Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Wednesday, January 30, 2013

Love Her Before Meeting Her

oleh Hasan Al-Jaizy

I just want to tell my wife someday that these times I really think of her and try hard to reach her...to grab her ini the unknown. Trying hard to fix problems...to find money...

....then I'm gonna tell her one day that to find you was not easy and made some rains in my youth.

....then she has to know that I already made a sacrifice before she does.

I already love her before I meet her, even before I know her.


Tuesday, December 18, 2012

CAT : [41] "YANG TAK TERLUPA"

oleh Hasan Al-Jaizy


Seperti kata siapa...
"Orang yang sering berdoa
mendoakan kebaikan
bagimu
adalah ibumu, juga bapakmu
Hingga saking derasnya doa
dan harapan mereka padamu
mereka luput doakan mereka sendiri"

Seperti kata siapa...
"Orang yang menangis haru
ketika menangismu
memulai hari dunia
adalah ibumu, juga bapakmu
terlebih jika kau adalah
anak pertama
Hingga saking harunya
ketika besar kau lupa
betapa mereka mengawali hidupmu
dengan tangis bahagia
dan jangan kau buat mereka
ulangi tangisan berupa
tangisan didurhakai"

Seperti kata siapa...
"Orang yang dulu ajarimu
bahasa isyarat dan lisan
adalah ibumu
Maka ketika besarmu
jangan kau ajari mereka
menangis sakit hati
disebabkan bahasa lisanmu"

"Bayangkan ketika kau letih mendidik
mengajari anakmu bahasa
hingga sempurna
lalu tumbuh anakmu sempurna
dan ia menikammu dengan bahasa
yang dulu pernah kau ajari
padanya...
ketika ia tidak bisa apa-apa"

Masih ingatkah aku ketika itu?
Ketika aku dimandikan dengan air segar
oleh ibuku
Ketika aku dikenakan baju seragam
di awal-awal sekolah
Hingga ibuku menata kancing dan kerah
lalu mengusap-usap dada dan kepalaku
Kemudian antarkan aku
dengan sepeda sederhananya
Namun hati ibu tiada sederhana
megah akan kasih selama hayatnya

Masih ingatkah aku ketika itu?
Ketika ayah membeliku mainan
di awal bulan
Lalu gembiranya aku
dan gembiranya ayahku
Diajak di hari Minggu
tamasya ke taman bahagia

Ayah...Ibu...
masih ingatkah aku...
jasa-jasa kalian
sehingga hingga kini aku pun
belum sebanding
membalas yang terjasa
meski aku harus menguras
atau
memercikkan air mata
Meski segala keringatku
air mata bakti
belum sebanding dengan
kasihmu bermasa-masa

Jangan biarkan aku, wahai diriku
Jangan biarkan aku kelak
menitiskan hujan air mata
menuai sesal ditinggal
di tepi kubur ayah ibu
Dua hamba-Nya yang tak terlupa...

Thursday, December 13, 2012

CAT : [28] "ROMAN PIPISAN"

oleh Hasan Al-Jaizy


Kamu...
bagaikan pelangi
dengan warna-warni
yang menawar sejuk di hati
Kamu...
bagaikan pelangi
setelah hujan-hujan
lebat menderas di pipi ini

Kamu...
seperti lukisan agung
di atas kanvas alam yang murni dan polos
dan duhai...
senyumanmu begitu manis
dan polos
Membuat bulu kuduk
merinding ngeri
Jantungku berdebar cepat
balapan dengan bedug lohor

Kamu...dengan senyummu
ketika riangmu menyambutku
atau bercanda-canda
berkelakar

Kamu...dengan suara lembutmu
halusnya...merdunya...
legit dicerna telinga
candu hati

Tapi, kamu cuma bayangan
dalam fikiran
Kamu belum jadi sesuatu
belum pula seseorang
Masih angan-angan

Lalu, ada teman bertukas,
"Makanya, Ndro! Lu cepet merit! Cucian deh lu!"
yang bukannya bikin gue pengen cepet nikah
tapi malah
dongkol bertalu-talu

Gue jawab aje, coy...
"Lagak lu, Kas! Mentang-mentang lu
lebih tua dari gue."

Tapi, dia malah melotot
mulutnya komat-kamit
"Dasar lu masih kecil banyak ngayal.
Ngeyel lagi!
Lu pengen enak doang ngayal
disuruh cepet cari jodo
maen sembur gue!
Lu ngimpi ape nguap, Ndro!?"

"Jiah, lagak lu, Kas.
Baru merit kemaren magrib
udah begaye
petantang-petenteng depan gue.
Lagak lu sejute!
Lu kegirangan banget baru merit
kayak nemu jeroan kebo sekarung."

"Aaah. Bodo amat!"

Sekejap aku terbangun....basah...romannya pipisan.

Sunday, December 9, 2012

CAT : [16] "GARUDA DI DADA MBAHMU"

oleh Hasan Al-Jaizy


Garuda itu
ada di dada mbahmu
yang sebenarnya pemandu
burung-burung tersesat menuju
kandang besar yang dirawat mbokmu
Kamu tidak perlu mengaku-ngaku
bahwa garuda ada di dadamu
kecuali jika hanyalah kamu
seorang pemimpi dungu
yang ingin dielu-elu
manusia selalu

Mbahmu itu kekar berbobot badan sangat
karena itu ketika sekali aku melihat
aku hormat padanya teramat
namanya punya martabat
wibawa berderajat
Tapi kamu
cuma mengaku
ngaku saja bisamu
jasa tak punya, tapi inginmu
dipandang semua mata, padahal kamu
hanya bisa berkelahi di ramai, di sepi menyebut 'ibu'

Garuda itu kuat
mencengkram ketat
ia tak pernah menangis
sedikit terluka tidak meringis
Bandingkan dengan dirimu sendiri
BBM naik misuh tak henti-henti
paling jago cela sana sini
ditanyakan apa solusi
cuma senyum basi
Garudakah ini?

Mbahmu dulu pejuang
Temu penjajah sergap serang
Memakai strategi dan kekuatan massa
agar anak cucu luhur tidak digarap menjadi hina
Itu beda jauh denganmu yang tiap pagi mendengkur
dikalahkan oleh babi-babi pagi-pagi melumpur
Lalu kau bangun dan meraih remote televisi
berharap menonton yang baru dari
cengkraman penjajah terlaknat
kau pelototi hingga ia tamat
terlena lalu s'nikmatknya
dan mengaku Garuda


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/472048326169891

Saturday, December 8, 2012

CAT : [15] "Sekarat Admirer"


oleh Hasan Al-Jaizy


Dulu, kita masih kecil
kau masih kecil dengan jilbabmu
aku masih kecil dengan gayaku
Dulu, aku mengagumimu
kekaguman anak kecil
Dulu, aku memperhatikanmu dari balik tirai kelas
jendela kelas
Dulu, aku memperhatikanmu dari manapun
jikalau aku melihatmu
Dulu, kau tidak tahu
bahwa ada yang perhatikanmu

Lalu, lulus sekolah dasar
Kita berpisah
Kau kesana
Aku kemana

Tak bertemu lagi seberapa lama

Tak melihatmu lagi seberapa lama

Di gaibnya aku dari duniamu
merindukanmu dengan sayatan-sayatan
yang jika kulukis sekarang
harus lagi ku memungut banyak air mata
Dulu, aku berharap akan bertemu lagi
namun aku tak tahu akankah bertemu lagi
Karena entah pergimu kemana

Beberapa masa terlewati
beberapa tahun saling berganti
laku dan jadi saling menyalin
dan ku rajut-rajut mimpi tak henti terpilin

Sudah besar kemudian aku
dan kiranya sudah besar dirimu
Harapan bertahun ingin bertemu
namun entah akankah bertemu

AKhirnya
suatu hari
aku melihatmu
bersama seseorang
yang tak kukenal
bersanding
di balik tirai
Ceria
berdua
merajut nafas hidup berdua

Hari itu pula
aku seka semua yang telah terharap
aku berusaha hapus
mimpi-mimpi yang telah bertahun
lamanya kulukis di
kanvas
dengan warna-warna terindah
yang pernah kutemu
di alam

Hari itu pula
aku berharap tak ingatmu lagi

Yang ada kemudian bayang-bayang
bersalah
kenapa begitu lama
aku mendamba
sesuatu yang belum tentu
layak kan tergapai
Semua terasa menyedihkan
hingga awan pun
menutup matahari yang
tersenyum
Awan tak ingin
bertambah pedihku
melihatnya tersenyum
sementara di bawah
aku bersedih

Padahal dahulu
aku bertekad
akan menaruh tiara di atas batok kepalamu
tiara indah
terbuat dari
emas, perak dan
batok kelapa

Padahal dahulu
aku sudah menulis
banyak-banyak
serial kehidupan
tentang aku yang merindu
Juga telah kutaburkan syair-syair
dan puisi-puisi lirih
tentang babon kehilangan
kekasihnya

Padahal dahulu aku
punya tanda tangan
terlukis nama depanmu
dengan nama depanku
Berharap semoga
tanda tangan seperti itu
akan abadi hingga
kita mati
berdua sejoli

Namun buyarlah segala pada
yang tersemat dalam mimpi
Bahkan mimpi pun
mengangkat kopernya
ia hijrah ke tanah subur
Katanya, 'Aku pergi
karena tak ingin kekeringan
aku pergi
hendak mencari peruntungan'

Jikalau kini kau tahu
atau bahkan yakin bahwa
tulisan ini untukmu
maka ketahuilah
sesungguhnya kamu
cuma kege'eran
karena aku
hanya mengarang...

Sekarat Admirer!

Thursday, November 15, 2012

IRI


oleh Hasan Al-Jaizy

Kamu berbuat baik...
lalu diejek...
Tentu saja tidak enak diejek...
Tapi, fikirkan saja...
mereka mengejekmu...
karena 2 hal:
[1] Karena mereka memperhatikanmu
[2] Karena mereka tidak bisa sepertimu

Ini tidak berarti meninggikan diri...
mengasah tuk jadi sombong...
Tetapi ketahuilah...
jika memang mereka ingin mengkritik...
mereka harus berikan saran dan solusi...
bukan sekadar ejekan...

Manusia mengejek manusia yang berbuat baik...
tiada maksud selain ingin...
merendahkan yang tinggi...
Terutama jika diejek di depan manusia lainnya...

Saya pernah mengejek orang baik...
sekarang saya malah menyesal...
karena saya sadar...

rupanya dia memang benar-benar...
lebih baik dari saya...

Maka, jika kamu hendak mengejek...
dia yang berbuat baik...
periksa lagi hatimu...
karena itu adalah...

IRI

Sunday, November 11, 2012

Gerimis Setelah Hujan....


oleh Hasan Al-Jaizy

ingatkanku pada Parit Sembin sana. Kalimantan Barat. Banyak cerita. Dan banyak pula serpihan kenangan hilang dari ingatan. Dikaburkan zaman.

Tentang anak-anak miskin dan piatu. Mereka anak-anak dari suku Melayu, Bugis, Dayak dan Madura. Kaki mereka tak beralas. Keceriaan mereka merampok kemiskinan atau ketiadaan ayah ibu lalu memberangusnya.

Sekolah mereka adalah yang bisa kau jadikan mesiu iba. Bangunan kayu dengan atap tak sempurna. Jendela tak berkaca. Sehingga ketika hujan deras menyapa dengan ceramah langit yang bergemuruh, mereka berlindung di bawah meja-meja. Ku saksikan dan kurasakan itu semua.

Baju-baju kumuh.
Kulit-kulit kasar.
Canda tawa murni.
Lumpur sedalam lutut.
Kayu bakar dari hutan.
Tadarus selepas magrib.
Ikan, belut dan ular parit.
Hutan di pandangan kolong langit.
Kabut malam.
Kepala-kepala botak.
Perpisahan singkat nan sederhana.

Perpisahan kami sekian detik...namun perasaan menggelora selamanya.

Friday, November 2, 2012

KALIMAT HIKMAH II


oleh Hasan Al-Jaizy

Berikut adalah bait-bait beliau mengenai kehidupan yang semoga memberi manfaat meski sedikit:

[1] فَلا تَمشِ يَوْماً في ثِيابِ مَخيلَةٍ ** فإنَّكَ من طينٍ خلقتَ ومَاءِ

Maka janganlah kau suatu hari
berjalan dengan baju kesombongan
Sesungguhnya engkau dari tanah
dahulu tercipta dan dari air

[2] لَقَلّ امرُؤٌ تَلقاهُ لله شاكِراً ؛ ** وقلَّ امرؤٌ يرضَى لهُ بقضَاءِ

Maka akan sedikit manusia
kau temui bersyukur pada Allah
Dan sedikit manusia ridha
pada qadha-Nya

[3] وفي النّاسِ شرٌّ لوْ بَدا ما تَعاشَرُوا ** ولكِنْ كَسَاهُ اللهُ ثوبَ غِطَاءِ

Dan pada [tiap] manusia keburukan
Jikalau ia tertampak
takkan mereka saling bergaul
Tetapi Allah tutup buruknya
dengan pakaian penutup

[4] ولاَ شَيءَ إلاَّ لَهُ آفَةٌ ** وَلاَ شَيْءَ إلاَّ لَهُ مُنْتَهَى

Dan tiada sesuatu melainkan
baginya ada kekurangan
Dan tiada sesuatu melainkan
baginya ada akhiran

[5] وليْسَ الغِنَى نشبٌ فِي يَدٍ ** ولكنْ غِنى النّفس كلُّ الغِنى

Dan tidaklah kekayaan itu
yang terkumpul lekat di tangan
Tetapi kekayaan jiwa adalah
segala-gala kekayaan

[Dari Diwan Abi Ataahiah. Mohon koreksi jika terdapat kesalahan pemaknaan. Semoga bermanfaat]

Thursday, October 4, 2012

Setelah Hijrahmu


oleh Hasan Al-Jaizy

Setelah hijrahmu
dari desa kasihku
Kemudian dirundung pilu
berselimutkan sendu

Setelah hijrahmu
menuju jauh tak tertahu
Lalu petak-petak bergersangan
Bayangan hanya angan-angan

Setelah kau tiada
dalam lingkaran mesra
Jejakmu adalah resah-resah
memori akan kisah-kisah

Setelah kau tiada
hati serasa damparan gulana
Seakan ku dihujani musnah
desaku tak riang sudah

Gugur sudah segala impian
yang sedari dulu kita berdua rajutkan
di samudera madu, dengan tetesan embun-embun
dari langit, rahmat tuk diabadikan berkurun

Termangu kini
di tepian tanah yang mati
setelah sebelumnya bersama kita garapi
Kemana kamu telah pergi?

Friday, September 21, 2012

Lebur


oleh Hasan Al-Jaizy

Di sini...
di desa ini...di pematang sawah ini...
kala itu kau berjalan riang
tetumbuhan padi, menampar-nampar paha kita
berjalan susuri petak-petak

Yang kemudian
kita rehat sejenak
di naungan pohon bertaburan bebatuan
di hadapan akar-akar
lalu kau tuliskan namaku
juga namamu
di muka datar sebuah batu nan halus
dengan batu apung yang kemudian melebur
dalam keherananku

Maafkan aku yang
menghapus kedua nama itu kemudian
Kukira kala itu kau tak perlu tuliskan keduanya
Yang kini kembali ku coba mengukir
sisa-sisa
dari hapusan itu

Ternyata kau hanya ingin
mengabadikan rasa
berharap kekal hingga kita berpisah
dan ternyata tidak kekal
karena kini kita sudah sungguh terpisah

Ku coba kembali ukir
kedua nama dengan batu apung
namun lebur ia
dalam isak tangisku

Maafkan aku...

Friday, August 10, 2012

Lukisan Senja Anak Desa

oleh Hasan Al-Jaizy

Lukisan Senja Anak Desa 

Bukan air yang selalu beriak di senja
melainkan anak-anak yang teriaknya beriak
bermain bercanda bergelut berenang
di danau kepuasan

Matahari sempat nikmati
berlarinya mereka kesana-kemari
berpetak umpan...satu bersatu bercerai
bagai sekumpulan kelerang terberai
Lalu sembunyi di balik batu-batu
semuanya di kolong langit biru

Pinang terpanjat...atau yang bermangga terpanjat
Petikan-petikan sore...
Mangga ucapkan salam perpisahan
pada kayu berdiri yang melahirkannya

Seakan langit...dengan goresan luka-luka bersama zaman
iringi riang anak-anak
di dalam kanvas takdir
Angin lalu lalang...melintas tanpa aturan
meski sedianya ada yang mengatur
menampar banyak dedaunan hingga dahan


Anak-anak di tepian zaman
di pedalaman 
di keentahan akan masa depan
Akankah terus kau menjadi anak-anak, anak-anak?
Jika begitu maumu, matahari
takkan tersenyum lagi untukmu
angin 
takkan lagi semilirkan sentuhannya
dedaunan takkan saling bertepuk lagi
karena kamu...



Thursday, August 9, 2012

Langit Bak Raksasa

oleh Hasan Al-Jaizy

Langit ibarat raksasa
dengan kapas-kapas putih tutupi sebagian tubuhnya
kapas-kapas pun ibarat baju tercamping di tengah hari
namun ia bagai selimut di mendung hari

Kapas-kapas itu seakan diperas
guyurkan bumi...di kelam hari
Aku bertanya pada hujan, mengapa mereka turunkanmu?
Hujan menjawab: "Aku adalah tangisan awan
Aku adalah untuk kalian sebagai rahmat
Aku adalah untuk kalian sebagai laknat
Aku adalah bala tentara-Nya"



Saturday, July 7, 2012

Sekiranya Aku Punya Sayap

oleh Hasan Al-Jaizy

Sekiranya aku punya sayap...
hendakkah kamu terbang bersamaku?
Kita mencari dunia lain
dan kamu boleh memilih sisi mana
yang ingin aku peluk pada dirimu

Sekiranya kamu pun merasakan...
hendakkah kamu ikut merasakannya seperti aku?

Dan kamu belum merasakan...
karena kamu belum ada

Friday, June 29, 2012

Seperti Tersesatnya Malam dan Aku

oleh Hasan Al-Jaizy

Seperti Tersesatnya Malam dalam Aku 

....lalu berkelebat bayang-bayang
hitam memori kala itu
saat kita tenggelam bersama...ku tatap wajah-wajah
buih-buih pasrah meluncur
dari mulut-mulut menganga
yang upaya sedaya berteriak
laut tak mendengar

Seperti aku kemudian tersesat sendiri
tak sadarkan diri
terjaga kemudian dan kusadari
Gelap telah menjadi selimut...cakar sunyi mencengkram
memangsa hati yang berliput rasa takut

Seperti tersesatnya aku dalam malam
tiada pelita...nihil temaram
Belantara angkasa
terlukis huruf-huruf angkara murka
awan-awan hitam mewujudkan kalimat
tak terbaca karena terlalu pekat

Seperti tersesatnya malam dalam aku
gurita-gurita gelap telah menjamah jiwa
tangan-tangan iblis menanam belukar
dalam dada
Teriakku hampa...pandanganku bisu...
Tangisku pucat...wajahku kering

Hingga kemudian mengintip matahari
ia pun laksana
raja api yang ketakutan

Jika gelapnya langit
lalu intipnya mentari
maka berhenti mengutuk gelap langit
ajak mentari bersinar kembali

Dan kini ia benar-benar...bersinar kembali

...seperti tersesatnya malam dalam aku



Sunday, June 17, 2012

Saat Memberi Saat Menerima

oleh Hasan Al-Jaizy

Saat memberi saat menerima
...Memberi kini semoga menerima kelak
Saat memeluk saat melepaskan
...Memeluk kini pasti terlepas kelak
Saat bersua saat berpisah
...Kita berpisah karena kita bersua sebelumnya
Saat bersedih saat bergembira
...Kita bersedih karena pernah bergembira

Fajar mudaku, semoga esok kau muncul kembali
tuk mengarsir putih hapuskan pilu-pilu senja
Petang bergilir setelah bersalaman dengan siang
kala berkumandang azan Ashar

Kumandang Maghrib selalu meraungi dalam alam imajinasi
bumi nusantara yang luas...yang luas...
Anak-anak surau kemudian berlarian
sebagian masih percikkan air ke wajah
air mengalir dari kaki gunung
Kumandang Maghrib...hilir mudik air dan angin
Tertegun aku dalam luasnya samudera malam

Saat memberi saat menerima
...Berkorban kini semoga terupah kelak
Saat bersedih saat bergembira
...Teralun tangis kini semoga ada akhirnya


http://www.facebook.com/photo.php?fbid=404825749558816&set=a.128884637152930.9464.100000941826369&type=1

Monday, June 11, 2012

Akan Selalu Senja

oleh Hasan Al-Jaizy

Akan Selalu Senja 

Senja itu akan selalu untuk selamanya
menjadi senja
kala tak lagi ku merasa
adanya sisi di sisiku
segala terasa akan berakhir
karena tiadanya yang sapa bertutur
tiada pula yang pundak tertepuk
ku tak tahu kemana perginya riang masa lalu

Yang temani senja adalah gaung
gaung kalimat bapak mutiara warisan
yang ukirannya di hati bagai prasasti
melegenda sepanjang zaman
melecut di segala kejadian

"Jadilah kamu bagai layang-layang
membumbung tinggi di tegarnya angkasa
hingga tika kau yang tertinggi
tak satupun hendak tandingi
meski begitu
jauhilah sombong"

Takkan kulupakan pesanmu, bapak
Takkan kulupakan bahasa kasihmu, ibu
Hidup kini seperti selalu senja tak berpagi
setelah siang tak bermalam
kelak malam akan datang
menutup kehidupan
mengakhiri cita dan asa


http://www.facebook.com/photo.php?fbid=402141909827200&set=a.128884637152930.9464.100000941826369&type=1

Wednesday, June 6, 2012

Gerimis Sendu IV

oleh Hasan Al-Jaizy


Memohonlah aku pada Yang Mengatur segala
sungguh tiada daya ku punya
melainkan itulah yang Dia beri
semoga gerimis ini menjadi sebuah refleksi
bahwa lemah adalah aku
sungguh aku adalah lemah
nan tinggi harapan...untuk menjadi kuat
Sementara...
tiada kekuatan melainkan kuatnya yang Dia beri
Adakah yang melampaui keagungan-Nya?
Selamanya ku katakan 'tidak'
Maka mengapa ku tenggelam dalam lalai
sementara Dia tak pernah lalai akan kelalaianku?

Gerimis Sendu III

oleh Hasan Al-Jaizy


Gerimis malam...taburkan rasa hangus
padamkan api siang yang membara nan bergelora
harapan itu kukira akan membatu
namun sungguh kini ia adalah debu
Gerimis malam...kucurkan rasa pilu
membunuh bara yang siangnya berkilauan
betapa asaku telah menipuku
tingginya ia...membumbung di sana
hancur dalam sekejap
tercabik oleh taring-taring kecil gerimis

Gerimis Sendu I

oleh Hasan Al-Jaizy


Demi Yang Ciptakan ciptaan setelah ketiadaannya sebelum tercipta...
dalam gerimis dan penjara angin penjuru-penjuru
ku saksikan titik-titik gerimis terpecah di muka bumi-Nya 
seperti serpihan-serpihan kaca yang hancur beradu
seperti asa-asa manusia yang hancur mengadu 
seperti tangisan-tangisan malam berkucur pilu
seperti lukisan tak terlukis...panorama hatiku

Demi Yang Ketahui segala awal dan akhir...
dalam himpitan dunia dan badai uji menguji
ku saksikan insan-insan kehabisan kata-kata
ketika mereka kerahkan segala upaya demi dunia
ketika dunia berikan mereka kepalsuan
ketika tak tahu lagi bagaimana mereka sembunyikan yang palsu
ketika lupa segala insan akan kembali pada-Nya


Gerimis Sendu II

oleh Hasan Al-Jaizy


Pernah ku merangkai asa...
di langit mimpi bertaburan bintang berkelipan
kilat-kilat hiasi kerangka lukisan
asaku terus membumbung tinggi...
awan-awan laksana kapas kering disambut matahari
awan-awan laksana kapas kotor terperas
luluh lantakkan segala rangkaianku
hancurlah yang terimpi...pupuslah yang terdamba
Sungguh, tiada kehendak terjadi
kecuali jika Yang Mencipta kehendakinya
Sungguh, tiada kejadian dihendaki
kecuali jika Yang Mengatur menciptanya