Showing posts with label Manusia. Show all posts
Showing posts with label Manusia. Show all posts

Tuesday, March 26, 2013

Kesombongan Tak Tersadari

Kesombongan lebih senang menjangkit di manusia berpunya, entah dari segi materi atau maknawi. Kesombongan lebih suka bercumbu dengan hati orang kaya. Kesombongan juga senang mengipas hati-hati orang berilmu. Kesombongan terburuk terjadi pada seorang yang miskin harta. Yang lebih buruk jika terjadi pada yang miskin ilmu, namun melabeli diri sebagai seorang yang berilmu, atau seorang pencari ilmu.

Betapa sering aku dan kamu tertipu.

Sebelum aku meneruskan, ku harap engkau kelak tak berkata, "Tidak semuanya begitu! Jangan menggeneralisir!" Diamlah dan mari mengacalah.

Kesombongan yang tak tersadari sering terjadi pada lelaki yang berbentuk tubuh kekar. Ia akan memakai kaos ketat berlengan pendek. Ia ingin dikagumi dengan pemberian Allah atas 'kesempurnaan' tubuhnya. Sementara ia tak menyadari akan kecacatan hatinya. Ia akan memamerkan kelebihan ototnya, terutama di bagian lengan, atau di bagian dada.

Kesombongan yang tak tersadari sering terjadi pada wanita yang berwajah manis atau cantik. Ia akan mengukur-ukur seberapa manis wajahnya dan menimbang apakah ada temannya yang semanis dia. Jikalau ada, ia akan iri sejadi-jadinya. Padahal, jikalau ia mempercantik akhlak dan merias bunga-bunga kesalihan hati, ia akan segera sadar bahwa kelak keriput adalah serangan untuk masa tua. Padahal seringkali wajah manis menjadi kesulitan bahkan bencana bagi dirinya. Lalu, mengapa ia merasa takjub pada pemberian yang tak seberapa, jika dibanding akhlak mulia!?

Saturday, February 2, 2013

Nyesel Masa Kecil...20 Tahun...Kecewa Karena Cinta

oleh Hasan Al-Jaizy


Nyesel Masa Kecil...20 Tahun...Kecewa Karena Cinta

Nyesel Masa Kecil

Nyesel Masa Kecil

Ketika itu kami berbincang empat mata, dua hidung, dua lidah, dua mulut dan delapan jempol, mengenai kemampuan kami masing-masing. Saya sedang berbicara dengan seorang teman sekelas yang Allah beri berkah dan rahmat baginya, yaitu berupa hafalan 30 juz. Kita berdua berbincang. Ia ingin menjadi seperti saya. Saya juga ingin menjadi seperti dia. Tak sekali ia menanyakan bagaimana konsisten menulis. Tak sekali pula saya menanyakan bagaimana konsisten menghafal Al-Qur'an.

Yang paling membuat saya menyesal adalah setelah saya bertanya begini, "Karena ente sudah hafal semuanya, ketika ceramah atau kajian atau apapun itu, apakah dalil-dalil langsung terfikir?"

Ia jawab, "Iya, alhamdulillah. Mengalir. Tiba-tiba hadir gitu aja di fikiran. Jadi, enak sekali."
 

Wednesday, January 30, 2013

Menjadi Yang Terharap...Game Kekerasan

oleh Hasan Al-Jaizy


Menjadi Yang Terharap...Game Kekerasan

Menjadi Yang Terharap

Menjadi Yang Terharap

Selagi saya tahu bahwa menggapai cita-cita dan harapan itu bukanlah mimpi semata tanpa upaya menyicil tabungan langkah dan bergerak menunjunya, maka saya mengajak diri sendiri serta diri selain saya sendiri untuk tidak 'ngemeng' saja atau 'ngarep' saja.

Bahwa suatu asa akan terwujud secara absolut jika Allah wujudkannya. Namun, Allah takkan merubah suatu kaum hingga kaum tersebut berupaya merubahnya jua. Sementara, keadilan-Nya tertuang di fakta bahwa Dia takkan membebani hamba di luar batas kadar dan kodratnya. Artinya: Teruskan perjalanan entah sendirimu atau bersama kafilahmu dan berusahalah. Mungkin kau akan terombang-ambing sebelum tiba di dermaga, namun Dia lah yang akan sampaikan jasadmu menujunya.

Seperti seorang yang mempunyai cita sebagai penulis kelak. Tentu ia harus mencicil sedari benih cita-cita masih kecil tabungan-tabungan karya, asahan-asahan dan latihan-latihan. Konyol sekali jika ia berharap kelak mampu menjadi penulis handal sementara kesehariannya lebih suka mencokolkan mata pada TV dan mengaibaikan panggilan-panggilan buku, kertas dan pena. Oh, kini sudah modern...panggilan laptop dan gatalnya jemari.
 

Sunday, January 27, 2013

DAKWAHMU = SEDEKAHMU

Oleh Hasan Al-Jaizy

Dakwahmu = Sedekahmu

Jika merasa jahil [tidak tahu], maka itu bagus. Jika merasa masih standar atau kurang, maka itu ada bagusnya. Merupakan sebuah upaya tawadhu' adalah merasa diri belum seberapa memberi, belum banyak memiliki, dan belum hebat melampaui. Betapa banyak para masyaayikh dan asaatidzah yang mengatakan, "Saya hanyalah pencari ilmu [thalib]", bahkan mengatakan, "Saya hanyalah thuwalib al-ilm [penuntut ilmu yang kecil]."

Dan tak sekali dua kali mendengar seseorang berucap, "Ilmu saya masih cetek, ragu berdakwah disebabkannya. Lebih baik saya menjadi penyimak saja."

Amat disayangkan. 

Seorang muslim, selama dia merasa dirinya muslim dan selama dia memang muslim, telah Allah berikan kesempatan untuk berdakwah. Amat disayangkan jika seseorang merendah diri namun menafikan kesempatan yang terjulur di depan wajahnya. Mungkin ia berfikir bahwa berdakwah itu adalah seperti apa yang dilakukan para ustadz dengan ceramah, menulis kitab, atau seperti yang dilakukan para pencari ilmu yang pintar menulis status dan menjelaskan beberapa hukum.

Gambaran di atas benar. Namun, dakwah itu tidak hanya gambaran tersebut berupa! 

Jika seseorang copas sebuah ayat yang agung semisal ayat pertama surat Al-Ikhlas ke statusnya, lalu tekan post dengan niatan ibadah disertai harapan:

Friday, January 25, 2013

Kalau Memang Belum Saatnya Married...


oleh Hasan Al-Jaizy

Kalau memang merasa belum saatnya married, karena belum mampu secara finance, atau karena mau konsentrasi belajar dulu, atau faktor lain, ada 2 tarekat:

[1] Tarekat yang baik: jangan main senggol main kenal main senyum-senyum sama perawan donk. Apalagi kalau sudah sengaja komunikasi ga penting.

[2] Tarekat yang jelek: main senggol, colek, genit-genitan, senyum-senyum. Mengicar komunikasi ga penting. Baru ada gadis nanya sedikit, langsung diperhatikan.

[3] Tarekat yang munapik: di depan rakyat menampakkan muka 'galau' karena masih single dan sebagainya. Padahal, diam-diam main senyum di belakang layar, berburu, dan selainnya. 

Kegalauan itu untuk diobati atau dioles. Bukan dipelihara dan dijadikan sebagai topeng. Apalagi dijadikan sebuah kekonyolan dengan kelebayan yang tak berhenti. Obati dengan menikah jika memang merasa sudah waktunya dan mampu. Kalau belum, obati dengan ibadah, cari mulfit an-nadzar [hal yang memalingkan pandangan dan perhatian], contohnya: konsentrasi kerja, menuntut ilmu dengan giat, membantu ortu, membuat karya, membentuk organisasi dan masih banyak lagi.

Saturday, January 12, 2013

Ketidakpantasan


oleh Hasan Al-Jaizy


[1] Saya tidak pantas memakai kaos tak berkerah.
[2] Saya tidak pantas mengajar kursus English.
[3] Saya tidak pantas bertapa di pasar.
[4] Saya tidak pantas banyak bercanda, baik di sini atau di sana.

Saya tidak pantas begini begitu....karena saya begini begitu...saya, saya, saya, saya....kenapa selalu berucap 'saya'!?

Wednesday, January 9, 2013

Keturunan Orang Hebat/Kaya Itu CUCIAN


oleh Hasan Al-Jaizy


[1] Keturunan Orang Hebat 

Cucian sekali jadi keturunan orang hebat. Jika bapaknya adalah Ahli Hadits, misalnya, lalu kelak saat anaknya juga menjadi Ahli Hadits, maka orang-orang akan berkata, "Wajar toh yo!? Wong bapake Ahli Hadits koq. Anake ya ga jauh-jauh. Di rumah pasti banyak buku berjejer. Tiap hari anake pasti disuruh telan satu persatu. Yo biasa baek lah anake jadi Ahli Hadits!"

Tetapi, jika bapaknya Ahli Hadits, sementara anaknya jadi penjahat, orang-orang berkata, "Loe tuh ye!? Gaya loe emang keren...loe tuh ye!? keluarga loe emang beken!? Tapi otak loe kagak loe pake! Bapak loe tu ulama, loe malah begajulan begini."

[2] Keturunan Orang Kaya

Keturunan orang kaya juga ada cuciannya. Jika ortunya wong Kraton, misalnya, ketika dia jadi seorang pangeran, orang-orang berkata, "Ra istimewa! Nepotisme! Jadi raja cuma berkat keturunan. Belum tentu layak."

Tetapi, jika bapaknya raja/presiden yang kaya, anaknya tiap hari having fun di diskotik, orang-orang berkata, "Gila lu, bro. Lu kan anaknye raja dangdut ngeraja dan muka para habaib yang ngedukung bokap lu itu. Bonyok [bokap-nyokap] lu bisa tengsin abis, bro!"

[3] Keturunan Orang Ndeso

Keturunan wong ndeso, datang dari deso dengan ke-ndeso-an tak terampuni, menuju kota besar. Sampai di kota, ia buka usaha dagang beras. Bertahun lamanya hingga ia sukses dan tidak kelihatan ndeso lagi. Suatu saat, sebuah channel TV mendatangi toko besanya dan hendak mewawancarai. Setelah wawancara, pihak TV memuji, "Inilah si Paimin. Datang dari desa, ke kota, keturunan desa, rejeki kota, dulu dilangkahi orang kota, sekarang mengangkangi orang kota. Hebat! Respect! Visca Barca! Vamos La Liga!"

Tetapi, ternyata si Kartiman [31 tahun], datang ke kota dengan mengerahkan segala ke-ndesoan-nya, memasuki sebuah gedung untuk melamar kerja. Ia pun mendapati lift. Baru kali itu ia melihat ada lift. Di dekat lift, ada tombol sirine kebakaran. Karena kepingin tahu, dan berharap pintu lift terbuka, akhirnya ia pun memencetnya dengan ketulusan yang tak tertandingi. Sirine menggema. Semua orang panik. Lha, dianya malah ketawa sendiri. 'Wong kuto edan kabeh. Koyo ga pernah ngerungo'ke bunyi klakson ae! Dasar kuto ijo!' batinnya mengejek.

Nah, kalau diceritakan seperti ini, orang-orang akan berkata, 'Wajar, wong ndeso!"

[4] Keturunan Orang Miskin

Saya orang kaya, jadi tidak tahu seperti apa cerita orang miskin. 

Manusia Paling Ngepot

oleh Hasan Al-Jaizy


Manusia paling repot adalah yang ngepot di sana di sini; dan kelak justru akan jatuh sendiri. Manusia yang paling repot dan ngepot adalah yang mengurusi manusia, bukan kebaikannya, namun keburukan dicarinya.

Penelitian terburuk adalah penelitian terhadap keburukan orang lain. Semakin sering waktu dihabiskan untuk meneliti keburukan orang lain, semakin sempit waktu tersempat melihat keburukan sendiri.

Manusia-manusia ngepot adalah yang tak henti berburuk sangka pada manusia, entah manusia tertentu, atau umumnya.

==> Ketika kita mengatakan sesuatu atau menulis sesuatu yang baik, mengapa manusia katakan, "Jangan mudah tertipu dengan kalam atau tulisan yang baik; Belum tentu empunya baik."

SOLEH TAPI DIANGGAP DUSTA


oleh Hasan Al-Jaizy


Dalam ilmu Al-Jarh wa At-Ta'dil, ada sebuah kata yang digunakan untuk ta'dil persona atau perawi. Yaitu: aabid [عابد]. Jika dimaknai, ia bermakna hamba, atau orang yang ahli ibadah. Namun kata aabid ini ternyata tidak bisa menguatkan kredibilitas seorang perawi, tetap membutuhkan lafadz lainnya yang menguatkan, berkenaan dengan Dhabt, seperti Tsiqah, Hafidz atau Hujjah dan lainnya.

Dan ternyata tidak sedikit orang-orang soleh yang ahli ibadah, yang dilemahkan oleh para Ahlul Jarh wat Ta'dil. Contohnya: Abaan bin Abi Ayyasy, Abdullah bin Umar Al-Umary dan banyak lagi. Mereka ini orang-orang soleh, tetapi Yahya bin Sa'id berkata:

ما رأيت الصالحين أكذب منهم في الحديث

"Aku tak [pernah] melihat [ada] orang-orang saleh yang lebih berdusta dari mereka dalam hadits." [1]

An-Nawawi menjelaskan: "Karena mereka tidak begitu mengerti perkara Ahlul Hadits, maka terjadilah kesalahan dalam periwayatan mereka sedangkan mereka tidak mengetahuinya. Lalu mereka meriwayatkan kedustaan sedangkan mereka tidak mengetahui bahwa itu adalah kedustaan."[2] [3]

26 Shafar 1434
9 Januari 2013

Footnote:

[1] Al-Ilal wa Ma'rifah Ar-Rijaal, 2/448, no. 2989. Juga Muslim dalam Muqaddimah Shahih-nya, 1/17, dengan lafadz sedikit berbeda.

[2] Muqaddimah Ash-Shahih, 1/18


[3] Lihat: Mu'jam Mushthalahaat Al-Hadiits wa Uluumihi wa Asyhar Al-Mushannafaati Fiih, Dr. Muhammad Abu Laits Khair Abady, hal. 95

Tuesday, January 8, 2013

Pengajian N.A.T.O. [No Amplop Thanks Only]


oleh Hasan Al-Jaizy


Bukan kata 'mungkin' yang saya sematkan, tetapi kata 'pasti'. Ya, itu untuk kalimat ini:

"Pasti ada di antara manusia yang berfikiran bahwa ustadz-ustadz pengajian itu tidak usah diberi apapun, melainkan kalimat: Syukran, Jazaakallahu khaira dan Barakallahu fiik."

Karena ternyata memang itu terwujud. Beberapa ikhwah yang -alhamdulillah- berilmu tinggi, saking mendetailnya dalam menyelami perkara halal dan haram, akhirnya mengharamkan gaji guru agama, ustadz pengajian, hingga menafikan keberadaan yayasan pendidikan agama. Alasannya banyak dan dalilnya bertabur. Tapi, wallahu a'lam, memang bukan perkara mudah untuk memampukan diri menggabungkan antara teks dan konteks.

Seorang ustadz, ataupun guru agama yang sedang magang menjadi Habib, adalah manusia, yang juga membutuhkan sandang, pangan dan papan. Ia juga mempunyai tanggungan. Istri dan anak. Mengkonsentrasikan diri pada ilmu agama dan memusatkan ihtimam [perhatian] padanya bukanlah perkara mudah dan simple. Lebih-lebih jika ia merangkap, sebagai explorer ilmu agama dan ilmu umum. Perlu kecerdasan, tenaga dan motivasi yang kuat.

Jika meninjau secara nalar, justru guru agama itu seharusnya orang yang paling berhak dibantu jika kesulitan secara finansial. Tetapi, di wajah lain, sungguh hinanya guru agama/dai mengandalkan orang lain dalam menghidupi diri dan keluarganya. Bukan mentang-mentang berjasa dan berilmu, lantas hanya menunggu uang datang.

Sunday, January 6, 2013

Faktor 'SIAPA ELU!?'


oleh Hasan Al-Jaizy

Mungkin pembahasan semacam ini sudah pernah Anda baca dari tulisan saya. Tapi, kali ini ada beberapa tambahan gambaran real yang semoga memperkaya contoh.


Jika seseorang sudah kenal dengan seseorang, maka secara wajar keduanya semakin terbuka dan menghangat. Bukankah semakin dekat semakin hangat!? Dan semakin erat kedekatan, semakin hangat. Bisa panas malah.

Ada beberapa pemandangan yang bisa dijadikan pengisi wacana ini. Ketika kita semakin mengenal siapa dia, kita lumayan rela mengetahui kabar tentangnya atau mendengarkan apa yang ia ucapkan. Berbeda halnya jika kita belum ketahui siapa dia, dan dia pun jarang nongol di hidup kita.

Gambaran [1]: Berdagang

Apa Persamaannya Celana Kedodoran dengan Jokowi?


oleh Hasan Al-Jaizy


Kemarin, di stasiun UI, ada sebuah petikan kenyataan yang menjadi salah satu pengisi tulisan ini. Pukul 4 lebih 20 menit kiranya saya menunggu kereta di sana. Di peron, berjejeran ruko-ruko. Ada sebuah ruko, kalau tidak salah, pebisnis pulsa. Saya mendengar seseorang berkata dengan cukup keras:

"Tau ga lo apa persamaannya Barcelona dengan Jokowi?"

Suaranya cukup keras sehingga saya menoleh ke belakang, yaitu ke asal suara. Seorang berusia sekitar 30 tahunan sedang berbincang dengan 2 temannya atau lebih. Lalu ia meneruskan:

"Persamaannya: sama-sama rendah hati! Emangnya Real Madrid? Kalau Madrid kalah, pasti nyari kambing hitam. Ga terima kalah. Coba lihat tuh Barcelona. Kalau kalah, ga banyak omong. Kalah ya ngaku kalah."

Well, apa yang diucapkan orang itu benar sebenarnya, tapi tentu sesuatu yang faktual itu diterima oleh pihak yang tersinggung atau tersindir. Hal yang disimpulkannya juga kesimpulan jumhur manusia penonton bola sedunia. Sudah tidak asing lah jika Madrid [Mourinho in front] selalu cari kambing hitam ketika kalah. Kecuali mungkin sekarang-sekarang saja, karena sudah ketinggalan 16 point dari pemuncak klasemen. Mau mencak-mencak ya percuma.

Generasi Tidur Pagi


oleh Hasan Al-Jaizy


Tidur pagi, jika bukan disebabkan kurangnya istirahat malam, melainkan disebabkan kebiasaan, adalah KEBURUKAN. Jika itu adalah kebiasaan seorang bapak-bapak yang memiliki anak, maka ini adalah KEBURUKAN yang sangat buruk! Jika itu adalah kebiasaan seorang ibu yang memiliki anak, maka ini LEBIH BURUK lagi. 

Jika itu adalah kebiasaan anak muda, -terutama mahasiswa masa kini-, maka itu adalah BURUK.

Calon pemimpin bangsa ini rupanya punya kebiasaan buruk, yaitu tidur pagi. Setelah shalat Shubuh, tidur pagi.

Saturday, January 5, 2013

Senior Tetapi Hakikatnya JUNIOR

oleh Hasan Al-Jaizy


Mungkin seorang yang 'baru' bisa mengulik dan menerbitkan sebuah artikel ilmiah, ketika melihat orang lain hanya menulis tulisan ringan, hatinya bercerita, 'Hehe. Punyamu masih kalah jauh dari punyaku. Punyamu hanya kalimat biasa, sedangkan punyaku adalah upayaku menggali kitab ulama, menyusun dan mendalaminya.'

Atau seorang yang 'baru' bisa men-takhrij hadits-hadits, pintar menggunakan perpustakaan elektronik dan membuka kitab-kitab tebal, ketika melihat orang lain hanya bermodal 'nukilan' pragmatis, hatinya bercerita, 'Punyamu bukanlah apa-apa dibanding punyaku.'

Mungkin juga seorang yang 'baru' bisa memahami bahasa Arab dan kaget dengan gemerlapnya kitab2 elektronik atau ebook, ketika melihat orang lain hanya bisa memahami terjemahan fatwa, terjemahan kitab dan sebagainya, ia akan bergumam, 'Jangan cuma bisa baca terjemahan. Kalian itu bukan apa-apa. Belum seberapa. Hargailah saya yang tidak [mau] baca terjemahan, tetapi harus ke sumber asli dengan bahasa Arabnya.'

Friday, January 4, 2013

Memilah-milah Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy


Begini, bro. Kebenaran itu bisa menjadi bersifat relatif karena dirimu sendiri. Bisa jadi, aslinya kamu mengakui itu benar, tetapi karena beberapa faktor, kamu tidak 'membenarkannya', atau bahkan mencari-cari celah agar ia tidak tampak benar.

Gambaran:

[1] Pak De Su'aid ini sudah berumur 40 lebih. Suatu hari, ia membaca status Nawawi yang cukup panjang. Tanpa sepengetahuan siapapun, Pak De Su'aid memang suka 'mengintip-intip' tulisan orang. Tidak usah tekan 'like', apalagi sampai komentar. Alasannya? Banyak. Di antaranya: Jaga Wibawa, Jaga Gengsi dan seterusnya. Karena kalau sekali terlihat nge-like status orang, ia merasa gengsinya merendah. Bahkan, sekadar ikut komentar saja pun enggan; karena takut diketahui bahwa ia membaca tulisan orang.

Thursday, January 3, 2013

Menerawang Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy


Ini yang kesekian kalinya, lagi-lagi saya menceritakan apa yang terjadi ketika saya pulang dari kampus. Well, pekan ini adalah pekan UAS [Ujian Akhir Semester] di kampus. Selesai mengerjakan tes, langsung cabut ke rumah. Besok pagi insya Allah saya akan cabut lagi dari rumah. Selepas habis tes, saya cabut lagi ke rumah. Jadi, kehidupan saya ini cabut-cabutan. 

Dan tadi, saya menumpang dibonceng teman saya, seorang perjaka Madura yang tinggal di sekitar Condet. Teman sekelas. Madura tulen. Saya kadang 'berdiskusi' dengan teman yang satu ini soal perguruan hijau dan fenomena anti-Wahabi. Sebenarnya teman-teman 'hijau' saya banyak di kampus. Semuanya bagus-bagus. Fair dalam menilai dan menimbang. Cuma mungkin mengekspresikannya berbeda macam dan ragam.

Nah, tadi pagi, kami sempat membicarakan kehebatan ulama di zaman dahulu.

G.A.L.A.U.


oleh Hasan Al-Jaizy

G.A.L.A.U.

[Bacaan Untuk Manusia; Yang Bukan Manusia, Jangan Pura-pura Bisa Baca!]

Orang yang punya cita-cita tinggi, adalah seorang yang berbeda. Ia memiliki karakteristik yang tidak kau temukan pada semua manusia. Jangankan pada kesuksesannya kelak, bahkan pada penyesalan hingga kegalauannya adalah sesuatu! Orang bercita tinggi menyesal banyak habiskan waktu tidak untuk membangun mimpi menjadi nyata. Dan itulah salah satu bentuk kegalauan mereka.

Galau adalah awal mula dari iradah. Sedangkan kesuksesan adalah akhir dari iradah, sekaligus natijah [hasil] dari ikhtiar [usaha].

Kenapa manusia galau? Karena ia menginginkan sesuatu! Dan menginginkan sesuatu bermakna ia ingin mencapai sesuatu yang ia inginkan/harapkan.

Kegalauan itu relatif dan nisbi. Ia dihukumi tergantung pada bentuk iradah, bukan bentuk kegalauan itu sendiri. Jika ia galau karena iradahnya adalah ingin mendapat pacar segera atau karena diputuskan pacar baru saja, maka ini adalah galau yang bodoh dan tercela. Namun, jika ia galau karena iradahnya adalah ingin segera menikah, namun ditolak oleh banyak incaran, atau belum punya modal, atau merasa kurang pede, maka ini adalah galau yang wajar dan bahkan bagus.

Wednesday, January 2, 2013

Angka-angka Bisa Menjadi PITNAH Atau Rahmat [?]


oleh Hasan Al-Jaizy

Ketika itu saya hampir memasuki pintu rumah. Pulang dari kampus di siang hari. Masih sekali teringat petikan kalimat Syaikh Al-Munajjid dalam salah satu rekaman kajian yang kala itu saya dengar. Maknanya:

"Angka-angka sekarang banyak menjadi PITNAH!"

Dan itulah yang sedang ingin saya bahas; namun bukan sisi PITNAHnya saja, melainkan sisi rahmatnya juga.

PITNAH berasal dari Fitnah, yang berasal dari Arabic. Fitnah dimaknai dalam dunia Arab atau Islam sebagai :

--> 'sesuatu yang buruk' [makna paling umum]
--> 'ujian/cobaan/musibah' [makna umum]
--> 'kemaksiatan/kekufuran/kesyirikan' [makna khusus; karena ini berkaitan dengan agama].

Angka-angka bisa menjadi fitnah, atau rahmat. Saya berikan beberapa gambarnya secara instan:

Ndeso dan Jahil


oleh Hasan Al-Jaizy

Orang desa akan terlihat paling ndeso di kota besar. Lalu ia berusaha upgrade diri. Ketika ia pulang ke desa, ia terlihat paling kuto di antara wong2 ndeso. Style beda sendiri.

Orang jahil terlihat paling jahil di tengah orang berilmu. Lalu ia berusaha upgrade keilmuan. Sekembalinya ke tengah komunitas jahil, ia terlihat paling berilmu.

Kita harus banyak2 bergaul dengan orang berilmu banyak jika ingin berilmu banyak. Tetapi jika kita menikmati singgasana di tengah orang2 bodoh, justru kita bisa ikut bodoh suatu saat.

(tidak bermaksud membodoh-bodohi wong ndeso)

Tuesday, January 1, 2013

Seringkali Kangen Masa Itu

oleh Hasan Al-Jaizy

Sering sekali saya pribadi rindu akan masa itu. Yaitu masa-masa di mana saya, sebagai seorang thuwailib pemula [dan masih hingga kini], belum mengenal istilah semacam 'Tahdzir', 'Hizbiyyah', dan seterusnya. Dahulu -mungkin karena memang pergaulan kami hanya di dalam pondok- kami tidak begitu mengenal kalimat semacam itu. Mungkin pernah dengar, namun sangat asing.

Malam ini, iseng-iseng membuka sebuah forum Islami yang insya Allah semuanya bermanhaj sahih dan berilmu. Berharap mendapat ilmu dan pemahaman baru di dalamnya yang bermanfaat dan bisa dimanfaatkan. Namun, yang rupanya membekas kini bukanlah atsar [bekas] dari ilmu, melainkan sakit di hati dan kesedihan kecil namun mendalam. Bukan bermaksud melukiskan seberapa putihnya hati sendiri; karena tidaklah penulis lebih baik dari pembaca tulisannya.

Beberapa thread dengan judul-judul menarik menarik saya untuk membukanya. Dan saya lihat sang syaikh hingga murid-muridnya [baca: pengikutnya] men-jarh [menikam] beberapa nama bertubi-tubi tanpa henti.