Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Wednesday, July 17, 2013

Tertipu Oleh Diri Sendiri



Sebelum setan menipu daya Adam dan Hawa, dia terlebih dahulu sudah tertipu daya oleh dirinya sendiri. Dia mendapat kemalangan. Demikian juga anak cucunya, pengikut-pengikutnya dan siapa saja yang menaatinya dari kalangan jin maupun manusia.

Bentuk tipu daya setan terhadap dirinya sendiri adalah, bahwasanya tatkala Allah memerintahkannya bersujud kepada Adam alaihissalam, maka sebenarnya letak kebahagiaan, kemuliaan dan keselamatannya adalah dalam menaati dan menuruti perintah Allah itu. Namun jiwanya yang bodoh dan aniaya itu membisikkan bahwa jika ia sampai bersujud kepada Adam, maka itu berarti melecehkan dan merendahkan dirinya. Sebab, hal itu berarti ia tunduk dan sujud kepada makhluk yang tercipta dari tanah, padahal dirinya tercipta dari api. Api itu –menurutnya- lebih mulia ketimbang tanah. Maka, yang tercipta dari api itu lebih baik daripada yang tercipta dari tanah. Dengan demikian, ketertundukan makhluk yang lebih utama terhadap makhluk yang lebih rendah itu berarti pelecehan terhadap dirinya.

Tatkala kebodohan ini menghinggapi hatinya, ditambah lagi munculnya rasa dengki terhadap Adam lantaran ia tahu bahwa Allah telah mengistimewakan Adam dengan berbagai kemuliaan –yaitu, Dia menciptakannya dengan tangan-Nya, menipu-Nya dengan ruh-Nya, menyuruh malaikat agar bersujud kepadanya, mengajarkan segala macam nama kepadanya yang tidak Dia ajarkan kepada malaikat sekalipun, serta menempatkannya di surga- maka kedengkian dari musuh Allah itu semakin mengklimaks. Ia memandang Adam sebagai makhluk yang tercipta dari tanah kering seperti tembikar, sehingga ia pun tak habis pikir seraya berkata, “Apa mulianya makhluk ini? Sekiranya ia dikuasakan atas diriku, maka pasti akan aku durhakai ia. Dan jika aku dikuasakan atas dirinya, pasti akan aku hancurkan ia!”

Tuesday, July 16, 2013

Tidak Memprotes Hikmah Ilahi

[Risalah Ibnul Jauzy: “Tidak Memprotes Hikmah Ilahi”]

MASALAH ini telah dibahas berkali-kali, namun mengulanginya secara permanen sangat penting untuk mengingatkan hati.

Seorang mukmin wajib ketahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Pemilik Yang Mahabijaksana yang tak melakukan kesia-siaan, dan pengetahuan ini melarangnya memprotes takdir-Nya.

Sejumlah makhluk telah memprotes Allah dan hikmah-Nya. Itu adalah tindakan yang menjadikan seseorang kafir. Makhluk pertama yang memprotes hikmah Allah adalah Iblis dengan mengatakan, “Aku lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan aku dari api sedang ia Engkau ciptakan dari tanah.” [Q.S. Al-A’raf: 12], yakni tindakan-Mu mengunggulkan tanah atas api adalah tindakan yang tidak sesuai dengan hikmah!!!

Monday, July 15, 2013

Rumah Bata dan Rumah Kaca

oleh Hasan Al-Jaizy

[Risalah Jaiziyyah: “Rumah Bata dan Rumah Kaca”]

Sepertinya rumahmu adalah rumah bata. Yang kau saksikan hanyalah kekerasan dzatnya. Jika kau memukulnya berkali-kali, semakin tahumu akan kekerasannya. Melunakkannya adalah igauan tak bermakna. Hendakkah kau akan mengganti kayu daripada bata? Orang-orang akan mencela. ‘Apa kau tidak bersyukur?’ dan ‘Apa kau tak suka kokohnya rumah semula?’ tubi mereka.

Sepertinya kau perlu juga membangun rumah kaca. Kaca, tidak sembarang kaca. Melainkan cermin ia adanya. Agar terlihat dirimu benar-benar sebagai penghuninya. Di mana-mana, terlihat ragamu. Kau tahu rapih atau tidaknya kau berbaju. Kau tahu di mana letak kekurangan agar bisa tampil kemudian tanpa ragu. Efek rumah kaca. Bata takkan menjawab engkau seperti apa. Namun, cermin selalu menjawab sejujur-jujurnya. Kecuali...

Jika engkau memecahkan kaca-kaca. Meskipun kau menangis darah sembari menyusun tiap kepingnya, takkan pernah ia kembali mulus seperti semula. Teledornya engkau berbuah penyesalan. Kaca takkan jujur menggambar siapa kamu kemudian. Seperti pula kau punya istri. Duhai engkau, yang berjasad bata, berhati baja dan berjiwa ksatria, kau tercipta kuat, gagah dan berani. Jika hati kekasihmu kau pecahkan sekali dengan sepecah-pecahnya pecahan, ia takkan kembali. Jika dahulu ia berbicara tulus dengan sayangnya, setelah hancurnya ia berbicara dengan air mata.

Sebaik-baikmu adalah sebaik-baikmu pada keluargamu. Dan Rasulullah adalah sebaik-baik manusia pada keluarganya.

Kau ibarat rumah bata. Dia ibarat rumah kaca. Jika segenggam bata kau lempar ke kaca, pecahlah kaca. Jika segenggam beling kau lempar ke bata, tanganmu terluka dan bata tak berubah adanya. Maka, rawatlah kaca-kaca dan jangan kiaskan kaca dengan bata. Bekerjasamalah keduanya. Bata akan tahu kekerasannya ketika ia bercermin pada kaca. Kaca akan tahu kelemahannya ketika ia dipertemukan dengan bata.  

Bata seringkali tak tahu diri. Ia berwujud kasar lalu berjalan di atas kaca. Kaca tergores. Rusak satu kali. Kemudian, dua kali. Kemudian, tiga kali. Dan seterusnya. Kaca pun seringkali lebih mengingat kekurangan bata dan seolah tiada ia berjasa.

Aku pernah diceritakan oleh seorang cermin perihal satu kalimat yang diucapkan oleh pasangannya, yaitu seorang bata yang ceroboh bicara. Dahulu, di awal mereka bersatu, diujilah mereka dengan kemiskinan. Lalu, si bata berkata pada si cermin, “Sepertinya aku miskin karena berpasangan denganmu.” Hancur hancurlah hati si cermin. Ia pun melayu. Permukaannya menjadi lembab seolah baru saja melewati malam berembun. Menangis. Bertahun-tahun ia mengingat kalimat itu. Dan selama itu pula, ia tak bisa memaafkannya.

Aku pernah diceritakan oleh seorang bata perihal satu kalimat yang dihikayatkan penyebab cermin-cermin banyak yang dipanggang di lembah Jahannam. Dahulu, si bata telah bekerja keras mencari kayu bakar agar kepulan asap dapur tetap terjaga. Lalu, hiduplah ia dengan pasangannya, seorang cermin, dengan bahagia. Si bata berlarut-larut dalam pelukan zaman berbuat baik pada si cermin dan memuliakannya. Namun, suatu kala, ketika si bata terjatuh, kebahagiaan pun surut seketika. Berganti kesengsaraan. Si cermin, yang terlanjur terbiasa dibahagiakan sebelumnya, tidak terima dengan keadaan. Ia meminta dibelikan ini dan itu untuk mempermulus permukaannya. Si bata menolak. Tak punya apa-apa ia. Itu alasannya. Bukan karena tiada cinta. Namun, si cermin berkata, “Kamu selalu begitu. Tak pernah kamu berbuat baik padaku.” Maka, marahlah si bata. Dan kalimat semacam itulah yang menambah kobaran dan jilatan api Jahannam semakin seram.

Andai bata dan kaca sama-sama tahu, ia adalah pakaian bagi ia, dan ia adalah pakaian bagi ia. Bata pelindung kaca kala terancam oleh serangan luar. Kaca pelindung bata kala ada yang mencari-cari kesalahan atau aibnya. Bata menjaga fisik kaca agar senantiasa halus. Kaca menjaga rahasia bata agar senantiasa berwibawa.

Di balik kekokohan sebuah rumah berbata, di dalamnya pasti ada cermin-cermin.

Dunia Sengaja Dikeruhkan


ORANG yang merenungkan hal-ihwal dunia pasti akan tahu bahwa ia diciptakan untuk dijauhi. Karena itu, orang yang ingin menikmatinya pasti akan menemukan kesusahan di balik setiap kesenangannya serta kekeruhan di balik setiap kejernihannya. Pendek kata, setiap bagian dunia yang diangkat pasti akan diturunkan.

Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- mencintai Aisyah –radhiyallahu anha-, lalu beliau diuji dengan ‘hadits ifk’ (tuduhan melakukan zina yang diarahkan kepada Aisyah oleh orang-orang munafik). Dan beliau mencintai Zainab, kemudian turunlah ayat:

فَلَمَّا قَضَىٰ زَيْدٌۭ مِّنْهَا وَطَرًۭا

“Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya)” [Q.S. Al-Ahzab: 37]

Seorang pecinta dunia yang mendapatkan apa yang dicintainya pasti sadar bahwa ia akan berpisah darinya. Oleh sebab itu, kehidupannya menjadi tidak nyaman, meski ketika itu kekasihnya masih ada di dekatnya. Keadaan ini telah diungkapkan seorang penyair dengan perkataannya berikut:

أتم الحزن عندي في سرور ... تيقن عنه صاحبه انتقالاً

“Kesedihan paling menyedihkan bagiku adalah kebahagiaan
Yang diyakini pemiliknya akan segera berubah”

Orang yang berakal pasti akan tahu bahwa tujuan penciptaan kekeruhan di dunia adalah menjauhkan manusia darinya. Karena itu, ia pun hanya memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokoknya dan menolak menyibukkan diri dengannya. Ia memilih memfokuskan konsentrasinya mengabdi kepada Allah Ta’ala. Adapun orang yang tidak melakukan tindakan seperti itu pasti akan menyesal pada saat semuanya sudah terlambat.

[Shaid Al-Khaathir, Ibnul Jauzy]

Sunday, July 14, 2013

Menata Kehidupan Dengan Akal

ORANG berakal mengatur kehidupannya di dunia dengan akalnya. Jika ia miskin, ia akan bersungguh-sungguh bekerja dan mencari uang agar ia tak terhina di mata makhluk. Lalu ia pun mengurangi jumlah pengeluarannya dan memuaskan diri dengan apa yang ada. Karena itu, ia pun hidup dalam keadaan terbebas dari budi orang lain dan terhormat di tengah masyarakat. Sedang jika ia kaya, ia wajib mengatur pengeluarannya, karena ia bisa saja jatuh miskin, lalu ia mesti menghinakan diri kepada orang lain. Salah satu bentuk bencana adalah boros dan melampaui batas dalam berbelanja karena ingin menghina musuk. Padahal, tindakannya ini sejatinya justru bisa membuat musuh menyihirnya.

Seseorang seyogyanya mengambil jalan tengah dalam segala situasi, serta menutupi sesuatu yang tak layak diceritakan kepada orang lain.

Suatu saat, seorang petugas yang memandikan jenazah menemukan uang yang banyak. Ia lantas membelanjakannya sesuka hati. Ketika cerita penemuan uang itu diketahui orang banyak, harta yang ada di tempatnya disita. Ia pun kembali menjadi tak punya apa-apa.

Tuesday, March 26, 2013

Hatimu Rentan, Mohonlah Kesembuhan

oleh Hasan Al-Jaizy



Hati yang empunya jahil (bodoh) tak terasuki ilmu yang sahih sangat riskan. Jangankan hati yang bodoh, bahkan jika seseorang yang berilmu tinggi pun berpotensi tercelakakan dengan penyakit maknawi yang menjalar di lubuk hati. Sesungguhnya tiap-tiap manusia mempunyai nasib, kadar, bagian, takaran dan ukuran dari ujian hati. Ketahuilah, setiap amalanmu, setan berupaya memberi andil di dalamnya.

Penting untuk tidak kau abaikan, bahwa jikalau setan tak mampu menipumu dengan kemaksiatan yang benderang, ia akan menipumu dalam ibadah yang cemerlang. Karena itu, takutlah dan semakin takutlah jika ternyata engkau adalah orang berilmu. Jika engkau mampu membaca Al-Qur'an seindah bacaan, atau memiliki kapasitas ilmu agama yang mengagumkan, atau menuai derma sedekah bergunung-gunung, atau bergerak ke medan perang, secara zahir itu semua adalah keutamaan dan karunia yang begitu besar untukmu.
 

Tersiksa Tangisan

oleh Hasan Al-Jaizy 


Atau hanyakah aku menyaksikannya di layar televisi? Yaitu air mata buaya yang berlinang menyamudera menyandera hati-hati pemirsa dalam keharuan dan iba. Atau hanyakah aku menyaksikan kekonyolan itu di konser-konser boyband atau band pop-punk? Yaitu air mata dunia yang berlinang dan empunya berteriak menyebut nama-nama yang jikalau pemiliknya tak segera bertaubat, siksaan akhirat adalah janjinya.

Begitu banyak manusia kini tersiksa dengan ketenangan, kedamaian dan pemberian. Zahirnya ia tenang. Batinnya berusaha menenang. Namun sejatinya ia adalah siksaan dan penungguan terhadap masa-masa kehancuran. Kekufuran adalah sebuah siksaan sebelum siksaan, sebuah ujian sebelum ujian dan sebuah adzab sebelum adzab.

Kesombongan Tak Tersadari

Kesombongan lebih senang menjangkit di manusia berpunya, entah dari segi materi atau maknawi. Kesombongan lebih suka bercumbu dengan hati orang kaya. Kesombongan juga senang mengipas hati-hati orang berilmu. Kesombongan terburuk terjadi pada seorang yang miskin harta. Yang lebih buruk jika terjadi pada yang miskin ilmu, namun melabeli diri sebagai seorang yang berilmu, atau seorang pencari ilmu.

Betapa sering aku dan kamu tertipu.

Sebelum aku meneruskan, ku harap engkau kelak tak berkata, "Tidak semuanya begitu! Jangan menggeneralisir!" Diamlah dan mari mengacalah.

Kesombongan yang tak tersadari sering terjadi pada lelaki yang berbentuk tubuh kekar. Ia akan memakai kaos ketat berlengan pendek. Ia ingin dikagumi dengan pemberian Allah atas 'kesempurnaan' tubuhnya. Sementara ia tak menyadari akan kecacatan hatinya. Ia akan memamerkan kelebihan ototnya, terutama di bagian lengan, atau di bagian dada.

Kesombongan yang tak tersadari sering terjadi pada wanita yang berwajah manis atau cantik. Ia akan mengukur-ukur seberapa manis wajahnya dan menimbang apakah ada temannya yang semanis dia. Jikalau ada, ia akan iri sejadi-jadinya. Padahal, jikalau ia mempercantik akhlak dan merias bunga-bunga kesalihan hati, ia akan segera sadar bahwa kelak keriput adalah serangan untuk masa tua. Padahal seringkali wajah manis menjadi kesulitan bahkan bencana bagi dirinya. Lalu, mengapa ia merasa takjub pada pemberian yang tak seberapa, jika dibanding akhlak mulia!?

Musafir Perjuangan

oleh Hasan Al-Jaizy


Berawal seseorang dari ketiadaan, lalu berakhir pula dengan ketiadaan. Berawal penciptaan seseorang dengan kesepian dan kesendirian, lalu berkhir pula dengan keduanya. Berawal terlahir manusia dengan keentahan dan ketidaktahuan, dan apakah engkau ingin mengakhiri dengan jawaban, "Aku tidak tahu!" !?

Yang merawatmu sejak sebelum hijrahmu dari perut ibu menuju perut bumi adalahAllah. Yang menjagamu di dalamnya. Setelah keluarnya pun kau tetap Dia jaga. Sepanjang suratan dan siratan sirah hayatmu, Dia lah yang mengaturnya. Rizki telah tertunaikan tanpa setitikpun terkurangi. Nasib telah ditakdirkan tanpa setitikpun kezaliman. 

Apakah kau mengingat-Nya? Bagiamana cerita hatimu kini akan-Nya?

Dia Dia...Dia-lah yang menciptakan kedua orang tuamu, yang menitipkan pada keduanya dirimu. Makhluk pertama yang peduli terhadapmu adalah ibumu. Kemudian, masih ibumu. Lalu, ibumu tak henti peduli. Setelahnya, muncullah nama bapakmu.

Wednesday, February 6, 2013

Galau Dulu...


oleh Hasan Al-Jaizy

Kau harus galau dulu sebelum sukses.
Kau harus menangis dulu sebelum tertawa.
Kau harus berpahit dulu sebelum bermanis.
Kau harus susah dulu sebelum senang.

Jika sukses, tawa, kemanisan dan kesenangan didapat secara percuma tanpa bayaran, maka semua itu cuma-cuma yang percuma...sehingga:

semua itu seolah tak berharga karena cuma-cuma. 

Manusia belajar dan dapat ilmu karena awalnya tidak tahu. Jika sudah tahu, buat apa upaya menggali ilmu?

Jika kau ingin mendapatkan segala senang begitu saja tanpa membayar, lebih baik tidur saja. Mimpi saja sana. Mimpi boleh manis, namun kala terjaga, semuanya terputus. Hilang. Yang kemudian kau sesal sendiri kenapa ia tidak abadi.

Maka, berpahitlah. Selama hidup berjalan, semua ada urutan. Jika semua berurutan, percayakan bahwa kesulitan bukanlah keabadian.

Tuesday, February 5, 2013

Mengenang Suyuthi Tuk Kedua Kali

oleh Hasan Al-Jaizy


Ini untuk orang-orang yang merasa dirinya sengsara. Kasihan sekali orang-orang semacam ini. Atau yang lebih kasihan adalah yang merasa paling sengsara, paling miskin dan paling menderita. Padahal ia hidup di negara aman. Ia tidak sedang dikejar hewan-hewan. Rumahnya tidak sembarangan digrebek Densus 88. Tetapi kenapa merasa paling besar ia punya kesengsaraan?

Padahl semua dari kita adalah orang kaya. Boleh kaya akan makna, tapi pastinya kaya akan fisik. Ada percakapan Haji Asnawi dan Suyuthi:

Haji Asnawi: "Ada apa, anakku?"

Suyuthi: "Pak Haji, hidup saya seolah paling sengsara. Saya kere sekali. Mau menikah dengan manusia, namun modal tidak ada. Mau beli laptop, namun uang tidak ada. Bayar kredit pun tak mampu. Mau beli baju pun tidak ada. Padahal saya pengen sekali membeli ketiganya: manusia, laptop dan baju. Tapi yang saya dapat malah gundukan puntung rokoknya Pak De Su'aid. Pak Haji, saya miskin sekali. Berikanlah solusi."

Haji Asnawi: "Baiklah, kamu bisa bahasa Arab, kan? Dan kamu suka baca kitab juga, kan? Lalu kamu mudah menghafal Al-Qur'an, Hadits dan matan-matan, kan?"

Suyuthi: "Yoi, Pak Haji."

Monday, February 4, 2013

Mengenang Suyuthi Barang Sekali


oleh Hasan Al-Jaizy

Suyuthi pulang ke kampung. Sorenya ia tiba di ambang pintu rumah. Terucap salam darinya; ibunya sedang terduduk di kursi...sendirian. Karena memang tidak punya apa-apa ia selain Sayuthi dan adiknya yang sedang mondok. Sayuthi pun adalah seorang ustadz di sebuah pondok.


Bermenit berlalu bercengkrama, Suyuthi mulai mengucurkan isi hatinya. 'Bu, aku mau berhenti ngajar di pondok.' Sang ibu kaget bukan kepalang, 'Kenapa mau berhenti, nak?'

'Gajiku terlampau sedikit, Bu. Padahal bertahun sudah ku mengabdi pada santri. Aku merasa miskin dan malu. Teman-teman lamaku sudah menikah dan berbangga; sementara aku di sini hanya berlumuran jengah dan papa.'

Ibu terdiam...

'Bukankah guru di manapun harus bergaji kecil? Tidakkah fikirmu akan pahala dan jasa mendidik anak manusia?' Ibu bertanya tiba-tiba.

Sunday, February 3, 2013

AIR MATA

oleh Hasan Al-Jaizy


Berzaman sudah tiada tangisku. Lalu fikirku kapan lagi bisa ku menangis.

Sempat berfikir kunjungi tempat-tempat yang pernah aku menangis di atasnya. Namun ku ingat air mataku telah mengering. Tak tertemu lagi. Takkan mampu dipungut.

Sempat berfikir meminjam mata-mata sayu milik mereka yang kukenal baik. Namun kuingat betapa rendahnya aku tuk menangis pun apa perlu meminjam mata.

Pernah berfikir mengumpulkan air-air mata penceramah dan khutabaa' di singgasana mereka. Namun mengapa kurasa mereka hanya penjual air mata yang dibeli manusia demi kehormatan dan pujian? Sementara aku tak membutuhkan air mata dagangan.

Lalu aku pun menjepit diriku sendiri di pintu kesengsaraan. Menahan perih lapar dan raungan haus. Mengoyak baju dan kulit. Yang ku dapatkan hanya ringisan dan sakit. Namun mataku tak hendak menyungai airnya.

Kusaksikan dan kubaca kisah-kisah cinta mengharu. Namun di sana kutemukan kepalsuan dan kedustaan dibuat-buat.

Kutemukan mushaf usang berkulit jaring laba-laba. Kubersihkan dan kutiup. Kubuka isinya. Al-Fatihah. Dan kutemukan hulu dan hilir sungai air mata di kalimat "Ihinash shiraathal mustaqiim"


Wednesday, January 30, 2013

Mengenal Rabb

oleh Hasan Al-Jaizy


Fawaid 0031: "Mengenal Rabb"

Mengenal Rabb adalah landasan pertama yang wajib diketahui oleh setiap menusia (tanpa kecuali).

Jika ditanyakan padamu, "Siapa Rabb-mu?"

Maka jawablah tanpa ragu: ”Rabbku adalah Allah yang telah menciptakanku, dan semesta ini dengan nikmat-nikmat dari-Nya. Dia adalah sesembahanku. Tidak ada sesembahan yang berhak untuk kusembah selain Dia. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

"Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam," [Q.S. Al-Fatihah: 2]

Monday, January 28, 2013

Jangan Banyak Tawa!


oleh Hasan Al-Jaizy

Fawaid 0028: "Jangan Banyak Tawa"

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa Sallam- bersabda:

لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ , فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

"Janganlah kalian banyak tertawa. Sesungguhnya banyak tertawa itu mematikan hati." [H.R. Ibnu Majah, no. 4191 dan 4193]

أَقِلَّ الضَّحِكَ ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

"Sedikitkanlah tawa. Sesungguhnya banyak tertawa itu mematikan hati." [Adabul Mufrad, no.246]

Al-Munawi mengatakan:

وهو كيفية يحصل منها انبساط في القلب مما يعجب الإنسان من السرور ويظهر ذلك في الوجه والإكثار منه مضر بالقلب منهي عنه شرعا وهو من فعل السفهاء والأراذل مورث للأمراض النفسانية 

"Dan (tertawa) itu adalah tata cara mendapatkan perluasan di hati dari apa yang dikagumi oleh manusia perihal kesenangan. Hal itu terpancar di wajah manusia. Dan memperbanyak tertawa berbahaya bagi hati. Ia terlarang secara syar'i. Itu adalah perbuatan sufahaa' [orang-orang bodoh] dan rendahan yang dapat mewariskan penyakit-penyakit kejiwaan." [Faidhul Qadiir Syarh Al-Jami' Ash-Shaghiir, Zainuddin Al-Munawi, 1/162]

At-Thiiby berkata:

Sunday, January 27, 2013

Pengangkatan Derajat Orang Alim

oleh Hasan Al-Jaizy


Fawaid 0025: "Pengangkatan Derajat Orang Alim"

Allah Ta'ala mengabarkan secara khusus tentang diangkatnya derajat orang berilmu dan beriman. Allah Ta'ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍۢ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌۭ

"Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." [Q.S. Al-Mujaadilah: 11]

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa Sallam- bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

"Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Al-Qur'an beberapa kaum dan Allah pun merendahkan beberapa kaum dengannya." [H.R. Muslim, no.817 dan Ahmad no.232]

Kerusakan Di Muka Bumi Adalah Kemaksiatan Terhadap-Nya

oleh Hasan Al-Jaizy


Fawaid 0024: "Kerusakan Di Muka Bumi Adalah Kemaksiatan Terhadap-Nya"

Allah Ta'ala berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ قَالُوٓا۟ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

"Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." [Q.S. Al-Baqarah: 11]

Abu Al-Aaliyah [w. 93 H] berkata tentang ayat di atas: "Yakni janganlah kau bermaksiat di muka bumi, karena orang yang bermaksiat kepada Allah di muka bumi atau menyeru kepanya, maka ia benar-benar telah membuat kerusakan di muka bumi Allah. Perbaikan bumi dan langit hanyalah dengan taat kepada Allah dan Rasul-Nya." [Tafsir Ibn Abi Hatim no. 121]

Jika banyak manusia yang hidup kota berharap lebih sehat hidupnya, mereka serukan slogan "Back To Nature". Namun, seorang mukmin yang benar-benar beriman, demi ishlah dan maslahat hayat, ia akan serukan "Back To Al-Kitab and Sunnah".

Allah Ta'ala telah mengabarkan pada kita tentang saudara-saudara Yusuf alaihissalam dalam firman-Nya:

Monday, January 14, 2013

REALLY! JANGAN BACA INI! [2]


oleh Hasan Al-Jaizy


I

'Anda pernah sekolah? Jika pernah, saya tanya: apakah kita harus berterima kasih pada guru yang mengajari kebaikan pada kita?'

Anda jawab, "Tentu saja harus!"

'Tetapi, bukankah mereka sudah dibayar? Sudah digaji, bukan? Untuk apa berterima kasih lagi?'

Anda jawab, "Karena bayaran itu untuk upah upaya dan tenaga. Sedangkan berterima kasih itu di lisan saja, tidak berbentuk materi."

'Baiklah...kalau begitu pernah ikut majelis ta'lim or sumting like dad?'

Anda jawab, "Tentu saja pernah. Rutin malah!"

'Anda membayar ustadznya?'

Anda jawab, "Tentu tidak. Kan sudah saya beri Combantrin...lho?"

'Berarti gratis?'

Anda jawab, "Tentu saja gratis."

'Kalau begitu, mana yang lebih layak diucapkan terima kasih padanya, guru bayaran atau guru relaan?'

II

'Oh ya, Anda pesbukan?'

Sunday, January 13, 2013

REALLY! JANGAN BACA INI! [1]

oleh Hasan Al-Jaizy

Kalau sampeyan punya waktu kosong dan bersedia 'capek' sedikit, namun ingin mendapat pahala insya Allah dengan upaya sedikit, tak sarani sampeyan ambil buku yang isinya bermanfaat, baik ukhrawi maupun duniawi, lalu ambil faedah atau kalimat bagus yang telah sampeyan garis bawahi atau terpesona akannya, lalu:

Ketik ulang dan jadikan status. Tentu niatkan sebelumnya sebagai amalan saleh yang ikhlas. Dan...selama itu bukan karya sampeyan, maka usahakan sebutkan sumbernya atau minimal, isyaratkan pada pembaca bahwa itu bukan karya sampeyan, melainkan...

...sampeyan 'hanya' menulis ulang demi faedah untuk manusia. 

Kalau sampeyan lebih punya kekuatan dan keilmuan, terlebih masih muda, tak sarani sampeyan LATIHAN membuat karya sendiri. Ga enak toh, jika dikatakan, 'Wah, masih muda...masih seger...masih banyak waktu kosong...ternyata, enggan berkarya...'

Karya itu ga mesti dalam bentuk tulisan, kok. Sampeyan membentuk majelis kecil-kecilan di masjid, merupakan karya. Mengadakan event bermanfaat meskipun sedikit, merupakan karya. Kalau begitu, masing-masing bergelut di bidang atau jenis berkarya yang ia sukai.

Tapi, saya katakan begini buat sampeyan:

Saturday, January 12, 2013

Cerita Pendek Kenangan Masa Itu

oleh Hasan Al-Jaizy


2005 dulu, ada seorang murid bernama Zubaidah. Ia dijuluki Benyet. Umurnya kisaran 14 kala itu. Mungkin kelahiran 1991. Ia adalah anak Dayak. Keluarganya penganut Kristen. Ia, bersama adiknya yang lugu namun nakal, masuk Islam. 

Keduanya tinggal bersama kami, di Pondok pelosok Parit Sembin, Kalbar. 

Zubaidah, suatu hari dalam masa haid, berkata kepada Bu Ina, pengasuh asrama putri, yang terbuat dari kayu dipenuhi anak-anak miskin dan yatim piatu, "Bu Ina, aku kangen membaca Al-Qur'an."

*******

Masih 2005, ada seorang murid putri bernama Hosna. Ia pelajar berusia 14 tahunan. Anak Madura. Bersekolah di pondok kami, namun tidak tinggal di asrama. Ia pulang balik tiap hari ke rumah. Letaknya beberapa kilo. Perlu lewati beberapa hutan karet. Yang jikalau saya bayangkan gadis-gadis kota ini bernasib seperti dia, mungkin celana-celana akan cepat basah.