Showing posts with label Politik. Show all posts
Showing posts with label Politik. Show all posts

Sunday, October 25, 2015

Jangan Bicara Politik Dulu Deh

oleh Hasan al-Jaizy


Di antara nasehat murabbi saya yaitu bapak saya sendiri: Jangan bicara politik umat dulu. Teruskan saja track ngaji kitab. Istiqamah saja dulu di situ. Biarkan orang-orang itu bicara, padahal mereka bisa saja ga ngerti gimana politik Indonesia.

Begitu.

Termasuk politik: hizb hizb yang ada sekarang.

Soal politik negeri dan kengeriannya, saya lebih percaya sama beliau, karena tergolong kabir jiddan sejak era 80an mengamati dan mengoleksi data. Wartawan jaman dulu beda dengan era kini. Dulu kejar satu berita saja bisa safar. Valid dan berharga. Lebih kenal. Hizb hizb yang exist sekarang bertalian sama politik.

Makanya saya diam ah tentang politik, selain ikut petuah bapak, ya karena saya jahil memang tentang itu.




Friday, January 11, 2013

Belum Kiamat, Tetapi [Kayaknya] Sudah Terlambat

oleh Hasan Al-Jaizy



Tahun-tahun belakangan dan sampai sekarang atau sepertinya masih terus berlanjut, sebut saja mas Justin Habibers dan teman-temannya selalu meledek orang-orangan sawah yang celananya terangkat itu, "Surga sudah kalian pesan ya? Kalian pemegang kunci surga ya? Kalian punya hak menentukan siapa masuk surga siapa masuk neraka ya?"

Tapi, mas Justrin Habibers dan Supi Herandehs juga konco-konco dari perguruan silat sealiran sepertinya hari-hari ini sedang sibuk. Atau mungkin sedang menikmati masa liburan kuliah. Atau memang tutup mata tutup telinga jika ternyata ada seorang sesepuh mengatakan:

"Siapa yang tidak memilih pilihan kita, yaitu Raja Dangdut, ketika dia wafat, dia tidak masuk surga!"

Thursday, September 20, 2012

Kemenangan Jokowi-Basuki Adalah Kemenangan Etnis Tionghoa, Kaum Nasrani, Kaum Sepilis [Sekuler-Pluralis-Liberalis] dan....

oleh Hasan Al-Jaizy

Segala puji bagi Allah yang memberikan kita ujian dalam kehidupan dan pujian bagi yang bertahan dalam ujian. Setelah berhari-hari menelaah dan membaca beragam artikel atau opini Kompasioner di Kompasiana, banyak sekali faedah dan kesimpulan yang ada di benak. Salah satu kesimpulannya adalah judul tulisan ini.

Kompasiana adalah sebuah media atau istilah barunya: 'Blog Keroyokan' yang berisikan ribuan tulisan para kompasioner. Di dalamnya seakan ada segala berita yang rata-rata dibungkus dengan opini. Topik mengenai Pilkada DKI 2012 putaran kedua sangat banyak, sehari bisa mencapai 50 artikel lebih. Jika dihitung seminggu, mungkin bisa mencapai 400.

Karena mayoritas penulis di Kompasiana adalah orang berfaham sekuler atau yang mendekatinya, maka tentu maklum akan hadirnya opini-opini sekuler dan terkesan ingin mengenyahkan bau agama dalam dunia perpolitikan. Yang saya temukan,

Monday, September 17, 2012

Kenapa Diam?


oleh Hasan Al-Jaizy

Kenapa Kita Diam?
Kenapa Kita Diam?
- Kenapa kita diam ketika Jakarta, kota dimana kita bertempat tinggal, esoknya esok-esok akan mengadakan putara kedua pemilihan pemimpin?
- Kenapa kita diam saja, padahal tiap hari kita 'diam-diam' membaca detik, kompas, republika, arrahmah, voa-news, tentang pemilihan pemimpin untuk Jakarta?
- Kenapa kita diam padahal calon terkuat adalah sepasang orang baru yang tersambut baik karena prestasi; namun satu dari pasangan tersebut adalah non-muslim dan mereka berpotensi terkuat meraih jabatan?

Kenapa Kamu Diam?
Kenapa Mereka Diam?

- Kenapa hanya teman2 yang kita cap sebagai hizby, haroky dan seterusnya justru mementingkan perkara ini [ancaman ngeri: dipimpin non muslim]?

- Kenapa ketika seorang personil P*S merekrut calon penjabat dari pihak non-muslim, kita langsung berdiri dan menghardik-meneriaki kebijakan partai itu, tapi ketika Jakarta hendak dipimpin non-muslim, kita tidak berdiri, tidak menghardik dan sebisik pun tidak?

Kenapa Kita Diam?

Friday, September 14, 2012

Indonesia - Arab - Persia


oleh Hasan Al-Jaizy

Saya bukan orang Arab, bukan Persia, terlebih Yahudi. Ketiganya adalah ras manusia. Dan di sini bukan berarti saya membela ras Arab tanpa memandangnya tak bercacat. Arab juga memiliki kekurangan.

Sejak dahulu kala, sudah berkali-kali guru saya kabarkan bahwa kaum Yahudi [yang beragama Yahudi] sangat sangat mendengki pada Islam. Karena kedengkian itulah, permusuhan mereka terhadap Islam berabad-abad. Selain didasari karakter buruk itu [dengki], mereka juga suka menutup al-haq [kebenaran] atau minimal: mencampur-aduk yang haq dengan yang bathil. Kamuflase Yahudi.

Dan baru tahun-tahun belakangan ini, semakin nyata ada kaum yang mirip dengan Yahudi atau bahkan lebih buruk lagi. Yaitu Persia dengan kedengkian Majusi-nya, namun bercover Islam. Dasarnya mereka membenci Arab dan mendengki sejadi-jadinya. Fanatisme kesukuan Persia sangat kuat; meski saya tak bisa memungkiri orang Arab juga memiliki fanatisme ras.

Yahudi dan Persia keroyok Arab. Bagaimana cara mereka menghancurkan Arab? Pertama, hancurkan dulu nama dan kewibawaan negara Arab yang terbesar dan terpusat, yang dinamakan Saudi Arabia. Saudi adalah menjadi musuh bebuyutan Yahudi dan Persia. Keduanya berusaha menebar aib-aib Saudi; dan BUKAN berarti Saudi tidak bercela.

Apakah kita akan terbawa arus makar Yahudi dan Persia dengan bisikan-bisikan panas dari mereka tentang Saudi? Jika nama Saudi dan reputasinya sudah buruk di mata kaum muslimin, maka jalan menuju kehancuran Islam semakin lapang. Karena, negara mana lagi yang akan diandalkan dan dijadikan pusat/center Islam sunni? Indonesia? Ugh, Indonesia pun sedang menjadi lahan proyek penyebaran racun Yahudi dan Persia.

Saturday, September 8, 2012

Sinetron

oleh Hasan Al-Jaizy

Rasa-rasanya tragedi terrorisme di negara ini bagai sinetron, berkonflik, terkatrol, tak kunjung tertemu, berepisode panjang, terkesan seperti 'mengalihkan isu', dimanfaatkan kaum oportunis dan seterusnya. Sinetron pun menyetir opini masyarakat sebagaimana peliputan dan pemberitaan akan terrorisme juga menyetir opini masyarakat.

Seperti sinetron 'Tukang Bubur Naik Haji', misalnya. Dari judulnya, memberi kesan bahwa akan ada hikmah di balik nama tersebut. Pasti ada suatu kebaikan dari tukang bubur. Namun, sebenarnya makin kemari, yang di-ekspos bukan hikmah dari tukang buburnya, melainkan JUSTRU keburukan perilaku sepasang Haji-Hajjah yang sudah 2x haji. Mereka berdua tak berhenti dari rasa dengki, kikir, dan seterusnya. Ini justru [entah memang ini yang diinginkan atau bukan] menyetir pandangan masyarakat yang kemudian akan berkata, 'Ah, percuma ibadah haji kalau seperti itu muamalahnya.' Dan inilah propaganda kaum sepilis, mereka berusaha merendahkan nilai-nilai ibadah dalam syariat dan membungkus dengan judul segar dan seolah berhikmah! Makanya, kita sering dapatkan kalimat: "Ah, buat apa berjilbab kalau akhlaknya buruk!?"


In Fact...

Thursday, September 6, 2012

Warga Kita Mulai Cerdas

oleh Hasan Al-Jaizy

Kata sebagian sekularis, 'Kalian tidak usah banyak mempropagandakan doktrin kalian kepada manusia. Warga Jakarta atau bangsa Indonesia sudah mulai cerdas dalam merajut cerita dan menentukan siapa calon pemimpinnya.'

Dan kita boleh juga katakan, 'Kalimat itu pun sebenarnya propaganda kalian untuk mengipas-ngipas warga yang sedang kegerahan dan keringatan, sehingga mereka jadi merasa adem. Padahal mengipas diri yang sedang keringatan bisa berefek terhadap kesehatan.'

Begitu juga perkataan 'cerdas' untuk warga atau bangsa kita. Cerdas what?

Thursday, August 30, 2012

Rengkuhan Keadilan

oleh Hasan Al-Jaizy

Saudara-saudara kami, yaitu para pencari ilmu yang mulia, begitu semangatnya membahas perkara Khawarij atau Terrorisme, dengan tak lekang mengupas aib-aib dan menegaskan hujjah atasnya. Sungguh ada rasa syukur dari kita akan keberadaan ikhwah yang semangat akan kebenaran. Alhamdulillah.

Namun, ini pesan kami:

"Jikalau antum banyak-banyak membaca kitab mengenai Freemasonry, Zionisme, sejarah perjuangan kemerdekaan negeri, propaganda Sepilis, Theosofi, kecacatan demokrasi dan semacamnya, insya Allah antum tidak akan se-semangat itu dalam membahas perkara Khawarij dan Terrorisme.

Seperti yang kami dengar dari salah seorang ustadz yang sudah menggeluti dunia dakwah, media dan memantau pergerakan2 sekuler, liberal atau Islami semenjak lebih dari

Monday, July 2, 2012

Sampah dan Bokong-bokong Gatel

oleh Hasan Al-Jaizy

Sampah dan Bokong-bokong Gatel

[1] Siapa penyampah terjasa hari-hari ini? Para calon pemerintah kota saya. Mereka menyumbang sampah demi bisa duduk di kursi. Jadi, jika tiap mereka meng-klaim bahwa Jakarta akan bersih dari sampah di kemudian hari, kita boleh berhujjah: "Lho, sebelum Anda dilantik saja Anda sudah mengirim sampah di tembok2 lingkungan kami; angin apa yang membuat Anda bertekad membersihkan Jakarta?"

[2] Pernah saya keluhkan pada rekan kerja masalah narcissisme para calon pemimpin yang sudah melampaui batas kecalon-pemimpinan; karena wajah mereka 'ada di mana-mana'. Seakan mereka menyaksikan Anda selalu dan selalu Anda harus ingat mereka. Rekan saya bilang, 'Yah, emang sudah waktunya, bos. Namanya juga menjelang pemilihan.'

[3] Good job, bapak-bapak. Memasang muka di mana-mana demi memasang bokong agar bisa duduk di kursi. Dan apakah kacung-kacung mereka yang menempelkan poster siap membuang semua itu setelah pemilihan hingga bersih!? Atau, tergantung kondisi hati? Atau, tergantung hasil pemilihan!? Dan jelas sekali ego plus syahwat kekursiannya...yang terpenting dapat kursi, masalah poster tempel dulu, bersihkan entah kapan...

[4] Jadi, sepertinya untuk mengobati gatelnya, harus melakukan pencitraan dengan memasang poster di mana-mana ya? Apakah Indonesia seperti itu selamanya? Dimulai dari para calon-calon sebelum pemilihan dulu, lalu diikuti oleh para habib-habib jalanan, juga majelis dzikir para preman dan pengangguran, dan kini calon pemerintah kota saya.......as always

[5] Sampah dan bokong-bokong gatel. Nyampah dulu, demi obati bokong yang gatel.

[6] Setelah membaca point 5, mungkin di antara Anda akan ada yang memulai mencari artikel di Google perihal dilarangnya menjelek-jelekkan pemimpin di muka umum. Tapi, Anda harus ingat bahwa mereka 'belum' menjadi pemimpin.

[7] Entah apa lagi yang harus dibanggakan dari bokong yang kegatelan.



Tuesday, June 26, 2012

Beberapa Point

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa points selagi kere tingkat internasional:

[1] Menjelang Pilkada atau Pemilu, pencitraan dilakukan oleh para kandidiat dan calon dengan cara memperbanyak jumlah sampah dan gambar-gambar merusak pandangan. Ini berulang-ulang, bertahun-tahun, bermasa-masa hingga menjadi adat dan tradisi wajib yang ditinjau dari segi akal: hanya dilakukan oleh badut-badut.

[2] Ketika kita ngoceh perihal hal besar dan panas, akan dikerubungi manusia, seperti lalat-lalat mengerubungi kotoran atau bangkai. Atau cukupkan hal kecil namun 'bau', mereka akan datang menghampiri; mengambil saripati berita penting, lalu menyebarkan ke jasad-jasad kotor.

[3] Lalu ketika kita bicara hal kecil namun ilmiah, manusia takkan menghampiri kecuali mereka yang 'sadar'. Wajar saja; karena selain mereka sedang sibuk menghisap saripati kotoran.

[4] You know lah, ketika kamu menjual perkakas dan perabot sederhana untuk rumah, yang datang hanyalah yang perlu dan sekedarnya. Dan ketika kamu menjual kotoran anjing dibungkus daun pisang lalu kau klaim ia sebagai pepes pisang [?], mereka akan penasaran.

[5] Jadi, menjelang Pilkada atau Pemilu, manusia akan sibuk kerubungi dan penasaran kira-kira siapa yang 'baru' dan bikin penasaran. Dan ternyata semuanya tidak baru, karena isinya sekedar: Janji, janji, janji, janji, sembari tebar pesona....yang faktanya semuanya itu berakhir pada 'kertas-kertas pencitraan yang sampah dan menyampah'.

[6] Manis di bibir, memutar kata...malah kau tuduh akulah pembungkus pepesnya. Siapa terlena pasti kan terpana, bujuknya, rayunya, kumisnya, yang menarik simpati dan i-em-tri.

Saya memakai i-em-tri, namun masih suka galau. Anda?

Monday, June 25, 2012

Beberapa Point

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point menjelang entah:

[1] Mungkin kalian -ketika melihat sebagian orang jahil mencela Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab atau Syaikh Nashiruddin Al-Albany dll- akan mengatakan: 'Inilah akibat dari 'ketidaktahuan akan hakikat siapa mereka' namun mudah memiringkan nama keduanya.

[2] Sebenarnya kasus mereka ada miripnya dengan kalian ketika menilai apa yang terjadi di Mesir dari Pemilu danterpilihnya orang yang 'better-than-the-other-one'. Mirip dengan kalian yang menilai itu semua miring; karena pendeknya pandangan dan kaki terkubur tak hendak lari kemana-mana untuk mencari khabar terpercaya.

[3] Karena tidak ada salahnya kita serahkan suatu perkara dan penilaian pada yang lebih memahami dan mampu menilai.

[4] Yang salah adalah ketika kelian menilainya miring selagi tak melihat atau menggubris pandangan orang yang justru jauh lebih alim dan mengerti dari kalian.

Sebenarnya ada kemiripan...cuma: [a] Siapa yang ga 'nyadar'? [b] Siapa yang tidak mau mengakui kemiripan tersebut terjadi pada dirinya!?



Wednesday, June 6, 2012

Point Penting Terkait Mesir

oleh Hasan Al-Jaizy


[1] Ulama-ulama Salafi di Mesir [melalui kajian mereka] menghimbau agar muslimiin ikut keluar rumah untuk memilih orang yang tepat; demi melawan eksistensi sekuler yang siap merajai dan hembusan-hembusan Syi'ah yang bermain...berputar-putar di sana. 

[2] Selama itu adalah fatwa hasil ijtihad ulama, maka jangan cela ulama lain yang juga berfatwa hasil ijtihadnya selama ia benar-benar menimbang dan mempunyai dasar.

[3] Selama itu adalah dalil qath'i yang jelas, maka hukum telah tetap, wajibnya atau sunnahnya atau mubahnya atau makruhnya atau haramnya. Tapi, jangan abaikan jika terdapat PENGECUALIAn atau kondisi darurat.



[4] Ada kaedah masyhuur [ اختلاف الفتوى باختلاف الزمان والمكان] yang artinya: "Fatwa itu Berbeda Disebabkan Berbedanya Zaman dan Tempat". Jadi, jangan mentang-mentang sudah pernah membaca satu fatwa, lalu memutlakkan hukumnya untuk segala kondisi, segala zaman dan segala daerah.

[5] Terlebih jika TIDAK TAHU kondisinya, maka lebih baik jangan membawakan fatwa yang bertentangan dan membenturkan fatwa ini dan itu; sehingga terjadi tabrakan keras dalam fikiran. Ujung-ujungnya, hal ini benar-benar terjadi:

"Ada beberapa orang berusaha untuk menjauhi sikap kesoktahuan, namun justru kemudian mereka terjelembab di kubangan kesoktahuan lainnya. Dan diperparah jika mereka tidak merasa terjelembab."


Maka:

[1] Jangan seenak udel-sempitnya menyamaratakan antara kondisi negara orang lain dengan kondisi negara sendiri; seakan-akan sudah mendalami kondisi negara tersebut hingga menjilati debunya.

[2] Neraca untuk memahami kalimat tentang perbedaan fatwa di atas ada 2:

a. Perubahan dalam fatwa, bukan perubahan dalam hukum syar’i yang telah tetap dengan dalil.

b. Perubahan itu sebabnya perbedaan zaman, tempat dan adat dari suatu negara dengan lainnya.

Dan Ibnu Al-Qayyim -rahimahullah- telah mengumpulkan keduanya dalam perkataannya: “Pasal: Tentang Berubahnya Fatwa dan Berbedanya, Berdasarkan Perubahan Zaman, Tempat, Keadaan, Niat dan Adat.” Beliau menyebutkan banyak contohnya di kitab I’laam Al-Muwaqqi’iin permulaan jilid 3.

[3] Sebaiknya jangan memahami kondisi suatu negara melalui pemahaman pribadi semata atau melalui pemahaman siapapun [entah awam atau alim] yang tidak melihat langsung atau diceritakan langsung. Jika ini dilakukan, maka sangat berpotensi Anda akan menyalahkan sesuatu yang tidak salah atau membenarkan sesuatu yang tidak benar.

[4] Ijtihad seorang ulama dan pendapatnya jika rajih dan benar, tidak berarti disegel rajih dan benar untuk segala zaman, kondisi dan tempat. Mungkin saja di suatu zaman nanti atau kondisi tertentu atau tempat khusus, pendapat tersebut tidak bisa atau bahkan tidak boleh dipakai. Barangsiapa yang me-ma'shum-kan [mengabadikan terjaganya] suatu pendapat yang sifatnya ijtihaady, maka perlu dipertanyakan...fanatisme atau taklid?


Yang akhir dari segala Anda baca di sini adalah:

'Doakan negara Mesir agar Allah rahmati dengan berdirinya pemimpin Muslim Sunni yang terbaik baginya'

Tidak butuh pertanyaan-pertanyaan berbungkus pengingkaran:
--> 'Wah, bagaimana mungkin bla bl bla?'
--> 'Memangnya bisa menegakkan ini jika bla bla bla?'
--> 'Tahu darimana Anda kalau bla bla bla?'

Lebih baik tanya diri sendiri dulu, lebih banyak mana:

'mendoakan mereka/orang lain atau menyalahkan mereka/orang lain?'


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/399034673471257

Tuesday, March 27, 2012

Demokrasi...Democrazy...Sontoloyo

oleh Hasan Al-Jaizy

DEMOKRASI...Democrazy...SONTOLOYO

[1] Kenapa Demokrasi? Karena kalau 'Demo' suaranya 'Keras' atau Dikeras-kerasi.
[2] Kenapa Democrazy? Karena kalau 'Demo', jadi crazy...ban dibakar, teriak2 melaknat, mobil dilempar, jalan diblokir dst.
[3] Kenapa Sontoloyo? Saat belajar/menimba ilmu, pengennya soantaai dan rasanya 'loyo'...ga keras lagi deh.

Hasil perkalian: Jadilah ia seorang mahasiswa Sontoloyo buodo yang demokratik. Sip!

http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/355325951175463

Wednesday, March 21, 2012

Abdi Negara dan Pejawat

oleh Hasan Al-Jaizy

 istilah 'abdi-negara' itu memiliki makna yang jarang diketahui insan Indonesia.

ABDI berasal dari bahasa Arab, bermaterikan huruf ain, ba dan dal [عبد] yang bisa bermakna:

1. Hamba [yang menyembah] : Worshipper
2. Hamba [yang membantu]: Servant

Ditambah NEGARA yang dimaksud adalah TANAH AIR, memberikan makna gabungan menjadi:

1. Hamba/Budak yang menyembah Tanah Air. Yaitu para nasionalis murni [pure nationalists]. 
2. Hamba/Budak yang membantu Tanah Air. Ini tidak disebut sebagai nasionalis murni. 

Sekarang, siapa yang sebenarnya mencalonkan diri sebagai Budak Negara? Jika sekedar negara/tanah air tujuannya, ke mana perginya 'agama'?

Itulah sistem kita. Negara, dengan budak [penyembah atau pembantunya] tanpa agama, dengan memuja patung bernama Sekularisme. Akhirnya? Kacau. Adakah yang ikhlas membantu manusia tanah air tanpa memperdulikan naik-turun kursi dan jabatan? Entah. Tapi, yang tampak di muka bumi pertiwi, yang ada semua memperdulikan tahta dan memperebutkannya.

Memperebutkan demi apa? Demi negara? Atau demi...........?


Kemudian. Apa arti PEJAWAT?

PEJAWAT dari kata JAWAT, yang asalnya adalah JABAT.

JAWAT---> PEJAWAT = JABAT---> PEJABAT
[Ditambahkan huruf N sebelum huruf J juga boleh]

Dinamakan MENJABAT karena sebelum ia memegang tahta/posisi, ia BERJABAT TANGAN yang artinya DEAL dan menyetujui peraturan dan bersedia MENANGGUNG BEBAN.

Realitasnya, apakah mereka yang telah MENJABAT benar-benar ikhlas menjabat tangan sebelum naik ke singgasana?

Yang tampak, rata2 mencari JABATAN tangan atau malah memperebutkannya.

Memperebutkan demi apa? Demi negara? Atau demi....?

If we think more, we know it more.
If it's ignored, devil's never bored.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/351862331521825

Tuesday, March 20, 2012

Manusia Memang Sombong Ya, Nduk

oleh Hasan Al-Jaizy

Mencalonkan diri sebagai abdi negara dan pejawat bagaikan menapak jalan menuju jurang berapi. Ketika sudah menjawat, lisan rakyat melempar bola-bola api membakar perasaan. Belum lagi api neraka yang siap melahap jika terbukti sistemnya kufur dan tak selamat dari fitnah jawatan non-Syar'i.

Manusia memang sombong ya, Nduk. Gunung dan langit enggan mengemban amanat karena takut berkhianat. Ealah, manungso yang secuil itu kok malah mencari-cari. Pas dilantik, bukannya menjadi pengayom, justru jadi tikus berdasi. Oalaah...

Jadi, ya ngene sisteme:

"Dari rakyat untuk rakyat"

"[Dipilih] rakyat untuk [dicela] rakyat"

Bangsa yang putus asa, bangsa yang memilih kemudian mencela.
Bangsa yang bodoh, bangsa yang memilih ndewe...pas jadi, dicela.

http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/351862331521825

Saturday, February 25, 2012

Merah Putih Biru

oleh Hasan Al-Jaizy

Coba Berfikir:

[1] Orang yang tak ikutan pemilu dengan sengaja disebut Golput [Golongan Putih]
[2] Orang yang ikutan seharusnya disebut Golhit [Golongan Hitam]
[3] Jika disuruh memilih putih atau hitam, saya pribadi memilih putih.
[4] Bendera Israel PUTIH-BIRU, bendera USA MERAH-PUTIH-BIRU, dan bendera partai pemenang pemilu: MERAH-PUTIH-BIRU

Kalau sudah rusak dari sistemnya, apakah pergerakan akan bergerak dengan baik? 

Tanyakan saja pada Obama, partainya dan anak buahnya di Indonesia: merah-putih-biru.

http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/337002289674496

Monday, December 26, 2011

Wayang-wayang Politik

oleh Hasan Al-Jaizy


[1] Salah satu politisi partai Islam [DOR!] itu menulis: 'Aku mengucapkan Selamat Natal bagi saudaraku yg merayakan. Damai semoga Indonesia Raya.'

[2] Prinsip: 'Sekali 'caper', terus 'caper'. Sekali 'carmuk', terus 'carmuk'. Intinya 'cakur'...Cari Kursi...atau 'catan'...Cara Setan...eh...Cari Jabatan"

[3] Walhasil: Umat yang bernatal senang+kesemsem...romannya bakal nyonte

ng. Well, kehilangan kepercayaan di umat Islam sendiri, sekarang carmuk dengan umat lain? Good job, bro!

[4] 'Kamu adalah moderat dan adil. Kamu mempertimbangkan gerakan, lisan dan tulisan sesuai dengan yang kau anggap 'sejahtera' dan 'adil'.' Kudukung pergerakanmu, agar semakin tampak yang mana kebatilan berbungkus kebaikan dan kebatilan berbungkus kebatilan.'





Note:

[1] Ungkapan satu atau beberapa anggota tubuh; tidak mewakili semua; karena beberapa anggota tubuh lain memiliki pandangan berseberangan.

[2] Romannya, logatnya, lagaknya begitu.

[3] 'Terima kasih, kalian sungguh toleran, tidak ekstrim dan moderat', ujar seorang yang lagi senang. Ups, mungkin ia akan dikasih jabatan sebagai kepala daerah besok2!?

[4] Hidupku terasa adil dan sejahtera tanpa berpartai kini atau tanpa kecondongan pada partai sana-sini.





Sunday, December 4, 2011

Jangan Bicarakan Mesir Jika Tidak Tahu

oleh Hasan Al-Jaizy

[1] Jangan kalian menilai Revolusi dan Pemilu Mesir sekenanya. Kalian bukan siapa-siapa kecuali thullab al-ilm ash-shigar yang baru melek sedikit.
[2] Jangan kalian dengan mudahnya kiaskan kondisi negara lain dengan milik sendiri. Ilmu dan pemahaman yang kalian punya sedikit dan belum luas.
[3] Jangan kalian berlaku konyol dengan merapatkan opini sempit pada dalil-dalil yang difahami secara sempit. Lebih konyol lagi, kalian tidak pernah ke Mesir namun sudah bisa mengetuk palu hakim.


Terkonyol:

Terkonyol adalah kalian sama sekali tidak pernah [entah tidak tahu atau tidak faham] mendengar opini masyaayikh dari tanah Arab yang LEBIH TAHU hukum Islam dan realitas Mesir.


Jangan jadikan ilmu yang sedikit terpunyai dan pengajian yang kadang dihadiri menjadi acuan untuk menghakimi suatu perkara besar yang sebenarnya setitik pun kalian tak punya keharusan menilainya sama sekali.

Jikalau ternyata 'kalian' adalah 'saya' pula, semoga Allah mengampuni kesalahan kita semua, dari kecerobohan dan kesombongannya.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/286239781417414