oleh Hasan Al-Jaizy
Kemarin, di stasiun UI, ada sebuah petikan kenyataan yang menjadi salah satu pengisi tulisan ini. Pukul 4 lebih 20 menit kiranya saya menunggu kereta di sana. Di peron, berjejeran ruko-ruko. Ada sebuah ruko, kalau tidak salah, pebisnis pulsa. Saya mendengar seseorang berkata dengan cukup keras:
"Tau ga lo apa persamaannya Barcelona dengan Jokowi?"
Suaranya cukup keras sehingga saya menoleh ke belakang, yaitu ke asal suara. Seorang berusia sekitar 30 tahunan sedang berbincang dengan 2 temannya atau lebih. Lalu ia meneruskan:
"Persamaannya: sama-sama rendah hati! Emangnya Real Madrid? Kalau Madrid kalah, pasti nyari kambing hitam. Ga terima kalah. Coba lihat tuh Barcelona. Kalau kalah, ga banyak omong. Kalah ya ngaku kalah."
Well, apa yang diucapkan orang itu benar sebenarnya, tapi tentu sesuatu yang faktual itu diterima oleh pihak yang tersinggung atau tersindir. Hal yang disimpulkannya juga kesimpulan jumhur manusia penonton bola sedunia. Sudah tidak asing lah jika Madrid [Mourinho in front] selalu cari kambing hitam ketika kalah. Kecuali mungkin sekarang-sekarang saja, karena sudah ketinggalan 16 point dari pemuncak klasemen. Mau mencak-mencak ya percuma.