Showing posts with label Debat. Show all posts
Showing posts with label Debat. Show all posts

Thursday, November 22, 2012

Wedhus Ireng?


oleh Hasan Al-Jaizy

Sejujurnya, hampir tidak pernah ada orang yang berani mengkritik eksistensi jenggot saya di pandangan mereka. Kritik 'mirip kambing' atau lainnya cuma ada setahun setengah kali. Itu juga bercanda sekali dari orang yang belum tahu sunnahnya. 

Malah yang tiap hari, saya melihat mupengers pada jenggot saya. Jika dibandingkan dulu, ketika saya masih muda dan tak berjenggot, mupengers tidak banyak. Jadi, kalau Anda mau banyak yang senangi dan segani, tumbuhkan jenggot. Biarkan ia tumbuh. Jika asalnya gersang, dan minyak firdaus atau minyak kemiri bakar tidak mempan, tempel saja sapu ijug, atau tempelkan bulu lain di sana.

Sebenarnya saya pribadi kurang memahami 100% kenapa beberapa ikhwah kok semacam curcol (curhat colongan) curbung (curhat berselubung) seolah hidupnya cukup getir karena jenggot dan celananya. Padahal katanya curhat itu ga boleh di FB. Harus pada Allah saja. Tapi, mungkin

Friday, August 31, 2012

Kata Kalian: 'Jangan Terlalu Menggeneralisir!'

oleh Hasan Al-Jaizy

Kata Kalian: 'Jangan Terlalu Menggeneralisir!' [?????]

Kita banyak mendengar kalimat seperti ini: "Jangan 'terlalu' menggeneralisir!". 

Berarti: jika kita menggeneralisir, tetapi tidak 'terlalu', maka itu boleh. Ya, generalisir itu juga bagian dari bentuk pandangan yang terkadang juga penting. Al-Qur'an pun menggeneralisir manusia sebagai dzaluum [sangat dzalim] dan jahuul [sangat bodoh]. Namun, apakah semuanya zalim dan bodoh?

Apakah berarti generalisir dalam Al-Qur'an bertentangan dengan realitas yang terjadi?

Tidak. Di sinilah kau harus FAHAM dan mengerti, bahwa menggeneralisir sesuatu itu BOLEH dan WAJAR. Dan generalisasi TIDAK MESTI BERARTI setiap satu cabang atau bagian itu kena. Tidak. Peng-umum-an [generalisasi] seperti ini tetap sah, karena pasti ada pengecualian.

Pengecualian itu ada yang sifatnya DZIHNY, yaitu pengecualian yang termaklumi dan semua orang tahu. Sehingga mengatakan "Jangan menggeneralisir" menjadi sebuah kesia-siaan. CONTOH:

Kita katakan: "Orang Indonesia ramah-ramah"

Ini adalah bentuk generalisir. Sekarang apakah berguna jika saya katakan: 'Ah, tidak semuanya begitu kok!'? TIDAK BERGUNA. Karena semua orang juga tahu bahwa memang ada orang Indonesia yang kasar. 

So, please understand....



Saturday, August 25, 2012

Nasr Hamid Abu Zayd

oleh Hasan Al-Jaizy

Nasr Hamid Abu Zayd [1943-2010]

adalah sosok yang diidolakan oleh kalangan liberal karena pemikirannya yang kritis terhadap Islam, terutama Al-Qur'an dan Sunnah, juga karena arah pemikirannya miring ke kiri, bebas dan dianggap tak terkekang dengan kejumudan.

Abu Zayd lahir di Mesir tahun 1943 dan ia sudah menghafal Al-Qur'an. Telah menempuh studi tingkat doktoral dalam bidang Islamic Studies di Universitas Pensylvania, Philadelphia, Amerika Serikat pada tahun 1980.

Pada 14 Juni 1995,

Saturday, August 18, 2012

Beberapa Point

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point yang disetujui atau tidak, who cares?

[1] Kasihan orang-orang ini: Yang terlanjur terlalu semangat dalam menganjurkan orang lain menikah, lalu menyamaratakan semua kisah hidup orang dan mengkiaskan alur hidupnya dengan orang lain. Benar, orang-orang yang menikah memang ada patutny dikasihani di beberapa sisi, tapi orang-orang semacam ini juga layak dikasihani.

[2] Lebih mulia mana: a. Menikah, b. Mendalami Ilmu, c. Menikah sambil Mendalami Ilmu? Tentu saja c; karena butuh pengorbanan yang dahsyat. Nah, orang yang berilmu, jika kemudian ia mentertawai atau meremehkan orang yang tak berilmu, pasti akan dicap: SOMBONG. Sekarang, kenapa ya, yang sudah diberi anugerah berupa berhasilnya ia menikah, namun setelahnya malah mentertawai dan merendahkan yang belum, kok tidak diangga[ sombong?

[3] Orang2 yang belum menikah disebut 'Lajangiyyun' oleh mereka. hehe. Gimana kalau mereka yang sudah menikah disebut 'Ranjangiyyun'? Kira-kira tersinggung ga tuh? Kan memang intinya ya di situ, meskipun mereka beralasan: 'Menikah itu bukan cuma untuk itu ya akhi', atau kilahan lainnya.

[4] Saking dangkalnya sebagian sungai yang airnya keras bergemericik mengalir, mereka katakan, 'Sudahlah, bismillah saja. Langsung tembak.' atau katakan, 'Urusan materi itu Allah yang mengatur. Allah pasti membantu.' Memang enak dan mudah memberi anjuran, tapi realitanya tak semudah itu. Orang tua mana yang mau anaknya dinikahkan dengan orang yang belum punya kepastian dan ketetapan finansial. Apa berani si calon mantu bilang ke calon mertua: 'Pak, insya Allah Allah akan membantu saya. Niat saya baik dalam menikah.'

[5] 'Masalahe niat baik ra cukup, tole. Harus ada usaha dan keliatan buahnya.'



Sunday, August 5, 2012

MEMPERMASALAHKAN PENULISAN AMIN, AMIIN, AAMIN atau AAMIIN

oleh Hasan Al-Jaizy

Bantah Balik atau Bumerang Bagi Orang Yang:

MEMPERMASALAHKAN PENULISAN AMIN, AMIIN, AAMIN atau AAMIIN


Pertanyaan: Apakah ini pembahasan penting?
Jawab: GA penting. Kalau itu dianggap penting, ini yang paling penting:

Jutaan muslimin SALAH menulis nama TUHAN mereka.

Kok bisa?

Ya, bisa; karena jutaan muslimin menulis: ALLAH

Sedangkan yang benar adalah ALLAAH.

==========================

Sekarang, lebih bermasalah mana:
a.[dianggap] SALAH menulis kata amin, atau
b. SALAH menulis nama Tuhan sendiri

?


Pertanyaan: Sebenarnya ini dipermasalahkan ga sih?
Jawab: Itu cuma nyari kerjaan dan iseng cari masalah aja. Jikalau mau mempermasalahkan itu, maka ada yang paling bermasalah:

Jutaan muslimin SALAH menulis AGAMA mereka sendiri.

Kok bisa?

Ya, bisa; karena jutaan muslimin menulis: ISLAM

Sedangkan yang benar adalah ISLAAM.

==========================

Sekarang, lebih bermasalah mana:
a.[dianggap] SALAH menulis kata amin, atau
b. SALAH menulis nama Agama sendiri

?


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/427077770666947

Tuesday, June 5, 2012

Menjawab Pertanyaan Bersyubhat Mengenai Islamnya Umar

oleh Hasan Al-Jaizy


Kini, insya Allah kita akan membahas jawaban untuk pertanyaan bersyubhat mengenai hal di atas. Pertanyaan tersebut adalah:

PERTAMA

Allah berfirman:

ولله العزة ولرسوله وللمؤمنين 

"Dan hanya milik Allah-lah izzah itu dan milik rasul-Nya dan juga milik orang2 beriman"!
Di ayat tersebut tidak ada pemahaman sedikitpun bahwasanya izzah itu juga milik seorang musyrik atau non-muslim. Lantas mengapa Nabi meminta izzah dan kekuatan kepada Allah untuk Islam dan muslimiin melalui orang musyrik [yaitu Umar/Abu Jahl]????

KEDUA
Lafadz hadits: 

بأحب الرجلين إليك 

yang arti zahirnya: "melalui salah satu orang yang Kau CINTAI".
Bagaimana mungkin Allah mencintai orang musyrik? Hadits tersebut terfahami bahwa Allah mencintai Umar dan Abu Jahl saat kufurnya mereka, lalu Allah memilih seorang dari keduanya yang lebih dicintai??? Bukankah syirik adalah kedzaliman terbesar???


JAWABAN
Mohon diperhatikan di tiap-tiap point-nya.

POINT 1
Sesungguhnya maksud dari IZZAH di hadits tersebut adalah الظهور والتمكين والنصرة والتأييد kenampakan, stabilisasi, kemenangan dan bantuan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Al-Mubarakfury:

قَوْلُهُ : اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ أَيْ قَوِّهِ وَانْصُرْهُ وَاجْعَلْهُ غَالِبًا عَلَى الْكُفْر

"Perkataan: 'Ya Allah, berikanlah IZZAH pada Islam" adalah
--> Kuatkanlah
--> Bantulah
--> Jadikanlah ia menang di atas kekufuran"
[Tuhfah Al-Ahwadzy Syarh At-Tirmidzy, Syaikh Al-Mubaarakfury, 10/115]


POINT 2

Perlu diketahui juga, bahwasanya Allah membantu agama Islam TIDAK KHUSUS hanya melalui tangan orang-orang mukmin, tapi bisa juga justru melalui orang yang fajir, seperti potongan hadits berikut:

وَإِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ

"Dan sesungguhnya Allah kan membantu agama ini melalui orang yang fajir." [H.R. Bukhari, Kitab Bad' Al-Wahy, no. 3062]

Karena itulah, Ibnu Baththal mengatakan:
"Perkataan Nabi: 'sesungguhnya Allah kan membantu agama ini melalui orang yang fajir' mencakup orang muslim [yang fajir] dan juga orang kafir." [Syarh Shahih Al-Bukhary, Ibnu Baththaal. 5/222]


POINT 3

BUKANLAH perkataan Nabi: 'Ahab Ar-Rajulain' [بأحب الرجلين إليك] bermakna bahwa Allah mencintai keduanya lalu memilih yang lebih ia cintai dari keduanya. Namun makna yang benar adalah 'yang lebih memiliki fadhilah dan lebih baik di antara keduanya'. Karena kekufuran itu tidak hanya satu derajat saja; sebagaimana sebagian keburukan itu lebih ringan keburukannya dibanding selainnya. Kita perhatikan sabda Rasulullah berikut:

تَجِدُونَ النَّاسَ مَعَادِنَ خِيَارُهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الْإِسْلَامِ إِذَا فَقِهُوا وَتَجِدُونَ خَيْرَ النَّاسِ فِي هَذَا الشَّأْنِ أَشَدَّهُمْ لَهُ كَرَاهِيَةً وَتَجِدُونَ شَرَّ النَّاسِ ذَا الْوَجْهَيْنِ الَّذِي يَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ وَيَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَجْه

“Kalian mendapati manusia itu (seperti) tambang (bermacam-macam; ada tambang emas, ada tambang perak dll). yang paling baik dari mereka di jaman Jahiliyyah adalah yang paling baik dalam Islam jika mereka faqih (faham islam). Dan kalian akan mendapati sebaik-baik manusia dalam urusan (kepemimpinan; wilayah) ini adalah orang yang paling tidak suka kepadanya. Dan kalian akan mendapatkan bahwa manusia paling buruk (jahat) adalah yang punya dua muka; mendatangi mereka dengan satu wajah dan merndatangi mereka dengan wajah yang lain.” (HR. Bukhari)


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/398909780150413

Friday, June 1, 2012

Donkey Talks

oleh Hasan Al-Jaizy

DONKEY TALKS...

Ada seorang yang syukurnya masih punya akal -tidak seperti keledai yang tidak punya- berbicara tentang Suriah, Syi'ah Nushairiyyah di sana dan pembantaian di sana tanpa adanya petunjuk sedikitpun.

Dikatakan bahwa kita harus melakukan 'approaching', semacam pendekatan atau mungkin bisa dibilang 'perdamaian'. Lalu kita bertanya: 'Seperti apa perdamaian yang kau maksud?' Dijawab:

'Stop mengkafirkan mereka, dan mereka akan berhenti.' [Kalimat ini bertendensi untuk mengkritisi pihak yang mengeluarkan agama Syi'ah dari Islam]

Kita tahu keledai tak bisa melucu, tapi orang satu ini setidaknya sudah bisa menandingi ketidaklucuan dan kedunguan keledai. Dan: BICARA. Cool, right?

Saya yakin sekali orang ini lebih faham berapa banyak jumlah huruf untuk kosakata 'K.E.L.E.D.A.I.' dibanding seperti apakah Syi'ah Nushairiyyah --laknatullahi alaihim- itu. Dan juga, terbayang dalam benak, jikalau ia punya keluarga dekat terbantai di sana, sepertinya dia akan menjadi makhluk yang paling emosi dan mengutuk keras-keras.

Berharap sekali orang yang saya maksud membaca ini sembari meneliti berapa jumlah pertandingan sepakbola yang ia tonton, dan lebih banyak mana jika dibanding menonton pembantaian itu.

Thursday, May 24, 2012

Orang Kafir Menertawai...ITU KATAMU

oleh Hasan Al-Jaizy

Orang Kafir Menertawai...ITU KATAMU

Ketika kita berselisih pendapat, beradu argumen dan mencari mana yang benar, maka jangan langsung disalahkan atau dianggap berpecah belah, selama masih dalam koridor lazim. Diskusi sehat dan saling tukar fikiran itu boleh, toh?

Sekarang menjamur komentar-komentar tak berkualitas. Banyak macamnya. Salah satunya ini akan kudongengkan padamu:

Ketika kita memperbincangkan permasalahan agama dan berbeda pendapat, lalu saling beradu argumen, seakan-akan sedang berkelahi, tiba-tiba ada yang nyeletuk: 'Sudah...sudah! Hentikan ini semua! Orang-orang kafir menertawai kita saat melihat kita seperti ini!'

Selalu saja ada komentar semacam itu!


Taburkan point-point:

--> Tahu darimana mereka tertawai kita ketika kita beradu argumen?
--> Tidak perlu beradu argumen, sebenarnya kita ditertawai sejak lama. 
--> Orang2 Kafir [beberapa atau sebagian besar] di Jakarta juga menertawakan kita wahai kaum muslimin ketika kita merayakan Maulid [atau semacamnya] secara berlebihan. Bukankah sebagian kita berteriak seperti orang kurang waras namun merasa 'berdzikir' dan selawatan? 
--> Sebagian orang kafir juga menertawakan kita ketika ternyata idolanya adalah pemain bola [tidak sekedar menonton, tapi mengidolakan]
--> Sebagian orang kafir juga menertawakan kita ketika adzan berkumandang, namun sebagian besar kita sibuk urusan dunia.

Sebagian setan juga menertawaimu karena kamu berdalih dengan 'Orang2 kafir menertawai kita'.


Lalu dikomentari juga:

"Kalian selalu saja menjustifikasi dan memecah belah!"

Balas pula:

=> Memangnya sebelum kami berbicara, umat sedang bersatu? Sehingga setelah bicaranya kami, umat jadi terpecah belah?
=> Bukannya umat ini memang sudah berpecah belah?
=> Yang saya tahu, kebanyakan dari kita tidak tahu caranya bersatu dan solusinya; karena itulah rata2 orang yang berusaha mempersatukan dan memberi solusi justru dianggap memecah belah.


Sumber atau titik awal berpecah belah umat itu ada 2:

1. Sikap berlebihan. Bisa dalam ibadah, bisa dalam maksiat. Dalam beribadah, berkaitan erat dengan yang namanya bid'ah. Dalam maksiat, berkaitan erat dengan yang namanya kekerasan hati dan pembangkangan.

2. Sikap bermudah-mudah. Bisa dalam ibadah, bisa dalam maksiat. Dalm beribadah, seringkali disebabkan oleh yang namanya bid'ah [ingat: satu bid'ah terlaku, satu sunnah membeku]. Dalam maksiat, seringkali bermuara pada kemalasan dan kebodohan.

Sekarang, siapa sih pemecah belah umat? Take a mirror.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/392227317485326

Sunday, May 13, 2012

MERABA MEDAN : [15] Berdebat Itu Buruk, Seburuk Pemancing Debat?

oleh Hasan Al-Jaizy


[DEBAT ITU BURUK...SEBURUK PEMANCING DEBAT?]

Point2 ini mungkin ada yang menyangkal terjadinya. Namun, jika memang itu benar terjadi, apa gunanya menyangkal?

[1] Ada si fulan mengatakan, "Maaf, saya tidak suka berdebat!", tapi sebenarnya dia lebih cocok mengatakan, "Maaf, saya tidak bisa berdebat!"

[2] Ada si fulan mengatakan, "Dilarang berdebat di sini!", tapi sebenarnya dia lebih cocok mengatakan, "Dilarang mendebati saya di sini!"

[3] Ada si fulan mengatakan, "Berdebat itu terlarang dan tercela!", tapi tingkahnya seperti makna kalimat ini: "Memancing perdebatan itu tidak terlarang dan tidak tercela!"



[4] Ada si fulan mengatakan, "Ini adalah bid'ah...itu adalah sesat...Fulan adalah ahlu bid'ah!", lalu ditanya: "Mana buktinya dan jelaskan!!!" Setelah itu, si fulan menjawab dengan 'link-copas' atau 'artikel-copas' dan cuci tangan cuci kaki. Ketika ditentang, buru-buru ia menulis 3 kalimat:

--> "Maaf, saya tidak suka berdebat!"
--> "Dilarang berdebat di sini!"
--> "Berdebat itu terlarang dan tercela!"

PADAHAL, INI ASLINYA:

=> "Maaf, saya tidak bisa berdebat!"
=> "Dilarang mendebati saya di sini!"
=> "Tapi, memancing perdebatan itu tidak terlarang dan tidak tercela!"

Ini pernah terjadi? Coba jawablah dengan cara menuding diri sendiri.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/385872078120850

Thursday, May 3, 2012

MERABA MEDAN : [11] Jika Inginmu di Tengah...Siaplah Dimusuhi!

oleh Hasan Al-Jaizy

[Jika Inginmu di Tengah...Siaplah Dimusuhi!]

Ada faedah dan bahan pembelajaran dari kehidupan seorang ustadz senior yang saya dapati. Kira-kira begini kesimpulan maknawi-nya:

[1] 'Jika kamu ingin menjadi orang yang berjalan di tengah, maka bersiaplah digesek dari kanan dan kiri. Artinya: Siapkan dirimu tuk dimusuhi, meskipun mereka tahu kamu benar-benar di tengah. Jangan kira kamu akan disenangi banyak orang, dan memang bukan itu tujuanmu. Bebanmu adalah menyampaikan.'

[2] 'Kelak jika kamu berkawan dengan golongan bagus, namun kemudian mereka menyimpang, maka jangan ikuti perselewengan; terutama jika mencapai derajat Ghuluw [berlebih-lebihan]. Ya, kamu benar-benar tahu penyimpangan mereka. Dan ketika kamu undur diri, mereka tak memberimu udzur. Dan ketika kamu mengkritisi, mereka takkan memberimu maaf.'

[3] 'Benar. Setiap golongan banggakan apa yang ada pada mereka. Dan jika tujuan hati adalah menggolong-golongkan dan bergolongan, maka kelak akan tercipta rasa bangga yang membangun benteng fanatisme. Takkan ingin dikritisi, namun berharap mendapat tempat tuk mengkritisi. Karena setiap golongan banggakan apa yang [BAIK] pada mereka, dan menutup-nutupi apa yang [BURUK] pada mereka.'

[4] 'Jika kamu memilih jalan tengah, maka siaplah dimusuhi.'


 Opini status ini pun bisa salah...

Karena point-point di atas hanyalah pembelajaran individual yang tak terlepas dari kacamata subjektif pemiliknya. Semua itu terambil dari hikayat seorang ustadz yang dicibiri sana-sini, setelah sebelumnya beliau dan 'mereka' 'mereka' adalah teman seperjuangan. Bahkan beliau dahulu adalah 'penolong' mereka, karena lebih senior. Namun ketika 'mereka' besar dan mempunyai materi jua massa, sepertinya benar: hati manusia bisa berubah-ubah.

Maka berdoalah: Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Quluubana Ala Diinik...Tsabbit Quluubana ala Thaa'atik


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/378833438824714

Tuesday, March 27, 2012

Mereka Tidak Mendengarmu

oleh Hasan Al-Jaizy

Saya mengerti dan berusaha memahami perasaan kawan-kawan mahasiswa yang berdemo dan berunjuk rasa atas nama Anti-Kenaikan BBM. Tapi, apakah kawan-kawan mengerti dan berusaha memahami perasaan saya yang sebenarnya sedih dan benci melihat kawan-kawan berkerumun seperti itu di tengah jalan!?

Saya juga bagian dari rakyat, kawan-kawan. Kalau mau dibilang kecil, saya juga rakyat kecil, bahkan mungkin l

ebih kecil dari kalian. Disuruh bayar biaya kuliah pun, saya sangat tidak mampu. Tiap hari bergelut di dunia angkutan umum dan saksikan kesengsaraan manusia di jalanan, tak jadikan jasad dan hati ini tergerak berdemo ke jalanan.

Kalian toh juga penerus mereka...penerus orang-orang yang kalian demo. Berbuat serupa pada siapapun, maka siapapun kelak akan berbuat serupa padamu. Nanti ketika kalian menjabat dan meninggi, akan terjadi hal serupa padamu. Junior-juniormu akan menggugat keputusanmu di jalanan. Sebagai calon / penerus, apakah kalian terus-menerus ingin menjadi generasi 'turun-jalan-teriak-terkepal-genggaman' sementara solusi yang lebih sehat ala mahasiswa bijak masih bisa dicari.





Apakah mereka dengar teriakanmu? 
Apakah mereka ijabkan protesmu?
Apakah mereka takuti kepalan tanganmu?
Ataukah semuanya adalah belaka bernilai debu?

Sebagai the-nex-generation, kita persiapkan dari sekarang untuk menjadi the-next-big-thing. Dan itu tidak dengan cara gerakan fisik yang sebabkan kemacetan lalu lintas dan sumbatan fikiran. Jalanan membuat kita esmosi...semakin esmosi, semakin menjadi-jadi. Yang akhirnya, justru berubahlah alur hati...yang tadinya ingin memberi aspirasi....eeeh, malah jadi ingin dilihat, dianggap, dipandang bahwa....

"Aku adalah mahasiswa yang punya suara"
"Aku adalah pembela rakyat kecil"
"Aku berdiri di sini demi kalian"

No, suara mahasiswa yang emosional tak dianggap
No, rakyat kecil juga merasakan kemacetan akibat kalian
No, kami di sini justru jadi esmosi melihat kalian

mengatasnamakan rakyat kecil...semua nya mengatasnamakan rakyat kecil...mengaku pembela...benarkah itu? Ask your heart!





Monday, March 5, 2012

Justru Saya Merasa...

oleh Hasan Al-Jaizy

Justru saya merasa:

Orang2 yang kelihatannya lebih faham waqi' [konteks] tanpa faham dalil [teks] namun meninggikan suara dan mengepalkan tangan keras-keras: "kebanyakan" dari mereka justru benar-benar tidak faham waqi' itu sendiri.

Karena yang dikedepankan hanya madzhar [penampakan realitas] lalu diserap sedalamnya di hati. Sementara hati tiap orang berbeda. Justru kebanyakan hati-hati sekarang adalah kotor.

Imbasnya: hati-hati kotor menutup akal dan adab. Terjadilah teriakan binal dari mulut-mulut kotor dan aktifitas-aktifitas tak terdasar oleh ilmu memadai.

http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/343173779057347

Thursday, March 1, 2012

Jangan Bermain Api Jika Tak Ingin Terbakar

oleh Hasan Al-Jaizy

Kekonyolan: "Menulis status atau berkata sesuatu yang jelas mengundang perdebatan, tetapi ketika ada yang tidak terima dan bertanya-tanya, langsung berlindung di balik dalil yang melarang perdebatan plus perkataan ulama". Kekonyolan yang nyata.

Seperti Anda melempar batu kecil ke genteng rumah orang, namun ketika empu rumah keluar dan marah-marah, Anda langsung berlindung di balik hadits, "Janganlah marah! Janganlah marah!" Kekonyolan yang nyata.

Jika tidak ingin ada perdebatan, jangan memancing.
Jika memancing namun tidak ingin berdebat, jangan salahkan pendebat.
YOU are to blame!


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/340036396037752

Thursday, February 2, 2012

Jatuh Cinta vs Pacaran

oleh Hasan Al-Jaizy

"Jatuh cinta itu sehat"
=> Pacaran itu busuk

"Jatuh cinta membuat kita awet muda"
=> Pacaran membuat kita awet munafik terasah

"Cinta meningkatkan kesehatan mental kita"
=> Pacaran meningkatkan rating maksiat dan perzinahan

"Cinta membuat kita lebih sering berulangtahun"

=> Seperti yang mengaku cinta Nabi sembari rayakan 'ulang-tahun-Nabi' [Maulid]

"Cinta sembuhkan penyakit jantung"
=> Pacaran suburkan penyakit hati





Selama masih berstatus 'pacar', perkataan2 ini hasil racikan setan:

"I love u", "I miss you", "I can't live without you", "I can't be happier than seeing you", "I can't imagine any greater fear than losing you" dan kalimat palsu semacamnya.

Kepalsuan yang sebenarnya diketahui kedua belah pihak; namun 'cinta-pacar-itu-buta'.





Saturday, January 21, 2012

Shalat Itu Tidak Wajib, Katanya

oleh Hasan Al-Jaizy

Seseorang berpendapat berdasarkan akal:

"Shalat itu tidak wajib! Karena tujuan shalat itu adalah untuk 'mengingat-Allah'. Jadi cukup berdzikir atau ingat pada Allah sudah mewakili"


Tanggapan akal:

1. Perkataan Anda di atas hakikatnya menunjukkan Anda tidak ingat pada Allah kecuali sebatas nama saja. Jika Anda ingat akan Allah, rahmat-Nya, ADZAB-nya, tentu Anda takkan mudah berkata menyelisihi hukum Allah.

2. Tidak mungkin orang yang ingat tidak tahu apa yang diingat. Orang yang ingat pasti mengetahui yang diingat. Sedangkan Anda berpendapat didasari kejahilan [ketidaktahuan] akan hukum Allah. Kini, kami yakin bahwa sesungguhnya Anda tidak tahu hukum Allah. Anda hanya tahu lafadz Allah saja.


Tanggapan di atas akal [nash]:

1. "Sesungguhnya shalat mencegah dari yang keji dan munkar" [Al-Qur'an]
Sekarang, jika tidak shalat: keji dan munkar. Adakah orang yang 'ingat pada Allah' itu keji dan munkar!?
Jika orang yang shalat dan ingat pada Allah [kadang2] saja masih banyak yang berbuat keji dan munkar, apalagi yang tidak shalat?

2. 
"Dan ber-isti'anah-lah [mintalah bantuan/pertolongan] dengan kesabaran dan shalat" [Al-Qur'an] 

"Dirikanlah shalat" [Al-Qur'an]

"Sesungguhnya shalat adalah kewajiban [maktub] atas MUKMINIIM di waktu yang telah ditentukan [mauquut]." [Al-Qur'an]

Sekarang, Anda diperintahkan shalat langsung, apakah orang yang 'ingat-Allah' itu orang yang melanggar perintah Allah?

Ya, ada...itulah Anda, yang ingat Allah sebatas ingatan tanpa perbuatan. Dan MUKMINIIM adalah orang2 beriman. Orang2 beriman tak sebatas 'mengingat', tapi mengamalkan apa yang diperintahkan.

Intisari: "Anda tak perlu mendeklarasikan keimanan Anda, karena kami sudah tahu perkataan dan perbuatan Anda tak selaras adanya."


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/314016705306388

Merobek Pacar

oleh Hasan Al-Jaizy

Jika ada selentingan kabar bahwa si anu ditembak si anu, lalu resmilah pacar-memacar, saya siap menunggu kabar mereka putus.

Pacaran adalah sesuatu yang sangat bisa melatih sso menjadi bermuka dua hingga lima. Semakin sering sambung-putus atau berburu-menjaring, semakin terasah kepiawaian diri untuk menjadi MUNAFIK.


GET THIS:

Si Jantan belagak cool, gentle [halus] dan perhatian demi ridha kekasih ; sembari menata aib-aib di gudang yang tak diketahui kekasih. Pula si betina belagak hot, sangat tidak CUTE [cuekan-jutekan] dan pehatian; sembari menyembunyikan aib-aib di belakang. Fake, rite? Adapun suami-istri, segalanya terbuka. Luar dalam terfahami.


Yes, dan ketika ditanya: "Udah berapa kali pacaran?" menjawab: "Udah sekian...3/4/5"

Entah apa yang membuat seekor cacing suka bergeliat sendiri di tanah...mungkin ia terkekeh-kekeh mendengar ada orang 'bangga' akan kuantitas kemunafikannya.

Atau: "Cieeee...pacar BARU ni yee" dibalas dengan senyuman GR.

Entah apa yang membuat kadang seekor tokek tersedak/keselek ketika ber'tokeeek...tokeeeek...tok..tok..wok', mungkin karena takjub ada manusia berakal ge'er dengan kemunafikannya.


 JANGAN HERAN 2 HAL:

Maka, jangan heran ketika seorang suami beristrikan seorang wanita yang masa gadisnya suka 'berburu' buaya atau talak-rujuk pacar, mendapatkan istrinya pintar berpura-pura atau pintar menyembunyikan perasaan 'lebih' ke pria lain selain suami....JANGAN HERAN!

Jangan juga heran ketika seorang istri bersuamikan seorang pria yang masa lajangnyanya suka 'berburu' angsa di kuali kuliahan atau talak-rujuk pacar, mendapatkan suaminya berhape 2-3 dan pintar berpura-pura atau pintar menyembunyikan perasaan 'lebih' ke wanita lain selain istri....JANGAN HERAN!


Dan bagi yang sampai sekarang masih 'sayang-sayangan' dalam hubungan emosional yang sifatnya 'tak-resmi-dianggap-resmi', stop that thing dan berfikirlah lebih jauh. Berhentilah sebelum segala terlanjur tak mampu dihentikan. Kebiasaan buruk lebih sulit dihentikan dibanding kebiasaan baik. 

Menikahlah...jika belum berkehendak karena beberapa faktor, jangan coba-coba 'sayang-sayangan'...banyak orang tersesat karena 'coba-coba'


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/314003011974424