Showing posts with label Ulama. Show all posts
Showing posts with label Ulama. Show all posts

Monday, July 15, 2013

Pembagian Ulama Umat dan Siapakah 'Ulil Amri'?

DAKWAH kepada Allah dan menyampaikan sunnah Rasul-nya merupakan syiar bagi golongan yang beruntung (para ulama) dan para pengikutnya, sebagaimana firman-Nya:

قُلْ هَٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

"Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik"." [Q.S. Yusuf: 108]

Yakni mereka yang menyampaikan apa-apa yang datang dari Rasulullah berupa penyampaian kata-kata (dan maknanya), perbuatan dan ketetapan beliau. Berdasarkan hal itu, ulama dibagi menjadi 2 golongan:

[PERTAMA] = AHLI HADITS

Mereka adalah pemelihara hadits yang menjaga dan memelihara, serta mengamalkannnya. Mereka adalah para imam dan pemuka-pemuka agama Islam yang memelihara pondasi-pondasi agama dan ajarannya dari penyelewengan dan perubahan isinya. Mereka adalah golongan yang disebutkan Imam Ahmad dalam khutbahnya yang terkenal ketika membantah golongan Zindiq dan Jahmiyyah.

[KEDUA] = AHLI FIQH

Wednesday, March 27, 2013

Lebay Terhadap Orang-orang Saleh

oleh Hasan Al-Jaizy



[1] Sa'id Az-Zanjany

Adalah Sa'id bin Ali Az-Zanjany, seorang ulama yang wafat tahun 471 H. Beliau berkunjung ke berbagai negara demi menyimak hadits Nabi. Ia merupakan seorang hafizh, ahli ibadah dan wara'. Itu penyifatan dari Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah.

Sementara dalam Siyar A'laam An-Nubalaa', Adz-Dzahaby mengatakan, 'Beliau adalah seorang imam al-allaamah (berilmu sangat tinggi), Al-Hafidz, seorang qudwah (yang patut diikuti), ahli ibadah, Syaikhul Islam dan seorang SUFI.' [As-Siyar: 18/385]

Pada senja usianya, beliau memilih tuk menetap di Makkah. Orang-orang mencari keberkahan darinya. Jika beliau keluar menuju masjid Al-Haram, orang-orang yang tadinya sedang thawaf bergegas menujunya. Untuk apa? Untuk mencium tangannya. Hingga Ibnul Jauzy mengatakan, "Mereka lebih sering mencium tangannya daripada menicum Hajar Aswad." [Al-Muntazham, 16/201]

[2] Abu Ishaq Asy-Syirazy

Tuesday, March 26, 2013

Al-Arify, Yang Bukanlah Seorang Ulama

oleh Hasan Al-Jaizy

Sampai sekarang, saya masih terngiang dengan pelabelan bahwa Syaikh Al-Arify bukanlah seorang ulama (ahli al-ilm) namun bukan pula seorang yang masih dalam tahap pencarian ilmu (seperti saya dan Anda). Lalu, sederajat apa beliau? Sederajat ustadz!

Kesalahan-kesalahan beliau adalah miliknya, yang jika dibandingkan kebaikannya untuk kaum muslimin, insya Allah tertutupi. Setelah bertahun-tahun berdakwah (tentunya setelah mencari ilmu) di medan dakwah, pulang pergi negeri demi menyampaikan ilmu, memiliki beragam program tanya jawab di berbagai channel TV dakwah, dan apapun dikerahkan oleh beliau, lalu dilabeli, 'Beliau bukanlah ulama'. Lalu, sederajat apa beliau? Sederajat ustadz!

Saturday, February 2, 2013

Ku Tahu Yang Ku Mau

oleh Hasan Al-Jaizy


 Ku Tahu Yang Ku Mau

2013, tahun terakhir saya ngampus di Kampus Biru mudah-mudahan. Sebelum lulus, kudu meninggalkan jejak di beberapa sektor, terutama sektor dunia maya ini. Kenapa mematok sebelum lulus kuliah? Karena alam lulus kuliah itu tak selonggar alam kuliah, dari segi tanggung jawab, pekerjaan dan waktu. Karena itu, mahasiswa yang merasa punya kemampuan, skill atau kelebihan di satu sektor, ia HARUS mengexplore, bereksperimen, mengasah dan mendalaminya sebelum kesibukan dan raungan tangis anak bayi mengaburkan konsentrasinya. Lalu tuangkan itu semua ke berbagai tempat.

Seperti istilah yang berkali-kali diucapkan Syaikh Al-Arify, Dha' Bashmatak, atau enaknya diterjemahkan: "Cetak cap jempolmu!", "Taruh Jejakmu!"

Seperti beliau yang mencetak jejak di Somalia, Libya, Meskir, Saudi apalagi, Yaman, Suriah, Palestina, Amerika, Malaysia, dan mana-mana. Ah, beliau kan sudah punya nama. Sudah bergelar doktor dan senior. Mau cetak jejak di mana-mana tinggal masuk jadwal saja.

Tapi, bagi kita yang belum mampu sedahsyat beliau, setidaknya cetaklah jejak di sektor yang kita mampu. Kalau tidak mampu di dunia maya, ya di dunia nyata. Kalau tidak mampu di dunia nyata, ya di dunia maya. Tapi, kalau mencetak jejak di dunia maya, akan ada yang kritik begini: 'Cuma bisa di dunia maya ajah!' Kritik ini benar dan bagus. Karena memang dunia nyata selayaknya lebih diporsikan. Namun, baiknya fahami pula bahwa keberadaan dua dunia ini tidak semua orang bisa menguasai keduanya dengan seimbang. Tidak semua orang berdaya sehingga bisa berjaya di dunia nyata.

Tuesday, January 29, 2013

Ar-Razy...Seperti...Humor?

oleh Hasan Al-Jaizy


Ar-Razi...Seperti...Humor?

Ar-Razi

Ar-Razi

Adalah Fakhruddin Muhammad Ar-Razy (w. 606 H), seorang ulama besar, pemikir terhormat yang 'terlalu' pintar. Beliau menggeluti ilmu Kalam segelut-gelutnya. Hingga dosen saya, ketika membuka kitab Mafaatih Al-Ghaib, karya beliau di bidang Tafsir, ia mengatakan, "Saya membuka kitab Ar-Razy yang satu ini, tidak saya fahami sedikitpun maunya apa." Tetapi, seorang mahasiswa fanatik pada suatu ormas yang kala itu masih kuliah di Al-Azhar Mesir, romannya 'mengerti' tafsir tersebut. Dia melakukan sebuah perlawanan pada pemilik tulisan ini beberapa tahun lalu dengan 'copas' tulisan Ar-Razy. Atau, memang kitab itu dipelajari di sana? 

Ar-Razy, sebagaimana yang masyhur terkait ulama ahli Kalam, tentu saja dianggap wasting time dan wasting topics. Terutama dalam masalah Tauhid Rububiyyah. Di antara kelompok Ahli Kiblat yang membenamkan fikiran pada Tauhid Rububiyyah adalah kaum Sufiyyah. Mereka -jika tidak dibilang menafikan- mendevitalisir dan meminimalisir kepentingan Tauhid Uluhiyyah; padahal justru Rasulullah membawa risalah demi memberantas kemusyrikan dan kekufuran. Dan tujuan penciptaan adalah penghambaan, bukan? Coba buka Surat Adz-Dzariaat ayat 56. Oh, makanya, banyak dari kaum Sufi, baik itu di negeri padang pasir (Arab) atau di negeri padang ilalang (Indonesia) bisa brutal dalam beribadah. Tidak ada aturan. Bahkan bukan sebuah hot news jika kita melihat seorang penggelut Sufi melakukan sesuatu yang orang gila saja merasa tidak pantas melakukannya.

Seperti apa itu?

Seperti apa itu?

Seperti curhat di kuburan wali. Tidak sekadar curhat. Curhat itu toh curah isi hati. Tapi, ini beda. Sampai minta didoakan oleh si mayyit supaya dapat rejeki dan supaya para murid tidak jadi seperti Komunis. Kalau orang gila menonton ini, ia bisa-bisa jadi waras lagi; karena merasa 'wah, ternyata ada yang lebih gila dari gue'.

Atau, 'nyemil' kotoran wali. Lihat saja rekaman pendeknya di Youtube. Entah di negara mana itu.

Dancing, Roqs, Tarian, Nyanyian dan Humor Sufi. Semua itu pas disebut dengan 'Nada dan Dakwah'. Joget-joget dengan lagu Arab [marawisan atau apapun namanya] dan meyakini bahwa itu merupakan tradisi dan budaya Islam. Tradisi mbahmu kuwi. Tradisi mbokmu kuwi. Tidak ada dalam Islam tradisi seperti itu. Tidak ada sahabat mengenal tradisi Dancing, Humor dan muhdatsaat lainnya. Kalau mau meng-humor, ya jangan terlalu sering. Wong Sufisme sendiri sudah humor kok, mau nambah humor?

Humor

Humor 

Selera humor tiap manusia tentu saja relatif. Tidak bisa disama ratakan. Seorang Batak, meskipun terkesan keras dalam berbicara, bisa jadi memiliki selera humor yang sangat-sangat tinggi. Saya pernah mengajar di sebuah kelas les privat. Isinya 2 anak saja. Keduanya sedang duduk di bangku SMP. Lelaki. Kelas itu sepinya minta ampun.

Kenapa? Karena keduanya tidak akan mau bicara kecuali diajak bicara atau ditanya. Jika didiamkan selama sejam, mereka pasti akan diam. Tidak bisa mereka berdua melucu. Dan ketika gurunya melucu, pelit sekali menuai tawa. Kelas semacam ini layak disebut Kelas I'tikaf saja. Adem-ademan sambil tafakkur betapa sepinya dunia ini.

Humor itu, seperti kata orang, ibarat garam di sayuran. Sayuran tanpa garam, terasa hambar dan tawar. Namun, jika garamnya kebanyakan, sayurnya akan tidak enak. Begitu pula dengan manusia. Jika terlalu banyak menebar humor, ia akan dijauhi oleh orang-orang berakal. Kebanyakan humor itu justru membuat stress di akhirat. Para pelawak, mereka pandai berhumor, tetapi jangan dikira semua orang betah dekat-dekat seharian. Kalaupun dekat, itu pun demi uang, pamoritas atau 'numpang beken'. 

Lebih-lebih jika sudah membahas ayat atau hadits, humor mesti diminimalisir. Keduanya memiliki wibawa tinggi. Barangsiapa tak meninggikan keduanya, maka Allah pasti merendahkan dirinya. Barangsiapa tak mensucikan keduanya, maka Allah pasti menghinakan dirinya. Barangsiapa menghumori keduanya, maka....

....kau tahu sendiri akibatnya!


17 Rabi'ul Awwal 1434


Monday, January 28, 2013

Sebutan Faqih, Untuk Siapakah?

oleh Hasan Al-Jaizy


Fawaid 0027: "Sebutan Faqih, Untuk Siapakah?"

Saya akan memulai catatan kecil ini dengan sebuah hadits yang sudah lama sekali -alhamdulillah- saya hafal:

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

"Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan, maka Dia akan menjadikannya seorang Faqih dalam agama." [H.R. Bukhary (1/27), (4/103), (6/152) dan (9/125), Muslim (3/95), Ahmad (4/101), Ad-Darimy (230). Lihat: Jaami' Al-Ushuul fi Ahaadiits Ar-Rasuul, oleh Majd Ad-Diin Ibn Al-Atsiir, 3/8, Tahqiiq Syaikh Abdul Qadir Al-Arna'uth dengan Ta'liq dan Takhrij Syaikh Ayman Shalih Sya'ban, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah.] 

Hadits di atas adalah hadits PERTAMA yang saya hafal dalam mata pelajaran Hadits saat baru duduk di bangku Muthawassithah [setingkat SMP] kelas 1 di Pondok Pesantren Islam Al-Irsyad Tengaran. Guru saya kala itu adalah Ust. Naharuddin Syuhada -hafidzahullah-. Beliau lah yang mengajarkan saya beberapa hadits. Kami masih ingat ketika itu kitab hadits yang sangat sederhana, bersampul jingga dengan faedah yang semoga teringat selamanya.

Hadits ini sangat agung. Makna yang terkandung sangat patut direnungi; sehingga diharapkan menghasilkan motivasi ataupun iradah [kemauan] bagi pembaca yang belum menuntut ilmu syar'i sama sekali agar memulainya, dan bagi yang sudah menuntutnya -baru atau sudah lama- terus melakukannya hingga akhir hayat.

Sunday, January 27, 2013

Kerennya Ilmu Perbandingan

oleh Hasan Al-Jaizy

Ilmu paling keren itu ya ilmu perbandingan. Seperti ilmu perbandingan agama [Muqaaranah Al-Adyaan], atau ilmu fiqh perbandingan [Fiqh Al-Muqaaranah] atau lainnya kalau ada lagi. Kok paling keren:

Karena seolah-olah pelajarnya atau pegiatnya itu TAHU banyak. Tahu sana sini. Tahu ushul agama seberang. Tahu metode istinbath madzhab-madzhab. Nama yang cukup keren: Kristologi! Beuh. Lalu ada tulisan, Pak Fulan, pakar Kristologi. Keren sekali. Lalu, beberapa anak muda jadi ingin menyelami Kristologi karena 'kerennya'. Dalam bayangannya, kelak ia akan jadi orang besar dan tahu agama lain, seluk beluknya hingga mampu membantah hujjah agama lain.

Tapi, ngakaknya, ternyata ushul agama sendiri belebek-belebek. Ketika ditanya Rukun Islam dan Iman, mikir dulu. Ketika ditanya perkara lainnya yang dharury [yakni: yang tidak layak seorang muslim tidak tahu], jawabnya ngaco. Ditanya: "Allah itu ada di mana?"

Jawabannya malah: "Allah ada di mana? Allah ya ada di mana-mana!"

Monday, January 14, 2013

Kagum Pada Ulama


oleh Hasan Al-Jaizy

Kita akan terkagum pada ulama yang ahli dalam bidang Aqidah serta firaq [kelompok-kelompok] menyimpang, baik itu di zaman lalu maupun yang terkini. Mereka memiliki kekuatan dan hujjah dalam menegakkan kalimat thayyibah [Laa ilaaha illallaah] sehingga kemurnian aqidah islamiyyah tetap terjaga. Kita menelaah secara zahir kitab-kitab mereka, bertaburan dalil, hujjah dan bantahan di sana-sini. Semua itu dilakukan BUKAN karena kurang kerjaan atau semacamnya, tetapi demi tegaknya agama ini. Perhatikan dan fikirkan bagaimana mereka [para ulama] mampu menghabiskan waktu yang terberi untuk memeriksa satu persatu kelompok-kelompok sesat lalu mengerahkan segala upaya menghancurkan mereka dengan hujjah dan bayaan? Itu bukan hal mudah!

Kita juga akan terkagum pada ulama ahli tafsir, bagaimana mereka bisa tahu ayat-ayat yang ratusan hingga ribuan tersebut memiliki banyak arti dan faedah!? Bagaimana mereka bisa tahu satu [single] ayat saja bisa menuturkan di baliknya puluhan makna yang bermanfaat bagi hayat basyariyyah, entah untuk masa fana atau untuk masa baka!? Dan bagaimana mereka bisa menyempatkan diri menelaah kitab-kitab Tafsir sebanyak itu!? Sedangkan kita, membedah An-Naas pun belum kelar. Selama ini kita membacanya hanya zahir di lafadz. Jikalau mendalaminya, hanya zahir di pemahaman sederhana. Yang sebenarnya, tiada ayat kecuali besar maknanya, agung kadarnya, dan sempurna susunannya.

Kita tak bisa melarikan diri dari kekaguman terhadap ulama Hadits! Lihat juhd [upaya] dan ijtihad mereka dalam mencari periwayatan hadits. Lihat sirah mereka; perjalanan hidup atau perjalanan kaki dalam mencari ilmu. Lihat bagaimana cerminan kekuatan azam, hasrat, jiwa dan hafalan mereka. Itu semua mereka amalkan bukan karena mereka kurang kerjaan! Satu hadits saja, jika mereka berjasa dalam menyebarkannya, pahala terlipat-lipat hingga akhir zaman, selama hadits tersebut masih tergaung dan teramalkan! Lalu, bagaimana mereka mampu mengumpulkan hadits sebanyak itu, sedangkan meraih tiapnya tidak pada satu waktu, dan tidak dalam satu tempat, melainkan harus safar ke berbagai negeri!?

Thursday, January 10, 2013

Cabang Ilmu Pengaruhi Kepribadian


oleh Hasan Al-Jaizy


Jalaluddin As-Suyuuthy [w. 911 H] adalah seorang alim besar berilmu besar berkarya besar dan sangat besar perhatiannya pada SEMUA cabang disiplin ilmu syar'i. Beliau juga memperhatikan perkara bahasa dan memiliki karya padanya. 

As-Suyuuthy, dalam fiqh, bermadzhab Syafi'iyyah. Di setiap jurusan atau cabang ilmu Syariat, dia pasti memiliki peran. Di sini kita contohkan dalam ilmu Hadits saja, beliau memiliki kitab Al-Jaami' Al-Kabiir, ada pula Al-Jaami' Ash-Shaghiir. Pula kitab Tadriib Ar-Rawy, yang jamak terdapat di rak-rak buku para pelajar ilmu Hadits. Kitab tersebut tercetak tak henti-henti. Syaikh Mazin Sarsaawy -hafidzahullah-, seorang doktor dan ahli hadits Mesir, beberapa tahun kemarin selesai men-tahqiq kitab ini. Sebelumnya sudah dilakukan Syaikh Abu Mu'ad Thariq Awadhullah, namun tahqiq beliau -dikabarkan- memiliki kekurangan sana-sini dan terkesan tergesa-gesa. Wallahu a'lam.

Syaikh Badraan Al-Iyaari -hafidzahullah-, dalam kajian dirasat ilmu Ushul At-Takhrij yang diselenggarakan oleh channel Majd di seri ke 2 mengatakan bahwa As-Suyuuthy, jika dibandingkan dengan As-Sakhaawy [w. 902 H] dalam ilmu Hadits, ia [Suyuthy] akan kalah.

Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i


oleh Hasan Al-Jaizy


Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i [w. 204 H] hafal Al-Qur'an di umur 7 tahun. Ia pun telah khatam menghafal Al-Muwattha' karya Al-Imam Malik [w. 179 H] di usia 10 tahun. Dan di usia belasan tahun, ia menjadi sandaran fatwa. Banyak manusia mengambil manfaat darinya.

Ketika di Makkah, Beliau telah menulis sebuah risalah ilmiah penting yang kemudian beliau kirim ke Abdurrahman bin Mahdy, seorang hakim di Iraq. Risalah itu adalah cikal bakal pembuktian kehebatan seorang Asy-Syafi'i dan keberkahan ilmunya. Lalu setelah berada di Mesir, beliau mendikte kembali risalah tersebut pada Al-Muraady. Risalah yang serupa dengan sebelumnya. Awalnya, tiada judul. Namun, setelah tersebarnya, barulah diberi judul Ar-Risalah.

Ar-Risalah adalah kitab fenomenal disebabkan pengaruhnya terhadap perkembangan ilmu syariat, terutama Fiqh. Karena kitab tersebut adalah kitab Ushul Fiqh pertama! Masih murni dan asli ala Asy-Syafi'i. Tidak tercampur baur dengan pengaruh ilmu Kalam, atau Mantiq. Baku dan bertaburan ayat-ayat Al-Qur'an. Tidak bertele-tele, berbelit-belit, berbahasa lugas meski tidak mencakup seluruh materi Ushul Fiqh.

Tidak hanya Ushul Fiqh, bahkan banyak ulama mengatakan bahwa dalam kitab tersebut, tumbuhlah bibit-bibit ilmu Ushul Hadits!

Dan sekarang, jutaan kitab telah tercetak dengan sandaran label 'Fiqh Syafi'i'. Nama Asy-Syafi'i begitu hidup, meski pemiliknya sudah tiada.

Lalu, apa yang kita fikirkan ketika melihat satu rak berisikan kitab-kitab Fiqh bermadzhab Syafi'i? Tiap membuka kitab, pasti tercantum berpuluh-puluh kali...tidak, beratus-ratus kali nama beliau.

Seolah-olah beliau hidup...beliau sudah tidak hidup berkurun masa berlalu.

Ilmu, upaya dan karya, bisa menjadikan nama seorang alim hidup. Jika namanya hidup dikenal baik di tengah manusia, itu adalah alamat betapa berkahnya ilmu pemilik nama. Itu adalah keutamaan dari Allah yang tidak terberi untuk semua manusia. Maukah kau menjadi seperti mereka?

Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i


oleh Hasan Al-Jaizy


Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i [w. 204 H] hafal Al-Qur'an di umur 7 tahun. Ia pun telah khatam menghafal Al-Muwattha' karya Al-Imam Malik [w. 179 H] di usia 10 tahun. Dan di usia belasan tahun, ia menjadi sandaran fatwa. Banyak manusia mengambil manfaat darinya.

Ketika di Makkah, Beliau telah menulis sebuah risalah ilmiah penting yang kemudian beliau kirim ke Abdurrahman bin Mahdy, seorang hakim di Iraq. Risalah itu adalah cikal bakal pembuktian kehebatan seorang Asy-Syafi'i dan keberkahan ilmunya. Lalu setelah berada di Mesir, beliau mendikte kembali risalah tersebut pada Al-Muraady. Risalah yang serupa dengan sebelumnya. Awalnya, tiada judul. Namun, setelah tersebarnya, barulah diberi judul Ar-Risalah.

Ar-Risalah adalah kitab fenomenal disebabkan pengaruhnya terhadap perkembangan ilmu syariat, terutama Fiqh. Karena kitab tersebut adalah kitab Ushul Fiqh pertama! Masih murni dan asli ala Asy-Syafi'i. Tidak tercampur baur dengan pengaruh ilmu Kalam, atau Mantiq. Baku dan bertaburan ayat-ayat Al-Qur'an. Tidak bertele-tele, berbelit-belit, berbahasa lugas meski tidak mencakup seluruh materi Ushul Fiqh.

Tidak hanya Ushul Fiqh, bahkan banyak ulama mengatakan bahwa dalam kitab tersebut, tumbuhlah bibit-bibit ilmu Ushul Hadits!

Dan sekarang, jutaan kitab telah tercetak dengan sandaran label 'Fiqh Syafi'i'. Nama Asy-Syafi'i begitu hidup, meski pemiliknya sudah tiada.

Lalu, apa yang kita fikirkan ketika melihat satu rak berisikan kitab-kitab Fiqh bermadzhab Syafi'i? Tiap membuka kitab, pasti tercantum berpuluh-puluh kali...tidak, beratus-ratus kali nama beliau.

Seolah-olah beliau hidup...beliau sudah tidak hidup berkurun masa berlalu.

Ilmu, upaya dan karya, bisa menjadikan nama seorang alim hidup. Jika namanya hidup dikenal baik di tengah manusia, itu adalah alamat betapa berkahnya ilmu pemilik nama. Itu adalah keutamaan dari Allah yang tidak terberi untuk semua manusia. Maukah kau menjadi seperti mereka?

Sunday, January 6, 2013

YAHUDI, PERGURUAN HIJAU DAN PENOLAK KEBENARAN!!!


oleh Hasan Al-Jaizy


Sebelum meneruskan membaca tulisan ini, penulis menghimbau pembacanya agar berusaha melapangkan dada. Selain itu, penulis juga menganjurkan agar pembaca tidak berpura-pura berlapang dada, yakni: 'ngakunya' berlapang dada namun rupanya ada kesumat mendendam di dalamnya.

Abdullah bin Salaam dikenal dahulu sebelum keislamannya sebagai seorang tokoh dan alim Yahudi. Ia mengenal tepat kitab yang disucikan oleh kaum Yahudi. Ia mengenal tepat sifat dan zaman kemunculan Nabi terakhir dalam agama Tauhid.

Diceritakan oleh Muhammad bin Ishaq, bahwa beliau telah diceritakan oleh keluarga Abdullah bin Salaam perihal dirinya dan keislamannya. Ia [Abdullah bin Salam] pernah mengakui, "Ketika aku mendengar tentang Rasulullah -Shallallahu alaihi wa Sallam-, aku sudah mengetahui namanya, sifatnya dan zamannya [1]."

Thursday, January 3, 2013

Menerawang Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy


Ini yang kesekian kalinya, lagi-lagi saya menceritakan apa yang terjadi ketika saya pulang dari kampus. Well, pekan ini adalah pekan UAS [Ujian Akhir Semester] di kampus. Selesai mengerjakan tes, langsung cabut ke rumah. Besok pagi insya Allah saya akan cabut lagi dari rumah. Selepas habis tes, saya cabut lagi ke rumah. Jadi, kehidupan saya ini cabut-cabutan. 

Dan tadi, saya menumpang dibonceng teman saya, seorang perjaka Madura yang tinggal di sekitar Condet. Teman sekelas. Madura tulen. Saya kadang 'berdiskusi' dengan teman yang satu ini soal perguruan hijau dan fenomena anti-Wahabi. Sebenarnya teman-teman 'hijau' saya banyak di kampus. Semuanya bagus-bagus. Fair dalam menilai dan menimbang. Cuma mungkin mengekspresikannya berbeda macam dan ragam.

Nah, tadi pagi, kami sempat membicarakan kehebatan ulama di zaman dahulu.

Friday, December 28, 2012

HARAPAN Seorang Guru Di DEPAN Murid-muridnya [Sebuah Renungan]

oleh Hasan Al-Jaizy


Suatu hari, di tahun 1414 Hijriyyah, [hitung berapa tahun yang lalu], di negeri Saudi Arabia, ada seorang guru yang rutin mengajar murid-muridnya. Di sebuah majelis yang rutin digelar di hari tertentu. Majelis Mingguan.

Guru ini dahulu -di awal masa mengajar-, hanya dihadiri segelintir orang. Bahkan pernah hanya 1 murid. Namun tetapbersabar hingga berdatangan di bulan dan tahun berikutnya banyak dari murid.

Di suatu hari, tahun 1414 Hijriyyah, beliau mengucapkan ini:

الآن كتاب رياض الصالحين يُقرأ في كل مجلس ، ويُقرأ في كل مسجد ، وينتفع الناس به انتفاعاً عظيماً ، وأتمنى أن يجعل الله لي كتاباً مثل هذا الكتاب ، كلٌ ينتفع به في بيته ومسجده

"Sekarang, kitab Riyadhus Shalihin [karya An-Nawawy] dibaca di setiap majelis [ta'lim], dibaca di semua masjid, dan manusia mengambil manfaat darinya. Manfaat yang sangat besar! Aku BERHARAP Allah menjadikan untukku satu kitab seperti kitab Riyadhus Shalihin ini; sehingga semua orang mengambil manfaat darinya...di rumah...dan masjid..."

Siapakah guru ini?

Beliau adalah

Apa Itu Ilmu Bermanfaat?

oleh Hasan AL-Jaizy

Saya merasa terkesan dan merasa malu pada diri sendiri dengan potongan perkataan Imam Adz-Dzahaby -rahimahullah- yang baru saya dapatkan di Internet:

تدري ما العلم النافع؟ 

هو ما نزل به القرآن، وفسره الرسول صلى الله عليه وسلم قولاً وفعلاً

"Kamu tahu apa itu ilmu yang bermanfaat?

Ia adalah apa yang Al-Qur'an turun dengannya, dan Rasul tafsirkannya, baik dengan ucapan, maupun perbuatan."

Tidak perlu dikritik kalimat di atas atau diminta perincian. Hanya mengajak bercermin masing2, betapa jauhnya kita dari keduanya. Jikalau kita dekat akan keduanya, seberapakah?

Thursday, December 27, 2012

CAT : [76] "PENCARI KEBENARAN = PENGUMBAR BANTAHAN?"


oleh Hasan Al-Jaizy


[1]
Teman sekelas saya tinggal di rumah kos, di mana temannya berjualan kitab Arab dan Indo, serta berbagai barang lainnya. Rumah kos ini kerap dikunjungi mahasiswa LIPIA. Ada yang hendak membeli kitab, atau sekadar melihat-lihat dagangan, atau memang ziarah saja. 

Ada seorang mahasiswa suatu hari masuk ke toko ini [kos]. Ia melihat-lihat sejumlah buku. Tiba-tiba ia nyeletuk ke penjual yang didengar beberapa ikhwan, "Akh, kitab/pengarang ini bukannya sudah terbit buku BANTAHAN-nya?" Seketika, teman saya menjadi 'sebal' dengan kalimat itu.

[2]
Saya mempunyai sebuah tulisan di status. Itu adalah susunan kalimat motivatif dan inspiratif yang dikemas dengan style puitis. Di dalamnya saya bubuhkan beberapa nama orang terkenal. Di antaranya SBY, Chairul Tandjung, dan Syaikh Muhammad Al-Arify, kemudian ada seorang yang

Saturday, December 15, 2012

CAT : [33] "DAI SEBUTA UMAT"

oleh Hasan Al-Jaizy


Beberapa guru saya berkata yang intinya, "Keadaan umat kita sekarang kurang lebih seperti keadaan umat di zaman Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim dan Muhammad bin Abdul Wahhab."

Apakah benar seperti itu? Bisa benar, bisa juga kurang benar. Tapi, bagi saya, sulit untuk menyimpulkan 'tidak benar' pada kalimat guru-guru saya. 

Di zaman Ibnu Taimiyyah [w. 728 H / 1328 M], Syi'ah sudah bergerilya, bukan? Karena jika tidak, untuk apa beliau mengarang kitab Minhaaj As-Sunnah, sebuah kitab berjilid-jilid besar dan deras akan faedah dalam rangka membantah satu kitab/makalah sesat penuh dusta dari seorang Syi'ah? Di zaman beliau pun, tersohor makalah-makalah falsafi dan aqli yang mendewakan akal serta menenggelamkan nash dalam perut bumi. Jika tidak, untuk apa beliau

Saturday, December 1, 2012

Mengkaji Kuburan Keramat

oleh Hasan Al-Jaizy

Barangsiapa yang 'disibukkan' dengan ustadz, maka ia condong fanatik dan menjauh dari ilmunya ustadz. Meskipun ngakunya ingin meluruskan realita.

Barangsiapa yang 'disibukkan' dengan ilmunya ustadz [ilmu yang diberi oleh ustadznya], maka ia condong munshif dan mendekat pada ilmunya ustadz. 

Beberapa orang paling bisa berbicara tentang ustadz fulan dan kelompok fulan, dan mengira bahwa itu semua adalah ilmu. Betapa banyak emak-emak yang mengatakan, 'Saya tidak ngomongin orang [ghibah] lho!' tapi sebenarnya mereka benar-benar membicarakan orang beserta aibnya. Begitu pula, betapa adanya pelajar ilmu mengatakan, 'Saya tidak berghibah. Ini klarifikasi dan pelurusan!' tapi sebenarnya mereka benar-benar tukang ghibah model 'klarifikasi'.

Itu terbukti ketika ternyata yang mereka bincangkan seumur-umur itu-itu saja pada temannya. Persoalan ustadz fulan, kelompok fulan dan seterusnya. Kalau memang katanya 'berilmu', kok yang dibahas bukan ilmu, melainkan orang-orang berilmu!? Kok tidak pernah respond pada materi ilmu, namun jika ada materi 'ngomongin orang' langsung komentar dan BERKARYA

Friday, November 30, 2012

Merebut Lahan Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy

Ini adalah sebuah risalah dari si miskin untuk siapapun yang juga miskin.

Dulu, dakwah ini tidak terlihat gemilang cahayanya nan megah seperti sekarang. Era 90-an, ketika itu ustadz-ustadz yang kau panuti sekarang, adalah dai-dai 'lugu' dan sederhana. Ikhlasnya mereka berjuang demi ilmu dan amal begitu tebal. Era 90, ketika belum banyak yang membuka mata mengenai Sepilis. Era 90, ketika mungkin Anda [seperti saya] masih ingusan, atau Anda belum kenal apa-apa tentang Muhammad bin Abdul Wahhab.

Gloria millenium. Tahun 2000 datang. Gerakan Sepilis semakin menjadi-jadi. Dan setelah tahun itulah puncak-puncak serangat mereka terhadap syariah. Adapun kaum hijau, tak bersatu lagi semenjak partai di Indonesia tidak 3 lagi. Akhirnya bermunculan lah sempalan-sempalan Islami di negeri ini. Namun, dakwah yang kini disebut 'nyawah' perlahan demi perlahan makin exist. Ustadz-ustadz yang kau kagumi sekarang, baik itu kini menjadi bintang idola podium atau penyenang hatimu melalui siaran radio, ketika itu sebagian mereka masih dalam tahap belajar. Jikalau ada dari mereka yang sudah memiliki majelis, itu hanya beberapa.

Dan dimulai sekira 2005, dunia Internet melesat. Semakin kemari, semakin

Friday, November 23, 2012

IMAMAH


oleh Hasan Al-Jaizy

Imamah berasal dari bahasa Arab.

Fi'il Madhi [Past Verb] : Amma [أَمَّ]
Fi'il Mudhari' [Conform Verb] : Ya'ummu [يَؤُمُّ ]
Mashdar [Original Noun] : Imaamah [إْمَامَةِ ]

Arti dasarnya adalah Tujuan. Bisa pula diartikan 'maju'.

Dari kata tersebut, muncul pula lafadz 'amaam', yang berarti 'di depan'.

Dalam syariat Islam, ulama membagi Imamah menjadi 2, yaitu Imamah Kubra dan Imamah Sughra.

[1] Imamah Kubra [Khilafah], yaitu kepemimpinan umum dunia ataupun akhirat. Para imam adalah para Nabi, dan para khalifah di muka bumi ini.

[2] Imamah Sughra, yaitu kepemimpinan dalam ritual shalat.

Saya tidak ingin membahas terkait siapakah yang layak disebut imam/khalifah di masa kini dan semacamnya. Terlebih jika pembahasan itu menuai pengkafiran, pemfasikan dan penzaliman terhadap individu tertentu.

Kenapa para imam disebut imam? Karena, selain mereka diikuti sebagai Qudwah, mereka juga