Showing posts with label Pulang Kampung. Show all posts
Showing posts with label Pulang Kampung. Show all posts

Saturday, August 18, 2012

Mudik = Bid'ah?

oleh Hasan Al-Jaizy

Mohon maaf jika seakan pembahasan ini memperkeruh genangan air putih di tengah dahaga umat akan kesucian jiwa. Pertanyaan semacam ini benar-benar exist. Di antara manusia ada yang bertanya karena penasaran atau justru kebingungan. Di antara manusia ada yang bertanya karena memang bermaksud menyindir. Di antara manusia tidak terfikir olehnya pertanyaan ini.

Sekarang: Apakah mudik menjelang lebaran tergolong sebagai bid'ah?

Tentu kita tidak langsung mengatakan: 'YA' atau 'TIDAK'. Ini perlu pembahasan lebih lanjut di kalangan asaatidzah dan ulama yang -saya fikir- lebih baik ulama asli negeri ini, bukan ulama negeri padang pasir; karena tidak segala perkara di segala petak bumi bisa dihakimi oleh mereka begitu saja.

Juga, mengangkat pembahasan ini bukan untuk menghakimi secara final. Saya hanya mau mencurahkan fikiran dan tanda tanya saja. You know, hembusan fikiran manusia biasa bisa diterima bisa ditolak. But, take a heed and listen...


 [1] Tinjauan Ibadah...atau Muamalah?

Apakah mudik adalah murni sebuah ibadah, atau sebuah wasilah menuju ibadah? Atau apakah mudik merupakan sebuah perkara muamalah tak berdalil sehingga manusia [ahlu al-ilm] diberi kesempatan ber-ijtihad untuk menentukan baik-buruknya atau bahkan bisa mengira halal-haramnya. 

Pertanyaan di atas saya pribadi belum bisa menjawab dengan pasti. Jika ada sumbangsih jawaban dari kawan2, tentu saya berterima kasih; terutama jika itu bersifat pencerahan, bukan penghancuran.


[2] Tinjauan Kias dalam Perkara

Jika seseorang mengatakan: "Mengkhuskan mudik sebelum lebaran itu bid'ah karena tak tertera adanya di zaman salaf!" [mungkin] berdasarkan fatwa yang ia baca, maka...

saya bertanya-tanya: "Teman sekampus saya kebanyakan orang non-Jakarta, sebagian ndeso sebagian wong kuto. Mereka tidak punya kans dan kesempatan pulang ke negeri asal mereka kecuali saat liburan. Kalau begitu, apakah pengkhususan mudiknya mereka di masa liburan tergolong bid'ah? Atau tergolong perkara muamalah yang berupa: mengambil kesempatan selagi ada?"

Karena kata 'lebaran' mirip dengan 'liburan'. Di masa lebaran, hampir semua orang libur dari kerjanya. You know, para pemudik bermudik berdasarkan dua hal: 1. Taking a chance [mengambil kesempatan selagi ada] dan 2. Follow the good tradition [mengikuti tradisi yang 'baik']. Jika mudik sebelum lebaran di-bid'ah-kan, maka banyak sekali mbah-mbah [kakung atau putrinya] sedih karena sang buah hati tak kunjung pulang.

Sementara kau tahu: "Ibu-bapak tak mencari-cari onggokan uang kirimanmu...tetapi ibu-bapak mencari-cari keberadaanmu dan kebersamaanmu"


[3] Tinjauan Maslahat dan Madharat

Betul sekali jika dikatakan: 'Mudik lebaran tidak ada contohnya di masa salaf', tapi apakah segala yang tak tercontohkan oleh salaf mengartikan wajibnya ia bernama 'bid'ah' secara syar'i? I don't think so...but if you think so...I still don't so....so?

So, kita juga perlu menimbang perkara ini dari segi maslahat. Sebenarnya sudah tersirat di atas, bahwa mbah-mbah dan segenap kerabat akan tenggelam dalam rindu jika anak negeri tak kunjung pulang. Dan SMS, telepon, e-mail bahkan rekening di masa-masa lebaran tak mengobati kerinduan bunda pada kandung. 

Belum lagi jika kita bertanya: 'apakah semua adat dan tradisi suatu negara yang tak tercontohkan oleh salaf langsung dihakimi bid'ah?'. Dan ini berkaitan dengan maslahat pula. Betapa mungkinnya si anak akan tersiksa batin di rantau mengingat ortu di kampung berlebaran dengan keluarga sementara ia tetap ghaib di kampung. Menimbulkan madharat baru berupa perasaaan sedih?


Tapi, ada beberapa simpulan:

[1] Bagi yang final menghakimi bahwa mudik khusus sebelum lebaran itu bid'ah , maka : jangan mudik sebelum Ied Al-Fithr. Karena bisa terkena dua macam dosa: 1. Dosa melakukan bid'ah, 2. Dosa melakukan sesuatu yang dianggap terlarang tapi tetap melakukannya. Gimana?

[2] Bagi yang bingung perihal bid'ah atau tidak, tinggalkan kebingungan dan tinjau perkara dari segi maslahat dan mafsadatnya.

[3] Bagi yang final menghakimi bahwa mudik adalah perkara murni muamalah yang belum menyentuh ibadah sehingga hukumnya boleh, maka go ahead: buapak dan nyak menunggumu.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/431441776897213

Thursday, August 9, 2012

Pulang Kampung II

oleh Hasan Al-Jaizy

Seperti yang sebelumnya dari tulisan 'Pulang Kampung', kita akan berbicara tentang apa yang berkaitan dengan Mudik menjelang lebaran.

Siapapun yang merantau atau pergi meninggalkan kampung halamannya, akan merindukannya. Kampung halaman. Kampung = besar, umum dan mencakup banyak rumah dalam satu daerah. Halaman = kecil, khusus dan hanya mencakup satu rumah. Perantau akan merindukan daerah, juga rumah.

Manusia perantau biasanya [atau hampir selalunya] lebih maju dibanding manusia pemukim asli di suatu negeri. Bagaimana tidak? Perantau menginjakkan kaki di negeri orang dengan berani dan belajar berpengalaman; sementara pemukim asli hanya bisa menginjakkan kaki di tanah sendiri. Itu pun terkadang kakinya diinjak oleh pendatang. Dan anehnya, ia rela terinjak meski statusnya tuan tanah atau tuan rumah. Apakah ini menunjukkan ketidakmajuannya ia? Tentu saji!

Tidak ada istilah 'pulang kampung' untuk pemukim asli. Istilah tersebut hanya milik perantau, adventurer, dan musafir. Para ulama zaman dahulu safar bermil jauhnya demi ilmu; meninggalkan kampung dan halaman. Dan sebagian mereka, ketika pulang kampung, mereka menjadi pembangun negeri dengan ilmu dan teori maslahat yang mereka tebar. Itulah sebaik-baik hasilan perantau; ketika balik ke kampung, ia harus bawa oleh-oleh yang bermanfaat. Jangan seperti kebanyakan orang sekarang, minta oleh-oleh berupa bahan pemenuh jamban saja. Seakan ilmu bukanlah oleh-oleh.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/428227433885314

Rindu Kampung...Tabiat Perantau

oleh Hasan Al-Jaizy

Rindu Kampung...Tabiat Perantau 

Kampung halaman manusia adalah cinta pertamanya; sebagaimana ibu kandung adalah cinta pertamanya; selagi ibu tiri mitosnya belum tentu cinta padanya. Manusia, yang nge-brojol di kampungnya, yang kemudian tumbuh di sana, lalu dewasa merantau ke lain negara...bagaikan tanaman yang terbibit di suatu tanah, lalu tumbuh merekah, namun ketika membesar dicabut dan dipindah ke tanah lain yang berbeda.

Bagimu kasidah dari Mas Abu Tamam:

نقل فؤادك حيث شئت من الهوى ****** ما الحب إلا للحبيب الأول
كم منزل في الأرض يألفه الفتى ****** وحنينه أبدا لأ ول منزل

"Palingkanlah hatimu pada siapapun mahumu kau cinta
tiadalah cinta kecuali kembali untuk cinta pertama
Betapa banyaknya rumah di bumi dikunjungi oleh si pemuda
dan cinta/sayangnya selamanya untuk rumah pertama"

Begitu pula kampung, akan merindukan anak kelahirannya. Coba kamu perhatikan orang-orang 'ndeso' itu menjelang lebaran, sebagian mereka akan menanyakan 'Paijo wes teko po rung?' atau bahasa semacamnya. Mbah Kakung, Mbah Putri, PakLik, PakDhe, BuLik, BuDhe, sampai yuyu sungai menyambut kedatangannya. Itulah tabiat kampung; tabiat yang atmosfirnya sulit kau dapatkan di kota besar, seperti kota yang mengalir di tubuhnya WC terpanjang itu.

Bahkan negeri ini tabiatnya merindukan para perantau yang membela negeri. Seperti pemain bulutangkis di Olimpiade misalnya, ketika ia menang, maka bandara akan disemuti oleh pendukung mengucapkan selamat dan semacamnya. Dan jika ia kalah, semua orang misuh-misuh dan 'telur busuk' tiba-tiba menjadi laku.

Tuesday, August 7, 2012

Pulang Kampung I

oleh Hasan Al-Jaizy

Yaitu pulang ke kampung. Itu maksud umumnya. Maksud khususnya adalah mudik; terkhusus beberapa hari menjelang lebaran. Dahulu, rasa-rasanya istilah 'mudik' atau 'pulang-kampung' begitu spesial di hati saya. Namun sekarang istilah tersebut tidak membuat getaran hati lagi; selayaknya dahulu.

Atau mungkin karena beberapa tahun terakhir ini saya tinggal di samping orang tua? Bisa jadi. Karena perbedaan itu begitu terasa. Semasa remaja dahulu [dan sekarang pun masih remaja], jauhnya raga ini dari elusan orang tua karena harus 'nyantren' atau 'ngabdi' di luar provinsi atau bahkan luar pulau; menghadirkan rasa-rasa menggigit sebelum liburan.

Kala itu, di saat semua manusia pulang kampung ke desa, saya justru pulang kampung ke kota. Orang-orang desa biasanya akan menyebut saya, 'Alah, belagak kota lu! Aslinya juga ndeso.' Ah, biarkanlah mereka mengekspresikan sedikit kekecewaan mengapa mereka tidak terlahir di kota. Toh, mau asli desa atau kota, ujung-ujungnya kuburan juga.