Showing posts with label Teman. Show all posts
Showing posts with label Teman. Show all posts

Sunday, October 25, 2015

What I Am Now Is Better Than What I Was

oleh Hasan al-Jaizy


Kadang saya iri sama rekan-rekan mahasiswa. Burden of life mereka masih berkutat di kampus, organisasi, tugas dan ujian. Rata-rata begitu. Kadang saya cemburu sambil menyesal akan masa kemahasiswaan saya sendiri dulu. Ada rasa mau kembali ke jaman itu lalu belajar lebih lagi. Sepertinya rata-rata sarjana ada pikiran begitu. Sepintar apapun.

Tiap fase selalu lahir sesalan. Sesal kenapa tidak dari dulu belajar lebih giat. Saya cemburu akan masa lalu atau mahasiswa yang belajar giat sampai malam demi gapai cita-cita. Dulu kalau begadang, dikerubuti buku. Sekarang kalau begadang sama buku, istri langsung cemburu. Keren kan?

Ternyata saya sadari, what I am now is better than what I was kala itu. Dan setiap kamu pun harus sadari, bahwa kamu versi kini adalah gift yang tiada di diri kamu masa lalu. Apa yang kamu punya kini, belum tentu kamu punya masa lalu. Apa yang terhilang telah berlalu. Apa yang berlalu, kenangan tak terhilang. Jika mau kita pikir, rasa syukur kita kadang hilang, padahal kenikmatan dari Allah jumlahnya tak terbilang.


Wednesday, November 28, 2012

Tentang Kerinduan


oleh Hasan Al-Jaizy

Tentang kesempatan bersua dan berkumpul kembali bersama teman-teman SD dulu, itu sangat mungkin. Karena mereka adalah anak-anak kelahiran sekota. Sebagian anak gedongan. Mudah dicari.

Tentang kesempatan bersua dan berkumpul kembali bersama teman-teman pondok dulu [SMP-SMA], itu masih mungkin namun cukup sulit. Mereka tinggal di kota lain, provinsi lain, bahkan beragam pulau. Ada yang kini berdomisili di perkotaan. Ada pula yang kembali ke desa.

Namun, tentang kesempatan bersua dan berkumpul kembali bersama rekan-rekan guru di Pondok Hidayatul Muslimin Parit Sembin Kalimantan Barat, belum terbayang mungkinnya. Sebagian mereka sudah berpencar tak berkabar kemana.

Terlebih tentang kesempatan bersua dan berkumpul bersama anak-anak kami,

Tuesday, November 27, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU : [15] "Yang Takkan Berubah Adalah Adanya Perubahan"


oleh Hasan Al-Jaizy

Seorang pria sedang menonton televisi bersama beberapa temannya di rumah sewaan. Rupanya mereka sedang menyantap sebuah program yang disukai bersama. Lalu tibalah masa iklan terlampir. Jeda acara sementara. Ia mengambil remote TV. Hendak mengganti channel. Siapa tahu ada yang menarik. Dan inilah yang bisa kau gali dari manusia modern. Ketika kegiatan mereka terjeda, pasti mereka akan mencari sesuatu lain sebagai pengisi senggang. Kelihatannya bagus. Namun, bagaimana jika pengisi jeda itu berdampak negatif? Negatif, entah dari segi kandungan sesuatu, atau dari mereka sendiri. Seperti menonton program informatif religius, lalu ketika jedanya menonton program anti-religius. Atau banyak-banyak menyelang-nyeling akhirnya tidak satupun faedah terdapat. Manusia modern, banyak jelajahannya, sedikit mengambil ibrahnya.

Sedang asyik merunut channel2 satu persatu, ia memakukan layar pada satu channel. Rupanya program religius. Tampak ada pembawa acara dan pembicara. Oh, rupanya pembicara itu seorang ustadz. Terlihat ngustadz karena memakai peci dan baju taqwa. Lalu pria itu nyengir sendiri. Nyengir mengejek.

"Ada apa, bos?" tanya temannya.

"Kamu tahu ustadz itu? Dia adalah teman sekelas saya. Apa pula yang ia lakukan di sana? Dulu kami berteman. Yang aku kenal, dia dulu bengal, suka begadang dan senang bermaksiat di

Tuesday, November 20, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU : [11] "Bingkisan Doa dan Harapan Untuk Saudara Di Sana"

oleh Hasan Al-Jaizy

Bermula kucuran renyuh di hati itu mengalir dari sebuah video di YouTube. Sebenarnya bukan pertama kali iba menggentayangi hati. Sudah lama. Namun, video sederhana itu memperlihatkan seorang anak kecil belum mencapai usia baligh berjalan di sebuah jalan. Rupanya ada beberapa tentara Yahudi terlaknat dari negara penjajah, yaitu negara Israel, menjaga jalan. Mereka pun memeriksa anak itu luar dalam. Dengan kasar. Anak itu membawa tas, sepertinya hendak pergi ke sekolah. Tasnya dikobok-kobok. Pemandangan itu menjadi tradisi di sana.

Yang membuat fikirku hingga kini adalah judul video itu. Berbahasa Arab. Maknanya: "Bayangkan jika dia adalah adik kecilmu".

Bayangkan jika anak kecil yang digorok lehernya hingga putus di Suriah itu adalah adik kecilmu, atau anakmu.
Bayangkan jika mulut Bakkour yang dipreteli hingga hancur dan hilang, hingga yang terlihat hanya darah dan daging dari bawah hidung menuju leher, hingga gigi pun sudah hilang, adalah

Kelak Kau akan Ditinggalkan Teman

oleh Hasan Al-Jaizy

Friends come and pass. Times come and pass. Wind comes and passes. Kelak kau akan ditinggalkan teman atau kau meninggalkan teman. Padahal kau belum tentu mau seperti itu.

Kau sudah tinggalkan teman masa kecilmu di kampung. Kau pun dapati teman baru di kota. Lalu kau dapati teman hidup tuk berpasangan dengannya berdua. Tak lama berselang, lahirlah anak-anak yang kelak akan menemanimu di usia senja. Kemudian yang terakhir, kau akan meninggalkan yang menemanimu. Bisa jadi tanpa ucapan salam, bisa jadi dengan perpisahan. Tiada menahu.

Sekarang boleh jadi hidupmu terasa hingar meramai. Teman di mana-mana. Namun

Saturday, November 17, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU: [10] "Kado Hati Untuk Teman"

oleh Hasan Al-Jaizy

Saya punya seorang teman. Ia teman lama. Ia teman yang saya kenal baik sejak masa sekolah dahulu. Ia teman yang temani saya dahulu di momen susah dan senang. Ia teman yang telah berikan saya banyak kebaikan dan pelajaran.

Melaluinya, Allah membantu kebutuhan saya untuk membeli netbook ini. Netbook yang dengannya saya mendapatkan banyak kebaikan mengalir dan mengalirkan banyak kebaikan. Netbook yang Allah takdirkan sebagai alat membuka banyak tabir-tabir dan membentangkan banyak jalur-jalur.

Teman saya yang satu ini adalah yang terbaik dalam seumur hingga kini. Sudah lama kami tak bertemu. Namun, kenangan dan kebaikannya terasa. Bahkan kiraan pandangan saya, hingga masa tua, saya akan mengingat jasanya. Siapapun manusia yang mendapat manfaat dari apapun yang saya tulis [jika memang itu bermanfaat], melainkan teman saya ini berperan di baliknya. Karena melaluinya lah Allah bentangkan jalan-jalan kebaikan. Yang dulunya saya hanya

Friday, November 9, 2012

SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN : [7] "Topeng!"


oleh Hasan Al-Jaizy

Di episode 6 kemarin, saya telah mengupas para Iqballers. Mereka adalah makhluk-makhluk pondok yang saya kenal bernama Iqbal. Iqbal yang terdekat dengan saya bernama panjang Iqbal Mu'ammar Rosyad. Teman sejak 1999 dan sampai kapan entah. Hanya untuk sekarang, jarak yang terlalu jauh, memisahkan kedekatan kita.

Iqbal yang satu ini merupakan salah satu teman pertama yang saya kenal di masa pendaftara calon santri baru. Dulu, ia pualing heboh sendiri ketika saya, Adnan (santri lama) dan Fairuz (santri lama) memakai kaos merah yang sama, bertuliskan Brigade Life Skill. Ia tak henti mempertanyakan kenapa kok bisa sama.

Darinya juga, saya belajar menggunakan satu kosakata baru yang belum pernah saya tahu sebelumnya di Jakarta. Kosakata itu berbunyi "THOK". Biasanya digunakan wong Jowo untuk mengungkapkan kecukupan, seperti "Sijhi Thok", maksudnya Satu Saja. Bisa juga disingkat Sithok.

Dulu, tahun 1999, ada seorang remaja 'keren' duduk di bangku SMA, tepatnya kelas 3, bernama Marthena Taufan Hafian. Pinter, cakep dan 'tidak-alim'. Dikenal pinter benar-benar. Dikenal cakep tidak benar. Paling benar: tidak alim. Nah, remaja keren ini punya panggilan 'Topeng', ple-setan dari Taufan yang merupakan nama aslinya. Asalnya dari Cirebon. Topeng yang satu ini juga jago main bola. Merupakan pendekar team sepakbola pondok bernama Khoibar Soldiers bersama legenda pondok lainnya bernama Mu'min Aziz.

Ketika Iqbal Mu'ammar masih di kelas 1 SMP, ia dekat sekali dengan Topeng. Karena kedekatan itulah, keduanya identical. Setelah si Topeng lulus pondok, julukan 'Topeng' diwariskan ke Iqbal. Dan untuk 2000 kemari, Iqbal Mu'ammar dikenal dengan sebuat 'Iqbal Topeng'. Begitulah

Saturday, November 3, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU : [1] Gula Dikerubuti Semut

oleh Hasan Al-Jaizy

Suatu hari, Al-Arify mengisi pengajian kecil-kecilan dan santai. Ia duduk-duduk di sekitar orang, yang mereka semua adalah kaum awam dan berkemampuan ilmu rendah. Di majelis tersebut, tiada yang menonjol di antara hadirin kecuali seorang kakek tua. Dia disegani bukan karena apa, melainkan usia. 

Al-Arify dalam sebuah kebetulan, menyampaikan satu fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah-. Selesai kutipan, kakek itu berkata dengan irama bangga dan binar mata, "Kau tahu? Syaikh bin Baz adalah teman saya ketika belajar di masjid. Di kajiannya Syaikh Muhammad bin Ibrahim, sekitar 40 tahun lalu!"

Cerita di atas singkat sekali. Dan bisa berlalu dengan singkat. Namun saya juga teringat pada nama-nama besar yang juga saya kagumi. Mereka bernama besar, berpangkat tinggi dan bergelimang sukses tentu bukan sebuah kebetulan semua terjadi. Karena jika ada air bergelombang, pasti ada penyebabnya, sekecil apapun ia. Bahkan gunung pun

Thursday, November 1, 2012

SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN : [6] "Iqballers"

oleh Hasan Al-Jaizy

Mulai episode ini, saya insya Allah akan membahas teman-teman yang paling TERAWAL saya kenal di pondok. Yaitu ketika masih di masa pendaftaran calon santri baru. Di antara mereka adalah Iqbal Mu'ammar Rosyad, seorang anak kecil asal Madiun. Dia adalah salah satu teman pondok pertama dan terakhir yang terdekat dengan saya. Pertama, kenal saat masa pendaftaran. Terakhir, beberapa tahun kemarin, sebelum dia hijrah ke Solo.

Sebelum lanjut membahas teman saya ini, saya hendak sampaikan para Iqballers pondok. Mereka adalah makhluk-makhluk bernama Iqbal yang saya kenal selama mondok. Berikut daftarnya:

Wednesday, September 12, 2012

Praktek Jarh Tanpa Ta'dil di Kalangan Pelajar

oleh Hasan Al-Jaizy

Ada seorang bapak yang baru mengenal yang namanya 'Islam' karena sebelumnya berkehidupan penuh lalai dan tidak peduli terhadap agama. Lalu ia menemukan di Internet komunitas agamis yang sehari-hari selalu menjadikan wall orang belepotan akan ilmu dan kalimat bermanfaat. Di antara para penebar ilmu, ia cenderung menyukai si X; mungkin karena ada warna beda atau sebab lainnya.

Syukurnya, bapak ini benar-benar mengambil banyak faedah dari X. Dan tak sedikit tanda tanya dalam pikirannya telah dienyahkan oleh si X ini. Nah, suatu ketika si bapak ingin mengetahui banyak tentang X, karena penasaran. Mau bertanya langsung pun rasanya kurang pas. Ia berfikir, 'Lebih baik saya tanya ke orang2 saja.'

Ia pun bertanya pada seseorang ber-ini-sial Y: 'Akh, antum kenal X?'

Menertawai Lampau


oleh Hasan Al-Jaizy

Selepas lulus pengabdian setahun, saya berkumpul dengan teman-teman pondok di Solotigo. Kita bercengkrama berhari-hari sembari mengurus rapot dakwah, ijasah dan segala-gala terkait akademi. Suatu momen di suatu hari, saya melihat sahabat saya tersenyum sendiri, tak ada angin dan tak ada hujan.

"Ente kenapa senyum2 ndiri?" tanya saya.

Dia pun menjawab, "Ane ngetawain kebodohan tingkah ane di masa lalu. Kalo kita bayangin, banyak kejadian dan tingkah yang konyol di masa lalu."

Momen itu begitu singkat, tapi saya pribadi belajar darinya. Benar juga. Banyak hal yang membuat bibir kita tersenyum tanpa sebab yang bisa disentuh oleh panca indera orang lain. Terutama tentang kekonyolan masa remaja. Mungkin hal ini tidak berlaku bagi individu yang menghabiskan masa remajanya terkurung dalam kesendirian dan kesepian.

Menertawai atau Sekedar Tersenyum?

Bahasa bibir memang boleh suratkan senyum, namun hati bisa jadi siratkan tawa. Cukuplah bibir tersenyum; karena jika tertawa sendiri tiba-tiba, maka itu adalah bentuk kekonyolan terbaru. 

Yeah, masa-masa itu menjadi kenangan untuk sekarang, dan masa sekarang akan menjadi kenangan untuk keesokan. Lalu, bagaimana jika segala perkara dan peristiwa secara detail 'dikenang' di Hari Perhitungan Amal? Apakah kita tersenyum senang, atau justru kita akan terguncang sedih disertai badai ketakutan???

Saturday, September 8, 2012

Rihlah Ke Kebun Raya Bogor


oleh Hasan Al-Jaizy

Selagi luang, tadi sempatkan diri pergi ke luar kota. Ke Bogor bertujuan Kebun Raya Bogor sendirian. Terakhir ke sana tahun 2002/03 bersama beberapa teman pondok saat liburan, Ali, Aziz, Dover, Ibenk. Sayang kali ini sendirian.

Pengunjung untuk hari ini sedikit sekali [selain karena Hari Jum'at, saya juga baru masuk jam 3 sore alias kesorean]. Tapi, meskipun sendirian, saya merasa kesepian. Mau ngobrol entah sama siapa. Mau bercanda juga sepertinya tidak ada manusia yang bersedia. Di sana memang banyak juga pohon-pohon beringin dengan tali-tali dan akar-akaranya yang kurang bagus kalau dijadikan tempat bengong. Tapi, sayang sekali, tidak ada penampakan.

Di beberapa situs, ada tempat sepi [namun masih dilewati orang] yang pas untuk dijadikan tempat memadu kasih atau mengasih madu satu sama lain. Syukur-syukur saya tidak memergoki pasangan-pasangan ilegal di sana. Kalaupun mereka kepergok, mereka juga akan ketakutan. Anehnya, saya juga kayaknya bakal ikut ketakutan. Ah, sudahlah....

Sempat tadi melihat ular berukuran sejari. Tidak berbisa namun menyerang. Ia awalnya kabur ketika merasakan hawa kedatangan saya. Meski tak sempat mengambil, cuma syukurlah sudah bisa melihat dia. Tadi, kedua pandangan mata kita saling beradu. Cuma, dia kemudian kabur ke atas pohon besar. Mungkin, dia sudah punya pasangan, sehingga mencueki saya. Atau, mungkin saja ia bukan betina, sehingga tidak tertarik dengan jenggot saya. Ah, biarlah...

Ada satu situs yang sebuburnya saya kurang berani [padahal tidak berani] untuk memasukinya; karena terlihat cukup liar dan bukan jalanan untuk manusia. Atau sudah lama tidak dijamah manusia. Kapan-kapan insya Allah kita akan ke sana kembali.

However, pergi sendiri dan pulang sendiri. Suatu saat insya Allah saya tidak pergi sendiri dan pulang sendiri. Ini bukan status kegalauan; hanya reportase rihlah saja. Jika dianggap status kegalauan, justru saya bisa balik bertanya: 'Anda sendiri sedang galau ya?'


Wednesday, August 29, 2012

Sebuah Cerita Nyata [Tentang Seorang Pelajar]

oleh Hasan Al-Jaizy


Pengen rasanya ngademin orang2 yang terputus tali harapan besarnya karena gagal diterima di Madinah, atau LIPIA. Karena bisa jadi mereka justru lebih ikhlas dan tulus belajar dibanding pelajar2 yang sudah diberi karunia belajar di sana.

Saya punya cerita, sekitar tahun 2007 diceritakan.

Saat itu saya sudah belajar reguler di kampus -alhamdulillah-. Lalu datanglah masa pendaftaran calon mahasiswa. Ada teman saya, sebut saja namanya IKS. Dia adalah teman angkatan saya di pondok yang kalem dan pintar. Asalnya dari Ciamis. Pada tengah 2007, dia mendaftar dan sehari-harinya menginap di kos teman yang sering saya inapi. Dia bercerita pada saya seperti ini kira2:


"Tahun kemarin [2006] sebenarnya ana sudah daftar ke jenjang Takmili. Sehari sebelum pergi ke Jakarta, ana masih di rumah [Pangandaran-Ciamis]. Di sore itu, ana mendengar banyak sekali dari kejauhan orang berteriak2. Makin dekat makin dekat. Lalu orang2 keluarga ana juga berteriak2 dan banyak orang berlarian. Intinya, saat itu juga kampung ana dilanda gempa+tsunami. Lalu ana langsung masuk ke dalam rumah. Hal yang paling ana ingat adalah IJASAH. Ana harus menyelamatkan itu dulu.

Alhamdulillah, ana berhasil mengambilnya cepat2. Lalu setelah itu, banjir besar...air dari suatu arah menyerang; seperti mau merenggut kita semua. Air mengejar kita semua. Sampai ijasah ana juga kena, tapi masih bisa dipegang. Setelah jauh berlari bersama famili, akhirnya kita sampai di sebuah jembatan yang aman dari kejaran air.

Dari jembatan itu, ana menyaksikan LANGSUNG orang-orang terbawa air yang beraliran keras, sebagian mereka teriak, sebagian minta tolong, sebagian hanyut langsung. Saat semuanya selesai, ana kembali ke rumah.....

"Ana dapatkan rumah dalam kondisi hancur. Tapi, ana tetap tidak bisa ngubah keputusan besok harus ke Jakarta karena jatuh tanggal pendaftaran LIPIA. Akhirnya, dengan membawa bekal yang minim banget, ana pergi ninggalin keluarga sementara untuk daftar dan tes masuk ke lipia.

Awalnya, ijasah ana dipertanyakan dan ditolak, karena sudah kucel dan [mungkin] agak lembab. Namun kemudian, ana ceritakan semua kejadian dan diterimalah semua berkas."

Hasan: Saya mengenal IKS ini adalah orang yang kalem, pemalu dan sangat rajin. Ia selalu belajar!

"Tapi, setelah tes [entah itu tes tulis atau tes lisan], ternyata nama ana tidak terdaftar di daftar orang2 yang lulus tes.....," kenang IKS

2007, IKS datang lagi mendaftar...

Nah, tahun 2007 itu, untuk kedua kalinya IKS datang ke Jakarta untuk mendaftar di lipia. Saat itulah dia menceritakan ke ana hal di atas. Dan malam-malam itu, saya melihat sendiri teman saya ini selaluuuu belajar dan tak henti membaca, sembari kadang2 terlihat menghafal sesuatu.

Kemudian, setelah tes, IKS pulang ke kampung dan menitipkan: 'Kalau pengumuman kelulusan sudah ada, kabari ana lewat SMS.'

Lalu, hari pengumuman tiba. Ana bersama teman mencari namanya di daftar, namun ternyata tidak ada. Berkali dipastikan....benar. Tidak ada....

Saya ingat, malam itu, IKS mengirim SMS ke saya: 'Ahlan. Gimana, ana keterima ga?'

Saat itu, saya ga bisa membalas apapun...ga bisa. Apapun kalimat yang akan saya balas, saya ga tega....biar teman lain yang memberitahunya..







Sunday, August 19, 2012

Kamu Adalah Sahabat Terdekatmu!

oleh Hasan Al-Jaizy

Seperti juga kata mereka: "You are what you eat! You are what you do!" yaitu segala yang kau makan atau segala yang kau perbuat mencerminkan kamu banget. Karena itulah, ada alasannya mengapa hewan bertaring dan buas atau semacamnya dilarang untuk dimakan, karena bisa jadi...bisa jadi itu akan berpengaruh pada tingkah pemakan. Juga, kebiasaan/adat akan membentuk karakter. Sebagaimana adat sebagian kita menggunakan jam karet, maka...jangan salahkan gaji dipotong karena terlambat datang.

Nabi bersabda:

الرجل على دين خليله، فلينظر أحدكم من يخالل

"[Kualitas agama] seseorang itu

Tuesday, August 7, 2012

Cerminan Ikhwan Sempurna

oleh Hasan Al-Jaizy

Cerminan 'ikhwan' sempurna:

Ikhwan + Haroky + Materialis + Senang Bermajelis dan Bercanda dengan Akhwat Harokiyyah

...sempurna 'nggaTELnya'

Sehari tidak indah tanpa bercanda dengan akhwat atau ikhwit, entah via sms, call, online Inet atau langsung di majelis. Pokoknya ada waktu kosong ==> kudu tersaji dan terjadi.

Ikhwatnya juga podo nggatele...

Come on...stop that thing, my friend. Mungkin hanya nge-joke satu kalimat itu masih wajar. Tapi kalau dijadikan habit?


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/427680050606719

Wednesday, August 1, 2012

Beberapa Point

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point untuk siapapun:

[1] Pilihan sebagai 'Close Friend' atau 'Teman Dekat' di Facebook ini membuat Anda akan mendapat notifikasi setiap teman dekat Anda itu meng-update sesuatu. Dan dia tidak tahu akan hal ini. Sementara Anda selalu tahu semua update-an statusnya.

[2] Salah satu keberkahan tanah Indonesia adalah tumbuhan bisa hadir di atas pasir, bebatuan bahkan tembok sekalipun. Atau Anda cukup mengumpulkan segumpal debu di kamar, tunggu beberapa hari ada kemungkinan 'penampakan' terjadi.

[3] Dulu, saat kami nyantren kelas 3 SMA [Aliyah/I'dad Mu'alimiin], kamar kami di lantai 3 asrama. Ada debu terkumpul di kolong ranjang teman saya sebelah pojok dan tidak dihiraukan siapapun karena tidak mudah dijangkau dan terlihat. Dan suatu hari, kami kaget karena tiba-tiba ada 'pohon' tumbuh di kumpulan debu tersebut. Kata 'pohon' tadi sekedar hiperbotol ya, gan. Maksudnya ya: tumbuhan [bukan rumput kecil].

[4] Sekarang apa hubungannya teman dekat dengan tumbuhan? Ya, ada, gan. Intinya adalah 'ketika kamu kesepian tak berteman, jadikan tumbuhan sebagai teman atau cerminan'. Kok bisa?


 KOK BISA???

--> Bisa, karena dengan melihat tumbuhan bermacam; terlebih dari genteng memandangnya, kamu memandang kemegahan, kekuasaan dan keragaman kreasi Rabb yang tak tertandingi.

--> Bisa, karena dengan melihat satu daun saja, kamu bisa mengingat hidup dan matimu. Coba perhatikan garis tengah daun: "Awal garis berasal dari garis batang. Garis batang itu bagaikan tali rahim ibumu, dan awal garis itu adalah masa bayi-mu. Lalu garis berakhir di keruncingan seperti tamatnya riwayatmu di dunia."

--> Bisa, karena dengan mengamati tumbuhan, kamu sadar betapa kecilnya kamu. Dan betapa sombongnya kamu terkadang. Ingatlah ketika kamu menginjak-injak rumput; karena kecil dan remehnya. Nah, sekarang lihatlah pepohonan kokoh dan besar; bayangkan jika mereka menginjak-injakmu karena kecil dan kerdilnya kamu.

--> Bisa, karena tumbuhan bisa kau temukan hampir di mana-mana. Mereka bagaikan buku yang memberi ilham pada orang-orang berakal dan berfikir. Pertanyaannya: Apakah kamu termasuk orang-orang yang 'berfikir'?


Pertanyaan lainnya:

Teman2 di FB misalnya, bagaikan tumbuhan/pepohonan. 

Satu teman, lihat apakah ia rimbun atau kering. Jika ia rimbun, apakah kamu mengambil faedah dan ilham melaluinya? Jika ia kerontang, apakah kamu pernah merawat atau mengairinya?


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/425741187467272

Thursday, June 7, 2012

Semakin Kemari

oleh Hasan Al-Jaizy

Semakin Kemari I

Semakin kemari, semakin banyak hari telah terlewati dan semakin menyempit sisa umur, seharusnya kita semakin sadari bahwa:

--> Bukan sekedar tuturan kisah pengalaman masa lalu yang ajaib; melainkan bagaimana kita belajar dari semua itu.
--> Bukan sekedar klaim berapa banyak buku atau maklumat yang pernah kita lahap; melainkan bagaimana kita belajar mengamalkan dan kembangkan hingga manfaatnya terendus oleh selain sendiri.
--> Bukan sekedar riwayat hidup dan kebanggaan belaka; melainkan bagaimana orang lain juga bisa belajar dari itu semua dan menghirup aroma manfaat.


Semakin Kemari II

Semakin kemari, semakin bertambah usia dan pengalaman, selayaknya kita juga berlapang dada. Dada yang lapang adalah seperti lapangan; luas merata. Pemandangan dan cakrawala begitu luas; sehingga kita tidak hanya menusuk sebuah sudut tanpa melihat sudut lain. 

Di antara dada-dada anak muda, tentu banyak yang selapang lapangan futsal. Ada pula yang seluas lapangan sepakbola. Namun ketika ia belajar, merasakan, mengalami dan terilhami bahwa sungguh jauhnya jarak bumi dan langit, jua luasnya bentangan muka bumi dan panorama langit, semoga saja lapangnya seluas lapangan golf.


Semakin Kemari III

Semakin kemari, semakin mengerti bahwa di segala persamaan tentu ada segi perbedaan. Semakin kemari, semakin sudilah berkata pada yang berbeda, "Ayo, kemari!"

Tidak lagi seperti dulu, ketika kita lihat sedikit berbeda, lantas berkata, "Jangan kemari! Pergilah sana!" karena sempitnya dada kala itu.

Maka, rangkullah selagi bermekar di hatimu bunga-bunga rahmah.
Jua, berilah erti pada mereka selagi meranum di antara kalian buah-buah ukhuwwah.
Jika menyulam ukhuwah begitu sulit dengan cara merapatkan barisan dan sejajarkan mata kaki kala shalat berjamaah, maka...
setidaknya rajutlah senyum manis; satu senyum bisa lebih berarti dari banyak ilmu yang kau tawar pada mereka.


Dan jika tiada sempat tiada daya tiada mampu melukis manis senyum di wajah, setidaknya...

kau punya bait yang bisa kau doakan dengannya untuk mereka dalam kesepian dan keheningan. Meski tak mereka tahu...tapi kau tahu Dia Maha Tahu.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/400390490002342

Thursday, May 10, 2012

DARI HATI KE HATI: [7] Memaafkan itu Baik

oleh Hasan Al-Jaizy


[Memaafkan itu Baik]

Memaafkan saudara muslim yang salah, entah sengaja atau tidaknya, adalah bentuk kebaikan dan akhlak yang terpuji. Jika memaafkan itu baik, atau lebih baik, maka mengapa enggan memaafkan? Sedangkan Allah Ta'ala adalah Maha Pemaaf dan menerima taubat hambanya. Allah Azza Wa Jalla juga menghapus dosa-dosa orang bertaubat, sebesar apapun ia terbuat, sehina apapun ia berbuat, selama taubatnya adalah sebenar-benar taubat.



Semoga teks-teks ini meluluhkan hati yang keras; yang enggan memaafkan saudaranya atau yang enggan berupaya mencairkan kebekuan hati:

وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

"dan pemaafan kamu itu lebih dekat kepada takwa" [Q.S. Al-Baqarah: 237]

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ

"dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?" [Q.S. An-Nuur: 22]

فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ

"maka Barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah" [Q.S. Asy-Syuura: 40]



Monday, May 7, 2012

DARI HATI KE HATI : [6] Anak Seribu Pulau

oleh Hasan Al-Jaizy


[Anak Seribu Pulau]

Ingat program TV era 90-an bernama 'Anak Seribu Pulau' yang ditayangkan tiap Ahad pagi? Dahulu acara tersebut adalah yang paling saya suka. Sedari saya masih ingusan dulu, punya cita-cita bertemu anak-anak nusantara dari beragam suku bersatu dalam nama negeri ini. Jua tak luput lekatan hati pada kerinduan akan alam yang indah. 

Ternyata suara hati kecil saya ter-istijabah oleh Allah, karena usia remaja saya melebur di pesantren; di mana ada ratusan anak-anak seribu pulau tertemu, tersapa, terkawan, terangkul bersama. Alangkah indahnya itu semua.

Sebelum lulus SMA, pernah saya berdoa agar di kemudian hari saya bisa merangkul orang-orang yang hidup di pedalaman, apapun pulaunya. Segala puji bagi Allah, lagi-lagi Allah menjawab suara batin dengan mengirimku ke pedalaman Pontianak. Kembali bertemu banyak anak-anak berpulau-pulau.

Indonesia adalah negara yang secara dramatis indah, secara dramatis penuh dilema. Semoga kesempatan untuk merangkul anak-anak seribu pulau masih terbuka; selagi masih bermimpi hari-hariku tuk jua merangkul mahasiswa.

Anak Seribu Pulau...Anak Mahasiswa
tetaplah kalian menjadi Mahasiswa Pembangun Seribu Pulau


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/382875715087153

Saturday, February 11, 2012

Tampakkan Apa Adanya Saja

oleh Hasan Al-Jaizy

Di antara orang-orang berkacamata, ada yang memang mata membutuhkannya, ada pula yang sekedar gaya.

Di antara yang memang mata membutuhkannya, ada yang disebabkan penyakit lahiran, ada pula karena ingin lancar membaca dan melihat.

Di antara yang sekedar gaya, ada yang disebabkan ingin tampak elegan atau seperti anak baik atau pintar atau ingin dikira banyak membaca dan tujuan-tujuan rendahan lainnya.

Intinya: Jangan sifati diri sendiri depan orang lain melebihi kadar sebenar.



Di antara orang-orang yang ngampus, ada yang memang ingin mencari ilmu, ada pula yang sekedar mengaku ingin mencari ilmu.

Di antara yang memang ingin mencari ilmu, ada yang disebabkan cinta akan pengetahuan umumnya, ada pula karena ingin menuntaskan cita-cita di bidang tertentu.

Di antara yang sekedar mengaku ingin cari ilmu, ada yang disebabkan terbiasa main-main dari zaman sekolah atau terbiasa terpaksa mengunyah bangku pendidikan atau karena nama kampus yang besar.

Intinya: Jangan mengklaim diri depan orang lain menyelisihi fakta sebenar.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/327786007262791