oleh Hasan Al-Jaizy
Dulu, ketika masih di Salatiga dan Pontianak, berjalan susuri tempat gelap dan kurang baik untuk kesehatan, merupakan 'amalan' yang sudah biasa. Tapi, ketika saya kembali tinggal di Jakarta, malah memperkecut hati. Mungkin karena Jakarta ini ramai. Jadi terbiasa dalam keramaian. Andai terbiasa hidup di lingkungan sepi dan gelap, maka biasalah. Tidak heran, jika orang-orang Jakarta diminta berjalan sendiri di tempat-tempat sepi pedesaan, mereka bakal terguncang jiwanya, seakan terancam nyawanya. Hmm...meski ada sebagian kecil yang memang sudah punya sifat berani.
Di Pontianak dahulu, saya dan rekan-rekan, juga bersama murid-murid tinggal di pondok yang jauh dari pergaulan. Karena letaknya di ujung sekali. 4 kilo dari jalan mobil. Dan daerah itu asalnya adalah hutan belantara. Pohon-pohon banyak ditebang. Kadang ada orang-orang Dayak yang tinggal di tepi parit. Tapi, mereka sering menghilang.
Berjalan 4 kilo sendirian di gelap malam bukan hal ajaib ketika itu. Keadaan memang menyihir kami tuk berani lahir dan batin. Perlu pula jalan 'nyeker' tak beralas kaki. Karena kadang harus rela terjelembab dalam lumpur. Lumpur pun bisa
Di Pontianak dahulu, saya dan rekan-rekan, juga bersama murid-murid tinggal di pondok yang jauh dari pergaulan. Karena letaknya di ujung sekali. 4 kilo dari jalan mobil. Dan daerah itu asalnya adalah hutan belantara. Pohon-pohon banyak ditebang. Kadang ada orang-orang Dayak yang tinggal di tepi parit. Tapi, mereka sering menghilang.
Berjalan 4 kilo sendirian di gelap malam bukan hal ajaib ketika itu. Keadaan memang menyihir kami tuk berani lahir dan batin. Perlu pula jalan 'nyeker' tak beralas kaki. Karena kadang harus rela terjelembab dalam lumpur. Lumpur pun bisa