Showing posts with label Birrul Walidain. Show all posts
Showing posts with label Birrul Walidain. Show all posts

Friday, October 23, 2015

Konsultan Saya Adalah Ayah

oleh Hasan al-Jaizy

Konsultan utama saya dalam masalah belajar dan dakwah adalah ayah saya sendiri. 

Konsultan utama saya dalam masalah perasaan, manajemen keluarga dan kebaktian adalah ibu saya sendiri. 

Walaupun pekerjaan sebagai seorang konsultan, tapi saya tak bisa lepas dari Nyak dan Babeh. Mau sekeren apapun di hadapan siapapun, sowan ke Nyak Babeh itu harus. Sowan ke Nyak Babeh itu wajib, sampai kapanpun. Sementara sowan ke orang-orang besar yang bukan murabbi saya itu tidak wajib, bahkan kadang saya malah khawatir sowan karena kepingin dianggap 'wah, muridnya wah ternyata dikenal oleh orang besar'.

Ada hal yang perlu kita bertanya-tanya dan tidak usah pura-pura. Kamu dulu lahir di rahim siapa? Yang biayakan sekolah kamu itu ayah atau tetangga atau ustadz yang baru ketemu setelah dewasa? Sekarang, komunikasi kamu dengan ustadz atau ayah kamu yang lebih intens?

Juga hal yang perlu diingat, ayah dan ibu kamu lebih kenal tentang kamu daripada guru kamu ketemu besar. Apalagi kalau guru tersebut kamu hadiri majelisnya sepekan atau sebulan sekali. Apalagi kalau cuma nyimak tanpa konsultasi dekat ngobrol dekat. Jadi please, jangan merasa sudah paling punya naungan. Ayah dan ibu kamu lebih tahu latar belakang kamu, spirit kamu, kemauan kamu, konyolnya kamu, lucunya kamu, nangisnya kamu, sampai kalahnya kamu pas maen kelereng dulu. Ayah dan ibu kamu!

Kalau memang ayah dan ibu kamu ga bisa dijadikan konsultan, ga bakal kasih solusi karena dunia kamu beda, minimal pijitin bahu ayah, atau kasih Nyak berapa duit buat belanja, lalu bilang hajat kamu apa. Bilang kamu mau apa. Bilang kamu suka sama siapa. Bilang aja. Bilang aja. Malah kok kamu lebih getol bilang hajat kamu ke teman, atau ustadz, yang kenal kamu saja baru kemarin. Kamu lupa ya kalau pertama kali kamu mengenal matahari, kamu ada sama ayah ibu, bukan sama teman atau ustadz?

Kamu lupa ya kalau sebesar-besar harapan teman atau ustadz sama kamu, lebih besar lagi harapan ayah ibu sama kamu? Kamu lupa ya jeritan Nyak dan cakarannya ke Babeh pas ngeluarin kamu? Kamu lupa ya pas kecil kamu lari hampiri ayah kamu sore-sore nyambut kedatangannya yang capek berpeluh kerja cari nafkah sambil tergopoh-gopoh gopong tasnya?

Kamu ga tau ibu nangisin kamu di doa beliau? 

Kamu ga tau ayah di jalanan nangis karena kebingungan cari duit?

Sebenarnya kamu emang ga tau. Dan ga mau tau. Karena mungkin bagi kamu, ayah ibu udah jadul. Ga tau dunia kamu. Ga punya solusi.

Dan alhamdulillah kalau saya, tidak begitu. Kadang ayah ibu saya memang ga kasih solusi lewat kata. Tapi bagi saya mah, salaman tangan baik-baik pas mau pamit dari rumah ayah ibu adalah solusi. Bagi saya mah, mereka konsultan tak tergantikan. Saya cerita apapun, mereka dengarkan.

Bagi saya mah, melihat mereka berdua berdiri depan pintu lihat saya naik motor pamit pergi dan mereka lambaikan tangan jawab salam, adalah solusi.

Solusi yang ga bisa saya dapatkan di siapapun guru saya yang terpintar.

Solusi problematika apapun buat saya mah: berbuat ihsan pada ayah ibu.

Solusi dari the best consultant. Ridha ayah ibu saat saya udah gede gini udah cukup membuat saya yakin dan berdoa: semoga Allah Ta'ala meridhai kami... dan kamu.


Wednesday, December 19, 2012

Tak Tahu Harus Menjudulkan Apa


oleh Hasan Al-Jaizy

Sebelum kau berpisah dengan mereka, jadikanlah dirimu sebagai pengelus hati mereka.

Sebelum kau benar-benar terpisah dari mereka selamanya, berikanlah yang terbaik termampu olehmu meski wujudnya tak sebanding dengan wujud seluruh kasih mereka terhadapmu.

Dan ketika benar-benar kalian berpisah...

...bahkan yang larut berbakti ketika hayatnya, masih tersesal mengapa belum tunaikan yang terharap.

Bagaimana jika pintu surga masih terbuka namun kau masih bermain dan bercanda?
Apakah menunggu tertutupnya ia, baru kemudian kau menangis darah dan meminta yang terkubur bangkit darinya? Tidak akan pernah...

Sesungguh sesalan setelah kehilangan takkan kembalikan yang hilang selamanya...
dan sesuatu takkan sempurna diketahui arti keberadaannya, kecuali setelah hilangnya...


Tuesday, November 6, 2012

Tentang AYAH

oleh Hasan Al-Jaizy

==> Dulu sekali, sebelum kamu ada:

[1] Ayahmu adalah lelaki yang mengerahkan segala jerih termampu tuk mencari modal agar bisa menikahi ibumu.
[2] Jikalau rupanya kakekmu lah yang menanam modal pelaminan, tentu ayahmu dulu telah berupaya suburkan modal batin

==> Lalu, ketika kau terlahir dan tumbuh kecil:

[1] Ingatlah ketika ayahmu pulang malam dari kerja; disambut olehmu dan ibumu.
[2] Letih dan payah agaknya tertera di baris bulu matanya. Sungguh ia berupaya mencari nafkah untukmu dan ibumu.
[3] Pernah dulu ayahmu sakit...tak mampu merangkulmu kembali. Dan kau dan ibumu pun merindukan ceria ayah kala itu.
[4] Dan setelah ayahmu pulih, kembali ia bangkit menata jam-jam hidup yang sebelumnya terberai.
[5] Dan kala itu, masa-masa itu...ayahmu begitu muda. Senyumnya tiada gersang, seri wajahnya sering terpandang dan senja umurnya belum menjelang.

==> Kini, setelah dewasa:

[1] Jikalau ayahmu masih belum pergi meninggalkan, lihatlah goresan perjuangan di raut dan keriput kulitnya...terlebih wajahnya.
[2] Jikalau ayahmu masih belum pergi meninggalkan, simaklah batuk-batuk senja menahan rasa sakit...kau tahu jika pagi telah terjelang, senja kemudian akan menjelang.
[3] Jikalau ayahmu masih bisa kau tatap wajahnya dan masih kau dengar suaranya, satu pintu surga masih terbuka...

Jikalau ia telah tiada...harga tak lagi tertera...mahalnya tak lagi terbeli...segala sesuatu takkan kau fahami seberapa besar termakna, kecuali setelah hilangnya ia...

http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/410471628994228

Monday, November 5, 2012

...dan Orang-orang Tua Pun Menangis


oleh Hasan Al-Jaizy


5

Ada seorang pemuda yang berkhidmat pada ayahnya. Ia terlihat sungguh berbakti. Ayahnya adalah seorang yang tua renta. Tak mampu banyak berjalan. Ia sangat mencintai anaknya; disebabkan baktinya yang melangit.

Namun, suatu waktu setan berbisik pada anak itu. Bisiknya bahwa ayahnya ini kian lama kian membebani. Semakin hari bergulir, semakin bertambah bebannya. Dan ia pun tidak digaji sebagai imbalan bakti. Sayangnya, sang anak menyimak kalimat setan itu dan membenarkan.

Di hari lain, si anak mengajak ayahnya untuk jalan-jalan. Ia ingin berdua bersamanya mencari angin di padang yang luas. Tak ragu sang ayah setujui ajakan itu. Ia bertambah senang dengannya.

Maka mereka berdua pun pergi ke padang yang tiada siapapun selain keduanya. Sang ayah tercekat kaget melihat anaknya tiba-tiba memegang pisau dan berjalan mendekat menujunya.

"Apa yang hendak kau lakukan, anakku?"

"Aku hendak membunuhmu!"

"Gerangan apa yang buatmu putuskan itu? Hendakkah engkau hancurkan orang yang dahulu membesarkanmu?"

"Aku sudah lama terbebani oleh hidupmu. Dan aku tak mendapat apa-apa dari upayaku untukmu. Sementara, kian hari aku semakin terbebani! AKu merasa diperbudak. Aku hendak membunuhmu!"

Si anak sudah benar-benar bertekad membunuh ayahnya. Segala upaya ayah untuk melunakkan hati anaknya tak terijabah.

Ayah pun berkata dengan putus asanya, "Jika inginmu membunuhku, maka bunuhlah aku di batu besar itu!" Si anak pun memandang sebuah batu besar yang ditunjuk ayahnya.

Anak itu pun terkejut dan merasa aneh dengan pintaan ayahnya. "Jika aku membunuhmu di sini ataupun di sana, kau tetap akan menjadi mayat dan membangkai. Tiada beda. Lalu mengapa engkau membuat peraturan dan meminta???"

Ayahnya pun menjawab:

"Karena di batu besar itulah dahulu aku menyembelih kakekmu. Dan kelak ketika engkau sudah seusiaku, anakmu juga akan melakukan yang sama seperti yang akan kau lakukan padaku sekarang."

Mendengar itu, si anak pun gemetar ketakutan. Pisau yang ia pegang pun terjatuh. Begitu juga dengan jasadnya. Ia kemudian menangis...memeluk kaki ayahnya. Memohon maaf tak henti. Dan mereka berdua pun merendamkan jiwa dalam tangisan.

[kisah ini dari kajian Syaikh Muhammad Asy-Syirbiny, "AL-Hayaatu Madrasah". Semoga memberi pelajaran bagi yang menggalinya dari kisah ini.]

Sunday, July 15, 2012

Jalan Menuju Bakti Pada Orang Tua

oleh Hasan Al-Jaizy


Sebagaimana kebanyakan segalanya, kita tidak memandang itu semua dari satu sisi saja, sehingga tidaklah kita menganggap segalanya bisa diukur sama dan disamaratakan.

Seperti baktinya seorang anak pada orang tua. Antara seorang dengan seorang lainnya berkadar beda. Kau tak bisa menyamaratakan dan tak mungkin mengkiaskan segala kisah hidup manusia dengan milikmu semata.

Beberapa gambaran:

Adakalanya seseorang tidak akan terbukti berbakti kecuali jika setelah ia melewati panjangnya jembatan tinggi menjulang, sementara ia dikepung oleh kabut-kabut cerca, dan di bawah jembatan, menunggu keganasan yang siap melumatnya.

Adakalanya seseorang belum berbakti sebelum ia harus terbelenggu tangannya dan kulit tangan disayat satu satu dengan silet; sehingga yang bisa ia lakukan hanya menangis meringis tiada habis...

Adakalanya seseorang harus berbakti dengan membuyarkan segala impian, harapan, asa dan cita-cita. Yang kemudian ia hanya mampu menangis merelakan perpisahan dengan apa yang ia bangun bertahun-tahun...

Adakalanya seseorang berbakti cukup mencium tangan keduanya, senyum kepadanya, membantu mereka dalam kesulitan sederhana...

Adakalanya seseorang cukup berbakti dengan mengirim sms, atau telepon, karena ia dalam perantauan, dan tak perlu memikirkan keadaan rumah...

Yang mungkin selalu sulit:

Jika engkau tidak bisa lagi berbakti melainkan hanya sekedar irama isak doa yang kau gemakan di buana...karena tidak hadirnya lagi keduanya. 

Meskipun engkau kemudian berjalan merayap susah payah menuju keduanya, yang kau temukan kemudian hanya tatapan kosong pada gundukan tanah di pekarangan....

...sepi


Hasan Al-Jaizy, 15 Juli 2012

http://www.facebook.com/notes/hasan-al-jaizy/jalan-menuju-bakti-pada-orang-tua/493438697339023

Wednesday, June 27, 2012

Tentang AYAH

oleh Hasan Al-Jaizy

Tentang AYAH

Dulu sekali, sebelum kamu ada:

[1] Ayahmu adalah lelaki yang mengerahkan segala jerih termampu tuk mencari modal agar bisa menikahi ibumu.
[2] Jikalau rupanya kakekmu lah yang menanam modal pelaminan, tentu ayahmu dulu telah berupaya suburkan modal batin


 Lalu, ketika kau terlahir dan tumbuh kecil:

[1] Ingatlah ketika ayahmu pulang malam dari kerja; disambut olehmu dan ibumu.
[2] Letih dan payah agaknya tertera di baris bulu matanya. Sungguh ia berupaya mencari nafkah untukmu dan ibumu.
[3] Pernah dulu ayahmu sakit...tak mampu merangkulmu kembali. Dan kau dan ibumu pun merindukan ceria ayah kala itu.
[4] Dan setelah ayahmu pulih, kembali ia bangkit menata jam-jam hidup yang sebelumnya terberai.
[5] Dan kala itu, masa-masa itu...ayahmu begitu muda. Senyumnya tiada gersang, seri wajahnya sering terpandang dan senja umurnya belum menjelang.


 Kini, setelah dewasa:

[1] Jikalau ayahmu masih belum pergi meninggalkan, lihatlah goresan perjuangan di raut dan keriput kulitnya...terlebih wajahnya.
[2] Jikalau ayahmu masih belum pergi meninggalkan, simaklah batuk-batuk senja menahan rasa sakit...kau tahu jika pagi telah terjelang, senja kemudian akan menjelang.
[3] Jikalau ayahmu masih bisa kau tatap wajahnya dan masih kau dengar suaranya, satu pintu surga masih terbuka...

Jikalau ia telah tiada...harga tak lagi tertera...mahalnya tak lagi terbeli...segala sesuatu takkan kau fahami seberapa besar termakna, kecuali setelah hilangnya ia...


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/410471628994228

KISAH SEORANG PELAJAR MEMUKUL AYAHNYA DENGAN 'MUSHAF'

oleh Hasan Al-Jaizy


Adalah seorang siswa kelas 3 Tsanawi [3 SMA] di sebuah negeri Arab yang berbakti pada kedua orang tuanya. Kala hari ia menerima rapor nilai semester 1, ia pulang ke rumah dari sekolahnya dengan ruah gembira; karena ia mendapat nilai rata-rata 96!!! Lalu ia menemui ayahnya dengan penuh sukacita. Ayahnya pun melihat rapor tersebut, merangkul anaknya dan berkata: "Pintalah apa yang kau mau sebagai hadiah dariku." 

Maka sang anak pun menjawab serta merta: "Aku ingin MOBIL!!!" yang rupa-rupanya mobil termaksud adalah yang selangit ia punya harga. 

Lalu sang ayah berkata: "Demi Allah, nak...saya akan menghadirkan di hadapanmu sesuatu yang lebih mahal dari mobil tersebut!" Maka sang anak pun semakin senang, namun sang ayah berujar: "Dengan syarat: Kelak di semester berikutnya, kau harus lebih lebih giat lagi, lalu mendapat nilai yang sama tingginya atau lebih tinggi lagi"                                                                    
------------------------------------------

Hari bergulir, semester kemudian pun bergilir, dan segalanya terasa begitu saja mengalir. Ternyata sang anak berhasil lulus dengan nilai rata-rata 98!!!  Ia pun berlari ke rumah dan tiada sekerut pun kulit wajahnya melainkan terpncar seri kebahagiaan. "Ayaaah....ayaaaah..."
Ia tak menemukan ayahnya, namun ibunya terlihat. Diciumnya kepala sang ibu dan bertanyalah ia:"'Apa ayah ada di rumah???" 

Ibu menjawab: "Ia sedang di maktabah [perpustakaan] rumah."Sang anak pun mengunjunginya. Hendaknya ia pun memamerkan hasil perjuangannya. Ketika sang ayah melihat ijasah anaknya, ia berkata: "Ambillah hadiah ini untukmu." sembari menyodorkan padanya sebuah mushaf biasa. Sang anak pun menerkam: "SETELAH SEGALA LETIHKU, AYAH HANYA MEMBERIKU MUSHAF!???" Lalu ia pun melempar mushaf tersebut ke muka ayahnya!!! Dan sebelum keluar dari area rumah, ia berteriak: "AKU TIDAK AKAN KEMBALI KE RUMAH INI LAGI!!!" 

Dan ia tak henti mencela bapaknya....

----------------------------------------------------

Beberapa bulan berlalu, sang anak menyesali perbuatannya. Ia pun kembali ke rumah. Dan ternyata ayahnya telah wafat. 

Ia menemukan mushaf hadiah ayahnya di kamar. Berkecamuk rasa penasaran akan apa yang sebenarnya diinginkan ayahnya kala itu. Ia pun mengambil mushaf tersebut bermaksud membaca beberapa ayt saja. Betapa kagetnya ia melihat rupanya mushaf tersebut hanyalah 'ulbah [box/kotak] dan di dalamnya ada sebuah kunci mobil yang dahulu dijanjikan oleh ayahnya. 

Kekakuan jasad pun menyerang...lisan tak hendak bukakan kunci agar berbicara biar sepatah kata sesalan...lalu...deraslah air mata laksana hujan sekali setelah bertahun lamanya....


Kisah masyhur tersebar di Internet. Silahkan cari via Google dengan judul: 
قصة شاب ضرب والده بالمصحف الشريف

========================================================

 فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرً

"....maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” [Al-Israa' : 23-24]

Jika satu dari keduanya meninggalkanmu, sungguh telah tertutup satu dari sekian pintu surga dalam hidupmu.Jika keduanya telah meninggalkanmu, sungguh telah tertutup dua pintu surga dalam hidupmu.Dan kesempatan yang tersiakan, takkan terpanggil kembali...meskipun darah adalah yang menderas dari kedua matamu. 

 Dan...tidak ada manusia yang lebih ikhlas dan tulus dalam mendoakan manusia lain...melainkan doa orang tua pada buah hatinya   

 Maka, apakah menunggu perginya mereka baru kau berupaya menabur bakti?   

 Apakah menunggu perginya mereka baru kau berupaya menabur bakti?     

Apakah menunggu perginya mereka baru kau berupaya menabur bakti?       

Tuesday, June 19, 2012

Baktimu Menawar Berkah

oleh Hasan Al-Jaizy

Risalah penting bagi yang kedua orang tuanya masih hidup. Kalimat yang layak dijadikan bahan renungan dari Syaikh Sa'd Al-Buraik -hafidzahullah-:

وما من عملٍ أسرع من أن يرى الإنسان بركته في الدنيا مثل بر الوالدين، وصلة الرحم

"Tidaklah dari amalan yang BERKAHnya paling cepat terlihat di dunia, seperti berbakti pada kedua orang tua dan menyambung tali rahim."

وما من عملٍ أسرع من أن يرى الإنسان شؤمه وعقوبته في الدنيا مثل: عقوق الوالدين، وقطيعة الرحم

"Tidaklah dari amalan yang HUKUMANnya paling cepat terlihat di dunia, seperti durhaka pada kedua orang tua dan memutus tali rahim."


Seperti:

[1] Seorang anak muda yang berusaha memuliakan kedua orangtuanya, menutupi aib dan menahan emosi atas kekurangan keduanya, bersabar, berusaha berbakti dan ketika ada rizki dari Allah berupa harta, ia sisihkan untuk keduanya. Biarpun kiranya ilmu anak ini tak seberapa banyak, amalan tak seberapa besar, kontribusi pada umat tak semegah anak lain, Allah akan mengangkat derajat anak seperti ini dan memberinya keberkahan dalam hidup. 

Bisa jadi, orang-orang yang sukses perniagaannya dan tampak berkah meski minim ilmu agama, disebabkan bakti mereka pada orang tua.

Bisa jadi, ustadz2 yang kita kagumi, juga para Syaikh, yang dikabarkan dulunya hanyalah orang desa dan buta warna dunia, kini bisa sehebat itu dan jelas terkira berkah ilmunya, disebabkan bakti mereka pada orang tua.


Seperti:

[2] Seorang anak muda bekerja mencari penghasilan, atau bahkan ia menambah kebaikan untuk dirinya dengan mempelajari ilmu agama dan berusaha mendalami, namun ternyata kesehariannya pada orang tua adalah seperti harimau bertemu dengan kijang. Menggarang dan berlisan seperti belati terbang yang siap menebas hati-hati yang mengharap kebaktian. Lalu Allah hinakan ia secepatnya. Yang terperih adalah kegundahan hati, lalu diiringi pengkhianatan teman-temannya, ditambah manusia yang memandangnya jelek meski berilmu; meskipun manusia tak tahu ia menghinakan kedua orang tuanya. Namun Allah memiliki balasan yang perih pedihnya.

Bisa jadi, bertahun-tahun seseorang menimba ilmu agama namun berujung pada NOL, disebabkan oleh kedurhakaannya pada orang tua.

Bisa jadi, orang2 yang tadinya kita kagumi, tiba2 terhinakan begitu saja dalam sekejap, disebabkan kedurhakaannya pada orang tua.

Dan terburuknya adalah jika kesehariannya adalah pengasingan dan kedurhakaan.


Ada sebuah cerita nyata:

Seorang anak laki-laki yang sangat sangat durhaka pada kedua orang tuanya; karena sejak kecil TIDAK DIDIDIK. Tiap hari ia membenci segala yang dilakukan keduanya. Namun ia selalu menguras harta keduanya.

Suatu hari, sebelum ia berangkat pergi dengan motornya [dan betapa adanya sejumlah anak muda yang durhaka pada orang tua karena motor atau HP], ia marah pada ibunya perihal sesuatu yang mungkin saja sepele, hingga terlisankan kalimat: "Anj*ng lo!" lalu berlalu pergi.

Dan tak beberapa lama, sang ibu mendapat kabar anaknya ini kecelakaan di jalan. Yang saya ketahui [dari cerita], kedua telapak kaki anak tersebut patah. Yang tersisa hanya tulang kering yang membuntu...

Cerita nyata...


Dan ayat yang terlalaikan oleh banyak anak:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً

"Dan Rabb-mu memerintahkanmu agar kamu tidak menyembah kecuali hanya padanya dan berbuat baik kepada kedua orang tua." [Q.S.Al-Isra: 23]

Kalimat dari Syaikh Shalih Al-Maghamsy -hafidzahullah-:

إن برك بأمك أو بأبيك خير لك من ألف محاضرة تحضرها؛ لأن ذلك أمر أوجبه الله

"Jika engkau berbakti kepada ibu atau bapakmu, itu lebih baik bagimu dari SERIBU muhadharah [kajian] yang engkau hadiri; karena berbakti itu adalah perkara yang diwajibkan oleh Allah."


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/405843352790389

Saturday, June 16, 2012

Kumaha Kabar Orang Tua?

oleh Hasan Al-Jaizy

Kumaha kabarna?

Kedua orang tua saya -alhamdulillah- dalam keadaan sehat dan dijaga oleh Yang Maha Merahmati. Lalu, bagaimana dengan kedua orang tua Anda? 

Tahukah Anda kabar terkini berkaitan dengan mereka?
Jika ternyata baik segalanya, falhamdulillah...mereka masih dijaga oleh-Nya 
Jika ternyata tidak baik kondisinya, falhamdulillah...tiada manusia terlepas dari cobaan dan ujian

Tahukah Anda kabar terkini berkaitan dengan mereka?
Jika belum tahu, Short Message Service adalah sebuah fadhilah dan nikmat dari Allah untuk mengetahui secara cepat bagaimana kabar mereka nun jauh di sana.
Jika ternyata satu atau keduanya telah kembali ke alam lain, sudikah menyempatkan masa tuk mendoakan keduanya agar diperluas dan dilapangkan isi pusara?


Sungguh ada, kawan-kawan....

Sungguh ada anak muda yang ia serumah dengan kedua orang tua, tiap hari bertemu, namun tak sepatah kata pun tertutur, kabar adalah keentahan, seakan tiada saling kenal.

Bukankah mungkin saja seorang anak yang jiwanya berkalungkan maksiat dan hatinya berlumutkan dosa, namun ia senantiasa menjaga shalat dan teramat bakti pada kedua orang tua, lalu Allah memaafkannya, mengangkat derajatnya, memberinya hidayah serta berakhir hayat dalam kesalihan dan terakhir ditempatkan di barisan orang-orang salih.

Sesuatu takkan terfahami jelas arti dan harganya, kecuali jika telah hilangnya ia...

Maka jangan tunggu jenazah tershalati, untuk berbakti...


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/404392779602113