Showing posts with label Humor. Show all posts
Showing posts with label Humor. Show all posts

Friday, March 1, 2013

Emak Rumah Tetangga...eh...Tangga


oleh Hasan Al-Jaizy


Seorang gadis peminis berpakaian minimalis mungkin karena berkarakter ekonomis -irit- bertemu dengan seorang gadis manis berpakaian maksimalis karena berkarakter agamis.

Sebut saja nama gadis peminis : Sinta. (Sinta berasal dari Cinta. Sinta sebenarnya gurunya Wiro Sableng, ia tiba-tiba menghilang sebelum Wiro diwasiatkan olehnya agar turun gunung demi membela kebenaran dan memburu Rana Weleng yang telah membunuh ayah dan ibunya. Ya, dialah Sinto Gendeng, gurunya gendeng muridnya sableng. Ia menghilang. Mungkin sedang berada di Sirdab.)

Sebut saja nama gadis agamis: Habibah. (no comments)

Sinta: "Pakaianmu nutupi seluruh tubuh, apa ga kegerahan, sis?"

Habibah: "Tentu tidak. Kan sudah saya beri Combantrin."

Sinta: "Hellooow? Sekarang 2013, iklan 90-an jangan dibawa-bawa."

Habibah: "Ngafwan, ukh. Ana suka yang jadul-jadul."

Sinta: "Oooh...Kamu ga kegerahan ya? Apa ga ada selain pakaian semacam ini?"

Habibah: "Selain ini? Yang lebih mahal banyakk!"

Sinta: "Jadi, fine-fine aja ya sis pake beginian?"

Tuesday, February 5, 2013

Surat Buat Orang Sesat I

oleh Hasan Al-Jaizy


Surat Buat Orang Sesat I

Seorang guru Ibtida'iyyah (SD) yang teracuni Atheisme mengajar anak-anak kelas 6. Ia ingin menyebar pemikirannya pada mereka. Beginilah:

"Anak-anak, apakah kalian melihat papan tulis?"

Anak-anak menjawab serempak, "Ya, Pak Guru!"

"Kalau begitu, papan tulis itu ada!"

------------------------------

"Anak-anak, apakah kalian melihat Pak Guru?"

Anak-anak menjawab serempak, "Ya, Pak Guru!"

"Kalau begitu, Pak Guru itu ada!"

------------------------------

"Anak-anak, apakah kalian melihat Tuhan?"

Anak-anak menjawab serempak, "Tidak, Pak Guru!"

"Kalau begitu, Tuhan itu tidak ada!"

------------------------------

Tiba-tiba seorang siswa pintar angkat suara.

"Kawan-kawan, apakah kalian melihat akalnya Pak Guru?"

Anak-anak menjawab serempak, "Tidaak!"

"Kalau begitu, akalnya Pak Guru tidak ada!"

------------------------------

Panca indera bukan satu-satunya sandaran semua pengetahuan.

Saturday, January 26, 2013

Menjaga Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy

Para gadis yang disebut akhwat itu, selama berselancar di situs ini, setidaknya menjaga diri agar jangan sampai kekagumannya terhadap seorang lawan jenis terendus, tercium dan tersebar begitu saja di tengah warga. Simpan baik-baik jika memang punya rasa. Jangan menabur cerita. Bahkan kisi-kisinya pun tidak perlu diwarta. Simpan saja. 

Karena meskipun tidak semua, tetapi banyak gadis [baik disebut akhwat, ikhwit, ikhwan atau gaswat] yang sudah mencapai usia 22 ke atas, apalagi menjelang 30 dan belum menemukan teman bobo, rentan pada fikiran-fikiran ke penyebaran undangan. 

Baru kagum sebentar, mungkin sudah berfikir 'sepertinya dia jodohku'. 
Tambah kagum, jadi berdoa 'Ya Allah, jadikanlah ia pasanganku'.
Muhawalah [berusaha] interaksi, lalu diladeni, jadi berfikir 'Kyaaa, jangan-jangan dia memang benar jodohku'

Lalu mencari cara bagaimana agar perasaan di hatinya tertuang dalam kehidupan nyata. Entah bicara pada teman perihal manusia yang dikagumi. Atau sekadar bikin status mujmal [global atau tidak jelas dan tidak tertentu menuju ke siapa] yang menghembuskan kekaguman. Atau yang lebih terasa 'salehah', berdoa, "Ya Allah, jadikanlah ia jodohku. Jikalau ia bukan jodohku, maka jadikanlah aku jodohnya."

Kalong Kuburan Keramat!


oleh Hasan Al-Jaizy

Menuru Mas Ari, teman FB saya, "Kecepatan internet Indonesia, berada pada posisi 115 dunia!" Seperti itulah status FB nya.

Anda boleh heran dengan posisinya; disebabkan negara kita sebenarnya 'kaya' dan berpenduduk banyak. Pengguna internet -saya yakin- termasuk terbanyak di dunia. 

Tapi, saya tidak heran. Dan tidak heran juga kenyataan tersebut [kecepatan yang tergolong 'terlambat ngebut' dibanding 114 negara dalam skala umum nasional] MENYEBABKAN:

...beberapa orang ketika baru dapat rejeki bisa mendownload sesuatu dengan IDM berkecepatan 500 kbps atau 1 mbps atau malah 3 dan seterusnya, pada KESENENGAN. Lalu upload foto hasil screenshot, kemudian tag teman-teman yang diharapkan akan 'takjub' dan semoga akan bertanya, 'Wah, loe kok bisa gitu, gan? Koneksi dewa! Gimana caranya, gan?'

Lelucon Konyol Saat Ini

oleh Hasan Al-Jaizy

Membuat status, bagi saya, tidak hanya belajar menulis saja, tapi setelahnya mempelajari reaksi manusia. Setelah menulis tulisan humor, bagaimana reaksi manusia. Begitu pula dengan tulisan full-sarkastik. Dan saya berusaha mempelajari siapa-siapa yang mengomentari, bentuk reaksinya, gelombang emosinya, susunan kalimatnya dan seterusnya. Hal semacam ini menarik, bagi saya pribadi. 

Dan berbulan belajar, saya banyak menarik kesimpulan. Biarlah itu disebut subjektif. I tell you this: Jika penilaian Anda disebut oleh orang lain 'subjektif', maka ketahuilah bahwa penilaian dia terhadap penilaian Anda bisa juga sendirinya 'subjektif'. Jadi, belum tentu penuding 'subjektif' lepas dari subjektifitas tudingannya.

Tulisan yang murni ilmu dan ilmiah tentu kurang laku. Bandingkan saja dengan tulisan humor atau sarkastik atau nyolot dan sebagainya. Satu sisi, ini wajar. Sementara di sisi lain, ini tidak wajar. Kita, yang 'katanya' atau klaim kita sendiri, mengagungkan ilmu, ternyata tidak sesuai klaim kita. Dan ini juga cerminan untuk saya pribadi. Kita ini kadang-kadang konyol kesumat. Melawak tanpa sadar. Sadar ilmu tapi kok gemar lawakan dan loyo akan ilmu.

Tuesday, January 22, 2013

Mengejar Wahabi + Mengeramatkan Kuburan Keramat!


oleh Hasan Al-Jaizy

Ternyata kita ini hebat dan keramat! Lebih keramat dari para wali Allah, yaitu para sahabat, tabi'in dan seterusnya.

Lho, kok bisa? Begini ceritanya:

Seorang salafi mengatakan kepada seorang Sufi:

Salafi: "Saudaraku, usahlah kau dan kawanmu merayakan Prophet's Birthday atau Hari Ultah Nabi 1434. Itu tidak ada syariatnya sama sekali."

Sufi: "Ah, kau ini. Usahlah larang-larang aku dan kawanku. Niatku baik, kau tahu?"

Salafi: "Iya, tapi hal semacam itu baiknya kita tinggalkan, kawan."

Sufi: "Memangnya ada pelarangan Maulid di Al-Qur'an dan Hadits yang berbilang begini: 'Wahai kaum muslimin, janganlah kalian bermaulid!" Ada tak?"

Thursday, January 10, 2013

H.O.T.


oleh Hasan Al-Jaizy


Saya lupa status siapa, namun saya mendapatkan sesuatu yang cool dari status tersebut. 

Kenapa status materi ilmu atau yang cukup berat jarang dikomentari? Karena menulisnya 'pake otak'.

Kenapa status klowor-klowor dan entertaining paling laris? Karena menulisnya 'ga pake otak'.

Kalimat-kalimat di atas memang tidak sempurna. Tapi lihat saja realitanya. Seseorang, jika bertemu seorang yang jauh lebih pintar darinya, akan lebih waspada dalam berbicara. Kenapa? Takut salah dan disalahkan. Tetapi jika ia bertemu dengan orang selevel, langsung nyablak.

Tulisan, jika bernada serius dan ilmiah, pembaca akan sadar sendiri, 'Wah, aye ga boleh komeng sembarangan nich.'.

Tulisan, jika bernada ckakak dan ckikik, pembaca baru membatin, 'Nah, yang beginian nih gue demen.'

No..noo..noo..saya tidak melarang ini itu kok. Ini pengamatan dan pengalaman saja.

Sebuah status bisa rame, umumnya karena H.O.T.. Dan H.O.T. itu bisa terjadi dari dua sisi:

[1] Sisi tulisannya atau temanya. Tema-tema Ghibah, Namimah, Bantahan, Sindiran, Kritikan dan sebagainya berpotensi dikerubuti dan diintip-intipi.

[2] Sisi orangnya. Kalau orangnya sudah H.O.T.,, lumanyun banyak diikuti; terutama oleh lawan jenis.

Eeeh, ada 3 deng. Satu lagi:

[3] Sisi nama atau pemoritasnya. Nama-nama hot dan terkenal, jika sudah membuat tulisan, akan diintai banyak orang. Seperti Pak Tifatul Sembiring, baru buat status syukuran sedikit saja, sudah direply oleh musuhnya:

"Dasar Pejabat ra genah. Bukannya ngurus rakyat malah pesbukan!"

Wednesday, January 9, 2013

Keturunan Orang Hebat/Kaya Itu CUCIAN


oleh Hasan Al-Jaizy


[1] Keturunan Orang Hebat 

Cucian sekali jadi keturunan orang hebat. Jika bapaknya adalah Ahli Hadits, misalnya, lalu kelak saat anaknya juga menjadi Ahli Hadits, maka orang-orang akan berkata, "Wajar toh yo!? Wong bapake Ahli Hadits koq. Anake ya ga jauh-jauh. Di rumah pasti banyak buku berjejer. Tiap hari anake pasti disuruh telan satu persatu. Yo biasa baek lah anake jadi Ahli Hadits!"

Tetapi, jika bapaknya Ahli Hadits, sementara anaknya jadi penjahat, orang-orang berkata, "Loe tuh ye!? Gaya loe emang keren...loe tuh ye!? keluarga loe emang beken!? Tapi otak loe kagak loe pake! Bapak loe tu ulama, loe malah begajulan begini."

[2] Keturunan Orang Kaya

Keturunan orang kaya juga ada cuciannya. Jika ortunya wong Kraton, misalnya, ketika dia jadi seorang pangeran, orang-orang berkata, "Ra istimewa! Nepotisme! Jadi raja cuma berkat keturunan. Belum tentu layak."

Tetapi, jika bapaknya raja/presiden yang kaya, anaknya tiap hari having fun di diskotik, orang-orang berkata, "Gila lu, bro. Lu kan anaknye raja dangdut ngeraja dan muka para habaib yang ngedukung bokap lu itu. Bonyok [bokap-nyokap] lu bisa tengsin abis, bro!"

[3] Keturunan Orang Ndeso

Keturunan wong ndeso, datang dari deso dengan ke-ndeso-an tak terampuni, menuju kota besar. Sampai di kota, ia buka usaha dagang beras. Bertahun lamanya hingga ia sukses dan tidak kelihatan ndeso lagi. Suatu saat, sebuah channel TV mendatangi toko besanya dan hendak mewawancarai. Setelah wawancara, pihak TV memuji, "Inilah si Paimin. Datang dari desa, ke kota, keturunan desa, rejeki kota, dulu dilangkahi orang kota, sekarang mengangkangi orang kota. Hebat! Respect! Visca Barca! Vamos La Liga!"

Tetapi, ternyata si Kartiman [31 tahun], datang ke kota dengan mengerahkan segala ke-ndesoan-nya, memasuki sebuah gedung untuk melamar kerja. Ia pun mendapati lift. Baru kali itu ia melihat ada lift. Di dekat lift, ada tombol sirine kebakaran. Karena kepingin tahu, dan berharap pintu lift terbuka, akhirnya ia pun memencetnya dengan ketulusan yang tak tertandingi. Sirine menggema. Semua orang panik. Lha, dianya malah ketawa sendiri. 'Wong kuto edan kabeh. Koyo ga pernah ngerungo'ke bunyi klakson ae! Dasar kuto ijo!' batinnya mengejek.

Nah, kalau diceritakan seperti ini, orang-orang akan berkata, 'Wajar, wong ndeso!"

[4] Keturunan Orang Miskin

Saya orang kaya, jadi tidak tahu seperti apa cerita orang miskin. 

Sunday, January 6, 2013

Faktor 'SIAPA ELU!?'


oleh Hasan Al-Jaizy

Mungkin pembahasan semacam ini sudah pernah Anda baca dari tulisan saya. Tapi, kali ini ada beberapa tambahan gambaran real yang semoga memperkaya contoh.


Jika seseorang sudah kenal dengan seseorang, maka secara wajar keduanya semakin terbuka dan menghangat. Bukankah semakin dekat semakin hangat!? Dan semakin erat kedekatan, semakin hangat. Bisa panas malah.

Ada beberapa pemandangan yang bisa dijadikan pengisi wacana ini. Ketika kita semakin mengenal siapa dia, kita lumayan rela mengetahui kabar tentangnya atau mendengarkan apa yang ia ucapkan. Berbeda halnya jika kita belum ketahui siapa dia, dan dia pun jarang nongol di hidup kita.

Gambaran [1]: Berdagang

Apa Persamaannya Celana Kedodoran dengan Jokowi?


oleh Hasan Al-Jaizy


Kemarin, di stasiun UI, ada sebuah petikan kenyataan yang menjadi salah satu pengisi tulisan ini. Pukul 4 lebih 20 menit kiranya saya menunggu kereta di sana. Di peron, berjejeran ruko-ruko. Ada sebuah ruko, kalau tidak salah, pebisnis pulsa. Saya mendengar seseorang berkata dengan cukup keras:

"Tau ga lo apa persamaannya Barcelona dengan Jokowi?"

Suaranya cukup keras sehingga saya menoleh ke belakang, yaitu ke asal suara. Seorang berusia sekitar 30 tahunan sedang berbincang dengan 2 temannya atau lebih. Lalu ia meneruskan:

"Persamaannya: sama-sama rendah hati! Emangnya Real Madrid? Kalau Madrid kalah, pasti nyari kambing hitam. Ga terima kalah. Coba lihat tuh Barcelona. Kalau kalah, ga banyak omong. Kalah ya ngaku kalah."

Well, apa yang diucapkan orang itu benar sebenarnya, tapi tentu sesuatu yang faktual itu diterima oleh pihak yang tersinggung atau tersindir. Hal yang disimpulkannya juga kesimpulan jumhur manusia penonton bola sedunia. Sudah tidak asing lah jika Madrid [Mourinho in front] selalu cari kambing hitam ketika kalah. Kecuali mungkin sekarang-sekarang saja, karena sudah ketinggalan 16 point dari pemuncak klasemen. Mau mencak-mencak ya percuma.

Friday, January 4, 2013

Memilah-milah Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy


Begini, bro. Kebenaran itu bisa menjadi bersifat relatif karena dirimu sendiri. Bisa jadi, aslinya kamu mengakui itu benar, tetapi karena beberapa faktor, kamu tidak 'membenarkannya', atau bahkan mencari-cari celah agar ia tidak tampak benar.

Gambaran:

[1] Pak De Su'aid ini sudah berumur 40 lebih. Suatu hari, ia membaca status Nawawi yang cukup panjang. Tanpa sepengetahuan siapapun, Pak De Su'aid memang suka 'mengintip-intip' tulisan orang. Tidak usah tekan 'like', apalagi sampai komentar. Alasannya? Banyak. Di antaranya: Jaga Wibawa, Jaga Gengsi dan seterusnya. Karena kalau sekali terlihat nge-like status orang, ia merasa gengsinya merendah. Bahkan, sekadar ikut komentar saja pun enggan; karena takut diketahui bahwa ia membaca tulisan orang.

Wednesday, January 2, 2013

Numpang Beken II


oleh Hasan Al-Jaizy

Di antara bentuk-bentuk tingkah yang sebenarnya memalukan terkait kebekenan seseorang adalah ucapan-ucapan semacam ini:

"Dia dulu teman main petasan waktu kecil."

"Dia dulu teman sekelas saya." [lalu bercerita tentang diri temannya yang sudah beken saat masih muda tanpa diminta tanpa ditanya]

Ronaldikin pun ketika tua berkata pada temannya tentang Lionel Mecin, "Dulu, gue tu sezaman sama doi, bro. Kita juga bebarengan sama zamannye Neymar. Ada juga Sapi Herandehs dan Inisetan."

Ditanggapi oleh temannya, "Ciyus lu-lu pada megang apaan, bro?"

Numpang Beken I


oleh Hasan Al-Jaizy

Orang beken [terkenal] biasanya diekori orang tidak beken, yang jika ada kesempatan, ia akan numpang beken. Seperti yang saya lakukan, ketika ada seorang qari terkenal di suatu golongan disebut-sebut di sebuah link FB, saya langsung terdorong untuk berkomentar, 'Hey, ini teman sekelas saya di kampus, loch!' Jadi, kelihatannya saya pengen 'diakui' bahwa saya memiliki kedekatan dengannya. Kalau sudah begitu, saya ingin dianggap ada 'keserupaan' dengannya atau setidaknya nama saya tertitip lah di sisi kebekenan teman saya itu.

Anda suka melihat televisi? Dibanding melihat televisi, mending melihat layarnya ketika ia sedang turned-on. Saya tidak tahu apa yang sedang bergemuruh di otak Anda jika Anda suka melihat televisi.

Coba lihat beberapa acara infotainment atau berita; ketika meliput para artis atau tokoh. Kadang kita melihat beberapa orang 'numpang beken' dengan berjalan di dekat artis. Atau es ka es de biar orang-orang menyangka, 'Wah, sepertinya ia orang dekat tokoh/artis tersebut.'

Atau begini:

Monday, December 31, 2012

Bisnis Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy

Setengah kilo dari rumah saya, ada kuburan keramat. Dikunjungi banyak dari rakyat. Terutama Hari Jum'at. Ramenya melalat. Campur baur laki perempuan = ikhtilat. Mereka memang tidak takut kualat. 

Bisnis paling menguntungkan saat ini adalah 'Bisnis Kuburan Keramat'. Awalnya kuburan biasa, tidak mengeluarkan duit, berlumut, becek pas hujan, pecah-pecah pas kemarau dan tiada istimewa. Lalu, diklaim kuburan ini adalah kuburan seorang wali!

Ciyus, kalau kuburan wali, miyabi?

"Kalau itu kuburan wali, maka kuburan itu penuh karomah. Karomah berarti kemuliaan. Kemuliaan dari Allah. Karomah di-Melayu-kan menjadi Keramat," terang Suyuthi dari atas pohon.

Boneng juga si Suyuthi itu, gan. Kenapa dibilang keramat? Karena berasal dari karomah, yaitu kemuliaan. Nah, kemuliaan yang dimaksud bisa 2 arti:

Membangkitkan Kuburan Keramat

oleh Hasan Al-Jaizy

"Gus, waktu ente mondok dulu, kitab pikihnye pake apaan?" tanya saya di kelas pada seorang Gus-gus, teman dekat saya di kampus. Ia adalah lulusan pondok NU alias perguruan hijau. 

"Dulu, ane pake kitab Fathul Mu'in kalau di majelis. Tapi di kelas pake Fathul Qorib," jawabnya.

"Oh, gitu ya, Gus!? Bisa dua gitu, ya? Kenapa Fathul Mu'in ga dimasukkan jadi kurikulum sekolah aja?" tanya saya selanjutnya.

"Yo, ga cukup lah, San. Kan lebih tebal. Nanti ya ga habis buat sekian semester."

"Oh, ngerti lah ane. Jadi, kalo di majelis [pengajian pondok], pake Fathul Mu'in karena memang lebih luas dan ga terkait sama silabus resmi ya!?" Saya mengangguk-angguk.

Gus pun berkata, "Dulu tuh ya, waktu ane jadi santri, ane ngeliat ustadz ane ngejelasin Fathul Mu'in kagum buanget. Lancar banget ngejelasin."

"Ciyus?"

Mengingat Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy

Sabtu sore. Turun dari kereta ekonomi. Lalu turun tangga peron. Stasiun Pasar Minggu Baru. Saya melihat seekor kucing. Kaki belakang sebelah kanannya buntung. Iba. Lebih mengiba dari pengemis jalanan atau orang sesat.

Sebelum Jum'atan Jum'at kemarin, saya sempatkan diri melewati kuburan keramat dan masjid besar di sampingnya. Di kedai depan masjid, beberapa nenek-nenek sudah nongkrong. Berikut cucu-cucu mereka. Apa yang akan mereka lakukan?

Game Online! Bukan. Melainkan sekadar permainan tangan. Maksudnya? Maksudnya, kau akan menyaksikan kala Jum'atan mereka mulai menebar pesona dan aura kemiskinan. Memasang muka memelas kasih. Memamerkan perut tangan mengemis asih. 

Sunday, December 30, 2012

Kakek-kakek

oleh Hasan Al-Jaizy


Selain -karena kurang kerjaan- saya suka mengamati kali, dedaunan, tingkah hewan dan lagak emak-emak, saya juga suka mencuri kesempatan untuk mengintip kakek-kakek. 

Kakek saya sudah wafat, baik dari pihak ayah maupun ibu. Kalau kata syair, 'bukanlah pemuda adalah yang katakan "inilah babeh ane", tetapi pemuda adalah yang katakan "inilah ane!"'. Tapi tidak ada cela kita hikayatkan siapa bapak-bapak kita; terutama jika ada ibrah dan pelajarannya.

Kakek saya bernama Jaiz. Dikenal dengan sebutan Mbah Jaiz. Merupakan tokoh besar dan imam masjid di kampungnya. Beliau adalah seorang pendekar. Tahun 2001, beliau pergi meninggalkan kehidupan dunia, yang merupakan sebuah undangan bagi banyak pendekar dari beragam kampung tuk ziarahi rumahnya. Juga banyak dari rakyat bergerombol mendatangi.
Di masa mudanya dahulu, Mbah Jaiz adalah seorang yang ingin sekali belajar agama namun miskin harta. Maka, demi mendapat biaya untuk belajar di perguruan, ia sempatkan bekerja mencari penghasilan di pusat desa. Hasilnya adalah bekalnya untuk belajar di perguruan. Beliau adalah seorang ndeso yang tak pernah berharap menjadi orang kota. 

Thursday, December 27, 2012

CAT : [78] "FALSAFAH RUPIAH"

oleh Hasan Al-Jaizy


Sesungguhnya gambar uang kita [rupiah] bisa menunjukkan pemiliknya jika memang hanya itulah sisa yang ia punya. 

[a] Awal bulan, banyak manusia masih menyimpan uang 100.000 rupiah. 
[b] Ketika pertengahan, ia mulai menghargai uang 10.000 rupiah. 
[c] Menjelang akhir bulan, ia mulai mengumpulkan uang 1.000 rupiah dari saku-saku dan meja. 
[d] Pas masuk akhir bulan, ia baru ingat bahwa di Indonesia, uang 100 rupiah masih ada harganya.

Kalau kata teman di pondok dulu, 'Hargailah uang 100, tanpanya 10 juta pun tak jadi 10 juta.'

Sekarang, cobalah tengok uang-uang kertas Anda.

[1] Uang 100.000. Point: PECI.
Lihat, ada gambar 2 orang memakai PECI hitam.

CAT : [74] "DIKEJAR EMAK-EMAK"

oleh Hasan Al-Jaizy


Dikejar emak-emak? Siapa takut?! 

Sebenarnya emak-emak tidak menakutkan; seserem-seremnya emak-emak, lebih seram emak sendiri kalau sudah mengamuk. Tapi emaknya orang lain, tidak menakutkan sama sekali. Yang menakutkan itu justru Rambo-nya emak-emak. Kenapa begitu? Karena kalau Rambo sudah merasa ada yang tidak beres dan mencurigakan lalu keluar rumah, urusan bukan perasaan lagi, tapi udah main otot.

Dikejar emak-emak adalah sesuatu; baik itu emak-emak beranak perempuan ataupun emak-emak berudu [boso Jowo] perempuan. Selagi gadis-gadis malu-malu tikus werok untuk pedekate, kalau emak-emak tidak peduli. Yang penting jaga jarak. Dan jangan sampai Rambo curiga. Biasanya emak-emak suka ngasih cendol, tapi kalau Rambo sudah curiga, ia tak segan

Wednesday, December 26, 2012

HASAN AL-JAIZY


oleh Hasan Al-Jaizy

Yang paling perlu dicabut dari akar bumi dan kehidupan masyarakat ini adalah tradisi peringatan di kuburan sambil solawatan keras malam-malam. Makin kemari praktisi ritual yang bid'ah (kalau mau jujur) ini smakin membuat agama terlihat menyunat akal sehat dan mengganggu ketenangan umum. 

Tapi kalau sudah mengakar susah. Kalau kita ucap halus-halus, dicurigai secara halus. Kalau memakai kalimat ngena, kena tuduhan. Kalau mau tegakkan Khilafah ala Muwahhid sekarang juga tidak mungkin.

Selain mengakar, tradisi ini dibumbui nama-nama bagus, sehingga menjadi hasanah. Habib, Ahlu Bait, Shalawat, Ziarah dan nama lainnya. Sebaliknya, yang menentang malah kena tudungan dhalalah. Kalau mau ditimbang dengan keseimbangan akal sehat, siapa sebenarnya yang dhalalah di-hasan-kan dan siapa yang sebenarnya hasanah di-dhalah-kan.

Sesuatu yang dhalal jika disebut hasanah, maka anggapannya menjadi HASAN. Kalau sudah dianggap Hasan, hukumnya menjadi JAIZ (boleh). Maka jadilah:

HASAN AL-JAIZY

Baiklah. Itu salah saya.