Showing posts with label Kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Kehidupan. Show all posts

Sunday, October 25, 2015

What I Am Now Is Better Than What I Was

oleh Hasan al-Jaizy


Kadang saya iri sama rekan-rekan mahasiswa. Burden of life mereka masih berkutat di kampus, organisasi, tugas dan ujian. Rata-rata begitu. Kadang saya cemburu sambil menyesal akan masa kemahasiswaan saya sendiri dulu. Ada rasa mau kembali ke jaman itu lalu belajar lebih lagi. Sepertinya rata-rata sarjana ada pikiran begitu. Sepintar apapun.

Tiap fase selalu lahir sesalan. Sesal kenapa tidak dari dulu belajar lebih giat. Saya cemburu akan masa lalu atau mahasiswa yang belajar giat sampai malam demi gapai cita-cita. Dulu kalau begadang, dikerubuti buku. Sekarang kalau begadang sama buku, istri langsung cemburu. Keren kan?

Ternyata saya sadari, what I am now is better than what I was kala itu. Dan setiap kamu pun harus sadari, bahwa kamu versi kini adalah gift yang tiada di diri kamu masa lalu. Apa yang kamu punya kini, belum tentu kamu punya masa lalu. Apa yang terhilang telah berlalu. Apa yang berlalu, kenangan tak terhilang. Jika mau kita pikir, rasa syukur kita kadang hilang, padahal kenikmatan dari Allah jumlahnya tak terbilang.


Friday, October 23, 2015

Kelembutan Allah dari Peringatan Katak Ini

oleh Hasan al-Jaizy

Ada katak disebut di kita sebagai 'Katak Perut Api'. Banyak yang menyebutkan kodok karena memiliki kulit yang memiliki bentol-bentol yang biasanya umum dimiliki oleh kodok. Tapi sebenarnya dia ini katak, bukan kodok. Perutnya yang berwarna merah digunakan sebagai pertahanan diri. Saat predator mendekat, katak ini berdiri dan menunjukan perutnya. Itu riwayat yang saya temukan dari Kaskus.

Sementara, riwayat tambahan yang saya dapat dari National Geographic, katak ini memiliki sisi yang sangat dramatis dalam memalsukan kematian mereka. Saat berpura-pura mati, katak ini memutarbalikkan anggota tubuh untuk menampilkan tanda peringatan berwarna kuning atau oranye di bawah telapak kaki mereka. Mereka juga membalik punggungnya untuk menunjukkan tanda yang sama di perutnya.

Para pakar menyebutkan, bahwa dengan trik A dan juga B tersebut, yang sebenarnya intinya ingin menzahirkan 'warna' saja, maka para mangsa akan tahu bahwa katak ini 'beracun'. Lalu mereka akan menghindar. Saya menekankan di point ini. Subhanallah. Katak ini memberikan body language untuk hewan pemburunya, agar cari saja makanan lain supaya tidak kena racun dia. Ini selain bertujuan melindungi diri, bertujuan pula melindungi musuh dari kematian.

Saya benar-benar bersyukur, terlahir dalam keadaan Islam, masih dan semoga akan terus Allah berikan kenikmatan Islam. Ditambah syukur pula, saya masih belajar terus tentang Islam, walau saya adalah pemula. Ayo, para scientist muslim, kita sama-sama maju yuk.

Thursday, October 22, 2015

Kekeramatan Yang Kurang Diimpikan

oleh Hasan al-Jaizy

Kemarin sempat interview beberapa calon pegawai. Selain miris pada diri sendiri yang masih belum seberapa, ternyata ada kemirisan tambahan melihat para calon. Calon-calon guru di beragam disiplin ilmu dunia, seperti matematika, kimia, biologi, bahasa Indonesia sampai English. Saya tidak mempertanyakan keahlian mereka di bidang duniawi, tapi standar baca al-Qur'an dan wawasan keislaman teman-teman kita ini masih minim. Ini tanpa perasaan kelak di endingnya saya lebih baik dari mereka.

Sebagaimana menjadi rahasia umum yang sudah menjadi konsumsi bibir publik, banyak dari dokter sekarang, menakut-nakuti ibu hamil apalagi yang masih belia usianya dan belum punya experience cukup dalam kehamilan. Ujung-ujungnya rekomendasikan supaya bayi terlahir dengan cara Caesar. Penyakit demi penyakit atau gejala negatif dijabarkan dengan semangat oleh dokter beserta bidan asistennya. Bahkan kadang diceritakan, sang dokter terkesan maksa. Rupa-rupanya tidak sedikit kasus kongkalikong. Apalagi kalau mengejar duit? Bumil panik mendengar dor dor dari dokter. Saya pernah menyaksikan ini sebagai suami bumil.

Saya pikir, ini dokter apa teroris? Tahu ini orang lagi mengandung, kok malah main dor dor begitu saja. Lembut dikit kek. Ngarti dikit kek perasaan bumil ini. Saat dokter ngoceh terus berentetan sebut kasus-kasus parah, saya tatap tajam muka beliau. Saya pernah melihat Didier Drogba lari sana-sini kejar bola meneror para pemain yang sedang pegang bola, demi cari apresiasi pelatih dan penonton, yang ujung-ujungnya duit. Kok mirip ya ngototnya. Vonis penyakit dan harus langsung dibelek perutnya di awal cek kedokteran, dengan bahasa semaunya tanpa mikir perasaan, adalah hal yang jauh dari kamus kebijakan.

Kenapa mengejar Caesar, wahai dokter? Padahal Caesar kan sudah meninggalkan program lamanya. Apakah Anda mau sama dengan para penyelenggara tematik yang berburu Caesar dan yang semacamnya supaya hadirin dan duitnya banyak?

Akhirnya, saya pindah pilihan. Tidak mau ke dokter itu lagi. Saya browsing Inet, ditemukan beragam cerita kenakalan sebagian dokter. Mirip-mirip. Intinya kejar duit.

Alhamdulillah, ketemu RS yang profesional. Swasta dan biayanya lumayan membuat saya semakin tersadar bahwa saya harus lebih mendekatkan diri pada Allah. Pelayanannya memuaskan secara psikologis. Para dokter dan pasukannya sampai satpamnya membuat kami merasa comfort. Tempatnya juga nyaman dan wangi. Tak apa soal biaya kan soal rizki. Yang penting kita usaha supaya istri dan anak lebih tenang. Safety first, money later. Setelah dapat safety, giliran money bill, baru kita menangis later. Hehe.

Walaupun dari sisi profesionalisme dokter-dokter dan bawahannya ini saya acungi jempol tapi ada saja yang kurang buat saya. Vital. Apa itu? Sisi religiusitas!!! Ini nih. Mereka bekerja secara profesional duniawi. Andai mereka terpoles ke agama, saya akan senang menemukan suster-suster itu sering menyebut nama Allah, tidak hanya memberikan advice of health melainkan dibalut juga dengan menekankan sisi tawakal pada Allah. Tapi sayangnya tidak. Karena mereka tidak dididik untuk itu.

Inilah. Kita butuh Rumah Sakit Islam lebih banyak lagi. Bukan label Islam semata, tapi nilai moral pegawainya sangat islami.

Nah, kembali ke interview itu, saya berhadapan dengan para calon guru baik ikhwan maupun akhwat, dengan membawa otak Biologi, Kimia dan lain-lain. Di tempat saya kerja, nilai religiusitas sesuai pemahaman Salaf sangat diusahakan. Kinerja para pegawai relatif stabil. Prestasi demi prestasi terbangun. Meski saya sendiri belumlah seberapa mampu memperbaiki diri. Tapi wajib bersyukur kalau kita sudah mulai berusaha menanamkan jiwa religiusitas di tempat kita bekerja.

Saya iri sama teman-teman yang mahir Biologi. Kepingin kuasai Biologi. Miris hati kalau naik motor lihat pepohonan atau jalan di jalanan lihat hewan, tapi nothing to say tentang spesies, kehidupan, anatomi dan anything about them. Hanya bisa berkata mereka ciptaan Allah. Tapi apakah teman-teman anak Biologi sendiri, iri sama teman-teman yang faham baca kitab, mahir baca al-Qur'an?
Padahal di dalam al-Qur'an, disebutkan beberapa nama hewan, disebutkan beberapa macam tumbuhan. Selemah-lemah rumah adalah rumah laba-laba. Secara scientific, bagaimana membuktikannya? Kita sama-sama imani ayat itu, tapi secara keduniaan dan pembalutan sains, saya belum mengerti detail dan saya berharap mengerti.

Siapapun pegawai, kalau menjunjung nilai religiusitas di bidangnya, insya Allah akan lebih disukai.
Karena pegawai yang tak religius, dia hanya dapat dunia. Adapaun pegawai yang menjaga agamanya di gaweannya, dia dapat dunia dan dia punya saham di akhirat.



Sunday, January 6, 2013

Generasi Tidur Pagi


oleh Hasan Al-Jaizy


Tidur pagi, jika bukan disebabkan kurangnya istirahat malam, melainkan disebabkan kebiasaan, adalah KEBURUKAN. Jika itu adalah kebiasaan seorang bapak-bapak yang memiliki anak, maka ini adalah KEBURUKAN yang sangat buruk! Jika itu adalah kebiasaan seorang ibu yang memiliki anak, maka ini LEBIH BURUK lagi. 

Jika itu adalah kebiasaan anak muda, -terutama mahasiswa masa kini-, maka itu adalah BURUK.

Calon pemimpin bangsa ini rupanya punya kebiasaan buruk, yaitu tidur pagi. Setelah shalat Shubuh, tidur pagi.

Thursday, January 3, 2013

FALSAFAH PENSIL I

oleh Hasan Al-Jaizy


Pensil itu seperti dirimu dan kehidupanmu.

[1] Pensil itu berbentuk panjang tersedia. Ketika kau membelinya dari toko, ia masih tumpul, belum bisa digunakan secara utuh. Sebagaimana hidupmu di awal umur. Dahulu, setelah kau dikeluarkan dan keluar dari perut ibumu, belumlah kau menjadi siapa-siapa. Kau hanya disebut anak manusia. Kau belum menciptakan apapun selain tangisanmu itu, keharuan kedua orang tuamu dan apalagi? Kala itu, kau masih tumpul tak berbekal. Bahkan kau keluar dengan ketelanjangan, ketidaktahuan dan ketidakpunyaan.

[2] Pensil kemudian akan diraut perlahan-lahan, hingga mulailah ia melancip.

==> Sebagaimana kemudian di masa balita, kau mulai dilatih oleh ibumu berbicara. Perlahan-lahan kau mulai berbahasa. Kau pula dilatih berdiri perlahan-lahan. Zaman pun bercerita bahwa hari demi hari terambil demi les berdiri. Setelah itu, kau pun mulai pandai berbahasa dan berdiri.

Thursday, November 22, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU : [13] "Falsafah Roda"


oleh Hasan Al-Jaizy

Seorang anak tunggal dimanjakan kedua orang tuanya. Semua hajat materi terpenuhi. Anak itu pun membesar dan membesar. Dan turut pula usia orang tuanya yang menua. Suatu hari, keduanya berkata dengan serius pada si anak:

"Jika kelak ayah dan ibu sudah tiada, maka kamu satu-satunya yang akan menjadi pewaris harta kami. Kekayaan ibu dan bapak akan menjadi milkmu."

Maka semakin senanglah anak manja ini. Lama berlama melamun membayangkan betapa kelaknya ia akan menjadi raja berharta. Ia teringat teman-teman kampusnya di kampus ternama. Ia teringat teman-teman nongkrongnya. Yang kemudian ia teringat satu pertanyaan: 'Kapan ayah dan ibu akan meninggal?'

Pertanyaan itu kemudian terjawab suatu hari, keduanya meninggal. Entah karena

Wednesday, November 21, 2012

Jika Yakinmu Kau Tak Bisa, Kau Takkan Bisa


oleh Hasan Al-Jaizy

Seorang santri, telah dinyatakan lulus dari pendidikan pesantrennya secara resmi. Yang kini ia lakukan sebagai amanah teremban adalah keluar gerbang pondoknya dan menyiarkan apa yang telah terbekali selama belajar di sana. Apa lagi selain ilmu? 

Rupanya ia tergolong santri rajin dan pintar. Nilai hasil ujiannya mengagumkan. Dan jika kau berbicara dengannya, ibarat berbicara dengan seorang sarjana agama era 80-an. Dan jika kau berbicara dengannya, kau seakan adalah seorang sarjana agama pasca 2000. Kenapa sarjana agama pasca 2000? Karena kesarjanaan banyak sarjana kini ibarat kiamat ilmiah. Setelah lulus, tidak lagi menggali ilmu lebih, namun mencari uang semata dengan bekal sederhana. Dan banyak ilmu-ilmu dilupakan. Ditinggalkan. Yang terpandang sekarang adalah bagaimana mendapatkan uang, jabatan dan martabat di mata manusia. Bukankah begitu, wahai aku?

Remaja ini pun diutus ke sebuah kampung. Untuk berdakwah. Ia dibekali uang dan

Wednesday, November 14, 2012

HIDUPMU, INSPIRASIMU: [7] "Cermin Waktu"


oleh Hasan Al-Jaizy

Menceritakan kisah ini, hanyalah inginku menjadikan beberapa kisah ibu sendiri sebagai inspirasi, atau pengingat untuk diri sendiri dan orang lain. Bukanlah ibuku masa dahulu melainkan hanyalah seorang remaja biasa. Dan hingga kini masih terlihat biasa. Meskipun bagiku beliau begitu luar biasa. Masa-masa kecil dan remaja beliau tertakdir dipenjara oleh kesulitan dan tantangan hidup. Terkadang harus pergi jauh dari orang tua dan cobaan-cobaan lain.

Ibu saya suka sekali memberi orang. Terutama jika melihat roman muka orang yang membutuhkan. Ibu bisa membacanya. Sedangkan ketika saya memperhatikan pula ibu-ibu lain, perbedaan itu terasa sekali. Dan jangan kau tanya tentang lelaki atau bapak-bapak. Karena seringkali mereka terjebak dalam keegoan dan cuek. Itu semua pelajaran untuk kufikirkan dan juga dirimu.

Dan kenapa ibu selalu memberi? Tak lama dapat rizki, cepat memberi? Karena rupanya itu adalah refleksi...cerminan masa lalu ibu. Di masa tua ibuku ini, beliau selalu terngiang di benaknya masa kecil dan remaja dulu. Beliau masih ingat ketika diam sendirian di suatu tempat, sementara di sekitarnya anak-anak seusianya lahap makan dan dituntun orang tuanya. Sedangkan ibu masih menahan lapar sambil menunggu datangnya neneknya [buyut saya]. Tetapi, kadang tak kunjung datang. Syukurlah dahulu ada seorang ibu dari keluarga lain yang peduli. Seringlah ibu diberi makan dan diajak ke rumahnya. Orang baik tersebut sudah

Monday, November 12, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU : [12] "Ketersembunyian Yaitu Kelembutan"


oleh Hasan Al-Jaizy

Di masa itu, adalah masa-masa ujian hidup yang harus saya jalani. Hidup adalah ujian, bukan? Anda pun juga punya masa-masa yang paling menguji. Dan kalimat pertama tadi bukanlah menampakkan sulitnya hidup. Tidak. Itu sebagai kalimat pembuka yang terhubung pada realita berikutnya.

Ya, masa itu adalah masa sedang terujinya hidupku. Kekurangan akan sesuatu. Lalu tiba-tiba hari-hari itu, seekor kucing sering kunjungi rumahku. Kucing itu berwarna hitam. Pekat. Adakah kalian pernah saya perlihatkan seperti apa ia? Ya, itulah kucing 'aneh' yang ziarahi rumah selalu. Sebelumnya, saya belum pernah melihatnya. Entah darimana ia berasal. Tiba-tiba ada begitu saja. Tiba-tiba memangkali beranda rumah begitu saja. Sebagaimana terkadang sebuah musibah tiba-tiba menghardik begitu saja.

Lalu saya bertanya-tanya apakah ada suatu jawaban dari Allah mengenai kehadiran kucing ini? Tentu kucing ini tidak datang melainkan Allah lah yang mendatangkannya. Dan sekali lagi, ia

Tuesday, November 6, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU : [4] "Cicak dan Tokek di Tengah Musim Laron"


oleh Hasan Al-Jaizy

Selepas shalat Maghrib, berpulang aku ke rumah. Di teras, tersempat pandangan tertuju pada lampu gantung yang menggantung di depan pintu. Di hadapan tembok dan ventilasi atas pintu. Apa yang menarik di sana?

Yaitu sekawanan cicak dan gerombolan laron. Laron beterbangan ketat kerubuti dan kitari lampu. Banyaknya tak terkira.Hingga dasar lantai pun berseliweran berjasad-jasad mereka. Ku pandangi kuasa Rabb itu bermenit lamanya. 'Harus ada sesuatu atau berhal-hal faedah yang bisa kupetik dari apa yang tersaksi kali ini,' batinku.

Dan memang besar faedah yang terpetik. Cicak-cicak itu terus menunggu rizki mereka. Sungguh ajaib. Seringkali laron-laron mampir ke tembok tempat mereka mangkal. Dan secepat kilat sambaran mulut mengakhiri histori hayat laron malang. Serangan cicak begitu cepat. Maha Besar Allah. Dan apa gerangan yang mengilhamkan laron untuk mendarat sejenak di tembok itu!? Siapa yang menyuruh para cicak berkumpul di sana!? Dan kenapa laron selalu mengerubuti sesuatu yang terang semacam lampu!? Sedangkan di sekitarnya selalu saja ada cicak! Kenapa??? Dan siapa yang mengaturnya????

Setahun lalu, ku kunjungi rumah nenek di pelosok Banjar, Ciamis. Di daerah perbukitan yang dingin. Selepas shalat maghrib, ku menembukan pemandangan serupa. Laron-laron besar kelayapan di sekitar sebuah lampu penerang jalan. Dan mereka juga menemplok di tembok.

Maha Kuasa Allah. Di tembok itu ada sekitar 3 tokek berburu. Mengintai. Mengawasi. Berlari. Menyerang. Menggigit. Memakan. Sungguh Maha Kuasa Allah atasnya. Dan ku sempatkan mengambil 2 tokek ketika sedang lengah mencaplok laron besar. Masih ada hikmah dan pelajaran yang bisa didapat dari tokek, selain tentang rizki.

==============================

Adzan Isya bergema. Tulisan di atas ditulis sebelum Isya. Beranjak kemudian keluar kamar dan hendak keluar rumah. Pintu kubuka. Dan Demi Yang Menciptakan segala jenis hewan, sebuah pemandangan yang tak kusangka. Apa yang ada? Tidak ada apa-apa. Tidak ada satu pun laron! Tidak ada satu pun cicak di sana! Kemanakah mereka semua pergi!? Tak mungkin cicak-cicak Maghrib tadi menghabiskan semua laron. Tidak mungkin. Dan bagaimana laron-laron bisa hijrah semua secepat itu hingga tak tersisa meski satu!?

Teringatlah firman Allah:

وما من دابة فى الأرض إلا على الله رزقها ويعلم مستقرها ومستودعها

"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya." [Q.S. Hud: 6]

[1] Allah memberi rizkinya!
[2] Allah tahu tempat berdiam mereka! Sekarang tanyakan pada dirimu, dimana berdiamnya cicak? Kau katakan, 'Di celah-celah atap dan langit rumah!' Baiklah. Lalu, dimana berdiamnya laron-laron tadi???? Kemana mereka pergi???

Sesungguhnya jika ingin membicarakan makhluk hidup dan rezekinya, umurmu pun takkan habis terhabiskan tuk membahas segala mengenainya. Karena tiap makhluk miliki rizki dan masanya masing-masing.

Yang bisa kita petik dari yang ku saksikan adalah:

[1] Bahwa Allah memberi rizki pada semua makhluknya, berakal atau tidaknya. Dan takkan mati satu makhluk hidup, melainkan telah disempurnakan atasnya rizkinya dalam hidup. Takkan Allah matikan ia kecuali sudah tertunainya segala hak dan rizki baginya. Dan Allah Maha Adil, takkan mendzalimi siapapun sedikitpun, meskipun zalimnya banyak makhluk.

[2] Bahwa kejayaan dan panen itu ada masa atau musimnya. Dan ia akan terulang; sebagaimana dalam sejarah manusia, kejayaan akan terulang, dalam pertanian, panen akan terulang. Pula dalam sejarah kehidupan hewan, masa jaya ketika banyaknya makanan akan hadir dan terulang.

[3] Bahwa masa jaya dan panen itu sebentar, sisanya adalah masa baik dan masa panceklik. Sebagaimana masa jaya para cicak selepas maghrib hanya bermasa sejam atau bahkan kurang. Lalu selebihnya: kembali pada sesuatu yang biasa dan rutin terjadi. Begitu juga dengan manusia. Puncak kesenangan itu sempit masanya dan cepat berlalunya. Sementara rutinitas yang biasa-biasa saja luas masanya dan lama terjadinya. Ditambah ujian dan kesulitan.

dan masih banyak hikmah yang bisa kita ambil dari ayat-ayat Kauniyyah.

Hidupmu...inspirasimu...hidupmu...inspirasi untuk selainmu...maka lihatlah ayat-ayat, di sanalah berjuta inspirasi untukmu.

Sunday, November 4, 2012

Kalimat Hikmah IV

oleh Hasan Al-Jaizy

Berikut beberapa bait dari Abu Al-Ataahiah yang harapnya bermanfaat:

[1] ألَمْ ترَ أنَّ غُدوَةَ كُلِّ يومٍ ** تزِيدُكَ مِنْ منيَّتكَ اقترابَا 

Tidakkah kau tahu bahwa
keesokan tiap hari tambahkan
kedekatanmu pada kematianmu?

[2] لهَوْنَا ، لَعَمرُ اللّهِ ، حتى تَتابَعَتْ ** ذُنوبٌ على آثارهِنّ ذُنُوبُ

Telah lalai kita, demi Allah
hingga berantai dosa-dosa
sebagai bekas dari dosa-dosa

Note: Membersihkan dan menjaga diri dari dosa adalah perkara yang tidak mudah. Semakin tidak mudah jika rupanya perbuatan dosa tersebut adalah kesukaan atau kebiasaan. Satu perbuatan dosa setelah bertahun kesalihan hati, tetap akan berpengaruh dan mencari rantai. Hingga bisa saja seorang yang sudah lama menjaga diri dari dosa, ia pun tiba-tiba terjatuh dan terseret dengan rantai-rantainya. Dan sebab asasi terjadinya perbuatan dosa adalah 'lalai'. Setelah itu: ketidaktahuan.

[3] هوَ المَوْت الذي لا بُدّ منْهُ ، ** فلا يَلعَبْ بكَ الأمَلُ الكَذوبُ

Ialah kematian yang tiada
celah tuk berlari darinya
Maka janganlah harapan dusta
permainkan dirimu

Note: Yaitu bahwa kehidupan dunia ini adalah permainan yang bisa memainkanmu jika kau berharap banyak darinya [dunia]. Karena semakin tenggelam seseorang akan dunia dan mencintainya, semakin besar harapannya pada dunia. Semakin besar harapan itu, semakin jauh dari kematian. Padahal tiada celah berlari dari kematian. Lalu bagaimana jika kematian menyergap ketika sedang asyik bermain dan berharap kosong!?

Thursday, October 25, 2012

Kesenangan PERUT dan KEMALUAN


oleh Hasan Al-Jaizy

Akhir-akhir ini kambing, sapi dan kerbau berceceran di beberapa tepi jalan kota Jakarta. Hal semacam ini lazim terpandang menjelang hari Ied Al-Adha. Sebagian muslim berikhtiar mencari rizki dari Allah untuk menegakkan tiang rumah dan menetapkan asap dapur terkepul. Beberapa muslim lainnya berikhtiar mencari ridha Allah dengan membeli hewan-hewan itu untuk disembelih di masa tepatnya dan dibagi-bagi ke manusia lainnya.

Lihatlah kambing. Kunjungilah ia sekali-kali. Dan amati ciptaan-Nya yang satu ini. Resapi harum aromanya. Hayati suara embiknya. Sesekali, berilah daun untuknya. Lalu, kau akan dapat pelajaran berharga dari yang tersaksikan.

Lihatlah dedaunan yang kau beri padanya, ia makan dengan rakusnya. Hingga tak tersisa sehelai pun. Dan ia masih meminta, mencari sisa-sisa, lalu menatapmu seraya bergumam, 'Apakah ada bonus tambahan, kawan?' Dan, mana pernah kambing memikirkan sakit perut karena

Kesenangan PERUT dan KEMALUAN


oleh Hasan Al-Jaizy

Akhir-akhir ini kambing, sapi dan kerbau berceceran di beberapa tepi jalan kota Jakarta. Hal semacam ini lazim terpandang menjelang hari Ied Al-Adha. Sebagian muslim berikhtiar mencari rizki dari Allah untuk menegakkan tiang rumah dan menetapkan asap dapur terkepul. Beberapa muslim lainnya berikhtiar mencari ridha Allah dengan membeli hewan-hewan itu untuk disembelih di masa tepatnya dan dibagi-bagi ke manusia lainnya.

Lihatlah kambing. Kunjungilah ia sekali-kali. Dan amati ciptaan-Nya yang satu ini. Resapi harum aromanya. Hayati suara embiknya. Sesekali, berilah daun untuknya. Lalu, kau akan dapat pelajaran berharga dari yang tersaksikan.

Lihatlah dedaunan yang kau beri padanya, ia makan dengan rakusnya. Hingga tak tersisa sehelai pun. Dan ia masih meminta, mencari sisa-sisa, lalu menatapmu seraya bergumam, 'Apakah ada bonus tambahan, kawan?' Dan, mana pernah kambing memikirkan sakit perut karena

Tuesday, October 23, 2012

Bernilai Ibadah


oleh Hasan Al-Jaizy

Di awal bulan, Anda layak menebar faedah akan manfaat sedekah. Awal bulan adalah masanya orang-orang miskin merasa kaya. Di antara mereka ada saya.

Di akhir bulan, Anda layak menebar faedah akan manfaat sabar. Akhir bulan adalah masanya sensitifitas meninggi. Sebabnya adalah masalah finansial.

Finance itu berpengaruh sangat pada gejolak emosi seseorang; terutama para orang tua.

Lihat saja di awal bulan, sorot mata mereka berbeda. Malam minggu di awal bulan adalah malam teramai di pasar dekat rumah saya. Sebagian berbondong pergi ke mall. Sebagian sekadar jalan-jalan dengan motor bersama teman atau pasangan masing-masing. Sebagian nongkrong.

Dan lihat apa yang terlukis di tanggal tua. Semua orang menua; karena tak henti berfikir menjawab dua pertanyaan berawal dari dua kata tanya:

Sunday, October 21, 2012

Hafal atau Memahami


oleh Hasan Al-Jaizy

Orang yang lepas dari permasalahan lebih mudah menghafal, tapi tidak lebih mudah baginya memahami permasalahan. Orang yang penuh permasalahan lebih mudah memahami, dan menghafal bukan sesuatu yang mudah baginya.

Contoh/Bukti:

[1] Ketika Anda sedang dirundung permasalahan, cobalah menghafal sesuatu, seperti ayat2 Al-Qur'an dan seterusnya. Selama masih terfikir permasalahan tersebut, maka tetap saja upaya menghafal akan terganggu. Yang ada, justru secara alamiah Anda akan berusaha memetakan permasalahan, memahami dan menggali solusi atau jalan keluar.

[2] Ketika Anda tak punya permasalahan. Semua serba enak dan menghijau. Cobalah menghafal. Rasanya mudah. Namun, cobalah memahami suatu perkara pelik, rasanya otak malas. Karena lepas atau kosong dari permasalahan. Permasalahan itu sebenarnya untuk difahami terlebih dahulu, bukan untuk dihafal.

Berangkat dari itu, kita singgung 2 fase atau masa kehidupan. Masa kecil dan masa dewasa.

Friday, October 19, 2012

Embun Sebelum Mentari


oleh Hasan Al-Jaizy

Kau tahu dunia anakku? Dunia adalah tempat ujian. Kehidupan dunia adalah ujian. Kau dan aku tercipta hidup dari sebuah kematian [ketiadaan] untuk beribadah pada Sang Pencipta. Dan ibadah itu adalah ujian. Kita diuji seberapa mana kadar bagusnya perbuatan atau amalan. Dengarkan aku sampaikan ayat ini padamu, anakku:

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًۭا

"[Dia-lah] Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." [Q.S. Al-Mulk: 2]

Anakku, dahulu kau tiada di bumi ini. Aku berpijak lebih awal darimu. Buatanku lebih banyak dari milikmu. Ucapanku lebih banyak dari milikmu. Fikiranku lebih banyak dari milikmu. Karena itu, ketika ku melihatmu di sini, selalu ku berfikir: 'Sungguh dosaku lebih banyak dari milikmu.'

Fahamilah anakku, bahwa tiada manusia tanpa salah dan cela. Jika inginmu mencari manusia sempurna, maka hingga mati takkan kau bersua dengannya. Dan sebaik-baik

Saturday, October 13, 2012

Perut Kehidupan dan Kematian

oleh Hasan Al-Jaizy

==> Kau keluar dari perut ibumu...kau menangis
sementara ibu dan orang-orang sekitarmu tersenyum. Jikalau mereka menangis, itu karena haru atau bahagia. Lalu kenapa kau menangis ketika itu? Seakan kau merasa tetap ingin tinggal di dalam perut. Seakan kau mengira bahwa perut ibumu lebih luas dibanding dunia ini. Seakan kau...seakan kau....pastinya kau bukan siapa-siapa kala itu

==> Lalu bertahun-tahun kau hidup...mengisi perut
bertahun lamanya kau menangis dan tertawa, sedih dan gembira. Seringkali kau lupa bahwa tadinya kau bukan siapa-siapa, atau bahkan hingga kini kau masih bukan siapa-siapa. Suatu hari di hadapanmu adalah maut. Duhai, mengapa kau menangis lagi??? Seakan kau merasa tetap ingin tinggal di dunia selamanya. Seakan kau mengira bahwa dunia ini satu-satunya tempat tinggal dan tiada alam lain lebih luas.

==> Kau pun dikubur dalam perut bumi...mereka menangis
sementara kau tersenyum atau menangis?

Thursday, October 11, 2012

Bahagia


oleh Hasan Al-Jaizy

Bahagia, jika ditinjau dari asalnya, berasal dari bahasa Arab, yaitu 'bahjah'atau 'bahjatun' [بهجة]. Semua orang akan mengatakan bahwa semua orang ingin bahagia. Namun semua orang tidak bisa mengatakan bahwa semua orang berbahagia. Jikalau ada seseorang berbahagia, maka kebahagiaan tersebut belum bisa dipastikan hakiki atau tidak.

Kebahagiaan hakiki bermakna sebenar-benar kebahagiaan. Jika ditanya: 'hakiki menurut apa atau siapa?' Jawabnya: 'Hakiki menurut Yang Menciptakan kebahagiaan, yaitu Allah Ta'ala.' Karena Dia-lah Maha Pemberi Nikmat [Al-Mun'im], entah itu kenikmatan duniawi yang bersifat sementara, ataupun kenikmatan ukhrowy. Kenikmatan duniawi dirasakan semua orang, sebagai bukti akan rahmat dan kasih-Nya yang luas menyeluruh. Namun sebagaimana kehidupan duniawi yang fana [tidak baka], maka kenikmatan tersebut pasti ada masa tercabutnya. Adapun kenikmatan ukhrowy, maka ia bersifat khusus di tempat khusus. Kenikmatan tersebut hanyalah untuk hamba-Nya yang beriman serta beramal shalih, seperti yang Allah wartakan di banyak tempat dalam Al-Qur'an. Hamba-hamba tersebut adalah dari bangsa jin dan manusia.