Showing posts with label Orang Tua. Show all posts
Showing posts with label Orang Tua. Show all posts

Sunday, October 25, 2015

Jangan Bicara Politik Dulu Deh

oleh Hasan al-Jaizy


Di antara nasehat murabbi saya yaitu bapak saya sendiri: Jangan bicara politik umat dulu. Teruskan saja track ngaji kitab. Istiqamah saja dulu di situ. Biarkan orang-orang itu bicara, padahal mereka bisa saja ga ngerti gimana politik Indonesia.

Begitu.

Termasuk politik: hizb hizb yang ada sekarang.

Soal politik negeri dan kengeriannya, saya lebih percaya sama beliau, karena tergolong kabir jiddan sejak era 80an mengamati dan mengoleksi data. Wartawan jaman dulu beda dengan era kini. Dulu kejar satu berita saja bisa safar. Valid dan berharga. Lebih kenal. Hizb hizb yang exist sekarang bertalian sama politik.

Makanya saya diam ah tentang politik, selain ikut petuah bapak, ya karena saya jahil memang tentang itu.




Tuesday, March 26, 2013

Musafir Perjuangan

oleh Hasan Al-Jaizy


Berawal seseorang dari ketiadaan, lalu berakhir pula dengan ketiadaan. Berawal penciptaan seseorang dengan kesepian dan kesendirian, lalu berkhir pula dengan keduanya. Berawal terlahir manusia dengan keentahan dan ketidaktahuan, dan apakah engkau ingin mengakhiri dengan jawaban, "Aku tidak tahu!" !?

Yang merawatmu sejak sebelum hijrahmu dari perut ibu menuju perut bumi adalahAllah. Yang menjagamu di dalamnya. Setelah keluarnya pun kau tetap Dia jaga. Sepanjang suratan dan siratan sirah hayatmu, Dia lah yang mengaturnya. Rizki telah tertunaikan tanpa setitikpun terkurangi. Nasib telah ditakdirkan tanpa setitikpun kezaliman. 

Apakah kau mengingat-Nya? Bagiamana cerita hatimu kini akan-Nya?

Dia Dia...Dia-lah yang menciptakan kedua orang tuamu, yang menitipkan pada keduanya dirimu. Makhluk pertama yang peduli terhadapmu adalah ibumu. Kemudian, masih ibumu. Lalu, ibumu tak henti peduli. Setelahnya, muncullah nama bapakmu.

Tuesday, January 1, 2013

Pisau Bermata Dua + Orang Tua

oleh Hasan Al-Jaizy

Teringat di rekaman kajian Syarh Hilyatu Thalib Al-Ilm [Syaikh Bakr Abu Zaid] oleh Syaikh ibn Al Utsaimiin -rahimahumallah-, ketika membahas tentang 'Syuhrah' [kemasyhuran], beliau kira-kira berkata yang maknanya:

"Tidaklah seorang penuntut ilmu menuntunya li ajli [DEMI] kemasyhuran. Bahkan kadang penuntut ilmu yang tidak menuntut kemasyhuran dan berusaha ikhlas, Allah menjadikannya masyhur di tengah manusia."

Ucapan beliau adalah kebenaran dan seragam dengan realitas.

Kemasyhuran di satu sisi berpotensi fitnah, namun di sisi lain merupakan ladang berkah. Seorang alim yang masyhur, kemasyhurannya bisa jadi hibah dari Allah, berkah dari-Nya, dan amanat agar ia memanfaatkan kemasyhurannya untuk terus menanam bibit pahala dan manfaat di tengah manusia. 

Wednesday, December 26, 2012

CAT : [69] "MENUNTUT ANAK BERPRESTASI"


oleh Hasan Al-Jaizy


Saya mau berbicara tentang anak. Padahal saya belum punya anak. Istri saya saja belum beranak. Jangankan begitu, saya sendiri belum punya istri. Masalah, kan? Agar tidak berbelit-belit, Anda diam saja. Biarkan saya bicara tentang anak sebentar.

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah artikel yang pagi ini saya baca dengan gaya marathon tanpa koprol sambil bilang 'wow'. Seorang tua atau sepasang orang tua akan senang jika anaknya berprestasi; terutama di bidang yang diridhai orang tuanya. Baik itu berprestasi di sekolah, maupun di lingkungan rumah. Tak segan pula para orang tua menceritakan kelebihan anaknya di depan umum. Di depan hidung tetangga, atau di depan muka saudara ketika ngumpul lebaran,

Sunday, December 23, 2012

Kalimat Untuk Anak Manusia

oleh Hasan Al-Jaizy

Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya Pohon tentu lebih besar dari buahnya. Tetapi jika buah itu sehat dan kemudian memohon, bisa saja lebih besar dari pohon sebelumnya.

Anak tak jauh dari bapaknya dari segi karakter, watak, bakat dan sifat. Awalnya bapak lebih besar dari anak. Namun jika anak tumbuh sehat dan berusia panjang, ia bisa lebih besar dari bapak.

Betapa banyak bapak-bapak bernama besar namun anaknya tak meneruskan kebesaran bapaknya. Maka, tumbuhlah wahai anak, menjadi lebih besar dari bapakmu. Harapan bapakmu padamu sangat besar, bahkan lebih besar dari harapannya pada dirinya sendiri. Sebagaimana ibumu banyak mengasihimu dan mendoakanmu, hingga hampir-hampir lupa ia mengasihani dan mendoakan dirinya sendiri.

Bermasa sudah bapak ibu menanam harapan di padang gersang, anakku. Jika kau mematikan harapan itu, maka padang akan tampak gersang selamanya. Bahkan ketika kau melihat oase di mata keduanya, yaitu air mata, kau kira itu adalah tangisan bangga. Sedangkan itu adalah tangisan kekeringan akan harapan yang lama tertanam.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/477582072283183

CAT : [58] "TAMASYA ANAK"


oleh Hasan Al-Jaizy


Matan: "Pada hari Minggu kuturut ayah ke kota. Naik delman istimewa kududuk di muka Pak Kusir yang sedang bekerja."

Syarh:

Perkataannya (Pada Hari Minggu) menunjukkan bahwa mayoritas -jika tidak dibilang semuanya- anak menikmati hari Minggu bersama keluarga, terutama dengan ayahnya. Karena itu, ia mengatakan (kuturut ayah ke kota) dikarenakan anak dan ayahnya ini adalah wong ndeso. Biasanya wong kuto justru berlibur di deso. Dan ini sebaliknya.

Hari Minggu adalah kesempatan untuk ayah-ayah yang sibuk mencari uang di hari kerja, untuk melakukan pendekatan pada anaknya. Pendekatan terbaik -salah satunya- adalah dengan mengajak anaknya pergi tamasya. Baik itu ke kota, ke gunung, ke sawah, atau ke Kali

Wednesday, December 19, 2012

Tak Tahu Harus Menjudulkan Apa


oleh Hasan Al-Jaizy

Sebelum kau berpisah dengan mereka, jadikanlah dirimu sebagai pengelus hati mereka.

Sebelum kau benar-benar terpisah dari mereka selamanya, berikanlah yang terbaik termampu olehmu meski wujudnya tak sebanding dengan wujud seluruh kasih mereka terhadapmu.

Dan ketika benar-benar kalian berpisah...

...bahkan yang larut berbakti ketika hayatnya, masih tersesal mengapa belum tunaikan yang terharap.

Bagaimana jika pintu surga masih terbuka namun kau masih bermain dan bercanda?
Apakah menunggu tertutupnya ia, baru kemudian kau menangis darah dan meminta yang terkubur bangkit darinya? Tidak akan pernah...

Sesungguh sesalan setelah kehilangan takkan kembalikan yang hilang selamanya...
dan sesuatu takkan sempurna diketahui arti keberadaannya, kecuali setelah hilangnya...


Tuesday, December 18, 2012

CAT : [41] "YANG TAK TERLUPA"

oleh Hasan Al-Jaizy


Seperti kata siapa...
"Orang yang sering berdoa
mendoakan kebaikan
bagimu
adalah ibumu, juga bapakmu
Hingga saking derasnya doa
dan harapan mereka padamu
mereka luput doakan mereka sendiri"

Seperti kata siapa...
"Orang yang menangis haru
ketika menangismu
memulai hari dunia
adalah ibumu, juga bapakmu
terlebih jika kau adalah
anak pertama
Hingga saking harunya
ketika besar kau lupa
betapa mereka mengawali hidupmu
dengan tangis bahagia
dan jangan kau buat mereka
ulangi tangisan berupa
tangisan didurhakai"

Seperti kata siapa...
"Orang yang dulu ajarimu
bahasa isyarat dan lisan
adalah ibumu
Maka ketika besarmu
jangan kau ajari mereka
menangis sakit hati
disebabkan bahasa lisanmu"

"Bayangkan ketika kau letih mendidik
mengajari anakmu bahasa
hingga sempurna
lalu tumbuh anakmu sempurna
dan ia menikammu dengan bahasa
yang dulu pernah kau ajari
padanya...
ketika ia tidak bisa apa-apa"

Masih ingatkah aku ketika itu?
Ketika aku dimandikan dengan air segar
oleh ibuku
Ketika aku dikenakan baju seragam
di awal-awal sekolah
Hingga ibuku menata kancing dan kerah
lalu mengusap-usap dada dan kepalaku
Kemudian antarkan aku
dengan sepeda sederhananya
Namun hati ibu tiada sederhana
megah akan kasih selama hayatnya

Masih ingatkah aku ketika itu?
Ketika ayah membeliku mainan
di awal bulan
Lalu gembiranya aku
dan gembiranya ayahku
Diajak di hari Minggu
tamasya ke taman bahagia

Ayah...Ibu...
masih ingatkah aku...
jasa-jasa kalian
sehingga hingga kini aku pun
belum sebanding
membalas yang terjasa
meski aku harus menguras
atau
memercikkan air mata
Meski segala keringatku
air mata bakti
belum sebanding dengan
kasihmu bermasa-masa

Jangan biarkan aku, wahai diriku
Jangan biarkan aku kelak
menitiskan hujan air mata
menuai sesal ditinggal
di tepi kubur ayah ibu
Dua hamba-Nya yang tak terlupa...

Thursday, November 22, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU : [13] "Falsafah Roda"


oleh Hasan Al-Jaizy

Seorang anak tunggal dimanjakan kedua orang tuanya. Semua hajat materi terpenuhi. Anak itu pun membesar dan membesar. Dan turut pula usia orang tuanya yang menua. Suatu hari, keduanya berkata dengan serius pada si anak:

"Jika kelak ayah dan ibu sudah tiada, maka kamu satu-satunya yang akan menjadi pewaris harta kami. Kekayaan ibu dan bapak akan menjadi milkmu."

Maka semakin senanglah anak manja ini. Lama berlama melamun membayangkan betapa kelaknya ia akan menjadi raja berharta. Ia teringat teman-teman kampusnya di kampus ternama. Ia teringat teman-teman nongkrongnya. Yang kemudian ia teringat satu pertanyaan: 'Kapan ayah dan ibu akan meninggal?'

Pertanyaan itu kemudian terjawab suatu hari, keduanya meninggal. Entah karena

Monday, November 12, 2012

"Kalau Sudah Tua..." II

oleh Hasan Al-Jaizy

Kalau sudah tua seharusnya memberi contoh baik pada yang muda. 

Kalau sudah tua seharusnya ketika diskusi di sebuah forum menunjukkan senioritas dan wibawanya. Kata-kata tercela, kekanak-kanakan dan membodoh-bodohi manusia lain dengan frase-frase kotor justru akan merendahkan derajatmu di mata anak-anak muda.

Kalau sudah tua dan berpengalaman, seharusnya mengajak yang muda meniti umur dan pengalaman dengan bahasa dewasa. Penggunaan bahasa remaja jalanan dan preman-preman tanpa saringan hanya menunjukkan kekanak-kanakanmu.

Kalau sudah tua seharusnya ingat masa muda telah berakhir. Rangkullah anak-anak muda, naungi mereka dan beri pencerahan. Jangan justru menambah kekeruhan.

Kalau sudah tua seharusnya malu dengan anak muda yang progresif. Bukan malah meledek dan mencela-cela. Atau bahkan mencari-cari kesalahannya. Apa mungkin karena iri?

Thursday, November 8, 2012

Kalau Sudah Tua...


oleh Hasan Al-Jaizy

Kalau sudah tua seharusnya memberi contoh baik pada yang muda. Agar yang muda bisa belajar dan menjadi lebih baik lagi.

Kalau sudah tua seharusnya menceritakan pengalaman hidupnya pada yang muda bukan untuk berbangga diri; melainkan agar generasi berikut bisa menjadi lebih baik darinya.

Kalau sudah tua seharusnya tidak kasar dalam menyampaikan aspirasi. Tidak pula terlihat sombong. Jangan karena sudah punya banyak link pada orang besar, tokoh masyhur, ustadz mu'tabar dan lain-lain, lalu merasa terlegitimasikan untuk berucap semaunya. Jangan merasa ter-back-up oleh nama-nama besar yang dikenal.

Kalau sudah tua seharusnya semakin jauh dari sikap ujub. Masa muda sudah pergi. Ketika anak-anak muda sedang berusaha menjauhi tingkah ujub dan sombong,

Monday, November 5, 2012

...dan Orang-orang Tua Pun Menangis


oleh Hasan Al-Jaizy


5

Ada seorang pemuda yang berkhidmat pada ayahnya. Ia terlihat sungguh berbakti. Ayahnya adalah seorang yang tua renta. Tak mampu banyak berjalan. Ia sangat mencintai anaknya; disebabkan baktinya yang melangit.

Namun, suatu waktu setan berbisik pada anak itu. Bisiknya bahwa ayahnya ini kian lama kian membebani. Semakin hari bergulir, semakin bertambah bebannya. Dan ia pun tidak digaji sebagai imbalan bakti. Sayangnya, sang anak menyimak kalimat setan itu dan membenarkan.

Di hari lain, si anak mengajak ayahnya untuk jalan-jalan. Ia ingin berdua bersamanya mencari angin di padang yang luas. Tak ragu sang ayah setujui ajakan itu. Ia bertambah senang dengannya.

Maka mereka berdua pun pergi ke padang yang tiada siapapun selain keduanya. Sang ayah tercekat kaget melihat anaknya tiba-tiba memegang pisau dan berjalan mendekat menujunya.

"Apa yang hendak kau lakukan, anakku?"

"Aku hendak membunuhmu!"

"Gerangan apa yang buatmu putuskan itu? Hendakkah engkau hancurkan orang yang dahulu membesarkanmu?"

"Aku sudah lama terbebani oleh hidupmu. Dan aku tak mendapat apa-apa dari upayaku untukmu. Sementara, kian hari aku semakin terbebani! AKu merasa diperbudak. Aku hendak membunuhmu!"

Si anak sudah benar-benar bertekad membunuh ayahnya. Segala upaya ayah untuk melunakkan hati anaknya tak terijabah.

Ayah pun berkata dengan putus asanya, "Jika inginmu membunuhku, maka bunuhlah aku di batu besar itu!" Si anak pun memandang sebuah batu besar yang ditunjuk ayahnya.

Anak itu pun terkejut dan merasa aneh dengan pintaan ayahnya. "Jika aku membunuhmu di sini ataupun di sana, kau tetap akan menjadi mayat dan membangkai. Tiada beda. Lalu mengapa engkau membuat peraturan dan meminta???"

Ayahnya pun menjawab:

"Karena di batu besar itulah dahulu aku menyembelih kakekmu. Dan kelak ketika engkau sudah seusiaku, anakmu juga akan melakukan yang sama seperti yang akan kau lakukan padaku sekarang."

Mendengar itu, si anak pun gemetar ketakutan. Pisau yang ia pegang pun terjatuh. Begitu juga dengan jasadnya. Ia kemudian menangis...memeluk kaki ayahnya. Memohon maaf tak henti. Dan mereka berdua pun merendamkan jiwa dalam tangisan.

[kisah ini dari kajian Syaikh Muhammad Asy-Syirbiny, "AL-Hayaatu Madrasah". Semoga memberi pelajaran bagi yang menggalinya dari kisah ini.]

Wednesday, October 31, 2012

...dan Orang-orang Tua Pun Menangis III


oleh Hasan Al-Jaizy


4

Ada seorang ayah yang hidup tak berkecukupan dan terlilit hutang. Ia hanya memiliki harta hayati, yaitu seorang anak laki-laki. Keduanya tinggal serumah dan tiada siapa-siapa lagi. 

Suatu hari, terdengar suara gedoran dari pintu depan. Sang putra pun bukakan pintu menjawabnya. Tiba-tiba, penggedor itu, seorang laki-laki, mendorong pintu dan langsung merasuk ke rumah tanpa salam ataupun penghormatan wajar. Lalu menghampiri sang ayah dan memegang kerahnya keras-keras.

"Bayarlah hutang-hutangmu. Tidak malukah engkau!? Aku sudah menunggu di luar batas kewajaran! Habis sudah kesabaran! Apa kamu sedang menunggu apa yang akan aku perbuat padamu???"

Sunday, October 28, 2012

Tawa dan Senandung Untuk Tangis Kemudian


oleh Hasan Al-Jaizy

"Jikalau kalian tahu apa yang kutahu; niscaya kalian akan banyak menangis dan sedikit tertawa." [sabda Nabi Muhammad -shallallahu alaihi wa sallam-]

Namun, rupanya kita tidak tahu banyak dari yang beliau tahu. Bahkan segala yang beliau beritahukan, tidak seluruhnya kita ketahuinya. Terngeri adalah yang kita sudah ketahui, namun pura-pura kita tiada ketahui. Karena itulah, betapa jarangnya kita menangis dan betapa seringnya kita tertawa.

Adalah sebuah cerita dari teman sekelas saya di kampus, yang kini ia sedang berdakwah di kampungnya mengisi liburan. Teman saya, anak tanah Sunda ceritakan:

"Ketika itu, kala Ramadhan, seseorang berumur 30+ curahkan hati padaku. Ia berkata:

Tuesday, October 2, 2012

Gajian?

oleh Hasan Al-Jaizy

Bagi yang sudah berkeluarga, pihak yang pertama tertoleh dan terpedulikan adalah istri dan anak, kemudian orang tua. Atau sebaliknya. Disesuaikan dengan kondisi dan mana yang lebih berhajat.

Bagi yang belum menikah, tentu pihak pertama yang tertengok dan terpedulikan adalah orang tua; sebagaimana orang tuanya ketika mendapat rizki, pihak yang pertama terpedulikan adalah dia, sebagai anak.

Kelaziman tersebut kurang berlaku bagi dia yang pacaran atau berselingkuh, karena sila pertama adalah kepedulian terhadap pacar atau selingkuhan. Pacaran atau berselingkuh memudahkan seseorang untuk mendurhakai orang tua atau anak istri. Meskipun tidak selalu, namun jangan merasa aman dari ketidakselaluan yang negatif, wahai pelaku.

Tuesday, August 21, 2012

Beda Usia...Beda Tuntutannya

oleh Hasan Al-Jaizy

Menuntut seorang pemuda berusia 20-an agar sedewasa pria berumur 40-an adalah sebuah tanda tanya. Karena keduanya adalah fase masa hidup yang berbeda. Usia 20, di masa manusia sedang thrilling dan semangat2nya; terkadang mencapai tingkat ekstrim. Kemudian ia akan belajar dari pengalaman dan memahami kesalahan sikap dan fikir. 

Tentu saja, pria berumur 40 takkan mencapai 40 dari usia kecuali ia juga telah melewati usia 20. Pria 40-an tentu tahu apa yang terjadi, terasa dan tercoba di masa 20-an. Jika pada usia 20 mulut sering menganga untuk berteriak lantang, maka lazimnya pada usia 40 sikaplah yang lebih berbicara. Usia 20-an acapkali diliputi kesoktahuan, sedang usia 40-an lazimnya telah tersadari oleh ke-nyaho-an.


 Beda usia...beda tuntutannya

Menuntut manusia 20 untuk sedewasa manusia 40 bagaikan menuntut bayi kucing berburu tikus got. Yang justru tikus got akan berbalik memburunya

Thursday, August 9, 2012

Beberapa Point

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point selepas subuh di hari ini:

[1] Bahwasanya bersedekah atas nama orang lain, entah yang masih hidup atau telah wafat, adalah terkabulkan dan diterima oleh Allah, dengan syarat ia meniatkan pahalanya untuk orang termaksud ketika mengeluarkan hartanya untuk bersedekah. 

[2] Mengapa anak saleh bermanfaat bagi kedua orang tuanya setelah wafatnya mereka? Karena anak saleh adalah anak yang ingat akan kedua orang tuanya; lebih mengingat kebaikan dan jasa mereka. Dan karena itulah anak saleh akan mendoakan kebaikan buat mereka.

[3] Berbeda dengan anak durhaka atau seorang pecandu dosa, yang terdidik untuk menjadi binatang durhaka, atau tercemar oleh pergaulan iblis. Bahkan biarpun sebumi kasih ibu-bapak padanya, tetap saja durhaka adalah sifatnya. Namun, tentu hidayah Allah berlaku bagi siapa yang dikehendaki. Karena bisa jadi seorang kufur di pagi hari, petang kemudian beriman ia. Dan juga sebaliknya.

[4] Maka, bersedekahlah selagi ada peluang dan sisa berlebih. Sesungguhnya sedekah tiada merugikan dan mengurangi yang ingin kau pegang dari harta. Bukankah kita ingin harta tersucikan? Jika ingin, sedekah adalah pencucinya. Mudah-mudahan berlipat pahalanya.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/428441820530542

Tuesday, August 7, 2012

Sebuah Kisah Sedih

oleh Hasan Al-Jaizy


 Sebuah Kisah Sedih...

Ini adalah cerita yang dulu tak asing di telinga saya. Sebuah cerita orang Arab, entah dari negeri mana.

Seorang anak, adalah pelajar di kota [atau negeri] lain. Ia meninggalkan rumah dan orang tuanya demi mencari ilmu. Suatu ketika, masa liburan tiba, sang anak hendak pulang kampung. Ia tak ingin menghubungi ibunya sebelum sampai di kota kelahirannya. Ia hendak memberi surprise pada ibunya; yang sudah dipastikan kangen sangat akan buah hatinya. Sementara sang ayah sudah tiada.

Setelah tiba di kota, sang anak mengontak rumahnya. Ia hendak memberi surprise dengan caranya sendiri. Ketika sang ibu mengangkat telepon, ia berkata: "UMMI! Aku pulang. Aku sudah ada di sini dan di sini! Tapi kendaraan yang aku kendarai kecelakaan! Tolong temui aku di jalan ini!" atau kalimat semaknanya. 

Kontan ibunya gembira bercampur cemas. Kekalutan dalam hatinya tak terbendung. Ibu tidak tahu bahwa sang anak hanya berbohong...sekedar memberi surprise dan mencari sensasi. Namun itu justru membuat ibunya khawatir dan cemas. Akhirnya sang ibu pun pergi ke nama jalan yang disebutkan anaknya, untuk menjemput.

Sementara sang anak, setelah menelepon, beranjak pergi ke jalan yang disepakati untuk bertemu dengan ibunya. Ia pun menaiki kendaraan umum menujunya. Dan ketika hampir sampai, hanya Allah yang menakdirkan segalanya, tabrakan/kecelakaan keras terjadi pada kendaraan tersebut; yang akhirnya menewaskan sang anak....

Dan kemudian sang ibu yang menjanda dan berkalut cemas datang ke jalan tersebut; melihat ada kerumunan...lalu ia mendatangi cepat-cepat mencari-cari anaknya dan...ia pun menemukan anaknya...mati...



Kerinduan Pada Orang Tua

oleh Hasan Al-Jaizy

Kerinduan Pada Orang Tua

Remaja yang sudah kerasan merantau dan biasa jauh dari orang tua; di masa remajanya tidak terlalu 'kangen' pada mereka. Justru 'sebagian' mereka ingin menghabiskan masa liburannya di rumah teman atau bertualang ke mana. Well, sebagian. Kebalikannya, remaja yang masih mengenyot dot dan menumpukan segalanya pada orang rumah plus tinggal di kota, 'sebagian' akan keteteran ketika harus pergi jauh ke luar kota-pulau-negeri-dunia lain. Well, sebagian.

Rindu itu ada ketika berpisah. Jika tidak berpisah, mana mungkin rindu? Begitulah rasanya para petualang, atau para pelancong, atau para musafir ke negeri lain, setelah sekian masa tinggalkan gubuk dan orang tua. Ketika mereka pulang, kembali mereka berbicara bahasa asli, naik angkot desa, bercanda dengan sopir dengan bahasa ikan lele, hingga kemudian mengetuk pintu rumah dan mendapatkan orang tuanya sehat wal afiat.

Gambaran keindahan itu tidak akan terasa bagi manusia yang sepanjang hidupnya tak lekang oleh rumah sendiri. Meski tiap manusia punya momen dan bahagia masing2. Tapi, kebahagiaan para musafir ketika mudiknya, itu hanya dirasakan oleh mereka. Non-musafir hanya bisa membayangkan. Meskipun berusaha merasakan, namun rasa itu tak sempurna.



Monday, July 23, 2012

Tertawa Di Awal...

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point yang layak terfikirkan hikmahnya:

[1] Kau saksikan seorang bayi secara natural belajar berdiri. Sungguh mustahil jika ia mampu berdiri begitu saja. Kau tatap gemetar kakinya menopang raga. Lalu kau saksikan ia terjatuh, entah terduduk atau terkapar. Dan ia berusaha lagi...berusaha lagi...berusaha lagi...

[2] Kau bersama selainmu yang mampu berjalan pun tertawa karena lucu ia terpandang. Sementara si bayi tak fahami tawamu. Ia hanya terus berusaha...hingga kelak ia berhasil berdiri sempurna, lalu meneruskan belajar berjalan. Berjalan...hingga tercatat dalam takdir ia mampu berlari...berlari...kemudian dewasa ia berlari berlari...dan di saat yang sama, kau sedang terkapar...karena kau sudah menua. Hingga kemudian kau pun hilang dalam bumi terkubur...terkapar...tak mampu lagi berdiri, bahkan berlari kabur dari pertanyaan kubur.


Seperti:

[3] Kau saksikan seorang murid belajar menulis atau mengaji. Sungguh mustahil jika ia mampu menulis dan mengaji begitu saja. Kau tatap tangannya gemetar kala menulis, atau bibirnya gemetar kala membunyikan satu-dua huruf. Kau saksikan berpuluh kegagalan darinya. Dan ia berusaha lagi...berusaha lagi.. berusaha lagi...

[4] Kau bersama selainmu yang mampu menulis atau mengaji dengan baik, terkadang tertawa kecil, atau bahkan terbahak ketika melihat hasil tulisannya yang buruk merona, atau pelafalannya yang tak jelas bagaimana. Ia terus berusaha...belajar... hingga kelak ia berhasil menulis-mengaji sempurna, lalu meneruskan belajar berkarya dan mengirama. Hingga ia mampu menjadi seorang penulis...atau seorang qari' masyhuur yang manusia selalu rindu akan kemampuannya...dan di saat yang sama, suaramu sudah parau, kau sedang terkapar...karena kau sudah menua. Hingga kemudian kau tak mampu menulis lagi, tak mampu mengaji lagi...kau hilang dalam bumi terkubur...terkapar...


Karena:

--> Bisa jadi orang yang kau tertawai di awal, adalah yang akan tertawa di akhiranmu.
--> Bisa jadi bibit yang kau remehkan semasa butirnya, adalah yang akan menghiasi dunia dengan manfaatnya.

Karena itu, jika tertemu olehmu pembelajar yang lebih muda dan memiliki potensi, tahan tawa dan rangkul dengan hangatnya bimbinganmu. Dan sungguhpun...jikalau ada rasa malu, mungkin layaknya kau malu...karena jika dikiaskan dengan dirimu di seumurannya, belum tentu kau sebaik ia.

Dikatakan 'lebih-tua' karena untuk membimbing, bukan untuk tertawa
Dikatakan 'lebih-muda' karena untuk dibimbing, bukan untuk dicanda


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/422651777776213