Showing posts with label Haji Asnawi. Show all posts
Showing posts with label Haji Asnawi. Show all posts

Wednesday, December 26, 2012

CAT : [70] "TIAPMU BERLEBIH DAN BERKURANG!"

oleh Hasan Al-Jaizy


Terkadang Haji Asnawi dongkol juga dengan tingkah Purnomo. Kenapa? Di setiap pengajian, Purnomo selalu belagak 'kritis'; mirip dengan beberapa mahasiswa yang ngarep exist. Yeah, kritis tanpa memberi solusi sama sekali. Sudah begitu, suka mengeluarkan 'tenaga dalam' sembarangan pula di majelis.

Suatu hari, Haji Asnawi membahas tentang kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri tiap manusia. "Tiap kalian, wahai cucu-cucuku, memiliki potensi yang besar. Jika kalian sudah tahu kelebihan dan kekurangan kalian, maka bersyukurlah. Jika belum tahu, maka waspadalah. Jika ingin tahu, maka bercerminlah. Jika tidak mau tahu, maka entahlah."

'Ah, teoooori,' pikir Purnomo lalu ia berpaling muka seolah-olah tiada apa. Lalu ia pun mencari sebab serta mencari alasan supaya bisa keluar majelis.

Di tepi hutan, ia bertemu Basuki, teman yang rajin menemaninya sekaligus mencuri tembakaunya. Basuki sedang menanam bibit tunas pisang. Mengingat kajian Haji Asnawi tadi, Purnomo tertarik

Saturday, December 15, 2012

CAT : [32] "IRI AKAN JAYA"

oleh Hasan Al-Jaizy


Saya tidak ingin menceritakan pada siapapun bahwa saya iri dengan banyak orang, terutama para lulusan non-pesantren tapi Allah beri ilmu dan semangat menggebu. Apalagi jika ternyata mereka terlihat mustaqim dan multazim; mengamalkan maksimal ilmu mereka. Bahkan, saya terbakar cemburu disebabkan saya melihat seseorang yang -menurut saya- ilmunya tidak seberapa tetapi ia benar-benar mengamalkan ilmunya. Kalau sudah melihat seperti itu, minder-minderlah diri ini; berilmu sedikit beramal jika terjepit saja. Saya tidak akan menceritakan hal-hal di atas; karena itu adalah rahasia yang tidak layak diketahui selain saya.

Bolehkah kita iri? Boleh dan bahkan wajar terbilang dan tersifat jika iri akan kebaikan orang namun tidak menginginkan keburukan dari pihak yang diirikan. Bahkan, iri akan kegantengan atau kecantikan teman tergolong wajar. Hanya, iri -sekecil apapun ia dan dalam bidang apapun- adalah bekal untuk mendengki.

Kalau situ iri sama saya, agar tidak menjadi dengki dan membenci, maka doakan saya supaya

Tuesday, December 4, 2012

CAT : [3] "SENGSARAMU INSPIRASI TUK SELAINMU"

oleh Hasan Al-Jaizy

Ini untuk orang-orang yang merasa dirinya sengsara. Kasihan sekali orang-orang semacam ini. Atau yang lebih kasihan adalah yang merasa paling sengsara, paling miskin dan paling menderita. Padahal ia hidup di negara aman. Ia tidak sedang dikejar hewan-hewan. Rumahnya tidak sembarangan digrebek Densus 88. Tetapi kenapa merasa paling besar ia punya kesengsaraan?

Padahl semua dari kita adalah orang kaya. Boleh kaya akan makna, tapi pastinya kaya akan fisik. Ada percakapan Haji Asnawi dan Suyuthi:

Haji Asnawi: "Ada apa, anakku?"

Suyuthi: "Pak Haji, hidup saya seolah paling sengsara. Saya kere sekali. Mau menikah dengan manusia, namun modal tidak ada. Mau beli laptop, namun uang tidak ada. Bayar kredit pun tak mampu. Mau beli baju pun tidak ada. Padahal saya pengen sekali membeli ketiganya: manusia, laptop dan baju. Tapi yang saya dapat malah gundukan puntung rokoknya Pak De Su'aid. Pak Haji, saya miskin sekali. Berikanlah solusi."

Haji Asnawi: "Baiklah, kamu bisa bahasa Arab, kan? Dan kamu suka baca kitab juga, kan? Lalu kamu mudah menghafal Al-Qur'an, Hadits dan matan-matan, kan?"

Suyuthi: "Yoi, Pak Haji."

Haji Asnawi: "Baiklah. Nanti saya doakan supaya Allah mencabut ketiganya dari dirimu: bahasa Arab, hasrat baca kitab, dan kemampuan menghafal. Saya doakan pula agar Allah mengganti ketiganya dengan manusia, laptop dan baju."

Suyuthi: "Wah, tidak bisa, Pak Haji. Sadis sekali. Saya ga mau kehilangan itu semua. Itu semua juga modal saya buat masa depan."

Haji Asnawi: "Baiklah. Saya memaklumi. Sekarang saya punya tabungan 300 juta. Itu bisa menjadi modal kamu nikah, beli buku segudang dan menambah nafsu baca bukumu. Saya akan serahkan 300 juta untukmu siang nanti. Gimana??"

Suyuthi: "Waaah, makasih Pak Haji! Senaaang!"

Haji Asnawi: "Tapi, ya ada syaratnya lah."

Suyuthi: "Wah, syaratnya apa itu, Pak Haji?"

Haji Asnawi: "300 juta itu sebagai bayaran tunai pembelian kedua matamu. Saya ingin membeli matamu. Kamu korbankan matamu saja lah demi 300 juta."

Suyuthi: "Yaaah, tidak mungkin juga. Waduh."

Haji Asnawi: "Berarti, mahalan mana: penglihatanmu atau 300 juta?"

Suyuthi: "Ya mataku lah, Pak Haji."

Haji Asnawi:

"Nah, di situlah bagaimana kau harus merenung tentangnya. Kamu punya mata dan anggota tubuh lainnya masih berfungsi dengan baik. Jika satu saja dari matamu cacat, maka bagimu itu lebih mahal dari 300 juta. Sementara sekarang pun kau mengeluh miskin; sedangkan sebenarnya sedari lahir kau sudah diciptakan kaya dan memiliki kekayaan. Lihat sekujur tubuhmu. Lihat kakimu, seberapa kilo sudah digunakan untuk berjalan. Lihat tangan dan jemarimu, seberapa banyak tulisan yang kau buat yang bisa menjadi modal untuk dunia dan akherat? Lihat lisanmu, seberapa banyak ia bisa memberi manfaat?

Ketika pahitmu, jangan kiaskan pahitnya dengan manisnya hidup orang lain. Karena ketika kau nanti hidup dalam kemanisan, kau pun tak ingin orang berpahit hidup menuntut dirimu untuk memaniskan hidupnya.

Tetapi, jadilah orang yang memberi kemanisan pada selainnya meski hidup sendiri ditakdirkan pahit. Jadikan pahitmu adalah manis untuk orang lain. Betapa banyak orang yang bermanis hidup namun memahitkan hidupnya dan hidup orang lain. Jadilah manusia yang berguna dengan kesederhanaan kekayaan yang kamu miliki.

Jangan jadikan kesulitan hidup alasan untuk tidak memberi kebaikan pada manusia. Jika punya harta, berikan secukupnya. Jika punya ilmu, berikan sebanyaknya. Jika tidak punya keduanya, berikan jasa. Jika tidak punya harta, ilmu dan jasa, berikan mereka salam dan doa. Jangan pernah ingin hidup jika tidak memberi manfaat pada manusia. Karena terkadang hewan pun memberi manfaat pada manusia."

Suyuthi pun merinding. Sementara anak perempuannya Haji Asnawi mengintip dari tirai kamar.

Mengintip-intip status orang. Rupanya ia terinspirasi dengan status ini. Ehm.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/469925333048857

Friday, November 23, 2012

Sketsa XVII


Mereka bertiga [Suyuthi, Syirozi dan Nawawi] pun menonton kembali apa yang tersaksi di sana. Kelihatan jelas kegugupan Ki Joko melihat kedua pendatang baru itu, Ust. Zururi dan Ust Hisby. 

"Apa kau masih mau mencari perkara pada kami, Ki Joko?" tanya Ust. Hisby dengan tatapan halilintar.

"Kau menantang aku?" Rupanya Ki Joko masih terselimuti gengsi. Ia tak hendak mengalah. Kiranya masih ada sisa tenaga dalam yang terpunya. Dan Ust. Hisby juga Zururi yakin bahwa Ki Joko sebenarnya begitu lemah. Pula Haji Asnawi. Beliau sangat yakin Ki Joko takkan mampu menghancurkan kedua orang ini, penghafal Al-Qur'an dan ribuan hadits.

Diam-diam Ki Joko merogoh sesuatu di dada bawahnya. Oh, bukan! Di balik badannya atau di punggung bawah. Seperti ada sesuatu di balik pakaian Ki Joko. Ust. Zururi dan Ust. Hisby sudah memasang ancang-ancang, kuda-kuda, benteng-benteng dan pion-pion sebagai persiapan menahan serangan atau menyerang. Ki Joko masih merogoh sesuatu di punggung sebelah bawah. Lalu ia pun mengeluarkan sesuatu. Rupanya itu adalah...

secarik kertas! Ki Joko pun membacanya dalam-dalam. Tiba-tiba, "Tuk!"

"Adaw!" teriak Ki Joko kesakitan sambil mengelus botak batoknya. Ada yang menimpuk kepalanya.

"Makanya, baca teks sebelumnya! Udah baca belom!??? Main-main!" Rupanya dalang lah yang menimpuk Ki Joko dengan kenari. Ia sedang mengamati sandiwara di atas pohon. "Ayo, mulai! Bikin lama ajah! Saya mau kondangan nih!"

Ki Joko pun berubah menjadi serius wajahnya. Lalu ia memberi isyarat sesuatu pada Ki Lambad dan kedua pembantunya. Isyarat yang hanya diketahui mereka.

Tiba-tiba...

Keempat satanis itu lari secepat kilat ke balik pohon besar dan menghilang dalam kegelapan. Serentak dan kompak sekali.

Semuanya terkaget! Tidak menyangka mereka akan kabur. Terutama Ust. Hizby dan Ust. Zururi. Keduanya tersentak dengan kecepatan mereka kabur. Bahkan si dalang pun mulai buka teks, sambil bertanya dalam batin, 'Emangnya di teks mereka disuruh kabur!?' Tiba-tiba...

"Tak!"

Sesuatu menyambar kepala dalang. Blangkonnya pun hampir jatuh. Dalang mengelus-elus separuh ndasnya. Penulis pun terkekeh-kekeh. Rupanya ia yang melempar bata ke kepala dalang.

========================

"Apa yang harus kita lakukan, Ki Haji?" tanya Ust. Zururi. "Mereka telah ditelan kegelapan. Kita tak mungkin mengejar mereka!"

"Adalah Purnomo dan anak-anak perguruan ku yang harus dibereskan!" tegas Haji Asnawi. Purnomo makin bergidik. Gigi tonggosnya yang cukup menjulang ke depan itu tak bisa mem-balance rasa takutnya. Sementara Haji Asnawi menatapnya marah sekali. Kedua matanya bagaikan mengeluarkan busur-busur panah yang menghujam di tiap lirikan.

4 pendekar muda dari perguruan hijau, mau bagaimanapun tidak akan berkutik. Karena kesaktian Haji Nawawi jauh di atas mereka. Tenaga dalamnya juga tak sebanding dengan milik mereka. Terutama jika Ki Haji baru saja melahap makanan, tenaga dalamnya bisa mengalahkan tenaga listrik. Jika engkau duduk bersamanya dan dia mengeluarkan sepersekian dari tenaga dalamnya, kau akan merasakan getaran yang membuatmu terkaget. Lebih-lebih, aroma tenaga dalamnya beracun. Terutama setelah memakan telur. SuNgGuH tErLaLu!!!

"Kalian berempat! Pulanglah segera sekarang!" seru Haji Asnawi. "Aku tak mau berdiskusi dan berdebat apapun di sini dengan kalian!"

Haji Asnawi memang paling benci berdebat tanpa keperluan. Karena itu, ia tidak pernah mau mengeluarkan perkataan yang menimbulkan perdebatan. Berbeda dengan beberapa Facebooker temannya Nawawi. Teman-temannya beberapa kali menulis status yang menimbulkan perdebatan, namun ketika dilawan dan diajak debat, langsung berlindung di balik gapura hadits dan perkataan para ulama. Kadang Nawawi juga dongkol sendiri. Nyuruh orang tidak berdebat tapi kok mancing-mancing? Sama seperti beberapa gadis desa di sekitar pondok. Memakai busana menor memancing pandangan pria. Tapi, ketika ditatap, mereka marah. Cuma bedanya, mereka tidak berlindung kemudian di balik dalil. Selain karena mereka tidak tahu dalilnya, mereka juga -setidaknya- merasa bahwa penyebab jelalatan mata lelaki adalah mereka sendiri. Tiba-tiba...

"Tek!"

Sesuatu mengenai kepala penulis. Penulis mengelus-elus kepalanya.. Dilihatnya dalang sudah di bawah pohon kenari sambil berkacak pinggang. Mukanya suram, muram dan kelam. Rupanya ia tadi melempar batu ke kepala penulis. "Benang merah!" teriaknya.

Baiklah. Akhirnya keempat pendekar itu pulang seketika itu juga. Sementara Haji Asnawi, Ust. Hisby dan Ust. Sururi tetap di sekitar pohon. Mereka memporak-porandakan semuanya. Termasuk makanan yang disaji untuk para setan. Nawawi, Syirozi dan Suyuthi masih memperhatikan dari semak-semak. Mereka masih bersembunyi.

Sebelumnya, Nawawi berencana untuk menampakkan diri. Tapi, Suyuthi mencegahnya. 'Biarkan saja! Kita tidak tahu siapa tahu tahu-tahu nanti tanpa sepengetahuan mereka ada sesuatu terjadi."

Tak lama kemudian, Haji Asnawi, dan kedua ustadz pergi berpaling. Mereka berpulang. Ketiga pendekar muda menguntit dari belakang. Menjaga jarak agar tidak ketahuan. Sekitar 25 tombak jarak terjaga.

Syirozi tiba-tiba mendengar suara gesekan-gesekan di belakang mereka. Ia mencolek kedua pendekar. "Ssst. Aku mendengar sesuatu di belakang."

Ya...ada suara gesekan di belakang! Mereka pun menoleh dengan penasaran dan kengerian ke belakang....

.....

Monday, November 19, 2012

Sketsa XVI


"Hmm...kalimat sombongmu akan berhenti di situ. Kupanggil saja mereka. Ayo, keluarlah kalian dari ilalang," seru Haji Asnawi.

Lalu terdengarlah suara gesekan dan terlihat ada ilalang yang bergoyang dari suatu sudut....Ki Joko menunggu dengan sedikit kecemasan...siapakah itu????

Eng Ing Eng. Keluarlah dua pemuda gagah berbaju taqwa putih. Syukur-syukur celana yang dipakainya bukan celana maksiat, jadi matching dengan baju mereka. Dua pemuda tersebut berusia sekitar 30 tahunan. Mereka berdua berjenggot dan terlihat shalih.

Melihat mereka berdua, Ki Joko Bedon gentar bukan main. Ia ingat sekali mereka berdua adalah yang meruqyah banyak dari para murid perguruan sawah. Mereka berdua juga pernah mendatangi langsung ke rumah Ki Joko dan menempelengnya dengan kasar di depan orang-orangan sawah. Ki Joko seketika merasa ciut. Semua jin khadamnya juga ngumpet di balik pohon. Ada pula yang langsung nyungsep ke lubang. Mereka pernah dibakar rupanya oleh kedua pendekar putih tersebut. Siapakah mereka?

"Ha? Ustadz Zururi dan Ustadz Hisby???" bisik Nawawi dan Syirozi keras-keras. Suyuthi terkaget, "Kalian kenal 2 orang itu?"

"Tentu saja kami kenal! Kedua ustadz itu adalah mantan guru di perguruan kami! Mereka berdua pernah mengalahkan makar Ki Joko dengan telak!" jawab Nawawi masih berbisik. Namun nada emosinya dan sensasinya teriring jelas.

"Mantan guru? Mereka sudah keluar dari perguruanmu?" tanya Suyuthi.

"Ya. Mereka telah keluar beberapa bulan lalu," jawab Nawawi.

"Sebabnya apa?" selidik Suyuthi.

"Aku tak tahu semuanya, kawan. Tapi yang ku tahu penyebabnya adalah Ustadz Zururi pernah menerima dana dari sebuah kerajaan di negeri minyak. Dana itu untuk pembangunan beberapa unit gubuk untuk dihuni beberapa murid. Juga untuk memperkaya koleksi kitab warisan ulama. Nama kerajaan itu adalah Uripken Warisan. Tapi, beberapa sesepuh dan pendekar di perguruan kami menyatakan bahwa kerajaan itu sesat dan dananya haram. Barangsiapa menerima dana itu, maka ia akan dicela. Ustadz Zururi bersikeras demi maslahat gubuk dan kitab. Namun salah satu sepuh kami, Syaikh Mubaddi' At-Tahdziiry mengusirnya dari perguruan," terang Nawawi.

"Waw, perpecahan di perguruan kalian sendiri," tanggap Suyuthi tersenyum kecil. "Lalu, bagaimana dengan yang satu lagi, Ustadz Hizby?"

"Ustadz Hisby?" sergah Syirozi. "Hehe, dia karena punya banyak teman dan beberapa kali duduk santai dengan beberapa orang kerajaan di kedai-kedai. Itulah akibatnya."

"Hush, jaga mulutmu, Syiro. Ini malam satu Suro. Ojo golek perkoro. Ojo golek goro-goro!" sergah Nawawi. "Ustadz Hisby itu orang baik dan saleh. Wong sesama saudara, sedulur seluhur, mosok dilarang duduk santai bareng!? Kaedahnya agak aneh iki: barangsiapa yang duduk dengan wong kerajaan, maka ia serupa tingkahnya dengan wong kerajaan. Aku dan kau kini duduk dan ngintip bareng, aku dari perguruan murni, kau dari perguruan hijau, apa kemudian aku juga akan dikeluarkan dari perguruan jika ketahuan berteman dekat denganmu, Suyuthi? Ganjil dan janggal, bukan?"

"Bukan, tapi aneh!" tandas Suyuthi.

Mereka bertiga pun menonton kembali apa yang tersaksi di sana. Kelihatan jelas kegugupan Ki Joko melihat kedua pendatang baru itu, Ust. Zururi dan Ust Hisby.

"Apa kau masih mau mencari perkara pada kami, Ki Joko?" tanya Ust. Hisby dengan tatapan halilintar.

"Kau menantang aku?" Rupanya Ki Joko masih terselimuti gengsi. Ia tak hendak mengalah. Kiranya masih ada sisa tenaga dalam yang terpunya. Dan Ust. Hisby juga Zururi yakin bahwa Ki Joko sebenarnya begitu lemah. Pula Haji Asnawi. Beliau sangat yakin Ki Joko takkan mampu menghancurkan kedua orang ini, penghafal Al-Qur'an dan ribuan hadits.

Diam-diam Ki Joko merogoh sesuatu di dada bawahnya. Dan kapan-kapan kau akan tahu apa yang terjadi kemudian....

....

Monday, November 12, 2012

Mengejar Wahabi

oleh Hasan Al-Jaizy

Di beberapa daerah, Wahabi dikejar-kejar. Ada juga di suatu daerah, Wahabi diusir. Tapi, mau sampai kapan pun, Wahabi malah tambah nyebar.

Dongkolnya Pak De Su'aid sudah memuncak ketika dia melihat Suyuthi pulang dari ziaroh ke pondok Wahabi yang selama ini ia musuhi. Bahkan koran Terjajah sudah meliput dan menerbitkan hasil wawacandanya terkait pondok itu. 

Suatu hari, Pak De Su'aid berniat berbincang 4 mata dengan beberapa orang kepercayaannya secara terpisah waktu. Dia ingin mendapat masukan bagaimana caranya mengenyahkan Suyuthi tanpa dimarahi Haji Asnawi. Dan juga bagaimana memfitnah pondok sawah itu.

Orang pertama yang ditemui adalah dia yang disebut Syaikh Than, seorang kadzuub [pendusta kelas bawal merah]. Syaikh Than memiliki reputasi buruk sehingga pernah mendapat ban dan blokir dari beberapa admin forum-forum. Ia juga punya link menuju orang-orang Syi'ah, satanis kuburan. Percakapan mereka pun diadakan di bawah rimbunan pohon bambu. Tepat di purnama ke 2 pada bulan ke tujuh.

Pak Su'aid: "Bagaimana ini, gus Than!? Saya sudah tidak punya alih sabar ingin menendang anak itu. Apa hendaknya petuahmu agar aku melakukan sesuatu?"

Syaikh Than: "Tenang saja, Ki Sanak. Jangan gegabah dan terlalu kentara. Pasukan Mataram yang kita tahu, mereka ingin tegakkan NKRI terang-terangan. Mereka terlalu mencolok di mata rakyat. Sementara mereka sendiri tidak punya prinsip yang teguh selain kalimat, 'NKRI harga mati!'. Meskipun kita termasuk dari mereka, tetapi kita pergunakan cara lain!"

Pak Su'aid: "Rupanya aku sedang mendengar sebuah permulaan dari nasihat bijak dari engkau. Gerangan apa yang hendak kau sarankan untuk hamba?"

Syaikh Than: "Kau tahu aku memiliki kemampuan menyihir manusia dengan penaku dan kedustaanku?"

Pak Su'aid: "Maksudmu, tongkat sihirmu semacam pulpen or something?"

Syaikh Than: "Gila lu, Ndro. Tentu saja tidak. Kan sudah saya beri Combantrin. Haduh....fikirkan baik-baik, Ki Sanak. Aku bisa membuat 3 trilogi kitab yang semuanya telah tertata di fikiranku."

Pak Su'aid: "Saya berfikir ide mu pasti HEBAT!"

Syaikh Thann: "Ya iyalah! Masa Ya IAIN. Itu mah kampus anak saya!"