Showing posts with label Sunda. Show all posts
Showing posts with label Sunda. Show all posts

Monday, December 10, 2012

AHLU SUNDA WAL JEME'EH


oleh Hasan Al-Jaizy


AHLU SUNDA

Saya sudah pernah mengumumkan pada makhluk hidup seperti Anda bahwa para mojang atau emak-emak Sunda bisa membuat saya kelepek di tempat jika mereka bicara memakai bahasa atau logat Sunda. 

Bagi saya, Sunda memiliki sesuatu yang spesial. Salah satunya adalah intonasi dan logat. Mana tahan?

Sebagai orang yang punya cita-cita hidup di tanah Sunda, maka saya pun ingin kelak bisa berbahasa Sunda dengan logat yang pas. English saja bisa diambil, masak Sunda tidak bisa sich?

Saya pernah beberapa kali menelusuri desa-desa Jawa (Jateng+Jatim) dan Sunda (Jabar). Ada perbedaan madzhar yang blatant alias jelas antara keduanya.

Jika Anda mengintip desa-desa suku Jawa terlebih melihat mayoritas rumahnya, Anda akan menemukan rumah-rumah sederhana dan kurang istimewa secara dzahir. Saya tidak bermaksud merendahkan wong2 ndeso dari suku Jawa. Bapak dan Mbah saya juga ndeso kok. wkwk

Sunday, September 16, 2012

Betawi Orangnya Ramah-ramah

oleh Hasan Al-Jaizy

Bahasa termasuk budaya juga, bukan? Bahasa Betawi, yang sedianya adalah pergeseran bahasa Melayu, adalah ciri khas Betawi [yang sebenarnya keasliannya sudah terkikis]. Dahulu, sebelum kemerdekaan, bahasa penyambung lidah dan hati bangsa Indonesia adalah bahasa Melayu. Dan tanah Batavia, sebagai pusat segalanya, tentu berbahasa Melayu. Dengan letak geografis yang nempel dengan tanah Sunda seperti Bogor, maka dalam beberapa spelling atau pronounciation, ada kesamaan antara Betawi dan Sunda Bogor. Tapi, saya juga ga tahu apa itu. Gubrak, bukan?

Bahasa Betawi, kata orang, adalah bahasa kasar. Tapi, mau pegimane lagi kalo udah dari sononye? Anak Betawi memakai bahasa kasar, nyablak dan tanpa basa-basi. Dan itu menunjukkan karakter asli. Tapi, bukan berarti hati anak Betawi kasar-kasar. Jangan salah.

Saya bisa membuktikan bahwa Betawi tidak kasar dan persoalan kasar, itu di bahasa dan sikap blak-blakan saja. Buktinya: ketika ribuan dan jutaan pendatang [sebagian kecil adalah pengemis] bererot menyerbu Jakarta, anak-anak Betawi redo-redo aje. Tidak ada yang langsung mengusir dan melawan. Bahkan sebagian anak Betawi menyediakan fasilitas kos-kosan, kontrakan dan lapak. Lebih dahsyat dan lebih ramahnya lagi, anak-anak Betawi rela kok diinjak-injak tanahnya, rela dapat petak sempit, rela tanahnya dijual, dan sebagiannya malah rela pindah ke pinggir ibukota. Gubrak, bukan?


Bandingkan Dengan Jawa: