oleh Hasan Al-Jaizy
"Ah, kau ini! Kau ibarat kutu di kepalaku atau kutu di kasurku. Senang pula menghisap milikku. Sudah separuh hartaku kau sedot sedari dulu." bisik Purnomo dengan emosi. Pendekar muda ini memang cukup mudah terpancing emosi. Dan hal yang paling membuat emosinya menggeludug adalah sawah dan rokok.
"hehe," temannya tersenyum. Ia sudah mendengar gerutuan itu berkali-kali. Ia sudah mempersiapkan Benteng Takeshi setiap meminta rokok dari Purnomo. Karena pasti kemarahannya muncrat dan menyembur. Tapi, akhir-akhirnya akan dikasih pula.
Kedua bola mata Purnomo masih tertuju pada pendekar muda cingkrangen itu. Ia sedang berbicara sesuatu pada pemilik kedai. Seperti memesan sesuatu. Beberapa pendekar yang duduk di dalam kedai juga mengamati. Mereka siap berkelahi jika memang merasa harus.
Pendekar Cingkrang menoleh kemana-mana. Ia mencari bangku yang kosong. 'Hmm...di sana ada bangku kosong. Aku akan duduk di sana," niatnya dalam bergumam. Tentu saja niatnya itu tidak ia lafadzkan; karena takut dianggap berbuat bid'ah. Ia pun bergegas ke bangku kosong itu. Bangku kosong, yang beberapa tahun kemudian menjadi nama sebuah film horror. Ya, bangku kosong.
Ternyata bangku yang dimaksud adalah kursi di meja Purnomo dan temannya. Dengan tanpa rasa apapun, ia duduk di sana. Purnomo menjadi salah tingkah. Tapi, tentu saja ia menganggapnya benar. Karena didikan perguruannya adalah 'jika kamu seolah-olah melakukan sesuatu yang salah, maka jadikan ia benar dan carilah dalil penguat!' Karena itu,
"hehe," temannya tersenyum. Ia sudah mendengar gerutuan itu berkali-kali. Ia sudah mempersiapkan Benteng Takeshi setiap meminta rokok dari Purnomo. Karena pasti kemarahannya muncrat dan menyembur. Tapi, akhir-akhirnya akan dikasih pula.
Kedua bola mata Purnomo masih tertuju pada pendekar muda cingkrangen itu. Ia sedang berbicara sesuatu pada pemilik kedai. Seperti memesan sesuatu. Beberapa pendekar yang duduk di dalam kedai juga mengamati. Mereka siap berkelahi jika memang merasa harus.
Pendekar Cingkrang menoleh kemana-mana. Ia mencari bangku yang kosong. 'Hmm...di sana ada bangku kosong. Aku akan duduk di sana," niatnya dalam bergumam. Tentu saja niatnya itu tidak ia lafadzkan; karena takut dianggap berbuat bid'ah. Ia pun bergegas ke bangku kosong itu. Bangku kosong, yang beberapa tahun kemudian menjadi nama sebuah film horror. Ya, bangku kosong.
Ternyata bangku yang dimaksud adalah kursi di meja Purnomo dan temannya. Dengan tanpa rasa apapun, ia duduk di sana. Purnomo menjadi salah tingkah. Tapi, tentu saja ia menganggapnya benar. Karena didikan perguruannya adalah 'jika kamu seolah-olah melakukan sesuatu yang salah, maka jadikan ia benar dan carilah dalil penguat!' Karena itu,