oleh Hasan Al-Jaizy
Sejujurnya, hampir tidak pernah ada orang yang berani mengkritik eksistensi jenggot saya di pandangan mereka. Kritik 'mirip kambing' atau lainnya cuma ada setahun setengah kali. Itu juga bercanda sekali dari orang yang belum tahu sunnahnya.
Malah yang tiap hari, saya melihat mupengers pada jenggot saya. Jika dibandingkan dulu, ketika saya masih muda dan tak berjenggot, mupengers tidak banyak. Jadi, kalau Anda mau banyak yang senangi dan segani, tumbuhkan jenggot. Biarkan ia tumbuh. Jika asalnya gersang, dan minyak firdaus atau minyak kemiri bakar tidak mempan, tempel saja sapu ijug, atau tempelkan bulu lain di sana.
Sebenarnya saya pribadi kurang memahami 100% kenapa beberapa ikhwah kok semacam curcol (curhat colongan) curbung (curhat berselubung) seolah hidupnya cukup getir karena jenggot dan celananya. Padahal katanya curhat itu ga boleh di FB. Harus pada Allah saja. Tapi, mungkin
Malah yang tiap hari, saya melihat mupengers pada jenggot saya. Jika dibandingkan dulu, ketika saya masih muda dan tak berjenggot, mupengers tidak banyak. Jadi, kalau Anda mau banyak yang senangi dan segani, tumbuhkan jenggot. Biarkan ia tumbuh. Jika asalnya gersang, dan minyak firdaus atau minyak kemiri bakar tidak mempan, tempel saja sapu ijug, atau tempelkan bulu lain di sana.
Sebenarnya saya pribadi kurang memahami 100% kenapa beberapa ikhwah kok semacam curcol (curhat colongan) curbung (curhat berselubung) seolah hidupnya cukup getir karena jenggot dan celananya. Padahal katanya curhat itu ga boleh di FB. Harus pada Allah saja. Tapi, mungkin