Showing posts with label Al-Qur'an. Show all posts
Showing posts with label Al-Qur'an. Show all posts

Wednesday, October 21, 2015

Kita Malah Tertawa

oleh Hasan al-Jaizy


Kalian malah tertawa dan tidak menangis. Sebagaimana kita baca akhiran Surat an-Najm. Kata Nabi, kalau kita melihat apa yang telah beliau lihat, maka kita akan lebih banyak menangis daripada tertawa.


Obati kekerasan bahkan kegundahan hati dengan sujud, dzikir, sedekah, atau baca karya ulama. Adakalanya hati seorang muslim kian mengeras karena baca status. Nafas-nafas manusia adalah asap buat hati. Semakin sering dihirup omongan manusia, semakin menambah sakit dan penyakit hati.



Wednesday, January 30, 2013

Tafsir Surat AL-MASAD

oleh Hasan Al-Jaizy

Fawaid 0032: "Tafsir Surat AL-MASAD"

Surat Al-Masad adalah surat urutan 111 dalam mushaf, berjumlah 5 ayat dan turun di Makkah.

=======SURAT AL-MASAD========

[1] تَبَّتْ يَدَآ أَبِى لَهَبٍۢ وَتَبَّ

"Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa."

[2] مَآ أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُۥ وَمَا كَسَبَ

"Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan."

[3] سَيَصْلَىٰ نَارًۭا ذَاتَ لَهَبٍۢ

"Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak."

[4] وَٱمْرَأَتُهُۥ حَمَّالَةَ ٱلْحَطَبِ

"Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar."

[5] فِى جِيدِهَا حَبْلٌۭ مِّن مَّسَدٍۭ

"Yang di lehernya ada tali dari sabut."

=======MUFRADAT/KOSAKATA=======

==> [تَبَّ] = Binasa; rusak. Di ayat pertama, disebut kata ini dua kali sebagai penguatan.

==> [أَغْنَىٰ عَنْ] = Mengayakan; Mencukupi; Memberi faedah. Lalu ditambahkan مَآ yang sejatinya berfungsi sebagai naafiyah (menafikan) khabar setelahnya. Berati: tidak memberi faedah.

==> [كَسَبَ] = Usaha; Mendapatkan.

==> [يَصْلَىٰ] = Terbakar; Terpanggang; Masuk ke dalam. Ditambah kata نَار setelahnya memberikan maksud: Masuk ke dalam neraka dan terbakar di dalamnya.

==> [لَهَبٍۢ] = Gejolak atau nyala atau jilatan api.

==> [ٱلْحَطَبِ] = Kayu bakar

==> [ جِيدِ] = Leher

==> [حَبْلٌۭ] = Tali

==> [مَّسَدٍۭ] = Serabut

========TAFSIR [AS-SA'DY]=========

Abu Lahab adalah paman Nabi -shallallahu alaihi wa sallam-. Ia amat memusuhi dan menyakiti beliau. Ia tidak memiliki balas budi dan tidak memiliki semangat kekerabatan. Semoga Allah Ta'ala memberinya balasan buruk. Karena itu Allah Ta'ala amat mencelanya yang merupakan kehinaan baginya hingga Hari Kiamat seraya berfirman,

[1] [تَبَّتْ يَدَآ أَبِى لَهَبٍۢ] "Binasalah kedua tangan Abu Lahab", yakni rugi dan celakalah kedua tangannya . [وَتَبَّ] "Dan sungguh ia akan binasa", sehingga ia tidak akan beruntung.

[2] [مَآ أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ] "Tidaklah berfaidah kepadanya harta bendanya" yang dimilikinya sehingga ia bisa berlaku semena-mena dan tidak pula berguna baginya, [وَمَا كَسَبَ] "Dan apa yang ia usahakan" tidak akan bisa menangkal adzab Allah Ta'ala sedikitpun bila datang ia menimpa.

[3-5] [ سَيَصْلَىٰ نَارًۭا ذَاتَ لَهَبٍۢ] "Kelak ia akan masuk ke dalam api yang bergejolak", yakni neraka akan mengelilinya dari segenap penjuru, dia [وَٱمْرَأَتُهُۥ حَمَّالَةَ ٱلْحَطَبِ] "dan istrinya, pembawa kayu bakar." Istrinya juga amat menyakiti Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam-. Abu Lahab dan istrinya saling bahu-membahu dalam dosa dan permusuhan. Ia menimpakan keburukan dan berusaha sekuat tenaga menyakiti Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- sehingga dosa-dosanya menumpuk di atas punggungnya, sama seperti orang yang menumpuk kayu bakar dengan tali yang telah disiapkan di lehernya. [ مِّن مَّسَدٍۭ] "Dari sabut", yaitu dari pintalan sabut atau ia membawa kayu bakar di neraka untuk suaminya dengan mengalungi tali dari sabut di lehernya.

Bagaimanapun juga dalam ayat ini terdapat tanda-tanda kebesaran Allah Ta'ala yang nyata, karena Allah Ta'ala menurunkan surat ini ketika Abu Lahab beserta istrinya belum mati. Allah Ta'ala memberitahukan bahwa keduanya akan disiksa di neraka dan itu pasti. Sebagai konsekuensinya, keduanya tidak masuk Islam. Dan terjadilah seperti yang diberitahukan oleh Dzat Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata.

Wallahu a'lam

18 Rabi'ul Awwal 1434



Friday, January 25, 2013

Tafsir Surat AL-FALAQ

oleh Hasan Al-Jaizy

Fawaid 0022: "Tafsir Surat AL-FALAQ"

Surat Al-Falaq (Waktu Subuh) diturunkan di Makkah dan berjumlah 5 ayat.

[1] قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلْفَلَقِ

"Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh,"

[2] مِن شَرِّ مَا خَلَقَ

"dari kejahatan makhluk-Nya,"

[3] وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ

"dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,"

[4] وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّٰثَٰتِ فِى ٱلْعُقَدِ

"dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,"

[5] وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

"dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki"."

KOSAKATA

- [قُلْ ] = Katakanlah 
- [شَرِّ ] = Keburukan/Kejahatan/Kejelekan
- [خَلَقَ] = Menciptakan 
- [غَاسِقٍ ] = Malam
- [وَقَبَ] = Menggelap
- [حَاسِدٍ ] = Orang yang iri, hasad atau mendengki

TAFSIR AYAT

[1]
Maksudnya, "Katakanlah", seraya memohon perlindungan. [أَعُوذُ ] "Aku berlindung", yakni aku berlindung dan berpegangan, [بِرَبِّ ٱلْفَلَقِ] "kepada Rabb yang menguasai Subuh", yang membelah butir tanaman dan biji buah-buahan dan yang meyibak Subuh.

[2] 
[مِن شَرِّ مَا خَلَقَ] "Dari kejahatan makhluk-Nya". Ini mencakup seluruh makhluk Allah, baik manusia, jin, maupun binatang. Maka memohon perlindungan haruslah kepada Penciptanya dari keburukan yang ada padanya.

[3]
Kemudian Allah menyebutkan secara khusus setelah menyebutkan secara umum seraya berfirman, [وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ] "dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita," yakni dari kejahatan apa pun yang ada di malam hari ketika kegelapan menutupi manusia dan kala banyak ruh-ruh jahat gentayangan, dan binatang-binatang yang menyakitkan bertebaran.

[4] 
[وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّٰثَٰتِ فِى ٱلْعُقَدِ] "Dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul," yakni dari kejahatan wanita-wanita penyihir yang menggunakan bantuan pada buhul yang diikatkan dengan sihir.

[5]
[وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ] "Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki"." Orang dengki adalah orang yang senang atas lenyapnya nikmat dari orang yang ia dengki dengan berusaha sekuat tenaga untuk melenyapkan nikmat tersebut dengan berbagai cara. Sehingga, perlu meminta perlindungan kepada Allah dari kejahatannya dan untuk meruntuhkan tipu dayanya. Penyebar penyakit-penyakit 'ain juga termasuk orang yang dengki karena tidaklah penyakit 'ain muncul kecuali dari seorang pendengki, bertabiat buruk dan berjiwa keji.

Surat ini mencakup perlindungan dari segala macam kejahatan secara umum dan khusus dan menunjukkan bahwa sihir itu nyata, bahayanya mengkhawatirkan, dan kta harus meminta perlindungan kepada Allah Ta'ala dari sihir dan pelakunya.

--- Tafir As-Sa'di, terjemahan Pustaka Sahifa--

Semoga bemanfaat

14 Rabi'ul Awwal 1434

Monday, January 7, 2013

Tidakkah Ini Mungkin?


oleh Hasan Al-Jaizy

Dulu, ketika masih sekolah, teman saya ini belajar mengaji dengan guru ngaji di kampungnya di tanah Sunda. 

Dulu, awal saya mengenal dia, ketika ia membaca Al-Qur'an, khas sekali didikan kampung. Ia mempunyai problem pada huruf Qaf; karena terlalu sulit untuk mengatur tenggorokan memberi hak huruf ini. Qaf nya terlalu besar; sehingga kadang mahasiswa yang sudah berlatar pendidikan pondok atau sudah lancar ngaji, mendengar dengan perasaan lucu sendiri. Namun bukan berarti mengejek.

Dulu, dia bukan seorang yang mahir berbahasa Arab. Masuk kampus dengan bekal kulit yang tidak putih dan logat Sunda yang masih ketara.

Sekarang, saya berguru padanya; menimba banyak pengetahuan darinya. Banyak bertanya padanya, entah tentang pengalamannya berdakwah di kampungnya, organisasinya dan sebagainya.

Sekarang, dia sudah mahir bicara bahasa Arab. Dan dalam waktu setahun, ia sudah bisa meninggalkan pelafalan Qaf yang memiriskan hati. Ia sudah bagus bacaannya.

Suatu saat, ia pulang ke kampungnya. Sudah banyak ilmu yang diseruput di kampus. Ia pun mengunjungi guru ngajinya dulu; orang yang berjasa. Apa cerita pendek darinya:

"Ane menemukan guru ngaji ane ga bisa bahasa Arab sama sekali. Padahal beliau dulu yang ngajarin ane ngaji. Hurup-hurupnya pake bahasa Arab. Sekarang ane pulang udah bisa bahasa Arab. Sebagai balas jasa, ane ajari guru ane bahasa Arab."

Orang besar insya Allah adalah yang bisa lebih baik dari gurunya.

Boleh jadi seorang guru akan sebal dengan seorang murid yang dipandangnya nakal atau hadirnya bagai gaibya atau tidak berkesan. Tapi, hati bisa berbalik dan jalan bisa berbelok. Tidak menutup kemungkinan murid itu kelak justru menjadi lebih hebat dari sang guru. Ia menyesali masa lalunya ketika masih berguru. Lalu ia berusaha membalas jasa sang guru.

Tidakkah itu mungkin?

Guru-guru TPA, atau SD, atau semacamnya, untuk sekarang hari, mungkin tak bisa memprediksi apa nantinya anak-anak menjadi.

Tapi, tetap mungkin anak-anak itu kelak menjadi orang-orang besar; yang mengingat guru TPA atau SD nya dahulu dan mendoakannya. Meskipun sang guru hanya tinggal kenangan dan nama...

Monday, October 22, 2012

Dogma Agama? Dogma Kelompok? Dogma Rasio?


oleh Hasan Al-Jaizy

Dogma adalah sistem keyakinan, bisa terkonstruksi oleh banyak hal. Di antaranya: dogma agama, dogma kelompok dan dogma rasio. 

A. Dogma Agama 

Dogma agama adalah sistem keyakinan berdasar dan bersandar pada agama. Dogma Islam, tentu saja mengacu pada dua sumber, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah Nabi. Namun, apakah sesederhana itu sehingga semua pemeluk dogma Islam dapat menabur keyakinannya berdasar yang tampak dari keduanya? Tidak cukup. Masih memerlukan beberapa alat.

Al-Qur'an adalah sumber pengetahuan dunia akhirat. Bagaikan sebuah alam yang di dalamnya terlukis segala keindahan serta coraknya. Sinar dan efek keindahannya terasa, namun bagi yang ingin menyelami, harus membuka banyak pintu-pintu besar. Tiap-tiap pintu membutuhkan kunci-kunci besar tuk membukanya. Maka, dibutuhkanlah banyak kunci.

Itulah Al-Qur'an. Anda boleh membacanya

Fakta Adanya Jin [1]

oleh Hasan Al-Jaizy

Fakta yang menunjukkan adanya jin begitu banyak dan tidak bisa disangkal oleh siapapun yang beragama apapun. Adanya makhluk yang tak terlihat oleh mata normal manusia bukanlah sesuatu yang majhul [tidak diketahui]. Bahkan, bisa jadi mereka yang dengan angkuhnya mengingkari eksistensi makhluk gaib ini, akan merasakan sesuatu yang berbeda ketika melewati tempat-temapt sepi atau gelap.

Berikut kami uraikan beberapa fakta yang menunjukkan eksistensi jin:

[1] Adanya orang yang kesurupan. Hampir saja tidak ada satu kurun atau satu daerah, melainkan pasti ada yang mengalaminya. Kesurupan terjadi disebabkan gangguan setan [jin yang tidak baik]. Adapun ketidakwajaran dan kegilaan yang disebabkan oleh stress dan depresi adalah perkara lain. Hal itu seringkali bisa disembuhkan dengan obat-obatan atau resep dari dokter. Terkadang pula tidak sembuh. Tapi, yang namanya kesurupan, apakah mampu ditangani dokter? Kumpulkan saja semua dokter di rumah sakit jiwa atau dokter fisik. Suruh mereka menyembuhkan seseorang yang kesurupan.

Yang namanya kesurupan, penangkalnya adalah

Sunday, October 21, 2012

Hafal atau Memahami


oleh Hasan Al-Jaizy

Orang yang lepas dari permasalahan lebih mudah menghafal, tapi tidak lebih mudah baginya memahami permasalahan. Orang yang penuh permasalahan lebih mudah memahami, dan menghafal bukan sesuatu yang mudah baginya.

Contoh/Bukti:

[1] Ketika Anda sedang dirundung permasalahan, cobalah menghafal sesuatu, seperti ayat2 Al-Qur'an dan seterusnya. Selama masih terfikir permasalahan tersebut, maka tetap saja upaya menghafal akan terganggu. Yang ada, justru secara alamiah Anda akan berusaha memetakan permasalahan, memahami dan menggali solusi atau jalan keluar.

[2] Ketika Anda tak punya permasalahan. Semua serba enak dan menghijau. Cobalah menghafal. Rasanya mudah. Namun, cobalah memahami suatu perkara pelik, rasanya otak malas. Karena lepas atau kosong dari permasalahan. Permasalahan itu sebenarnya untuk difahami terlebih dahulu, bukan untuk dihafal.

Berangkat dari itu, kita singgung 2 fase atau masa kehidupan. Masa kecil dan masa dewasa.

Sunday, October 14, 2012

Al-Qur'an Sebagai Obat


oleh Hasan Al-Jaizy

Jadikan Al-Qur'an sebagai obat yang dengannya atas izin Allah, kau terobati. Sakit di hati seringkali lebih menyakitkan dibanding sakit di badan. Dan telah ada kabarnya dari Sang Rahman, bahwasanya Al-Qur'an adalah sebuah rahmat dan obat bagi orang-orang beriman.

Allah berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an apa yang dia itu [merupakan] obat dan rahmat bagi orang-orang beriman." [Q.S. Al-Israa': 82]

Perhatikan lafadz 'min' [مِن] di ayat tersebut. Kata tersebut berarti 'dari'. Namun tidak menunjukkan makna 'sebagian', melainkan menunjukkan jenis. Yang berarti: segala yang ada dalam Al-Qur'an adalah obat dan rahmat.

Thursday, October 11, 2012

Dari Satu Saja!


oleh Hasan Al-Jaizy

Dari satu ayat saja, seseorang bisa mengambil banyak pelajaran
Dari satu hadits saja, seseorang bisa mendapat banyak ibrah
Dari satu cerita saja, seseorang bisa mendapat banyak hikmah
Dari satu hal saja, seseorang bisa mendapat banyak cabang inspirasi

Tapi, tidak semua orang bisa seperti itu, meskipun mereka mau. Berlatih untuk mengambil pelajaran, ibrah, hikmah dan inspirasi tidaklah mudah; karena membutuhkan praktek dan daya gali berfikir yang ditekan levelnya. Selagi berjalan, harus ia berfikir. Juga selagi merebahkan jasad, selagi terduduk, selagi apapun. Shalat pun butuhkan fikir yang dalam memaknai apa yang terucap. Jangan lupa, mengaji tidak sembarang mengaji.

Adakah yang ingin berlatih memeras otak di tiap serpihan waktu hidupnya?

Wednesday, October 3, 2012

Bagaimana Kau Berbicara Agama Dengan Dalil?

oleh Hasan Al-Jaizy

Semua dai berbicara agama. Entah dai menuju kebenaran atau kesesatan. Dan secara umum dai mendatangkan dalil penguat apa yang dibincangkan. Dalil adalah petunjuk, penguat, burhan ataupun tameng. 

Namun apakah semua dalil adalah dalil? Dan apakah semua hasil simpulan dari dalil adalah dalil yang berhasil? Tidak.

Adakalanya seorang dai berdalil namun ia tak tahu, salah atau bahkan sengaja menabur dalil dhaif untuk masalah halal haram atau aqidah. Adakalanya seseorang menabur dalil sahih, namun ia tidak tahu atau tidak mau tahu bagaimana ia bisa menyimpulkan hukum atau faedah dari dalil tersebut, sehingga ia mengambil cara pragmatis dan instan. You know what I mean?

Asasnya, dua asas inilah

Monday, September 17, 2012

Laksana Mantra Tanpa Makna

oleh Hasan Al-Jaizy

...yaitu doa dengan ketidaktelitian pelafalan sehingga mengubah-ubah makna atau bahkan menafikan adanya makna. Baiklah, setidaknya ada niatan berdoa dan berusaha melafadzkan. Tapi, bayangkan saja jika seorang abdi tunduk meminta perkara pada sang raja dengan lafadz-lafadz yang berarti kosong. 

Doa memiliki kekuatan tersendiri bagi pribadi religius. Bisa saja ia tak melafalkan, tetapi hati berdoa. Dan kekuatan terbesar memang ada di hati. Namun bagi sebagian jemaah shalat jama'ah di sebagian besar langgar, mushalla dan masjid, doa itu bagaikan mantra tak bermakna.

Sang Imam atau wakilnya berdoa dan diamini oleh jumhur. Kita tidak sedang berbicara apakah itu bid'ah atau bukan. Kita sedang mengupas kejanggalan dalam ritual penting. Lihat bagaimana orang2 tua tersebut berdoa terbirit-birit sehingga banyak makna terkelupas dan etika terbengkalai. Sulitnya lagi, ketika yang muda berusaha memberitahu secara halus, mereka tidak terima. Atau jikalau terima nasihat, hembusannya keluar dari telinga kiri.

Maka, baiknya bagi yang punya kesempatan belajar Arabic atau Tajwid, belajarlah. Bagi yang bisa mengajar, tentu itu lebih baik dan mulia. Semua ada tugas dan jatahnya. Berdoa itu kan kepada Allah. Tata caranya juga tidak sembarangan dan tidak suka-suka. Buat Allah kok suka-suka!?

Sebagai calon pemimpin dan penerus orang2 tua, sudahkah berbekal untuk menyambut mentari esok?

Thursday, August 30, 2012

Berhenti Sejenak!

oleh Hasan Al-Jaizy


[Q.S. At-Takwiir: 29]

وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ

"Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam."

Ayat ini mewartakan pada kita bahwa segala yang manusia kehendaki adalah di bawah kehendak Allah. Kuasa manusia di bawah kuasa-Nya. Dan di sini juga Allah menegaskan bahwa Dia-lah Rabb [pencipta-pemilik-pengatur] semesta alam.

[Q.S. Al-Insan: 30]

وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًۭا

"Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."

Sama seperti ayat yang tertera sebelumnya, mengenai kehendak kalian [manusia] di bawah kehendak-Nya. Namun di ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Karena itulah, segala yang terjadi adalah berdasar kehendak-Nya dan Allah Maha Bijaksana dalam berkehendak. Tiada celah bagi kita untuk menggugat kehendak dan keputusan-Nya.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/434699886571402

Monday, August 27, 2012

Pemilik Ilmu...Pemilik Akal

oleh Hasan Al-Jaizy

Pemilik Ilmu...Pemilik Akal

[1] Di antara manusia ada yang memiliki ilmu namun tak berakal dengannya.
[2] Di antara manusia ada yang memiliki akal namun tak memiliki ilmu.

Maksud dari ilmu adalah hafalan nash Al-Qur'an atau Hadits sebagai pegangan asasi untuk menyimpulkan sesuatu.
Maksud dari akal adalah daya fikir yang tajam sebagai modal untuk menyimpulkan sesuatu.


JENIS PERTAMA

Saturday, August 25, 2012

Al-Qabuul wa At-Tasliim

oleh Hasan Al-Jaizy

Satu pondasi penting dalam manhajiyyah istidlaal [mengambil dalil] dan mengimani wahyu adalah Al-Qabuul [menerima] dan At-Tasliim [menyerahkan]. Maksudnya: seorang muslim sebelum segalanya tentang pendalilan atau menarik kesimpulan dari dalil, ia harus membangun rasa nerimo dan tunduk pada dalil. Bukan justru sebaliknya: mencoba mengkritisi dalil dan memang sedari awal sudah suspisius alias super curiga terhadap dalil.

Ingat, lho: Terima dan Menyerah pada dalil. Dalil adalah Al-Qur'an, As-Sunnah dan Ijma. BUKAN terima dan menyerah pada fatwa atau perkataan manusia. Bukankah di sini ada sebuah jebakan yang tidak sedikit dari para thullab al-ilm terperosok tanpa sadar?


Fatwa Ijtihady, apakah dalil?

Tentu saja, dalam

MERACAU : "Gregetan Namun Iri!"

oleh Hasan Al-Jaizy

Salah satu hal yang membuat saya pribadi gregetan, menggingit bibir kegemasan dan tercubit-hati adalah pemuda muda yang hafal Al-Qur'an [hafidz] namun benar-benar tidak benar bacaannya. Makhraj-nya tak beraturan, juga panjang pendek [madd rules] diabaikan. Ketahuan sekali ia tidak memulai sesuatu dari ushul. Artinya: Seorang yang hafal banyak namun kacau balau dalam membaca menandakan ia terdidik dengan menyegerakan hafalan tanpa menyempurnakan tajwid.

Bukan berarti saya ini mencela seorang hafidz Al-Qur'an

Nasr Hamid Abu Zayd

oleh Hasan Al-Jaizy

Nasr Hamid Abu Zayd [1943-2010]

adalah sosok yang diidolakan oleh kalangan liberal karena pemikirannya yang kritis terhadap Islam, terutama Al-Qur'an dan Sunnah, juga karena arah pemikirannya miring ke kiri, bebas dan dianggap tak terkekang dengan kejumudan.

Abu Zayd lahir di Mesir tahun 1943 dan ia sudah menghafal Al-Qur'an. Telah menempuh studi tingkat doktoral dalam bidang Islamic Studies di Universitas Pensylvania, Philadelphia, Amerika Serikat pada tahun 1980.

Pada 14 Juni 1995,

Wednesday, August 8, 2012

Bacalah Al-Qur'an Bacaan Terbaik!

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point terkait membaca kitab yang seharusnya kita nomorsatukan:

[1] Alunan yang kita iramakan dalam membaca Al-Qur'an membantu menghadirkan hati dan penghayatan. Hati dan penghayatan. Maksud dari menghadirkan HATI adalah memperHATIkan. Penghayatan? Hayat adalah kehidupan. Jadi, penghayatan adalah penghidupan; yaitu makna dan rasa dari ayat-ayat itu seakan HIDUP di hati kita.

[2] Sebagian ulama mengatakan:
اسمع القرآن ممن إذا سمعته قلت: إنه يخشى الله
"Simaklah Al-Qur'an dari orang yang jika kau menyimaknya mengaji, kau akan berkata: 'Duhai, sungguh ia takut pada Allah!'"

Maksudnya: Tidak semua pelantun dan pembaca Al-Qur'an membaca dan melantunkannya sebenar-benar bacaan dan lantunan.

[3] Adakalanya kita mendengar seseorang membaca Al-Qur'an dengan nada yang sebenarnya the best, namun seakan menyimaknya hambar; karena memang itulah salah satu tabir yang Allah singkap jika pembaca tidak ikhlas.
Adakalanya kita mendengar seseorang membaca Al-Qur'an dengan nada sederhana semampunya, namun entah kenapa justru 'ngena' di hati; karena jika seseorang membaca Al-Qur'an dengan hati yang hidup [menghayati], akan memberi pengaruh pada sekitarnya.

[4] Karena itulah, saudaraku, mari perhatikan hadits ini:

مَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِيْ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ

"Permisalan orang MUNAFIK [dalam riwayat lain: FAJIR] yang membaca Al-Qur'an seperti Raihan [buah yang memiliki harum], harumnya enak dan rasanya PAHIT." [Muttafaq Alaih]


[5] Nah, sekarang, mari kita mengaca diri masing-masing. Seperti apa karakter membaca Al-Qur'an kita? Apakah kita membacanya 'cepat-cepat' dan terbirit-birit demi mengejar target? Atau kita membacanya sedalam-dalam termampu? Target kuantitas itu memang baik, namun target kualitas itu jauh lebih baik.

Maksud target kuantitas: seperti target khatam 30 juz satu bulan ini. Itu bagus.

Maksud target kualitas: seperti target mentadabburi dan menghayati tiap ayat yang terbaca. Dan inilah sebbaik-baik bacaan Al-Qur'an; meskipun terkesan lambat.


[6] Cara menghadirkan hati ketika membaca Al-Qur'an:

Ketika dalam ayat itu ada kata 'langit', maka bayangkan seakan-akan diri kita di langit. Juga, ketika ada kata 'bumi', bayangkan bumi yang terbentang luas.
Ketika ayat menyebutkan kisah-kisah orang terdahulu, bayangkan dirimu ada menyaksikan mereka.
Ketika ayat menyebutkan siksa pedih, bayangkan kepedihan itu.
Ketika ayat menyebutkan nama ciptaan dan mengajak kita untuk memperhatikan ciptaan2 seperti gunung, sungai, pohon dan segalanya, bayangkan kamu berada di tengah-tengah ciptaan itu.

Sesungguhnya tafakkur dan tadabbur adalah ibadah hati yang sudah banyak ditinggalkan manusia. Maka, jangan tinggalkan ibadah semacam ini, sebelum kita meninggalkan dunia.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/428115870563137

Burung, Unta, Langit, Gunung dan Bumi

oleh Hasan Al-Jaizy

Dalam beberapa tempat di kitab Sang Mushawwir, Dia mengajak kita untuk menengok ke beberapa ayat kauniyyah, di antaranya:

[1] BURUNG
أَوَلَمْ يَرَوْا۟ إِلَى ٱلطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَٰٓفَّٰتٍۢ وَيَقْبِضْنَ ۚ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا ٱلرَّحْمَٰنُ ۚ إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَىْءٍۭ بَصِيرٌ

"Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu." [Q.S. Al-Mulk: 19]

[2] UNTA

أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى ٱلْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan" [Q.S. Al-Ghasyiyah]

[3] LANGIT

وَإِلَى ٱلسَّمَآءِ كَيْفَ رُفِعَتْ

"Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?" [Q.S. Al-Ghasyiyah]

[4] GUNUNG-GUNUNG

وَإِلَى ٱلْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ

"Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?" [Q.S. Al-Ghasyiyah]

[5] BUMI

وَإِلَى ٱلْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ

"Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?" [Q.S. Al-Ghasyiyah]

dan masih banyak lagi. Seberapakah rendahnya kadar iman kita sehingga segala sesuatu dari ciptaan yang kita lihat sengaja atau tidak, seakan teranggap semuanya sia-sia!??


Friday, August 3, 2012

Renungilah Alam!

oleh Hasan AL-Jaizy

Sesungguhnya dalam...
[1] penciptaan langit dan bumi, 
[2] silih bergantinya malam dan siang, 
[3] bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan 
[4] apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu 
[5] dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan 
[6] Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan 
[7] pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi;

Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang MEMIKIRKAN.

Di atas adalah terjemahan ayat 164 Surat Al-Baqarah. Jika Anda mendapatkannya indah dan 'ngena' di hati, ingatlah bahwa itu baru terjemahan. Sesungguhnya versi aslinya [Arabic] jauh lebih indah dan 'ngena':

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱلْفُلْكِ ٱلَّتِى تَجْرِى فِى ٱلْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ وَمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن مَّآءٍۢ فَأَحْيَا بِهِ ٱلْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍۢ وَتَصْرِيفِ ٱلرِّيَٰحِ وَٱلسَّحَابِ ٱلْمُسَخَّرِ بَيْنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ لَءَايَٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَعْقِلُونَ


Pertanyaannya:

-- Sudahkah kita membaca Al-Qur'an? Jika sudah...
-- Sudahkah kita merenungi dan mentadabburinya? Jika belum...

maka sempatkanlah membaca kembali sambil menyelami maknanya dengan kitab/buku tafsir...


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/426365244071533

Renungilah Alam!

oleh Hasan AL-Jaizy

Sesungguhnya dalam...
[1] penciptaan langit dan bumi, 
[2] silih bergantinya malam dan siang, 
[3] bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan 
[4] apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu 
[5] dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan 
[6] Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan 
[7] pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi;

Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang MEMIKIRKAN.

Di atas adalah terjemahan ayat 164 Surat Al-Baqarah. Jika Anda mendapatkannya indah dan 'ngena' di hati, ingatlah bahwa itu baru terjemahan. Sesungguhnya versi aslinya [Arabic] jauh lebih indah dan 'ngena':

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱلْفُلْكِ ٱلَّتِى تَجْرِى فِى ٱلْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ وَمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن مَّآءٍۢ فَأَحْيَا بِهِ ٱلْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍۢ وَتَصْرِيفِ ٱلرِّيَٰحِ وَٱلسَّحَابِ ٱلْمُسَخَّرِ بَيْنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ لَءَايَٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَعْقِلُونَ


Pertanyaannya:

-- Sudahkah kita membaca Al-Qur'an? Jika sudah...
-- Sudahkah kita merenungi dan mentadabburinya? Jika belum...

maka sempatkanlah membaca kembali sambil menyelami maknanya dengan kitab/buku tafsir...


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/426365244071533