Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Tuesday, December 18, 2012

CAT : [42] "CERITA PERJALANAN MENUJU TAMAN MINI"


oleh Hasan Al-Jaizy


Ini adalah cerita NYATA yang terjadi hari Ahad kemarin. Tatkala saya dan adik saya berangkat pergi menuju ke Taman Mini. Niat awalnya adalah berdagang. Niat akhirnya adalah cari duit. Tidak ada niatan lain.

Ini adalah bukti NYATA bahwa ucapan orang tua, biarpun tidak serius, bisa jadi 'sesuatu' yang NYATA terjadi.

Saya dan adik saya berangkat jam 9 pagi. Adik saya memakai motor. Saya di belakangnya sambil membawa 'bakul' berisikan pepes karya emak saya, seorang emak-emak paling emak-emak dari emak-emak yang pernah saya lihat di bumi ini.

Saya membawa uang sekitar 60 ribuan. Adik saya beberapa puluh ribu terbawa olehnya. Sebelum saya keluar rumah, saya sempat ribet sendiri memakai sarung di kamar. Emak saya seperempat teriak dari bawah, "Cepetan ente, gan! Entar nyampe sana jam 12 [baca: DUA BELAS] lho!"

Dalam hati, saya bergumam sambil tergesa menata yang seharusnya ditata, 'Ah, masak segitunya perjalanan sampai 3 jam!?' Lalu kami berdua [saya dan adik] pun cabut. Serrrr!

Sunday, January 1, 2012

SMS PALSU!

oleh Hasan Al-Jaizy

====>CERITA MALAM: 'SMS Palsu'<====

Tokoh Cerita: A [Si Alim] dan B [Si Bodoh]

Muqaddimah:

Si B kebetulan punya banyak kenalan wanita dan ada pula yang ia 'incar', sebutlah si C [Cewek/Cacar/Cacat/atau apalah]. Si B dasarnya tak punya dasar ilmiah dan cenderung es-teh-manis [Sok Tahu Belagak Manis] demi disukai wanita, disegani pria. 

BAB 1 - Kejadian Awal

Suatu ketika,

Tuesday, November 22, 2011

Sepertinya Kita Miskin Karena Aku Menikahimu

oleh Hasan Al-Jaizy

CERITA/CURHAT seorang ibu yang saya dengar secara LIVE in the real LIFE:

"Kami kini dalam keadaan miskin setelah bergelimang kaya sebelumnya. Dan sebelum kaya, kami berawal pada kemiskinan pula. Kala itu, sekitar 20 tahun lalu, di puncak kemiskinan, suamiku pernah berkata dengan nada biasa, "Sepertinya kita miskin karena aku menikahimu."

Lalu kalimat itu menancap dan menjadi hujaman tertajam di

hatiku. Bertahun-tahun tak terlupakan. Kini, saat kembali kami mengecap empedu kemiskinan, suamiku memohon maaf atas ucapan tersebut.

Aku tak bisa...tak bisa memaafkan hal itu; karena bertahun lamanya menjadi luka yang takkan sirna bekasnya di hati. Aku sudah terlanjur sakit hati hingga kini. Hanya kalimat itu yang tak bisa kumaafkan. Selainnya dari kesalahan, besar atau kecil, tak setakar dengan kalimat itu."





Mendengar cerita itu, saya terdiam beberapa lama. 

Sang ibu ingin menumpahkan danau kepedihannya lewat mata, namun urung itu terjadi. Ia cukupkan dengan bait-bait kata yang mengalir seperti sungai hitam yang membawa wabah penyakit.





"Sepertinya kita miskin karena aku menikahimu"

kalimat di atas remeh namun bisa tak termaafkan





Friday, November 18, 2011

Sebuah Perjalanan Temanku

oleh Hasan Al-Jaizy

Ada seorang anak, disekolahkan di SD biasa di kampungnya, masa kecilnya penuh cobaan -karena kekurangan gizi-, lalu ke Pondok Pesantren, diteruskan kuliah di jurusan Syariah di Jakarta...

rumahnya reyot...orang tua sakit-sakitan...namun baktinya kepada mereka tak sesederhana gubuk


Dulu ia dikenal menderita dan serba kurang

Ia dulu adalah miskin dan masih kini
Ia dulu hidup penuh derita dan cobaan
Ia kini adalah mahasiswa yang dikenal pintar
Ia kini adalah mahasiswa yang dihormati semua temannya

Ia sederhana dan berbakti
Orang tua, tetangga di kampung dan semua temannya ridha kepadanya
Dan semoga keridhaan Allah menaunginya

Mungkin pula Allah mengangkat derajat hamba dari titik cobaan dan ujian
Mungkin pula Allah merendahkan derajat hamba dari titik rezeki dan karunia


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/278006338907425