Showing posts with label Anak. Show all posts
Showing posts with label Anak. Show all posts

Wednesday, December 26, 2012

CAT : [69] "MENUNTUT ANAK BERPRESTASI"


oleh Hasan Al-Jaizy


Saya mau berbicara tentang anak. Padahal saya belum punya anak. Istri saya saja belum beranak. Jangankan begitu, saya sendiri belum punya istri. Masalah, kan? Agar tidak berbelit-belit, Anda diam saja. Biarkan saya bicara tentang anak sebentar.

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah artikel yang pagi ini saya baca dengan gaya marathon tanpa koprol sambil bilang 'wow'. Seorang tua atau sepasang orang tua akan senang jika anaknya berprestasi; terutama di bidang yang diridhai orang tuanya. Baik itu berprestasi di sekolah, maupun di lingkungan rumah. Tak segan pula para orang tua menceritakan kelebihan anaknya di depan umum. Di depan hidung tetangga, atau di depan muka saudara ketika ngumpul lebaran,

Sunday, December 23, 2012

Kalimat Untuk Anak Manusia

oleh Hasan Al-Jaizy

Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya Pohon tentu lebih besar dari buahnya. Tetapi jika buah itu sehat dan kemudian memohon, bisa saja lebih besar dari pohon sebelumnya.

Anak tak jauh dari bapaknya dari segi karakter, watak, bakat dan sifat. Awalnya bapak lebih besar dari anak. Namun jika anak tumbuh sehat dan berusia panjang, ia bisa lebih besar dari bapak.

Betapa banyak bapak-bapak bernama besar namun anaknya tak meneruskan kebesaran bapaknya. Maka, tumbuhlah wahai anak, menjadi lebih besar dari bapakmu. Harapan bapakmu padamu sangat besar, bahkan lebih besar dari harapannya pada dirinya sendiri. Sebagaimana ibumu banyak mengasihimu dan mendoakanmu, hingga hampir-hampir lupa ia mengasihani dan mendoakan dirinya sendiri.

Bermasa sudah bapak ibu menanam harapan di padang gersang, anakku. Jika kau mematikan harapan itu, maka padang akan tampak gersang selamanya. Bahkan ketika kau melihat oase di mata keduanya, yaitu air mata, kau kira itu adalah tangisan bangga. Sedangkan itu adalah tangisan kekeringan akan harapan yang lama tertanam.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/477582072283183

Thursday, December 20, 2012

CAT : [46] "AIR TUBA DIBALAS AIR SUSU"


oleh Hasan Al-Jaizy


Ada seorang nenek berdagang dengan anaknya di pasar. Namun, anaknya tidak selalu ikut berdagang. Mereka menyewa tempat di depan rumah Pak Haji. Rumahnya rupanya di pasar itu dan ia pun juga menjual buah-buahan depan rumahnya. Namun, Pak Haji satu ini, meskipun sehari-hari ramah, ternyata memang 'tegaan'. 

Nenek ini berdagang makanan lauk. Di sampingnya pun ada pedagang tahu, seorang ibu-ibu. Sang nenek beberapa kali 'dianggap' telat membayar uang sewa tempat. Ia ditegur dengan kalimat tidak menyenangkan oleh Pak Haji. Kadang menyakitkan hati. Suatu hari, Pak Haji mengusirnya dengan kalimat pedas karena memang sang nenek telat membayar entah sehari atau selebihnya.

Nenek itu pun pulang ke rumah dengan sakit hati. Ia menceritakan itu semua pada anaknya dengan sedih. Mereka kemudian berembug mencari tempat lain untuk berniaga. Beberapa hari lamanya, mereka tak terlihat lagi di pasar hingga akhirnya mereka menemukan tempat lain yang cocok untuk berjualan padanya.

Namun, meski sakit hati, mereka tetap menyapa Pak Haji jika berpapasan di jalan. Dan itu membuatnya malu sendiri. Belum lagi, si anak kadang shalat di mushalla yang mana Pak Haji