Showing posts with label Bapak. Show all posts
Showing posts with label Bapak. Show all posts

Tuesday, March 26, 2013

Musafir Perjuangan

oleh Hasan Al-Jaizy


Berawal seseorang dari ketiadaan, lalu berakhir pula dengan ketiadaan. Berawal penciptaan seseorang dengan kesepian dan kesendirian, lalu berkhir pula dengan keduanya. Berawal terlahir manusia dengan keentahan dan ketidaktahuan, dan apakah engkau ingin mengakhiri dengan jawaban, "Aku tidak tahu!" !?

Yang merawatmu sejak sebelum hijrahmu dari perut ibu menuju perut bumi adalahAllah. Yang menjagamu di dalamnya. Setelah keluarnya pun kau tetap Dia jaga. Sepanjang suratan dan siratan sirah hayatmu, Dia lah yang mengaturnya. Rizki telah tertunaikan tanpa setitikpun terkurangi. Nasib telah ditakdirkan tanpa setitikpun kezaliman. 

Apakah kau mengingat-Nya? Bagiamana cerita hatimu kini akan-Nya?

Dia Dia...Dia-lah yang menciptakan kedua orang tuamu, yang menitipkan pada keduanya dirimu. Makhluk pertama yang peduli terhadapmu adalah ibumu. Kemudian, masih ibumu. Lalu, ibumu tak henti peduli. Setelahnya, muncullah nama bapakmu.

Tuesday, January 1, 2013

Pisau Bermata Dua + Orang Tua

oleh Hasan Al-Jaizy

Teringat di rekaman kajian Syarh Hilyatu Thalib Al-Ilm [Syaikh Bakr Abu Zaid] oleh Syaikh ibn Al Utsaimiin -rahimahumallah-, ketika membahas tentang 'Syuhrah' [kemasyhuran], beliau kira-kira berkata yang maknanya:

"Tidaklah seorang penuntut ilmu menuntunya li ajli [DEMI] kemasyhuran. Bahkan kadang penuntut ilmu yang tidak menuntut kemasyhuran dan berusaha ikhlas, Allah menjadikannya masyhur di tengah manusia."

Ucapan beliau adalah kebenaran dan seragam dengan realitas.

Kemasyhuran di satu sisi berpotensi fitnah, namun di sisi lain merupakan ladang berkah. Seorang alim yang masyhur, kemasyhurannya bisa jadi hibah dari Allah, berkah dari-Nya, dan amanat agar ia memanfaatkan kemasyhurannya untuk terus menanam bibit pahala dan manfaat di tengah manusia. 

Wednesday, December 26, 2012

CAT [72] : "NASIHAT BAPAK"


oleh Hasan Al-Jaizy


Secara tidak langsung, Bapak saya berpesan atau menasihati banyak. Di antara pesan atau nasihatnya:

--> "Kamu harus jadi layang-layang; lebih tinggi dari lainnya hingga tak terkejar"

Syarh [oleh saya sendiri]: At-Tafawwuq dan Uluw Al-Himmah. Bukan dimaksudkan merasa tinggi di atas manusia atau berniat membuat manusia mengira kita hebat. Tetapi, berlombalah dan gunakan apa yang kamu bisa gunakan sekarang! Fokuskan, perbanyak, asah, kembangkan dan kerahkan dari sekarang selagi sempat! Agar nanti kamu benar-benar setinggi layang-layang. Di saat kamu berada di ketinggian, banyak yang kamu lihat menatapmu jauh di bawah. Bahkan di saat kamu runtuh turun ke bumi, banyak yang mengejar berusaha memilikimu.

--> "Saya menggunakan dan melakukan yang saya bisa hingga sekarang"

Syarh : Karena kita tidak tahu kapan kita wafat, maka lakukan selagi sempat! Apa yang kamu bisa? Apa yang kamu mampu lakukan untuk dirimu dan manusia, maka lakukan dan terus

Wednesday, December 19, 2012

Tak Tahu Harus Menjudulkan Apa


oleh Hasan Al-Jaizy

Sebelum kau berpisah dengan mereka, jadikanlah dirimu sebagai pengelus hati mereka.

Sebelum kau benar-benar terpisah dari mereka selamanya, berikanlah yang terbaik termampu olehmu meski wujudnya tak sebanding dengan wujud seluruh kasih mereka terhadapmu.

Dan ketika benar-benar kalian berpisah...

...bahkan yang larut berbakti ketika hayatnya, masih tersesal mengapa belum tunaikan yang terharap.

Bagaimana jika pintu surga masih terbuka namun kau masih bermain dan bercanda?
Apakah menunggu tertutupnya ia, baru kemudian kau menangis darah dan meminta yang terkubur bangkit darinya? Tidak akan pernah...

Sesungguh sesalan setelah kehilangan takkan kembalikan yang hilang selamanya...
dan sesuatu takkan sempurna diketahui arti keberadaannya, kecuali setelah hilangnya...


Tuesday, December 18, 2012

CAT : [41] "YANG TAK TERLUPA"

oleh Hasan Al-Jaizy


Seperti kata siapa...
"Orang yang sering berdoa
mendoakan kebaikan
bagimu
adalah ibumu, juga bapakmu
Hingga saking derasnya doa
dan harapan mereka padamu
mereka luput doakan mereka sendiri"

Seperti kata siapa...
"Orang yang menangis haru
ketika menangismu
memulai hari dunia
adalah ibumu, juga bapakmu
terlebih jika kau adalah
anak pertama
Hingga saking harunya
ketika besar kau lupa
betapa mereka mengawali hidupmu
dengan tangis bahagia
dan jangan kau buat mereka
ulangi tangisan berupa
tangisan didurhakai"

Seperti kata siapa...
"Orang yang dulu ajarimu
bahasa isyarat dan lisan
adalah ibumu
Maka ketika besarmu
jangan kau ajari mereka
menangis sakit hati
disebabkan bahasa lisanmu"

"Bayangkan ketika kau letih mendidik
mengajari anakmu bahasa
hingga sempurna
lalu tumbuh anakmu sempurna
dan ia menikammu dengan bahasa
yang dulu pernah kau ajari
padanya...
ketika ia tidak bisa apa-apa"

Masih ingatkah aku ketika itu?
Ketika aku dimandikan dengan air segar
oleh ibuku
Ketika aku dikenakan baju seragam
di awal-awal sekolah
Hingga ibuku menata kancing dan kerah
lalu mengusap-usap dada dan kepalaku
Kemudian antarkan aku
dengan sepeda sederhananya
Namun hati ibu tiada sederhana
megah akan kasih selama hayatnya

Masih ingatkah aku ketika itu?
Ketika ayah membeliku mainan
di awal bulan
Lalu gembiranya aku
dan gembiranya ayahku
Diajak di hari Minggu
tamasya ke taman bahagia

Ayah...Ibu...
masih ingatkah aku...
jasa-jasa kalian
sehingga hingga kini aku pun
belum sebanding
membalas yang terjasa
meski aku harus menguras
atau
memercikkan air mata
Meski segala keringatku
air mata bakti
belum sebanding dengan
kasihmu bermasa-masa

Jangan biarkan aku, wahai diriku
Jangan biarkan aku kelak
menitiskan hujan air mata
menuai sesal ditinggal
di tepi kubur ayah ibu
Dua hamba-Nya yang tak terlupa...

Monday, November 26, 2012

"AABAA' = BAPAK-BAPAK"


oleh Hasan Al-Jaizy

Al-Aabaa' [الآْبَاءُ ] adalah bentuk jamak dari kata 'Al-Ab', yang berarti 'bapak'. Dalam bahasa Arab, penggunaan Al-Aabaa' mencakup kakek dan seterusnya. Dalam bahasa kita, dikenal dengan sebutan 'moyang'.

Al-Aabaa' bisa diartikan sebagai 'moyang'. Dan moyang maknanya adalah ayah, ibu, kakek, nenek dan seterusnya. Atau bisa juga dimaknai sebagai leluhur. Dalam banyak kepercayaan konservatif di negeri ini, leluhur dipercaya masih memiliki kehidupan di alam dunia, namun tidak terlihat oleh mata telanjang. Konon hanya mata batin dan orang-orang berhati luhur yang bisa melihat eksistensi leluhur. Kepercayaan semacam ini memberikan efek pada pembentukan adat dan tradisi. Sehingga dikenal kemudian hingga kini ritual-ritual 40 harian, haulan dan semacamnya. Diyakini bahwa arwah leluhur bergentayangan pada hari-hari itu. Mungkin di perkotaan, kepercayaan semacam ini semakin terkikis. Namun ritualnya masih jamak diselenggarakan. Hanya ada perbedaan tujuan. Kalau di zaman dahulu, mungkin bisa dikatakan benar orang-orang mengadakan ritual 40 harian dan lainnya untuk mendoakan mayyit leluhur. Namun hari ini tujuannya bergeser, yaitu: makanan atau amplop.

Dalam dunia Arab, 'Al-Aabaa' juga bisa mencakup 'paman'. Hanya pemutlakan makna terhadap bapak dan moyang lebih kuat dan asasi. Sebabnya pencakupan terhadap paman adalah karena paman itu laksana bapak bagi keponakannya. Dan di sini, terdapat nafas majas.

Tuesday, November 6, 2012

Tentang AYAH

oleh Hasan Al-Jaizy

==> Dulu sekali, sebelum kamu ada:

[1] Ayahmu adalah lelaki yang mengerahkan segala jerih termampu tuk mencari modal agar bisa menikahi ibumu.
[2] Jikalau rupanya kakekmu lah yang menanam modal pelaminan, tentu ayahmu dulu telah berupaya suburkan modal batin

==> Lalu, ketika kau terlahir dan tumbuh kecil:

[1] Ingatlah ketika ayahmu pulang malam dari kerja; disambut olehmu dan ibumu.
[2] Letih dan payah agaknya tertera di baris bulu matanya. Sungguh ia berupaya mencari nafkah untukmu dan ibumu.
[3] Pernah dulu ayahmu sakit...tak mampu merangkulmu kembali. Dan kau dan ibumu pun merindukan ceria ayah kala itu.
[4] Dan setelah ayahmu pulih, kembali ia bangkit menata jam-jam hidup yang sebelumnya terberai.
[5] Dan kala itu, masa-masa itu...ayahmu begitu muda. Senyumnya tiada gersang, seri wajahnya sering terpandang dan senja umurnya belum menjelang.

==> Kini, setelah dewasa:

[1] Jikalau ayahmu masih belum pergi meninggalkan, lihatlah goresan perjuangan di raut dan keriput kulitnya...terlebih wajahnya.
[2] Jikalau ayahmu masih belum pergi meninggalkan, simaklah batuk-batuk senja menahan rasa sakit...kau tahu jika pagi telah terjelang, senja kemudian akan menjelang.
[3] Jikalau ayahmu masih bisa kau tatap wajahnya dan masih kau dengar suaranya, satu pintu surga masih terbuka...

Jikalau ia telah tiada...harga tak lagi tertera...mahalnya tak lagi terbeli...segala sesuatu takkan kau fahami seberapa besar termakna, kecuali setelah hilangnya ia...

http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/410471628994228

Monday, November 5, 2012

...dan Orang-orang Tua Pun Menangis


oleh Hasan Al-Jaizy


5

Ada seorang pemuda yang berkhidmat pada ayahnya. Ia terlihat sungguh berbakti. Ayahnya adalah seorang yang tua renta. Tak mampu banyak berjalan. Ia sangat mencintai anaknya; disebabkan baktinya yang melangit.

Namun, suatu waktu setan berbisik pada anak itu. Bisiknya bahwa ayahnya ini kian lama kian membebani. Semakin hari bergulir, semakin bertambah bebannya. Dan ia pun tidak digaji sebagai imbalan bakti. Sayangnya, sang anak menyimak kalimat setan itu dan membenarkan.

Di hari lain, si anak mengajak ayahnya untuk jalan-jalan. Ia ingin berdua bersamanya mencari angin di padang yang luas. Tak ragu sang ayah setujui ajakan itu. Ia bertambah senang dengannya.

Maka mereka berdua pun pergi ke padang yang tiada siapapun selain keduanya. Sang ayah tercekat kaget melihat anaknya tiba-tiba memegang pisau dan berjalan mendekat menujunya.

"Apa yang hendak kau lakukan, anakku?"

"Aku hendak membunuhmu!"

"Gerangan apa yang buatmu putuskan itu? Hendakkah engkau hancurkan orang yang dahulu membesarkanmu?"

"Aku sudah lama terbebani oleh hidupmu. Dan aku tak mendapat apa-apa dari upayaku untukmu. Sementara, kian hari aku semakin terbebani! AKu merasa diperbudak. Aku hendak membunuhmu!"

Si anak sudah benar-benar bertekad membunuh ayahnya. Segala upaya ayah untuk melunakkan hati anaknya tak terijabah.

Ayah pun berkata dengan putus asanya, "Jika inginmu membunuhku, maka bunuhlah aku di batu besar itu!" Si anak pun memandang sebuah batu besar yang ditunjuk ayahnya.

Anak itu pun terkejut dan merasa aneh dengan pintaan ayahnya. "Jika aku membunuhmu di sini ataupun di sana, kau tetap akan menjadi mayat dan membangkai. Tiada beda. Lalu mengapa engkau membuat peraturan dan meminta???"

Ayahnya pun menjawab:

"Karena di batu besar itulah dahulu aku menyembelih kakekmu. Dan kelak ketika engkau sudah seusiaku, anakmu juga akan melakukan yang sama seperti yang akan kau lakukan padaku sekarang."

Mendengar itu, si anak pun gemetar ketakutan. Pisau yang ia pegang pun terjatuh. Begitu juga dengan jasadnya. Ia kemudian menangis...memeluk kaki ayahnya. Memohon maaf tak henti. Dan mereka berdua pun merendamkan jiwa dalam tangisan.

[kisah ini dari kajian Syaikh Muhammad Asy-Syirbiny, "AL-Hayaatu Madrasah". Semoga memberi pelajaran bagi yang menggalinya dari kisah ini.]

Wednesday, October 31, 2012

...dan Orang-orang Tua Pun Menangis III


oleh Hasan Al-Jaizy


4

Ada seorang ayah yang hidup tak berkecukupan dan terlilit hutang. Ia hanya memiliki harta hayati, yaitu seorang anak laki-laki. Keduanya tinggal serumah dan tiada siapa-siapa lagi. 

Suatu hari, terdengar suara gedoran dari pintu depan. Sang putra pun bukakan pintu menjawabnya. Tiba-tiba, penggedor itu, seorang laki-laki, mendorong pintu dan langsung merasuk ke rumah tanpa salam ataupun penghormatan wajar. Lalu menghampiri sang ayah dan memegang kerahnya keras-keras.

"Bayarlah hutang-hutangmu. Tidak malukah engkau!? Aku sudah menunggu di luar batas kewajaran! Habis sudah kesabaran! Apa kamu sedang menunggu apa yang akan aku perbuat padamu???"

...dan Orang-orang Tua Pun Menangis II


oleh Hasan Al-Jaizy


3

Tentang seorang remaja berumur 18 tahun. Baru lulus sekolah rupanya. Sedari kecil tak dididik benar-benar meski dirawat benar-benar. Ia tinggal serumah seatap dengan kedua orang tua kandungnya di daerah seberang Volvo, dekat Kalibata. Ibunya, yang dahulu berletih penuh sejarah payah selama berbulan mengandung, sekian menit melahirkan, dan berpeluh tahun mengasihi, adalah seorang pekerja di sebuah rumah sakit daerah Salemba, Jakarta. Sementara bapaknya adalah teman lama ibu saya. Bapaknya bekerja sehari-hari menjadi tukang ojek.

Bukanlah keluarga kecil itu keluarga bergelimang rupiah dan benda diharta. Namun, serasa rumah hanyalah tempat singgah bermalam. Seakan ia adalah penginapan untuk satu keluarga. Pagi hingga menjelang matahari tutup umur hari, tiap penginap [ayah-ibu-anak] keluar rumah. Sibuk dengan kesibukan masing-masing. Sang ibu sibuk dengan kerjaan di Rumah Sakit. Bapak pun tak sempat banyak membelai hati si anak. Tentu ia lebih sering merawat motornya yang menghasilkan uang cukup dibanding merawat hati anak. Sementara si anak, tak mau peduli dengan siapa yang melahirkan dan siapa yang membiayai kehidupan. Yang ia tahu hanyalah, 'Segala yang kuhasratkan harus teradakan'.

Anak ini adalah anak muda yang hidupnya berlumuran sejarah setan. Budi pekerti terhadap orang tua tercabut hingga sirna tak berjejak. Atau memang sedari kecil tiada sama sekali. Karena tumbuhan takkan tumbuh jika tiada penumbuh atau penanamnya. Pernah dulu ia memaksa orang tua untuk membelikan motor.

Sehari-hari, jika ada saja yang salah dari orang tua, atau tidak diberi uang untuk melampiaskan syahwat duniawinya, ia tega mencaci maki orang tua. Berlakon-lakon sudah wayang setan berlidah api neraka ia peragai di rumah.

Hari itu bukanlah hari luar biasa. Si anak durhaka ini hendak keluar rumah, sepertinya selepas maghrib atau jam-jam setelahnya. Ia meminta sesuatu namun tiada terkabul dari pihak yang dipinta. Siapa lagi kalau bukan orang tua. Akhirnya terlafadzkan kalimat ini di depan muka mereka:

"Setan luh!"

Lalu ia bergegas keluar dan melaju bersama motornya menuju kegelapan dan kesuraman. Tak lama kemudian, terdengar dering telepon. Diangkat oleh salah satu dari kedua orang tua. Terkesiap tak berkejap-kejap mereka mendengar kabar. Anaknya kecelakaan di jalan. Terkirimlah jasad di sebuah rumah sakit. Dan kabar itu dipastkan benar.

Betapapun durhaka anak pada orang tua, masih ada beberapa bait kasih tersisa dalam hati mereka. Berdua bergegas ke rumah sakit yang dimaksud. Duhai malangnya nasib satu keluarga. Hati telah hancur. Tulang-tulang si anak remuk namun ia masih tetap hidup. Ia lumpuh. Lumpuh tak berdaya. Terbaring menghitung masa. Hingga kini, sudah berbulan lamanya, terkabari seperti itu adanya.

Apa yang kemudian bisa didapat jika tiada bertaubat dari durhaka terhadap kedua orang tua? Namun, orang tua pun bisa pula durhaka terhadap anaknya. Jika apa? Jika mereka tak mendidik keduanya adab dan agama....dan orang-orang tua pun menangis.

Tuesday, August 7, 2012

Kerinduan Pada Orang Tua

oleh Hasan Al-Jaizy

Kerinduan Pada Orang Tua

Remaja yang sudah kerasan merantau dan biasa jauh dari orang tua; di masa remajanya tidak terlalu 'kangen' pada mereka. Justru 'sebagian' mereka ingin menghabiskan masa liburannya di rumah teman atau bertualang ke mana. Well, sebagian. Kebalikannya, remaja yang masih mengenyot dot dan menumpukan segalanya pada orang rumah plus tinggal di kota, 'sebagian' akan keteteran ketika harus pergi jauh ke luar kota-pulau-negeri-dunia lain. Well, sebagian.

Rindu itu ada ketika berpisah. Jika tidak berpisah, mana mungkin rindu? Begitulah rasanya para petualang, atau para pelancong, atau para musafir ke negeri lain, setelah sekian masa tinggalkan gubuk dan orang tua. Ketika mereka pulang, kembali mereka berbicara bahasa asli, naik angkot desa, bercanda dengan sopir dengan bahasa ikan lele, hingga kemudian mengetuk pintu rumah dan mendapatkan orang tuanya sehat wal afiat.

Gambaran keindahan itu tidak akan terasa bagi manusia yang sepanjang hidupnya tak lekang oleh rumah sendiri. Meski tiap manusia punya momen dan bahagia masing2. Tapi, kebahagiaan para musafir ketika mudiknya, itu hanya dirasakan oleh mereka. Non-musafir hanya bisa membayangkan. Meskipun berusaha merasakan, namun rasa itu tak sempurna.



Sunday, July 15, 2012

Jalan Menuju Bakti Pada Orang Tua

oleh Hasan Al-Jaizy


Sebagaimana kebanyakan segalanya, kita tidak memandang itu semua dari satu sisi saja, sehingga tidaklah kita menganggap segalanya bisa diukur sama dan disamaratakan.

Seperti baktinya seorang anak pada orang tua. Antara seorang dengan seorang lainnya berkadar beda. Kau tak bisa menyamaratakan dan tak mungkin mengkiaskan segala kisah hidup manusia dengan milikmu semata.

Beberapa gambaran:

Adakalanya seseorang tidak akan terbukti berbakti kecuali jika setelah ia melewati panjangnya jembatan tinggi menjulang, sementara ia dikepung oleh kabut-kabut cerca, dan di bawah jembatan, menunggu keganasan yang siap melumatnya.

Adakalanya seseorang belum berbakti sebelum ia harus terbelenggu tangannya dan kulit tangan disayat satu satu dengan silet; sehingga yang bisa ia lakukan hanya menangis meringis tiada habis...

Adakalanya seseorang harus berbakti dengan membuyarkan segala impian, harapan, asa dan cita-cita. Yang kemudian ia hanya mampu menangis merelakan perpisahan dengan apa yang ia bangun bertahun-tahun...

Adakalanya seseorang berbakti cukup mencium tangan keduanya, senyum kepadanya, membantu mereka dalam kesulitan sederhana...

Adakalanya seseorang cukup berbakti dengan mengirim sms, atau telepon, karena ia dalam perantauan, dan tak perlu memikirkan keadaan rumah...

Yang mungkin selalu sulit:

Jika engkau tidak bisa lagi berbakti melainkan hanya sekedar irama isak doa yang kau gemakan di buana...karena tidak hadirnya lagi keduanya. 

Meskipun engkau kemudian berjalan merayap susah payah menuju keduanya, yang kau temukan kemudian hanya tatapan kosong pada gundukan tanah di pekarangan....

...sepi


Hasan Al-Jaizy, 15 Juli 2012

http://www.facebook.com/notes/hasan-al-jaizy/jalan-menuju-bakti-pada-orang-tua/493438697339023

Wednesday, June 27, 2012

Tentang AYAH

oleh Hasan Al-Jaizy

Tentang AYAH

Dulu sekali, sebelum kamu ada:

[1] Ayahmu adalah lelaki yang mengerahkan segala jerih termampu tuk mencari modal agar bisa menikahi ibumu.
[2] Jikalau rupanya kakekmu lah yang menanam modal pelaminan, tentu ayahmu dulu telah berupaya suburkan modal batin


 Lalu, ketika kau terlahir dan tumbuh kecil:

[1] Ingatlah ketika ayahmu pulang malam dari kerja; disambut olehmu dan ibumu.
[2] Letih dan payah agaknya tertera di baris bulu matanya. Sungguh ia berupaya mencari nafkah untukmu dan ibumu.
[3] Pernah dulu ayahmu sakit...tak mampu merangkulmu kembali. Dan kau dan ibumu pun merindukan ceria ayah kala itu.
[4] Dan setelah ayahmu pulih, kembali ia bangkit menata jam-jam hidup yang sebelumnya terberai.
[5] Dan kala itu, masa-masa itu...ayahmu begitu muda. Senyumnya tiada gersang, seri wajahnya sering terpandang dan senja umurnya belum menjelang.


 Kini, setelah dewasa:

[1] Jikalau ayahmu masih belum pergi meninggalkan, lihatlah goresan perjuangan di raut dan keriput kulitnya...terlebih wajahnya.
[2] Jikalau ayahmu masih belum pergi meninggalkan, simaklah batuk-batuk senja menahan rasa sakit...kau tahu jika pagi telah terjelang, senja kemudian akan menjelang.
[3] Jikalau ayahmu masih bisa kau tatap wajahnya dan masih kau dengar suaranya, satu pintu surga masih terbuka...

Jikalau ia telah tiada...harga tak lagi tertera...mahalnya tak lagi terbeli...segala sesuatu takkan kau fahami seberapa besar termakna, kecuali setelah hilangnya ia...


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/410471628994228

KISAH SEORANG PELAJAR MEMUKUL AYAHNYA DENGAN 'MUSHAF'

oleh Hasan Al-Jaizy


Adalah seorang siswa kelas 3 Tsanawi [3 SMA] di sebuah negeri Arab yang berbakti pada kedua orang tuanya. Kala hari ia menerima rapor nilai semester 1, ia pulang ke rumah dari sekolahnya dengan ruah gembira; karena ia mendapat nilai rata-rata 96!!! Lalu ia menemui ayahnya dengan penuh sukacita. Ayahnya pun melihat rapor tersebut, merangkul anaknya dan berkata: "Pintalah apa yang kau mau sebagai hadiah dariku." 

Maka sang anak pun menjawab serta merta: "Aku ingin MOBIL!!!" yang rupa-rupanya mobil termaksud adalah yang selangit ia punya harga. 

Lalu sang ayah berkata: "Demi Allah, nak...saya akan menghadirkan di hadapanmu sesuatu yang lebih mahal dari mobil tersebut!" Maka sang anak pun semakin senang, namun sang ayah berujar: "Dengan syarat: Kelak di semester berikutnya, kau harus lebih lebih giat lagi, lalu mendapat nilai yang sama tingginya atau lebih tinggi lagi"                                                                    
------------------------------------------

Hari bergulir, semester kemudian pun bergilir, dan segalanya terasa begitu saja mengalir. Ternyata sang anak berhasil lulus dengan nilai rata-rata 98!!!  Ia pun berlari ke rumah dan tiada sekerut pun kulit wajahnya melainkan terpncar seri kebahagiaan. "Ayaaah....ayaaaah..."
Ia tak menemukan ayahnya, namun ibunya terlihat. Diciumnya kepala sang ibu dan bertanyalah ia:"'Apa ayah ada di rumah???" 

Ibu menjawab: "Ia sedang di maktabah [perpustakaan] rumah."Sang anak pun mengunjunginya. Hendaknya ia pun memamerkan hasil perjuangannya. Ketika sang ayah melihat ijasah anaknya, ia berkata: "Ambillah hadiah ini untukmu." sembari menyodorkan padanya sebuah mushaf biasa. Sang anak pun menerkam: "SETELAH SEGALA LETIHKU, AYAH HANYA MEMBERIKU MUSHAF!???" Lalu ia pun melempar mushaf tersebut ke muka ayahnya!!! Dan sebelum keluar dari area rumah, ia berteriak: "AKU TIDAK AKAN KEMBALI KE RUMAH INI LAGI!!!" 

Dan ia tak henti mencela bapaknya....

----------------------------------------------------

Beberapa bulan berlalu, sang anak menyesali perbuatannya. Ia pun kembali ke rumah. Dan ternyata ayahnya telah wafat. 

Ia menemukan mushaf hadiah ayahnya di kamar. Berkecamuk rasa penasaran akan apa yang sebenarnya diinginkan ayahnya kala itu. Ia pun mengambil mushaf tersebut bermaksud membaca beberapa ayt saja. Betapa kagetnya ia melihat rupanya mushaf tersebut hanyalah 'ulbah [box/kotak] dan di dalamnya ada sebuah kunci mobil yang dahulu dijanjikan oleh ayahnya. 

Kekakuan jasad pun menyerang...lisan tak hendak bukakan kunci agar berbicara biar sepatah kata sesalan...lalu...deraslah air mata laksana hujan sekali setelah bertahun lamanya....


Kisah masyhur tersebar di Internet. Silahkan cari via Google dengan judul: 
قصة شاب ضرب والده بالمصحف الشريف

========================================================

 فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرً

"....maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” [Al-Israa' : 23-24]

Jika satu dari keduanya meninggalkanmu, sungguh telah tertutup satu dari sekian pintu surga dalam hidupmu.Jika keduanya telah meninggalkanmu, sungguh telah tertutup dua pintu surga dalam hidupmu.Dan kesempatan yang tersiakan, takkan terpanggil kembali...meskipun darah adalah yang menderas dari kedua matamu. 

 Dan...tidak ada manusia yang lebih ikhlas dan tulus dalam mendoakan manusia lain...melainkan doa orang tua pada buah hatinya   

 Maka, apakah menunggu perginya mereka baru kau berupaya menabur bakti?   

 Apakah menunggu perginya mereka baru kau berupaya menabur bakti?     

Apakah menunggu perginya mereka baru kau berupaya menabur bakti?       

Tuesday, June 19, 2012

Baktimu Menawar Berkah

oleh Hasan Al-Jaizy

Risalah penting bagi yang kedua orang tuanya masih hidup. Kalimat yang layak dijadikan bahan renungan dari Syaikh Sa'd Al-Buraik -hafidzahullah-:

وما من عملٍ أسرع من أن يرى الإنسان بركته في الدنيا مثل بر الوالدين، وصلة الرحم

"Tidaklah dari amalan yang BERKAHnya paling cepat terlihat di dunia, seperti berbakti pada kedua orang tua dan menyambung tali rahim."

وما من عملٍ أسرع من أن يرى الإنسان شؤمه وعقوبته في الدنيا مثل: عقوق الوالدين، وقطيعة الرحم

"Tidaklah dari amalan yang HUKUMANnya paling cepat terlihat di dunia, seperti durhaka pada kedua orang tua dan memutus tali rahim."


Seperti:

[1] Seorang anak muda yang berusaha memuliakan kedua orangtuanya, menutupi aib dan menahan emosi atas kekurangan keduanya, bersabar, berusaha berbakti dan ketika ada rizki dari Allah berupa harta, ia sisihkan untuk keduanya. Biarpun kiranya ilmu anak ini tak seberapa banyak, amalan tak seberapa besar, kontribusi pada umat tak semegah anak lain, Allah akan mengangkat derajat anak seperti ini dan memberinya keberkahan dalam hidup. 

Bisa jadi, orang-orang yang sukses perniagaannya dan tampak berkah meski minim ilmu agama, disebabkan bakti mereka pada orang tua.

Bisa jadi, ustadz2 yang kita kagumi, juga para Syaikh, yang dikabarkan dulunya hanyalah orang desa dan buta warna dunia, kini bisa sehebat itu dan jelas terkira berkah ilmunya, disebabkan bakti mereka pada orang tua.


Seperti:

[2] Seorang anak muda bekerja mencari penghasilan, atau bahkan ia menambah kebaikan untuk dirinya dengan mempelajari ilmu agama dan berusaha mendalami, namun ternyata kesehariannya pada orang tua adalah seperti harimau bertemu dengan kijang. Menggarang dan berlisan seperti belati terbang yang siap menebas hati-hati yang mengharap kebaktian. Lalu Allah hinakan ia secepatnya. Yang terperih adalah kegundahan hati, lalu diiringi pengkhianatan teman-temannya, ditambah manusia yang memandangnya jelek meski berilmu; meskipun manusia tak tahu ia menghinakan kedua orang tuanya. Namun Allah memiliki balasan yang perih pedihnya.

Bisa jadi, bertahun-tahun seseorang menimba ilmu agama namun berujung pada NOL, disebabkan oleh kedurhakaannya pada orang tua.

Bisa jadi, orang2 yang tadinya kita kagumi, tiba2 terhinakan begitu saja dalam sekejap, disebabkan kedurhakaannya pada orang tua.

Dan terburuknya adalah jika kesehariannya adalah pengasingan dan kedurhakaan.


Ada sebuah cerita nyata:

Seorang anak laki-laki yang sangat sangat durhaka pada kedua orang tuanya; karena sejak kecil TIDAK DIDIDIK. Tiap hari ia membenci segala yang dilakukan keduanya. Namun ia selalu menguras harta keduanya.

Suatu hari, sebelum ia berangkat pergi dengan motornya [dan betapa adanya sejumlah anak muda yang durhaka pada orang tua karena motor atau HP], ia marah pada ibunya perihal sesuatu yang mungkin saja sepele, hingga terlisankan kalimat: "Anj*ng lo!" lalu berlalu pergi.

Dan tak beberapa lama, sang ibu mendapat kabar anaknya ini kecelakaan di jalan. Yang saya ketahui [dari cerita], kedua telapak kaki anak tersebut patah. Yang tersisa hanya tulang kering yang membuntu...

Cerita nyata...


Dan ayat yang terlalaikan oleh banyak anak:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً

"Dan Rabb-mu memerintahkanmu agar kamu tidak menyembah kecuali hanya padanya dan berbuat baik kepada kedua orang tua." [Q.S.Al-Isra: 23]

Kalimat dari Syaikh Shalih Al-Maghamsy -hafidzahullah-:

إن برك بأمك أو بأبيك خير لك من ألف محاضرة تحضرها؛ لأن ذلك أمر أوجبه الله

"Jika engkau berbakti kepada ibu atau bapakmu, itu lebih baik bagimu dari SERIBU muhadharah [kajian] yang engkau hadiri; karena berbakti itu adalah perkara yang diwajibkan oleh Allah."


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/405843352790389

Saturday, June 16, 2012

Risalah Untuk Wali Santri

oleh Hasan Al-Jaizy


Bagi para wali santri, yang menyantrenkan anaknya di pondok kami, dikarenakan melihat dan mengagumi beberapa lulusannya, kami senantiasa doakan buat anak-anaknya. Mudah-mudahan bisa lebih hebat dari beberapa lulusan yang mereka kagumi; dan lebih baik dari yang diharapkan.

Adapun jika ternyata selama mondok, ia justru menjadi buronan dan suka melanggar hingga tidak naik kelas, jangan langsung berputus asa sehingga mengira masa depannya jauh dari harapan. Jangan pernah menyangka seperti ini. Berbaik sangkalah pada Dzat yang takkan menzalimi makhluk.

Bahwa masa remaja penuh godaan, terpaan, ujian, jua keindahan. Orang-orang yang dikagumi karena ilmunya atau keutamaannya kini, belum tentu dulu ketika mondok adalah santri terbaik. Tidak mesti. Bisa saja di antara mereka dulu justru termasuk santri buronan satpam. Dan tidak sedikit...benar, tidak sedikit...yang dulunya adalah santri baik-baik, adem ayem, kalem dan tersayang, kini tak berbekas...tak terlihat adanya tanda-tanda kesantrian dalam tingkahnya. Yang ada justru tanda-tanda kiamat sudah dekat pada dirinya.

Maka, bagi yang anaknya mondok, atau baru lulus, tetap beri arahan dan doakan. Warna itu banyak sekali; sementara manusia dalam hidupnya berwarna-warni. Maka, ketika terlihat hitam ia, jangan hakimi ia hitam selama-lamanya.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/404646856243372

Risalah Untuk Wali Santri

oleh Hasan Al-Jaizy


Bagi para wali santri, yang menyantrenkan anaknya di pondok kami, dikarenakan melihat dan mengagumi beberapa lulusannya, kami senantiasa doakan buat anak-anaknya. Mudah-mudahan bisa lebih hebat dari beberapa lulusan yang mereka kagumi; dan lebih baik dari yang diharapkan.

Adapun jika ternyata selama mondok, ia justru menjadi buronan dan suka melanggar hingga tidak naik kelas, jangan langsung berputus asa sehingga mengira masa depannya jauh dari harapan. Jangan pernah menyangka seperti ini. Berbaik sangkalah pada Dzat yang takkan menzalimi makhluk.

Bahwa masa remaja penuh godaan, terpaan, ujian, jua keindahan. Orang-orang yang dikagumi karena ilmunya atau keutamaannya kini, belum tentu dulu ketika mondok adalah santri terbaik. Tidak mesti. Bisa saja di antara mereka dulu justru termasuk santri buronan satpam. Dan tidak sedikit...benar, tidak sedikit...yang dulunya adalah santri baik-baik, adem ayem, kalem dan tersayang, kini tak berbekas...tak terlihat adanya tanda-tanda kesantrian dalam tingkahnya. Yang ada justru tanda-tanda kiamat sudah dekat pada dirinya.

Maka, bagi yang anaknya mondok, atau baru lulus, tetap beri arahan dan doakan. Warna itu banyak sekali; sementara manusia dalam hidupnya berwarna-warni. Maka, ketika terlihat hitam ia, jangan hakimi ia hitam selama-lamanya.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/404646856243372

Kumaha Kabar Orang Tua?

oleh Hasan Al-Jaizy

Kumaha kabarna?

Kedua orang tua saya -alhamdulillah- dalam keadaan sehat dan dijaga oleh Yang Maha Merahmati. Lalu, bagaimana dengan kedua orang tua Anda? 

Tahukah Anda kabar terkini berkaitan dengan mereka?
Jika ternyata baik segalanya, falhamdulillah...mereka masih dijaga oleh-Nya 
Jika ternyata tidak baik kondisinya, falhamdulillah...tiada manusia terlepas dari cobaan dan ujian

Tahukah Anda kabar terkini berkaitan dengan mereka?
Jika belum tahu, Short Message Service adalah sebuah fadhilah dan nikmat dari Allah untuk mengetahui secara cepat bagaimana kabar mereka nun jauh di sana.
Jika ternyata satu atau keduanya telah kembali ke alam lain, sudikah menyempatkan masa tuk mendoakan keduanya agar diperluas dan dilapangkan isi pusara?


Sungguh ada, kawan-kawan....

Sungguh ada anak muda yang ia serumah dengan kedua orang tua, tiap hari bertemu, namun tak sepatah kata pun tertutur, kabar adalah keentahan, seakan tiada saling kenal.

Bukankah mungkin saja seorang anak yang jiwanya berkalungkan maksiat dan hatinya berlumutkan dosa, namun ia senantiasa menjaga shalat dan teramat bakti pada kedua orang tua, lalu Allah memaafkannya, mengangkat derajatnya, memberinya hidayah serta berakhir hayat dalam kesalihan dan terakhir ditempatkan di barisan orang-orang salih.

Sesuatu takkan terfahami jelas arti dan harganya, kecuali jika telah hilangnya ia...

Maka jangan tunggu jenazah tershalati, untuk berbakti...


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/404392779602113

Wednesday, June 6, 2012

Baktimu Lebih dari 1000 Kajian!

oleh Hasan Al-Jaizy

Sekedar mengingatkan bagi yang kedua atau salah satu dari kedua orang tuanya masih hidup, sebuah kalimat dari Syaikh Shalih Al-Maghamsy -hafidzahullah-:

إن برك بأمك أو بأبيك خير لك من ألف محاضرة تحضرها؛ لأن ذلك أمر أوجبه الله

"Jika engkau berbakti kepada ibu atau bapakmu, itu lebih baik bagimu dari SERIBU muhadharah [kajian] yang engkau hadiri; karena berbakti itu adalah perkara yang diwajibkan oleh Allah."

Ditujukan untuk semua; terkhusus para mahasiswa/i atau pekerja yang keluar kota tinggalkan orang tua demi mencari ilmu atau penghasilan atau pengalaman.


Sekedar terbitkan pertanyaan-pertanyaan ini:

--> Sudahkan hari ini baktimu atau doamu kepada orang tua tercantum di catatan hari?
--> Apakah di hari terakhir berpisahmu pada mereka, hati mereka dalam keridhaan atau kemurkaan?
--> Bukankah sekedar sms menanyakan kabar mereka kini adalah sebuah bukti upayamu berbakti?

Tidak salah jika terkata: "Alangkah sayangnya, beberapa pencari ilmu syariah begitu pintar mengulik ilmu, namun ternyata ia durhaka pada orang yang telah melahirkannya atau yang telah biayainya sepanjang umur hingga kini."


Bahkan, tidak berlebihan terkata:

Bisa saja satu kali kau ambilkan sepiring nasi untuk bapakmu makan, itu lebih bernilai dari puluhan kajian yang kau hadiri dan simak.

Jika satu dari keduanya meninggalkanmu, sungguh telah tertutup satu dari sekian pintu surga dalam hidupmu.
Jika keduanya telah meninggalkanmu, sungguh telah tertutup dua pintu surga dalam hidupmu.
Dan kesempatan yang tersiakan, takkan terpanggil kembali...meskipun darah adalah yang menderas dari kedua matamu.

Dan...tidak ada manusia yang lebih ikhlas dan tulus dalam mendoakan manusia lain...melainkan doa orang tua pada buah hatinya

Maka, apakah menunggu perginya mereka baru kau berupaya menabur bakti?


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/399812550060136

Monday, February 27, 2012

Jauh Di Jangkau Dekat Di Kalbu

oleh Hasan Al-Jaizy

ku masih ingin harapan yang tersorot dari mata ibuku padaku tetap terjaga adanya
ku masih ingin harapan yang terdoa di sela penghujung malam bapakku tetap terjaga adanya

inginku keduanya masih hidup kala aku berhasil tunaikan tuntutan mimpi-mimpi...

meskipun...

...meskipun aku sebenarnya tak tahu siapa yang lebih dulu meninggalkan...
aku? atau keduanya?
inginku kita selalu ada bersama....jauh di jangkau dekat di kalbu

http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/338123899562335