Showing posts with label Guru. Show all posts
Showing posts with label Guru. Show all posts

Wednesday, March 27, 2013

Lebay Terhadap Orang-orang Saleh

oleh Hasan Al-Jaizy



[1] Sa'id Az-Zanjany

Adalah Sa'id bin Ali Az-Zanjany, seorang ulama yang wafat tahun 471 H. Beliau berkunjung ke berbagai negara demi menyimak hadits Nabi. Ia merupakan seorang hafizh, ahli ibadah dan wara'. Itu penyifatan dari Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah.

Sementara dalam Siyar A'laam An-Nubalaa', Adz-Dzahaby mengatakan, 'Beliau adalah seorang imam al-allaamah (berilmu sangat tinggi), Al-Hafidz, seorang qudwah (yang patut diikuti), ahli ibadah, Syaikhul Islam dan seorang SUFI.' [As-Siyar: 18/385]

Pada senja usianya, beliau memilih tuk menetap di Makkah. Orang-orang mencari keberkahan darinya. Jika beliau keluar menuju masjid Al-Haram, orang-orang yang tadinya sedang thawaf bergegas menujunya. Untuk apa? Untuk mencium tangannya. Hingga Ibnul Jauzy mengatakan, "Mereka lebih sering mencium tangannya daripada menicum Hajar Aswad." [Al-Muntazham, 16/201]

[2] Abu Ishaq Asy-Syirazy

Monday, January 14, 2013

REALLY! JANGAN BACA INI! [2]


oleh Hasan Al-Jaizy


I

'Anda pernah sekolah? Jika pernah, saya tanya: apakah kita harus berterima kasih pada guru yang mengajari kebaikan pada kita?'

Anda jawab, "Tentu saja harus!"

'Tetapi, bukankah mereka sudah dibayar? Sudah digaji, bukan? Untuk apa berterima kasih lagi?'

Anda jawab, "Karena bayaran itu untuk upah upaya dan tenaga. Sedangkan berterima kasih itu di lisan saja, tidak berbentuk materi."

'Baiklah...kalau begitu pernah ikut majelis ta'lim or sumting like dad?'

Anda jawab, "Tentu saja pernah. Rutin malah!"

'Anda membayar ustadznya?'

Anda jawab, "Tentu tidak. Kan sudah saya beri Combantrin...lho?"

'Berarti gratis?'

Anda jawab, "Tentu saja gratis."

'Kalau begitu, mana yang lebih layak diucapkan terima kasih padanya, guru bayaran atau guru relaan?'

II

'Oh ya, Anda pesbukan?'

Friday, December 28, 2012

HARAPAN Seorang Guru Di DEPAN Murid-muridnya [Sebuah Renungan]

oleh Hasan Al-Jaizy


Suatu hari, di tahun 1414 Hijriyyah, [hitung berapa tahun yang lalu], di negeri Saudi Arabia, ada seorang guru yang rutin mengajar murid-muridnya. Di sebuah majelis yang rutin digelar di hari tertentu. Majelis Mingguan.

Guru ini dahulu -di awal masa mengajar-, hanya dihadiri segelintir orang. Bahkan pernah hanya 1 murid. Namun tetapbersabar hingga berdatangan di bulan dan tahun berikutnya banyak dari murid.

Di suatu hari, tahun 1414 Hijriyyah, beliau mengucapkan ini:

الآن كتاب رياض الصالحين يُقرأ في كل مجلس ، ويُقرأ في كل مسجد ، وينتفع الناس به انتفاعاً عظيماً ، وأتمنى أن يجعل الله لي كتاباً مثل هذا الكتاب ، كلٌ ينتفع به في بيته ومسجده

"Sekarang, kitab Riyadhus Shalihin [karya An-Nawawy] dibaca di setiap majelis [ta'lim], dibaca di semua masjid, dan manusia mengambil manfaat darinya. Manfaat yang sangat besar! Aku BERHARAP Allah menjadikan untukku satu kitab seperti kitab Riyadhus Shalihin ini; sehingga semua orang mengambil manfaat darinya...di rumah...dan masjid..."

Siapakah guru ini?

Beliau adalah

Ustadz Mahmud + Ust Ihya [Cerita Untuk Pembaca]


oleh Hasan Al-Jaizy

Ust. Mahmud adalah seorang ustadz berasal dari Indonesia Bagian Timur yang dahulu ketika di pondok adalah orang yang selalu saya hindari, juga teman-teman. Karena beliau dahulu sangat tegas. Sekitar satu jam sebelum adzan Subuh, beliau sudah teriak-teriak membangunkan kami shalat. Ketika itu saya masih kelas 3 SMP. 

Pondok kami terletak di kaki Gunung Merbabu. Jangankan malam, siang pun dingin. Namun karena tersiram sinar matahari, menjadi sejuk. Namun, ustadz yang satu itu, di tahun itu, semangat sekali membangunkan kami. Saya dan teman-teman se-aliran, selalu menggerutu.

Kami tidak menyukainya. Geram melihat beliau. Paling minimal, kami mengucapkan 'ck' sebagai ekspresi kekecewaan dan kesebalan. Dan beliau tahu banyak santri tidak menyukainya. Namun, beliau tetap tegas.

Monday, December 24, 2012

CAT : [63] "EMBUN PAGI UNTUK GURU"


oleh Hasan Al-Jaizy


Tiada sebutan 'mantan guru' bagi guru yang ajarimu kebenaran, asahmu kebijakan dan asihmu kebaikan. Guru masa lalu tetaplah adalah gurumu. Guru adalah gurumu seterusnya. Karena melaluinya, kau ketahui ini itu.

Gurumu dahulu berangkat berjuang memperjuangkan ilmu dengan kayuhan sepeda. Atau ia rela menafkahkan keringat untuk bumi berjubel tubuhnya dengan kumpulan manusia dalam bis kota. Sebelum menjadi guru, gurumu belajar bertahun lamanya untuk membelai akalmu dengan sentuhannya.

Dan sungguh bangganya gurumu jika kelak mendapatimu menjadi orang mulia. Guru akan merasa mulia ketika asuhannya dimuliakan. Guru akan merasa sedih ketika didikannya dihinakan. Jika guru dan murid sejiwa sehati, maka itulah maqom tertinggi.

Guru telah terjaga sebelum subuh. Ketika itu kamu masih pulas di atas tempat tidur terkulai dalam pelukan akar-akar mimpi. Bunga tidur. Guru telah memikirkan tentangmu ketika kamu belum sempat mengingatnya. Guru kerahkan tenaga, upaya dan suara sebelun kau punya ketiganya. Guru letih sebelum kau letih.

Yaitu guru masa kecilmu. Entah ia guru mengaji atau madrasah. Jika kau di desa kala itu, masih ingatkah sepeda yang tiap hari dikendarainya? Jika kau di kota saat itu, kau pun belum tahu seberapa gajinya.

Sekarang, anggaplah kau bukanlah seorang guru. Kau membatin, 'Jika aku jadi guru, seberapa kelak gajiku?' Dan kau sadari gaji guru tak sebanding dengan keringatnya, jasanya, peirhnya, suaranya hingga tangisannya.

Betapa tidak mudah menjadi guru. Terlebih ketika dituntut agar kau mampu kuasai ini itu. Ketika kau gagal, guru menunduk. Wali murid hanya bisa mempertanyakan, mempermasalahkan dan mengkiaskan.

Tahukah apa di antara kepahitan guru? Yaitu ketika kau gagal atau tak memuaskan ibu bapakmu di madrasah, guru dianggap pencetusnya. Lebih pahit lagi jika kemudian guru tersebut dibanding-bandingkan dengan guru di madrasah lain. Sakit hati disakiti murid masih bisa dibasuh kemaafan. Tapi sakit hati disakiti wali murid tiada kiasan.

Guru-gurumu itu kini sudah menua. Kulit tangan mereka bergelombang. Wajah-wajah mereka tak secerah dulu lagi. Kau takkan melihat luka di sorot mata mereka; padahal dahulu mereka adalah orang-orang terluka.

Guru-guru akan merasa berharga jika murid kecilnya menjadi orang berharga. Guru-guru bahagia termuliakan jika ia mengetahui murid lamanya menjadi orang yang dimuliakan.

Sebelum wafat mereka, jika memang tak sempat kunjungi rumah mereka, kunjungilah kuburan kenangan. Di dalamnya ada kisah-kisah antaramu dan gurumu. Yang bisa menjadi pelajaran dan teks doamu untuk mereka....para guru!

Friday, December 21, 2012

CAT : [50] "BENDERA TAK LAYAK DIHORMATI!"


oleh Hasan Al-Jaizy


Tidak mesti orang yang keberatan menjawab 'Ngafwan, ana ga tahu' adalah orang yang berusaha berbicara melebihi kadarnya atau sok tahu atau lainnya yang bersifat negatif.

Karena bisa jadi ia keberatan mengucapkan itu setelah ditanya perihal suatu permasalahan, karena ia dahulu tahu jawabannya namun terlupa. Dan ia berusaha mengingat keseluruhan jawaban atau berusaha menata kalimat.

Kadang kita menyesal mengapa lebih banyak lupa dibanding lebih banyak tahu.
Lebih menyesal lagi jika ternyata kita tidak tahu bahwa kita banyak lupa.

Kadar kemampuan tiap orang dalam menghafal dan mengingat itu berbeda, seperti yang

Friday, December 7, 2012

CAT : [13] "MENGENAL BEBERAPA DOSEN KAMI"

oleh Hasan Al-Jaizy


[1] Syaikh Dr. Ajuuz, seorang doktor dari Mesir. Dosen yang satu ini terkenal dengan ilmunya yang luas, telaten, rajin dan suara yang menggempakan kelas. Sulit tidur ketika hadir di kajian beliau, meskipun sudah diniatkan sebelumnya bulat-bulat. Beliau ahli dalam ilmu Hadits [Musthalah], dan Fiqh. Beliau pernah mengkaji Fiqh Perbandingan dengan kitab Bidayatul Mujtahid beberapa pertemuan di semester 2 Syariah, kemudian Fiqh-Hadits dengan kitab Subulus Salam di semester 2 dan 6. Pernah juga beliau mengajar Tafsiir selama satu semester dengan kitab Fathul Qadiir.

[2] Syaikh Dr. Al-Azaazy, seorang doktor dari Al-Azhar, Mesir. Beliau spesialis ilmu Ushul Fiqh. Biarpun kadang lucu terlihat, namun tegas dan garang. Tegas dan garangnya pun lucu. Tapi, lucunya itu tegas dan garang. Mahasiswa yang terlambat beberapa detik atau menit setelah ia masuk, akan dipukul punggungnya sebagai hukuman. Beliau mengajar kami Ushul Fiqh dengan kitab Raudhatun Naadzir.

[3] Ustadz Kyai Muhammadun Lc, MA, seorang pakar fiqh asjowo, alias aseli dari jowo. Logat

Tuesday, November 6, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU : [3] "Rumput Takkan Tumbuh Kala Derasnya Hujan"

oleh Hasan Al-Jaizy

Di sebuah desa, ada seorang guru ngaji yang miskin. Perekonomiannya hanya bersandar pada warung kecilnya yang sehari-hari ia bergantian dengan istrinya menjaga. Hanya itu yang ia andalkan tuk penuhi kebutuhan keluarganya. Aktivitasnya hanyalah menjadi guru ngaji selepas ashar dan maghrib.

Ia mengajar di TPA desanya. Lokasi mengajarnya di mushalla desa. Ia ajari anak-anak kecil cara bersuci, seperti wudhu, tayammum, shalat dan puasa. Dan tentu saja anak-anak diajari membaca Al-Qur'an. Itu semua adalah ilmu warisan kyai-nya yang sudah lama wafat. Dulu, sang kyai berwasiat padanya secara khusus, "Kamu harus tetap tegakkan agama dan ajarkan apa yang aku ajar di desa ini. Ajarkan anak-anak. Teman-temanmu berguguran dan berlari ke kota mencari dunia. Tapi, pesanku untukmu, carilah akhirat dengan mengajar anak-anak, kelak insya Allah pada masanya Allah akan membuatmu kaya...lebih kaya dari teman-temanmu yang meninggalkanmu sendiri mengajar di desa ini."

Guru ini pun benar-benar mengingat dan

Wednesday, October 17, 2012

Membongkar Kuburan Keramat

oleh Hasan Al-Jaizy

Jika melihat beberapa kasus negatif di sektor edukasi formal negeri ini, rasanya cukup mengiris hati. Terlebih apa yang tercerita tentang pendidikan banyak sekolah di kotaku ini. Menengok ke pasar, ada rasa sakit di hati dan keputusasaan tercetus, karena rupanya banyak sekali praktek riba, kecurangan takaran dan penipuan di sana. Menengok ke sekolah, rasa sakit itu bertambah. Trend LKS [Lembar 'Kerjaan' Sekolah, atau Lembar Kerjain Siswa] atau semacamnya malah berpotensi memperbodoh anak-anak dan adik-adik kita.

Saya beri satu contoh yang sudah jamak tersebar. Di bidang bahasa Inggris [English]. Guru-guru English di banyak sekolah, entah swasta atau negeri, justru menjadi pihak yang paling idle [offline/malas/lemah]. Kerjaan mereka di kelas hanya memberi lembar kerja pada siswa; tanpa menerangkan secara sistematis atau efektif pada anak akan materi-materi. Bahkan, buku panduan sekolah dianggurkan. Padahal para orang tua membelinya dengan anggaran bukan untuk dianggurkan. Harapan orang tua, buku itu untuk dipelajari, dibahas isinya.

Namun, rupanya guru-guru tersebut lebih suka menjadi seperti setan edukatif. Meski sudah tahu buku pegangan ada dan terbeli, tetap saja mereka mencari celah untuk dua hal: 1. Bagaimana supaya gue bisa nyantai dan ga perlu kerja keras, 2. Bagaimana supaya gue bisa membuat proyek bisnis di sini. Akhirnya, tercetuslah ide najis seperti:

Wednesday, October 10, 2012

Tindak Tunduk

oleh Hasan Al-Jaizy

Cobalah mempraktekkan ini: segala yang menyelisihi pemikiranmu harus dikritisi segera. Maka kau akan temukan dirimu mengabaikan penyimpangan yang terjadi di dalam dirimu sendiri. Manusia tidak bisa melahap segalanya; karena itulah manusia jika tidak bisa meruntuhkan segalanya.

Cerita ini ada. Seorang guru ngaji yang bertahun-tahun dari masa mudanya [pra-30 tahun] hingga tua selain berprofesi sebagai petani di desa, ia juga tiap selepas maghrib mengajar ngaji untuk anak-anak, dan selepas isya untuk dewasa. Okelah, ia bukanlah guru ngaji modern yang menerapkan metode mengajar mutakhir menarik dan cepat sampai. Tapi, apresiasi harus mengalir untuk guru ngaji ini, yang mendedikasikan tenaganya untuk ilmu, meski

Monday, September 24, 2012

GURU: Hanya Bermodal Ikhlas?

oleh Hasan Al-Jaizy

Oemar Bakrie di zaman inie sulit ditemuie. Yaitu, goeroe yang ikhlas lillahi ta'ala. Rela capek berletih-letih mengayuh sepeda butut demi mengasah generasi bangsa. Bandingkan dengan guru sekarang, terutama guru sekolahan [dalam beberapa kasus; guru SD] yang kerjaannya jadi kuli LKS atau pemungut pajak/bayaran ekstra. Yang jadi guru anak SD jangan tersinggung, karena Anda secara individu tidak dibahas di sini.

Tapi, masih ada kok guru yang memiliki modal keikhlasan mencukupi. Hanya saja, zaman sekarang banyak hal serba cepat. Semuanya dituntut untuk maju dan melakukan renovasi sana-sini. Terlebih wali murid, yang sebagian hobinya menuntut dan mempertanyakan. Selagi menyalah-nyalahkan metode ngajar sang guru, mereka lupa diri kalau sebenarnya mereka sebagai orang tua, justru menyerahkan anak pada orang lain soal pendidikan. Di rumah, boro-boro mereka mendidik baik. wkwkwk

Karena kemajuan dan 'kemanjaan' generasi sekarang, maka guru-guru dituntun untuk memiliki skill mencukupi dan berkembang. Yakni: tidak gitu-gitu doanks. Yang paling disorot adalah berbicara. Guru harus bisa menjelaskan pada murid materi pelajaran dengan bahasa lisan yang bagus dan lancar. Saya tidak bisa membayangkan dengan rapih di otak jika Aziz Gagap menjadi guru bahasa Indonesia.

Nah, yang sedang digencari oleh para ahli edukasi [atau para penulis di bidang edukasi] adalah wajibnya para guru untuk mengasah skill menulis mereka; sebagai contoh terbakti bagi para murid. Toh tidak bisa diingkari juga bahwa guru bahasa Indonesia di tingkat SD belum tentu pandai membuat karya tulis yang patut ditiru murid-murid.

Guru ngaji juga begitu. Maksudnya: guru pengajian [seperti ustadz atau kyai]. Jangan mengandalkan penampakan keikhlasan saja. Bagi sebagian, upayakan [semampunya] untuk tidak menjadi tukang dongeng sebelum tidur dalam mengajar pengajian. Volume suara dan equalizer serta tone nya juga layak diperhatikan.

Intinya: Jangan bermodal keikhlasan thok. Paling wuelik yo ngene: sudah ga ikhlas, bicaranya ngadat-ngadat plus emosian.

Tuesday, August 7, 2012

Ust. Nur Hayyun dan Ust. Khuzaimy

oleh Hasan Al-Jaizy

Nama guru formal yang jasanya paling besar dan paling terasa dari segi faedah adalah Ust. Nur Hayyun dan Ust. Khuzaimi.

Ust. Nur Hayyun dan Ust. Khuzaimi.

--> Ust. Nur Hayyun mengajar Tadriib Lughawy dan Tadribat Ala Al-Anmath saat saya masih buta Arabic di awal masuk pesantren.
--> Ust. Khuzaimi mengajar Sharaf dan Muthala'ah saat sebelumnya saya tidak tahu setitik pun apapun dari ilmu Sharaf.

Mereka bukan ustadz-ustadz pengajian dan tak sehebat...juga tak sesohor ustadz pengajian kalian. Namun, ini bukan main hebat-hebatan dan bukan menang sohoran. Banyak dari guru yang mengajarkan ilmu basic sebenarnya paling berjasa atas banyak manusia, dan jasanya terlupakan. Nama mereka tenggelam atau bahkan asing, karena mereka hanya mengajar anak-anak kecil dan remaja.

Namun, semoga Allah mengalirkan selalu pahala bagi mereka. Jika 1 murid mereka ajari bahasa Arab, lalu ternyata murid tersebut menjadi seorang mujahid dalam bidang ilmu dan melahirkan kembali puluhan mujahid, maka itu sudah lebih dari segala-gala materi isi dunia. Itu hanya 1 murid. Bagaimana jika mengajar 1000 murid, lalu 200 di antaranya menjadi mujahiduun/ulama?

Ingatlah...siapa dulu guru mu yang ajarkan ilmu basic begitu berkahnya...hingga kini masih kau pakai dan bermanfaat bagi manusia!?


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/427625477278843

Monday, July 30, 2012

Kita Sebenarnya Belajar Untuk Apa?

oleh Hasan Al-Jaizy

Di kampus ada seorang dosen Aqidah, muridnya Syaikh ibn Baaz -rahimahullah-, yaitu Syaikh Dr. Salih Al-Aidaan -hafidzahullah-. Tegas, lugas dan padat dalam menjelaskan dan membantah. 

Pernah di suatu kajian, beliau 'membantai' keyakinan suatu firqah yang di Indonesia banyak pengikutnya, dan membuat seluruh hadirin di kelas tersihir dan tak bisa bicara apa-apa; saking tegas, ngena dan mengalirnya kalimat beliau.

Cuma yang menyebalkan model begini: "Ketika kajian si fulan-fulan-fulan diam membisu, seakan setuju dengan bantahan sang dosen. Namun ketika selesai kajian, di belakang ngedumel dan 'curhat'."

Kenapa ga sekalian angkat suara tadi jika memang ia mencari kebenaran? Bahkan sang dosen berkali2 bilang: 'Siapapun yang punya kritik dan masukan, silahkan! Saya senang thalib yang kritis karena ingin belajar dan tahu kebenaran. Saya tidak ingin mereka diam ketika pelajaran saya; lalu setelah saya keluar mereka baru bicara!'

Sekali lagi:

"Kita sebenarnya belajar untuk apa?"


Agak tidak nyambung tapi bisa disambung-sambung:

"Jangan memuja negara Saudi atau kerajaannya atau pemerintahannya atau siapapun dengan gaya berlebihan seakan tidak ada kesalahan atau hal negatif padanya."

Juga:

"Kita menghormati dan menghargai pemimpina atau pemerintah; namun jangan kebangetan dan hormati atau hargai dengan gaya biasa. Jangan mengungkapkan kebaikan seakan-akan tidak ada kecacatan pada mereka."

Karena banyak pertanyaan semacam ini: "Emang segitunya?"

Pertanyaan itu untuk para pembela yang 'hawa-hawanya' terlalu. Entah itu berkaitan dengan Saudi Arabia, pemerintahan bahkan radio.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/424775910897133

Saturday, July 21, 2012

Beberapa Point

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point yang kukaitkan dengan 'madrasah':

[1] Masa sakit, dalam maupun luar sakitnya, adalah madrasah bagi empunya; mengundang tanya apakah bersabar ia teguh atau berkeluh ia runtuh.

[2] Ada sebuah madrasah yang jika kamu belajar di dalamnya, akan menjadi keroposlah kebaikan dunia akhiratmu. Ia adalah madrasah Iblis, yang sedari awal dinamakan Madrasah Ana Kahairun Minhu [Saya lebih baik darinya]. Madrasah ini menjadi faktor terbesar pembangkangan, penyelewengan dan penjauhan makhluk dari surga.

[3] Namun, tidak salah jika kamu katakan 'Saya ingin menjadi lebih baik darinya'; karena Sang Pencipta bumi dan langit pun inginkan siapapun dari kamu untuk saling berlomba, selama itu dalam kebaikan yang ia perbolehkan dan ridhai.

[4] Madrasah pertama tiap manusia secara normal adalah rumah. Dan guru pertama adalah ibu. Kebalikannya, jika seorang manusia sedari kecil kehilangan salah satu dari rumah atau ibu, ada ketimpangan. Terlebih jika kehilangan keduanya. Dan kini teringat olehmu anak-anak miskin itu, bukan? Periksa keuanganmu....jika ternyata ada sempatnya kau memberi mereka sesuatu...maka itu insya Allah ada sesuatu bagimu di hari nanti.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/422182984489759

Tuesday, July 3, 2012

IYA, KAN? : "AN!"

oleh Hasan Al-Jaizy


Salah satu cara untuk meneguhkan dan menancapkan tiang-tiang ilmu di benak adalah dengan cara menyampaikan, baik itu dengan lisan maupun tulisan.


2 akhiran AN:

[1] Dengan LISAN, yakni dengan cara ceramah atau mengajar. Ada seorang teman bercerita bahwasanya ia mempunyai teman lulusan kampus saya dan lulusnya berderajat 'kurang-tinggi-nilainya'. Sebut saja namanya Mamat. Ketika masih ngampus, ia tidak maksimal; namun setelah lulus dan mengajar, di situlah justru ia memaksimalkan ilmu dan memperkuatnya. Karena dengan mengajar atau ceramah, dia [sebagaimana normalnya guru dan penceramah] mempersiapkan materi matang2 plus referensi. Lalu disampaikanlah olehnya ilmu hingga mengakar.

[2] Dengan TULISAN, yakni dengan menulis catatan, ringkasan, atau karangan yang selayaknya disebar ke orang lain. Cara ini sebenarnya lebih terbuka untuk masa kini. Setiap orang memiliki kesempatan melakukannya, terlebih di dumay. Tapi masalahnya, tidak banyak yang rajin mencatat, meringkas dan menulis ulang. Yang banyak adalah mengandalkan catatan, ringkasan dan tulisan orang lain; yang kemudian di-foto-copy atau di-copas. Tentu ini kurang bagus jika menjadi kebiasaan dan adat. Karena dependensi [ketergantungan] membunuh daya independensi [ketidaktergantungan dan kebebasan].


 [1] LISAN

Maka, kita lihat para penceramah dan ustadz2 pemateri senior, mereka sangat menguasai materi karena:
a. terbiasa menyampaikan dan
b. terbiasa menyampaikan materi tersebut.

Jika sedari muda, seseorang sudah terbiasa tampil di hadapan umum, ia tak menemukan kesulitan menggunung di masa depan saat diundang tampil sana-sini.

Jika sedari muda, seseorang terbiasa menyampaikan materi kitab Matan Abi Syuja' [misalnya], maka kelak ia malah jadi hafal dan tidak memerlukan buku lagi.

Lihat juga guru2 senior, mereka tidak memerlukan banyak buku dan kertas dalam menyampaikan pelajaran; karena sudah terbiasa menyampaikannya.


[2] TULISAN

Tidak sedikit orang yang mahir menulis, meringkas dan mengungkap apa yang terfikir lewat banjiran tinta pena mampu merangkai kalimat sempurna selalu dengan lisan. Namun rata2 mereka yang mahir menulis memiliki pemikiran dan pemahaman yang lebih dalam dibanding yang mahir berbicara.

Karena tiada orang mahir menulis melainkan karena ia suka membaca. Dan membaca mewariskan daya untuk memahami lebih detail.
Dan tiada orang mahir berbicara melainkan karena ia suka mendengar. Dan mendengar mewariskan cepatnya memahami, namun tidak mendetail.

Dan orang lebih banyak berbicara dibanding menulis; karena tulisan sebenarnya lebih mahal dibanding ucapan lisan. Ucapan lisan tak hendak dijual kecuali jika nyanyian ia dan berirama ia. Sedangkan karya tulisan terjual oleh orang, bisa melegenda dan bisa saja ia terulir hingga akhir zaman diingat manusia.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/415356101839114

Monday, July 2, 2012

Beberapa Point

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point ketika tekad anak Adam sedang diuji:

[1] Seorang guru atau pengajar tidak harus menjadi orang lain dalam mengajari murid. Selebih baiknya, ia menjadi diri sendiri namun mengambil yang baik dari gaya orang lain.

[2] Merupakan hal yang amat menyakitkan bagi seorang guru jika: ada di antara muridnya yang sudah dewasa secara terang-terangan mengkritik gaya mengajarnya di depan murid lain lalu membandingkan antara dia dengan beberapa guru lain. Sangat sakit terasa.

[3] Terlebih jika ternyata guru yang dikritik tersebut sebenarnya sudah berupaya semampu mungkin dan sudah mempersiapkan sedaya mungkin; namun ternyata murid menginginkan yang lain. Entah muda atau tua usia guru, hatinya mungkin akan menangis terlebih dahulu sebelum ia menangis di kesendiriannya.

[4] Kamu akan melihat bahwa guru-guru yang dizalimi atau disakiti beberapa muridnya justru guru-guru yang benar berbakti namun memiliki kekurangan. Sebaliknya, guru-guru pengkhianat yang mengajar bukan karena ingin mencerdaskan [tetapi sekedar cari uang semata], justru lebih megah rasa hati mereka.

[5] Di antara guru-guru, ada yang bertekad cerdaskan anak bangsa, tidur larut demi persiapkan materi esok dan berdoa selalu tiap melihat siapapun dari murid. Dan mereka adalah sebenar-benar guru dan setulus yang terada...meski para murid tidak tahu . .....


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/415172281857496

Monday, June 4, 2012

Bu Siti, Ust Nur Hayyun dan Ust Khuzaimy

oleh Hasan Al-Jaizy

Akan selalu kuingat selalu jasa guru-guru yang membimbing pelajaran2 yang kini benar2 paling terpakai, mereka adalah Siti [Bahasa Indonesia, 1 SD], Ust. Nur Hayyun [Bahasa Arab Praktek, 1 SMP] dan Ust. Khuzaimi [Sharaf + Muthala'ah, 1 SMP]. 

Tentu saja ada banyak guru dan syaikh yang jauh lebih tinggi ilmunya, namun yang paling berjasa adalah mereka bertiga; karena membimbing di masa buta lalu masih merabun. Bukankah pembimbing di masa tersulit adalah pembimbing yang paling terkenang?


Orang2 biasa bisa ciptakan orang2 luar biasa

Dan Bu Siti dulu adalah guru biasa...yang sekarang sudah tua sekali usianya
Dan Ust. Nur Hayyun asalnya adalah orang kampung biasa
Dan Ust. Khuzaimi asalnya juga orang kampung biasa

Namun, mungkin saja seorang yang berasal dari kampung, ia berhasil mencetak generasi yang membangun sebuah negara...mungkin? Mungkin? MUNGKIN???

Mungkin...sungguh teringat kalimat dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimiin -rahimahullah-, yang maknanya:

"Betapa adanya seseorang tiada punyai harta jua nasab tinggi, namun Allah angkat derajatnya dengan ilmu"......hingga manusia dan seisi alam bersyukur padanya, berselawat untuknya dan memohon ampun baginya. Sungguh benar yang tersabdakan oleh Nabi bahwa dunia ini begitu terlaknat, kecuali apa yang terdzikir mengenai Allah, yang belajar dan yang berilmu.....


Sekarang...

ketika engkau sudah bertahta
ketika engkau sudah bergelimang harta
ketika engkau sudah merengkuh puncak ilmu
ketika engkau sudah menjelajahi segala lautan biru

tanya dirimu...
siapa dahulu...
yang ajarkan aku...
hingga tak lagi ku seperti dulu...?

Tersebut kemudian nama-nama guru di benakmu
Mereka yang berjasa namun tak meminta biaya darimu
Dan teringat kemudian siapa dulu yang membiayaimu
...............maka jangan lupakan orang tua


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/398204586887599