Showing posts with label Dai. Show all posts
Showing posts with label Dai. Show all posts

Monday, October 26, 2015

P.H.P.

oleh Hasan al-Jaizy

Jika kamu diajak maju oleh orang yang cuma jalan di tempat selalu, maka jangan ikut. Karena kamu ga bakal maju-maju malah. Malah kamu bakal bisa lebih maju sendiri dengan jalan ke depan, bukan jalan di tempat.

Jika kamu di-PHP-in sama ikhwan yang ga ngerti gimana caranya step up dan following up, maka jangan masukin hati PHP dia. Kalau kamu masukin ke hati, dia ga bakal maju, kamu menderita menunggu.

Jika kamu dikomporin ngaji sama pihak yang maunya cuma ngaji tematik aja dan terus, kamu cari kajian kitab. Banyak para pemburu tematik gagal move on ke kajian kitab, karena memang niat step up aja ga ada, maka setelah ngaji, ga ada following up. Still walking di tempat, mau dihias apapun posternya.

Wednesday, July 17, 2013

Halo? Apakah Saya Ada? 3

oleh Hasan Al-Jaizy

Saya agak khawatir jika memerangi Syi'ah itu hanya karena trend. Yakni: ketika teman-teman dumay nya riuh mempermasalahkan Syi'ah, ikut-ikutan berkoor.

Mentalnya ada mirip dengan kasus maling di keramaian stasiun. Ketika ada yang teriak maling, serempak pada ikut-ikutan. Padahal tahu jelas kasusnya pun tidak. Syukur jika ada informan yang jujur. Namun, rata-rata pengunjung stasiun menang di teriak ramai-ramai dan mencelanya. Lalu memukul senafsu-nafsunya saat sudah ketemu 'maling'nya.

Mentalnya ada mirip juga dengan kebiasaan masyarakat yang ketika para jurnalis membentangkan berita hot, langsung para pemirsa pada angkat bicara. Semua mengutuk. Setelah berita hot habis, para pemirsa tenang kembali. Lupa semua itu. Nunggu hal lain yang akan menjadi masyhur atau trend.

Saya agak khawatir jika memerangi Syi'ah itu hanya karena ikut-ikutan, sehingga secara normal enggan menggali pengetahuan tentang Syi'ah. Menunggu informan. Atau hanya ingin meramaikan saja.

Saturday, December 15, 2012

CAT : [33] "DAI SEBUTA UMAT"

oleh Hasan Al-Jaizy


Beberapa guru saya berkata yang intinya, "Keadaan umat kita sekarang kurang lebih seperti keadaan umat di zaman Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim dan Muhammad bin Abdul Wahhab."

Apakah benar seperti itu? Bisa benar, bisa juga kurang benar. Tapi, bagi saya, sulit untuk menyimpulkan 'tidak benar' pada kalimat guru-guru saya. 

Di zaman Ibnu Taimiyyah [w. 728 H / 1328 M], Syi'ah sudah bergerilya, bukan? Karena jika tidak, untuk apa beliau mengarang kitab Minhaaj As-Sunnah, sebuah kitab berjilid-jilid besar dan deras akan faedah dalam rangka membantah satu kitab/makalah sesat penuh dusta dari seorang Syi'ah? Di zaman beliau pun, tersohor makalah-makalah falsafi dan aqli yang mendewakan akal serta menenggelamkan nash dalam perut bumi. Jika tidak, untuk apa beliau

Wednesday, December 5, 2012

CAT : [7] "MENYEMBUNYIKAN ITU MEMALUKAN...MALUAN YANG DISEMBUNYIKAN"

oleh Hasan Al-Jaizy

Ada seseorang menulis di situs ini sebuah ungkapan rasa syukur diperkenalkan oleh-Nya teman-teman dunia maya yang rajin update status 'ilmu' atau 'nasihat' atau 'motivasi' dan lain-lain. Sebelum berlanjut tulisan ini, mohonnya agar tiada seorang pun yang gede rasa karena makna tulisan statusnya diumbar di mari.

Status:

"Gue mau apdet cetatus, tapi rupanya hanya bica baca cetatus-cetatus ceman-ceman. Bagus-bagus. Jadi, caya cuma bica ucapkan raca cukur caja bica berceman dengan ceman-ceman yang coleh."

Lalu ada yang berkomentar:

"Ho'oh ki, dab. Beruntung bianget punya konco-konco berilmu. Status2 mereka manfaat bianget. Gara-gara beruntung dan manfaat bianget, jadi kadang kita malu kalau mau bagi status ilmu agama. Soale, rasane konco lainnya keto' berilmu bianget. Pada berilmu bianget. Aku jadi minder bianget. Gila lu, Ndro!"

Begini:

Ketika di sekitarmu ada orang-orang berilmu, bolehlah simak perbincangan mereka. Manut mendengar sembari berfikir dan mencerna.

Tetapi ketika di sekitarmu ada orang-orang yang 'kelihatan' berilmu, namun belum tentu, maka jangan minder begitu saja. Tetap dengarkan, berfikir dan cerna.

Perasaan minder karena merasa dikelilingi orang-orang berilmu atau terkesan berilmu itu

Friday, November 30, 2012

Merebut Lahan Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy

Ini adalah sebuah risalah dari si miskin untuk siapapun yang juga miskin.

Dulu, dakwah ini tidak terlihat gemilang cahayanya nan megah seperti sekarang. Era 90-an, ketika itu ustadz-ustadz yang kau panuti sekarang, adalah dai-dai 'lugu' dan sederhana. Ikhlasnya mereka berjuang demi ilmu dan amal begitu tebal. Era 90, ketika belum banyak yang membuka mata mengenai Sepilis. Era 90, ketika mungkin Anda [seperti saya] masih ingusan, atau Anda belum kenal apa-apa tentang Muhammad bin Abdul Wahhab.

Gloria millenium. Tahun 2000 datang. Gerakan Sepilis semakin menjadi-jadi. Dan setelah tahun itulah puncak-puncak serangat mereka terhadap syariah. Adapun kaum hijau, tak bersatu lagi semenjak partai di Indonesia tidak 3 lagi. Akhirnya bermunculan lah sempalan-sempalan Islami di negeri ini. Namun, dakwah yang kini disebut 'nyawah' perlahan demi perlahan makin exist. Ustadz-ustadz yang kau kagumi sekarang, baik itu kini menjadi bintang idola podium atau penyenang hatimu melalui siaran radio, ketika itu sebagian mereka masih dalam tahap belajar. Jikalau ada dari mereka yang sudah memiliki majelis, itu hanya beberapa.

Dan dimulai sekira 2005, dunia Internet melesat. Semakin kemari, semakin

Monday, November 12, 2012

"Kalau Sudah Tua..." II

oleh Hasan Al-Jaizy

Kalau sudah tua seharusnya memberi contoh baik pada yang muda. 

Kalau sudah tua seharusnya ketika diskusi di sebuah forum menunjukkan senioritas dan wibawanya. Kata-kata tercela, kekanak-kanakan dan membodoh-bodohi manusia lain dengan frase-frase kotor justru akan merendahkan derajatmu di mata anak-anak muda.

Kalau sudah tua dan berpengalaman, seharusnya mengajak yang muda meniti umur dan pengalaman dengan bahasa dewasa. Penggunaan bahasa remaja jalanan dan preman-preman tanpa saringan hanya menunjukkan kekanak-kanakanmu.

Kalau sudah tua seharusnya ingat masa muda telah berakhir. Rangkullah anak-anak muda, naungi mereka dan beri pencerahan. Jangan justru menambah kekeruhan.

Kalau sudah tua seharusnya malu dengan anak muda yang progresif. Bukan malah meledek dan mencela-cela. Atau bahkan mencari-cari kesalahannya. Apa mungkin karena iri?

Tuesday, November 6, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU : [3] "Rumput Takkan Tumbuh Kala Derasnya Hujan"

oleh Hasan Al-Jaizy

Di sebuah desa, ada seorang guru ngaji yang miskin. Perekonomiannya hanya bersandar pada warung kecilnya yang sehari-hari ia bergantian dengan istrinya menjaga. Hanya itu yang ia andalkan tuk penuhi kebutuhan keluarganya. Aktivitasnya hanyalah menjadi guru ngaji selepas ashar dan maghrib.

Ia mengajar di TPA desanya. Lokasi mengajarnya di mushalla desa. Ia ajari anak-anak kecil cara bersuci, seperti wudhu, tayammum, shalat dan puasa. Dan tentu saja anak-anak diajari membaca Al-Qur'an. Itu semua adalah ilmu warisan kyai-nya yang sudah lama wafat. Dulu, sang kyai berwasiat padanya secara khusus, "Kamu harus tetap tegakkan agama dan ajarkan apa yang aku ajar di desa ini. Ajarkan anak-anak. Teman-temanmu berguguran dan berlari ke kota mencari dunia. Tapi, pesanku untukmu, carilah akhirat dengan mengajar anak-anak, kelak insya Allah pada masanya Allah akan membuatmu kaya...lebih kaya dari teman-temanmu yang meninggalkanmu sendiri mengajar di desa ini."

Guru ini pun benar-benar mengingat dan

Wednesday, October 31, 2012

SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN : [4] "Mas Boy, Dai Teladan"


oleh Hasan Al-Jaizy

Status ini adalah episode selanjutnya tentang Mas Boy. Ada cerita yang bertahun-tahun terkubur tak tersiar di telinga manusia tentang perjalanan dakwah Mas Boy yang one in a million. Jarang ditemukan orang seperti beliau. Rela berkorban, ikhlas dan diridhai manusia.

Saya pribadi 'menganjurkan' pembaca, jika bisa men-share cerita ini, agar tidak berat hati untuk men-share nya. Jika bisa meng-copas nya ke blog atau apapun wadahnya, agar ringan hati untuk men-share-nya. Dan saya meminta para pembaca, jika sedianya ada yang bisa ditiru dari beliau dari metode atau inspirasi, maka MOHON DOAKAN beliau. Semoga Allah meninggikan derajat beliau. Tulisan ini dibuat tanpa sepengetahuan beliau sama sekali. Dan mungkin beliau sudah lupa akan penulis ini.

MAS BOY, DAI TELADAN YANG TERKENANG

Tahun 2000, Mas Boy dikirim oleh pondok saya untuk mengabdi di MTS Al-Irsyad desa Wonosari, Kabupaten Ngawi. Letaknya di kaki Gunung Lawu. Di pondok saya, tiap santri yang lulus akan kena jatah mengabdi, yaitu menjadi dai. Disebar atau dikirim ke pondok-pondok atau daerah-daerah untuk mengajar apapun yang dibutuhkan di sana. Namun,

Friday, October 26, 2012

[03] "Hizby Teriak Hizby"

oleh Hasan Al-Jaizy

Menuding golongan lain sesat dan melabeli mereka sebagai ahlul bida' dan ahwa', sementara sendirinya tak sadar telah terjerumus dalam kesesatan dan mencerminkan kebid'ahan serta pengekor hawa nafsu. Ini adalah sebuah gambaran ngeri yang tiap-tiap kita berlindung pada Allah darinya. Di sini, saya pribadi berusaha mengingatkan diri melalui tulisan ini serta pembaca sekalian, yang harapnya menjadi para penasehat bagi hati sendiri dan orang lain.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata:

الواجب على كل مؤمن أن يحب ما أحب الله ورسوله؛ وأن يبغض ما أبغضه الله ورسوله مما دل عليه في كتابه، فلا يجوز لأحد أن يجعل الأصل في الدين لشخص إلا لرسول الله - صلى الله عليه وسلم - ؛ ولا لقول إلا لكتاب الله عز وجل

"Yang wajib atas setiap mukmian adalah ia mencintai apapun yang Allah dan Rasul-Nya cintai, dan membenci apapun yang Allah dan Rasul-Nya benci bersandar dari apa yang tertunjuk dalam kitab-Nya. Maka TIDAK BOLEH bagi seseorang menjadikan ASHL [Sandaran] agama dengan seorang manusia kecuali Rasulullah; dan dengan perkataan kecuali kitabullah Azza Wa Jalla" [Majmu Al-Fatawa: 20/8]

Maka, beliau pun

[02] "Dakwah Kita Untuk Semua"

oleh Hasan Al-Jaizy

Maka, jadilah penyeru kebaikan untuk semuanya. Berusahalah tuk menjadi seorang yang maqbuul [diterima] untuk semua manusia. Meskipun takkan mungkin semua manusia menerima kita. Namun, upayakan berhias dengan kebaikan yang diridhai fitrah manusia, baik itu melalui tutur, ataupun pekerti. Menjaga lisan untuk bertutur baik selalu dan berhikmah selamanya bukan sesuatu yang mudah. Menghias diri dengan pekerti berbudi juga perkara yang perlu dilaku berhari-hari.

Syaikh ibn Baaz -rahimahullah-, seperti yang diceritakan salah seorang muridnya, yaitu Syaikh Al-Ariify, dahulu berbondong manusia menuju kajiannya. Di antara mereka ada yang menyandarkan diri [muntasib] kepada golongan2 ini dan itu. Tiap-tiap mereka beragam corak dan latar belakang. Namun, beliau [Syaikh ibn Baaz] berhasil mempersatukan mereka dalam majelis ilmu. Inilah majelis impian; karena dakwah kebenaran adalah untuk semua. Semua berhak mereguk kebenaran; meski tidak semua hendak menerimanya.

Maka, apa jadinya jika dakwah hanya untuk kalangan tertentu saja!? Bagi yang berdakwah atas nama Salaf, lalu mengkhususkan audiens untuk bermanhaj salaf terlebih dahulu. Jika tidak, maka tidak boleh ikut kajian. Harus bersih dari pemasangan foto makhluk hidup, jika tidak, maka harus segera dibersihkan keberadaannya dri grup. Seakan selain golongannya adalah kotoran yang harus dienyahkan dari pandangan. Atau yang berdakwah atas nama partai dan ormas, mensyaratkan seragam dan tanda tertentu tanpa kepentingan darurat. Orang luar yang ingin ikut serta menimba ilmu, jika belum memenuhi syarat keorganisasian atau tidak recommended, maka dilarang ikut.

Apa gunanya dakwah jika seperti itu?

Sekarang, ada beberapa tanda tanya untuk para penasehat, termasuk penulis:

[A] Ketika ada gereja atau kumpulan kaum Kristen mengundang Anda [anggap saja Anda adalah tokoh agamis terpandang di masyarakat] untuk ceramah di depan mereka, dengan topik BEBAS, apakah Anda bersedia hadiri dan mempromosikan Islam tepat di depan mereka?

Jika Anda berfikir jauh dan berhasrat tinggi ingin menjadi pengantar hidayah Allah untuk kaum tersesat, maka Anda takkan sia-siakan itu, bukan? Satu orang saja mendapat hidayah Islam melalui lisan Anda, maka itu lebih baik dari barang termewah sedunia. Pahala berlipat-lipat.

[B] Sekarang, jujurlah saja. Ketika ada yayasan, ormas, atau kelompok tertentu yang 'Islami' mengundang Anda untuk ceramah di depan mereka dengan topik bebas, apakah Anda menghadirinya?

Apakah Anda menghadirinya?
Apakah Anda berkenan menjadi penebar kebaikan di sana?

Subhanallah...betapa terbaliknya banyak manusia. Ketika kita mencela sebagian dai televisi, 'Dai televisi mata duitan. Mencari dan mengejar dunia semata. TIDAK AKAN MAU CERAMAH KECUALI IMBALANNYA BESAR!' ternyata tingkah kita seperti ini:

"Tidak akan mau ceramah/menyampaikan kebenaran kecuali pada kelompok/golongannya sendiri"

Maka, jadilah seorang penasehat dan penyeru untuk umat, bukan untuk golongan sendiri. Dakwah pun tak terbatas di antara tiang dan tembok masjid atau di dalam kelas. Dengan tutur dan pekerti, bisa pula kita berdakwah dan menjadi perantara hidayah bagi manusia.

Contohlah para masyaayikh dan ustadz yang merangkul banyak audiens dari berbagai corak mereka. Jangan contoh sebagian penyeru yang hanya ingin merangkul yang setuju, menendang yang tidak setuju. Menjadi penyeru berarti bertugas sebagai penyampai, bukan sebagai penentu eksekusi penalti. Dakwah kita adalah untuk semua.

[01] "Setan Pun Takkan Mengupahi"


oleh Hasan Al-Jaizy

Risalah ini untuk siapapun yang berusaha menebar manfaat dan hikmah dalam berdakwah, entah itu sekadar klaim semata, atau memang cerminan realita. Bahwa sebagian lisan berpedang kalimat memerangi pengkotak-kotakan dan hizbiyyah, namun keberadaan dan tingkah mereka justru menjadi sebuah kekentalan hizbiyyah baru. Dan ketika kita mengiba-iba mengidam-idam mengharap-harap di depan umat bahwa inginnya kita adalah persatuan umat, justru kita sehari-hari menikam umat dan menambah perpecahannya. Jikalau ada penyembah setan melihat kondisi kita seperti itu, mereka tambah jumawa dengan tanduk-tanduk kambing Baphomet. Jikalau kaum atheis mengerti gejolak perpecahan yang kita buat, niscaya kemenangan mereka diterjemahkan oleh bahak-bahak.

Berusahalah dalam berdakwah untuk tidak man-tashniif dan mengkotak-kotakkan muslimin, terlebih mengencingi martabat mereka. Padahal mereka adalah bagian dari kaum muslimiin. Jika ketika bersuanya kita dengan seorang Kristiani, lalu kita langsung mengumbar perbedaan dan aib agamanya atau pemimpin agamanya, maka sehentak detik ia akan marah terhadap kita. Maka, apa fikirmu jika yang kita tikam adalah juga seorang muslim? Dan di mana akal pergi jika yang tertikam adalah orang-orang shalih yang hanya berbeda pendapat di beberapa perkara?

Jika pernah kita berlaku seperti itu, maka

Wednesday, October 17, 2012

Terlanjur Keren


oleh Hasan Al-Jaizy

Bukan bermaksud mengumbar keganjilan atau keganjalan, tapi sekadar menggambarkan yang ada dalam realita. Karena ada jadinya akhwat semangat ikut kajian karena sudah terlanjur melihat pematerinya adalah orang keren. Tafsiran keren di sini: bisa 'ganteng', bisa 'terkenal'.

Dulu, ketika penulis masih mondok di kaki gunung Merbabu, bersama pendekar-pendekar lain yang bersabuk hitam, Ki Fityan Amali Lc pernah berpesan kepada kami. Pesan itu merupakan salah satu bekal untuk kami ngajar ABG di Bogor ketika liburan. "Murid-muridku, jika rupanya nanti ada yang suka pada rupa kau punya, jangan sekali patahkan hatinya seketika. Kau bimbinglah mereka. Beri mereka pemahaman. Jangan jadikan mereka sakit hati dan anti terhadap ilmu yang kau bawa. Sekarang, pergilah, anak muda. Aku doakan kalian tuk bisa menyebarkan ilmu yang kalian timba di perguruan ini."

Lalu kami jawab, "Siap, guru!"

Tuesday, October 16, 2012

Taring Kobra

oleh Hasan Al-Jaizy

Saya teringat dan selalu akan teringat insya Allah perkataan Syaikh Ahmad bin Umar Al-Hazimy -hafidzahullah- perihal salah satu point penting manhajiyyah mencari ilmu, yang artinya:

"Janganlah kamu tergesa-gesa dan ingin cepat sampai dalam menuntut ilmu. Orang yang tergesa dan ingin cepat sampai, pasti ada khalal [kecacatan/aib] dalam hatinya, yang biasanya berupa hubb adz-dzuhuur [ingin tampak] atau lainnya."

Bolehlah kalimat itu menjadi salah satu wadah cermin untuk kita masing-masing. Kalaulah kemudian kita mau menoleh ke reality sekarang, banyak pula anak-anak muda hendak cepat-cepat. Belum habis ikan terjaring di kolam, hendak cepat menjaring di danau. Dan belum lama menjaring di danau, hendak kemudian langsung berlayar melaut di samudera.

Itulah kita...

Saya teringat beberapa

Sunday, October 14, 2012

...Suku-suku Agar Kalian Saling Kenal IV


oleh Hasan Al-Jaizy

Ketika itu, ada beberapa orang sedang safar. Mereka berjalan jauh. Seorang dari mereka kemudian kepalanya terkena batu, entah bagaimana jadi dan caranya, batu itu pun melukai kepala. Namun hal tersebut tentu saja tak merubah situasi kaum yang sedang safar. Mereka berjalan sebagaimana lazimnya.

Orang yang terluka kepalanya pun ketika tertidur, bermimpi basah alias junub. Tentu saja kemudian ia wajib untuk mandi junub, agar terizinkan secara syar'i untuk menunaikan shalat wajib. Lalu ia bertanya pada kawan-kawannya, "Kepala saya sakit. Apakah saya mendapat rukhsah [keringanan] untuk ber-tayammum saja, tanpa mandi?"

Teman-temannya berkata, "Kami lihat engkau tak punya alasan kuat untuk mendapat keringanan, saudara. Kau mampu untuk mandi."

Maka ia pun mandi,

Saturday, October 13, 2012

...Suku-suku Agar Kalian Saling Kenal III

oleh Hasan Al-Jaizy

Dan memang, saudaraku, dakwah itu harus diniatkan sebagai menegakkan kalimat Allah. Menegakkan kebenaran. Bukan menegakkan cengkraman kelompok sendiri, atau partai dan semacamnya. Ya, mungkin saja hal tersebut ada manfaatnya, tapi marilah kita mengaca pada kaum salaf jua pengikutnya, mereka mencari ilmu, beramal dan berdakwah murni demi Allah. Embel-embel hizb, party dan semacamnya tidak ditemukan. Jikalau ada, semoga Allah memaafkan mereka dan kita semua.

Apakah suku-suku diciptakan agar sekedar kenal? Tidak hanya itu. Kalian saling mengenal agar kalian saling tahu bagaimana menyampaikan kebenaran agar diterima dalam perbedaan adat, tradisi atau budaya.

Di antaranya adalah bahasa. Bahasa asing bisa menjadi kendala besar. Bagaimana bisa seorang dai yang medok Jawa datang ke pedalaman Irian Jaya atau tidak usah jauh-jauh, ke pedalaman Banten saja untuk menyampaikan risalah? Satu negara namun asing berbahasa. Mengenali bahasa orang-orang setempat bisa menjadi kewajiban bagi dia yang ingin menegakkan kebenaran.

Apakah hizb-hizb diciptakan agar saling kenal? Hmm...sulit juga untuk

Friday, October 12, 2012

.... Suku-suku Agar Kalian Saling Kenal I


oleh Hasan Al-Jaizy

Saya termasuk orang yang sangat suka mendengar teman bercerita tentang desanya. Mulai dari karakter manusia, letak geografis, gambaran agrikultural, budaya atau adat, dan lain-lain. Berkumpul bersama majmuk manusia dari latar daerah berbeda memberikan rasa tertentu. Hal itu saya rasakan sejak teman-teman sekelas saya masih memakan bangku sekolah di pondok. Sekarang, teman-teman kampus saya malah memakan bangku kuliah. Kasihan sungguh teman-teman saya, bangku kok dimakan!?

Begitu juga keseharian bergaul bersama teman-teman berlatar pendidikan berbeda. Dari pondokan hingga super umum. Juga ada perbedaan pemikiran religius yang tidak parah tentunya. Keseragaman yang kaku bisa menghancurkan indahnya keberagaman. Bukankah lebih baik kita beragam namun tetap memakai seragam?

Seragam itu banyak fungsinya. Di antranya adalah untuk mempersatukan yang awalnya berbeda-beda. Kalau saya mendengar cerita-cerita perjalanan dakwah teman atau siapapun di kampung, selalu hadir rasa haru. Dakwah di kampung juga penuh tantangan dan bahkan kadang beresiko. Sehingga pendekatan orang kampung tidak dengan sekadar bicara halal haram lalu dalil dan selesai. Jika ikut syukur, jika tidak ikut berarti sesat. Ups, kalau yang begini bukan di kampung saja, di kota pun juga tak seenaknya. Hanya, masyarakat kampung adalah masyarakat taqlid buta. Mereka tidak melihat zahir dalil. Toto kromo justru bisa menjadi sila pertama yang tersakti. Dan juga, mereka takkan rela dilabeli sebagai orang2 bertaqlid buta alias membebek. Lagipula, ngapain juga

Wednesday, October 10, 2012

Tindak Tunduk

oleh Hasan Al-Jaizy

Cobalah mempraktekkan ini: segala yang menyelisihi pemikiranmu harus dikritisi segera. Maka kau akan temukan dirimu mengabaikan penyimpangan yang terjadi di dalam dirimu sendiri. Manusia tidak bisa melahap segalanya; karena itulah manusia jika tidak bisa meruntuhkan segalanya.

Cerita ini ada. Seorang guru ngaji yang bertahun-tahun dari masa mudanya [pra-30 tahun] hingga tua selain berprofesi sebagai petani di desa, ia juga tiap selepas maghrib mengajar ngaji untuk anak-anak, dan selepas isya untuk dewasa. Okelah, ia bukanlah guru ngaji modern yang menerapkan metode mengajar mutakhir menarik dan cepat sampai. Tapi, apresiasi harus mengalir untuk guru ngaji ini, yang mendedikasikan tenaganya untuk ilmu, meski

Friday, September 21, 2012

Tus-Tus-Tus...Jut-Jut-Jut...Mil-Mil-Mil...Bisnis Deh

oleh Hasan Al-Jaizy

Kalimat tersebut saya dengar dari lisan seorang aktor sebuah sinetron di SCTV tadi selepas Isya. Kebetulan melirik sedikit pada TV yang sedang on di rumah teman. Kalimat tersebut seharusnya menjadi sindiran yang super sarkastik bagi ustadz-ustadz komersil yang ilmunya hanya dibayar oleh uang ataupun pamor. Tidak cukup untuk ustadz, tapi untuk seluruh artis yang memainkan peran saleh ataupun bejat di film, yang konon dianggap sebagai dakwah dan berhikmah, namun sebenarnya bertujuan cari duit.

Bapak saya pernah menyimpulkan sebuah kesimpulan setelah melihat beberapa kejadian di bumi ini: 'Seorang yang awalnya idealis, ketika disuguhi duit, atau pamoritas, idealisme nya akan teruji dahsyat. Dan rata-rata akan terkikis.' Benar saja, mungkin sample seperti itu berkali-kali terlihat oleh mata kita. Seseorang yang dulunya keras dalam melawan arus, namun akhirnya lemas ejakulatif setelah ditodong oleh tuntutan uang dan kemasyhuran.

Uang dan Kemasyhuran 
Kenapa Uang? Karena kita membeli apa yang dibutuhkan atau yang tidak dibutuhkan dengan uang, meskipun dalam beberapa kondisi, kebahagiaan dan rasa sayang tidak akan bisa dibeli dengan uang. Dan sifat manusia umumnya tidak cepat puas. Jikalau ia puas, maka itu

Sudah Bukan Jamannya Lagi

oleh Hasan Al-Jaizy

Lha, ini khusus untuk lulusan pondok [kalo wong Jowo menyebut pondok: pondhuok]. Yang saya maksudkan: sudah bukan zamannya lagi lulusan pondok masih terlihat culun, kumel, kucel, ga elok dipandang, jelita [jerawat lima juta] ga diurus, rambut kriwel-kriwel, sarung dipake dua bulan dan seterusnya.

Sudah ga nge-trend lagi lulusan pondok cuma bisa ngaji Qur'an dan kitab kuning, sementara skill lainnya 'nothing' [dengan mimik dan pelafalan ala Wendi Cagur]. Tahu ga sih kalau kita ini dituntun oleh zaman untuk banyak tahu dan banyak bisa? Bukan berarti kalau sudah mahir melantunkan Surat Yasin, lalu suci begitu saja. Atau jangan merasa jumawa sendiri kalau sudah bisa membaca kitab kuning yang botak tak berharokat bahkan kadang terlihat pitak karena salah cetak.

Sekarang ini people tidak mudah terkesima karena

Saturday, September 15, 2012

Pembaharuan Keikhlasan Di Setiap Langkah dan Amalan

oleh Hasan Al-Jaizy

Salah satu manfaat yang terasa dari upaya menjaga keikhlasan adalah rasa tenang atau damainya ketika beramal. Dan rasa tersebut bukanlah keburukan, melainkan anugerah yang mungkin boleh dikatakan sebagai berkahnya keikhlasan. Justru, yang mengerikan adalah ketika kita mendamparkan upaya untuk ikhlas [lillahi ta'ala], tetapi tetap merasa nikmatberibadah. Ini, bisa jadi sebuah istidraaj [penangguhan yang buruk].

Hal tersebut [merasa tenang dan nikmat padahal tidak ikhlas] disebabkan terbiasanya hati akan ketidakikhlasan. Lebih spesifik lagi jika dicontohkan seperti begini: Seorang pencari ilmu yang terbiasa mengemis pujian manusia dan menjadikannya tujuan. Semoga kita semua dilindungi dari hal seperti ini. Bukan berarti kita pasti bebas dan tak akan seperti ini. Siapa menjamin? Karena itu, curahan nasihat ini diutamakan kepada penulis status ini dan kemudian pada pembacanya.

Padahal Begini:

Padahal Nabi bersabda: