Showing posts with label Membaca. Show all posts
Showing posts with label Membaca. Show all posts

Monday, January 28, 2013

Islamic Book Fair 2012 = Kuburan Keramat II


oleh Hasan Al-Jaizy

Islamic Book Fair 2012 = Kuburan Keramat II

Hari itu, semua teman sekelas saya terlihat ceria sekali. Dari yang biasa tidur di kelas, menjelang jam pembagian uang, ia tegak dan sigap. Jangan-jangan itu saya sendiri. Kita pun ke maktabah [perpustakaan], tempat di mana pesangon 2 juta itu dibagi-bagi.

Dan entah siang itu atau esoknya, tapi sepertinya siang itu juga, saya berencana ke IBF. Sebelumnya, saya mencari teman perjalanan yang juga berencana mau ke sana siang itu. Ternyata sahabat saya yang master hurup F dan P ini berencana sama. Kalau begitu, siang ini kita akan berdua ke IBF. Sebelumnya, saya harus mengunjungi rumah kosnya terlebih dahulu. Kita makan bareng di sana.

Maka, pergilah kita berdua. Naik Busway. 

Maka, sampailah kita berdua. Turun Busway.

Maka, berjalanlah kita berdua. Menjauhi Shelter Busway.

Maka, sampailah kita berdua. 

Pengunjungnya banyak juga. Kita berdua keliling-keliling. Sahabat saya ini rupanya selain mencari beberapa kitab Arab, ia mencari beberapa kitab terjemahan bidang Aqidah/Tauhid buat kurikulum di sekolah yang dahulu ia belajar di sana. Dia sudah menjadi 'tokoh' kecil di daerahnya. 

Friday, January 11, 2013

Teruslah Membaca Kitab, Kawan


oleh Hasan Al-Jaizy

Berkata penyair padang pasir:

نعم المحدث والرفيق كتاب .... تلهو به إن خانك الأصحاب 

لا مفشياً للسر إن أودعته ..... وينال منه حكمة وصواب 

Sebaik-baik pembicara dan teman adalah kitab
kau terhibur dengannya meskipun
teman-teman telah khianatimu

Ia tidak menebar aibmu jika kau
titipkannya padanya
Kau [justru] mendapatkan darinya
hikmah dan kebenaran

BUKAN seorang pembaca yang baik jika ia tidak dapat pengaruh apapun dari apa yang ia baca.

Thursday, December 27, 2012

CAT : [75] "BELILAH BUKU ORIGINAL!"


oleh Hasan Al-Jaizy


Mas Eko Kopral [tanpa tag - takut mengganggu notif] mengatakan sesuatu yang bisa menjadi topik panjang dari pembahasan:

"Tidak usah bangga sudah punya usaha bisnis mandiri yang sukses kalau masih pake windows bajakan, dan tidak perlu mencari-cari keringanan agar usaha bisnisnya boleh pakai windows bajakan."

Boleh atau tidak jika dikiaskan dengan cerita ini:

Seorang pelajar tiap hari membaca buku, baik itu buku elektronic semacam PDF, atau buku

Tuesday, December 25, 2012

CAT: [68] "METODE MEMBACA BUKU"


oleh Hasan Al-Jaizy


Sebagian orang -atau bahkan mayoritas manusia- kesulitan dalam mengkhatamkan sebuah kitab. Entah itu kitab berukuran sedang atau berjilid-jilid. Sebenarnya, itu juga problematika saya. Tapi, setidaknya, di sini saya hendak menyampaikan sesuatu yang insya Allah kalau dijalani dengan baik, akan menuntaskan harapan lama. 

Sebelumnya, tidak perlu Anda ketahui bahwa karakter saya dalam membaca adalah merunut dari awal. Musti rapih dan tertib. Saya tidak suka loncat-loncat. Tapi, Anda tidak perlu tahu itu. Makanya, saya tidak pernah memberitahu itu pada orang lain.

Nah, karakter seperti ini -runut, tertib dari awal-, meskipun zahirnya terkesan positif dan baik, tetapi berpotensi terjegal kendala. Apa kendalanya? Putus di tengah jalan, entah karena bosan, atau tertarik dengan buku lain, atau lainnya. Putus di tengah buku adalah problematika banyak

CAT : [64] "Ctrl C - Ctrl V VERSUS Rewrite"


oleh Hasan Al-Jaizy


Keduanya sama-sama COPAS, jika copas dimaknai 'nukil'. Dan nukil berasal dari bahasa Arab, yang bermakna 'dipindahkan'. Menukil, dalam bahasa Indonesia, bermakna 'memindahkan'.

Tulisan ini, selain penulisnya ingin menjabarkan pandangannya tentang copas vs rewrite/retype, ditujukan pula sebagai tanggapan atas sebuah foto atau status-status yang mengatakan:

"Para ulama, juga COPY-PASTE ilmu ayat, hadits, faedah melalui para sahabat dll"

-------------------------------------------------------------

Ctrl C dan V adalah cara termudah. Kita tidak layak sebenarnya menuding orang 'bermudah-mudah' karena ia hanya mengandalkan Ctrl C dan V. Seseorang dibebani berdasarkan

Tuesday, December 18, 2012

CAT : [40] "BELILAH BUKU BAGUS MESKI MAHAL!!!"


oleh Hasan Al-Jaizy


Dulu, ketika saya masih muda dan seorang mahasiswa [dan saya masih muda dan juga mahasiswa], jika ingin membeli kitab, lebih suka pergi ke toko yang menjual kitab-kitab murah. Alasannya: ekonomi. Bahkan dulu jika ingin punya kitab baru, saya pergi ke perpustakaan kampus, meminjam kitab sekian hari, lalu dicetak ulang oleh perusahaan fotokopi. Intinya sama: jadi kitab. Dan itu tingkah mayoritas mahasiswa.

Tapi, semakin kemari -alhamdulillah- semakin nyadar. Nyadar apa?

Tahun kemarin, bifadhlillah, Allah memberi kesempatan menyimak kajian semacam daurah

Saturday, December 8, 2012

Semangat MEMBACA! : [5] TIPS 2: "BACALAH BUKU YANG SESUAI/MUDAH TERLEBIH DAHULU!"


oleh Hasan Al-Jaizy

Langsung saya beri contohnya:

Ilmu Ushul Fiqh bukanlah yang mudah dikuasai. Butuh waktu berjenjang-jenjang hingga menguasainya. Dan menguasainya pun tidak mungkin dengan bahasa selain bahasa Arab. Meskipun Anda memiliki 20 buku Ushul Fiqh -baik terjemahan maupun karya pribumi- dan tuntas membacanya, tetap saja Anda belum menguasainya. Kenapa? Karena materi Ushul Fiqh terbesar adalah perihal dilalah lafdziyyah, yang membutuhkan bahasa Arab. Bukan berarti merendahkan pelajar yang belum dikaruniai kemampuan membaca kitab Arabic, namun, ini sebagai contoh saja.

Syaikh Sa'ad bin Nashir Asy-Syatsry, dalam Syarh Al-Waraqaat tahun ini, menjelaskan, "Sebagian dari manusia mengatakan, 'Ilmu Ushul Fiqh itu sulit dan berat.' Sehingga mereka enggan

Friday, December 7, 2012

Semangat MEMBACA! : [4] BACALAH BUKU YANG ANDA SUKA [c]


oleh Hasan Al-Jaizy

Setelah di 2 status sebelumnya kita membahas tentang cover, judul, penulis, font serta kertas, kini kita beralih ke 2 sisi atau faktor lain yang membuat manusia menyukai suatu buku:

e. Penerbit

Nama penerbit juga memiliki pengaruh. Untuk kitab-kitab Arab, penerbit semacam Dar Ibn Al-Jauzy [KSA], Dar Al-Aashimah, Maktabah Rusyd adalah penerbit-penerbit elegan. Karena cetakannya bagus sekali. Penulis sendiri masih ngimpi beli kitab Nailul Author nya Asy-Syaukani terbitan Dar Ibn Al-Jauzy yang ber-17 jilid itu. Masih ngimpi karena harganya terlampau tinggi. Duh, malah curhat.

Bisa jadi seorang aktivis Ikhwanul Muslimin, misalnya, membeli buku terbitan Pustaka Al-Kautsar, bukan karena faktor apapun, melainkan karena penerbitnya se-ikhwan dengannya. Atau, seorang salafy, misalnya, membeli buku terbitan Darul Haq, bukan karena apapun, melainkan karena penerbitnya se-pemikiran dengannya. Ya itu hak masing-masing, toh.

Kembali ke penerbit kitab-kitab Arab. Ada penerbit namanya Dar Al-Fikr. Terbitan mereka rata-rata kitab kuning. Atau kadang kitab kuning yang diputihkan. Covernya sederhana. Font nya sederhana. Tidak ada kemewahan di dalamnya. Yang jelas: harganya pas untuk mahasiswa dan

Semangat MEMBACA! : [3] BACALAH BUKU YANG ANDA SUKA [b]


oleh Hasan Al-Jaizy

Setelah sebelumnya membahas cover dan judul yang menarik, kini kita membahas:

c. Penulisnya Yang Menarik 

Nah, ini juga variatif dan relatif. Menarik dari segi apa? Jika Anda suka membaca novel, maka Anda 'normalnya' suka dengan nama-nama seperti Fahri Asiza, Helvy Tiana Rosa, Gola Gong dan lain-lain. Bisa jadi Anda tertarik karena nama-nama tersebut sudah terlanjur familiar dan nge-pop [popular; bukan majalah Popular lho!] di telinga Anda. Bisa juga karena Anda sudah terlanjur jatuh cinta dengan gaya tulisan mereka.

Atau jangan-jangan dulu Anda penggemar Tatang S ya?

"Lho, Tatang S kuwi sopo, ndhes?" tanya Purnomo.

Itu, lho. Pengarang komik Petruk dan Gareng. Dulu, yang jual komik semacam itu di Jakarta adalah para abang-abang. Kalau di Jakarta, kosakata 'abang-abang' berarti penjual agar-agar dan mainan anak-anak keliling. Mereka biasa menggerakkan lonceng untuk meraup pembeli. Anak-anak Jakarta, sebelum jaman Internet dan HP, sering ngerubutin abang-abang.

Ada mungkinnya karena penulis tersebut memiliki daya tarik dari segi fisik. Seperti ketika

Semangat MEMBACA! : [2] BACALAH BUKU YANG ANDA SUKA [a]


oleh Hasan Al-Jaizy

Bacalah buku yang Anda suka. Itu yang pertama. Suka nya Anda bisa disebabkan beberapa hal atau sisi:

a. Cover Yang Menarik.
Cover memiliki pengaruh kuat dalam menjambak pandangan manusia. Sebagaimana ketika Anda berpakaian rapi, necis dan menarik, manusia akan melihat Anda dengan pandangan positif. Padahal bisa jadi Anda adalah seorang 'pengacara' [pengangguran banyak acara]. Beberapa orang pun nge-Habib demi pencitraan. Dengan cover yang shaleh, bisa meraup uang dan penghormatan. Katanya 'orang alim', 'keturunan suci' dan 'berilmu'. Ah, masa sih?

Atau lihatlah di lampu merah pertigaan Taman Makam Pahlawan Kalibata. Acapkali di sana bertengger beberapa anak muda [pemuda dan pemudi] memakai jas biru muda. Seolah mereka

Semangat MEMBACA! : [1] Muqaddimah

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa manusia bertanya perihal manhajiyyah membaca buku yang selamat. Banyak manusia -meskipun suka membaca buku- tetapi merasa tidak puas dengan apa yang telah berlaku dari pembacaan. Beberapa problematika:

a. Tidak konsisten membaca suatu buku. Terhenti di tengah perjalanan. Dan ini juga kadang terjadi pada penulis status ini.

b. Tidak konsentrasi dalam membaca. Ketika membaca Bab Jual Beli dalam kitab Fiqh, fikiran malah melayang ke rencana bisnis yang belum juga teralisasikan. Akibatnya, huruf, kata dan kalimat lewat terbaca, namun maknanya bubar dari perhatian. Seperti kadangkala manusia membaca Al-Qur'an. Membaca terus menerus, namun tadabburnya hilang dalam gerangan.

c. Ingin cepat sampai pada akhirnya atau habis segera. Dalam makna lain: tergesa-gesa.

Tuesday, December 4, 2012

CAT : [4] "HARE GENE? MASIH KEBET KAMUS?"


oleh Hasan Al-Jaizy

Pernah saya membuat sebuah status membahas dampak negatif dari malasnya tangan ngebat-ngebet buku kamus. 

[Sebentar: Ini khusus untuk pelajar yang ingin menguasai/mengerti bahasa asing. Pelajar adalah orang yang belajar atau mempelajari. Kalau seseorang bukan pelajar, lalu apalah dia!?]

Kamus adalah buku yang paling sering saya -pribadi- kebet dahulu. Dan sampai saat ini juga tidak jarang melakukannya. Dahulu, ketika awal-awal tertarik English, kamus English Hassan Shadily adalah teman tidur seranjang. Tiap hari kebat-kebet. Hingga buku yang tadinya sudah rusak dan hilang cover tersebut, tambah tak legit dipandang. Juga kamus Arabic di awal-awal mempelajarinya. Terjadi pula pada teman-teman.

Dahulu, barang semacam kalkulator yang bisa memberikan keajaiban berupa makna kata sekali klik adalah langka sekali. Pernah saya mencobanya. Alhasil: tidak suka. Tidak seru.

2012. Saya beberapa kali menguji beberapa kelas pelajar English. Terutama anak-anak SMP. Beri mereka kamus. Kemudian, mereka akan stress sendiri. Itu adalah hal terberat buat mereka. Kenapa? Karena di rumah tidak pernah membuka kamus. Lalu, kalau mau tahu arti dari sebuah kata, bagaimana caranya? Internet/Komputer!

Mungkin benar, masa ketika saya belajar bahasa asing itu ada kuno-kunonya juga. Masih suka kebat-kebet halaman kamus. Tapi, saya beruntung. Setidaknya, ketika buka kamus, saya tidak menjadi tertekan batin seperti anak-anak itu. Mudah sekali mereka menyerah. Itu baru English. Kalau mereka belajar Arabic lalu diminta membuka-buka kamus Arabic dan mencari banyak arti kata tertentu dari dalamnya, mereka akan jadi makhluk apa kemudian???

Tapi, ada satu alasan:

"Efisiensi waktu"

Atau: lebih enaknya: 'Pengiritan Waktu'. Alasan ini 'bisa' dibenarkan. Saya fikir, sah-sah saja. Ya, sah-sah saja jika seseorang menyandarkan diri pada 'kamus-tinggal-klik'.

Sebagaimana sah-sah saja seseorang menyandarkan diri pada 'Google'. Lalu salin+tempel.

Uniknya, biasanya yang seperti itu malah kelihatan 'ahli', 'jadi', 'pintar', dan 'menguasai'. Padahal? Padahal kebanyakan justru sebaliknya: 'tidak ahli', 'asal jadi', 'tidak membuat pintar' dan 'tidak menguasai'.

Kalimat 'Hare Gene Masih Kebet-kebet Kamus !?' menurut saya ya sama dengan kalimat 'Hare Gene Masih Belajar Ilmu Hadits !?' atau 'Hare Gene Masih Belajar Ilmu Ushul Fiqh!?'

Persamaannya begini:

--> Buka Buku Kamus? Udah ada yang lebih mudah dari itu dan benar. Kamus online, offline atau apalah ia berbentuk. Yang penting tinggal klik!

--> Belajar Ilmu Hadits? Semua hadits sudah ketahuan sahih-dhaif-maudhu'nya. Buat apa capek-capek belajar ilmu hadits!? Kita kan cukup tinggal menukil ini hadits dihukumi 'shahih' dan selesai.

--> Belajar Ilmu Ushul Fiqh? Udah ada fatwa online. Buku-buku fatwa banyak sekali. Cukup baca fatwa, maka hukum sudah jadi. Ikut sajalah. Efisiensi waktu, bro. Masih banyak ilmu lain yang lebih bisa kita konsentrasikan mempelajarinya.

Well well well...Anda buka buku kamus atau tidak...Anda belajar Ilmu Hadits atau tidak...Anda belajar Ushul Fiqh atau tidak...Anda beralasan efisiensi waktu atau tidak...saya ikut kaedah:

"Easy come easy go"
"Ma Sahula Majii'uh, Sahula Dzhaabuh"
"Yang mudah datang, mudah pula pergi"

It's your choice. Itu pilihan Anda masing-masing. Cuma nanti, kalau nyadar efek alasan yang katanya 'efisiensi' itu kurang menguntungkan, jangan salahkan kafilah yang berlalu jauh dan orang yang berusaha mencari penerangan. Namun jangan juga menjadi anjing menggonggong dan pencerca kegelapan.


CAT : [3] "SENGSARAMU INSPIRASI TUK SELAINMU"

oleh Hasan Al-Jaizy

Ini untuk orang-orang yang merasa dirinya sengsara. Kasihan sekali orang-orang semacam ini. Atau yang lebih kasihan adalah yang merasa paling sengsara, paling miskin dan paling menderita. Padahal ia hidup di negara aman. Ia tidak sedang dikejar hewan-hewan. Rumahnya tidak sembarangan digrebek Densus 88. Tetapi kenapa merasa paling besar ia punya kesengsaraan?

Padahl semua dari kita adalah orang kaya. Boleh kaya akan makna, tapi pastinya kaya akan fisik. Ada percakapan Haji Asnawi dan Suyuthi:

Haji Asnawi: "Ada apa, anakku?"

Suyuthi: "Pak Haji, hidup saya seolah paling sengsara. Saya kere sekali. Mau menikah dengan manusia, namun modal tidak ada. Mau beli laptop, namun uang tidak ada. Bayar kredit pun tak mampu. Mau beli baju pun tidak ada. Padahal saya pengen sekali membeli ketiganya: manusia, laptop dan baju. Tapi yang saya dapat malah gundukan puntung rokoknya Pak De Su'aid. Pak Haji, saya miskin sekali. Berikanlah solusi."

Haji Asnawi: "Baiklah, kamu bisa bahasa Arab, kan? Dan kamu suka baca kitab juga, kan? Lalu kamu mudah menghafal Al-Qur'an, Hadits dan matan-matan, kan?"

Suyuthi: "Yoi, Pak Haji."

Haji Asnawi: "Baiklah. Nanti saya doakan supaya Allah mencabut ketiganya dari dirimu: bahasa Arab, hasrat baca kitab, dan kemampuan menghafal. Saya doakan pula agar Allah mengganti ketiganya dengan manusia, laptop dan baju."

Suyuthi: "Wah, tidak bisa, Pak Haji. Sadis sekali. Saya ga mau kehilangan itu semua. Itu semua juga modal saya buat masa depan."

Haji Asnawi: "Baiklah. Saya memaklumi. Sekarang saya punya tabungan 300 juta. Itu bisa menjadi modal kamu nikah, beli buku segudang dan menambah nafsu baca bukumu. Saya akan serahkan 300 juta untukmu siang nanti. Gimana??"

Suyuthi: "Waaah, makasih Pak Haji! Senaaang!"

Haji Asnawi: "Tapi, ya ada syaratnya lah."

Suyuthi: "Wah, syaratnya apa itu, Pak Haji?"

Haji Asnawi: "300 juta itu sebagai bayaran tunai pembelian kedua matamu. Saya ingin membeli matamu. Kamu korbankan matamu saja lah demi 300 juta."

Suyuthi: "Yaaah, tidak mungkin juga. Waduh."

Haji Asnawi: "Berarti, mahalan mana: penglihatanmu atau 300 juta?"

Suyuthi: "Ya mataku lah, Pak Haji."

Haji Asnawi:

"Nah, di situlah bagaimana kau harus merenung tentangnya. Kamu punya mata dan anggota tubuh lainnya masih berfungsi dengan baik. Jika satu saja dari matamu cacat, maka bagimu itu lebih mahal dari 300 juta. Sementara sekarang pun kau mengeluh miskin; sedangkan sebenarnya sedari lahir kau sudah diciptakan kaya dan memiliki kekayaan. Lihat sekujur tubuhmu. Lihat kakimu, seberapa kilo sudah digunakan untuk berjalan. Lihat tangan dan jemarimu, seberapa banyak tulisan yang kau buat yang bisa menjadi modal untuk dunia dan akherat? Lihat lisanmu, seberapa banyak ia bisa memberi manfaat?

Ketika pahitmu, jangan kiaskan pahitnya dengan manisnya hidup orang lain. Karena ketika kau nanti hidup dalam kemanisan, kau pun tak ingin orang berpahit hidup menuntut dirimu untuk memaniskan hidupnya.

Tetapi, jadilah orang yang memberi kemanisan pada selainnya meski hidup sendiri ditakdirkan pahit. Jadikan pahitmu adalah manis untuk orang lain. Betapa banyak orang yang bermanis hidup namun memahitkan hidupnya dan hidup orang lain. Jadilah manusia yang berguna dengan kesederhanaan kekayaan yang kamu miliki.

Jangan jadikan kesulitan hidup alasan untuk tidak memberi kebaikan pada manusia. Jika punya harta, berikan secukupnya. Jika punya ilmu, berikan sebanyaknya. Jika tidak punya keduanya, berikan jasa. Jika tidak punya harta, ilmu dan jasa, berikan mereka salam dan doa. Jangan pernah ingin hidup jika tidak memberi manfaat pada manusia. Karena terkadang hewan pun memberi manfaat pada manusia."

Suyuthi pun merinding. Sementara anak perempuannya Haji Asnawi mengintip dari tirai kamar.

Mengintip-intip status orang. Rupanya ia terinspirasi dengan status ini. Ehm.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/469925333048857

CAT : [2] "AROMA BUKU = MOTIVASI MEMBACA"

oleh Hasan Al-Jaizy

Nah, karena ketika kecil itu membaca berita dengan lagak presenter berita di TV, maka jadilah ia menjadi salah satu motivator terkuat untuk terus membaca dan bisa melagukan bacaan.

Aroma yang sangat mengingatkan saya pada masa kecil adalah aroma beberapa koran [berarti: tidak semua koran], aroma kitab kuning yang sudah lama tersimpan.

Sekarang, bukan zamannya beli koran. Karena tiap kita sudah punya HP, yang dengannya bisa tersambung ke dunia maya dan melihat-lihat hal-hal juga membaca banyak-banyak.

Aroma beberapa kitab kuning sangat membangkitkan syahwat dan nafsu membaca. Terlebih jika kitabnya sudah lama disimpan. Aromanya semakin brutal! Sekarang kiaskan dengan ini:

Seseorang yang di masa kecilnya tinggal di desa dan tinggal serumah dengan kandang kerbau, misalnya. Lalu di masa dewasa, ia tinggal di kota. Kelak, ketika ia mencium bau kotoran kerbau

Monday, December 3, 2012

CAT : [1] "AROMA BUKU = MOTIVASI MEMBACA"

oleh Hasan Al-Jaizy

Anda suka membaca buku atau majalah atau koran?
Jika Anda suka membaca salah satu dari ketiganya, atau salah keduanya atau salah semuanya, apakah Anda suka menciumnya?

Sejujurnya saya pribadi sejak kecil sangat suka mencium buku dan koran. Lebih-lebih majalah edisi terbaru. Baunya enak. Ketika bapak saya masih muda dulu, saya selalu melihat beliau membaca tiap hari di atas kursi. Kakinya diselonjorkan ke kursi lain. Tubuh bagian atas disenderkan ke belakang. Yang posisi itulah membuat saya jadi ikut-ikutan membaca secara alamiah.

Buku-buku yang beliau baca banyak sekali. Kadang selagi beliau membaca, beliau menumpuk beberapa buku di sisinya. Zaman itu kami punya komputer, namun warna pancaran layarnya masih hitam putih atau agak kehijauan. Kalau sekarang masih seperti dulu [no modem, no HP, no netbook, no no no], mungkin sudah beratus hingga beribu buku

Saturday, December 1, 2012

Mengenang Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy

Jika seseorang bersahabat dengan buku, maka ia beruntung. Karena ia mendapatkan sahabat yang bisa membuatnya menambah maklumat, membuatnya tunduk, tanpa meminta imbalan materi ataupun jasa dari semua maklumat dan ketertundukan kepala. Jika seseorang membawa buku kemana-mana, maka ia akan menemukan buku tetap setia bersedia menjadi teman ketika tidak ada teman. Menjadi teman di masa sepi. Jika buku menceritakan padanya cerita lucu, ia menghiburmu. Jika buku menceritakan tentang perkara ngeri, ia menakutkanmu. Jika buku memberitakan sesuatu di negara nan jauh bermil-mil sana, terbayang di benakmu gambaran sesuatu. Namun, hal-hal ajaib tersebut tidak akan kau dapatkan di satu jenis buku. Yaitu: Buku Gambar.

Jadikanlah semua buku adalah teman yang seolah benar-benar bicara padamu. Karena ada beberapa dari manusia menjadikan semua buku layaknya adalah buku gambar. Hanya namanya saja buku gambar, tetapi ketika membacanya, tidak tergambar di benak pembaca apapun. Siapakah beberapa manusia itu? Yaitu mereka yang enggan membaca buku, meskipun sadar bahwa membaca buku memiliki kepentingan sendiri dalam hidup dan bahkan bisa membentuk karakter seseorang. Namun, baginya, semua buku berisikan kosong laksana buku gambar. Bayangkan jika ada 1000 buku gambar di rak rumahmu, apa faedah dari membaca

Monday, November 19, 2012

BULUGHUL MARAAM

oleh Hasan Al-Jaizy

Seperti membaca, menulis juga bukan tujuan akhir. Membaca adalah wasilah besar tuk dapatkan maklumat. Menulis adalah wasilah besar tuk sebarkan maklumat. 

Apa maklumat itu? Maklumat berasal dari bahasa arab, yang berarti 'sesuatu yang diketahui' atau 'pengetahuan'. Ada juga kita kenal kata 'maklum'. Makna maklumat dan maklum sebenarnya serupa. Yang membedakan adalah penggunaan. Maklum lebih condong kepada maksud 'wajar, biasa atau lazim'. Sementara maklumat condong pada 'pengumuman, pemberitahuan hingga ilmu'. Praktek penggunaan kalimat:

MAKLUMAT

"Maklumat ini saya sampaikan agar

Saturday, November 10, 2012

Petromak Di Langit Gulita

oleh Hasan Al-Jaizy

Manusia yang sekadar bisa membaca kitab terjemahan dengan niatan belajar dan berusaha beri yang ia dapatkan dari ilmu dengan ikhlas, itu jauh jauh jauh sekali lebih baik dibanding orang yang mampu membaca kitab aslinya (arabic) dengan baik namun kemampuannya itu justru menjadi fitnah bagi dirinya dan umat. Bagi dirinya karena sombongnya, tau ujubnya, atau ketidakikhlasannya. Bagi orang lain karena pembenaran terhadap penyimpangan, atau jidal tanpa faedah, atau menikam ulama, atau menginjak awam dan lainnya.

Membaca buku bukanlah tujuan. Tetapi mengambil faedah, menerapkan dan menyiarkannya adalah tujuan. Siapa yang menjadikan membaca sebagai tujuan, ia bagaikan menjadikan gelar sebagai pencapaian akhir, bukan service terhadap umat. Karena itulah, orang yang hanya ingin kelihatan 'banyak baca buku' entah dengan cara apapun, Anda akan melihat mereka sebenarnya tidak tahu apa yang dibaca dengan baik. Atau bahkan nihil. Karena tujuan akhirnya: membaca, bukan mengambil faedah. Sama juga yang hanya ingin dapat gelar. Kau akan laksana melihat pepesan kosong. Tidak berisi. Bobotjya hanya bungkus yang ditumpang tindih.

Orang-orang yang sebenarnya tidak suka membaca tapi ingin dipandang suka membaca

Friday, November 2, 2012

Tidak Bisa Ngarab?

oleh Hasan Al-Jaizy

Anda tidak bisa berbahasa Arab?
Anda tidak bisa membaca kitab?

Jangan bermuram durja ketika mengaca diri dan melihat bahwasanya, 'wah, gue ga bisa berbahasa Arab, lho.' Ketahuilah, bahwa mempelajari dan menguasai Bahasa Arab itu tidak wajib. Tidak wajib. Tidak wajib kecuali:

--> sebagian dzikir dalam shalat dan mana Surat Al-Fatihah. Juga sebagai bonus tambahan ayat-ayat lain.
--> bagi yang BERKONSENTRASI di ilmu syariah.

Jangan minder ketika di pengajian, ternyata teman-teman bisa memahami bahasa Arab. Karena mungkin mereka diberi rizki lebih, yaitu pendidikan di pondok dulu, atau pendidikan kampusnya, atau mengenal bahasa Arab lebih dahulu. Tapi minderlah ketika punya teman dekat, kenal bahasa Arab bareng, satu pengajian, dan bedanya:

Sunday, October 7, 2012

Buku Bajakan, Mahasiswa dan Pulsa

oleh Hasan Al-Jaizy

Mahasiswa tidak punya buku? Jadi mahosiswo sajo. Maka jadilah mahasiswa masa kini, biarpun tidak berprestasi, yang penting punya pulsa dan buku. Pulsa harus yang seminim-minim pengeluaran untuknya, namun semax-max penggunaan dengannya. Adapun buku, biar aspal [asli palsu: asli tulisannya, palsu cetakannya] yang penting ada dan 'gue-punya'. Jadi, masalah buat lo?

Fenomena bajak-membajak buku demi kebajikan dan kemaslahatan bersama itu sangat ada. Semakin subur beranjak sepadannya kesuburan artikel dan dokumentasi online. Faktor itu banyak. Salah satunya adalah keinginan keluar modal sedikit, namun bisa meraih intinya. Salah duanya adalah harga buku original yang kelihatannya sengaja 'dinaikkan' sehingga mahasiswa mengatakan 'eman-eman, gan...ada gak yang lebih murah dari Hit? Yang lebih aspal banyak!'.

Kita kupas satu-persatu faktor-faktor itu: