Showing posts with label Media. Show all posts
Showing posts with label Media. Show all posts

Sunday, January 6, 2013

Apa Persamaannya Celana Kedodoran dengan Jokowi?


oleh Hasan Al-Jaizy


Kemarin, di stasiun UI, ada sebuah petikan kenyataan yang menjadi salah satu pengisi tulisan ini. Pukul 4 lebih 20 menit kiranya saya menunggu kereta di sana. Di peron, berjejeran ruko-ruko. Ada sebuah ruko, kalau tidak salah, pebisnis pulsa. Saya mendengar seseorang berkata dengan cukup keras:

"Tau ga lo apa persamaannya Barcelona dengan Jokowi?"

Suaranya cukup keras sehingga saya menoleh ke belakang, yaitu ke asal suara. Seorang berusia sekitar 30 tahunan sedang berbincang dengan 2 temannya atau lebih. Lalu ia meneruskan:

"Persamaannya: sama-sama rendah hati! Emangnya Real Madrid? Kalau Madrid kalah, pasti nyari kambing hitam. Ga terima kalah. Coba lihat tuh Barcelona. Kalau kalah, ga banyak omong. Kalah ya ngaku kalah."

Well, apa yang diucapkan orang itu benar sebenarnya, tapi tentu sesuatu yang faktual itu diterima oleh pihak yang tersinggung atau tersindir. Hal yang disimpulkannya juga kesimpulan jumhur manusia penonton bola sedunia. Sudah tidak asing lah jika Madrid [Mourinho in front] selalu cari kambing hitam ketika kalah. Kecuali mungkin sekarang-sekarang saja, karena sudah ketinggalan 16 point dari pemuncak klasemen. Mau mencak-mencak ya percuma.

Thursday, December 27, 2012

CAT : [77] "TARIK ULUR BAIK BURUK!"


oleh Hasan Al-Jaizy



Mau tahu sebuah ironi yang ajaib nan patut dijadikan ibroh?

(1)

Dahulu media televisi berhasil mengangkat pamoritas seorang Aa Gym tinggi-tinggi demi rating dan uang. Kemudian media yang sama ini berhasil pula meruntuhkan popularitas beliau serendah-rendahnya. Sehingga nama beliau menjadi kotor dipandang banyak manusia.

Karena apa?

Karena poligami.Televisi berhasil menyesatkan opini manusia sehingga poligami dianggap suatu sexual crime. Seakan Aa Gym adalah seorang penjahat kelamin!

Dan justru fase itulah yang membuat beliau sadar akan kehinaan dan kepalsuan. Dari titik

Tuesday, December 18, 2012

CAT : [43] "SKANDAL JEPIT"

oleh Hasan Al-Jaizy


Skandal, menurut beberapa manusia Indonesia, bermakna 'perbuatan yang memalukan' atau 'yang menurunkan martabat'. Perbuatan skandal biasanya bersifat 'penyimpangan' seksual atau 'penyelewengan' finansial.

Contoh skandal berkenaan dengan penyimpangan seksual adalah yang terjadi beberapa tahun lalu. Tokohnya adalah Ariel. Ia terjerat kasus 'perzinahan'. 'Korbannya' adalah Cut Tari [Irat Tuc] dan Luna Maya [Ayam Anul]. Skandal semacam ini adalah wacana panas kipasan media. Jika media menyembunyikan, maka Ariel tidak akan mendapat efek sel penjara. Lho, buktinya, kasus Habib h*mbreng tiba-tiba hilang begitu saja. Seakan tidak ada kelanjutannya.

Tetapi karena media mengangkat skandal Ariel dan ia pun sudah terlanjur terkenal dan banyak fans, maka jadilah! Tetapi, sampai sekarang, saya masih bertanya-tanya:

[1] "Bukankah peraturan negeri kita: 'Jika didapati dua pezina, sedangkan keduanya berzina

Thursday, December 6, 2012

CAT : [11] "MASTER BASI"

oleh Hasan Al-Jaizy

Masih ingat Mastur, kan? Kalau masih ingat, ya baguslah. Tapi, sayangnya Mastur pun tidak ingat siapa Anda. Kenal saja tidak. ckckck. "Betapa banyak yang mengklaim punya hubungan dengan Laila dan Mastur, tetapi Mastur dan Laila sendiri tidak saling kenal." 

Mastur adalah seorang pelawak asal Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dia adik kandung Mandra. Kalau sudah nyolot dan misuh-misuh, langsung terkena syndrom Pinokio. Panjang sendiri bibirnya.

Terakhir kali melihat Mastur di tayangan OVJ edisi 2009 atau 2010. Tingkahnya dimaksudkan melucu. Tapi bagi saya tidak lucu. Memonyet-monyetkan diri, tapi ternyata monyet lebih

Tuesday, November 27, 2012

Doa Para Pelacur

oleh Hasan Al-Jaizy

Ketika bertemumu dengan mereka, laksana bendera ilmu di tengah padang kebodohan mereka berada. Yang mereka katakan adalah apa yang mereka dapatkan. Yang mereka dapatkan apalah apa yang disuapi oleh tentara-tentara setan berasal dari barat. Seketika orang-orang bodoh akan tersihir oleh retorika. Seketika orang-orang bodoh mengira lisan mereka berkilau basah, bagai oase di tengah padang buta.

Memelintir ayat-ayat suci demi membangun ayat-ayat konstitusi dan kontruksi? Itu adalah sebuah destruksi. Iblis tetap menebar instruksi satanik pada anak cucunya dan para pengikutnya, "Jangan pernah berhenti selewengkan kebenaran dan lencengkan kelurusan. Selamanya! Hingga akhir zaman kita berkarya!"

Ketika itu banyak sekali diadakan upacara batin di antara para penggagas ide kebebasan. Bertemu fisik di Utan Kayu. Namun setelah bertolak ke luar, batin mereka tetap

Saturday, November 24, 2012

Semprul Si Ana


oleh Hasan Al-Jaizy

Semenjak tulisan tentang pembunuhan anak majikan oleh PRT asal Indo di Saudi dihapus oleh pihak Kompasiana, sejak saat itu juga rasanya kecewa berat. Karena kecewa atas hal itu, maka secara natural frekuensi membuka blog keroyokan itu semakin menurun. Berkurang...berkurang hingga hampir tidak pernah sama sekali. 

Ternyata lebih nyaman menulis di sini. Kalau di Kompasiana, menulis dikaitkan dengan agama Islam, seringkali di-ignore. Tapi, giliran bicara isu politik, gosip, dan yang duniawi, laku keras. Yang paling bertahan saat ini dari Kompasioner pembicara agama secara kontroversial adalah Adi Supriadi. Pemikiran beliau memang menohok banyak pihak sekuler. Tapi, Mas Adi ini eksistensi nya sangat dipelihara oleh Kompasiana; karena rela diejek, dihina, dicerca dan seterusnya.

Tidak sedikit yang berkata kalau Kompasiana 'kurang' bijak dalam menetapkan artikel-artikel agama. Terutama pembelaan terhadap Islam.

Tapi kalau artikel berikut, tentu tidak dihapus mereka. Baca ini: http://filsafat.kompasiana.com/2012/09/14/manusia-berdoa-tuhan-beronani/ . Artikel tersebut bertahan bisa saja dengan banyak alasan. Penulisnya tidak mengejek agama tertentu. Tapi, luput pula dari otak mereka, bahwa artikel ini sudah jelas menghina tuhan, tuhan apapun itu. Saya malah sempat berfikir, admin Kompasiana ini punya tuhan atau tidak!?

Link artikel tersebut saya berikan di atas bukan untuk menertawakan artikel. Sebagai bukti satu saja [dulu], bahwa Kompasiana itu punya 'kegilaan' sendiri dalam menendang tulisan orang dan menetapkan tulisan orang.

Thursday, November 8, 2012

Madzhab Tele Visi


oleh Hasan Al-Jaizy

Sebelumnya, saya menegaskan bahwa tidak semua program televisi itu tele visi. Penegasan ini agar pembaca yang memang ditakdirkan hobi nonton tv atau menjadikannya second wife bahkan second 'god' tidak mencak-mencak televisi disebut tele visi.

Madzhab yang penulis maksud adalah jalur opini, arusnya atau kecondongannya. Televisi adalah alat penyihir. Di beberapa keluarga, terutama di perkotaan, televisi adalah first god atau second god. Mereka mewajibkan menontonnya sebagaimana agama mewajibkan banyak kewajiban. Dan jika luput suatu program yang sebenarnya tidak bermanfaat, menyesalnya melebihi sesalan orang beriman ketika tahu ada saudaranya yang murtad.

Madzhab televisi, menyaingi madzhab2 fiqhy islamy. Dalam hal siyaasah (politik), yang dianut adalah madzhab televisi. Dalam perkara terorisme dan jinayah, madzhab televisi dirajihkan, selama tidak mencemarkan nama kelompok atau radio atau jemaahnya. Bahkan dalam perkara aqidah dan keyakinan, bagaikan merokok rokok kretek tanpa filter

Thursday, October 4, 2012

Pembunuhan Karakter

oleh Hasan Al-Jaizy

Seseorang berkata: "Tidak bisakah Anda menimbang dengan adil akan suatu perkara, yang dalam kasus ini berupa penyembelihan seorang balita oleh seorang TKW Indonesia? Kita sendiri belum tahu latar belakang permasalahan. Sekarang, jangan berlagak antipati dan benci dengan TKW Indo. Tunggu investigasi clear!"

....seharusnya kalimat tersebut ditujukan kepada mereka yang koar-koar mengutuk negara Malaysia atau Saudi; karena kasus semodel ini. Di antara demonstaran, pengutuk dan pencaci, banyak yang sebenarnya hanya mendengar kabar sepotong dan meratakan sebangsa Malaysia atau Saudi adalah barbar nan keji, atau at least untuk Malaysia: sebagai bangsa pencuri budaya.

Apa mungkin bangsa kita malas introspeksi diri kali ya? Atau disebabkan begini: Ketika ada kasus bayi seorang Saudi dipanggang oleh seorang TKW Indonesia, konon 15-20 tahun lalu

Monday, September 17, 2012

Apa Sih Yang Mereka Inginkan dari The Innocence of Muslim?


oleh Hasan Al-Jaizy

Kembali saya perlu jujur di sini bahwa saya belum sempat nonton TIoF; jangankan kesempatan, kemauan pun tidak ada. Pasalnya, jika saya menonton, ditakutkan akan terpancing dan berbuat hal yang tidak baik. Anyway, tidak wajib pula menontonnya. Sekedar membaca review dan ulasan para penulis mengenainya insya Allah sudah mencukupi. Toh intinya: 'menghina Islam'.

Nah, lalu apa sih yang mereka [clip-maker] inginkan dari TIoF? Kalau menginginkan kemasyhuran individual semata, rasanya tidak logis. Apalagi jika sekadar iseng-iseng. No way. Pihak clip atau film-maker pastinya tahu bahwa film produksinya itu, meski tak panjang dan katanya berkualitas 'amatir', akan memicu ketegangan, dendam, kemarahan, kericuhan dan seterusnya. Nah, justru karena dia tahu hasil picuan itulah, maka itulah tujuannya.

Mess [Kekacauan] dan Noise [Keributan]

Itulah dia tujuannya. Clip provokatif seperti itu sangat mujarab untuk mewujudkan adanya kekacauan dan keributan di badan kaum muslimiin. Justru ketika dia menyaksikan demo besar-besaran, saling dorong mendorong antara aparat dan demonstran, sedekah bom gas dan bebatuan, terlebih sampai ada yang terluka hingga ada pula korban jiwa, maka dia akan tertawa dan berkata:

Monday, September 10, 2012

Sihir Media

oleh Hasan Al-Jaizy

Note that: Apa yang terwarta oleh media umum atau terlisan oleh Pak Polisi belum tentu seirama dengan realitas sebenar. Saksi mata lebih terpercaya. Atau bahkan saksi mata yang tidak dirangkul media : bisa jadi lebih terpercaya.

Jika kata media: terjadi adu tembak-tembakan. Dan Pak Polisi berkata serupa. Ternyata belum tentu saksi mata mengatakan yang senada. Bisa jadi ia katakan: 'Tidak ada adu tembak menembak. Yang ada seseorang ditabrak oleh mobil tugas, lalu ditembak langsung di tempat. DOR! Tanpa rasa iba, tanpa klarifikasi, tanpa basa basi.'

Semua orang tidak mau dikatakan 'tersihir oleh media'. Nah, ketidakmauan tersebut juga merupakan hasil dari sihir media.

Saturday, September 8, 2012

Sinetron

oleh Hasan Al-Jaizy

Rasa-rasanya tragedi terrorisme di negara ini bagai sinetron, berkonflik, terkatrol, tak kunjung tertemu, berepisode panjang, terkesan seperti 'mengalihkan isu', dimanfaatkan kaum oportunis dan seterusnya. Sinetron pun menyetir opini masyarakat sebagaimana peliputan dan pemberitaan akan terrorisme juga menyetir opini masyarakat.

Seperti sinetron 'Tukang Bubur Naik Haji', misalnya. Dari judulnya, memberi kesan bahwa akan ada hikmah di balik nama tersebut. Pasti ada suatu kebaikan dari tukang bubur. Namun, sebenarnya makin kemari, yang di-ekspos bukan hikmah dari tukang buburnya, melainkan JUSTRU keburukan perilaku sepasang Haji-Hajjah yang sudah 2x haji. Mereka berdua tak berhenti dari rasa dengki, kikir, dan seterusnya. Ini justru [entah memang ini yang diinginkan atau bukan] menyetir pandangan masyarakat yang kemudian akan berkata, 'Ah, percuma ibadah haji kalau seperti itu muamalahnya.' Dan inilah propaganda kaum sepilis, mereka berusaha merendahkan nilai-nilai ibadah dalam syariat dan membungkus dengan judul segar dan seolah berhikmah! Makanya, kita sering dapatkan kalimat: "Ah, buat apa berjilbab kalau akhlaknya buruk!?"


In Fact...

Friday, September 7, 2012

Tapi Kok Nyatanya Begini?

oleh Hasan Al-Jaizy

...ketika majelis ulama nasional memfatwakan aliran ini sesat dengan alasan begini dan begitu, mereka tidak menggubris malah mengejek seraya menabur jargon basi: "Yang berhak menentukan sesat itu Tuhan!"

...tapi ketika ada kericuhan antara gerakan aliran sesat dan sentimen mayoritas, mereka berkata kepada mayoritas: "Beginilah rakyat-rakyat tidak berilmu. Bersikaplah sebagaimana ulama Islam yang adil dan bijak dalam menyikapi perbedaan madzhab."

Sebenarnya, ketika Ulama Nasional memfatwakan ini-itu sesat, berefek ga sih dengan keputusan nasional atau adakah sedikitnya perubahan awareness [kesadaran] untuk membasmi kuman yang teridentifikasi menyakiti jantung umat beragama?

Kok, sepertinya tidak akan berefek ya. Wong sedari awal ulama sudah tidak dihormati. Mau berfatwa atau tidak, keputusan dan penilaian ada di lidah media atau kaum umum.

Kalau sudah capek2 mendukung fatwa ulama tapi tidak didengar, berarti yang kita perlukan adalah genggaman kita terhadap media donk, yang bisa menyetir opini masyarakat. Tapi, boro-boro media tergenggam, wong kita juga mungkin termasuk korban media!? wkwkwk

Kalau begitu, kita bersihkan kembali diri kita dan kita gunakan wadah-wadah yang available untuk menyuarakan aspirasi, kontribusi fikiran dan solusi, bisa melalui Twitter, FB, blogs atau bahkan sampai ke Kompasiana. Karena kita tidak bisa menunggu Imam Mahdi begitu saja keluar, atau Nabi Isa hadir kembali begitu saja. Kita tidak menggenggam media, tapi kita memakai media yang ada. Kamu siap?

Saturday, August 18, 2012

Tidak Terdidiknya Fikiran Beberapa

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point tentang tidak terdidiknya fikiran beberapa orang Indonesia:

[1]
Orang Indonesia A: "Program XXX di TV tidak mendidik! Sampah! Lebih baik di-remove saja!"
Orang Indonesia B: "Kayak kamu tidak biasa menonton program tak mendidik saja. Kamu mencela sinetron dengan alasan tak mendidik, sementara kamu menonton berita kriminal [korupsi/pidana] atau pertandingan olahraga atau tayangan hiburan lainnya. Memangna itu semua mendidik???????"

[2] Mbok yo kalo sebal dengan program jangan menyinggung 'pendidikan'. Kalau membenci sinetron, jangan memakai kata 'didik'; siapa tahu situ juga menonton program lain yang juga tidak mendidik!? Kalau benci sepakbola, jangan beralasan 'karena tidak mendidik'; siapa tahu situ malah menonton gosip, yang malah lebih ga mendidik. Berkoar menyinggung urusan 'pendidikan' tidak memastikan kamu orang berpendidikan dalam berkomentar dan berargumen, kan?

[3] Kalau mau didik-mendidik lebih terjalin, setidaknya mulai dari diri sendiri juga. Yang penting usaha dulu.

[4] Lalu, jangan bicara: 'Pantes bangsa kita ga maju-maju; ya nontonnya tayangan tak mendidik!' jika ternyata kamu juga termasuk bangsa kita dan kamu juga ga maju. Terlebih jika kamu juga menonton tayangan tak mendidik. Protes ke orang lain ya boleh, tapi yo protesi diri sendiri juga donk kalau ternyata juga melakukan.

[5] Sekarang, tayangan mendidik itu seperti apa, toh? Apa seperti apapun yang diinginkan olehmu saja atau gimana? Sudah mendidik diri untuk meminimalisir nonton TV, belum? Oalaah, jebule....rupane...nyuruh orang supaya berpendidikan, tapi sendirinya menghabiskan waktu main game online atau di HP. Sini, tak jewer jenggotmu.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/431569143551143

Thursday, August 9, 2012

Beberapa Point

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point yang tertabur adanya di kenyataan:

[1] Media semacam Kompas, Tempo atau serupanya, getol memberitakan sesuatu yang miring tentang umat Islam, ulamanya atau tingkah sebagiannya. Berita semacam MUI memfatwakan haramnya jasa penukaran uang kecil karena adanya unsur riba diangkat2; agar manusia yang bodoh mengomentari dan terkompori. Akhirnya: mereka pun mengkritik dengan kejahilan dan mencela orang2 berilmu tanpa alasan kuat.

[2] Sebaliknya, media fasik semacam ini tentu tidak akan menyebar fatwa-fatwa tentang haramnya perzinahan, iklan yang mencecar aurat kaum hawa dan sebagainya. Karena babi tak akan bermain di kolam renang; dan memilih kubangan kotor nan najis. Artinya: mereka tidak akan menguraikan kesucian hukum Islam dengan fatwa2 tersebut, karena jika itu dilakukan, sama saja menikam diri sendiri.

[3] Ketika orang berilmu berkata sesuatu yang maknanya benar, maka maknanya tetap benar bahkan bisa berkembang kebenarannya. Namun ketika orang bodoh berkata sesuatu yang maknanya benar, maka bisa saja menjadi salah tempat dan kaprah. Seperti kalimat: "Lakum diinukum wa liya diin" [Bagimu agamamu dan bagiku agamaku] atau "Yang menentukan halal haram adalah Allah". Dan ketika yang berbicara adalah orang munafik, maka bisa jadi kalimat benar tersebut terasa benar dan membenarkan dirinya, padahal ada agenda jahat untuk menutupi kebusukan selagi melancarkannya.

[4] What?


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/428218617219529