Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Wednesday, February 6, 2013

Galau Dulu...


oleh Hasan Al-Jaizy

Kau harus galau dulu sebelum sukses.
Kau harus menangis dulu sebelum tertawa.
Kau harus berpahit dulu sebelum bermanis.
Kau harus susah dulu sebelum senang.

Jika sukses, tawa, kemanisan dan kesenangan didapat secara percuma tanpa bayaran, maka semua itu cuma-cuma yang percuma...sehingga:

semua itu seolah tak berharga karena cuma-cuma. 

Manusia belajar dan dapat ilmu karena awalnya tidak tahu. Jika sudah tahu, buat apa upaya menggali ilmu?

Jika kau ingin mendapatkan segala senang begitu saja tanpa membayar, lebih baik tidur saja. Mimpi saja sana. Mimpi boleh manis, namun kala terjaga, semuanya terputus. Hilang. Yang kemudian kau sesal sendiri kenapa ia tidak abadi.

Maka, berpahitlah. Selama hidup berjalan, semua ada urutan. Jika semua berurutan, percayakan bahwa kesulitan bukanlah keabadian.

Monday, January 28, 2013

Islamic Book Fair 2012 = Kuburan Keramat I

oleh Hasan Al-Jaizy


Islamic Book Fair 2012 = Kuburan Keramat I

Seorang sahabat saya, sekelas di kampus, berasa dari Sunda, beberapa minggu yang lalu menanyakan sesuatu pada saya. Pertanyaan itu yang kembali menguak memori masa silam di tahun 2012. Kenangan berharga, yang ingin saya ceritakan di sini. Bukan bermaksud merendah atau berbangga. Tetapi, kenangan ini spesial sekali untuk saya.

Pertanyaan sahabat saya adalah, "Gimana Maret nanti, mau ke Book Fair bareng lagi ga?"

Saya terkejut dengan pertanyaan itu. Karena sudah lama tak mengingat IBF. Tentu saja saya berharap bisa datang ke event penting -bagi saya- itu. Bukan sekedar datang, namun mengais kitab-kitab yang lama saya idamkan. Itu pun kalau punya duit. :hammer

Brrr...selepas pertanyaan itu, saya termangu. Mengingat kenangan spesial. Sesuatu yang amat berharga.

Begini ceritanya:

Sunday, January 27, 2013

DAKWAHMU = SEDEKAHMU

Oleh Hasan Al-Jaizy

Dakwahmu = Sedekahmu

Jika merasa jahil [tidak tahu], maka itu bagus. Jika merasa masih standar atau kurang, maka itu ada bagusnya. Merupakan sebuah upaya tawadhu' adalah merasa diri belum seberapa memberi, belum banyak memiliki, dan belum hebat melampaui. Betapa banyak para masyaayikh dan asaatidzah yang mengatakan, "Saya hanyalah pencari ilmu [thalib]", bahkan mengatakan, "Saya hanyalah thuwalib al-ilm [penuntut ilmu yang kecil]."

Dan tak sekali dua kali mendengar seseorang berucap, "Ilmu saya masih cetek, ragu berdakwah disebabkannya. Lebih baik saya menjadi penyimak saja."

Amat disayangkan. 

Seorang muslim, selama dia merasa dirinya muslim dan selama dia memang muslim, telah Allah berikan kesempatan untuk berdakwah. Amat disayangkan jika seseorang merendah diri namun menafikan kesempatan yang terjulur di depan wajahnya. Mungkin ia berfikir bahwa berdakwah itu adalah seperti apa yang dilakukan para ustadz dengan ceramah, menulis kitab, atau seperti yang dilakukan para pencari ilmu yang pintar menulis status dan menjelaskan beberapa hukum.

Gambaran di atas benar. Namun, dakwah itu tidak hanya gambaran tersebut berupa! 

Jika seseorang copas sebuah ayat yang agung semisal ayat pertama surat Al-Ikhlas ke statusnya, lalu tekan post dengan niatan ibadah disertai harapan:

Berdakwah di Dua Dunia

oleh Hasan Al-Jaizy

Jika Anda tidak berdaya berdakwah di dunia nyata, maka budidayakan berdakwah di dunia maya. Namun, jika Anda berdaya di keduanya, utamakan di dunia nyata. Dan jika dakwah Anda berjaya di kedua dunia, wasiat terbaik adalah tetaplah istiqamah dan jangan takabbur.

Manusia yang tak berdaya di dunia nyata, belum tentu ketidakberdayaannya disebabkan oleh dirinya. Kadang Allah menguji manusia dengan kenyataan pahit dan kesempitan yang nyata. Dan inilah rahmat Allah. Ketika seolah segalanya tersumbat di dunia nyata, dunia maya Dia ciptakan. Untuk memberikan kesempatan belajar mengajar bagi siapapun yang di dunia nyata kesulitan.

Beberapa gadis 'dikurung' orang tuanya dan dilarang keluar mencari ilmu, meskipun hanya ke pengajian. Mereka mengeluh dan iri pada siapapun yang bebas terbang ke masjid atau kampus manapun. Namun, Allah membuka bagi mereka pintu kesempatan di dunia maya. Di sana, ia bisa temukan taman-taman, yang di dalamnya ada jembatan persaudaraan bahkan jembatan menuju surga.

Dan beberapa manusia, jelas tak punya nama besar di lingkungannya, tak terpandang dan tak teranggap. Bahkan, sekali ucapan dan seruan dari mulutnya selalu berbalas penolakan. Namun, Allah membuka bagi mereka pintu kesempatan di dunia maya.

Jika Anda bisa merengkuh keduanya, yakni dua dunia, maka Anda mampu memanen pahala tiap kala.

Friday, January 25, 2013

Membangun Perpustakaan

oleh Hasan Al-Jaizy


Anda tidak bisa membangun perpustakaan pribadi dalam satu hari atau bahkan satu tahun. Tetapi, dimulai sejak Anda muda; membeli kitab satu persatu. Tiap mendapat uang saku ataupun gaji, sisihkan sekian persen untuk kitab. Lalu abadikan namamu di dalamnya. Baca meskipun tidak seluruhnya. Garis bawahi dan berikan ta'liq, komentar, tanggapan, ralat dan semacamnya dengan pensil[atau apapun]. 

Nanti, ketika Anda sudah menua, berusia 50 atau lebih, ketika anak-anak Anda sudah besar, ketika Anda sudah menjadi pengayom para murid, ketika Anda sudah menjadi murabbi umat, perpustakaan Anda tersedia. Dan semua kitab adalah milik Anda. Di tiapnya tertera nama, tanggal beli/diberi, tanda tangan dan tentu saja: tiapnya memiliki sejarah hidup Anda meski tak tertulis. 

Bisa jadi sekarang Anda memiliki sebuah kitab yang sulit dibaca, entah karena bahasanya yang begitu tinggi, atau karena memang Anda belum memiliki kapasitas. Tapi, seperti nasehat Ust. Wahyuddin Bakhtiar di tahun 2002, ketika saya mengawali masa SMA, jangan pernah kau buang kitab itu. Simpan! Karena suatu saat, kau akan benar-benar mampu membaca dan memahaminya. Percayakan itu.

Monday, January 14, 2013

REALLY! JANGAN BACA INI! [2]


oleh Hasan Al-Jaizy


I

'Anda pernah sekolah? Jika pernah, saya tanya: apakah kita harus berterima kasih pada guru yang mengajari kebaikan pada kita?'

Anda jawab, "Tentu saja harus!"

'Tetapi, bukankah mereka sudah dibayar? Sudah digaji, bukan? Untuk apa berterima kasih lagi?'

Anda jawab, "Karena bayaran itu untuk upah upaya dan tenaga. Sedangkan berterima kasih itu di lisan saja, tidak berbentuk materi."

'Baiklah...kalau begitu pernah ikut majelis ta'lim or sumting like dad?'

Anda jawab, "Tentu saja pernah. Rutin malah!"

'Anda membayar ustadznya?'

Anda jawab, "Tentu tidak. Kan sudah saya beri Combantrin...lho?"

'Berarti gratis?'

Anda jawab, "Tentu saja gratis."

'Kalau begitu, mana yang lebih layak diucapkan terima kasih padanya, guru bayaran atau guru relaan?'

II

'Oh ya, Anda pesbukan?'

Sunday, January 13, 2013

REALLY! JANGAN BACA INI! [1]


oleh Hasan Al-Jaizy

Kalau sampeyan punya waktu kosong dan bersedia 'capek' sedikit, namun ingin mendapat pahala insya Allah dengan upaya sedikit, tak sarani sampeyan ambil buku yang isinya bermanfaat, baik ukhrawi maupun duniawi, lalu ambil faedah atau kalimat bagus yang telah sampeyan garis bawahi atau terpesona akannya, lalu:

Ketik ulang dan jadikan status. Tentu niatkan sebelumnya sebagai amalan saleh yang ikhlas. Dan...selama itu bukan karya sampeyan, maka usahakan sebutkan sumbernya atau minimal, isyaratkan pada pembaca bahwa itu bukan karya sampeyan, melainkan...

...sampeyan 'hanya' menulis ulang demi faedah untuk manusia. 

Kalau sampeyan lebih punya kekuatan dan keilmuan, terlebih masih muda, tak sarani sampeyan LATIHAN membuat karya sendiri. Ga enak toh, jika dikatakan, 'Wah, masih muda...masih seger...masih banyak waktu kosong...ternyata, enggan berkarya...'

Karya itu ga mesti dalam bentuk tulisan, kok. Sampeyan membentuk majelis kecil-kecilan di masjid, merupakan karya. Mengadakan event bermanfaat meskipun sedikit, merupakan karya. Kalau begitu, masing-masing bergelut di bidang atau jenis berkarya yang ia sukai.

Tapi, saya katakan begini buat sampeyan:

REALLY! JANGAN BACA INI! [1]

oleh Hasan Al-Jaizy

Kalau sampeyan punya waktu kosong dan bersedia 'capek' sedikit, namun ingin mendapat pahala insya Allah dengan upaya sedikit, tak sarani sampeyan ambil buku yang isinya bermanfaat, baik ukhrawi maupun duniawi, lalu ambil faedah atau kalimat bagus yang telah sampeyan garis bawahi atau terpesona akannya, lalu:

Ketik ulang dan jadikan status. Tentu niatkan sebelumnya sebagai amalan saleh yang ikhlas. Dan...selama itu bukan karya sampeyan, maka usahakan sebutkan sumbernya atau minimal, isyaratkan pada pembaca bahwa itu bukan karya sampeyan, melainkan...

...sampeyan 'hanya' menulis ulang demi faedah untuk manusia. 

Kalau sampeyan lebih punya kekuatan dan keilmuan, terlebih masih muda, tak sarani sampeyan LATIHAN membuat karya sendiri. Ga enak toh, jika dikatakan, 'Wah, masih muda...masih seger...masih banyak waktu kosong...ternyata, enggan berkarya...'

Karya itu ga mesti dalam bentuk tulisan, kok. Sampeyan membentuk majelis kecil-kecilan di masjid, merupakan karya. Mengadakan event bermanfaat meskipun sedikit, merupakan karya. Kalau begitu, masing-masing bergelut di bidang atau jenis berkarya yang ia sukai.

Tapi, saya katakan begini buat sampeyan:

Saturday, January 12, 2013

Sebarkan Fikiranmu Yang Terbatas Itu!

oleh Hasan Al-Jaizy

Share Your Limited Thoughts 

Mungkin sampeyan mengira kritik, bantahan, uneg-uneg dan tanggapan kita akan sesuatu yang kita tulis di status tidak akan berguna dan tidak akan merubah apapun. Lebih-lebih tidak akan menghasilkan yang terharap.

Tetapi, saya pribadi percaya bahwa itu tidak benar. 

Semua itu bisa berefek terlebih jika sampeyan membingkisnya dengan menarik. Kritik kita tentang Raja Dangdut misalnya, mungkin tidak sampai pada beliau. Tetapi, sampai ke banyak manusia. Bisa jadi orang lain terinfluence dengan kritikan kita.

Friday, January 11, 2013

Teruslah Membaca Kitab, Kawan


oleh Hasan Al-Jaizy

Berkata penyair padang pasir:

نعم المحدث والرفيق كتاب .... تلهو به إن خانك الأصحاب 

لا مفشياً للسر إن أودعته ..... وينال منه حكمة وصواب 

Sebaik-baik pembicara dan teman adalah kitab
kau terhibur dengannya meskipun
teman-teman telah khianatimu

Ia tidak menebar aibmu jika kau
titipkannya padanya
Kau [justru] mendapatkan darinya
hikmah dan kebenaran

BUKAN seorang pembaca yang baik jika ia tidak dapat pengaruh apapun dari apa yang ia baca.

Thursday, January 10, 2013

Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i


oleh Hasan Al-Jaizy


Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i [w. 204 H] hafal Al-Qur'an di umur 7 tahun. Ia pun telah khatam menghafal Al-Muwattha' karya Al-Imam Malik [w. 179 H] di usia 10 tahun. Dan di usia belasan tahun, ia menjadi sandaran fatwa. Banyak manusia mengambil manfaat darinya.

Ketika di Makkah, Beliau telah menulis sebuah risalah ilmiah penting yang kemudian beliau kirim ke Abdurrahman bin Mahdy, seorang hakim di Iraq. Risalah itu adalah cikal bakal pembuktian kehebatan seorang Asy-Syafi'i dan keberkahan ilmunya. Lalu setelah berada di Mesir, beliau mendikte kembali risalah tersebut pada Al-Muraady. Risalah yang serupa dengan sebelumnya. Awalnya, tiada judul. Namun, setelah tersebarnya, barulah diberi judul Ar-Risalah.

Ar-Risalah adalah kitab fenomenal disebabkan pengaruhnya terhadap perkembangan ilmu syariat, terutama Fiqh. Karena kitab tersebut adalah kitab Ushul Fiqh pertama! Masih murni dan asli ala Asy-Syafi'i. Tidak tercampur baur dengan pengaruh ilmu Kalam, atau Mantiq. Baku dan bertaburan ayat-ayat Al-Qur'an. Tidak bertele-tele, berbelit-belit, berbahasa lugas meski tidak mencakup seluruh materi Ushul Fiqh.

Tidak hanya Ushul Fiqh, bahkan banyak ulama mengatakan bahwa dalam kitab tersebut, tumbuhlah bibit-bibit ilmu Ushul Hadits!

Dan sekarang, jutaan kitab telah tercetak dengan sandaran label 'Fiqh Syafi'i'. Nama Asy-Syafi'i begitu hidup, meski pemiliknya sudah tiada.

Lalu, apa yang kita fikirkan ketika melihat satu rak berisikan kitab-kitab Fiqh bermadzhab Syafi'i? Tiap membuka kitab, pasti tercantum berpuluh-puluh kali...tidak, beratus-ratus kali nama beliau.

Seolah-olah beliau hidup...beliau sudah tidak hidup berkurun masa berlalu.

Ilmu, upaya dan karya, bisa menjadikan nama seorang alim hidup. Jika namanya hidup dikenal baik di tengah manusia, itu adalah alamat betapa berkahnya ilmu pemilik nama. Itu adalah keutamaan dari Allah yang tidak terberi untuk semua manusia. Maukah kau menjadi seperti mereka?

Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i


oleh Hasan Al-Jaizy


Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i [w. 204 H] hafal Al-Qur'an di umur 7 tahun. Ia pun telah khatam menghafal Al-Muwattha' karya Al-Imam Malik [w. 179 H] di usia 10 tahun. Dan di usia belasan tahun, ia menjadi sandaran fatwa. Banyak manusia mengambil manfaat darinya.

Ketika di Makkah, Beliau telah menulis sebuah risalah ilmiah penting yang kemudian beliau kirim ke Abdurrahman bin Mahdy, seorang hakim di Iraq. Risalah itu adalah cikal bakal pembuktian kehebatan seorang Asy-Syafi'i dan keberkahan ilmunya. Lalu setelah berada di Mesir, beliau mendikte kembali risalah tersebut pada Al-Muraady. Risalah yang serupa dengan sebelumnya. Awalnya, tiada judul. Namun, setelah tersebarnya, barulah diberi judul Ar-Risalah.

Ar-Risalah adalah kitab fenomenal disebabkan pengaruhnya terhadap perkembangan ilmu syariat, terutama Fiqh. Karena kitab tersebut adalah kitab Ushul Fiqh pertama! Masih murni dan asli ala Asy-Syafi'i. Tidak tercampur baur dengan pengaruh ilmu Kalam, atau Mantiq. Baku dan bertaburan ayat-ayat Al-Qur'an. Tidak bertele-tele, berbelit-belit, berbahasa lugas meski tidak mencakup seluruh materi Ushul Fiqh.

Tidak hanya Ushul Fiqh, bahkan banyak ulama mengatakan bahwa dalam kitab tersebut, tumbuhlah bibit-bibit ilmu Ushul Hadits!

Dan sekarang, jutaan kitab telah tercetak dengan sandaran label 'Fiqh Syafi'i'. Nama Asy-Syafi'i begitu hidup, meski pemiliknya sudah tiada.

Lalu, apa yang kita fikirkan ketika melihat satu rak berisikan kitab-kitab Fiqh bermadzhab Syafi'i? Tiap membuka kitab, pasti tercantum berpuluh-puluh kali...tidak, beratus-ratus kali nama beliau.

Seolah-olah beliau hidup...beliau sudah tidak hidup berkurun masa berlalu.

Ilmu, upaya dan karya, bisa menjadikan nama seorang alim hidup. Jika namanya hidup dikenal baik di tengah manusia, itu adalah alamat betapa berkahnya ilmu pemilik nama. Itu adalah keutamaan dari Allah yang tidak terberi untuk semua manusia. Maukah kau menjadi seperti mereka?

Ushul dan Furuu'


oleh Hasan Al-Jaizy


Boleh saya jujur? Boleh! Harus malah! Daripada saya bohong, kan?

Sejujurnya, saya lebih menyukai diskusi suatu perkara atau beberapanya, dengan orang-orang yang berlatar belakang berbeda. Itu lebih enak SELAMA orang tersebut berlapang dada. Paling minimal, ia tidak memaksa kita harus setuju dengan argumennya. Tapi, argumen syaadz dan gharib [aneh dan beda sendiri] juga diizinkan untuk dileweki. Jangan itu, argumen masyhuur pun tidak apa-apa untuk dijadikan sasaran sarkasme [sindiran].

Itu yang kadang kami lakukan di kelas. Diskusi sambil bercanda, ngenyek, ngece, nyindir, lewek-lewekan, mempertanyakan manhaj golongan masing-masing tetapi tidak memutuskan tali pertemanan dan persahabatan. Kalau masih mahasiswa saja sudah main putus-putusan, nanti saat sudah jadi orang mau main apaan? Hehe...

Kalau berdiskusi dengan 'lawan' bicara yang berlapang dada dan tidak keberatan mendengar pendapat lawan, rasanya enak. Meskipun sebenarnya kita saling bertentangan dalam topik bahasan. Tetapi, kalau sudah tidak suka dan tidak mau diajak duduk berbincang, ya tidak akan pernah enak.

Monday, January 7, 2013

Untuk Tiapnya BERDERAJAT!

oleh Hasan Al-Jaizy


Semester satu ketika itu...

Seorang mahasiswa presentasi di kelas. Mata kuliah Fiqh Muqaranah [perbandingan madzhab] dalam dirasat Fiqh Ibadah. Tepatnya dalam bab shalat. Dosen kami, Ust. Bakrun Asy-Syafi'i MA, melatih murid-murid kecilnya untuk punya kebiasaan presentasi dan menelaah ke kitab asal.

Mahasiswa tersebut membahas suatu permasalahan fiqh [dalam bab shalat]. Ia mulai menjabarkan beberapa pendapat dari berbagai madzhab Fiqh. Selesai membocorkan pandangan madzhab Syafi'i, si murid dihadang sang guru.

"Ente tau darimana Syafi'iyyah berpendapat seperti itu?" tanyanya dengan bahasa 'padang pasir'.

"Ane tau dari kitab-kitab mereka, Ustas!"

"Sebutkan kitab-kitab tersebut juga pengarangnya!"

Lalu si murid menyebutkan satu persatu kitab-kitab madzhab terkait dan pengarangnya. Sang guru angguk-angguk.

Pelangi Payungi Bumi


oleh Hasan Al-Jaizy


Air mata itu lebih terasa mengalir jika manusia merundukkan kepalanya. Jarang ada manusia menangis dan menumpahkan isi hatinya dalam kondisi kepala menengadah.

Si keras kepala dan si sombong jarang menangis. Kepalanya terlalu sering menengadah. Merasa di atas siapa-siapa.

Kepala yang tegak itu baik ditampilkan depan makhluk.
Namun selamanya di depan khalik, tundukkan kepala.

Tegar adalah ketika ia menegak wajar di hadapan manusia selagi badai mempermainkan lembaran-lembaran sirah hayat, selagi merunduk di depan Sang Pencipta manusia. Jika Dia hendaki badai berganti pelangi, pelangi akan mengganti. Jika Dia hendaki pelangi terhapus badai, badai menghapus.

Lihatlah hujan-hujan atau gerimis itu. Tiap titisannya turun ke bawah, tiada ke atas. Dan setelah hujan terbit garis-garis pelangi, seperti setelah menangisnya manusia, terbit harapan-harapan baru.

Maka bangkitlah wahai manusia dari keterpurukan; karena selama roda kehidupan berjalan, tiap sulit dan mudah hadir silih berganti. Tiap sakit ada obatnya. Dan tiap obat ada kadarnya. Jika begitu adanya, mengapa ada manusia merasa putus asa dengan qadar?


Tidakkah Ini Mungkin?


oleh Hasan Al-Jaizy

Dulu, ketika masih sekolah, teman saya ini belajar mengaji dengan guru ngaji di kampungnya di tanah Sunda. 

Dulu, awal saya mengenal dia, ketika ia membaca Al-Qur'an, khas sekali didikan kampung. Ia mempunyai problem pada huruf Qaf; karena terlalu sulit untuk mengatur tenggorokan memberi hak huruf ini. Qaf nya terlalu besar; sehingga kadang mahasiswa yang sudah berlatar pendidikan pondok atau sudah lancar ngaji, mendengar dengan perasaan lucu sendiri. Namun bukan berarti mengejek.

Dulu, dia bukan seorang yang mahir berbahasa Arab. Masuk kampus dengan bekal kulit yang tidak putih dan logat Sunda yang masih ketara.

Sekarang, saya berguru padanya; menimba banyak pengetahuan darinya. Banyak bertanya padanya, entah tentang pengalamannya berdakwah di kampungnya, organisasinya dan sebagainya.

Sekarang, dia sudah mahir bicara bahasa Arab. Dan dalam waktu setahun, ia sudah bisa meninggalkan pelafalan Qaf yang memiriskan hati. Ia sudah bagus bacaannya.

Suatu saat, ia pulang ke kampungnya. Sudah banyak ilmu yang diseruput di kampus. Ia pun mengunjungi guru ngajinya dulu; orang yang berjasa. Apa cerita pendek darinya:

"Ane menemukan guru ngaji ane ga bisa bahasa Arab sama sekali. Padahal beliau dulu yang ngajarin ane ngaji. Hurup-hurupnya pake bahasa Arab. Sekarang ane pulang udah bisa bahasa Arab. Sebagai balas jasa, ane ajari guru ane bahasa Arab."

Orang besar insya Allah adalah yang bisa lebih baik dari gurunya.

Boleh jadi seorang guru akan sebal dengan seorang murid yang dipandangnya nakal atau hadirnya bagai gaibya atau tidak berkesan. Tapi, hati bisa berbalik dan jalan bisa berbelok. Tidak menutup kemungkinan murid itu kelak justru menjadi lebih hebat dari sang guru. Ia menyesali masa lalunya ketika masih berguru. Lalu ia berusaha membalas jasa sang guru.

Tidakkah itu mungkin?

Guru-guru TPA, atau SD, atau semacamnya, untuk sekarang hari, mungkin tak bisa memprediksi apa nantinya anak-anak menjadi.

Tapi, tetap mungkin anak-anak itu kelak menjadi orang-orang besar; yang mengingat guru TPA atau SD nya dahulu dan mendoakannya. Meskipun sang guru hanya tinggal kenangan dan nama...

Cerita Tentang Asa


oleh Hasan Al-Jaizy

[1] Ketika masih kecil, saya ingin suatu saat bisa tinggal di desa, setelah menyaksikan tiap Ahad acara 'Anak Seribu Pulau' dan 'Wiro Sableng 212'. Dan Allah menjawabnya. Saya tumbuh meremaja di desa Butuh, Kecamatan Tengaran, Salatiga, Semarang. Di Perguruan Sisir Putih, yang terletak di kaki Gunung Merbabu.

[2] Ketika hampir lulus, saya berharap akan tinggal mengabdi di daerah hutan-hutan selama beberapa masa. Dan Allah menjawabnya. Saya kemudian tinggal setahun di Perguruan Tarekat, daerah pelosok Pontianak.

[3] Ketika masih SD, saya suka menulis cerita dan dibaca teman atau guru. Ketika meremaja, saya suka menulis cerita dan artikel, dibaca makhluk hidup di pondok. Dulu, sempat berharap semoga kalimat-kalimat dari jemari saya tidak mati, masih ada manusia yang membaca jerihnya setelah lulus sekolah. Namun, beberapa tahun saya tidak menemukan wadah yang pas dan motivasi kuat untuk menulis kembali. Dan Allah menjawabnya. Kini tercipta jejaring sosial. Wadah untuk menulis dan mengajak manusia untuk menulis. Tidak masalah jika manusia mempermasalahkan banyaknya tulisan. Tidak sudi dengan eksistensi seseorang? Maka enyahkan eksistensi-nya dengan tekan Remove Friendship atau Block This Alien sekalian.

Friday, January 4, 2013

Memasang Kompor Di Atas Kuburan Keramat

oleh Hasan Al-Jaizy


Kalau saya perhatikan, situs forum ilmu syariah terbagus itu -sebatas pengetahuan saya- adalah ahlalhdeeth. Pernah saya melakukan komparasi atau perbandingan kecil-kecilan antara ahlalhdeeth dengan forum ilmu syariah lainnya. 

Kesimpulan sementara: Forum ahlalhdeeth memang benar-benar untuk thullab al-ilm. Sementara ada satu dua forum lainnya bukan untuk thullab al-ilm, melainkan lintah-lintah dan lalat-lalat penjilat bangkai. Wah, buruk sekali penyifatan dari saya. Kok begitu?

Karena perbandingannya begini:

Coba perhatikan di antara Muntada dalam Ahlalhdeeth, apa yang paling banyak/laris?

[1] Muntada Rehat/Istirahat, berjumlah 16.000 thread lebih.
[2] Muntada Syar'i Aam, berjumlah 35.000 thread lebih.
[3] Muntada Khizanah Kutub/Abhaats, berjumlah 33.000 thread lebih.

Thursday, January 3, 2013

FALSAFAH PENSIL II


oleh Hasan Al-Jaizy


Pensil itu kemampuanmu dan bakatmu

Sebelum memulainya, kututurkan padamu bahwasanya orang merugi adalah orang yang tidak tahu apa yang bisa ia lakukan demi dirinya atau orang lain. Orang merugi adalah orang yang tidak tahu bahkan enggan mencari tahu bakat apa yang Allah titipkan pada dirinya. Betapa banyak orang melalui masa mudanya masih dalam ketidaktahuan apa bakat yang ia miliki. Dan alangkah sedihnya jika ia baru mengetahui bakatnya di masa tua; sehingga ketika ingin memulai mengasahnya, kemustahilannya seperti mencabut beringin tua dari tempatnya. Maka, galilah potensi sedari dini, sebelum potensi itu sudah tak mungkin digali lagi.

[1] Pensil itu terwujud; merupakan senjata dan modalmu menulis. Awal membelinya, pensil itu tumpul. Dan kau tak mampu menggunakannya sebelum ia diraut.

==> Sebagaimana bakat dalam dirimu. Ia adalah modal yang dititipkan oleh Penciptamu. Merupakan keadilan dan hikmah dari-Nya, kau diberi kemampuan yang tidak semua manusia bisa melakukannya. Namun, bakat di awal-awal masih begitu mentah dan tumpul. Ia tidak serta merta menjadikan pemiliknya hebat dan bisa berkarya dengan bakatnya itu. Melainkan:

[2] Pensil harus diraut terlebih dahulu; sehingga ia pun menajam dan melancip. Semakin tajamnya ia, semakin baik tulisan terwujud.

FALSAFAH PENSIL I

oleh Hasan Al-Jaizy


Pensil itu seperti dirimu dan kehidupanmu.

[1] Pensil itu berbentuk panjang tersedia. Ketika kau membelinya dari toko, ia masih tumpul, belum bisa digunakan secara utuh. Sebagaimana hidupmu di awal umur. Dahulu, setelah kau dikeluarkan dan keluar dari perut ibumu, belumlah kau menjadi siapa-siapa. Kau hanya disebut anak manusia. Kau belum menciptakan apapun selain tangisanmu itu, keharuan kedua orang tuamu dan apalagi? Kala itu, kau masih tumpul tak berbekal. Bahkan kau keluar dengan ketelanjangan, ketidaktahuan dan ketidakpunyaan.

[2] Pensil kemudian akan diraut perlahan-lahan, hingga mulailah ia melancip.

==> Sebagaimana kemudian di masa balita, kau mulai dilatih oleh ibumu berbicara. Perlahan-lahan kau mulai berbahasa. Kau pula dilatih berdiri perlahan-lahan. Zaman pun bercerita bahwa hari demi hari terambil demi les berdiri. Setelah itu, kau pun mulai pandai berbahasa dan berdiri.