalimat: 'Jika kamu memiliki kelebihan, pasti akan ada pengiri'

Jabarannya: 

Jika kamu memiliki kelebihan, entah fisik atau batin, seperti bagusnya rupa, atau besarnya otot, atau banyaknya jenggot, atau tutur bahasa baik, atau ketulusan, akan ada di antara temanmu yang iri, ingin menjadi sepertimu dengan bentuk kelebihan terkait. Bisa saja ia iri baik-baik, bisa saja ia iri mendengki.

Jika kamu memiliki kelebihan, entah skill [kemampuan] atau wawasan [ilmu], seperti skill bahasa, atau tehnik presentasi atau skill olahraga, atau wawasan luas di bidang komputer, atau wawasan luas di bidang sosial, akan ada di antara temanmu yang iri.


Iri itu akan ada...

Ya. Iri itu akan ada; karena wajarnya tercipta rasa iri di hati insan. Manusia secara normal ingin mempunyai kebaikan dalam diri; namun manusia tak mampu meraup segala kebaikan. Dan kelebihan adalah kebaikan. Dan kelebihan dan kebaikan adalah 'pemberian', bagaimanapun jua. 

Karena kalian semua awalnya adalah sama, sebagaimana dasar bumi yang rata.
Namun di beberapa sisi, akan tampak tanah yang menggunduk, meninggi, berkelebihan, sehingga dataran yang lebih rendah bisa melihat yang tinggi namun tak sampai puncak tingginya. Sebaliknya, dataran tinggi bisa melihat yang rendah secara sempurna. Dan ketika tiap manusia tercipta dasarnya sama, Allah beri tiap-tiap single-nya bekal dan modal yang bisa disebut 'kelebihan'. Terkadang kita menamainya 'bakat alami', atau bukan bakat, melainkan hasil proses pencapaian individual yang membuahkan hasil.


Iri berarti Ingin...namun Ingin belum tentu berarti Iri 

Tersebab karena ketika kamu ingin seperti seseorang yang terkagumi oleh jiwa, maa perasaan itu kita boleh terjemahkan sebagai 'iri'. 

Ketika kamu melihat orang hebat dan berprestasi, secara normal akan ada rasa iri di hati. Yakni: ingin juga seperti dia. Tidak ada...tidak ada manusia hidup tanpa rasa iri. Karena:
-> selama di sana ada hati, di sana ada keinginan. 
-> Dan jika di sana ada keinginan, maka di sana ada keinginan untuk 'menjadi-seperti'. 
-> Dan jika di di sana ada keinginan 'menjadi-seperti', maka namakan itu sebagai 'iri'.

Iri, selama tidak menjadi dengki, hukumnya boleh-boleh saja, karena ini adalah tabiat manusia yang sangat wajar, termaklumi dan terasa di tiap individu. 

Peliharalah rasa iri, sembari berusaha menunaikan keinginan, berdoa, dan tak lupa mendoakan individu yang diirikan.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/382543208453737

Sunday, May 6, 2012

MERABA MEDAN : [12] Facebook Adalah Mainan?

oleh Hasan Al-Jaizy

[Facebook adalah 'Mainan'?]

Facebook itu remeh bagi orang yang meremehkan; namun menakutkan bagi yang ketakutan. Sebagaimana kebanyakan manusia yang enggan serius dan hendak main-main, Internet digunakan hanya tuk bermain-main. Karena itulah dikenal beberapa term, nama atau sitilah ditambah imbuhan AN di akhirnya.

Contoh:
FB ==> FB-AN
Twitter ==> Twitter-AN
Internet ==> Internet-AN

Bagi yang berusaha memandang lebih luas dan lebih dalam, akan menemukan adanya makna terselubung di balik imbuhan AN. Apa itu? Makna MAIN-MAINAN. Jadi, FB, Twitter dan Internet hanya untuk MAINAN; karena itulah:

==> orang yang sedang menggunakan FB disebut 'sedang FB-AN' seakan bermakna: 'SEDANG MAIN FB'. See? Lihat?
==> tidak sama jika dikatakan: 'He is having/using FB' [Dia sedang menggunakan FB] dengan 'He is playing FB' [Dia sedang main FB atau FB-AN], dan kalimat kedua tidak ada dalam English.


See the difference???

Bagi sebagian orang yang tidak berfikir jauh, FB hanyalah jejaring sosial tuk menambah fun dunia ini atau menambah pertemanan belaka. Bagi sebagian anak muda beraroma kencur, FB hanyalah wasilah untuk mencari gebetan, bermain game atau komentar2 semaunya. 

Jenis di atas adalah mereka yang layak disebut FB-AN [Bermain FB]. Dan syukurlah tidak semua orang seperti itu.


Namun...

Jika seseorang membuka akun FB, dengan mengetik email+password dan masuklah, dengan niatan ingin menulis catatan penting atau ada kebutuhan darurat berkaitan dengan pekerjaan, apakah itu disebut 'main FB' atau 'FB-AN'??? The hell? Come on! Pick up your falling brain!

FACT YOU GOTTA LEARN:

REVOLUSI MESIR berawal dari FACEBOOK [Ini info yang saya dapat dari beberapa kajian para masyaayikh Mesir]. Eksistensi pemuda di FB bisa merubah kondisi satu negara secara total dan mutlak!!! Apakah FB kini bisa disebut permainan dan remeh???? 

Bisakah sebutan 'FB-AN' atau 'Main FB' diganti dengan yang lebih terkesan serius?


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/381689541872437

Thursday, May 3, 2012

MERABA MEDAN : [11] Jika Inginmu di Tengah...Siaplah Dimusuhi!

oleh Hasan Al-Jaizy

[Jika Inginmu di Tengah...Siaplah Dimusuhi!]

Ada faedah dan bahan pembelajaran dari kehidupan seorang ustadz senior yang saya dapati. Kira-kira begini kesimpulan maknawi-nya:

[1] 'Jika kamu ingin menjadi orang yang berjalan di tengah, maka bersiaplah digesek dari kanan dan kiri. Artinya: Siapkan dirimu tuk dimusuhi, meskipun mereka tahu kamu benar-benar di tengah. Jangan kira kamu akan disenangi banyak orang, dan memang bukan itu tujuanmu. Bebanmu adalah menyampaikan.'

[2] 'Kelak jika kamu berkawan dengan golongan bagus, namun kemudian mereka menyimpang, maka jangan ikuti perselewengan; terutama jika mencapai derajat Ghuluw [berlebih-lebihan]. Ya, kamu benar-benar tahu penyimpangan mereka. Dan ketika kamu undur diri, mereka tak memberimu udzur. Dan ketika kamu mengkritisi, mereka takkan memberimu maaf.'

[3] 'Benar. Setiap golongan banggakan apa yang ada pada mereka. Dan jika tujuan hati adalah menggolong-golongkan dan bergolongan, maka kelak akan tercipta rasa bangga yang membangun benteng fanatisme. Takkan ingin dikritisi, namun berharap mendapat tempat tuk mengkritisi. Karena setiap golongan banggakan apa yang [BAIK] pada mereka, dan menutup-nutupi apa yang [BURUK] pada mereka.'

[4] 'Jika kamu memilih jalan tengah, maka siaplah dimusuhi.'


 Opini status ini pun bisa salah...

Karena point-point di atas hanyalah pembelajaran individual yang tak terlepas dari kacamata subjektif pemiliknya. Semua itu terambil dari hikayat seorang ustadz yang dicibiri sana-sini, setelah sebelumnya beliau dan 'mereka' 'mereka' adalah teman seperjuangan. Bahkan beliau dahulu adalah 'penolong' mereka, karena lebih senior. Namun ketika 'mereka' besar dan mempunyai materi jua massa, sepertinya benar: hati manusia bisa berubah-ubah.

Maka berdoalah: Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Quluubana Ala Diinik...Tsabbit Quluubana ala Thaa'atik


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/378833438824714

Wednesday, May 2, 2012

MERABA MEDAN : [10] Lantas, Mereka Ini Siapa?

oleh Hasan Al-Jaizy

'Mereka' dijuluki sebagai orang-orang yang merasa paling benar. Namun, ketika kita melihat sepak terjang dan sikap 'mereka', ada benarnya juga bahwa 'mereka' seperti merasa paling benar. 

'Mereka' tentu akan menyangkal: "Kami tidak merasa paling benar. Kami memiliki dalil. Dalil kami kuat." Ya, alhamdulillah jika itu kuat. Namun bagaimana jika dalil pihak lain juga kuat? Kalau begitu, selama kekuatan dalil masing2 terbukti, maka jangan 'memaksa' pihak lain untuk mengekor. 

'Mereka' memang dahsyat di dunia maya. Dan di dunia nyata, 'ku-tak-tahu-apa-maumu'.


Lantas, siapa mereka ini???

Nah, sekarang, kalau ada atom kekurangan dan kesalahan yang jelas terselip di pori-pori muka sendiri, apakah tetap bersikeras bahwa mukanya mulus-mulus saja dan mengatakan 'justru mukamu lah yang hitam'. Merasa paling mulus, merasa paling benar; padahal cermin di rumah berdebu, dipakai dan digunakan hanya dua kali seminggu: sebelum shalat Jum'at dan sebelum datang ke kajian yang diridhai.

Lantas, 'mereka' ini siapa????

Bagaimana jika...
mereka ini adalah 'kamu'?



Tuesday, May 1, 2012

MERABA MEDAN : [9] Umat Sudah Terpecah, Dipecah-pecah Lagi!

oleh Hasan Al-Jaizy

Ada 2 grup yang judulnya konyol:
1. Bubarkan PBNU [Penyebar Bid'ah Nyesatkan Umat]
2. NU Merupakan Ormas Sumber Bid'ah

Siapapun admin grup konyol itu [yang mungkin tadinya adalah grup biasa namun diganti nama], maka berkongsi dan berkonspirasi dengan setan adalah kelakuannya. Oh...oh...tidak peduli dia memakai label untuk dirinya mengatasnamakan 'Salaf', atau Generasi Terbaik Umat. Salaf dan generasi terbaik tidak konyol seperti itu, bukan?

Terima kasih; karena dengan adanya 2 grup tersebut, nama Salafi-Wahabi semakin tercemar; sehingga beberapa orang yang merasa paling ghuroba semakin merengek dan mengeluh tentang keterasingannya.


Cerminkan 2 tingkah konyol masa kini:

1. Mengangkat tema yang memicu debat di muka umum. Lalu, ketika ada orang yang merasa tersinggung dan mengajak debat, ia langsung berlindung di balik ayat, hadits, perkataan ulama dll, bahwa berdebat itu tidak bagus. Semoga ini bukan sikap hipokrit. Jika berdebat itu tidak bagus, maka memancing orang agar berdebat, itu lebih tidak bagus dan...hina.

2. Meneriakkan: 'Ormas ini pemecah belah umat....Bid'ah adalah pemecah belah umat', sementara dirinya sendiri adalah pemecah belah umat di tengah umat yang berpecah belah. Yang boleh dilabeli hipokrit, jika setelah memecah belah, ia berlindung di balik dalil atau 'cuci tangan' hingga tidak ketahuan siapa dia.


Berkongsi dan berkonspirasi dengan setan.

Saya pribadi, pernah mengunjungi beberapa lokasi yang sangat-sangat terpencil, yaitu pelosok. Beberapa daerah telah mengenal Islam, penduduknya shalat 5 waktu. Dan yang saya lihat itu adalah berkat upaya dai-dai dari NU di masa yang sangat lampau. Mereka tahu bagaimana bersuci, bagaimana shalat dan puasa. Meski mungkin ada kekurangan dan ada hal-hal yang berbau bid'ah. Jangan menafikan ini. 

Kalimat bodoh seperti itu takkan merubah bisul menjadi kapsul. Tapi, justru menjadikan bisul tertumbuh kurap dan borok di sekitarnya. 

Note: 
Tidak peduli dari saya, entah yang membuat grup bernama konyol itu adalah teman FB atau teman dunia nyata atau bukan, atau keledai bermanhaj. Terserahlah. Bila tidak terima dengan kalimat-kalimat saya, ketahuilah, ada 10 juta orang yang tidak terima dengan kalimat Anda sebagai nama grup.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/378166692224722

Monday, April 30, 2012

MERABA MEDAN: [8] MP3...Ulama MP3

oleh Hasan Al-Jaizy


Serial MERABA MEDAN VIII

[MP3...Ulama MP3]

Secara garis besar, mempelajari ilmu Syar'i terbagi menjadi 2:

1. Belajar secara Akademik formal; seperti di sekolah, perguruan tinggi resmi dan semacamnya. Belajar secara resmi dengan guru dan ulama akademik dengan jadwal dan kurikulum akademik.

2. Belajar dengan bermajlis non-formal bersama ulama; seperti di masjid dan sebagainya. Tidak resmi mencari ilmu bersama ustadz dan ulama dengan jadwal dan pemilihan kitab disepakati bersama [kadang2].

Mereka yang melakukannya, termasuk jihad fi sabiilillah dengan syarat niat yang ikhlas pula. Ketika mereka keluar rumah/kos demi menuju majelis formal atau non-formal, tercatat berjalan di jalan Allah Ta'ala.

Sekarang, ada pertanyaan:

"Bagaimana dengan beberapa ikhwah [minoritas sekali] yang MENCUKUPKAN DIRI pada rekaman kajian mp3 atau video di Internet, sedangkan ia mempunyai kesempatan hadir di majelis formal atau non-formal, plus ia juga tidak bekerja?"

Ini bukan jawaban pertanyaan di atas, namun sekedar kalimat hati saya: 'Tidak akan sama orang yang berjerih payah berjalan, duduk, mendengarkan, memperhatikan, mengamati, bertanya, mengulang pelajaran, menghafal, bersiap menghadapi ujian dst dengan orang yang memanjakan diri di depan layar atau menyemat telinga dengan earphone.'

Dari segi pahala dan gerakan tidak akan sama. Allah Maha Adil. Dari segi akibat/efek? Insya Allah takkan sama.

MP3...Ulama MP3...?

Kadang ada seorang thalib yang bekerja mencari nafkah dan ilmunya sedikit, namun ia sempatkan tuk hadiri majelis ilmu. Tentu ia bisa sekedar dengar mp3 di-download dari Internet. Akhirnya Allah menghibahkan padanya ilmu yang berkah dan adab yang baik.

Ada juga seorang thalib yang enggan bekerja dengan alasan mencari ilmu, dan tiada mau hadiri majelis ilmu dengan alasan mp3 sudah cukup. Bersyukur, Allah memberinya ilmu dengan itu semua, dan ternyata ia tidak belajar adab berilmu secara langsung dari orang berilmu.

Mungkin kalimat berikut ini terkesan terlalu cepat menyimpulkan. Tapi, mungkin sangat terjadi:

'Orang yang tidak belajar langsung pada ahlinya, kelak ketika ia menjadi ahli, ia akan merasa paling ahli, dan merendahkan ahli-ahli yang lain.'

 Ini juga mungkin sangat terjadi:

Dua di antara faktor pencetus sikap ekstrim dan merasa paling benar sendiri:

1. Dari gurunya yang juga berpemikiran ekstrim, atau
2. Dari diri sendiri yang belajar sendiri, memahami sepaham sendiri dan merasa apa yang ia fahami sendiri adalah benar, atau
3. lainnya?


MERABA MEDAN: [7] ASWAJA: Kegoncangan Trinitas Tauhid?

oleh Hasan Al-Jaizy

Serial MERABA MEDAN VII

[ASWAJA: Kegoncangan Trinitas Tauhid?]

[A] Beberapa ulama dan kyai Aswaja, beserta murid-muridnya [semoga Allah merahmati mereka dan kaum muslimin keseluruhan] mengatakan bahwa Salafi-Wahabi memiliki "konsep trinitas dalam Tauhid". Dan seakan mereka mengkiaskan konsep Tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma wa Sifat seperti konsep ketuhanan versi Katolik.

[B] Kyai yang paling Aswaja di antara mereka, Prof. Said Agil Siradj -semoga Allah memberi hidayah kepadanya dan kaum muslimiin keseluruhan-, pernah suatu ketika mengkiaskan 'Aqidah Agama Kristen Suriah [atau sekitarnya] seperti Aqidah Umat Islam', dengan mengkiaskan ke-Rububiyyah-an, ke-Uluhiyyah-an dan Sifat dan Nama-nama.


Bukan Trinitas Tauhid yang Goncang...

Tentu saja fakta A dan B begitu kontradiktif. 

Kenapa Aswaja menolak pembagian Tauhid menjadi 3? Tidak lain tidak bukan karena sentimen terhadap Salafi-Wahabi. Period!
Kenapa Pak Said justru mengatakan secara tidak langsung 'Aqidah Umat Islam adalah 3 Pembagian Tauhid', padahal ulama Aswaja lain justru menentang pembagian tersebut? Apakah antara Aswaja yang satu dengan lainnya saling bertentangan?

Jawaban: Selama bukan melawan Salafi-Wahabi, kita boleh berbeda dalam satu nama: Aswaja. Namun, selama dalam penentangan terhadap Salafi-Wahabi, kita harus bersatu dalam satu nama: Aswaja.

Saya berfikir seperti ini:
"Bukan Trinitas Tauhid yang Goncang...
Tetap Aswaja sendiri lah yang Goncang"


Perkataan dia: 'Salafi-Wahabi adalah bentukan Nashara' sudah bisa dipastikan berasaskan kejahilan, ketidaktahuan dan kemerasa-tahuan.

Karena statement di atas membutuhkan bukti ilmiah yang bersifat historis. Jika hanya berlandaskan sebatas fakta bahwa ikhwah Salafi-Wahabi mengatakan Tauhid terbagi menjadi 3, dan ada kemiripan dengan ketuhanan Katolik yang 3, maka ini merupakan bentuk kebodohan di puncak kedunguan; tak peduli apapun titelnya.

Karena para ulama dalam membagi tauhid menjadi 3 berlandaskan istiqra' [research] terhadap ayat-ayat dan jua hadits2. Plus, pemahaman pembagian 3 ini sama sekali tidak menabrak, bahkan menggesek panas Aqidah Islamiyyah sedikitpun. Pasalnya, jika kita membaca cermat penjabaran ulama tentang ketiga pembagian Tauhid, kita dapati hal tersebut benar-benar benar.

Penyangkalan itu sebenarnya terlahir dan terpusat dari hati mereka yang sudah terlanjur sentimen saja. 

===========================

Jika salafi-wahabi adalah bentukan Nashara, maka Aswaja adalah bentukan musyrikiin. Kenapa? Karena sebagian besar umat Aswaja adalah liker of 40 harian dan haulan. Tanyakan pada orang2 musyrik, apakah mereka melakukan ritual serupa berlandaskan ketepatan waktu dari hari kematian? Jika dijawab "Ya", maka kesamaan ritual haulan dengan ritual musyrik adalah ada!

Namun, tentu saja kita tidak mengatakan Aswaja adalah bentukan musyrikiin, Budha ataupun Hindu. Aswaja adalah bentukan kaum muslimiin, namun ada beberapa penyimpangan.


Dan kita semua -ulama atau awamnya- TIDAK MEMAKSA seseorang untuk mengamini pembagian tersebut, karena mungkin saja seseorang tidak bersedia membagi Tauhid menjadi 3, namun di hati dan amalannya mengamini segalanya tentang Tauhid.

Dalilnya: Para sahabat tidak ada yang mengatakan Tauhid menjadi 3, namun di hati dan amalan mereka -ridhwaanullahi anhum- mengamini ketiganya dengan sebenar-benar cerminan.

Sementara Ibnu Qayyim sendiri membagi Tauhid menjadi 2: Tauhid Khabary dan Tauhid Thalaby [dengan nama yang berbeda2], namun intinya sama dengan ketiga pembagian Tauhid. Wallahu a'lam.



MERABA MEDAN: [6] Dosa Pezina/Pencuri/Peminum ==> Kalah

oleh Hasan AL-Jaizy

Serial MERABA MEDAN VI

[Dosa Pezina/Pencuri/Peminum ==> Kalah]

Di sekitar Anda mungkin ada para pezina, atau pelacur yang tiada penghasilan ia punya selain dari pelacuran atau perzinahan. Hartanya haram, dan daging hasil harta haram memiliki kekhususan sebagai calon dijilat api neraka. Sementara doa-doa tak diterima dan tak terkabul. Betapa terlaknatnya!?

Di sekitar Anda mungkin ada maling, perampok, koruptor di kursi pemerintahan atau koruptor di kursi toko. Sebagian hartanya adalah hasil korupsi dan 'nilep'. Atau dengan mengenakan seragam, mereka rampok terang-terangan uang orang dengan cara yang semi-resmi. Harta haram menghasilkan daging yang sedap tuk dijilat api neraka. Sementara doa-doa tak diterima dan tak terijabah. Betapa durjananya!?

Di sekitar Anda mungkin ada pemabuk di tengah malam, atau di sepertiga terakhirnya. Setelah mabuk, kejahatan lain pun berentet terlaku; karena khamr adalah bunda pembangkangan dan kemaksiatan, bukan?

Dosa-dosa mereka secara takaran dosa, MASIH TIDAK LEBIH BESAR dari dosa suatu hal. Apakah itu???


 Ibnu Qayyim rahimahullah dalam muqaddimah risalah Ash-Shalaah wa Hukm Taarikiha:

لا يختلف المسلمون أن ترك الصلاة المفروضة عمدا من اعظم الذنوب وأكبر الكبائر وأن اثمه عند الله أعظم من إثم قتل النفس وأخذ الأموال ومن إثم الزنا والسرقة وشرب الخمر وأنه متعرض لعقوبة الله وسخطه وخزيه في الدنيا والآخرة 

"Bersatu barisan kaum muslimin dalam pendapat bahwasanya 'meninggalkan-shalat-fardhu' dengan sengaja termasuk dari sebesar-besar dosa besar. Dan dosanya di sisi Allah LEBIH BESAR DARI:
--> MEMBUNUH ORANG
--> MENGAMBIL HARTA ORANG
--> BERZINA
--> MENCURI
--> MEMINUM KHAMR
Dan bahwasanya orang yang meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja BERPOTENSI mendapat HUKUMAN dari Allah dan MURKANYA DUNIA AKHIRAT."

Berapa banyak yang terlaknat di sekitar kita???? Semoga Allah memberi hidayah dan mengampuni kaum muslimiin secara umum.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/376997872341604

Sunday, April 29, 2012

MERABA MEDAN: [5] Adab Jua Di Ranah COPAS

oleh Hasan Al-Jaizy

Serial MERABA MEDAN

[Adab Jua Di Ranah COPAS]

Meng-copas tidak terlarang, tapi meng-copas tulisan orang tanpa menyertai siapa penulisnya adalah terlarang tanpa aturan tertulis. Orang berpendidikan tidak selayaknya curang; terlebih berbuat curang demi mendapat kesan atau pujian. Itu adalah kecurangan berlipat dan kepalsuan memikat.

Jika tak tahu siapa penulisnya, setidaknya buat pembaca menganggap bahwa itu adalah karya orang lain. Jangan zahirkan diri apa yang sebenarnya sama sekali tidak terlekat pada diri. Jujur berpahit lebih baik dari palsu terjahit. Terbiasa dalam kepalsuan akan mewariskan kualitas diri yang teramat rendah.

Selama bisa melakukan sendiri, lakukan sendiri
Selama tidak bisa melakukan sendiri, usahakan agar terlatih melakukan sendiri.
Seseorang mati jasadnya lah yang dikubur, bukan jasad orang lain.



Adab Jua Di Ranah COPAS

Ketika seseorang memakai baju yang indah namun hasil pinjaman, maka manusia akan terkesima dan memuji keindahan baju tersebut. Dan si pemakai-peminjam tentu merasa tidak berhak dipuji atas apa yang dipakainya; karena ia tahu itu bukan miliknya.

=====================

Ketika seseorang 'mencuri' karya orang lain dan menampilkannya di depan manusia, maka manusia akan terkesima dan memuji jika karya tersebut memang bagus. Apakah si maling akan kege'eran? Maling takkan mengakui dirinya maling, bukan?

Betapa banyak maling yang bangga akan apa yang seakan--akan miliknya; padahal itu semua hasil curian!

Saturday, April 28, 2012

MERABA MEDAN: [4] Bukan Ilmu...Namun Foto nya

oleh Hasan Al-Jaizy

Serial MERABA MEDAN

[Bukan Ilmu...Namun Foto nya]

Kami hanya menjabarkan fakta di medan. Selagi kami memandang dan mengamati, kami berjanji pada diri sendiri untuk tidak berpura-pura tidak tahu atau menyembunyikan yang tak mungkin disembunyikan.

Yang kami saksikan, hampir semua Habib-Mania adalah pecandu dan pengagum foto Habaaib, bukan ilmunya. Ketika ada selenggaraan dzikir akbar atau tabligh, kami berjalan menyusuri jalan di mana bertebaran dagangan-dagangan religius.

Lucu terasa ketika penjual buku ilmiah, yang tertera di dalamnya gudang ilmu, tidak kami temukan. Jikalau ada penjual buku, sudah dipastikan itu adalah buku wiridan. Pedihnya, kebanyakan teks wiridan bukanlah matan ijasah langsung dari Nabi Muhammad atau yang terekomendasi di Al-Qur'an. 


Dan yang pasti, foto-foto terpampang. Apalah gunanya foto teragungkan jika ilmunya tak terambil!? Sementara hampir tiap member punya foto Sang Habib di kamar atau rumah mereka. Salah satu alasan: 'daripada saya memajang foto penyanyi'. Oh great, ternyata memang Habib mu itu sejalar dengan artis; yang pintar ber-acting, bagus dalam berpura-pura dan tentu saja ==> Punya Nomor Rekening


Bukan Ilmu...Namun Foto nya

Apakah foto-foto itu memberi daya magnet keilmuan? Atau memberi kekuatan tersendiri dalam keimanan? Kita tidak tahu...tapi yang kita tahu, saldo rekening memberi daya magnet syahwat perut dan kekuatan tersendiri dalam pembelanjaan.

Bukan ilmu yang dicari...meski berkumpul dan bermajelis, namun alasan 'mencari ilmu' lah sebagai penghias kepalsuan. 
Namun foto nya...lihatlah mereka di pinggir-pinggir jalan, di pertigaan, perempatan dan semacamnya. 

Daerah tersebut adalah kekuasaan 'pengamen' tuk memamerkan kemampuan demi mengeruk uang receh. 
Kini, daerah tersebut juga menjadi kekuasaan 'pengamen-berdzikir' tuk memamerkan muka dan sandingan gelar keturunan demi mengeruk.......apa?


Once again:

"Kami hanya menjabarkan fakta di medan. Selagi kami memandang dan mengamati, kami berjanji pada diri sendiri untuk tidak berpura-pura tidak tahu atau menyembunyikan yang tak mungkin disembunyikan."


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/376755299032528

Friday, April 27, 2012

MERABA MEDAN: [3] Tantangan Wanita

oleh Hasan Al-Jaizy

Para ustadz dan dai masa depan yang berdiri di atas kebenaran Al-Qur'an dan Sunnah [ga pake fanatisme, ga pake bid'ah] bakal dimusuhi di sana sini, as always. Satu yang nanti akan ada tantangan yang sekarang belum begitu banyak dan berat:

Tantangan Wanita 

Wanita semakin banyak jumlahnya. Kelak wanita2 tak lagi melirik artis2 dan penyanyi2 karbitan; namun mereka akan berlari kencang menuju para ustadz dan dai, terlebih jika memiliki kelebihan pesona fisik.

Dan kemungkinan jua kelak praktek poligami akan dilaksanakan para ustadz; itu membantu dalam melengkapi kebahagiaan dan membantu banyak wanita, juga keluarga yang mempunyai anak gadis.


Kelak gadis-gadis yang ANTI-poligami seanti-antinya akan menjadi salah satu dari 2:

1. Menjadi pelacur. Motto: "Biar melacur dan berzina, yang penting ga poligami". Inilah Sekulerisme, agama para pelacur.

2. Menjadi perawan tua. Motto: "Biarpun ga laku, yang penting ga poligami".

Sementara pria-pria penganut Sekuler, yang anti-Poligami, terus meneriakkan penentangan terhadap Poligami, namun diam terhadap pelacuran dan perzinahan. Oh, tentu saja mereka diam...karena bukankah biasanya mereka ber-mut'ah dengan para pelacur di hari yang mereka inginkan?


Pria-pria makin sedikit, wanita-wanita makin banyak. 

Maka gunakanlah pria, 
selama masih tersedia, 
meskipun 1,2,3 dia sudah punya,


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/375481755826549