Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Thursday, October 22, 2015

Kekeramatan Yang Kurang Diimpikan

oleh Hasan al-Jaizy

Kemarin sempat interview beberapa calon pegawai. Selain miris pada diri sendiri yang masih belum seberapa, ternyata ada kemirisan tambahan melihat para calon. Calon-calon guru di beragam disiplin ilmu dunia, seperti matematika, kimia, biologi, bahasa Indonesia sampai English. Saya tidak mempertanyakan keahlian mereka di bidang duniawi, tapi standar baca al-Qur'an dan wawasan keislaman teman-teman kita ini masih minim. Ini tanpa perasaan kelak di endingnya saya lebih baik dari mereka.

Sebagaimana menjadi rahasia umum yang sudah menjadi konsumsi bibir publik, banyak dari dokter sekarang, menakut-nakuti ibu hamil apalagi yang masih belia usianya dan belum punya experience cukup dalam kehamilan. Ujung-ujungnya rekomendasikan supaya bayi terlahir dengan cara Caesar. Penyakit demi penyakit atau gejala negatif dijabarkan dengan semangat oleh dokter beserta bidan asistennya. Bahkan kadang diceritakan, sang dokter terkesan maksa. Rupa-rupanya tidak sedikit kasus kongkalikong. Apalagi kalau mengejar duit? Bumil panik mendengar dor dor dari dokter. Saya pernah menyaksikan ini sebagai suami bumil.

Saya pikir, ini dokter apa teroris? Tahu ini orang lagi mengandung, kok malah main dor dor begitu saja. Lembut dikit kek. Ngarti dikit kek perasaan bumil ini. Saat dokter ngoceh terus berentetan sebut kasus-kasus parah, saya tatap tajam muka beliau. Saya pernah melihat Didier Drogba lari sana-sini kejar bola meneror para pemain yang sedang pegang bola, demi cari apresiasi pelatih dan penonton, yang ujung-ujungnya duit. Kok mirip ya ngototnya. Vonis penyakit dan harus langsung dibelek perutnya di awal cek kedokteran, dengan bahasa semaunya tanpa mikir perasaan, adalah hal yang jauh dari kamus kebijakan.

Kenapa mengejar Caesar, wahai dokter? Padahal Caesar kan sudah meninggalkan program lamanya. Apakah Anda mau sama dengan para penyelenggara tematik yang berburu Caesar dan yang semacamnya supaya hadirin dan duitnya banyak?

Akhirnya, saya pindah pilihan. Tidak mau ke dokter itu lagi. Saya browsing Inet, ditemukan beragam cerita kenakalan sebagian dokter. Mirip-mirip. Intinya kejar duit.

Alhamdulillah, ketemu RS yang profesional. Swasta dan biayanya lumayan membuat saya semakin tersadar bahwa saya harus lebih mendekatkan diri pada Allah. Pelayanannya memuaskan secara psikologis. Para dokter dan pasukannya sampai satpamnya membuat kami merasa comfort. Tempatnya juga nyaman dan wangi. Tak apa soal biaya kan soal rizki. Yang penting kita usaha supaya istri dan anak lebih tenang. Safety first, money later. Setelah dapat safety, giliran money bill, baru kita menangis later. Hehe.

Walaupun dari sisi profesionalisme dokter-dokter dan bawahannya ini saya acungi jempol tapi ada saja yang kurang buat saya. Vital. Apa itu? Sisi religiusitas!!! Ini nih. Mereka bekerja secara profesional duniawi. Andai mereka terpoles ke agama, saya akan senang menemukan suster-suster itu sering menyebut nama Allah, tidak hanya memberikan advice of health melainkan dibalut juga dengan menekankan sisi tawakal pada Allah. Tapi sayangnya tidak. Karena mereka tidak dididik untuk itu.

Inilah. Kita butuh Rumah Sakit Islam lebih banyak lagi. Bukan label Islam semata, tapi nilai moral pegawainya sangat islami.

Nah, kembali ke interview itu, saya berhadapan dengan para calon guru baik ikhwan maupun akhwat, dengan membawa otak Biologi, Kimia dan lain-lain. Di tempat saya kerja, nilai religiusitas sesuai pemahaman Salaf sangat diusahakan. Kinerja para pegawai relatif stabil. Prestasi demi prestasi terbangun. Meski saya sendiri belumlah seberapa mampu memperbaiki diri. Tapi wajib bersyukur kalau kita sudah mulai berusaha menanamkan jiwa religiusitas di tempat kita bekerja.

Saya iri sama teman-teman yang mahir Biologi. Kepingin kuasai Biologi. Miris hati kalau naik motor lihat pepohonan atau jalan di jalanan lihat hewan, tapi nothing to say tentang spesies, kehidupan, anatomi dan anything about them. Hanya bisa berkata mereka ciptaan Allah. Tapi apakah teman-teman anak Biologi sendiri, iri sama teman-teman yang faham baca kitab, mahir baca al-Qur'an?
Padahal di dalam al-Qur'an, disebutkan beberapa nama hewan, disebutkan beberapa macam tumbuhan. Selemah-lemah rumah adalah rumah laba-laba. Secara scientific, bagaimana membuktikannya? Kita sama-sama imani ayat itu, tapi secara keduniaan dan pembalutan sains, saya belum mengerti detail dan saya berharap mengerti.

Siapapun pegawai, kalau menjunjung nilai religiusitas di bidangnya, insya Allah akan lebih disukai.
Karena pegawai yang tak religius, dia hanya dapat dunia. Adapaun pegawai yang menjaga agamanya di gaweannya, dia dapat dunia dan dia punya saham di akhirat.



Wednesday, July 17, 2013

Mahasiswa Pelayar Comberan!

oleh Hasan Al-Jaizy

Budaya ngospek para plonco (calon maba yang sedang ikut kegiatan pengenalan terhadap kampus) dengan tarekat-tarekat HINA, meskipun atas nama 'Pengenalan Kampus' atau semacamnya, adalah budaya mahasiswa-mahasiswa rendahan yang sedang kuliah di kampus rendahan. Mahasiswa dan kampus yang menjunjung tinggi nilai pendidikan, moral dan kualitas didikan, tidak akan rela calon-calon penghuninya dihinakan, oleh mereka sendiri.

Syukur, tidak pernah di kampus saya ada planca-ploncoan. Bagi kami, hanya mahasiswa bodoh yang seperti itu. Menjadikan para maba terlihat bodoh, padahal mereka sendiri juga tergolong bodoh.

Selain itu, para mahasiswa yang merasa senior dan mengenal kampus, lagaknya seperti sudah layak dianggap senior dari segi kualitas. Mirip mayoritas mahasiswa pendemo; rata-rata mereka itu yang hobi tidur di kelas, main game di lingkungan kos, begadang dan hidup kesehariannya cuma bernilai lawakan rendah saja. Dan, menjelang hari ospek, mereka tiba-tiba menjadi orang paling sibuk dan paling terlihat seolah ingin 'mendidik'.

Andai memang mereka belajar sungguh-sungguh dan punya ilmu tinggi, takkan rela mereka mencoret-coret muka para calon mahasiswa, menyebut mereka binatang, menjadikan mereka serendah binatang, meminta memakan hal yang tak layak dimakan, memaksa mereka memakai aksesoris yang memicu gelak tawa dan banyak lagi. Para mahasiswa senior yang bodoh senang dan girang melakukan ini. Dan jika dosen-dosen mereka menjadikan hal semacam ini hal yang wajar, biasa, atau malah hiburan, maka...begitulah. Like dosen like mahasiswanya.

Wednesday, March 27, 2013

Kepentingan Apreasiasi Dari Pendidik Terhadap Yang Dididik


oleh Hasan Al-Jaizy

Apresiasi, menurut thefreedictionary.com adalah "an expression of gratitude". Itu salah satu pengertian apresiasi menurut mereka. Maksudnya adalah 'sebuah ekspresi atau ungkapan atas sikap berterima kasih'. 

Apresiasi bisa diwartakan dengan 'tongue language' atau 'body language'. Misal dari bahasa lisan adalah mengatakan 'Thank you', atau 'That's great' dan selainnya. Misal dari bahasa tubuh adalah memberi isyarat seperti mengacungkan jempol, tersenyum, dan lainnya. Akan kita kupas contoh lain setelah membahas:

"Kepentingan Apreasiasi Dari Pendidik Terhadap Yang Dididik"

Apresiasi adalah sebuah ekspresi yang banyak diabaikan dan diremehkan para pendidik, mulai dari orang tua, guru sekolah, guru les/kursus/bimbel, hingga para atasan, mulai dari presiden, menteri, direktur, bos dan seterusnya. Padahal, pengungkapan apresiasi, terdapat makna positif dan efek yang bagus terhadap manusia. Pendidik yang kaku dan menyeramkan adalah makhluk yang paling sulit mengapresiasi suatu usaha dan karya pihak yang dididik. Begitu juga dengan atasan yang tidak mau tahu kinerja dan proses -yang ia inginkan hanya hasil terwujud-. 

Wednesday, February 6, 2013

Pendidikan Kuburan Keramat

oleh Hasan Al-Jaizy

Dulu, kuliah di Madinah, Mekkah, Riyadh, Yaman, bahkan di lipia, adalah sebuah kejarangan dan tantangan. Banyak pelajar berhasrat, namun takdir untuknya tak semuanya tersirat. Sehingga lulusan sana adalah orang2 yang tahu agama, melebihi pengetahuan di atas rata-rata.

Itu masih hingga sekarang. NAMUN, kadarnya tak sewajar dahulu. Pelajar ilmu syariah akademik sekarang toh banyak yang 'ga jadi'. Mudah2an bukan termasuk saya dan kawan-kawan sekalian. Sekarang, semua orang bisa belajar ilmu syariah. Baik berbayar atau gratis.

Jikalau Internet benar-benar dimanfaatkan maksimal, bukan tidak mungkin anak pengajian rutin mingguan 2x, bisa setara pengetahuannya dengan anak-anak akademik formal. Ini jika kita tidak melihat dari segi kapasitas penguasaan ilmu alat mereka (Arabic, Ushul Fiqh dst). Tapi, Internet kini benar-benar curahan rahmat sekaligus...

fitnah

Satu sisi, saya pribadi senang sekali dengan kemajuan kawan-kawan Jogja yang dengan kegigihan, keteraturan, keseimbangan dan 'konspirasi' yang rapi bisa menjadikan generasi yang ngampus ilmu dunia, tapi bisa juga ngaji ilmu akherat. Sehingga, lahirlah para asaatidzah yang tadinya tak mempunyai latar belakang pondok pesantren atau pedepokan religius. Ini karena kegigihan dan konspirasi yang patut diacungi jempol dan dicontoh.

Namun, di sisi lain, saya menerawang sesuatu ke depannya. Sebelum saya jabarkan, perlu ditekankan bahwa tiada gading yang tak retak. Satu sisi Internet adalah rahmat, satu sisi Internet bertaburan kualat. Satu teori dan metode boleh keren di masa kini, namun di masa depan bisa ditinggalkan.

Begini:

Saturday, February 2, 2013

Nyesel Masa Kecil...20 Tahun...Kecewa Karena Cinta

oleh Hasan Al-Jaizy


Nyesel Masa Kecil...20 Tahun...Kecewa Karena Cinta

Nyesel Masa Kecil

Nyesel Masa Kecil

Ketika itu kami berbincang empat mata, dua hidung, dua lidah, dua mulut dan delapan jempol, mengenai kemampuan kami masing-masing. Saya sedang berbicara dengan seorang teman sekelas yang Allah beri berkah dan rahmat baginya, yaitu berupa hafalan 30 juz. Kita berdua berbincang. Ia ingin menjadi seperti saya. Saya juga ingin menjadi seperti dia. Tak sekali ia menanyakan bagaimana konsisten menulis. Tak sekali pula saya menanyakan bagaimana konsisten menghafal Al-Qur'an.

Yang paling membuat saya menyesal adalah setelah saya bertanya begini, "Karena ente sudah hafal semuanya, ketika ceramah atau kajian atau apapun itu, apakah dalil-dalil langsung terfikir?"

Ia jawab, "Iya, alhamdulillah. Mengalir. Tiba-tiba hadir gitu aja di fikiran. Jadi, enak sekali."
 

Wednesday, January 30, 2013

Wakakakak...Ngustad Kok Masih Bujang?

oleh Hasan Al-Jaizy


Wakakakak...Ngustad Kok Masih Bujang?

Atau, beri judul lain: Masih Bujang Kok Ngustad?

Untuk membalikkan 'ejekan' di atas, cukup dengan kalimat: "Anda yang sudah tidak membujang kok belum bisa jadi ustadz?"

Dan jika ternyata ia adalah seorang ustadz, maka cukup dengan kalimat: "Anda yang sudah ustadz kok menertawai ustadz lain karena bujangnya?"

====================================

Berawal dari status sahabat saya malam ini, Ust. Zarkasih [tanpa tag], yang Jum'at kemarin mendapat peran berdakwah di mimbar hari Jum'at. Beliau sudah biasa khutbah Jum'at. Dan beliau masih 'single'. Bagi yang mau daftar, silahkan untuk tidak mendaftar ke saya; karena saya sendiri menutup pendaftaran, bagi diri sendiri, maupun bagi orang lain.

Nah, sahabat saya ini ditanya oleh seorang pegawai di kantor tempat masjid ia khutbah, "Anak sudah berapa, ustadz?"

Menjadi Yang Terharap...Game Kekerasan

oleh Hasan Al-Jaizy


Menjadi Yang Terharap...Game Kekerasan

Menjadi Yang Terharap

Menjadi Yang Terharap

Selagi saya tahu bahwa menggapai cita-cita dan harapan itu bukanlah mimpi semata tanpa upaya menyicil tabungan langkah dan bergerak menunjunya, maka saya mengajak diri sendiri serta diri selain saya sendiri untuk tidak 'ngemeng' saja atau 'ngarep' saja.

Bahwa suatu asa akan terwujud secara absolut jika Allah wujudkannya. Namun, Allah takkan merubah suatu kaum hingga kaum tersebut berupaya merubahnya jua. Sementara, keadilan-Nya tertuang di fakta bahwa Dia takkan membebani hamba di luar batas kadar dan kodratnya. Artinya: Teruskan perjalanan entah sendirimu atau bersama kafilahmu dan berusahalah. Mungkin kau akan terombang-ambing sebelum tiba di dermaga, namun Dia lah yang akan sampaikan jasadmu menujunya.

Seperti seorang yang mempunyai cita sebagai penulis kelak. Tentu ia harus mencicil sedari benih cita-cita masih kecil tabungan-tabungan karya, asahan-asahan dan latihan-latihan. Konyol sekali jika ia berharap kelak mampu menjadi penulis handal sementara kesehariannya lebih suka mencokolkan mata pada TV dan mengaibaikan panggilan-panggilan buku, kertas dan pena. Oh, kini sudah modern...panggilan laptop dan gatalnya jemari.
 

Thursday, January 24, 2013

PINTER DIKIT dan MODERN DIKIT II


oleh Hasan Al-Jaizy

Sebenarnya sedikit atau banyaknya itu relatif dalam masalah kepintaran dan modern. Karena bagi orang bodoh, kepintaran yang sedikit ia anggap banyak, sementara bagi orang pintar, kepintaran yang dianggap banyak itu sangat sedikit. Bodoh dan pintar pun juga relatif. Bagi orang pintar, orang bodoh adalah bodoh. Dan bagi orang-orang bodoh, orang bodoh bisa terlihat pintar.

Modern juga bisa relatif. Bagi wong ndeso yang baru ke kota, ia terlihat kolot sekali dipandang orang kota. Tetapi, ketika ia balik ke desanya, ia terlihat paling modern. Seperti orang bodoh yang bergaul di tengah orang2 pintar, ia akan dianggap bodoh oleh mereka. Tetapi sekembalinya ke tengah komunitas bodoh, ia terlihat paling pintar.

PINTER DIKIT dan MODERN DIKIT I

oleh Hasan Al-Jaizy


Sekarang, selain dituntut 'pinter dikit', ternyata kita kadang tertuntut untuk modern dikit. Kenapa dituntut pinter dikit? Karena zaman sekarang informasi itu bagaikan banjir tak bermusim. Maksudnya, karena tidak ada musimnya, jadi banjir terus. Tiap hari [pagi, siang, sore, malam] Anda bisa menikmati luasnya pemandangan dunia, baik dengan audio maupun visual. Kenapa tertuntut modern dikit? Karena Uwong ndeso saja sudah kenal HP bagus, sewajarnya uwong kuto harus lebih bagus lagi. 

Natijah Tuntutan Pinter

Di antara natijah tuntutan pinter dikit adalah menukil dengan menyebutkan sumber nukilah. Kalau Anda perhatikan buku karya modern, terutama yang berkaitan dengan Syariah [mencakup Aqidah, Al-Qur'an, Hadits, Fiqh, Akhlaq dll], kita mulai terbiasa melihat footnote di hampir tiap halaman. Cobalah Anda beli 5 buku yang semacam itu. Dikit-dikit, ada tulisan H.R. Bukhari, atau nama-nama kitab yang dinukil isinya. Baca buku semacam itu selama 1 bulan. Nah, di bulan kedua, beralihlah ke buku yang kering kerontang akan footnote. Isinya seolah-olah pendapat pribadi penulis, tanpa mengutip dari sumber lain. Anda akan merasa kekeringan. Kenapa? Karena terbiasa bermain di taman yang penuh bunga footnote. Dan ini adalah salah satu bentuk 'pinter dikit'; yaitu tumbuhnya benih kritis dan tidak cepat percaya. 

Wednesday, January 23, 2013

Baa Bii Buu Ba


"Baa bii buu ba'. buuban baniba'...dan seterusnya.

Anak-anak kecil itu, my sons...my doughters....bercanda dengan nada-nada itu. 

Ah, biarkan sejenak keceriaan dan canda tawa mereka dengan nada-nada itu.

Kelak, ketika mereka besar, mereka akan sadar betapa berartinya nada-nada itu, dan betapa besarnya jasa guru-guru ngaji mereka. 

Dulu, guru-guru ngajiku pun ajari seperti itu. Pula zikir selepas shalat. Masih teringat masa-masa itu. Wajah guru-guru, yang mungkin sebenarnya mereka bukan seorang ahli, bukan seorang expert; namun mereka telah mendidik dan menanam benih pahala. 

Guru-guru masa kecil...yang tak lagi ku tahu di mana sekarang. Pernah ku dengar salah satunya wafat karena sakit.

Mereka akan pangling melihat kemasakinian yang jauh berbeda dengan masa lalu. 

Jangan bersedih dan merenung, wahai guru-guru anak-anak...wahai guru TPA dan semacamnya. Kalian bersusah payah dan bersabar membaja sekarang; kelak kalian akan diingat jasa-jasanya oleh mereka, ketika mereka besar dan dewasa. Kau sedang menabur tunas yang akan tumbuh meraksasa; sebagian akan menjulang ke langit selayak sukses selangit, sebagian tidak.

Kalian adalah orang-orang kuat.


Wednesday, December 26, 2012

CAT : [69] "MENUNTUT ANAK BERPRESTASI"


oleh Hasan Al-Jaizy


Saya mau berbicara tentang anak. Padahal saya belum punya anak. Istri saya saja belum beranak. Jangankan begitu, saya sendiri belum punya istri. Masalah, kan? Agar tidak berbelit-belit, Anda diam saja. Biarkan saya bicara tentang anak sebentar.

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah artikel yang pagi ini saya baca dengan gaya marathon tanpa koprol sambil bilang 'wow'. Seorang tua atau sepasang orang tua akan senang jika anaknya berprestasi; terutama di bidang yang diridhai orang tuanya. Baik itu berprestasi di sekolah, maupun di lingkungan rumah. Tak segan pula para orang tua menceritakan kelebihan anaknya di depan umum. Di depan hidung tetangga, atau di depan muka saudara ketika ngumpul lebaran,

Sunday, December 23, 2012

CAT : [58] "TAMASYA ANAK"


oleh Hasan Al-Jaizy


Matan: "Pada hari Minggu kuturut ayah ke kota. Naik delman istimewa kududuk di muka Pak Kusir yang sedang bekerja."

Syarh:

Perkataannya (Pada Hari Minggu) menunjukkan bahwa mayoritas -jika tidak dibilang semuanya- anak menikmati hari Minggu bersama keluarga, terutama dengan ayahnya. Karena itu, ia mengatakan (kuturut ayah ke kota) dikarenakan anak dan ayahnya ini adalah wong ndeso. Biasanya wong kuto justru berlibur di deso. Dan ini sebaliknya.

Hari Minggu adalah kesempatan untuk ayah-ayah yang sibuk mencari uang di hari kerja, untuk melakukan pendekatan pada anaknya. Pendekatan terbaik -salah satunya- adalah dengan mengajak anaknya pergi tamasya. Baik itu ke kota, ke gunung, ke sawah, atau ke Kali

Thursday, November 22, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU : [13] "Falsafah Roda"


oleh Hasan Al-Jaizy

Seorang anak tunggal dimanjakan kedua orang tuanya. Semua hajat materi terpenuhi. Anak itu pun membesar dan membesar. Dan turut pula usia orang tuanya yang menua. Suatu hari, keduanya berkata dengan serius pada si anak:

"Jika kelak ayah dan ibu sudah tiada, maka kamu satu-satunya yang akan menjadi pewaris harta kami. Kekayaan ibu dan bapak akan menjadi milkmu."

Maka semakin senanglah anak manja ini. Lama berlama melamun membayangkan betapa kelaknya ia akan menjadi raja berharta. Ia teringat teman-teman kampusnya di kampus ternama. Ia teringat teman-teman nongkrongnya. Yang kemudian ia teringat satu pertanyaan: 'Kapan ayah dan ibu akan meninggal?'

Pertanyaan itu kemudian terjawab suatu hari, keduanya meninggal. Entah karena

Tuesday, November 6, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU : [3] "Rumput Takkan Tumbuh Kala Derasnya Hujan"

oleh Hasan Al-Jaizy

Di sebuah desa, ada seorang guru ngaji yang miskin. Perekonomiannya hanya bersandar pada warung kecilnya yang sehari-hari ia bergantian dengan istrinya menjaga. Hanya itu yang ia andalkan tuk penuhi kebutuhan keluarganya. Aktivitasnya hanyalah menjadi guru ngaji selepas ashar dan maghrib.

Ia mengajar di TPA desanya. Lokasi mengajarnya di mushalla desa. Ia ajari anak-anak kecil cara bersuci, seperti wudhu, tayammum, shalat dan puasa. Dan tentu saja anak-anak diajari membaca Al-Qur'an. Itu semua adalah ilmu warisan kyai-nya yang sudah lama wafat. Dulu, sang kyai berwasiat padanya secara khusus, "Kamu harus tetap tegakkan agama dan ajarkan apa yang aku ajar di desa ini. Ajarkan anak-anak. Teman-temanmu berguguran dan berlari ke kota mencari dunia. Tapi, pesanku untukmu, carilah akhirat dengan mengajar anak-anak, kelak insya Allah pada masanya Allah akan membuatmu kaya...lebih kaya dari teman-temanmu yang meninggalkanmu sendiri mengajar di desa ini."

Guru ini pun benar-benar mengingat dan

Saturday, November 3, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU : [1] Gula Dikerubuti Semut

oleh Hasan Al-Jaizy

Suatu hari, Al-Arify mengisi pengajian kecil-kecilan dan santai. Ia duduk-duduk di sekitar orang, yang mereka semua adalah kaum awam dan berkemampuan ilmu rendah. Di majelis tersebut, tiada yang menonjol di antara hadirin kecuali seorang kakek tua. Dia disegani bukan karena apa, melainkan usia. 

Al-Arify dalam sebuah kebetulan, menyampaikan satu fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah-. Selesai kutipan, kakek itu berkata dengan irama bangga dan binar mata, "Kau tahu? Syaikh bin Baz adalah teman saya ketika belajar di masjid. Di kajiannya Syaikh Muhammad bin Ibrahim, sekitar 40 tahun lalu!"

Cerita di atas singkat sekali. Dan bisa berlalu dengan singkat. Namun saya juga teringat pada nama-nama besar yang juga saya kagumi. Mereka bernama besar, berpangkat tinggi dan bergelimang sukses tentu bukan sebuah kebetulan semua terjadi. Karena jika ada air bergelombang, pasti ada penyebabnya, sekecil apapun ia. Bahkan gunung pun

Wednesday, October 31, 2012

SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN : [3] "Mas Boy"


oleh Hasan Al-Jaizy

Para calon santri baru gelombang pertama, harus tinggal di dalam pondok berhari-hari. Hampir seminggu. Syukurlah, mudahnya little Hasan bergaul pada manusia semenjak masih es de, menjadikan ia mudah mendapat teman-teman baru. Tanpa harus canggung dan main gunung es dulu. 

Kami, para calon santri baru, ditempatkan di sebuah ruangan yang normalnya atau aslinya adalah kelas ITQ [sebuah jenjang untuk anak SD yang dipesantrenkan]. Ruangan itu terletak di depan pondok, dekat dengan pos satpam dan gerbangnya. Ia juga berada di depan lapangan bola takraw. Lapangan itu bisa dijadikan tempat bermain takraw. Bisa pula tempat bermain badminton. Kadang, malah bisa dijadikan tempat bermain bola [dengan bola plastik]. Jadi, flexible...connected to anyone's will.

Mas Boy, adalah seorang pria Jawa berperawakan tinggi. Usianya ketika itu di atas 20, menurut perkiraan penulis. Beliau adalah orang pertama yang kami [calon santri baru] kenal. Ramahnya

Saturday, October 27, 2012

Bagaimana Dahulu Anda Belajar BAHASA ASING?


oleh Hasan Al-Jaizy

Bahasa Inggris adalah bahasa yang diperlukan oleh manusia modern. Perkembangan zaman + teknologi dan modernisasi menuntut penduduk zaman untuk berkembang. Salah satu tanda berkembangnya seseorang adalah semakin kayanya akan pengetahuan. Dan di antara pengetahuan terbesar manfaatnya adalah pengetahuan akan bahasa, baik bahasa pribumi [daerah/nasional], terlebih bahasa asing.

Apakah seorang dai membutuhkan bahasa asing?

Jawabannya: YES. Bahasa Arab yang paling dibutuhkan. Bahkan sebagian ulama di zaman dahulu tidak menganggap seseorang layak banyak bicara agama jika belajar bahasa Arab saja enggan, meskipun ia adalah orang Arab. Lalu, bagaimana jika dia adalah seorang Maduran yang jauh dari berbahasa Arab? Weits, jangan tertawai Madurian dulu. Siapa tahu Anda, meskipun Batavian atau tinggal di 'Serambi Mekkah', juga tidak mau belajar Arabic!?

Friday, October 19, 2012

Mata Sipit Mendanau

oleh Hasan Al-Jaizy


[1] Anak-anak sedang bermain bola di jalanan beraspal dengan kaki telanjang. Di tengah kota Jakarta. Lapangan sudah penuh. Hanya jalan aspal satu-satunya lahan menuntaskan nafsu bermain bola. Sore itu, dia adalah anak yang dikenal mahir bermain, meski kecil. Ia berebut berkali-kali bersama anak-anak besar, para ABG. Di masa itu, mereka tak terbiasa dengan kata-kata busuk. Jika mencela, celaan mereka tak sengaja dikeras-keraskan seperti ABG sekarang. Dia sekali menendang bola. Oh, rupanya kakinya kesaruk aspal. Tersaruk hingga merobek sedikit dari kulit di dekat kuku jempolnya. Merah. Berdarah. Cukup deras. Lalu ia menekan luka itu. Berharap darah tak mengalir lagi. Kembali ia bermain dengan senang hati. Bergulat lagi dengan para ABG. Semua itu sudah biasa.

[2] ABG kemudian ia menjadi. Sore itu, ia hendak bermain bola di lapangan sekolahnya yang berdebu tebal. Jika kau injak tanah lapangan, kakimu akan tenggelam dalam debu. Lalu kau dapatkan warna coklat pekat memekati kakimu. Anak ABG itu pun berlari ke lapangan. Menyeruak ke dalam permainan yang asal serang. Dua gawang, tanpa kesebelasan. Semua boleh bermain. Semua boleh memilih mana yang dibela. Semua pasti akan tersiram debu-debu intan. Semua akan menghirup debu-debu itu. Semua senang. Yang penting semua senang. Semua itu sudah biasa.

[3] Ada beberapa anak kecil di sebuah desa pulang dari sekolahnya. Masing-masing menenteng tas. Mereka menyusuri sawah, yang berderetan dengan rel kereta api. Mereka berjalan berbaris. Dengan bahasa daerah, tiap-tiap mulut berkicau. Dari kejauhan, terdengar suara klakson kereta. Tiap-tiap mereka menoleh. Satu berteriak, diikuti teman-temannya. Kereta melaju mendekat dengan cepat. Dan ketika kereta melewati jasad-jasad mereka, mereka berteriak dan sebagian melompat-lompat. Kesenangan sementara. Mereka senang, meskipun belum merasakan naik kereta.

[4] Seorang pemuda dari pintu kereta melihat anak-anak itu. Ia sedari lama terduduk di sana. Sengaja. Ingin rasanya melahap pemandangan langsung dari pintu kereta yang terbuka. Kereta ekonomi antar kota antar provinsi. Pemuda itu membalikkan muka, selagi gerbong yang ia tumpangi mulai melewati jauh anak-anak itu. Lalu ia tersenyum sembari melambai tangan pada mereka. Mereka semakin bersorak. Kegirangan. Sementara hati pemuda memadu antara girang dan sedih. Gumamnya:

'Seandainya ketika itu aku bersekolah, memakai seragam seperti mereka...tentu tempatku bukan di sini.'

Tiba-tiba air matanya menetes, beberapa titiknya membentur kacang-kacang yang ia pegang di tangan kanannya.

==========================

Sekolah itu sudah biasa.
Mengharumkan nama sekolah itu luar biasa.
Mengingat mereka yang tidak bersekolah?
Itu bukan kebiasaan anak sekolah, atau lulusannya.

Wednesday, October 17, 2012

Membongkar Kuburan Keramat

oleh Hasan Al-Jaizy

Jika melihat beberapa kasus negatif di sektor edukasi formal negeri ini, rasanya cukup mengiris hati. Terlebih apa yang tercerita tentang pendidikan banyak sekolah di kotaku ini. Menengok ke pasar, ada rasa sakit di hati dan keputusasaan tercetus, karena rupanya banyak sekali praktek riba, kecurangan takaran dan penipuan di sana. Menengok ke sekolah, rasa sakit itu bertambah. Trend LKS [Lembar 'Kerjaan' Sekolah, atau Lembar Kerjain Siswa] atau semacamnya malah berpotensi memperbodoh anak-anak dan adik-adik kita.

Saya beri satu contoh yang sudah jamak tersebar. Di bidang bahasa Inggris [English]. Guru-guru English di banyak sekolah, entah swasta atau negeri, justru menjadi pihak yang paling idle [offline/malas/lemah]. Kerjaan mereka di kelas hanya memberi lembar kerja pada siswa; tanpa menerangkan secara sistematis atau efektif pada anak akan materi-materi. Bahkan, buku panduan sekolah dianggurkan. Padahal para orang tua membelinya dengan anggaran bukan untuk dianggurkan. Harapan orang tua, buku itu untuk dipelajari, dibahas isinya.

Namun, rupanya guru-guru tersebut lebih suka menjadi seperti setan edukatif. Meski sudah tahu buku pegangan ada dan terbeli, tetap saja mereka mencari celah untuk dua hal: 1. Bagaimana supaya gue bisa nyantai dan ga perlu kerja keras, 2. Bagaimana supaya gue bisa membuat proyek bisnis di sini. Akhirnya, tercetuslah ide najis seperti:

Sunday, September 30, 2012

Enakan Nyalahin Orang Besar

oleh Hasan Al-Jaizy

Lebih enak adalah orang kecil menyalahkan orang besar dan orang besar menindas orang kecil. Main salah-menyalahi, kita adalah jagoannya. Padahal belum tentu penyalah-nyalahan kita itu tidak salah.

Seperti halnya ada dari kita menyalahkan pak Mendikbud hanya karena diksi atau kalimat tanya yang dia anggap tidak sesuai untuk pelaku kejahatan, yaitu seorang siswa SMA. Pak Nuh, begitu namanya, bertanya, ' bagaimana, Mas, puas sudah membunuh orang?' yang kemudian dijawab oleh si anak muda,' puas!' Jawaban itu sempat membuat kekagetN tercermin di wajah Pak Nuh.

Konyolnya, ada yang mempermasalahkan kekagetn wajah tersebut. Juga kosakata puas dipermasalahkan penggunaannya. Lebih konyol lagi, sebutan Mas juga dipermasalahkan.

Yang harus dipermasalahkan seutamanya bukan pak Menteri. Tetapi penerap pendidikan dan penghancur didikan. Yaitu pihak orang tua terutama ibu. Juga lingkungan dan tayangan tv. Atau langsung saja tudingan tertuju ke :