Showing posts with label Sarkasme. Show all posts
Showing posts with label Sarkasme. Show all posts

Monday, October 26, 2015

P.H.P.

oleh Hasan al-Jaizy

Jika kamu diajak maju oleh orang yang cuma jalan di tempat selalu, maka jangan ikut. Karena kamu ga bakal maju-maju malah. Malah kamu bakal bisa lebih maju sendiri dengan jalan ke depan, bukan jalan di tempat.

Jika kamu di-PHP-in sama ikhwan yang ga ngerti gimana caranya step up dan following up, maka jangan masukin hati PHP dia. Kalau kamu masukin ke hati, dia ga bakal maju, kamu menderita menunggu.

Jika kamu dikomporin ngaji sama pihak yang maunya cuma ngaji tematik aja dan terus, kamu cari kajian kitab. Banyak para pemburu tematik gagal move on ke kajian kitab, karena memang niat step up aja ga ada, maka setelah ngaji, ga ada following up. Still walking di tempat, mau dihias apapun posternya.

Wednesday, July 17, 2013

Mental Miskin dan Bodoh

oleh Hasan Al-Jaizy



Jika di sana ada yang disebut 'miskin', maka pastilah ada lawannya: 'kaya'. Pula jika ada yang disebut 'bodoh', maka pastilah ada tandingannya: 'pintar'. Karena hampir segala sifat tak bisa diketahui kecuali karena ada lawan dan tandingannya. Seperti: baik dan buruk, atau sehat dan sakit, atau hitam dan putih.

Orang miskin dan bodoh tergolong orang rendahan. Jika engkau tak terima ku katakan mereka 'rendahan', maka apalah yang kau inginkan? Kau ingin katakan mereka berkelas tinggi, sementara orang kaya dan pintar berkelas rendah? Jika iya, maka itu akibat dari memiliki kadar otak yang rendah.

Mental kebanyakan orang miskin adalah culas, malas, kurang pandai usaha, dan sebagian lain: curang, sehingga tidak berkah sama sekali usaha mereka. Orang-orang miskin seringkali mendengki pada orang-orang kaya; padahal mereka tidak ada urusan dengan kaum miskin. Namun, karena kegagalan hidup kaum miskin, melihat kaum kaya yang sewajarnya menikmati kekayaan mereka, dengki membara-bara. Ingin seperti mereka namun tak bisa. Seperti kata banyak orang, "Iri tanda tak mampu". Orang miskin sering menuntut orang kaya agar bermurah hati. Itu jika di depan. Di belakang, orang miskin sering mencaci orang kaya, entah karena pelit, atau karena dianggap tidak peduli rakyat kecil, atau lainnya. Dasar dari semua itu sebenarnya iri dan ketidakmampuan.

Mental miskin juga adalah mental mengeluh. Miskin kekuatan jiwa, sehingga mendapat kesulitan sepetak, keluhannya capai sehektar, mendapat musibah sejengkal, keluhannya hingga selangkah. Mengeluh, kemudian berusaha sedikit, gagal mendatangi, mengeluh lagi, lalu mengutuk-ngutuk kondisi ketika melihat orang kaya sedang menikmati keutamaan hidupnya.

Mahasiswa Pelayar Comberan!

oleh Hasan Al-Jaizy

Budaya ngospek para plonco (calon maba yang sedang ikut kegiatan pengenalan terhadap kampus) dengan tarekat-tarekat HINA, meskipun atas nama 'Pengenalan Kampus' atau semacamnya, adalah budaya mahasiswa-mahasiswa rendahan yang sedang kuliah di kampus rendahan. Mahasiswa dan kampus yang menjunjung tinggi nilai pendidikan, moral dan kualitas didikan, tidak akan rela calon-calon penghuninya dihinakan, oleh mereka sendiri.

Syukur, tidak pernah di kampus saya ada planca-ploncoan. Bagi kami, hanya mahasiswa bodoh yang seperti itu. Menjadikan para maba terlihat bodoh, padahal mereka sendiri juga tergolong bodoh.

Selain itu, para mahasiswa yang merasa senior dan mengenal kampus, lagaknya seperti sudah layak dianggap senior dari segi kualitas. Mirip mayoritas mahasiswa pendemo; rata-rata mereka itu yang hobi tidur di kelas, main game di lingkungan kos, begadang dan hidup kesehariannya cuma bernilai lawakan rendah saja. Dan, menjelang hari ospek, mereka tiba-tiba menjadi orang paling sibuk dan paling terlihat seolah ingin 'mendidik'.

Andai memang mereka belajar sungguh-sungguh dan punya ilmu tinggi, takkan rela mereka mencoret-coret muka para calon mahasiswa, menyebut mereka binatang, menjadikan mereka serendah binatang, meminta memakan hal yang tak layak dimakan, memaksa mereka memakai aksesoris yang memicu gelak tawa dan banyak lagi. Para mahasiswa senior yang bodoh senang dan girang melakukan ini. Dan jika dosen-dosen mereka menjadikan hal semacam ini hal yang wajar, biasa, atau malah hiburan, maka...begitulah. Like dosen like mahasiswanya.

Sunday, July 14, 2013

Manhaj Takut-takutan...Manhaj Ridha Manusia

oleh Hasan Al-Jaizy



[1]

Beberapa orang takkan pernah mau membagi pengetahuan yang dinisbatkan pada orang-orang berilmu seperti Aidh Al-Qarny, Salman Al-Audah, Sayyid Quthb dan lain-lain. Seolah tak pernah sebait pun mendapat faedah dari mereka. Padahal, ada semacam ini yang diam-diam membaca karya mereka. Namun, tidak pernah mau berbagi dan tak hendak mengkaitkan hal pada orang seperti mereka.

Alasan dibuatnya: mereka punya ketergelinciran.

Alasan sebenarnya: saya takut ditahdzir.

Karena jika kelompok Anda (sebenarnya bukan kelompok, namun tetap saja layak disebut kelompok di sisi lain) sudah menumbangkan nama seseorang ramai-ramai, sebagiannya akan ikut-ikutan. Membeo dan membebek.

Dibanding menukil kalam emas dari pemilik nama-nama yang tersebut di atas, sepertinya lebih baik menukil kalam abangan Mario Teguh, Pak Presiden, Pak Menteri dan lainnya. Kenapa? Karena nama-nama tersebut 'aman' dari penumbangan.

[2]

Tuesday, March 26, 2013

Perahu Retak ... Bahtera Karam

oleh Hasan Al-Jaizy


Era 90-an, lebih tepatnya sekitar 1997, ada sebuah lagu yang salah satu petikan liriknya tak terlupakan.

"Aku heran....aku heran..."

Itu adalah salah satu lagu yang populer di masa saya masih bersekolah SD, di samping 'Mungkinkah', 'Gerimis Mengundang' dan lainnya. Karena saya saat itu masih SD, mungkin di antara pembaca yang tiba-tiba merasa lebih 'senior' akan menggumam, 'Wah, itu mah masa-masa saya SMA'.

Saya sendiri tidak hafal liriknya, namun selalu teringat lirik tersebut 'dipleseti' oleh teman saya ketika itu. Teman saya bernama Faris. Teman SD saya. Asalnya:
 

Al-Arify, Yang Bukanlah Seorang Ulama

oleh Hasan Al-Jaizy

Sampai sekarang, saya masih terngiang dengan pelabelan bahwa Syaikh Al-Arify bukanlah seorang ulama (ahli al-ilm) namun bukan pula seorang yang masih dalam tahap pencarian ilmu (seperti saya dan Anda). Lalu, sederajat apa beliau? Sederajat ustadz!

Kesalahan-kesalahan beliau adalah miliknya, yang jika dibandingkan kebaikannya untuk kaum muslimin, insya Allah tertutupi. Setelah bertahun-tahun berdakwah (tentunya setelah mencari ilmu) di medan dakwah, pulang pergi negeri demi menyampaikan ilmu, memiliki beragam program tanya jawab di berbagai channel TV dakwah, dan apapun dikerahkan oleh beliau, lalu dilabeli, 'Beliau bukanlah ulama'. Lalu, sederajat apa beliau? Sederajat ustadz!

Friday, March 1, 2013

Emak Rumah Tetangga...eh...Tangga


oleh Hasan Al-Jaizy


Seorang gadis peminis berpakaian minimalis mungkin karena berkarakter ekonomis -irit- bertemu dengan seorang gadis manis berpakaian maksimalis karena berkarakter agamis.

Sebut saja nama gadis peminis : Sinta. (Sinta berasal dari Cinta. Sinta sebenarnya gurunya Wiro Sableng, ia tiba-tiba menghilang sebelum Wiro diwasiatkan olehnya agar turun gunung demi membela kebenaran dan memburu Rana Weleng yang telah membunuh ayah dan ibunya. Ya, dialah Sinto Gendeng, gurunya gendeng muridnya sableng. Ia menghilang. Mungkin sedang berada di Sirdab.)

Sebut saja nama gadis agamis: Habibah. (no comments)

Sinta: "Pakaianmu nutupi seluruh tubuh, apa ga kegerahan, sis?"

Habibah: "Tentu tidak. Kan sudah saya beri Combantrin."

Sinta: "Hellooow? Sekarang 2013, iklan 90-an jangan dibawa-bawa."

Habibah: "Ngafwan, ukh. Ana suka yang jadul-jadul."

Sinta: "Oooh...Kamu ga kegerahan ya? Apa ga ada selain pakaian semacam ini?"

Habibah: "Selain ini? Yang lebih mahal banyakk!"

Sinta: "Jadi, fine-fine aja ya sis pake beginian?"

Tuesday, February 5, 2013

Surat Buat Orang Sesat I

oleh Hasan Al-Jaizy


Surat Buat Orang Sesat I

Seorang guru Ibtida'iyyah (SD) yang teracuni Atheisme mengajar anak-anak kelas 6. Ia ingin menyebar pemikirannya pada mereka. Beginilah:

"Anak-anak, apakah kalian melihat papan tulis?"

Anak-anak menjawab serempak, "Ya, Pak Guru!"

"Kalau begitu, papan tulis itu ada!"

------------------------------

"Anak-anak, apakah kalian melihat Pak Guru?"

Anak-anak menjawab serempak, "Ya, Pak Guru!"

"Kalau begitu, Pak Guru itu ada!"

------------------------------

"Anak-anak, apakah kalian melihat Tuhan?"

Anak-anak menjawab serempak, "Tidak, Pak Guru!"

"Kalau begitu, Tuhan itu tidak ada!"

------------------------------

Tiba-tiba seorang siswa pintar angkat suara.

"Kawan-kawan, apakah kalian melihat akalnya Pak Guru?"

Anak-anak menjawab serempak, "Tidaak!"

"Kalau begitu, akalnya Pak Guru tidak ada!"

------------------------------

Panca indera bukan satu-satunya sandaran semua pengetahuan.

Sunday, February 3, 2013

AIR MATA

oleh Hasan Al-Jaizy


Berzaman sudah tiada tangisku. Lalu fikirku kapan lagi bisa ku menangis.

Sempat berfikir kunjungi tempat-tempat yang pernah aku menangis di atasnya. Namun ku ingat air mataku telah mengering. Tak tertemu lagi. Takkan mampu dipungut.

Sempat berfikir meminjam mata-mata sayu milik mereka yang kukenal baik. Namun kuingat betapa rendahnya aku tuk menangis pun apa perlu meminjam mata.

Pernah berfikir mengumpulkan air-air mata penceramah dan khutabaa' di singgasana mereka. Namun mengapa kurasa mereka hanya penjual air mata yang dibeli manusia demi kehormatan dan pujian? Sementara aku tak membutuhkan air mata dagangan.

Lalu aku pun menjepit diriku sendiri di pintu kesengsaraan. Menahan perih lapar dan raungan haus. Mengoyak baju dan kulit. Yang ku dapatkan hanya ringisan dan sakit. Namun mataku tak hendak menyungai airnya.

Kusaksikan dan kubaca kisah-kisah cinta mengharu. Namun di sana kutemukan kepalsuan dan kedustaan dibuat-buat.

Kutemukan mushaf usang berkulit jaring laba-laba. Kubersihkan dan kutiup. Kubuka isinya. Al-Fatihah. Dan kutemukan hulu dan hilir sungai air mata di kalimat "Ihinash shiraathal mustaqiim"


Saturday, February 2, 2013

Nyesel Masa Kecil...20 Tahun...Kecewa Karena Cinta

oleh Hasan Al-Jaizy


Nyesel Masa Kecil...20 Tahun...Kecewa Karena Cinta

Nyesel Masa Kecil

Nyesel Masa Kecil

Ketika itu kami berbincang empat mata, dua hidung, dua lidah, dua mulut dan delapan jempol, mengenai kemampuan kami masing-masing. Saya sedang berbicara dengan seorang teman sekelas yang Allah beri berkah dan rahmat baginya, yaitu berupa hafalan 30 juz. Kita berdua berbincang. Ia ingin menjadi seperti saya. Saya juga ingin menjadi seperti dia. Tak sekali ia menanyakan bagaimana konsisten menulis. Tak sekali pula saya menanyakan bagaimana konsisten menghafal Al-Qur'an.

Yang paling membuat saya menyesal adalah setelah saya bertanya begini, "Karena ente sudah hafal semuanya, ketika ceramah atau kajian atau apapun itu, apakah dalil-dalil langsung terfikir?"

Ia jawab, "Iya, alhamdulillah. Mengalir. Tiba-tiba hadir gitu aja di fikiran. Jadi, enak sekali."
 

Friday, February 1, 2013

Lapang Dada Omongan Saja

oleh Hasan Al-Jaizy


"Lapang Dada Omongan Saja"

Seperti mengatakan bahwa hukum shalat berjama'ah adalah wajib dengan dalil-dalil yang sah, namun menyebut orang yang tidak mengatakan wajibnya shalat berjamaah berarti munafik. Ini sama dengan menyebut jumhur ulama adalah munafik. Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi'i, secara tidak langsung (atau langsung?) disebut munafik! Begitu pula ulama madzhab ketiganya.

Namun, jika dikatakan bahwa enggan shalat berjama'ah atau membencinya (bukan karena meyakini ketidakwajibannya) adalah ciri orang munafik, maka ini tepat.

Dan, bukankah yang munafik itu, yang meyakini wajibnya shalat berjama'ah tapi ketika malas dan tidak ketahuan orang yang sependapat dengannya, ia meninggalkan shalat berjama'ah? Ini juga nyata. Meyakini kewajibannya, membela keyakinannya, membantah atau menggugat yang berseberang dengan keyakinannya, namun dalam beberapa kondisi tak termaafkan, mengamalkan apa yang berlawanan dengan keyakinannya.

Wednesday, January 30, 2013

Hizby Bak Mandi...eh...Hizby Bak Oase

oleh Hasan Al-Jaizy



Berkali-kali, entah di dunia nyata atau selainnya, saya dengar ikhwah hizbiyyuun (langsung saja saya cap 'Hizbiyyun' karena kita -saya dan mereka- sama-sama tahu bahwa mereka ber-tahazzub secara nyata; meskipun jangan-jangan saya sendiri juga Hizby karena bersahabat dengan mereka) mengutip perkataan emas yang baru:

"Kalian seharusnya contoh saudara kalian [baca: golongan kalian] di Mesir! Mereka kini lebih terbuka wawasannya. Mereka sudah punya partai sekarang. Dahulu, bukankah mereka dan juga kalian paling anti dengan partai!? Sekarang, justru karena situasi dan ijtihad non-kolektif (dalam artian: tidak disepakati semua kalangan dari berbagai negara), mereka punya partai. Namanya sudah jelas: HIZB. Hizb Cahaya. Hizby. Tak apa-apa toh ngizby?"

Tanggapan saya (sebagai orang kecil tidak masalah jika dituduh Hizby) adalah:

[1] Kalian berfikir bahwa seluruh kaum S di Mesir itu sepakat atas pembangunan Hizb tersebut; padahal tidak! Mereka terbagi menjadi 2. Satu mendukung, dan satu mengkritisi. Saya pribadi -karena bukan orang sana dan tidak punya keahlian- tidak mendukung tidak pula mengkritisi. Tetapi, berusaha menghormati karena itu adalah hasil ijtihad 'sebagian' dari ulama mereka.

Tuesday, January 29, 2013

Menegakkan Kebonengan .... Membasmi Kejenggotan!

oleh Hasan Al-Jaizy


Menegakkan Kebonengan .... Membasmi Kejenggotan!

Itu bukan manhaj kita. Itu bukan keinginan kita. Kebonengan, menurut mayoritas orang sok boneng, adalah bersifat pluralitas. Artinya: muta'addid. Artinya: tidak cuma satu. Artinya: Setiap orang boleh memilih kebonengan yang menurutnya boneng. Dan yang menyelisihinya dilarang merasa paling boneng atau menyalah-nyalahkan kebonengan yang dianut orang lain. Tapi ngakaknya, orang-orang pluralis sendiri secara tidak langsung terlihat sok paling boneng dan mencegah kebonengan orang. Boneng-boneng bodoh mereka itu!

Juga sebagian warga perguruan hijau, banyak kebonengan yang berdasar dan berpijak mereka abaikan. Bahkan terang-terangan mereka lawan. Sudah boneng-boneng para ikhwah berdakwah, "Ya akhi, jangan lebay di kuburan orang saleh. Itupun jika benar yang dikubur adalah orang saleh. Kalau ternyata yang dikubur adalah bukan orang saleh, atau malah mayat kuda, biji mane? Biji siape?" Tapi, mereka langsung mengaplikasikan dan mengoperasikan software anti-virus pembasmi kejenggotan. Yang paling beken ya kalimat-kalimat ini:

--> Dasar otak cingkrang!
--> Dasar otak kebanjiran!

Sebenarnya orang-orang boneng yang berusaha menasihati, ketika memutuskan untuk cingkrangan dan terlihat kebanjiran, mereka memikirkannya pakai otak dan menyepakatinya dengan sanubari. Dan kebonengan mereka itu berasas. Tidak seperti kawan-kawan ini, sudah tahu tidak boneng, ketika diajak untuk memboneng, malah tetap membolang ke kuburan keramat. Sudah gitu, merasa paling boneng pula. 

Baydewey, sebenarnya boneng ga sih jika dikatakan, 'Kebonengan itu pluralitas; tidak hanya satu saja, melainkan relatif.'

Jawab:

Dalam beberapa kondisi, perkataan itu boneng, gan. Tapi, perkataan itu adalah sebagai pembonengan dan legalisir atau legitimasir syahwat pengucapnya supaya pendapatnya tidak digugat, tidak dikritik dan tidak dibatalkan. Nah, justru tingkahnya inilah yang merupakan gambaran telak dan mutlak merasa boneng. Kalau dia merasa tidak boneng sendiri, seharusnya ia legowo menerima kritikan dan gugatan. Dan jika kritikannya lebih boneng dan mendekati kebonengan absolut, maka wajib baginya melepaskan kebonengan lama.

Itu dari satu sisi.

Dari sisi lain, perkataan itu mewariskan kejanggalan abadi. Karena sejatinya yang namanya boneng adalah boneng, tanpa bersifat pluralitas. Kalau mau dibilang relatif, nah...itu bisa cocok. Karena begini: 

[1] Ada yang namanya kebonengan absolut [pasti], ada pula kebonengan relatif [nisbi]. Contohnya:

"Hasan Al-Jaizy itu pria". Ini adalah kebonengan absolut. Semua orang pasti merasa boneng dengan perkataan tersebut.

"Ustadz Potokopi itu tayangan keren." Ini adalah kebonengan relatif. Tidak semua orang menganggapnya keren. Sinetron ini dikira orang akan memperbaiki dunia ustadz dengan cara kritik dan sarkasme tingkat tinggi dibalut kehidupan merakyat. Tetapi, bagi sebagian orang yang berakal boneng, sinetron ini justru menjatuhkan kesakralan dunia ustadz dan mempermalukan agama.

[2] Ada yang namanya kebonengan musyaarak [bersama], ada pula kebonengan ghairu musyaarak [tidak bersama]. Ini mirip dengan nomor pertama. Tapi ada sedikit perbedaan yang terlihat di contohnya:

Bahwasanya penilaian akan kecantikan dan kegantengan seseorang itu tidak selamanya relatif, tetapi ada yang musyaarak. Di antara wanita tercantik di dunia, ada yang secara normal semua manusia akan mengakuinya cantik. Iya, kan?

Nah, sebenarnya dan seharusnya, sebuah kebonengan absolut musyarak itu juga berupa:

"Orang berjenggot itu keren"

Tanggal berapa sekarang?

17 Rabi'ul Awwal 1434


Saturday, January 26, 2013

Kalong Kuburan Keramat!


oleh Hasan Al-Jaizy

Menuru Mas Ari, teman FB saya, "Kecepatan internet Indonesia, berada pada posisi 115 dunia!" Seperti itulah status FB nya.

Anda boleh heran dengan posisinya; disebabkan negara kita sebenarnya 'kaya' dan berpenduduk banyak. Pengguna internet -saya yakin- termasuk terbanyak di dunia. 

Tapi, saya tidak heran. Dan tidak heran juga kenyataan tersebut [kecepatan yang tergolong 'terlambat ngebut' dibanding 114 negara dalam skala umum nasional] MENYEBABKAN:

...beberapa orang ketika baru dapat rejeki bisa mendownload sesuatu dengan IDM berkecepatan 500 kbps atau 1 mbps atau malah 3 dan seterusnya, pada KESENENGAN. Lalu upload foto hasil screenshot, kemudian tag teman-teman yang diharapkan akan 'takjub' dan semoga akan bertanya, 'Wah, loe kok bisa gitu, gan? Koneksi dewa! Gimana caranya, gan?'

Lelucon Konyol Saat Ini

oleh Hasan Al-Jaizy

Membuat status, bagi saya, tidak hanya belajar menulis saja, tapi setelahnya mempelajari reaksi manusia. Setelah menulis tulisan humor, bagaimana reaksi manusia. Begitu pula dengan tulisan full-sarkastik. Dan saya berusaha mempelajari siapa-siapa yang mengomentari, bentuk reaksinya, gelombang emosinya, susunan kalimatnya dan seterusnya. Hal semacam ini menarik, bagi saya pribadi. 

Dan berbulan belajar, saya banyak menarik kesimpulan. Biarlah itu disebut subjektif. I tell you this: Jika penilaian Anda disebut oleh orang lain 'subjektif', maka ketahuilah bahwa penilaian dia terhadap penilaian Anda bisa juga sendirinya 'subjektif'. Jadi, belum tentu penuding 'subjektif' lepas dari subjektifitas tudingannya.

Tulisan yang murni ilmu dan ilmiah tentu kurang laku. Bandingkan saja dengan tulisan humor atau sarkastik atau nyolot dan sebagainya. Satu sisi, ini wajar. Sementara di sisi lain, ini tidak wajar. Kita, yang 'katanya' atau klaim kita sendiri, mengagungkan ilmu, ternyata tidak sesuai klaim kita. Dan ini juga cerminan untuk saya pribadi. Kita ini kadang-kadang konyol kesumat. Melawak tanpa sadar. Sadar ilmu tapi kok gemar lawakan dan loyo akan ilmu.

Friday, January 25, 2013

Kekuatan Gado-gado!


oleh Hasan Al-Jaizy

Mungkin kelak banyak asaatidzah berfikiran begini:

"Biarlah mereka menilai saja bermanhaj gado-gado, bersahabat dengan lawan dan lain-lain. Mereka takkan meraup jasa dari saya dan takkan melihat ilmu terlebih upaya yang saya coba kerahkan. Tetapi, itu adalah problematika mereka. Manusia bukan hanya mereka saja dan Allah Maha Adil. Ketika mereka tak mengambil manfaat dari saya, ketahuilah sesungguhnya orang-orang awam mengambil manfaat dari saya. Dan saya bersyukur."

Kalimat semacam di atas [meskipun tak sama persis] pernah saya dengar langsung dari seorang dai.

Really, sekarang atau mungkin terus-menerus, beberapa manusia akan hanya mengamalkan kalimat ini:

انظر من قال ولا تنظر ما قال

"Lihatlah SIAPA yang berbicara, jangan lihat APA yang ia bicarakan"

Meskipun kalimat di atas penting diamalkan, namun tidak di semua kondisi. Dan lucunya, akan banyak muntasib ke jema'ah tertentu (meskipun ngakunya tak ber-hizb atau anti-hizb malah), tapi ketika gurunya atau manusia rekomendasian gurunya yang berbicara, kalimat inilah yang diamalkan:

انظر ما قال ولا تنظر من قال

Tak Kasih Tahu Step-stepnya


oleh Hasan Al-Jaizy

Tak kasih tahu step-step-nya:

[1] Tanam kecintaan atau fanatisme tersembunyi pada suatu golongan. Kemudian:

[2] Kritik pedas-pedas terus mereka yang belajar, mengamalkan dan mendakwahkan Sunnah, tapi lembek terhadap bid'ah dan pelakunya. Kemudian:

[3] Bongkar zallat dan kesalahan para asatidzah dari golongan itu. Kemudian:

[4] Mulai belajar kritik Al-Albany dan semacamnya. Bisa dimulai dengan sindir-sindiri dulu, not straight, tidak langsung. Tapi, kelamaan akan berani jika sudah 'merasa' cukup ilmu dan senjata pembantahnya. Jika Al-Albany sudah bisa dikritik, otomatis yang 'selevel' di bawahnya sangat lebih bisa. Kemudian:

[5] Telaah karya 3 mastero: Ibn Taimiyyah, Ibn Qayyim dan Ibn Abdul Wahhab. Pelajari sejarah hayat mereka dan karya-karya mereka. Untuk apa? Untuk mencari apa yang perlu dikritisi. Kalau ketemu, catat dan kumpulkan bahan bantahan. Atau pakai trik sebelumnya, boleh pakai sindir-sindir dulu, tidak langsung dan tidak sharih. Kemudian...

...kemudian...pertanyaan kita adalah, "Apakah benar kita mencari ilmu?"

Mungkin langkah-langkah di atas tak Anda lihat gejalanya pada manusia kini. Dan betapa banyak kini yang mencari ilmu. Tapi...

"Apakah benar kita mencari ilmu?"

Wednesday, January 23, 2013

PAKTA MAULID, Yang Merupakan "Bid'ah Hasanah"

oleh Hasan Al-Jaizy


[1] 
Ketika kita memperbincangkan masalah Maulid, antara pro, kontra dan tawaqquf [no pro no kontra just nyimax], ada yang nyeletuk:

"Hare gene masih ributin Maulid?"

Padahal, yang ribut atau yang paling ribut atau yang tukang ribut adalah teman-teman yang Maulid-an, terutama di Kuburan Keramat.

[2] 
Maulid itu, sekali lagi, adalah bid'ah hasanah.

Bid'ah = Mengada-ada dalam agama = Jelek
Hasanah = Bagus

Jelek tapi bagus? Kontradiktif, bukan? Biar tidak berbenturan, kita simpulkan bahwa:

Bid'ah Hasanah = Jelek Yang Dibagus-bagusi

Jadi: "Maulid Nabi adalah kejelekan yang dibagus-bagusi atau yang dianggap bagus atau YANG BISA DIGANTI namanya supaya terkesan bagus."

[3]
Maulid itu menciptakan 'keberkahan' tersendiri. Dan ini relatif menguntungkan bagi para penjual kopiah, CD dan peniaga lainnya. Tapi, yang paling diuntungkan tentu saja para pebisnis religius, baik itu ustadz/habib/kyai/ulama yang menjadikan Maulid ladang meraup keuntungan finansial atau pamor, baik dengan cara menitip nomor rekening, atau menggelar acara yang requiring sumbangan atau infaq [baca: iuran faqsa] bagi pengikutnya.

Lebih-lebih para penjaga kuburan keramat. Mereka akan gagah malam Maulid-an. Sebentar lagi duit mengalir deras. Kalau perlu, main tipu-tipu sedikit, baik dengan cara menaruh kendi, bejana atau semacamnya berisi air kembang, mengklaim keberkahan, atau jualan kitab kecil wiridan yang dibisniskan. Berkah, bukan?

[4]
Maulid itu bahasa pelosoknya: "BIRTHDAY". Demi Birthday, banyak yang rela safar. Tapi, demi shalat jama'ah yang jelas diperintahkan, sedikit sekali. Memang boneng, gan...kalau yang namanya bid'ah terangkat, sunnah bakal turun, baik itu sunnah yang bersifat wajib, atau tidak wajib.

Apakah ada yang memakai lilin sekalian? Nanti jam 12 malam tiup lilin bareng.

[5]
Tidak dipungkiri lagi, bahwa mafsadat dan madharat banyak sekali terkandung dalam perayaan Maulid. Tapi, masa bodoh lah dengan yang namanya bid'ah, syirik, dan lainnya. Yang penting: having fun, bisa keluar rumah, rame-rame nongkrong, dan tentu saja: cinta Nabi.

Cinta Nabi tapi ternyata tidak cinta sunnah Nabi. Saking cintanya terhadap Nabi, dan tidak cintanya pada sunnah Nabi, akhirnya melakukan bid'ah hasanah.

[6]
Dalih Nabi berpuasa hari Senin, dikatakan sebagai perayaan hari kelahiran Nabi. Emeng keseng!

Lucunya:

a. kawan-kawan pro-Maulid tidak pernah menyinggung masalah puasa Senin-Kamis.
b. kenapa tidak pada Maulid-an setiap hari Senin? Kok cuma setahun sekali? Oh iya, saya lupa, namanya juga Hari Ulang Tahun. ckck

[7]
Dikatakan, kita yang mempermasalahkan Maulid dan bid'ah, adalah pemecah belah. Padahal, ada teori begini:

"Sesuatu yang asalnya mulus, dipecahkan disebabkan kedatangan sesuatu yang memecahkannya setelah kemulusannya."

Syariat Islam asalnya mulus dan murni; lalu datanglah bid'ah yang menggores kemulusannya. Pelaku bid'ah lah yang menjadikannya tergores dan terpecah-belah.

Syariat Islam asalnya tidak mengenal perayaan Maulid Nabi. Lalu, datanglah Maulid Nabi, sesuatu yang baru. Dengan kedatangannya, protes di sana-sini. Disebabkan Maulid, perpecahan terjadi.

[8]
Jika satu keburukan dilakukan, ditakutkan bercabang dan melahirkan keburukan baru. Dan itulah yang terjadi pada Maulid.

Maulid itu buruk...eehh...hasanah dink...lalu tumbuhlah amalan-amalan baru, seperti wiridan bareng di depan kuburan keramat. Karena tidak puas wiridan di atas tanah dan tikar, akhirnya kuburannya dibuat seperti rumah dan berlantai kinclong. Tidak puas hanya wiridan, didatangkanlah gendang dan rebana. Tidak puas dengan itu, dibawalah speaker dan sound system. Tidak puas dengan itu, lama-lama saya yakin: kalian akan menjadi orang gila.

Dan bukan sebuah hot news jika seorang sufi bertingkah selayaknya orang gila dan kehilangan akal.

[9]
Sebagian peraya Maulid tidak tahu apa-apa, sebagian tidak mau tahu apa-apa, sebagian tahu tapi berkata, 'Cyus miyapa!?', sebagian sudah tahu tapi tak peduli apa-apa, dan semoga Allah memberi petunjuk pada semuanya, tak terkecuali kita.

[10]
Maulid itu adalah bentuk Natal dengan cover Islami. Jikalau Natal dinamai Maulid, maka sah-sah saja. Atau bahkan nama Maulid lebih cocok untuk Natal. Karena keduanya sama-sama:

"Memperingati/merayakan Hari Lahir Nabi"

Lucunya, sebagian ulama tarikh [sejarah] tidak menyatakan Nabi lahir tanggal 12 Rabi'ul Awwal. Dan...beliau wafat kapan, btw?

Maulid itu adalah bentuk Natal dengan cover Islami. Masalah buat umat Islam? Masalah!


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/492474554127268

Tuesday, January 22, 2013

Mengejar Wahabi + Mengeramatkan Kuburan Keramat!


oleh Hasan Al-Jaizy

Ternyata kita ini hebat dan keramat! Lebih keramat dari para wali Allah, yaitu para sahabat, tabi'in dan seterusnya.

Lho, kok bisa? Begini ceritanya:

Seorang salafi mengatakan kepada seorang Sufi:

Salafi: "Saudaraku, usahlah kau dan kawanmu merayakan Prophet's Birthday atau Hari Ultah Nabi 1434. Itu tidak ada syariatnya sama sekali."

Sufi: "Ah, kau ini. Usahlah larang-larang aku dan kawanku. Niatku baik, kau tahu?"

Salafi: "Iya, tapi hal semacam itu baiknya kita tinggalkan, kawan."

Sufi: "Memangnya ada pelarangan Maulid di Al-Qur'an dan Hadits yang berbilang begini: 'Wahai kaum muslimin, janganlah kalian bermaulid!" Ada tak?"

Friday, January 11, 2013

Belum Kiamat, Tetapi [Kayaknya] Sudah Terlambat

oleh Hasan Al-Jaizy



Tahun-tahun belakangan dan sampai sekarang atau sepertinya masih terus berlanjut, sebut saja mas Justin Habibers dan teman-temannya selalu meledek orang-orangan sawah yang celananya terangkat itu, "Surga sudah kalian pesan ya? Kalian pemegang kunci surga ya? Kalian punya hak menentukan siapa masuk surga siapa masuk neraka ya?"

Tapi, mas Justrin Habibers dan Supi Herandehs juga konco-konco dari perguruan silat sealiran sepertinya hari-hari ini sedang sibuk. Atau mungkin sedang menikmati masa liburan kuliah. Atau memang tutup mata tutup telinga jika ternyata ada seorang sesepuh mengatakan:

"Siapa yang tidak memilih pilihan kita, yaitu Raja Dangdut, ketika dia wafat, dia tidak masuk surga!"