oleh Hasan Al-Jaizy
Anak-anak kucing beserta induknya di tengah pusat kota. Kardus AQUA di depan sebuah toko. Sore-sore berdebu untuk kota. Banyak sekali hewan berlalu lalang sebagaimana saban hari. Keramaian dan kebisingan.
Anak bertanya: "Mak, kenapa rumah kita di sini?"
Induk: "Emak sudah tak tahu lagi harus kemana. Kalian sudah emak bawa ke beberapa tempat. Selalu diusir."
Anak bertanya lagi: "Tidak adakah lorong di sekitar sini?"
Induk: "Lorong-lorong sering dijamahi preman-preman yang mengincar kamu dan ketiga saudaramu, sayang. Ibu tak sudi mereka mengintip kita semua dan mengintai setiap saat."
Sore-sore seperti saban sore. Anjing-anjing berlalu lalang. Banyak pula para tetikus got raksasa berdasi keluar masuk toko. Mereka semua bertaring dan masih ada sisa darah di tiap-tiap mulut mereka. Anak-anak kucing selalu ketakutan melihat mereka semua.
Di antara semuanya, ada beberapa makhluk putih yang beda. Jarang sekali lewat.
Anak-anak kucing beserta induknya di tengah pusat kota. Kardus AQUA di depan sebuah toko. Sore-sore berdebu untuk kota. Banyak sekali hewan berlalu lalang sebagaimana saban hari. Keramaian dan kebisingan.
Anak bertanya: "Mak, kenapa rumah kita di sini?"
Induk: "Emak sudah tak tahu lagi harus kemana. Kalian sudah emak bawa ke beberapa tempat. Selalu diusir."
Anak bertanya lagi: "Tidak adakah lorong di sekitar sini?"
Induk: "Lorong-lorong sering dijamahi preman-preman yang mengincar kamu dan ketiga saudaramu, sayang. Ibu tak sudi mereka mengintip kita semua dan mengintai setiap saat."
Sore-sore seperti saban sore. Anjing-anjing berlalu lalang. Banyak pula para tetikus got raksasa berdasi keluar masuk toko. Mereka semua bertaring dan masih ada sisa darah di tiap-tiap mulut mereka. Anak-anak kucing selalu ketakutan melihat mereka semua.
Di antara semuanya, ada beberapa makhluk putih yang beda. Jarang sekali lewat.