Showing posts with label Falsafah. Show all posts
Showing posts with label Falsafah. Show all posts

Sunday, January 12, 2014

Tentang Kebenaran Yang Harus Diikuti


oleh Hasan al-Jaizy

Wajiblah kita ketahui bahwa Allah Ta'ala tidaklah jadikan kebenaran berdasarkan akal-akal manusia, tidak pula hawa-hawa manusia. Jika engkau ditanya, 'Apa itu hawa?', maka jawablah serupa ini:

ميلان النفس إلى ما تستلذه من الشهوات من غير داعية الشرع

"(Hawa adalah) kecenderungan jiwa pada apa yang ia nikmati/senangi dari syahwat (kesenangan) tanpa pijakan syariat." [at-Ta'riifaat, hal. 257, al-Jurjany (w. 816 H), Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cet. 1 - 1403 H]

Kenapa tidak berdasarkan akal semata? Karena akal-akal manusia saling berbeda. Hawa mereka seringkali saling bertentangan. Andaikata kebenaran berpijak pada hawa manusia, maka akan saling berbedalah sebagaimana bedanya warna, wajah, dan tabiat tiap dari mereka.

Karena itulah, ingatlah firman Allah:

وَلَوِ ٱتَّبَعَ ٱلْحَقُّ أَهْوَآءَهُمْ لَفَسَدَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ

Tuesday, March 26, 2013

Hatimu Rentan, Mohonlah Kesembuhan

oleh Hasan Al-Jaizy



Hati yang empunya jahil (bodoh) tak terasuki ilmu yang sahih sangat riskan. Jangankan hati yang bodoh, bahkan jika seseorang yang berilmu tinggi pun berpotensi tercelakakan dengan penyakit maknawi yang menjalar di lubuk hati. Sesungguhnya tiap-tiap manusia mempunyai nasib, kadar, bagian, takaran dan ukuran dari ujian hati. Ketahuilah, setiap amalanmu, setan berupaya memberi andil di dalamnya.

Penting untuk tidak kau abaikan, bahwa jikalau setan tak mampu menipumu dengan kemaksiatan yang benderang, ia akan menipumu dalam ibadah yang cemerlang. Karena itu, takutlah dan semakin takutlah jika ternyata engkau adalah orang berilmu. Jika engkau mampu membaca Al-Qur'an seindah bacaan, atau memiliki kapasitas ilmu agama yang mengagumkan, atau menuai derma sedekah bergunung-gunung, atau bergerak ke medan perang, secara zahir itu semua adalah keutamaan dan karunia yang begitu besar untukmu.
 

Perahu Retak ... Bahtera Karam

oleh Hasan Al-Jaizy


Era 90-an, lebih tepatnya sekitar 1997, ada sebuah lagu yang salah satu petikan liriknya tak terlupakan.

"Aku heran....aku heran..."

Itu adalah salah satu lagu yang populer di masa saya masih bersekolah SD, di samping 'Mungkinkah', 'Gerimis Mengundang' dan lainnya. Karena saya saat itu masih SD, mungkin di antara pembaca yang tiba-tiba merasa lebih 'senior' akan menggumam, 'Wah, itu mah masa-masa saya SMA'.

Saya sendiri tidak hafal liriknya, namun selalu teringat lirik tersebut 'dipleseti' oleh teman saya ketika itu. Teman saya bernama Faris. Teman SD saya. Asalnya:
 

Monday, January 7, 2013

Pelangi Payungi Bumi


oleh Hasan Al-Jaizy


Air mata itu lebih terasa mengalir jika manusia merundukkan kepalanya. Jarang ada manusia menangis dan menumpahkan isi hatinya dalam kondisi kepala menengadah.

Si keras kepala dan si sombong jarang menangis. Kepalanya terlalu sering menengadah. Merasa di atas siapa-siapa.

Kepala yang tegak itu baik ditampilkan depan makhluk.
Namun selamanya di depan khalik, tundukkan kepala.

Tegar adalah ketika ia menegak wajar di hadapan manusia selagi badai mempermainkan lembaran-lembaran sirah hayat, selagi merunduk di depan Sang Pencipta manusia. Jika Dia hendaki badai berganti pelangi, pelangi akan mengganti. Jika Dia hendaki pelangi terhapus badai, badai menghapus.

Lihatlah hujan-hujan atau gerimis itu. Tiap titisannya turun ke bawah, tiada ke atas. Dan setelah hujan terbit garis-garis pelangi, seperti setelah menangisnya manusia, terbit harapan-harapan baru.

Maka bangkitlah wahai manusia dari keterpurukan; karena selama roda kehidupan berjalan, tiap sulit dan mudah hadir silih berganti. Tiap sakit ada obatnya. Dan tiap obat ada kadarnya. Jika begitu adanya, mengapa ada manusia merasa putus asa dengan qadar?


Thursday, January 3, 2013

FALSAFAH PENSIL II


oleh Hasan Al-Jaizy


Pensil itu kemampuanmu dan bakatmu

Sebelum memulainya, kututurkan padamu bahwasanya orang merugi adalah orang yang tidak tahu apa yang bisa ia lakukan demi dirinya atau orang lain. Orang merugi adalah orang yang tidak tahu bahkan enggan mencari tahu bakat apa yang Allah titipkan pada dirinya. Betapa banyak orang melalui masa mudanya masih dalam ketidaktahuan apa bakat yang ia miliki. Dan alangkah sedihnya jika ia baru mengetahui bakatnya di masa tua; sehingga ketika ingin memulai mengasahnya, kemustahilannya seperti mencabut beringin tua dari tempatnya. Maka, galilah potensi sedari dini, sebelum potensi itu sudah tak mungkin digali lagi.

[1] Pensil itu terwujud; merupakan senjata dan modalmu menulis. Awal membelinya, pensil itu tumpul. Dan kau tak mampu menggunakannya sebelum ia diraut.

==> Sebagaimana bakat dalam dirimu. Ia adalah modal yang dititipkan oleh Penciptamu. Merupakan keadilan dan hikmah dari-Nya, kau diberi kemampuan yang tidak semua manusia bisa melakukannya. Namun, bakat di awal-awal masih begitu mentah dan tumpul. Ia tidak serta merta menjadikan pemiliknya hebat dan bisa berkarya dengan bakatnya itu. Melainkan:

[2] Pensil harus diraut terlebih dahulu; sehingga ia pun menajam dan melancip. Semakin tajamnya ia, semakin baik tulisan terwujud.

FALSAFAH PENSIL I

oleh Hasan Al-Jaizy


Pensil itu seperti dirimu dan kehidupanmu.

[1] Pensil itu berbentuk panjang tersedia. Ketika kau membelinya dari toko, ia masih tumpul, belum bisa digunakan secara utuh. Sebagaimana hidupmu di awal umur. Dahulu, setelah kau dikeluarkan dan keluar dari perut ibumu, belumlah kau menjadi siapa-siapa. Kau hanya disebut anak manusia. Kau belum menciptakan apapun selain tangisanmu itu, keharuan kedua orang tuamu dan apalagi? Kala itu, kau masih tumpul tak berbekal. Bahkan kau keluar dengan ketelanjangan, ketidaktahuan dan ketidakpunyaan.

[2] Pensil kemudian akan diraut perlahan-lahan, hingga mulailah ia melancip.

==> Sebagaimana kemudian di masa balita, kau mulai dilatih oleh ibumu berbicara. Perlahan-lahan kau mulai berbahasa. Kau pula dilatih berdiri perlahan-lahan. Zaman pun bercerita bahwa hari demi hari terambil demi les berdiri. Setelah itu, kau pun mulai pandai berbahasa dan berdiri.

Wednesday, December 26, 2012

CAT : [71] "LAWAN AKAN DILAWAN LAWANNYA"


oleh Hasan Al-Jaizy


Lawannya 'Mutasyaddid' [orang ekstrim/keras] adalah 'Mutasaahil' [orang yang melonggarkan/bermudah-mudah]. Sebagaimana Mufrith versus Mufarrith.

Bisa jadi kita menuduh orang yang beda pendapat dengan kita dengan tuduhan 'Mutasaahil' dengan 'tasyaddud' nya kita sendiri.
Bisa jadi kita menuduh orang yang beda pendapat dengan kita dengan tuduhan 'Mutasyaddid' karena 'tasaahul' nya kita sendiri.

Lawan-lawan akan dilawan oleh lawan
Kawan-kawan akan dikawani oleh kawan

Kalau sudah menjadi lawan, sulit berkawan
Kalau memang asalnya berkawan, jangan mencari-cari celah untuk masuk ke arena perlawanan; termasuk dengan menuduh 'tasyaddud' dan 'tasaahul' tidak pada tempatnya.

Monday, December 24, 2012

CAT: [61] "KARENA HUJAN ADA MUSIMNYA"

oleh Hasan Al-Jaizy


Jangan kiramu seorang yang lantang dan kuat di luar selalu seperti itu; karena bisa jadi di dalam ia sering menangis, mengadu dan mengaduh.

Jangan sangkamu seorang yang selalu ceria riang tampak berseri di muka; karena bisa jadi dalam kesendirian ia sering menangis...hati teriris.

Jangan merasa pasti desamu tak pernah tercurah hujan meski berintik ketika terjagamu; karena bisa jadi ketika terlelapmu tak sadarkan turun gerimis.

Sekuat-kuat hamba adalah yang tetap tegar di keramaian, meskipun di kesendirian wajahnya

Sunday, December 23, 2012

Kalimat Untuk Anak Manusia

oleh Hasan Al-Jaizy

Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya Pohon tentu lebih besar dari buahnya. Tetapi jika buah itu sehat dan kemudian memohon, bisa saja lebih besar dari pohon sebelumnya.

Anak tak jauh dari bapaknya dari segi karakter, watak, bakat dan sifat. Awalnya bapak lebih besar dari anak. Namun jika anak tumbuh sehat dan berusia panjang, ia bisa lebih besar dari bapak.

Betapa banyak bapak-bapak bernama besar namun anaknya tak meneruskan kebesaran bapaknya. Maka, tumbuhlah wahai anak, menjadi lebih besar dari bapakmu. Harapan bapakmu padamu sangat besar, bahkan lebih besar dari harapannya pada dirinya sendiri. Sebagaimana ibumu banyak mengasihimu dan mendoakanmu, hingga hampir-hampir lupa ia mengasihani dan mendoakan dirinya sendiri.

Bermasa sudah bapak ibu menanam harapan di padang gersang, anakku. Jika kau mematikan harapan itu, maka padang akan tampak gersang selamanya. Bahkan ketika kau melihat oase di mata keduanya, yaitu air mata, kau kira itu adalah tangisan bangga. Sedangkan itu adalah tangisan kekeringan akan harapan yang lama tertanam.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/477582072283183

Friday, December 21, 2012

CAT : [49] "BELUM TENTU KAU BETAH DI DALAMNYA"


oleh Hasan Al-Jaizy


Yang zahirnya kau begitu senang melihatnya, atau berharap memiliknya, belum tentu setelah kau ketahui dan selami isinya, atau setelah memiliknya, kau masih menyenanginya.

Karena banyak hal-hal yang dari zahir atau kejauhan tampak indah, namun ketika mendekat hingga merasukinya, semuanya tiada istimewa.

Lihatlah gunung atau bebukitan dari kejauhan. Kau akan menyukai lukisan terpandang itu. Lihatlah pepohonan dari jarak jauh. Sepertinya mereka memiliki daya tarik yang jika

Monday, December 10, 2012

CAT : [18] "HUJAN AIR"

oleh Hasan Al-Jaizy

 : [18] "HUJAN AIR"

Hujan sedianya adalah air yang tercurah dari langit. Sebagaimana firman Sang Rahman:

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ مِنَ السَّمَاء مَاء لَّكُم 

"Dialah Yang Menurunkan dari as-samaa' [langit] air untuk kalian."

Kata 'samaa' secara bahasa bermakna ketinggian. Para ulama berbeda pendapat apakah samaa' di atas dimaksudkan langit yang tinggi secara umum, atau sahaab [awan]. Karena hujan adalah kucuran berasal dari gumpalan-gumpalan awan yang membentuk mendung.

Bagaimanapun, hujan adalah air. Dan hujan adalah rahmat bagi bumi beserta penghuninya. Tidak hanya rahmat, melainkan bisa jadi ia adalah bala dan musibah. Dahulu, di negeri ini, hujan adalah sesuatu yang pasti berkahnya. Sehingga berita tentang banjir sulit terwarta. Sekarang, banjir bukan lagi sebuah berita, melainkan kabar sederajat gosip. Biasa dan tidak ada getaran istimewa.

Dahulu, orang-orang tertawa jika ada kabar desa X kebanjiran. Sekarang, orang-orang bosan mendengar kabar banjir, baik itu di kota Y, ataupun di desa X.

Perlu kau tanyakan pula, mengapa Allah menurunkan hujan air? Kenapa tidak hujan kerikil emas saja agar manusia mengumpulkan dan menjualnya?

Karena Allah lebih tahu apa yang terbaik bagimu, wahai manusia. Dan Allah tahu apa yang

Tuesday, November 27, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU : [15] "Yang Takkan Berubah Adalah Adanya Perubahan"


oleh Hasan Al-Jaizy

Seorang pria sedang menonton televisi bersama beberapa temannya di rumah sewaan. Rupanya mereka sedang menyantap sebuah program yang disukai bersama. Lalu tibalah masa iklan terlampir. Jeda acara sementara. Ia mengambil remote TV. Hendak mengganti channel. Siapa tahu ada yang menarik. Dan inilah yang bisa kau gali dari manusia modern. Ketika kegiatan mereka terjeda, pasti mereka akan mencari sesuatu lain sebagai pengisi senggang. Kelihatannya bagus. Namun, bagaimana jika pengisi jeda itu berdampak negatif? Negatif, entah dari segi kandungan sesuatu, atau dari mereka sendiri. Seperti menonton program informatif religius, lalu ketika jedanya menonton program anti-religius. Atau banyak-banyak menyelang-nyeling akhirnya tidak satupun faedah terdapat. Manusia modern, banyak jelajahannya, sedikit mengambil ibrahnya.

Sedang asyik merunut channel2 satu persatu, ia memakukan layar pada satu channel. Rupanya program religius. Tampak ada pembawa acara dan pembicara. Oh, rupanya pembicara itu seorang ustadz. Terlihat ngustadz karena memakai peci dan baju taqwa. Lalu pria itu nyengir sendiri. Nyengir mengejek.

"Ada apa, bos?" tanya temannya.

"Kamu tahu ustadz itu? Dia adalah teman sekelas saya. Apa pula yang ia lakukan di sana? Dulu kami berteman. Yang aku kenal, dia dulu bengal, suka begadang dan senang bermaksiat di

Thursday, November 22, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU : [13] "Falsafah Roda"


oleh Hasan Al-Jaizy

Seorang anak tunggal dimanjakan kedua orang tuanya. Semua hajat materi terpenuhi. Anak itu pun membesar dan membesar. Dan turut pula usia orang tuanya yang menua. Suatu hari, keduanya berkata dengan serius pada si anak:

"Jika kelak ayah dan ibu sudah tiada, maka kamu satu-satunya yang akan menjadi pewaris harta kami. Kekayaan ibu dan bapak akan menjadi milkmu."

Maka semakin senanglah anak manja ini. Lama berlama melamun membayangkan betapa kelaknya ia akan menjadi raja berharta. Ia teringat teman-teman kampusnya di kampus ternama. Ia teringat teman-teman nongkrongnya. Yang kemudian ia teringat satu pertanyaan: 'Kapan ayah dan ibu akan meninggal?'

Pertanyaan itu kemudian terjawab suatu hari, keduanya meninggal. Entah karena

Wednesday, November 14, 2012

HIDUPMU, INSPIRASIMU: [7] "Cermin Waktu"


oleh Hasan Al-Jaizy

Menceritakan kisah ini, hanyalah inginku menjadikan beberapa kisah ibu sendiri sebagai inspirasi, atau pengingat untuk diri sendiri dan orang lain. Bukanlah ibuku masa dahulu melainkan hanyalah seorang remaja biasa. Dan hingga kini masih terlihat biasa. Meskipun bagiku beliau begitu luar biasa. Masa-masa kecil dan remaja beliau tertakdir dipenjara oleh kesulitan dan tantangan hidup. Terkadang harus pergi jauh dari orang tua dan cobaan-cobaan lain.

Ibu saya suka sekali memberi orang. Terutama jika melihat roman muka orang yang membutuhkan. Ibu bisa membacanya. Sedangkan ketika saya memperhatikan pula ibu-ibu lain, perbedaan itu terasa sekali. Dan jangan kau tanya tentang lelaki atau bapak-bapak. Karena seringkali mereka terjebak dalam keegoan dan cuek. Itu semua pelajaran untuk kufikirkan dan juga dirimu.

Dan kenapa ibu selalu memberi? Tak lama dapat rizki, cepat memberi? Karena rupanya itu adalah refleksi...cerminan masa lalu ibu. Di masa tua ibuku ini, beliau selalu terngiang di benaknya masa kecil dan remaja dulu. Beliau masih ingat ketika diam sendirian di suatu tempat, sementara di sekitarnya anak-anak seusianya lahap makan dan dituntun orang tuanya. Sedangkan ibu masih menahan lapar sambil menunggu datangnya neneknya [buyut saya]. Tetapi, kadang tak kunjung datang. Syukurlah dahulu ada seorang ibu dari keluarga lain yang peduli. Seringlah ibu diberi makan dan diajak ke rumahnya. Orang baik tersebut sudah

Tuesday, November 13, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU : [6] "Mengelus Hati dengan Hati"


oleh Hasan Al-Jaizy

Ada manusia yang Allah ciptakan hatinya lembut sekali; sehingga mudah memperhatikan sesuatu yang baik baginya dengan sedalam-dalam perhatian. Seakan banyak dari sesuatu di dunia ini adalah kekasihnya. Ketika temannya diterpa musibah, ia adalah orang pertama yang mendoakan kebaikan, bahkan mendahului doa-doa sang korban. 

Tiap-tiap manusia Allah citakan berbeda kualitas kelembutan hatinya. Jangan dipungkiri bahwa ada pula manusia yang Allah berikan tabiat hati meninggi, keras dan angkuh. Bisa disebabkan keturunan, bisa pula karena lingkungan. Karena itu, sungguh ada orang muslim berilmu yang keras hatinya, padahal ia tahu agamanya melarang itu. Dan ada orang Budha yang lembut hatinya [dalam bermu'amalah sesama manusia], padahal ajaran Islam sempurna mengatur hati. Budhisme tidak.

Akhir Ramadhan kemarin, saya sempat menonton kajian Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. Kala itu temanya adalah 10 hari terakhir Ramadhan. Kukatakan padamu bahwa beliau adalah syaikh besar, dai besar, yang tidak pernah sekalipun ku ketahui menangis di hadapan audiens. Baik itu di kajian masjid, kampus-kampus atau televisi. Di kajian bertema 10 hari terakhir Ramadhan itu, saya menatap muka beliau lekat-lekat. Setelah muqaddimah [hamdalah dan shalawat], beliau memulai menyebut beberapa dalil tentang hari-hari terakhir Ramadhan. Saya melihat langsung dan merasakan seakan perasaan ini tepat, beliau sedang menahan tangisan. Sulit memang dilukiskan dengan kalimat. Tetapi, saya benar-benar merasakan syaikh Al-Munajjid sedang menahan sesuatu yang ingin menyeruak keluar.

Beberapa minggu sebelum Ramadhan kemarin,

Sunday, November 11, 2012

Gerimis Setelah Hujan....


oleh Hasan Al-Jaizy

ingatkanku pada Parit Sembin sana. Kalimantan Barat. Banyak cerita. Dan banyak pula serpihan kenangan hilang dari ingatan. Dikaburkan zaman.

Tentang anak-anak miskin dan piatu. Mereka anak-anak dari suku Melayu, Bugis, Dayak dan Madura. Kaki mereka tak beralas. Keceriaan mereka merampok kemiskinan atau ketiadaan ayah ibu lalu memberangusnya.

Sekolah mereka adalah yang bisa kau jadikan mesiu iba. Bangunan kayu dengan atap tak sempurna. Jendela tak berkaca. Sehingga ketika hujan deras menyapa dengan ceramah langit yang bergemuruh, mereka berlindung di bawah meja-meja. Ku saksikan dan kurasakan itu semua.

Baju-baju kumuh.
Kulit-kulit kasar.
Canda tawa murni.
Lumpur sedalam lutut.
Kayu bakar dari hutan.
Tadarus selepas magrib.
Ikan, belut dan ular parit.
Hutan di pandangan kolong langit.
Kabut malam.
Kepala-kepala botak.
Perpisahan singkat nan sederhana.

Perpisahan kami sekian detik...namun perasaan menggelora selamanya.

Tuesday, November 6, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU : [4] "Cicak dan Tokek di Tengah Musim Laron"


oleh Hasan Al-Jaizy

Selepas shalat Maghrib, berpulang aku ke rumah. Di teras, tersempat pandangan tertuju pada lampu gantung yang menggantung di depan pintu. Di hadapan tembok dan ventilasi atas pintu. Apa yang menarik di sana?

Yaitu sekawanan cicak dan gerombolan laron. Laron beterbangan ketat kerubuti dan kitari lampu. Banyaknya tak terkira.Hingga dasar lantai pun berseliweran berjasad-jasad mereka. Ku pandangi kuasa Rabb itu bermenit lamanya. 'Harus ada sesuatu atau berhal-hal faedah yang bisa kupetik dari apa yang tersaksi kali ini,' batinku.

Dan memang besar faedah yang terpetik. Cicak-cicak itu terus menunggu rizki mereka. Sungguh ajaib. Seringkali laron-laron mampir ke tembok tempat mereka mangkal. Dan secepat kilat sambaran mulut mengakhiri histori hayat laron malang. Serangan cicak begitu cepat. Maha Besar Allah. Dan apa gerangan yang mengilhamkan laron untuk mendarat sejenak di tembok itu!? Siapa yang menyuruh para cicak berkumpul di sana!? Dan kenapa laron selalu mengerubuti sesuatu yang terang semacam lampu!? Sedangkan di sekitarnya selalu saja ada cicak! Kenapa??? Dan siapa yang mengaturnya????

Setahun lalu, ku kunjungi rumah nenek di pelosok Banjar, Ciamis. Di daerah perbukitan yang dingin. Selepas shalat maghrib, ku menembukan pemandangan serupa. Laron-laron besar kelayapan di sekitar sebuah lampu penerang jalan. Dan mereka juga menemplok di tembok.

Maha Kuasa Allah. Di tembok itu ada sekitar 3 tokek berburu. Mengintai. Mengawasi. Berlari. Menyerang. Menggigit. Memakan. Sungguh Maha Kuasa Allah atasnya. Dan ku sempatkan mengambil 2 tokek ketika sedang lengah mencaplok laron besar. Masih ada hikmah dan pelajaran yang bisa didapat dari tokek, selain tentang rizki.

==============================

Adzan Isya bergema. Tulisan di atas ditulis sebelum Isya. Beranjak kemudian keluar kamar dan hendak keluar rumah. Pintu kubuka. Dan Demi Yang Menciptakan segala jenis hewan, sebuah pemandangan yang tak kusangka. Apa yang ada? Tidak ada apa-apa. Tidak ada satu pun laron! Tidak ada satu pun cicak di sana! Kemanakah mereka semua pergi!? Tak mungkin cicak-cicak Maghrib tadi menghabiskan semua laron. Tidak mungkin. Dan bagaimana laron-laron bisa hijrah semua secepat itu hingga tak tersisa meski satu!?

Teringatlah firman Allah:

وما من دابة فى الأرض إلا على الله رزقها ويعلم مستقرها ومستودعها

"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya." [Q.S. Hud: 6]

[1] Allah memberi rizkinya!
[2] Allah tahu tempat berdiam mereka! Sekarang tanyakan pada dirimu, dimana berdiamnya cicak? Kau katakan, 'Di celah-celah atap dan langit rumah!' Baiklah. Lalu, dimana berdiamnya laron-laron tadi???? Kemana mereka pergi???

Sesungguhnya jika ingin membicarakan makhluk hidup dan rezekinya, umurmu pun takkan habis terhabiskan tuk membahas segala mengenainya. Karena tiap makhluk miliki rizki dan masanya masing-masing.

Yang bisa kita petik dari yang ku saksikan adalah:

[1] Bahwa Allah memberi rizki pada semua makhluknya, berakal atau tidaknya. Dan takkan mati satu makhluk hidup, melainkan telah disempurnakan atasnya rizkinya dalam hidup. Takkan Allah matikan ia kecuali sudah tertunainya segala hak dan rizki baginya. Dan Allah Maha Adil, takkan mendzalimi siapapun sedikitpun, meskipun zalimnya banyak makhluk.

[2] Bahwa kejayaan dan panen itu ada masa atau musimnya. Dan ia akan terulang; sebagaimana dalam sejarah manusia, kejayaan akan terulang, dalam pertanian, panen akan terulang. Pula dalam sejarah kehidupan hewan, masa jaya ketika banyaknya makanan akan hadir dan terulang.

[3] Bahwa masa jaya dan panen itu sebentar, sisanya adalah masa baik dan masa panceklik. Sebagaimana masa jaya para cicak selepas maghrib hanya bermasa sejam atau bahkan kurang. Lalu selebihnya: kembali pada sesuatu yang biasa dan rutin terjadi. Begitu juga dengan manusia. Puncak kesenangan itu sempit masanya dan cepat berlalunya. Sementara rutinitas yang biasa-biasa saja luas masanya dan lama terjadinya. Ditambah ujian dan kesulitan.

dan masih banyak hikmah yang bisa kita ambil dari ayat-ayat Kauniyyah.

Hidupmu...inspirasimu...hidupmu...inspirasi untuk selainmu...maka lihatlah ayat-ayat, di sanalah berjuta inspirasi untukmu.

Sunday, November 4, 2012

Kalimat Hikmah IV

oleh Hasan Al-Jaizy

Berikut beberapa bait dari Abu Al-Ataahiah yang harapnya bermanfaat:

[1] ألَمْ ترَ أنَّ غُدوَةَ كُلِّ يومٍ ** تزِيدُكَ مِنْ منيَّتكَ اقترابَا 

Tidakkah kau tahu bahwa
keesokan tiap hari tambahkan
kedekatanmu pada kematianmu?

[2] لهَوْنَا ، لَعَمرُ اللّهِ ، حتى تَتابَعَتْ ** ذُنوبٌ على آثارهِنّ ذُنُوبُ

Telah lalai kita, demi Allah
hingga berantai dosa-dosa
sebagai bekas dari dosa-dosa

Note: Membersihkan dan menjaga diri dari dosa adalah perkara yang tidak mudah. Semakin tidak mudah jika rupanya perbuatan dosa tersebut adalah kesukaan atau kebiasaan. Satu perbuatan dosa setelah bertahun kesalihan hati, tetap akan berpengaruh dan mencari rantai. Hingga bisa saja seorang yang sudah lama menjaga diri dari dosa, ia pun tiba-tiba terjatuh dan terseret dengan rantai-rantainya. Dan sebab asasi terjadinya perbuatan dosa adalah 'lalai'. Setelah itu: ketidaktahuan.

[3] هوَ المَوْت الذي لا بُدّ منْهُ ، ** فلا يَلعَبْ بكَ الأمَلُ الكَذوبُ

Ialah kematian yang tiada
celah tuk berlari darinya
Maka janganlah harapan dusta
permainkan dirimu

Note: Yaitu bahwa kehidupan dunia ini adalah permainan yang bisa memainkanmu jika kau berharap banyak darinya [dunia]. Karena semakin tenggelam seseorang akan dunia dan mencintainya, semakin besar harapannya pada dunia. Semakin besar harapan itu, semakin jauh dari kematian. Padahal tiada celah berlari dari kematian. Lalu bagaimana jika kematian menyergap ketika sedang asyik bermain dan berharap kosong!?

Saturday, November 3, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU : [1] Gula Dikerubuti Semut

oleh Hasan Al-Jaizy

Suatu hari, Al-Arify mengisi pengajian kecil-kecilan dan santai. Ia duduk-duduk di sekitar orang, yang mereka semua adalah kaum awam dan berkemampuan ilmu rendah. Di majelis tersebut, tiada yang menonjol di antara hadirin kecuali seorang kakek tua. Dia disegani bukan karena apa, melainkan usia. 

Al-Arify dalam sebuah kebetulan, menyampaikan satu fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah-. Selesai kutipan, kakek itu berkata dengan irama bangga dan binar mata, "Kau tahu? Syaikh bin Baz adalah teman saya ketika belajar di masjid. Di kajiannya Syaikh Muhammad bin Ibrahim, sekitar 40 tahun lalu!"

Cerita di atas singkat sekali. Dan bisa berlalu dengan singkat. Namun saya juga teringat pada nama-nama besar yang juga saya kagumi. Mereka bernama besar, berpangkat tinggi dan bergelimang sukses tentu bukan sebuah kebetulan semua terjadi. Karena jika ada air bergelombang, pasti ada penyebabnya, sekecil apapun ia. Bahkan gunung pun

KALIMAT HIKMAH III


oleh Hasan Al-Jaizy

Berikut beberapa bait dari Abu Al-Ataahiah yang harapnya bermanfaat:

[1] لا يَفْخَرِ النّاسُ بأحسابِهِمْ ** فإنَّما النَّاسُ تُرابٌ ومَا

Hendaklah manusia tiada berbangga
dengan harta atau leluhurnya
Manusia itu hanyalah debu
dan apalagi?

Note: Hasab bermakna 'kemuliaan leluhur' atau kadar dan jumlah di kamus Al-Munawwir. Hasab juga sering dimaknai sebagai harta, leluhur [ayah hingga nenek moyang] atau jabatan; karena semuanya adalah sesuatu yang 'diperhitungkan' oleh manusia. Namun di sini, Abu Al-Ataahiah mengajak kita tuk tinggalkan berbangga pada itu semua dan mengingat darimana kita berasal. Syaikh Ibn Utsaimin pernah berkata, yang maknanya: "Betapa adanya orang yang tak berharta namun Allah angkat ia melalui ilmu"

[2] فَكُلُّ مُصِيبةٍ عَظُمَتْ وجَلَّت ** تَخِفُّ إِذَا رَجَوْتَ لَهَا ثَوَابَا

Maka setiap musibah akan
membesar dan menguat
Namun meringan jika kau
mengharap darinya pahala

Note: Karena dengan bersabar menghadapi musibah dan mengharap dengan sabar dan keimanannya ridha Allah serta pahala, maka Allah akan memperingan orang yang teruji. Bisa jadi keringanan itu berupa dzat musibah yang semakin mengecil, atau Allah jadikan hati semakin kuat dan tenang.