Showing posts with label Kejiwaan. Show all posts
Showing posts with label Kejiwaan. Show all posts

Thursday, October 29, 2015

Pelipur Buat Perempuan

oleh Hasan al-Jaizy

Kondisi perempuan di dunia tidak lepas dari beberapa kemungkinan:
[1] Adakalanya dia meninggal sebelum menikah.
[2] Adakalanya dia mati setelah dicerai dan belum menikah dengan laki-laki lain.
[3] Adakalanya dia sudah menikah, tetapi suaminya tidak masuk ke dalam surga bersamanya.
[4] Adakalanya dia mati setelah pernikahannya.
[5] Adakalanya suaminya meninggal, dan dia tinggal dalam keadaan tanpa suami hingga dia mati.
[6] Adakalanya suaminya meninggal, kemudian dia menikah dengan suami lain setelahnya.

Mari kita jelaskan satu per satu:

[1] "Adakalanya dia meninggal sebelum menikah."

Zaman sekarang, betapa banyak perempuan belum menikah. Dan laki-laki kian tak sebanyak perempuan. Kelak satu laki-laki bisa sebanding dengan sekian banyak perempuan, saking banyaknya perempuan. Dan dari sedikitnya laki-laki, yang beneran laki-laki tidak semuanya. Dunia makin rumit. Justru kelak perempuan-perempuan yang menentang poligami, malah mendukung poligami, saking kesepiannya mereka. Dan para orang tua yang menentang poligami, justru akan berfikir meninjau ulang, setelah melihat anak perempuannya membutuhkan laki-laki yang sudah mulai menyedikit, dan laki-laki baik mulai langka.

Malah bisa jadi kelak perempuan bujangwati merasa lebih baik dengan laki-laki yang sudah beristri; tidak apa-apa menjadi yang kedua, ketiga, atau keempat. Bukan karena mau merendahkan gengsi, tapi karena saking banyaknya nanti para bujang laki-laki yang hidupnya ga jelas. Wajar perempuan cari aman, tidak cari ujian.

Nanti bagaimana dengan perempuan yang meninggal sebelum menikah? Allah akan menikahkannya di surga dengan seorang laki-laki dunia yang Allah kehendaki. Ingat sabda Nabi dalam Shahih Muslim:

وَمَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبُ

"Di Surga itu tidak ada bujangan!" [H.R. Muslim, no. 2834]

Kenikmatan Surga itu tidak cuma buat laki-laki saja.

Anda akan melihat mulai sekarang, betapa banyaknya perempuan yang menggalau, karena [1] mereka kerjanya menunggu, dan [2] lelaki yang masuk kriteria mereka kian punah. Ujian besar. Sudah menunggu, yang ditunggu juga entah. Saya bukan ingin menertawakan. Bayangkan jika Anda di posisi seperti mereka. Hanya ingin membuka cakrawala saja.

Namun banyak dari mereka bersabar dan berusaha menjaga diri. Yang seperti ini, insya Allah dan semoga Allah berikan Surga buat mereka kemudian dinikahkan seindah-indahnya di sana. Jangan sedih.

[2] "Adakalanya dia mati setelah dicerai dan belum menikah dengan laki-laki lain."

Sama seperti yang pertama, Allah akan menjodohkannya.

[3] "Adakalanya dia sudah menikah, tetapi suaminya tidak masuk ke dalam surga bersamanya."

Hisyam bin Khalid berkata: "Suami masuk neraka, dan istrinya masuk Surga, maka istrinya diwariskan kepada seorang penghuni Surga, sebagaimana istri Fir'aun akan diwarisi oleh ahli Surga." [Faydh al-Qadiir 5/468]

[4] "Adakalanya dia mati setelah pernikahannya."

Semoga sama Suaminya ke Surga nantinya. Aamiin.

[5] "Adakalanya suaminya meninggal, dan dia tinggal dalam keadaan tanpa suami hingga dia mati."

Semoga sama Suaminya ke Surga nantinya. Aamiin.

[6] "Adakalanya suaminya meninggal, kemudian dia menikah dengan suami lain setelahnya."

Dia untuk suaminya yang terakhir, meskipun suaminya yang terakhir itu punya istri banyak.

Akhirannya, saya ingin menyampaikan beberapa hadits Nabi buat para perempuan yang kadang punya rasa yang mengalahkan logika:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتِ الْجَنَّةَ

“Wanita mana saja yang meninggal dunia lantas suaminya ridha padanya, maka ia akan masuk surga.” [H.R. At-Tirmidzy]

Juga Sabda Nabi tentang istri terbaik:

الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

"Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” [H.R. An-Nasa'i]

Bukan pembenaran buat para suami, tetapi sebagai pelipur buat para perempuan dan para istri; bahwa ujian demi ujian jika ditabahi, maka Surga adalah yang terjanji.


Monday, October 26, 2015

P.H.P.

oleh Hasan al-Jaizy

Jika kamu diajak maju oleh orang yang cuma jalan di tempat selalu, maka jangan ikut. Karena kamu ga bakal maju-maju malah. Malah kamu bakal bisa lebih maju sendiri dengan jalan ke depan, bukan jalan di tempat.

Jika kamu di-PHP-in sama ikhwan yang ga ngerti gimana caranya step up dan following up, maka jangan masukin hati PHP dia. Kalau kamu masukin ke hati, dia ga bakal maju, kamu menderita menunggu.

Jika kamu dikomporin ngaji sama pihak yang maunya cuma ngaji tematik aja dan terus, kamu cari kajian kitab. Banyak para pemburu tematik gagal move on ke kajian kitab, karena memang niat step up aja ga ada, maka setelah ngaji, ga ada following up. Still walking di tempat, mau dihias apapun posternya.

Sunday, October 25, 2015

Allah Takkan Membalas Air Susu dengan Air Tuba

oleh Hasan al-Jaizy


Diriwayatkan dalam Musnad Ahmad, dalam Musnad Abu Hurairah, bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu berkata; "Sesungguhnya aku mempunyai kerabat, aku menyambung tali silaturrahim kepada mereka namun mereka memutuskannya, aku berlemah-lembut kepada mereka namun mereka menyakitiku, aku berbuat baik kepada mereka namun mereka berbuat jelek kepadaku?"

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika memang benar seperti apa yang kamu katakan maka seakan akan kamu menaburkan debu yang panas kepada mereka, dan kamu akan selalu mendapatkan pertolongan Allah selama kamu masih melakukannya."

Jika kamu tulus berbuat baik namun ditolak orang, bahkan ditolak semua orang, selama tulusmu benar dan perbuatanmu baik, maka biarkan Allah yang menerimanya. Jika amalmu cuma bisa menghasilkan sakit hati dan air mata, maka biarkan Allah yang mengetahuinya. Biarkan Allah yang mendengarnya.


Segagal apapun, mungkin kesabaranmu akan membantumu berdekatan dengan-Nya. Dan itu jauh lebih indah buat kamu.

Wednesday, October 21, 2015

Kita Malah Tertawa

oleh Hasan al-Jaizy


Kalian malah tertawa dan tidak menangis. Sebagaimana kita baca akhiran Surat an-Najm. Kata Nabi, kalau kita melihat apa yang telah beliau lihat, maka kita akan lebih banyak menangis daripada tertawa.


Obati kekerasan bahkan kegundahan hati dengan sujud, dzikir, sedekah, atau baca karya ulama. Adakalanya hati seorang muslim kian mengeras karena baca status. Nafas-nafas manusia adalah asap buat hati. Semakin sering dihirup omongan manusia, semakin menambah sakit dan penyakit hati.



Wednesday, July 17, 2013

Mental Miskin dan Bodoh

oleh Hasan Al-Jaizy



Jika di sana ada yang disebut 'miskin', maka pastilah ada lawannya: 'kaya'. Pula jika ada yang disebut 'bodoh', maka pastilah ada tandingannya: 'pintar'. Karena hampir segala sifat tak bisa diketahui kecuali karena ada lawan dan tandingannya. Seperti: baik dan buruk, atau sehat dan sakit, atau hitam dan putih.

Orang miskin dan bodoh tergolong orang rendahan. Jika engkau tak terima ku katakan mereka 'rendahan', maka apalah yang kau inginkan? Kau ingin katakan mereka berkelas tinggi, sementara orang kaya dan pintar berkelas rendah? Jika iya, maka itu akibat dari memiliki kadar otak yang rendah.

Mental kebanyakan orang miskin adalah culas, malas, kurang pandai usaha, dan sebagian lain: curang, sehingga tidak berkah sama sekali usaha mereka. Orang-orang miskin seringkali mendengki pada orang-orang kaya; padahal mereka tidak ada urusan dengan kaum miskin. Namun, karena kegagalan hidup kaum miskin, melihat kaum kaya yang sewajarnya menikmati kekayaan mereka, dengki membara-bara. Ingin seperti mereka namun tak bisa. Seperti kata banyak orang, "Iri tanda tak mampu". Orang miskin sering menuntut orang kaya agar bermurah hati. Itu jika di depan. Di belakang, orang miskin sering mencaci orang kaya, entah karena pelit, atau karena dianggap tidak peduli rakyat kecil, atau lainnya. Dasar dari semua itu sebenarnya iri dan ketidakmampuan.

Mental miskin juga adalah mental mengeluh. Miskin kekuatan jiwa, sehingga mendapat kesulitan sepetak, keluhannya capai sehektar, mendapat musibah sejengkal, keluhannya hingga selangkah. Mengeluh, kemudian berusaha sedikit, gagal mendatangi, mengeluh lagi, lalu mengutuk-ngutuk kondisi ketika melihat orang kaya sedang menikmati keutamaan hidupnya.

Mahasiswa Pelayar Comberan!

oleh Hasan Al-Jaizy

Budaya ngospek para plonco (calon maba yang sedang ikut kegiatan pengenalan terhadap kampus) dengan tarekat-tarekat HINA, meskipun atas nama 'Pengenalan Kampus' atau semacamnya, adalah budaya mahasiswa-mahasiswa rendahan yang sedang kuliah di kampus rendahan. Mahasiswa dan kampus yang menjunjung tinggi nilai pendidikan, moral dan kualitas didikan, tidak akan rela calon-calon penghuninya dihinakan, oleh mereka sendiri.

Syukur, tidak pernah di kampus saya ada planca-ploncoan. Bagi kami, hanya mahasiswa bodoh yang seperti itu. Menjadikan para maba terlihat bodoh, padahal mereka sendiri juga tergolong bodoh.

Selain itu, para mahasiswa yang merasa senior dan mengenal kampus, lagaknya seperti sudah layak dianggap senior dari segi kualitas. Mirip mayoritas mahasiswa pendemo; rata-rata mereka itu yang hobi tidur di kelas, main game di lingkungan kos, begadang dan hidup kesehariannya cuma bernilai lawakan rendah saja. Dan, menjelang hari ospek, mereka tiba-tiba menjadi orang paling sibuk dan paling terlihat seolah ingin 'mendidik'.

Andai memang mereka belajar sungguh-sungguh dan punya ilmu tinggi, takkan rela mereka mencoret-coret muka para calon mahasiswa, menyebut mereka binatang, menjadikan mereka serendah binatang, meminta memakan hal yang tak layak dimakan, memaksa mereka memakai aksesoris yang memicu gelak tawa dan banyak lagi. Para mahasiswa senior yang bodoh senang dan girang melakukan ini. Dan jika dosen-dosen mereka menjadikan hal semacam ini hal yang wajar, biasa, atau malah hiburan, maka...begitulah. Like dosen like mahasiswanya.

Monday, July 15, 2013

Dunia Sengaja Dikeruhkan


ORANG yang merenungkan hal-ihwal dunia pasti akan tahu bahwa ia diciptakan untuk dijauhi. Karena itu, orang yang ingin menikmatinya pasti akan menemukan kesusahan di balik setiap kesenangannya serta kekeruhan di balik setiap kejernihannya. Pendek kata, setiap bagian dunia yang diangkat pasti akan diturunkan.

Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- mencintai Aisyah –radhiyallahu anha-, lalu beliau diuji dengan ‘hadits ifk’ (tuduhan melakukan zina yang diarahkan kepada Aisyah oleh orang-orang munafik). Dan beliau mencintai Zainab, kemudian turunlah ayat:

فَلَمَّا قَضَىٰ زَيْدٌۭ مِّنْهَا وَطَرًۭا

“Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya)” [Q.S. Al-Ahzab: 37]

Seorang pecinta dunia yang mendapatkan apa yang dicintainya pasti sadar bahwa ia akan berpisah darinya. Oleh sebab itu, kehidupannya menjadi tidak nyaman, meski ketika itu kekasihnya masih ada di dekatnya. Keadaan ini telah diungkapkan seorang penyair dengan perkataannya berikut:

أتم الحزن عندي في سرور ... تيقن عنه صاحبه انتقالاً

“Kesedihan paling menyedihkan bagiku adalah kebahagiaan
Yang diyakini pemiliknya akan segera berubah”

Orang yang berakal pasti akan tahu bahwa tujuan penciptaan kekeruhan di dunia adalah menjauhkan manusia darinya. Karena itu, ia pun hanya memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokoknya dan menolak menyibukkan diri dengannya. Ia memilih memfokuskan konsentrasinya mengabdi kepada Allah Ta’ala. Adapun orang yang tidak melakukan tindakan seperti itu pasti akan menyesal pada saat semuanya sudah terlambat.

[Shaid Al-Khaathir, Ibnul Jauzy]

Sunday, July 14, 2013

Hakekat Kesabaran

Hakekat kesabaran adalah suatu akhlak mulia yang dimiliki seseorang, yang dengannya ia mampu menahan diri dari perbuatan yang tak baik dan tak patut. Sabar adalah salah satu kekuatan seseorang yang dengannya pribadinya menjadi baik.

Al-Junaid bin Muhammad pernah ditanya perihal kesabaran. Ia pun menjawab:

تجرع المرارة من غير تعبس

"(Kesabaran ialah) seperti engkau meneguk minuman pahit tanpa bermuka masam."

Dzu An-Nun berkata:

التباعد عن المخالفات والسكون عند تجرع غصصى البلية وإظهار الغني مع حلول الفقر بساحات المعيشة

"(Kesabaran ialah) menjauhi segala amalan menyimpang, tabah kala cobaan datang, serta bersikap di depan manusia seolah berkecukupan, padahal sebenarnya ia miskin dan pada nafkah hidup betapa ia membutuhkan."

Ada yang berpendapat bahwa kesabaran adalah menghadapi musibah dengan etika yang baik. Ada pula yang berpendapat bahwa kesabaran adalah bersikap tidak membutuhkan apa pun kala alami musibah serta tak mengeluh.

Amr bin Utsman Al-Makky berkata:

Wednesday, March 27, 2013

Kepentingan Apreasiasi Dari Pendidik Terhadap Yang Dididik


oleh Hasan Al-Jaizy

Apresiasi, menurut thefreedictionary.com adalah "an expression of gratitude". Itu salah satu pengertian apresiasi menurut mereka. Maksudnya adalah 'sebuah ekspresi atau ungkapan atas sikap berterima kasih'. 

Apresiasi bisa diwartakan dengan 'tongue language' atau 'body language'. Misal dari bahasa lisan adalah mengatakan 'Thank you', atau 'That's great' dan selainnya. Misal dari bahasa tubuh adalah memberi isyarat seperti mengacungkan jempol, tersenyum, dan lainnya. Akan kita kupas contoh lain setelah membahas:

"Kepentingan Apreasiasi Dari Pendidik Terhadap Yang Dididik"

Apresiasi adalah sebuah ekspresi yang banyak diabaikan dan diremehkan para pendidik, mulai dari orang tua, guru sekolah, guru les/kursus/bimbel, hingga para atasan, mulai dari presiden, menteri, direktur, bos dan seterusnya. Padahal, pengungkapan apresiasi, terdapat makna positif dan efek yang bagus terhadap manusia. Pendidik yang kaku dan menyeramkan adalah makhluk yang paling sulit mengapresiasi suatu usaha dan karya pihak yang dididik. Begitu juga dengan atasan yang tidak mau tahu kinerja dan proses -yang ia inginkan hanya hasil terwujud-. 

Lebay Terhadap Orang-orang Saleh

oleh Hasan Al-Jaizy



[1] Sa'id Az-Zanjany

Adalah Sa'id bin Ali Az-Zanjany, seorang ulama yang wafat tahun 471 H. Beliau berkunjung ke berbagai negara demi menyimak hadits Nabi. Ia merupakan seorang hafizh, ahli ibadah dan wara'. Itu penyifatan dari Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah.

Sementara dalam Siyar A'laam An-Nubalaa', Adz-Dzahaby mengatakan, 'Beliau adalah seorang imam al-allaamah (berilmu sangat tinggi), Al-Hafidz, seorang qudwah (yang patut diikuti), ahli ibadah, Syaikhul Islam dan seorang SUFI.' [As-Siyar: 18/385]

Pada senja usianya, beliau memilih tuk menetap di Makkah. Orang-orang mencari keberkahan darinya. Jika beliau keluar menuju masjid Al-Haram, orang-orang yang tadinya sedang thawaf bergegas menujunya. Untuk apa? Untuk mencium tangannya. Hingga Ibnul Jauzy mengatakan, "Mereka lebih sering mencium tangannya daripada menicum Hajar Aswad." [Al-Muntazham, 16/201]

[2] Abu Ishaq Asy-Syirazy

Tuesday, March 26, 2013

Hatimu Rentan, Mohonlah Kesembuhan

oleh Hasan Al-Jaizy



Hati yang empunya jahil (bodoh) tak terasuki ilmu yang sahih sangat riskan. Jangankan hati yang bodoh, bahkan jika seseorang yang berilmu tinggi pun berpotensi tercelakakan dengan penyakit maknawi yang menjalar di lubuk hati. Sesungguhnya tiap-tiap manusia mempunyai nasib, kadar, bagian, takaran dan ukuran dari ujian hati. Ketahuilah, setiap amalanmu, setan berupaya memberi andil di dalamnya.

Penting untuk tidak kau abaikan, bahwa jikalau setan tak mampu menipumu dengan kemaksiatan yang benderang, ia akan menipumu dalam ibadah yang cemerlang. Karena itu, takutlah dan semakin takutlah jika ternyata engkau adalah orang berilmu. Jika engkau mampu membaca Al-Qur'an seindah bacaan, atau memiliki kapasitas ilmu agama yang mengagumkan, atau menuai derma sedekah bergunung-gunung, atau bergerak ke medan perang, secara zahir itu semua adalah keutamaan dan karunia yang begitu besar untukmu.
 

Kesombongan Tak Tersadari

Kesombongan lebih senang menjangkit di manusia berpunya, entah dari segi materi atau maknawi. Kesombongan lebih suka bercumbu dengan hati orang kaya. Kesombongan juga senang mengipas hati-hati orang berilmu. Kesombongan terburuk terjadi pada seorang yang miskin harta. Yang lebih buruk jika terjadi pada yang miskin ilmu, namun melabeli diri sebagai seorang yang berilmu, atau seorang pencari ilmu.

Betapa sering aku dan kamu tertipu.

Sebelum aku meneruskan, ku harap engkau kelak tak berkata, "Tidak semuanya begitu! Jangan menggeneralisir!" Diamlah dan mari mengacalah.

Kesombongan yang tak tersadari sering terjadi pada lelaki yang berbentuk tubuh kekar. Ia akan memakai kaos ketat berlengan pendek. Ia ingin dikagumi dengan pemberian Allah atas 'kesempurnaan' tubuhnya. Sementara ia tak menyadari akan kecacatan hatinya. Ia akan memamerkan kelebihan ototnya, terutama di bagian lengan, atau di bagian dada.

Kesombongan yang tak tersadari sering terjadi pada wanita yang berwajah manis atau cantik. Ia akan mengukur-ukur seberapa manis wajahnya dan menimbang apakah ada temannya yang semanis dia. Jikalau ada, ia akan iri sejadi-jadinya. Padahal, jikalau ia mempercantik akhlak dan merias bunga-bunga kesalihan hati, ia akan segera sadar bahwa kelak keriput adalah serangan untuk masa tua. Padahal seringkali wajah manis menjadi kesulitan bahkan bencana bagi dirinya. Lalu, mengapa ia merasa takjub pada pemberian yang tak seberapa, jika dibanding akhlak mulia!?

Monday, January 28, 2013

Jangan Banyak Tawa!


oleh Hasan Al-Jaizy

Fawaid 0028: "Jangan Banyak Tawa"

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa Sallam- bersabda:

لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ , فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

"Janganlah kalian banyak tertawa. Sesungguhnya banyak tertawa itu mematikan hati." [H.R. Ibnu Majah, no. 4191 dan 4193]

أَقِلَّ الضَّحِكَ ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

"Sedikitkanlah tawa. Sesungguhnya banyak tertawa itu mematikan hati." [Adabul Mufrad, no.246]

Al-Munawi mengatakan:

وهو كيفية يحصل منها انبساط في القلب مما يعجب الإنسان من السرور ويظهر ذلك في الوجه والإكثار منه مضر بالقلب منهي عنه شرعا وهو من فعل السفهاء والأراذل مورث للأمراض النفسانية 

"Dan (tertawa) itu adalah tata cara mendapatkan perluasan di hati dari apa yang dikagumi oleh manusia perihal kesenangan. Hal itu terpancar di wajah manusia. Dan memperbanyak tertawa berbahaya bagi hati. Ia terlarang secara syar'i. Itu adalah perbuatan sufahaa' [orang-orang bodoh] dan rendahan yang dapat mewariskan penyakit-penyakit kejiwaan." [Faidhul Qadiir Syarh Al-Jami' Ash-Shaghiir, Zainuddin Al-Munawi, 1/162]

At-Thiiby berkata:

Sebutan Faqih, Untuk Siapakah?

oleh Hasan Al-Jaizy


Fawaid 0027: "Sebutan Faqih, Untuk Siapakah?"

Saya akan memulai catatan kecil ini dengan sebuah hadits yang sudah lama sekali -alhamdulillah- saya hafal:

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

"Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan, maka Dia akan menjadikannya seorang Faqih dalam agama." [H.R. Bukhary (1/27), (4/103), (6/152) dan (9/125), Muslim (3/95), Ahmad (4/101), Ad-Darimy (230). Lihat: Jaami' Al-Ushuul fi Ahaadiits Ar-Rasuul, oleh Majd Ad-Diin Ibn Al-Atsiir, 3/8, Tahqiiq Syaikh Abdul Qadir Al-Arna'uth dengan Ta'liq dan Takhrij Syaikh Ayman Shalih Sya'ban, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah.] 

Hadits di atas adalah hadits PERTAMA yang saya hafal dalam mata pelajaran Hadits saat baru duduk di bangku Muthawassithah [setingkat SMP] kelas 1 di Pondok Pesantren Islam Al-Irsyad Tengaran. Guru saya kala itu adalah Ust. Naharuddin Syuhada -hafidzahullah-. Beliau lah yang mengajarkan saya beberapa hadits. Kami masih ingat ketika itu kitab hadits yang sangat sederhana, bersampul jingga dengan faedah yang semoga teringat selamanya.

Hadits ini sangat agung. Makna yang terkandung sangat patut direnungi; sehingga diharapkan menghasilkan motivasi ataupun iradah [kemauan] bagi pembaca yang belum menuntut ilmu syar'i sama sekali agar memulainya, dan bagi yang sudah menuntutnya -baru atau sudah lama- terus melakukannya hingga akhir hayat.

Sunday, January 27, 2013

Kerennya Ilmu Perbandingan

oleh Hasan Al-Jaizy

Ilmu paling keren itu ya ilmu perbandingan. Seperti ilmu perbandingan agama [Muqaaranah Al-Adyaan], atau ilmu fiqh perbandingan [Fiqh Al-Muqaaranah] atau lainnya kalau ada lagi. Kok paling keren:

Karena seolah-olah pelajarnya atau pegiatnya itu TAHU banyak. Tahu sana sini. Tahu ushul agama seberang. Tahu metode istinbath madzhab-madzhab. Nama yang cukup keren: Kristologi! Beuh. Lalu ada tulisan, Pak Fulan, pakar Kristologi. Keren sekali. Lalu, beberapa anak muda jadi ingin menyelami Kristologi karena 'kerennya'. Dalam bayangannya, kelak ia akan jadi orang besar dan tahu agama lain, seluk beluknya hingga mampu membantah hujjah agama lain.

Tapi, ngakaknya, ternyata ushul agama sendiri belebek-belebek. Ketika ditanya Rukun Islam dan Iman, mikir dulu. Ketika ditanya perkara lainnya yang dharury [yakni: yang tidak layak seorang muslim tidak tahu], jawabnya ngaco. Ditanya: "Allah itu ada di mana?"

Jawabannya malah: "Allah ada di mana? Allah ya ada di mana-mana!"

Kerusakan Di Muka Bumi Adalah Kemaksiatan Terhadap-Nya

oleh Hasan Al-Jaizy


Fawaid 0024: "Kerusakan Di Muka Bumi Adalah Kemaksiatan Terhadap-Nya"

Allah Ta'ala berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ قَالُوٓا۟ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

"Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." [Q.S. Al-Baqarah: 11]

Abu Al-Aaliyah [w. 93 H] berkata tentang ayat di atas: "Yakni janganlah kau bermaksiat di muka bumi, karena orang yang bermaksiat kepada Allah di muka bumi atau menyeru kepanya, maka ia benar-benar telah membuat kerusakan di muka bumi Allah. Perbaikan bumi dan langit hanyalah dengan taat kepada Allah dan Rasul-Nya." [Tafsir Ibn Abi Hatim no. 121]

Jika banyak manusia yang hidup kota berharap lebih sehat hidupnya, mereka serukan slogan "Back To Nature". Namun, seorang mukmin yang benar-benar beriman, demi ishlah dan maslahat hayat, ia akan serukan "Back To Al-Kitab and Sunnah".

Allah Ta'ala telah mengabarkan pada kita tentang saudara-saudara Yusuf alaihissalam dalam firman-Nya:

Saturday, January 12, 2013

Ketidakpantasan


oleh Hasan Al-Jaizy


[1] Saya tidak pantas memakai kaos tak berkerah.
[2] Saya tidak pantas mengajar kursus English.
[3] Saya tidak pantas bertapa di pasar.
[4] Saya tidak pantas banyak bercanda, baik di sini atau di sana.

Saya tidak pantas begini begitu....karena saya begini begitu...saya, saya, saya, saya....kenapa selalu berucap 'saya'!?

Friday, January 11, 2013

Sebuah Renungan

oleh Hasan Al-Jaizy

Mungkin di zaman dahulu, di awal-awal tersebarnya Islam dan di tengah gelora ilmu juga tadwiin-nya, jika para ulama diberi wasiat atau nasehat agar istiqamah dan tetap beradab, mereka merenung...atau mungkin menangis.

Mungkin di zaman sekarang, di saat kitab-kitab tersebar dengan 'seenaknya', soft copy maupun hard copy, jika para pencari ilmu 'senior' diberi wasiat atau nasehat agar istiqamah dan tetap beradab, mereka melebarkan dan menipiskan bibir. Bisa jadi senyum-senyum saja, namun dalam hati membatin:

'Siape elu!?'

Dan bukan tidak mungkin itu terjadi pada seorang ustadz sekalipun.

Ketika ilmu memang dipelajari sangat-sangat...namun tidak terasuki dalam jiwa, maka akhlak dan hati benar-benar mencerminkannya. Kita -anggaplah- banyak membaca, membahas, memperbincangkan, mengutip, menulis dan menghadiri majelis, namun apakah benar ilmu kita resapi?

Kadang kita sungguh-sungguh iri dengan seorang yang baru hafal doa sedikit tapi kemudian rutin mengamalkan. Sementara beberapa halaman dari buku-buku tebal kita lahap....

...knowledge collectors sometimes are worse than the "I-don't-know-anything" people.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/486355564739167

Wednesday, January 9, 2013

Manusia Paling Ngepot

oleh Hasan Al-Jaizy


Manusia paling repot adalah yang ngepot di sana di sini; dan kelak justru akan jatuh sendiri. Manusia yang paling repot dan ngepot adalah yang mengurusi manusia, bukan kebaikannya, namun keburukan dicarinya.

Penelitian terburuk adalah penelitian terhadap keburukan orang lain. Semakin sering waktu dihabiskan untuk meneliti keburukan orang lain, semakin sempit waktu tersempat melihat keburukan sendiri.

Manusia-manusia ngepot adalah yang tak henti berburuk sangka pada manusia, entah manusia tertentu, atau umumnya.

==> Ketika kita mengatakan sesuatu atau menulis sesuatu yang baik, mengapa manusia katakan, "Jangan mudah tertipu dengan kalam atau tulisan yang baik; Belum tentu empunya baik."

Thursday, January 3, 2013

Menerawang Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy


Ini yang kesekian kalinya, lagi-lagi saya menceritakan apa yang terjadi ketika saya pulang dari kampus. Well, pekan ini adalah pekan UAS [Ujian Akhir Semester] di kampus. Selesai mengerjakan tes, langsung cabut ke rumah. Besok pagi insya Allah saya akan cabut lagi dari rumah. Selepas habis tes, saya cabut lagi ke rumah. Jadi, kehidupan saya ini cabut-cabutan. 

Dan tadi, saya menumpang dibonceng teman saya, seorang perjaka Madura yang tinggal di sekitar Condet. Teman sekelas. Madura tulen. Saya kadang 'berdiskusi' dengan teman yang satu ini soal perguruan hijau dan fenomena anti-Wahabi. Sebenarnya teman-teman 'hijau' saya banyak di kampus. Semuanya bagus-bagus. Fair dalam menilai dan menimbang. Cuma mungkin mengekspresikannya berbeda macam dan ragam.

Nah, tadi pagi, kami sempat membicarakan kehebatan ulama di zaman dahulu.