oleh Hasan Al-Jaizy
Rasa-rasanya tragedi terrorisme di negara ini bagai sinetron, berkonflik, terkatrol, tak kunjung tertemu, berepisode panjang, terkesan seperti 'mengalihkan isu', dimanfaatkan kaum oportunis dan seterusnya. Sinetron pun menyetir opini masyarakat sebagaimana peliputan dan pemberitaan akan terrorisme juga menyetir opini masyarakat.
Seperti sinetron 'Tukang Bubur Naik Haji', misalnya. Dari judulnya, memberi kesan bahwa akan ada hikmah di balik nama tersebut. Pasti ada suatu kebaikan dari tukang bubur. Namun, sebenarnya makin kemari, yang di-ekspos bukan hikmah dari tukang buburnya, melainkan JUSTRU keburukan perilaku sepasang Haji-Hajjah yang sudah 2x haji. Mereka berdua tak berhenti dari rasa dengki, kikir, dan seterusnya. Ini justru [entah memang ini yang diinginkan atau bukan] menyetir pandangan masyarakat yang kemudian akan berkata, 'Ah, percuma ibadah haji kalau seperti itu muamalahnya.' Dan inilah propaganda kaum sepilis, mereka berusaha merendahkan nilai-nilai ibadah dalam syariat dan membungkus dengan judul segar dan seolah berhikmah! Makanya, kita sering dapatkan kalimat: "Ah, buat apa berjilbab kalau akhlaknya buruk!?"