oleh Hasan Al-Jaizy
Saya punya kenalan, seorang mahasiswa lulusan sebuah kampus ternama di negeri ini, berbicara mengenai kemajuan ekonomi masyarakat. Ada satu pemikiran darinya yang membuat saya harus membantahnya. Kira-kira begini kesimpulannya: "Kita harus membangun sektor perekonomian yang kuat agar bisa menyaingi kedigdayaan orang non-muslim. Yaitu dengan bisnis [trading/berniaga/berdagang atau semacamnya]. Tapi BUKAN dengan cara menjual HERBAL seperti mereka-mereka itu."
Kalimat terakhir tentu saya fahami mengarah ke mana atau ke siapa. Untuk saat ini, penjual herbal biasanya digambarkan di benak sebagai seorang berjenggot dan bercelana unik serta terkesan kurang 'maju'. Saya fikir, pemahaman anak ini agak sempit. Dan saya tengok rupanya anak ini memiliki latar belakang keluarga yang berpenghasilan tinggi. Ah, wajar pula ia berfikir begitu. Tapi, harus ada bantahannya [dan sudah kita bantah/nasihati baik2].
Sebelumnya, di kampus saya sendiri, ada beberapa mahasiswa yang mencari peruntungan rizki dengan cara
Kalimat terakhir tentu saya fahami mengarah ke mana atau ke siapa. Untuk saat ini, penjual herbal biasanya digambarkan di benak sebagai seorang berjenggot dan bercelana unik serta terkesan kurang 'maju'. Saya fikir, pemahaman anak ini agak sempit. Dan saya tengok rupanya anak ini memiliki latar belakang keluarga yang berpenghasilan tinggi. Ah, wajar pula ia berfikir begitu. Tapi, harus ada bantahannya [dan sudah kita bantah/nasihati baik2].
Sebelumnya, di kampus saya sendiri, ada beberapa mahasiswa yang mencari peruntungan rizki dengan cara