Wednesday, January 30, 2013

Wakakakak...Ngustad Kok Masih Bujang?

oleh Hasan Al-Jaizy


Wakakakak...Ngustad Kok Masih Bujang?

Atau, beri judul lain: Masih Bujang Kok Ngustad?

Untuk membalikkan 'ejekan' di atas, cukup dengan kalimat: "Anda yang sudah tidak membujang kok belum bisa jadi ustadz?"

Dan jika ternyata ia adalah seorang ustadz, maka cukup dengan kalimat: "Anda yang sudah ustadz kok menertawai ustadz lain karena bujangnya?"

====================================

Berawal dari status sahabat saya malam ini, Ust. Zarkasih [tanpa tag], yang Jum'at kemarin mendapat peran berdakwah di mimbar hari Jum'at. Beliau sudah biasa khutbah Jum'at. Dan beliau masih 'single'. Bagi yang mau daftar, silahkan untuk tidak mendaftar ke saya; karena saya sendiri menutup pendaftaran, bagi diri sendiri, maupun bagi orang lain.

Nah, sahabat saya ini ditanya oleh seorang pegawai di kantor tempat masjid ia khutbah, "Anak sudah berapa, ustadz?"

Menyimak Kuburan Keramat

oleh Hasan Al-Jaizy


Pertanyaan keramat hari ini adalah "Pak Ustadz, apa hukumnya mendengarkan lantunan Al-Qur'an dari seorang Qari HIZBI? Seperti Syaikh XX yang terkenal itu?"

Pak Ustadz: "Baiknya antum mendengar lantunan dari Qari Ahlus Sunnah saja! Tapi, sebenarnya tidak apa-apa."

*^%^$&*$%$%#%^*^

"Pak Ustadz, apa hukumnya diimami seorang imam hizby?"

Pak Ustadz: "Baiknya antum cari imam Ahlus Sunnah saja, seperti saya misalnya."

"Pak Ustadz, apa hukumnya tidak menghizbikan orang hizby?"

Pak Ustadz: "Berarti orang itu hizby."

===================================

Cari versi lain saja. Begini:

"Pak Ustadz, apa hukumnya mendengar bacaan Qari Hizby?"

Pak Ustadz: "Hukumnya maklum, tatacaranya masyhur, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah"

"Pak Ustadz, apa hukumnya diimami seorang imam hizby?"

Pak Ustadz: "Selama kehizbian tidak membatalkan keislaman, shalat dan imamah, maka pertanyaan ini jawabannya jelas."

"Pak Ustadz, apa hukumnya tidak menghizbikan orang hizby?"

Pak Ustadz: "Berarti antum ga ada kerjaan lain."

"Pak Ustadz, apakah boleh menimba ilmu dari seorang guru yang manhajnya ga jelas?"

Pak Ustadz: "Yang ga jelas itu manhaj gurunya atau antum? Kalau manhaj gurunya ga jelas bagi antum, bisa jadi karena antum sendiri yang ge jelas. Kalau antum merasa manhajnya sudah jelas dan menilai manhaj guru antum ga jelas, maka jelaskan manhaj antum pada guru tersebut, setelah jelas manhajnya, barulah berguru padanya. Repot, kan?"

"Pak Ustadz, apakah antum hizby?"

Pak Ustadz: "Inilah pertanyaan yang ga jelas maunya apa."

=================================

Hizbiyyah (dalam artian: fanatisme) bisa menghalangi seseorang dari kebenaran. Sibuk dalam pelabelan hizbiyyah juga bisa menghalangi seseorang dari pembelajaran.

Love Her Before Meeting Her

oleh Hasan Al-Jaizy

I just want to tell my wife someday that these times I really think of her and try hard to reach her...to grab her ini the unknown. Trying hard to fix problems...to find money...

....then I'm gonna tell her one day that to find you was not easy and made some rains in my youth.

....then she has to know that I already made a sacrifice before she does.

I already love her before I meet her, even before I know her.


Tafsir Surat AL-MASAD

oleh Hasan Al-Jaizy

Fawaid 0032: "Tafsir Surat AL-MASAD"

Surat Al-Masad adalah surat urutan 111 dalam mushaf, berjumlah 5 ayat dan turun di Makkah.

=======SURAT AL-MASAD========

[1] تَبَّتْ يَدَآ أَبِى لَهَبٍۢ وَتَبَّ

"Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa."

[2] مَآ أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُۥ وَمَا كَسَبَ

"Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan."

[3] سَيَصْلَىٰ نَارًۭا ذَاتَ لَهَبٍۢ

"Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak."

[4] وَٱمْرَأَتُهُۥ حَمَّالَةَ ٱلْحَطَبِ

"Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar."

[5] فِى جِيدِهَا حَبْلٌۭ مِّن مَّسَدٍۭ

"Yang di lehernya ada tali dari sabut."

=======MUFRADAT/KOSAKATA=======

==> [تَبَّ] = Binasa; rusak. Di ayat pertama, disebut kata ini dua kali sebagai penguatan.

==> [أَغْنَىٰ عَنْ] = Mengayakan; Mencukupi; Memberi faedah. Lalu ditambahkan مَآ yang sejatinya berfungsi sebagai naafiyah (menafikan) khabar setelahnya. Berati: tidak memberi faedah.

==> [كَسَبَ] = Usaha; Mendapatkan.

==> [يَصْلَىٰ] = Terbakar; Terpanggang; Masuk ke dalam. Ditambah kata نَار setelahnya memberikan maksud: Masuk ke dalam neraka dan terbakar di dalamnya.

==> [لَهَبٍۢ] = Gejolak atau nyala atau jilatan api.

==> [ٱلْحَطَبِ] = Kayu bakar

==> [ جِيدِ] = Leher

==> [حَبْلٌۭ] = Tali

==> [مَّسَدٍۭ] = Serabut

========TAFSIR [AS-SA'DY]=========

Abu Lahab adalah paman Nabi -shallallahu alaihi wa sallam-. Ia amat memusuhi dan menyakiti beliau. Ia tidak memiliki balas budi dan tidak memiliki semangat kekerabatan. Semoga Allah Ta'ala memberinya balasan buruk. Karena itu Allah Ta'ala amat mencelanya yang merupakan kehinaan baginya hingga Hari Kiamat seraya berfirman,

[1] [تَبَّتْ يَدَآ أَبِى لَهَبٍۢ] "Binasalah kedua tangan Abu Lahab", yakni rugi dan celakalah kedua tangannya . [وَتَبَّ] "Dan sungguh ia akan binasa", sehingga ia tidak akan beruntung.

[2] [مَآ أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ] "Tidaklah berfaidah kepadanya harta bendanya" yang dimilikinya sehingga ia bisa berlaku semena-mena dan tidak pula berguna baginya, [وَمَا كَسَبَ] "Dan apa yang ia usahakan" tidak akan bisa menangkal adzab Allah Ta'ala sedikitpun bila datang ia menimpa.

[3-5] [ سَيَصْلَىٰ نَارًۭا ذَاتَ لَهَبٍۢ] "Kelak ia akan masuk ke dalam api yang bergejolak", yakni neraka akan mengelilinya dari segenap penjuru, dia [وَٱمْرَأَتُهُۥ حَمَّالَةَ ٱلْحَطَبِ] "dan istrinya, pembawa kayu bakar." Istrinya juga amat menyakiti Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam-. Abu Lahab dan istrinya saling bahu-membahu dalam dosa dan permusuhan. Ia menimpakan keburukan dan berusaha sekuat tenaga menyakiti Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- sehingga dosa-dosanya menumpuk di atas punggungnya, sama seperti orang yang menumpuk kayu bakar dengan tali yang telah disiapkan di lehernya. [ مِّن مَّسَدٍۭ] "Dari sabut", yaitu dari pintalan sabut atau ia membawa kayu bakar di neraka untuk suaminya dengan mengalungi tali dari sabut di lehernya.

Bagaimanapun juga dalam ayat ini terdapat tanda-tanda kebesaran Allah Ta'ala yang nyata, karena Allah Ta'ala menurunkan surat ini ketika Abu Lahab beserta istrinya belum mati. Allah Ta'ala memberitahukan bahwa keduanya akan disiksa di neraka dan itu pasti. Sebagai konsekuensinya, keduanya tidak masuk Islam. Dan terjadilah seperti yang diberitahukan oleh Dzat Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata.

Wallahu a'lam

18 Rabi'ul Awwal 1434



Hizby Bak Mandi...eh...Hizby Bak Oase

oleh Hasan Al-Jaizy



Berkali-kali, entah di dunia nyata atau selainnya, saya dengar ikhwah hizbiyyuun (langsung saja saya cap 'Hizbiyyun' karena kita -saya dan mereka- sama-sama tahu bahwa mereka ber-tahazzub secara nyata; meskipun jangan-jangan saya sendiri juga Hizby karena bersahabat dengan mereka) mengutip perkataan emas yang baru:

"Kalian seharusnya contoh saudara kalian [baca: golongan kalian] di Mesir! Mereka kini lebih terbuka wawasannya. Mereka sudah punya partai sekarang. Dahulu, bukankah mereka dan juga kalian paling anti dengan partai!? Sekarang, justru karena situasi dan ijtihad non-kolektif (dalam artian: tidak disepakati semua kalangan dari berbagai negara), mereka punya partai. Namanya sudah jelas: HIZB. Hizb Cahaya. Hizby. Tak apa-apa toh ngizby?"

Tanggapan saya (sebagai orang kecil tidak masalah jika dituduh Hizby) adalah:

[1] Kalian berfikir bahwa seluruh kaum S di Mesir itu sepakat atas pembangunan Hizb tersebut; padahal tidak! Mereka terbagi menjadi 2. Satu mendukung, dan satu mengkritisi. Saya pribadi -karena bukan orang sana dan tidak punya keahlian- tidak mendukung tidak pula mengkritisi. Tetapi, berusaha menghormati karena itu adalah hasil ijtihad 'sebagian' dari ulama mereka.

Menjadi Yang Terharap...Game Kekerasan

oleh Hasan Al-Jaizy


Menjadi Yang Terharap...Game Kekerasan

Menjadi Yang Terharap

Menjadi Yang Terharap

Selagi saya tahu bahwa menggapai cita-cita dan harapan itu bukanlah mimpi semata tanpa upaya menyicil tabungan langkah dan bergerak menunjunya, maka saya mengajak diri sendiri serta diri selain saya sendiri untuk tidak 'ngemeng' saja atau 'ngarep' saja.

Bahwa suatu asa akan terwujud secara absolut jika Allah wujudkannya. Namun, Allah takkan merubah suatu kaum hingga kaum tersebut berupaya merubahnya jua. Sementara, keadilan-Nya tertuang di fakta bahwa Dia takkan membebani hamba di luar batas kadar dan kodratnya. Artinya: Teruskan perjalanan entah sendirimu atau bersama kafilahmu dan berusahalah. Mungkin kau akan terombang-ambing sebelum tiba di dermaga, namun Dia lah yang akan sampaikan jasadmu menujunya.

Seperti seorang yang mempunyai cita sebagai penulis kelak. Tentu ia harus mencicil sedari benih cita-cita masih kecil tabungan-tabungan karya, asahan-asahan dan latihan-latihan. Konyol sekali jika ia berharap kelak mampu menjadi penulis handal sementara kesehariannya lebih suka mencokolkan mata pada TV dan mengaibaikan panggilan-panggilan buku, kertas dan pena. Oh, kini sudah modern...panggilan laptop dan gatalnya jemari.
 

Mengenal Rabb

oleh Hasan Al-Jaizy


Fawaid 0031: "Mengenal Rabb"

Mengenal Rabb adalah landasan pertama yang wajib diketahui oleh setiap menusia (tanpa kecuali).

Jika ditanyakan padamu, "Siapa Rabb-mu?"

Maka jawablah tanpa ragu: ”Rabbku adalah Allah yang telah menciptakanku, dan semesta ini dengan nikmat-nikmat dari-Nya. Dia adalah sesembahanku. Tidak ada sesembahan yang berhak untuk kusembah selain Dia. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

"Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam," [Q.S. Al-Fatihah: 2]

Tuesday, January 29, 2013

Amal Orang Kafir yang Terlaku Sebelum Masuk Islam

oleh Hasan Al-Jaizy


FAWAID 0030: "Amal Orang Kafir yang Terlaku Sebelum Masuk Islam"

Jika seorang kafir masuk Islam kemudian bagus keislamannya, maka kejahatan dan keburukan masa lalunya kala masih kufurnya ia, terampuni. Allah -Subhanahu wa Ta'ala- berfirman:

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ وَإِنْ يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّتُ الْأَوَّلِينَ

"Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: "Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunah (Allah terhadap) orang-orang dahulu"." [Q.S. Al-Anfal: 38]

Perbuatan baiknya akan dibalas dengan kebaikan, sesuai dengan riwayat Hakim bin Hizam -radhiyallahu anh-. Ia berkata kepada Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam-, "Bagaimana pendapat engkau terhadap perkara yang aku amalkan pada masa jahiliyyah dari sedekah, pembebasan (budak) dan menyambung tali rahim, apakah baginya pahala (untukku)?" Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- bersabda:

Syi'ah...Yang Penting Disukai...Sedikitpun

oleh Hasan Al-Jaizy


Syi'ah...Yang Penting Disukai...Sedikitpun

Syi'ah

Syi'ah

Dalam perkara Aqidah, Syi'ah Imamiyyah sudah dikenal ketidakjelasan dan ketidakpastiannya di kalangan Sunni. Pengagungan mereka terhadap Imam pun juga berunsur kejahilan. Mereka menunggu Imam Al-Muntadzar [yang ditunggu-tunggu] yang kelak melalui Imam itulah hidayah dan sa'adah manusia tersebar. Sampai sekarang, imam tersebut belum muncul juga, entah dari Sirdab ataupun lainnya. Dari Subang sampai Merauke, sejak Doel Sumbang sudah bisa Karaoke, tidak ketahuan kapan munculnya.

Mengenaskannya, mereka mengklaim bahwa imam tersebut pasti akan muncul jua. Betapa banyak yang mengklaim punya jaringan dengan Laila, tapi Laila sendiri kesulitan mencari sinyal.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (w. 724 H) pernah mendengar lelucon aqidah dari suatu kelompok Syiah tersebut, tepatnya diucapkan oleh seorang imam mereka. Begini kalimatnya:

Menegakkan Kebonengan .... Membasmi Kejenggotan!

oleh Hasan Al-Jaizy


Menegakkan Kebonengan .... Membasmi Kejenggotan!

Itu bukan manhaj kita. Itu bukan keinginan kita. Kebonengan, menurut mayoritas orang sok boneng, adalah bersifat pluralitas. Artinya: muta'addid. Artinya: tidak cuma satu. Artinya: Setiap orang boleh memilih kebonengan yang menurutnya boneng. Dan yang menyelisihinya dilarang merasa paling boneng atau menyalah-nyalahkan kebonengan yang dianut orang lain. Tapi ngakaknya, orang-orang pluralis sendiri secara tidak langsung terlihat sok paling boneng dan mencegah kebonengan orang. Boneng-boneng bodoh mereka itu!

Juga sebagian warga perguruan hijau, banyak kebonengan yang berdasar dan berpijak mereka abaikan. Bahkan terang-terangan mereka lawan. Sudah boneng-boneng para ikhwah berdakwah, "Ya akhi, jangan lebay di kuburan orang saleh. Itupun jika benar yang dikubur adalah orang saleh. Kalau ternyata yang dikubur adalah bukan orang saleh, atau malah mayat kuda, biji mane? Biji siape?" Tapi, mereka langsung mengaplikasikan dan mengoperasikan software anti-virus pembasmi kejenggotan. Yang paling beken ya kalimat-kalimat ini:

--> Dasar otak cingkrang!
--> Dasar otak kebanjiran!

Sebenarnya orang-orang boneng yang berusaha menasihati, ketika memutuskan untuk cingkrangan dan terlihat kebanjiran, mereka memikirkannya pakai otak dan menyepakatinya dengan sanubari. Dan kebonengan mereka itu berasas. Tidak seperti kawan-kawan ini, sudah tahu tidak boneng, ketika diajak untuk memboneng, malah tetap membolang ke kuburan keramat. Sudah gitu, merasa paling boneng pula. 

Baydewey, sebenarnya boneng ga sih jika dikatakan, 'Kebonengan itu pluralitas; tidak hanya satu saja, melainkan relatif.'

Jawab:

Dalam beberapa kondisi, perkataan itu boneng, gan. Tapi, perkataan itu adalah sebagai pembonengan dan legalisir atau legitimasir syahwat pengucapnya supaya pendapatnya tidak digugat, tidak dikritik dan tidak dibatalkan. Nah, justru tingkahnya inilah yang merupakan gambaran telak dan mutlak merasa boneng. Kalau dia merasa tidak boneng sendiri, seharusnya ia legowo menerima kritikan dan gugatan. Dan jika kritikannya lebih boneng dan mendekati kebonengan absolut, maka wajib baginya melepaskan kebonengan lama.

Itu dari satu sisi.

Dari sisi lain, perkataan itu mewariskan kejanggalan abadi. Karena sejatinya yang namanya boneng adalah boneng, tanpa bersifat pluralitas. Kalau mau dibilang relatif, nah...itu bisa cocok. Karena begini: 

[1] Ada yang namanya kebonengan absolut [pasti], ada pula kebonengan relatif [nisbi]. Contohnya:

"Hasan Al-Jaizy itu pria". Ini adalah kebonengan absolut. Semua orang pasti merasa boneng dengan perkataan tersebut.

"Ustadz Potokopi itu tayangan keren." Ini adalah kebonengan relatif. Tidak semua orang menganggapnya keren. Sinetron ini dikira orang akan memperbaiki dunia ustadz dengan cara kritik dan sarkasme tingkat tinggi dibalut kehidupan merakyat. Tetapi, bagi sebagian orang yang berakal boneng, sinetron ini justru menjatuhkan kesakralan dunia ustadz dan mempermalukan agama.

[2] Ada yang namanya kebonengan musyaarak [bersama], ada pula kebonengan ghairu musyaarak [tidak bersama]. Ini mirip dengan nomor pertama. Tapi ada sedikit perbedaan yang terlihat di contohnya:

Bahwasanya penilaian akan kecantikan dan kegantengan seseorang itu tidak selamanya relatif, tetapi ada yang musyaarak. Di antara wanita tercantik di dunia, ada yang secara normal semua manusia akan mengakuinya cantik. Iya, kan?

Nah, sebenarnya dan seharusnya, sebuah kebonengan absolut musyarak itu juga berupa:

"Orang berjenggot itu keren"

Tanggal berapa sekarang?

17 Rabi'ul Awwal 1434


Ar-Razy...Seperti...Humor?

oleh Hasan Al-Jaizy


Ar-Razi...Seperti...Humor?

Ar-Razi

Ar-Razi

Adalah Fakhruddin Muhammad Ar-Razy (w. 606 H), seorang ulama besar, pemikir terhormat yang 'terlalu' pintar. Beliau menggeluti ilmu Kalam segelut-gelutnya. Hingga dosen saya, ketika membuka kitab Mafaatih Al-Ghaib, karya beliau di bidang Tafsir, ia mengatakan, "Saya membuka kitab Ar-Razy yang satu ini, tidak saya fahami sedikitpun maunya apa." Tetapi, seorang mahasiswa fanatik pada suatu ormas yang kala itu masih kuliah di Al-Azhar Mesir, romannya 'mengerti' tafsir tersebut. Dia melakukan sebuah perlawanan pada pemilik tulisan ini beberapa tahun lalu dengan 'copas' tulisan Ar-Razy. Atau, memang kitab itu dipelajari di sana? 

Ar-Razy, sebagaimana yang masyhur terkait ulama ahli Kalam, tentu saja dianggap wasting time dan wasting topics. Terutama dalam masalah Tauhid Rububiyyah. Di antara kelompok Ahli Kiblat yang membenamkan fikiran pada Tauhid Rububiyyah adalah kaum Sufiyyah. Mereka -jika tidak dibilang menafikan- mendevitalisir dan meminimalisir kepentingan Tauhid Uluhiyyah; padahal justru Rasulullah membawa risalah demi memberantas kemusyrikan dan kekufuran. Dan tujuan penciptaan adalah penghambaan, bukan? Coba buka Surat Adz-Dzariaat ayat 56. Oh, makanya, banyak dari kaum Sufi, baik itu di negeri padang pasir (Arab) atau di negeri padang ilalang (Indonesia) bisa brutal dalam beribadah. Tidak ada aturan. Bahkan bukan sebuah hot news jika kita melihat seorang penggelut Sufi melakukan sesuatu yang orang gila saja merasa tidak pantas melakukannya.

Seperti apa itu?

Seperti apa itu?

Seperti curhat di kuburan wali. Tidak sekadar curhat. Curhat itu toh curah isi hati. Tapi, ini beda. Sampai minta didoakan oleh si mayyit supaya dapat rejeki dan supaya para murid tidak jadi seperti Komunis. Kalau orang gila menonton ini, ia bisa-bisa jadi waras lagi; karena merasa 'wah, ternyata ada yang lebih gila dari gue'.

Atau, 'nyemil' kotoran wali. Lihat saja rekaman pendeknya di Youtube. Entah di negara mana itu.

Dancing, Roqs, Tarian, Nyanyian dan Humor Sufi. Semua itu pas disebut dengan 'Nada dan Dakwah'. Joget-joget dengan lagu Arab [marawisan atau apapun namanya] dan meyakini bahwa itu merupakan tradisi dan budaya Islam. Tradisi mbahmu kuwi. Tradisi mbokmu kuwi. Tidak ada dalam Islam tradisi seperti itu. Tidak ada sahabat mengenal tradisi Dancing, Humor dan muhdatsaat lainnya. Kalau mau meng-humor, ya jangan terlalu sering. Wong Sufisme sendiri sudah humor kok, mau nambah humor?

Humor

Humor 

Selera humor tiap manusia tentu saja relatif. Tidak bisa disama ratakan. Seorang Batak, meskipun terkesan keras dalam berbicara, bisa jadi memiliki selera humor yang sangat-sangat tinggi. Saya pernah mengajar di sebuah kelas les privat. Isinya 2 anak saja. Keduanya sedang duduk di bangku SMP. Lelaki. Kelas itu sepinya minta ampun.

Kenapa? Karena keduanya tidak akan mau bicara kecuali diajak bicara atau ditanya. Jika didiamkan selama sejam, mereka pasti akan diam. Tidak bisa mereka berdua melucu. Dan ketika gurunya melucu, pelit sekali menuai tawa. Kelas semacam ini layak disebut Kelas I'tikaf saja. Adem-ademan sambil tafakkur betapa sepinya dunia ini.

Humor itu, seperti kata orang, ibarat garam di sayuran. Sayuran tanpa garam, terasa hambar dan tawar. Namun, jika garamnya kebanyakan, sayurnya akan tidak enak. Begitu pula dengan manusia. Jika terlalu banyak menebar humor, ia akan dijauhi oleh orang-orang berakal. Kebanyakan humor itu justru membuat stress di akhirat. Para pelawak, mereka pandai berhumor, tetapi jangan dikira semua orang betah dekat-dekat seharian. Kalaupun dekat, itu pun demi uang, pamoritas atau 'numpang beken'. 

Lebih-lebih jika sudah membahas ayat atau hadits, humor mesti diminimalisir. Keduanya memiliki wibawa tinggi. Barangsiapa tak meninggikan keduanya, maka Allah pasti merendahkan dirinya. Barangsiapa tak mensucikan keduanya, maka Allah pasti menghinakan dirinya. Barangsiapa menghumori keduanya, maka....

....kau tahu sendiri akibatnya!


17 Rabi'ul Awwal 1434


MUSUH YANG NYATA!

oleh Hasan Al-Jaizy


Fawaid 0029: "Musuh Yang Nyata" 

Sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia, yang di antara mereka adalah hamba yang taat kepada-Nya, dan kebanyakan mereka adalah makhluk yang membangkang bahkan memusuhi agama-Nya. Allah telah mengatakannya dengan jelas bahwa musuh-Nya tersebut juga musuh para malaikat, para nabi dan rasul, yang tentulah juga musuhnya para hamba Allah yang beriman, sebagaimana firman-Nya:

مَن كَانَ عَدُوًّۭا لِّلَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَىٰلَ فَإِنَّ ٱللَّهَ عَدُوٌّۭ لِّلْكَٰفِرِينَ

"Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir." [Q.S. Al-Baqarah: 98] 

Berkata Al-Qurthuby:

وهذا وعيد وذم لمعادي جبريل عليه السلام ، وإعلان أن عداوة البعض تقتضي عداوة الله لهم. وعداوة العبد لله هي معصيته واجتناب طاعته ، ومعاداة أوليائه. وعداوة الله للعبد تعذيبه وإظهار أثر العداوة عليه.

Monday, January 28, 2013

Kenapa Mesti Fathul Bary dan Al-Umm?


oleh Hasan Al-Jaizy

Bukan sekali saya dapatkan beberapa kawan yang beraliran Ahlus Sunnah wal Jama'ah [ga pake disingkat] atau langsung saja saya sebut: Salafiyyuun, menuturkan bahwa kitab impian mereka adalah Fathul Bary karya Ibnu Hajar. Kalau tidak Fathul Bary, maka beralih ke kitab Al-Umm karya Asy-Syafi'i.

Yang sejujurnya, kok ketika diamati, kawan-kawan kita tersebut justru ga ngerti atau kurang faham manzilah, derajat atau seberapa keramatnya kedua karya agung itu. Tidak tahu persis apa isinya. Bukan berarti saya tahu persis. Tapi:

Fathul Bary itu berjumlah 15 jilid tebal-tebal. Di cetakan lain, ada pula sampai 17 jilid. Ada pula 13 jilid.

Al-Umm itu berjumlah 11 jilid tebal-tebal. 

Sementara, membaca Fathul Bary itu tidak semudah kita membaca Matan Abi Syuja' atau kitab Al-Mulakhkas Al-Fiqhy. Tidak se-simple kitab Al-Wajiiz karya Al-Badawy. Fathul Bary itu cukup rumit. Ilmu Hadits benar-benar terpasang di sana. Banyak Penjabaran riwayat ini dan itu. Ushul Fiqh juga masuk, karena yang namanya syarh nash wahyu ya sangat membutuhkan ilmu tersebut. Dan banyak lagi. 

Islamic Book Fair 2012 = Kuburan Keramat II


oleh Hasan Al-Jaizy

Islamic Book Fair 2012 = Kuburan Keramat II

Hari itu, semua teman sekelas saya terlihat ceria sekali. Dari yang biasa tidur di kelas, menjelang jam pembagian uang, ia tegak dan sigap. Jangan-jangan itu saya sendiri. Kita pun ke maktabah [perpustakaan], tempat di mana pesangon 2 juta itu dibagi-bagi.

Dan entah siang itu atau esoknya, tapi sepertinya siang itu juga, saya berencana ke IBF. Sebelumnya, saya mencari teman perjalanan yang juga berencana mau ke sana siang itu. Ternyata sahabat saya yang master hurup F dan P ini berencana sama. Kalau begitu, siang ini kita akan berdua ke IBF. Sebelumnya, saya harus mengunjungi rumah kosnya terlebih dahulu. Kita makan bareng di sana.

Maka, pergilah kita berdua. Naik Busway. 

Maka, sampailah kita berdua. Turun Busway.

Maka, berjalanlah kita berdua. Menjauhi Shelter Busway.

Maka, sampailah kita berdua. 

Pengunjungnya banyak juga. Kita berdua keliling-keliling. Sahabat saya ini rupanya selain mencari beberapa kitab Arab, ia mencari beberapa kitab terjemahan bidang Aqidah/Tauhid buat kurikulum di sekolah yang dahulu ia belajar di sana. Dia sudah menjadi 'tokoh' kecil di daerahnya. 

Islamic Book Fair 2012 = Kuburan Keramat I

oleh Hasan Al-Jaizy


Islamic Book Fair 2012 = Kuburan Keramat I

Seorang sahabat saya, sekelas di kampus, berasa dari Sunda, beberapa minggu yang lalu menanyakan sesuatu pada saya. Pertanyaan itu yang kembali menguak memori masa silam di tahun 2012. Kenangan berharga, yang ingin saya ceritakan di sini. Bukan bermaksud merendah atau berbangga. Tetapi, kenangan ini spesial sekali untuk saya.

Pertanyaan sahabat saya adalah, "Gimana Maret nanti, mau ke Book Fair bareng lagi ga?"

Saya terkejut dengan pertanyaan itu. Karena sudah lama tak mengingat IBF. Tentu saja saya berharap bisa datang ke event penting -bagi saya- itu. Bukan sekedar datang, namun mengais kitab-kitab yang lama saya idamkan. Itu pun kalau punya duit. :hammer

Brrr...selepas pertanyaan itu, saya termangu. Mengingat kenangan spesial. Sesuatu yang amat berharga.

Begini ceritanya:

Jangan Banyak Tawa!


oleh Hasan Al-Jaizy

Fawaid 0028: "Jangan Banyak Tawa"

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa Sallam- bersabda:

لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ , فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

"Janganlah kalian banyak tertawa. Sesungguhnya banyak tertawa itu mematikan hati." [H.R. Ibnu Majah, no. 4191 dan 4193]

أَقِلَّ الضَّحِكَ ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

"Sedikitkanlah tawa. Sesungguhnya banyak tertawa itu mematikan hati." [Adabul Mufrad, no.246]

Al-Munawi mengatakan:

وهو كيفية يحصل منها انبساط في القلب مما يعجب الإنسان من السرور ويظهر ذلك في الوجه والإكثار منه مضر بالقلب منهي عنه شرعا وهو من فعل السفهاء والأراذل مورث للأمراض النفسانية 

"Dan (tertawa) itu adalah tata cara mendapatkan perluasan di hati dari apa yang dikagumi oleh manusia perihal kesenangan. Hal itu terpancar di wajah manusia. Dan memperbanyak tertawa berbahaya bagi hati. Ia terlarang secara syar'i. Itu adalah perbuatan sufahaa' [orang-orang bodoh] dan rendahan yang dapat mewariskan penyakit-penyakit kejiwaan." [Faidhul Qadiir Syarh Al-Jami' Ash-Shaghiir, Zainuddin Al-Munawi, 1/162]

At-Thiiby berkata:

Sebutan Faqih, Untuk Siapakah?

oleh Hasan Al-Jaizy


Fawaid 0027: "Sebutan Faqih, Untuk Siapakah?"

Saya akan memulai catatan kecil ini dengan sebuah hadits yang sudah lama sekali -alhamdulillah- saya hafal:

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

"Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan, maka Dia akan menjadikannya seorang Faqih dalam agama." [H.R. Bukhary (1/27), (4/103), (6/152) dan (9/125), Muslim (3/95), Ahmad (4/101), Ad-Darimy (230). Lihat: Jaami' Al-Ushuul fi Ahaadiits Ar-Rasuul, oleh Majd Ad-Diin Ibn Al-Atsiir, 3/8, Tahqiiq Syaikh Abdul Qadir Al-Arna'uth dengan Ta'liq dan Takhrij Syaikh Ayman Shalih Sya'ban, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah.] 

Hadits di atas adalah hadits PERTAMA yang saya hafal dalam mata pelajaran Hadits saat baru duduk di bangku Muthawassithah [setingkat SMP] kelas 1 di Pondok Pesantren Islam Al-Irsyad Tengaran. Guru saya kala itu adalah Ust. Naharuddin Syuhada -hafidzahullah-. Beliau lah yang mengajarkan saya beberapa hadits. Kami masih ingat ketika itu kitab hadits yang sangat sederhana, bersampul jingga dengan faedah yang semoga teringat selamanya.

Hadits ini sangat agung. Makna yang terkandung sangat patut direnungi; sehingga diharapkan menghasilkan motivasi ataupun iradah [kemauan] bagi pembaca yang belum menuntut ilmu syar'i sama sekali agar memulainya, dan bagi yang sudah menuntutnya -baru atau sudah lama- terus melakukannya hingga akhir hayat.

Persaudaraan dalam Islam

oleh Hasan Al-Jaizy


Fawaid 0026: "Persaudaraan Dalam Islam"

Persaudaraan yang dimaksud di sini adalah persaudaraan dari segi agama, yaitu Islam. Bukan yang termaksud: persaudaraan nasab, atau persaudaraan mukhtalaq [dibuat-buat] yang murni bersifat duniawi, seperti persaudaraan antar pecinta suatu permainan, buku, olahraga, musik dan selebihnya. Persaudaraan ini yang kita sebut: Al-Ukhuwwah Al-Islamiyyah.

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌۭ

"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara." [Q.S. Al-Hujurat : 10]

Merupakan sifat persaudaraan Islam terindah adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah. Ketika Anda memiliki seorang sahabat, tentu Anda akan berusaha menyukai apa yang disukai sahabat Anda, atau membenci yang ia benci. Ini adalah gambaran persahabatan secara umum. Namun, persahabatan dalam Islam, tidak membebaskan kesukaan dan kebencian akan sesuatu begitu saja; melainkan harus di dalam aturan yang Allah tetapkan, yakni tidak menyukai perkara yang diharamkan meskipun sahabatnya menyukai, dan tidak membenci perkara yang dipandang baik oleh syariat.

Persaudaraan antar muslimin adalah perkara penting, berdasarkan ayat di atas. Bahkan Syaikh Abu Hamid Al-Ghazali -rahimahullah- mengkiaskan tali persaudaraan itu bagaikan tali ikatan [akad] pernikahan. [Ihya' Uluum Ad-Diin, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali, 2/173] 

Karena dalam akad pernikahan, ada hal-hal dan hak-hak yang wajib ditunaikan juga dijaga. Maka, saudaramu pun memiliki hak yang wajib ditunaikan atau dijaga, baik itu harta, jiwa, lisan, hati, doa, ketulusan, dan lain-lain. 

Sunday, January 27, 2013

Kerennya Ilmu Perbandingan

oleh Hasan Al-Jaizy

Ilmu paling keren itu ya ilmu perbandingan. Seperti ilmu perbandingan agama [Muqaaranah Al-Adyaan], atau ilmu fiqh perbandingan [Fiqh Al-Muqaaranah] atau lainnya kalau ada lagi. Kok paling keren:

Karena seolah-olah pelajarnya atau pegiatnya itu TAHU banyak. Tahu sana sini. Tahu ushul agama seberang. Tahu metode istinbath madzhab-madzhab. Nama yang cukup keren: Kristologi! Beuh. Lalu ada tulisan, Pak Fulan, pakar Kristologi. Keren sekali. Lalu, beberapa anak muda jadi ingin menyelami Kristologi karena 'kerennya'. Dalam bayangannya, kelak ia akan jadi orang besar dan tahu agama lain, seluk beluknya hingga mampu membantah hujjah agama lain.

Tapi, ngakaknya, ternyata ushul agama sendiri belebek-belebek. Ketika ditanya Rukun Islam dan Iman, mikir dulu. Ketika ditanya perkara lainnya yang dharury [yakni: yang tidak layak seorang muslim tidak tahu], jawabnya ngaco. Ditanya: "Allah itu ada di mana?"

Jawabannya malah: "Allah ada di mana? Allah ya ada di mana-mana!"

DAKWAHMU = SEDEKAHMU

Oleh Hasan Al-Jaizy

Dakwahmu = Sedekahmu

Jika merasa jahil [tidak tahu], maka itu bagus. Jika merasa masih standar atau kurang, maka itu ada bagusnya. Merupakan sebuah upaya tawadhu' adalah merasa diri belum seberapa memberi, belum banyak memiliki, dan belum hebat melampaui. Betapa banyak para masyaayikh dan asaatidzah yang mengatakan, "Saya hanyalah pencari ilmu [thalib]", bahkan mengatakan, "Saya hanyalah thuwalib al-ilm [penuntut ilmu yang kecil]."

Dan tak sekali dua kali mendengar seseorang berucap, "Ilmu saya masih cetek, ragu berdakwah disebabkannya. Lebih baik saya menjadi penyimak saja."

Amat disayangkan. 

Seorang muslim, selama dia merasa dirinya muslim dan selama dia memang muslim, telah Allah berikan kesempatan untuk berdakwah. Amat disayangkan jika seseorang merendah diri namun menafikan kesempatan yang terjulur di depan wajahnya. Mungkin ia berfikir bahwa berdakwah itu adalah seperti apa yang dilakukan para ustadz dengan ceramah, menulis kitab, atau seperti yang dilakukan para pencari ilmu yang pintar menulis status dan menjelaskan beberapa hukum.

Gambaran di atas benar. Namun, dakwah itu tidak hanya gambaran tersebut berupa! 

Jika seseorang copas sebuah ayat yang agung semisal ayat pertama surat Al-Ikhlas ke statusnya, lalu tekan post dengan niatan ibadah disertai harapan:

Pengangkatan Derajat Orang Alim

oleh Hasan Al-Jaizy


Fawaid 0025: "Pengangkatan Derajat Orang Alim"

Allah Ta'ala mengabarkan secara khusus tentang diangkatnya derajat orang berilmu dan beriman. Allah Ta'ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍۢ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌۭ

"Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." [Q.S. Al-Mujaadilah: 11]

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa Sallam- bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

"Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Al-Qur'an beberapa kaum dan Allah pun merendahkan beberapa kaum dengannya." [H.R. Muslim, no.817 dan Ahmad no.232]

Berdakwah di Dua Dunia

oleh Hasan Al-Jaizy

Jika Anda tidak berdaya berdakwah di dunia nyata, maka budidayakan berdakwah di dunia maya. Namun, jika Anda berdaya di keduanya, utamakan di dunia nyata. Dan jika dakwah Anda berjaya di kedua dunia, wasiat terbaik adalah tetaplah istiqamah dan jangan takabbur.

Manusia yang tak berdaya di dunia nyata, belum tentu ketidakberdayaannya disebabkan oleh dirinya. Kadang Allah menguji manusia dengan kenyataan pahit dan kesempitan yang nyata. Dan inilah rahmat Allah. Ketika seolah segalanya tersumbat di dunia nyata, dunia maya Dia ciptakan. Untuk memberikan kesempatan belajar mengajar bagi siapapun yang di dunia nyata kesulitan.

Beberapa gadis 'dikurung' orang tuanya dan dilarang keluar mencari ilmu, meskipun hanya ke pengajian. Mereka mengeluh dan iri pada siapapun yang bebas terbang ke masjid atau kampus manapun. Namun, Allah membuka bagi mereka pintu kesempatan di dunia maya. Di sana, ia bisa temukan taman-taman, yang di dalamnya ada jembatan persaudaraan bahkan jembatan menuju surga.

Dan beberapa manusia, jelas tak punya nama besar di lingkungannya, tak terpandang dan tak teranggap. Bahkan, sekali ucapan dan seruan dari mulutnya selalu berbalas penolakan. Namun, Allah membuka bagi mereka pintu kesempatan di dunia maya.

Jika Anda bisa merengkuh keduanya, yakni dua dunia, maka Anda mampu memanen pahala tiap kala.

Kerusakan Di Muka Bumi Adalah Kemaksiatan Terhadap-Nya

oleh Hasan Al-Jaizy


Fawaid 0024: "Kerusakan Di Muka Bumi Adalah Kemaksiatan Terhadap-Nya"

Allah Ta'ala berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ قَالُوٓا۟ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

"Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." [Q.S. Al-Baqarah: 11]

Abu Al-Aaliyah [w. 93 H] berkata tentang ayat di atas: "Yakni janganlah kau bermaksiat di muka bumi, karena orang yang bermaksiat kepada Allah di muka bumi atau menyeru kepanya, maka ia benar-benar telah membuat kerusakan di muka bumi Allah. Perbaikan bumi dan langit hanyalah dengan taat kepada Allah dan Rasul-Nya." [Tafsir Ibn Abi Hatim no. 121]

Jika banyak manusia yang hidup kota berharap lebih sehat hidupnya, mereka serukan slogan "Back To Nature". Namun, seorang mukmin yang benar-benar beriman, demi ishlah dan maslahat hayat, ia akan serukan "Back To Al-Kitab and Sunnah".

Allah Ta'ala telah mengabarkan pada kita tentang saudara-saudara Yusuf alaihissalam dalam firman-Nya: