Showing posts with label Belajar. Show all posts
Showing posts with label Belajar. Show all posts

Sunday, October 25, 2015

Jangan Bicara Politik Dulu Deh

oleh Hasan al-Jaizy


Di antara nasehat murabbi saya yaitu bapak saya sendiri: Jangan bicara politik umat dulu. Teruskan saja track ngaji kitab. Istiqamah saja dulu di situ. Biarkan orang-orang itu bicara, padahal mereka bisa saja ga ngerti gimana politik Indonesia.

Begitu.

Termasuk politik: hizb hizb yang ada sekarang.

Soal politik negeri dan kengeriannya, saya lebih percaya sama beliau, karena tergolong kabir jiddan sejak era 80an mengamati dan mengoleksi data. Wartawan jaman dulu beda dengan era kini. Dulu kejar satu berita saja bisa safar. Valid dan berharga. Lebih kenal. Hizb hizb yang exist sekarang bertalian sama politik.

Makanya saya diam ah tentang politik, selain ikut petuah bapak, ya karena saya jahil memang tentang itu.




What I Am Now Is Better Than What I Was

oleh Hasan al-Jaizy


Kadang saya iri sama rekan-rekan mahasiswa. Burden of life mereka masih berkutat di kampus, organisasi, tugas dan ujian. Rata-rata begitu. Kadang saya cemburu sambil menyesal akan masa kemahasiswaan saya sendiri dulu. Ada rasa mau kembali ke jaman itu lalu belajar lebih lagi. Sepertinya rata-rata sarjana ada pikiran begitu. Sepintar apapun.

Tiap fase selalu lahir sesalan. Sesal kenapa tidak dari dulu belajar lebih giat. Saya cemburu akan masa lalu atau mahasiswa yang belajar giat sampai malam demi gapai cita-cita. Dulu kalau begadang, dikerubuti buku. Sekarang kalau begadang sama buku, istri langsung cemburu. Keren kan?

Ternyata saya sadari, what I am now is better than what I was kala itu. Dan setiap kamu pun harus sadari, bahwa kamu versi kini adalah gift yang tiada di diri kamu masa lalu. Apa yang kamu punya kini, belum tentu kamu punya masa lalu. Apa yang terhilang telah berlalu. Apa yang berlalu, kenangan tak terhilang. Jika mau kita pikir, rasa syukur kita kadang hilang, padahal kenikmatan dari Allah jumlahnya tak terbilang.


Wednesday, July 17, 2013

Halo? Apakah Saya Ada? 3

oleh Hasan Al-Jaizy

Saya agak khawatir jika memerangi Syi'ah itu hanya karena trend. Yakni: ketika teman-teman dumay nya riuh mempermasalahkan Syi'ah, ikut-ikutan berkoor.

Mentalnya ada mirip dengan kasus maling di keramaian stasiun. Ketika ada yang teriak maling, serempak pada ikut-ikutan. Padahal tahu jelas kasusnya pun tidak. Syukur jika ada informan yang jujur. Namun, rata-rata pengunjung stasiun menang di teriak ramai-ramai dan mencelanya. Lalu memukul senafsu-nafsunya saat sudah ketemu 'maling'nya.

Mentalnya ada mirip juga dengan kebiasaan masyarakat yang ketika para jurnalis membentangkan berita hot, langsung para pemirsa pada angkat bicara. Semua mengutuk. Setelah berita hot habis, para pemirsa tenang kembali. Lupa semua itu. Nunggu hal lain yang akan menjadi masyhur atau trend.

Saya agak khawatir jika memerangi Syi'ah itu hanya karena ikut-ikutan, sehingga secara normal enggan menggali pengetahuan tentang Syi'ah. Menunggu informan. Atau hanya ingin meramaikan saja.

Friday, January 25, 2013

Membangun Perpustakaan

oleh Hasan Al-Jaizy


Anda tidak bisa membangun perpustakaan pribadi dalam satu hari atau bahkan satu tahun. Tetapi, dimulai sejak Anda muda; membeli kitab satu persatu. Tiap mendapat uang saku ataupun gaji, sisihkan sekian persen untuk kitab. Lalu abadikan namamu di dalamnya. Baca meskipun tidak seluruhnya. Garis bawahi dan berikan ta'liq, komentar, tanggapan, ralat dan semacamnya dengan pensil[atau apapun]. 

Nanti, ketika Anda sudah menua, berusia 50 atau lebih, ketika anak-anak Anda sudah besar, ketika Anda sudah menjadi pengayom para murid, ketika Anda sudah menjadi murabbi umat, perpustakaan Anda tersedia. Dan semua kitab adalah milik Anda. Di tiapnya tertera nama, tanggal beli/diberi, tanda tangan dan tentu saja: tiapnya memiliki sejarah hidup Anda meski tak tertulis. 

Bisa jadi sekarang Anda memiliki sebuah kitab yang sulit dibaca, entah karena bahasanya yang begitu tinggi, atau karena memang Anda belum memiliki kapasitas. Tapi, seperti nasehat Ust. Wahyuddin Bakhtiar di tahun 2002, ketika saya mengawali masa SMA, jangan pernah kau buang kitab itu. Simpan! Karena suatu saat, kau akan benar-benar mampu membaca dan memahaminya. Percayakan itu.

Monday, January 14, 2013

Kagum Pada Ulama


oleh Hasan Al-Jaizy

Kita akan terkagum pada ulama yang ahli dalam bidang Aqidah serta firaq [kelompok-kelompok] menyimpang, baik itu di zaman lalu maupun yang terkini. Mereka memiliki kekuatan dan hujjah dalam menegakkan kalimat thayyibah [Laa ilaaha illallaah] sehingga kemurnian aqidah islamiyyah tetap terjaga. Kita menelaah secara zahir kitab-kitab mereka, bertaburan dalil, hujjah dan bantahan di sana-sini. Semua itu dilakukan BUKAN karena kurang kerjaan atau semacamnya, tetapi demi tegaknya agama ini. Perhatikan dan fikirkan bagaimana mereka [para ulama] mampu menghabiskan waktu yang terberi untuk memeriksa satu persatu kelompok-kelompok sesat lalu mengerahkan segala upaya menghancurkan mereka dengan hujjah dan bayaan? Itu bukan hal mudah!

Kita juga akan terkagum pada ulama ahli tafsir, bagaimana mereka bisa tahu ayat-ayat yang ratusan hingga ribuan tersebut memiliki banyak arti dan faedah!? Bagaimana mereka bisa tahu satu [single] ayat saja bisa menuturkan di baliknya puluhan makna yang bermanfaat bagi hayat basyariyyah, entah untuk masa fana atau untuk masa baka!? Dan bagaimana mereka bisa menyempatkan diri menelaah kitab-kitab Tafsir sebanyak itu!? Sedangkan kita, membedah An-Naas pun belum kelar. Selama ini kita membacanya hanya zahir di lafadz. Jikalau mendalaminya, hanya zahir di pemahaman sederhana. Yang sebenarnya, tiada ayat kecuali besar maknanya, agung kadarnya, dan sempurna susunannya.

Kita tak bisa melarikan diri dari kekaguman terhadap ulama Hadits! Lihat juhd [upaya] dan ijtihad mereka dalam mencari periwayatan hadits. Lihat sirah mereka; perjalanan hidup atau perjalanan kaki dalam mencari ilmu. Lihat bagaimana cerminan kekuatan azam, hasrat, jiwa dan hafalan mereka. Itu semua mereka amalkan bukan karena mereka kurang kerjaan! Satu hadits saja, jika mereka berjasa dalam menyebarkannya, pahala terlipat-lipat hingga akhir zaman, selama hadits tersebut masih tergaung dan teramalkan! Lalu, bagaimana mereka mampu mengumpulkan hadits sebanyak itu, sedangkan meraih tiapnya tidak pada satu waktu, dan tidak dalam satu tempat, melainkan harus safar ke berbagai negeri!?

Sunday, January 13, 2013

REALLY! JANGAN BACA INI! [1]


oleh Hasan Al-Jaizy

Kalau sampeyan punya waktu kosong dan bersedia 'capek' sedikit, namun ingin mendapat pahala insya Allah dengan upaya sedikit, tak sarani sampeyan ambil buku yang isinya bermanfaat, baik ukhrawi maupun duniawi, lalu ambil faedah atau kalimat bagus yang telah sampeyan garis bawahi atau terpesona akannya, lalu:

Ketik ulang dan jadikan status. Tentu niatkan sebelumnya sebagai amalan saleh yang ikhlas. Dan...selama itu bukan karya sampeyan, maka usahakan sebutkan sumbernya atau minimal, isyaratkan pada pembaca bahwa itu bukan karya sampeyan, melainkan...

...sampeyan 'hanya' menulis ulang demi faedah untuk manusia. 

Kalau sampeyan lebih punya kekuatan dan keilmuan, terlebih masih muda, tak sarani sampeyan LATIHAN membuat karya sendiri. Ga enak toh, jika dikatakan, 'Wah, masih muda...masih seger...masih banyak waktu kosong...ternyata, enggan berkarya...'

Karya itu ga mesti dalam bentuk tulisan, kok. Sampeyan membentuk majelis kecil-kecilan di masjid, merupakan karya. Mengadakan event bermanfaat meskipun sedikit, merupakan karya. Kalau begitu, masing-masing bergelut di bidang atau jenis berkarya yang ia sukai.

Tapi, saya katakan begini buat sampeyan:

Thursday, January 10, 2013

Ushul dan Furuu'


oleh Hasan Al-Jaizy


Boleh saya jujur? Boleh! Harus malah! Daripada saya bohong, kan?

Sejujurnya, saya lebih menyukai diskusi suatu perkara atau beberapanya, dengan orang-orang yang berlatar belakang berbeda. Itu lebih enak SELAMA orang tersebut berlapang dada. Paling minimal, ia tidak memaksa kita harus setuju dengan argumennya. Tapi, argumen syaadz dan gharib [aneh dan beda sendiri] juga diizinkan untuk dileweki. Jangan itu, argumen masyhuur pun tidak apa-apa untuk dijadikan sasaran sarkasme [sindiran].

Itu yang kadang kami lakukan di kelas. Diskusi sambil bercanda, ngenyek, ngece, nyindir, lewek-lewekan, mempertanyakan manhaj golongan masing-masing tetapi tidak memutuskan tali pertemanan dan persahabatan. Kalau masih mahasiswa saja sudah main putus-putusan, nanti saat sudah jadi orang mau main apaan? Hehe...

Kalau berdiskusi dengan 'lawan' bicara yang berlapang dada dan tidak keberatan mendengar pendapat lawan, rasanya enak. Meskipun sebenarnya kita saling bertentangan dalam topik bahasan. Tetapi, kalau sudah tidak suka dan tidak mau diajak duduk berbincang, ya tidak akan pernah enak.

Tuesday, January 8, 2013

Pengajian N.A.T.O. [No Amplop Thanks Only]


oleh Hasan Al-Jaizy


Bukan kata 'mungkin' yang saya sematkan, tetapi kata 'pasti'. Ya, itu untuk kalimat ini:

"Pasti ada di antara manusia yang berfikiran bahwa ustadz-ustadz pengajian itu tidak usah diberi apapun, melainkan kalimat: Syukran, Jazaakallahu khaira dan Barakallahu fiik."

Karena ternyata memang itu terwujud. Beberapa ikhwah yang -alhamdulillah- berilmu tinggi, saking mendetailnya dalam menyelami perkara halal dan haram, akhirnya mengharamkan gaji guru agama, ustadz pengajian, hingga menafikan keberadaan yayasan pendidikan agama. Alasannya banyak dan dalilnya bertabur. Tapi, wallahu a'lam, memang bukan perkara mudah untuk memampukan diri menggabungkan antara teks dan konteks.

Seorang ustadz, ataupun guru agama yang sedang magang menjadi Habib, adalah manusia, yang juga membutuhkan sandang, pangan dan papan. Ia juga mempunyai tanggungan. Istri dan anak. Mengkonsentrasikan diri pada ilmu agama dan memusatkan ihtimam [perhatian] padanya bukanlah perkara mudah dan simple. Lebih-lebih jika ia merangkap, sebagai explorer ilmu agama dan ilmu umum. Perlu kecerdasan, tenaga dan motivasi yang kuat.

Jika meninjau secara nalar, justru guru agama itu seharusnya orang yang paling berhak dibantu jika kesulitan secara finansial. Tetapi, di wajah lain, sungguh hinanya guru agama/dai mengandalkan orang lain dalam menghidupi diri dan keluarganya. Bukan mentang-mentang berjasa dan berilmu, lantas hanya menunggu uang datang.

Monday, January 7, 2013

Untuk Tiapnya BERDERAJAT!

oleh Hasan Al-Jaizy


Semester satu ketika itu...

Seorang mahasiswa presentasi di kelas. Mata kuliah Fiqh Muqaranah [perbandingan madzhab] dalam dirasat Fiqh Ibadah. Tepatnya dalam bab shalat. Dosen kami, Ust. Bakrun Asy-Syafi'i MA, melatih murid-murid kecilnya untuk punya kebiasaan presentasi dan menelaah ke kitab asal.

Mahasiswa tersebut membahas suatu permasalahan fiqh [dalam bab shalat]. Ia mulai menjabarkan beberapa pendapat dari berbagai madzhab Fiqh. Selesai membocorkan pandangan madzhab Syafi'i, si murid dihadang sang guru.

"Ente tau darimana Syafi'iyyah berpendapat seperti itu?" tanyanya dengan bahasa 'padang pasir'.

"Ane tau dari kitab-kitab mereka, Ustas!"

"Sebutkan kitab-kitab tersebut juga pengarangnya!"

Lalu si murid menyebutkan satu persatu kitab-kitab madzhab terkait dan pengarangnya. Sang guru angguk-angguk.

Tidakkah Ini Mungkin?


oleh Hasan Al-Jaizy

Dulu, ketika masih sekolah, teman saya ini belajar mengaji dengan guru ngaji di kampungnya di tanah Sunda. 

Dulu, awal saya mengenal dia, ketika ia membaca Al-Qur'an, khas sekali didikan kampung. Ia mempunyai problem pada huruf Qaf; karena terlalu sulit untuk mengatur tenggorokan memberi hak huruf ini. Qaf nya terlalu besar; sehingga kadang mahasiswa yang sudah berlatar pendidikan pondok atau sudah lancar ngaji, mendengar dengan perasaan lucu sendiri. Namun bukan berarti mengejek.

Dulu, dia bukan seorang yang mahir berbahasa Arab. Masuk kampus dengan bekal kulit yang tidak putih dan logat Sunda yang masih ketara.

Sekarang, saya berguru padanya; menimba banyak pengetahuan darinya. Banyak bertanya padanya, entah tentang pengalamannya berdakwah di kampungnya, organisasinya dan sebagainya.

Sekarang, dia sudah mahir bicara bahasa Arab. Dan dalam waktu setahun, ia sudah bisa meninggalkan pelafalan Qaf yang memiriskan hati. Ia sudah bagus bacaannya.

Suatu saat, ia pulang ke kampungnya. Sudah banyak ilmu yang diseruput di kampus. Ia pun mengunjungi guru ngajinya dulu; orang yang berjasa. Apa cerita pendek darinya:

"Ane menemukan guru ngaji ane ga bisa bahasa Arab sama sekali. Padahal beliau dulu yang ngajarin ane ngaji. Hurup-hurupnya pake bahasa Arab. Sekarang ane pulang udah bisa bahasa Arab. Sebagai balas jasa, ane ajari guru ane bahasa Arab."

Orang besar insya Allah adalah yang bisa lebih baik dari gurunya.

Boleh jadi seorang guru akan sebal dengan seorang murid yang dipandangnya nakal atau hadirnya bagai gaibya atau tidak berkesan. Tapi, hati bisa berbalik dan jalan bisa berbelok. Tidak menutup kemungkinan murid itu kelak justru menjadi lebih hebat dari sang guru. Ia menyesali masa lalunya ketika masih berguru. Lalu ia berusaha membalas jasa sang guru.

Tidakkah itu mungkin?

Guru-guru TPA, atau SD, atau semacamnya, untuk sekarang hari, mungkin tak bisa memprediksi apa nantinya anak-anak menjadi.

Tapi, tetap mungkin anak-anak itu kelak menjadi orang-orang besar; yang mengingat guru TPA atau SD nya dahulu dan mendoakannya. Meskipun sang guru hanya tinggal kenangan dan nama...

Friday, January 4, 2013

Jalan Pintas Lewat Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy

Sebagian orang merasa dirinya jauh lebih memaknai dan meresapi ilmu jika ia menulisnya ulang [mengetik ulang]; karena selagi mengetik, ia berfikir dan mendalami tulisan ketikannya.

Jika itu benar terjadi pada dirimu, maka lakukanlah kemudian sebarkan di Internet; baik itu di Blog, Facebook atau lainnya. Sehingga ada makhluk yang membaca. Jikalau ada yang juga meresapi bahkan tertunjuki melaluinya, maka investasimu lah ia untuk akhiratmu. Jikalau tiada yang meresapi, setidaknya ada yang menghabiskan waktunya membaca tulisanmu itu. Itu lebih baik. Menjadikan orang menyempatkan membaca sebuah kebaikan lebih baik daripada tidak sama sekali.

Banyak orang berkata, 'Saya ingin cara ringkas dan simple saja. Efisiensi waktu!'
Dan silahkan berprinsip begitu. Namun, jangan salahkan mereka yang tidak mau main ringkasan dan berlama-lama dalam menggali makna. Tahukah engkau, rata-rata orang sukses bukan karena main singkat-singkatan dan memilih jalan cepat?

Mungkin ada yang berkata, 'Buat apa menulis ulang? Menghabiskan banyak waktu. Cukup sekali baca saja! Atau dua kali!'
Itu benar. Menulis ulang memang menghabiskan banyak waktu...untuk kebaikan, manfaat dan ilmu. Banyak orang yang mencari metode belajar singkat dan simple beralasan 'tidak mau habiskan banyak waktu berkutat pada itu-itu saja'. Namun setelah mereka belajar, mereka habiskan waktu untuk menonton TV melihat program emak-emak memasak selama sejam plus iklannya. Oh, mungkin itulah yang disebut efisiensi waktu. Meminimalisir masa untuk membaca dan menulis, dan meliberalkan masa untuk entertainment.

Bukankah itu kita?

Di Zaman Kita Nanti II


oleh Hasan Al-Jaizy


oleh Hasan Al-Jaizy

Di zaman kita nanti, kajian-kajian sudah layak dipoles dengan sentuhan dan pendekatan modern. Kalau penulis pribadi, lebih memilih ke asal [tradisional; gaya lama], namun tidak berarti menolak gaya modern.

Bagi penulis, pengkaji / pemateri lebih bagus membawa buku banyak lalu ditaruh di meja dan nanti dibuka satu-satu ketika dibutuhkan. Dibanding membawa laptop atau tablet atau semacamnya. Tentu saja laptop lebih enak, atau notebook atau netbook. Tapi, penulis sendiri -jika hadir di depan kumpulan manusia- lebih suka membuat para hadirin lebih semangat membaca kitab melalui kitab langsung, bukan laptop. Meskipun tidak salah juga baca kitab via laptop atau HP atau lainnya.

Bagus juga jika membuat manusia sadar, 'Wah, dia saja yang sudah ngustadz dan ngehabib, masih rela bawa buku banyak ke pengajian. Kok saya yang masih kolot dan super duper awam ini cuma mau baca artikel di laptop atau buku elektronik ya?'

...biar toko-toko buku ga sepi.
...biar sering-sering tu idung merasakan lezatnya aroma buku.

Kalau misalnya pemateri bawa laptop yang lebih besar dari kepalanya, kendala atau problemnya adalah mukanya terhalang jasad laptop. Apalagi jika laptopnya jangkung dan gempal. Kasihan atuh pra hadirin masa harus melihat lambang Apple, atau Acer, atau lainnya?

Mengkaji langsung pada kitab, tiap hadirin membawa kitab, itu jauh lebih enak, lho. Itu menurut penulis. Dan memang itulah aslinya. Bisa corat-coret. Kalau sudah bosan dengan penjelasan ustadz, bisa cari kerjaan pura-pura coret di kitab padahal sedang gambar muka Ultraman Taro.

Bagusnya kita tidak terlalu kolot, namun tidak juga mengandalkan teknologi. Sehingga kajian serasa tidak lengkap tanpa laptop, tanpa projector, tanpa ini tanpa itu.

Ustadz-nya juga jangan gengsi gede-gede-an. Maunya dijemput antar memakai mobil. Kalau pakai Vespa ga terima. Wong dulu gurumu saja datang ke pondok jalan kaki kok; muridnya kalau sudah besar ya belajar terus dari sirah gurunya.


Di Zaman Kita Nanti I


oleh Hasan Al-Jaizy

Di zaman kita nanti, kajian Subulus Salam atau lainnya sudah layak memakai proyektor. Jadi, nanti ada gambar berisikan teks/matan hadits di tembok atau lainnya. Sang ustadz mempresentasikan. Hadirin mendengarkan sambil melihat baik-baik teks hadits. 

Membahas Thaharah, ada juga Haji, sampai ke Thalaq. Masalahnya, ustadznya sendiri belum dirizkikan pergi Haji; dan belum pernah merasakan men-talaq anak orang. Wong nikah saja belum. :hammer

Lalu, setelah seru-serunya membahas mentalak anak orang dalam keadaan haidh misalnya, dibuka sesi tanya jawab. Eeeeh...salah seorang penanya bertanya, "Ustadz, apa pendapat antum mengenai Yusuf Qardhawi?"


Wednesday, January 2, 2013

"Aqil Ahli Andalus"


oleh Hasan Al-Jaizy

Diriwayatkan ada seorang bernama Yahya bin Yahya melakukan safar untuk mencari ilmu menuju kediaman Imam Malik. Dan ia (Yahya) saat itu masih kecil. Lalu ia pun mendengarkan Imam Malik hingga memahami banyak perkara agama. Imam Malik kagum akan kepribadian dan kepintaran Yahya. 

Diriwayatkan suatu hari Imam Malik sedang duduk bersama beberapa temannya di suatu majelis. Lalu ada seseorang berkata, "Hey, ada gajah!" Maka, kawan-kawan Imam Malik pun keluar untuk melihatnya. Kecuali Yahya, ia tetap terduduk di tempatnya.

Imam Malik bertanya padanya, "Kamu tidak [ikut] melihat gajah itu? Gajah tidak ada di Andalus!"

Maka Yahya berkata pada beliau, "Aku datang ke sini jauh dari negeriku untuk melihatmu, belajar dari ilmumu, dan aku bukan datang untuk melihat gajah."

Seketika Imam Malik takjub dengan jawabannya. Beliau pun menjulukinya:

عاقل أهل الأندلس

********

Tamparan untuk kita.

Kita datang ke sana dari rumah untuk trend, sembari menikmati wajah penceramah.

Kita datang ke sana dari rumah untuk diketahui bahwa kita ce-esan.

Kita datang ke sana dari rumah agar jumlah dan hitungan absensi nama kita tak melebihi batas yang ditentukan manajer akademik.

Kita datang ke sana dari rumah agar melihat teman-teman, bisa ngumpul atau bisa kopdar.

Kita datang ke sana berharap menyimak sang ustadz mengomentari kejadian-kejadian terbaru, fitnah teranyar dan pembahasan tentang kelompok lain.

Kita datang ke sana karena apalagi............................?

Kita banyak-banyak bicara kita harus menimba ilmu dan mengamalkannya, dan ternyata.....

kita tidak seperti Aqil Ahli Andalus, kita seolah Aqil Akal Bulus.

Friday, December 28, 2012

Apa Itu Ilmu Bermanfaat?

oleh Hasan AL-Jaizy

Saya merasa terkesan dan merasa malu pada diri sendiri dengan potongan perkataan Imam Adz-Dzahaby -rahimahullah- yang baru saya dapatkan di Internet:

تدري ما العلم النافع؟ 

هو ما نزل به القرآن، وفسره الرسول صلى الله عليه وسلم قولاً وفعلاً

"Kamu tahu apa itu ilmu yang bermanfaat?

Ia adalah apa yang Al-Qur'an turun dengannya, dan Rasul tafsirkannya, baik dengan ucapan, maupun perbuatan."

Tidak perlu dikritik kalimat di atas atau diminta perincian. Hanya mengajak bercermin masing2, betapa jauhnya kita dari keduanya. Jikalau kita dekat akan keduanya, seberapakah?

Tuesday, December 25, 2012

CAT : [64] "Ctrl C - Ctrl V VERSUS Rewrite"


oleh Hasan Al-Jaizy


Keduanya sama-sama COPAS, jika copas dimaknai 'nukil'. Dan nukil berasal dari bahasa Arab, yang bermakna 'dipindahkan'. Menukil, dalam bahasa Indonesia, bermakna 'memindahkan'.

Tulisan ini, selain penulisnya ingin menjabarkan pandangannya tentang copas vs rewrite/retype, ditujukan pula sebagai tanggapan atas sebuah foto atau status-status yang mengatakan:

"Para ulama, juga COPY-PASTE ilmu ayat, hadits, faedah melalui para sahabat dll"

-------------------------------------------------------------

Ctrl C dan V adalah cara termudah. Kita tidak layak sebenarnya menuding orang 'bermudah-mudah' karena ia hanya mengandalkan Ctrl C dan V. Seseorang dibebani berdasarkan

Monday, December 24, 2012

CAT : [63] "EMBUN PAGI UNTUK GURU"


oleh Hasan Al-Jaizy


Tiada sebutan 'mantan guru' bagi guru yang ajarimu kebenaran, asahmu kebijakan dan asihmu kebaikan. Guru masa lalu tetaplah adalah gurumu. Guru adalah gurumu seterusnya. Karena melaluinya, kau ketahui ini itu.

Gurumu dahulu berangkat berjuang memperjuangkan ilmu dengan kayuhan sepeda. Atau ia rela menafkahkan keringat untuk bumi berjubel tubuhnya dengan kumpulan manusia dalam bis kota. Sebelum menjadi guru, gurumu belajar bertahun lamanya untuk membelai akalmu dengan sentuhannya.

Dan sungguh bangganya gurumu jika kelak mendapatimu menjadi orang mulia. Guru akan merasa mulia ketika asuhannya dimuliakan. Guru akan merasa sedih ketika didikannya dihinakan. Jika guru dan murid sejiwa sehati, maka itulah maqom tertinggi.

Guru telah terjaga sebelum subuh. Ketika itu kamu masih pulas di atas tempat tidur terkulai dalam pelukan akar-akar mimpi. Bunga tidur. Guru telah memikirkan tentangmu ketika kamu belum sempat mengingatnya. Guru kerahkan tenaga, upaya dan suara sebelun kau punya ketiganya. Guru letih sebelum kau letih.

Yaitu guru masa kecilmu. Entah ia guru mengaji atau madrasah. Jika kau di desa kala itu, masih ingatkah sepeda yang tiap hari dikendarainya? Jika kau di kota saat itu, kau pun belum tahu seberapa gajinya.

Sekarang, anggaplah kau bukanlah seorang guru. Kau membatin, 'Jika aku jadi guru, seberapa kelak gajiku?' Dan kau sadari gaji guru tak sebanding dengan keringatnya, jasanya, peirhnya, suaranya hingga tangisannya.

Betapa tidak mudah menjadi guru. Terlebih ketika dituntut agar kau mampu kuasai ini itu. Ketika kau gagal, guru menunduk. Wali murid hanya bisa mempertanyakan, mempermasalahkan dan mengkiaskan.

Tahukah apa di antara kepahitan guru? Yaitu ketika kau gagal atau tak memuaskan ibu bapakmu di madrasah, guru dianggap pencetusnya. Lebih pahit lagi jika kemudian guru tersebut dibanding-bandingkan dengan guru di madrasah lain. Sakit hati disakiti murid masih bisa dibasuh kemaafan. Tapi sakit hati disakiti wali murid tiada kiasan.

Guru-gurumu itu kini sudah menua. Kulit tangan mereka bergelombang. Wajah-wajah mereka tak secerah dulu lagi. Kau takkan melihat luka di sorot mata mereka; padahal dahulu mereka adalah orang-orang terluka.

Guru-guru akan merasa berharga jika murid kecilnya menjadi orang berharga. Guru-guru bahagia termuliakan jika ia mengetahui murid lamanya menjadi orang yang dimuliakan.

Sebelum wafat mereka, jika memang tak sempat kunjungi rumah mereka, kunjungilah kuburan kenangan. Di dalamnya ada kisah-kisah antaramu dan gurumu. Yang bisa menjadi pelajaran dan teks doamu untuk mereka....para guru!

Thursday, December 13, 2012

Di Manakah Kecondongan Anda?

oleh Hasan Al-Jaizy

Tiap kita punya kecondongan senang mendalami suatu cabang ilmu. 

Tiap penuntut ilmu syar'i, baik formal atau non-formal juga begitu. Ada cabang disiplin ilmu yang paling digemari.

Ada yang condong suka membongkar aliran sesat, sehingga gemar menimba ilmu aqidah. Ada yang cinta Al-Qur'an sedari kecil hingga akhirnya mempelajari qira'at atau tafsir. Ada yang diberi kesenangan meneliti hadits, sehingga rela berjam-jam memeriksa jalur-jalur periwaatan. Ada yang hobi bermain akal, lalu merasa Ushul Fiqh adalah bidang paling lezat. Ada yang merasa materi Fiqh adalah yang paling menarik, karena mencakup tiap amalan hidup, baik untuk individu atau ramai. Ada yang senang berbicara masalah akhlak, adab dan penyejuk hati. Ada yang kecanduan dengan ilmu bahasa.

Kalau memang itu kecondongannya, maka galilah dan ambillah. Jika tidak bisa merengkuh semua, maka jangan tinggalkan semua. At least, ada satu yang paling dominan.

Maka, dimanakah kecondongan Anda?


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/473660799341977

Tuesday, December 11, 2012

CAT : [19] "MENILAI RENDAH KALA TINGGI"


oleh Hasan Al-Jaizy


Ini adalah cerita tentang kita-kita, yang kadang sadar begitu tinggi rasanya dan tidak sadar betapa masihnya kita di kerendahan. Ini adalah karakter pada kita-kita -setidaknya pernah kita seperti ini-, yang merasa senang dan bangga dengan apa atau siapa kini lalu menoleh tertawai yang belumlah apa-apa atau siapa-siapa.

Kadang kita menilai orang lain dengan kiasan diri kita sekarang yang rasanya lebih tinggi darinya ditinjau dari segi tertentu yang karenanya ada penilaian.

Padahal bisa jadi dahulu ketika kita serendah itu, kita lebih buruk dari itu.
Padahal bisa jadi jikalau kita serendah itu, kita lebih jelek dari itu.

[1]

Seorang yang dalam keadaan sehat jasmani, setidaknya ibalah melihat siapa yang dalam keadaan sakit. Yang pertama adalah iba. Tunaikan eksistensi perasaan mengasih. Lalu

Saturday, December 8, 2012

Semangat MEMBACA! : [5] TIPS 2: "BACALAH BUKU YANG SESUAI/MUDAH TERLEBIH DAHULU!"


oleh Hasan Al-Jaizy

Langsung saya beri contohnya:

Ilmu Ushul Fiqh bukanlah yang mudah dikuasai. Butuh waktu berjenjang-jenjang hingga menguasainya. Dan menguasainya pun tidak mungkin dengan bahasa selain bahasa Arab. Meskipun Anda memiliki 20 buku Ushul Fiqh -baik terjemahan maupun karya pribumi- dan tuntas membacanya, tetap saja Anda belum menguasainya. Kenapa? Karena materi Ushul Fiqh terbesar adalah perihal dilalah lafdziyyah, yang membutuhkan bahasa Arab. Bukan berarti merendahkan pelajar yang belum dikaruniai kemampuan membaca kitab Arabic, namun, ini sebagai contoh saja.

Syaikh Sa'ad bin Nashir Asy-Syatsry, dalam Syarh Al-Waraqaat tahun ini, menjelaskan, "Sebagian dari manusia mengatakan, 'Ilmu Ushul Fiqh itu sulit dan berat.' Sehingga mereka enggan