Showing posts with label Ilmu. Show all posts
Showing posts with label Ilmu. Show all posts

Wednesday, July 17, 2013

Mental Miskin dan Bodoh

oleh Hasan Al-Jaizy



Jika di sana ada yang disebut 'miskin', maka pastilah ada lawannya: 'kaya'. Pula jika ada yang disebut 'bodoh', maka pastilah ada tandingannya: 'pintar'. Karena hampir segala sifat tak bisa diketahui kecuali karena ada lawan dan tandingannya. Seperti: baik dan buruk, atau sehat dan sakit, atau hitam dan putih.

Orang miskin dan bodoh tergolong orang rendahan. Jika engkau tak terima ku katakan mereka 'rendahan', maka apalah yang kau inginkan? Kau ingin katakan mereka berkelas tinggi, sementara orang kaya dan pintar berkelas rendah? Jika iya, maka itu akibat dari memiliki kadar otak yang rendah.

Mental kebanyakan orang miskin adalah culas, malas, kurang pandai usaha, dan sebagian lain: curang, sehingga tidak berkah sama sekali usaha mereka. Orang-orang miskin seringkali mendengki pada orang-orang kaya; padahal mereka tidak ada urusan dengan kaum miskin. Namun, karena kegagalan hidup kaum miskin, melihat kaum kaya yang sewajarnya menikmati kekayaan mereka, dengki membara-bara. Ingin seperti mereka namun tak bisa. Seperti kata banyak orang, "Iri tanda tak mampu". Orang miskin sering menuntut orang kaya agar bermurah hati. Itu jika di depan. Di belakang, orang miskin sering mencaci orang kaya, entah karena pelit, atau karena dianggap tidak peduli rakyat kecil, atau lainnya. Dasar dari semua itu sebenarnya iri dan ketidakmampuan.

Mental miskin juga adalah mental mengeluh. Miskin kekuatan jiwa, sehingga mendapat kesulitan sepetak, keluhannya capai sehektar, mendapat musibah sejengkal, keluhannya hingga selangkah. Mengeluh, kemudian berusaha sedikit, gagal mendatangi, mengeluh lagi, lalu mengutuk-ngutuk kondisi ketika melihat orang kaya sedang menikmati keutamaan hidupnya.

Mahasiswa Pelayar Comberan!

oleh Hasan Al-Jaizy

Budaya ngospek para plonco (calon maba yang sedang ikut kegiatan pengenalan terhadap kampus) dengan tarekat-tarekat HINA, meskipun atas nama 'Pengenalan Kampus' atau semacamnya, adalah budaya mahasiswa-mahasiswa rendahan yang sedang kuliah di kampus rendahan. Mahasiswa dan kampus yang menjunjung tinggi nilai pendidikan, moral dan kualitas didikan, tidak akan rela calon-calon penghuninya dihinakan, oleh mereka sendiri.

Syukur, tidak pernah di kampus saya ada planca-ploncoan. Bagi kami, hanya mahasiswa bodoh yang seperti itu. Menjadikan para maba terlihat bodoh, padahal mereka sendiri juga tergolong bodoh.

Selain itu, para mahasiswa yang merasa senior dan mengenal kampus, lagaknya seperti sudah layak dianggap senior dari segi kualitas. Mirip mayoritas mahasiswa pendemo; rata-rata mereka itu yang hobi tidur di kelas, main game di lingkungan kos, begadang dan hidup kesehariannya cuma bernilai lawakan rendah saja. Dan, menjelang hari ospek, mereka tiba-tiba menjadi orang paling sibuk dan paling terlihat seolah ingin 'mendidik'.

Andai memang mereka belajar sungguh-sungguh dan punya ilmu tinggi, takkan rela mereka mencoret-coret muka para calon mahasiswa, menyebut mereka binatang, menjadikan mereka serendah binatang, meminta memakan hal yang tak layak dimakan, memaksa mereka memakai aksesoris yang memicu gelak tawa dan banyak lagi. Para mahasiswa senior yang bodoh senang dan girang melakukan ini. Dan jika dosen-dosen mereka menjadikan hal semacam ini hal yang wajar, biasa, atau malah hiburan, maka...begitulah. Like dosen like mahasiswanya.

Halo? Apakah Saya Ada? 3

oleh Hasan Al-Jaizy

Saya agak khawatir jika memerangi Syi'ah itu hanya karena trend. Yakni: ketika teman-teman dumay nya riuh mempermasalahkan Syi'ah, ikut-ikutan berkoor.

Mentalnya ada mirip dengan kasus maling di keramaian stasiun. Ketika ada yang teriak maling, serempak pada ikut-ikutan. Padahal tahu jelas kasusnya pun tidak. Syukur jika ada informan yang jujur. Namun, rata-rata pengunjung stasiun menang di teriak ramai-ramai dan mencelanya. Lalu memukul senafsu-nafsunya saat sudah ketemu 'maling'nya.

Mentalnya ada mirip juga dengan kebiasaan masyarakat yang ketika para jurnalis membentangkan berita hot, langsung para pemirsa pada angkat bicara. Semua mengutuk. Setelah berita hot habis, para pemirsa tenang kembali. Lupa semua itu. Nunggu hal lain yang akan menjadi masyhur atau trend.

Saya agak khawatir jika memerangi Syi'ah itu hanya karena ikut-ikutan, sehingga secara normal enggan menggali pengetahuan tentang Syi'ah. Menunggu informan. Atau hanya ingin meramaikan saja.

Monday, July 15, 2013

Pembagian Ulama Umat dan Siapakah 'Ulil Amri'?

DAKWAH kepada Allah dan menyampaikan sunnah Rasul-nya merupakan syiar bagi golongan yang beruntung (para ulama) dan para pengikutnya, sebagaimana firman-Nya:

قُلْ هَٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

"Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik"." [Q.S. Yusuf: 108]

Yakni mereka yang menyampaikan apa-apa yang datang dari Rasulullah berupa penyampaian kata-kata (dan maknanya), perbuatan dan ketetapan beliau. Berdasarkan hal itu, ulama dibagi menjadi 2 golongan:

[PERTAMA] = AHLI HADITS

Mereka adalah pemelihara hadits yang menjaga dan memelihara, serta mengamalkannnya. Mereka adalah para imam dan pemuka-pemuka agama Islam yang memelihara pondasi-pondasi agama dan ajarannya dari penyelewengan dan perubahan isinya. Mereka adalah golongan yang disebutkan Imam Ahmad dalam khutbahnya yang terkenal ketika membantah golongan Zindiq dan Jahmiyyah.

[KEDUA] = AHLI FIQH

Wednesday, February 6, 2013

Pendidikan Kuburan Keramat

oleh Hasan Al-Jaizy

Dulu, kuliah di Madinah, Mekkah, Riyadh, Yaman, bahkan di lipia, adalah sebuah kejarangan dan tantangan. Banyak pelajar berhasrat, namun takdir untuknya tak semuanya tersirat. Sehingga lulusan sana adalah orang2 yang tahu agama, melebihi pengetahuan di atas rata-rata.

Itu masih hingga sekarang. NAMUN, kadarnya tak sewajar dahulu. Pelajar ilmu syariah akademik sekarang toh banyak yang 'ga jadi'. Mudah2an bukan termasuk saya dan kawan-kawan sekalian. Sekarang, semua orang bisa belajar ilmu syariah. Baik berbayar atau gratis.

Jikalau Internet benar-benar dimanfaatkan maksimal, bukan tidak mungkin anak pengajian rutin mingguan 2x, bisa setara pengetahuannya dengan anak-anak akademik formal. Ini jika kita tidak melihat dari segi kapasitas penguasaan ilmu alat mereka (Arabic, Ushul Fiqh dst). Tapi, Internet kini benar-benar curahan rahmat sekaligus...

fitnah

Satu sisi, saya pribadi senang sekali dengan kemajuan kawan-kawan Jogja yang dengan kegigihan, keteraturan, keseimbangan dan 'konspirasi' yang rapi bisa menjadikan generasi yang ngampus ilmu dunia, tapi bisa juga ngaji ilmu akherat. Sehingga, lahirlah para asaatidzah yang tadinya tak mempunyai latar belakang pondok pesantren atau pedepokan religius. Ini karena kegigihan dan konspirasi yang patut diacungi jempol dan dicontoh.

Namun, di sisi lain, saya menerawang sesuatu ke depannya. Sebelum saya jabarkan, perlu ditekankan bahwa tiada gading yang tak retak. Satu sisi Internet adalah rahmat, satu sisi Internet bertaburan kualat. Satu teori dan metode boleh keren di masa kini, namun di masa depan bisa ditinggalkan.

Begini:

Wednesday, January 30, 2013

Wakakakak...Ngustad Kok Masih Bujang?

oleh Hasan Al-Jaizy


Wakakakak...Ngustad Kok Masih Bujang?

Atau, beri judul lain: Masih Bujang Kok Ngustad?

Untuk membalikkan 'ejekan' di atas, cukup dengan kalimat: "Anda yang sudah tidak membujang kok belum bisa jadi ustadz?"

Dan jika ternyata ia adalah seorang ustadz, maka cukup dengan kalimat: "Anda yang sudah ustadz kok menertawai ustadz lain karena bujangnya?"

====================================

Berawal dari status sahabat saya malam ini, Ust. Zarkasih [tanpa tag], yang Jum'at kemarin mendapat peran berdakwah di mimbar hari Jum'at. Beliau sudah biasa khutbah Jum'at. Dan beliau masih 'single'. Bagi yang mau daftar, silahkan untuk tidak mendaftar ke saya; karena saya sendiri menutup pendaftaran, bagi diri sendiri, maupun bagi orang lain.

Nah, sahabat saya ini ditanya oleh seorang pegawai di kantor tempat masjid ia khutbah, "Anak sudah berapa, ustadz?"

Monday, January 28, 2013

Sebutan Faqih, Untuk Siapakah?

oleh Hasan Al-Jaizy


Fawaid 0027: "Sebutan Faqih, Untuk Siapakah?"

Saya akan memulai catatan kecil ini dengan sebuah hadits yang sudah lama sekali -alhamdulillah- saya hafal:

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

"Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan, maka Dia akan menjadikannya seorang Faqih dalam agama." [H.R. Bukhary (1/27), (4/103), (6/152) dan (9/125), Muslim (3/95), Ahmad (4/101), Ad-Darimy (230). Lihat: Jaami' Al-Ushuul fi Ahaadiits Ar-Rasuul, oleh Majd Ad-Diin Ibn Al-Atsiir, 3/8, Tahqiiq Syaikh Abdul Qadir Al-Arna'uth dengan Ta'liq dan Takhrij Syaikh Ayman Shalih Sya'ban, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah.] 

Hadits di atas adalah hadits PERTAMA yang saya hafal dalam mata pelajaran Hadits saat baru duduk di bangku Muthawassithah [setingkat SMP] kelas 1 di Pondok Pesantren Islam Al-Irsyad Tengaran. Guru saya kala itu adalah Ust. Naharuddin Syuhada -hafidzahullah-. Beliau lah yang mengajarkan saya beberapa hadits. Kami masih ingat ketika itu kitab hadits yang sangat sederhana, bersampul jingga dengan faedah yang semoga teringat selamanya.

Hadits ini sangat agung. Makna yang terkandung sangat patut direnungi; sehingga diharapkan menghasilkan motivasi ataupun iradah [kemauan] bagi pembaca yang belum menuntut ilmu syar'i sama sekali agar memulainya, dan bagi yang sudah menuntutnya -baru atau sudah lama- terus melakukannya hingga akhir hayat.

Sunday, January 27, 2013

Kerennya Ilmu Perbandingan

oleh Hasan Al-Jaizy

Ilmu paling keren itu ya ilmu perbandingan. Seperti ilmu perbandingan agama [Muqaaranah Al-Adyaan], atau ilmu fiqh perbandingan [Fiqh Al-Muqaaranah] atau lainnya kalau ada lagi. Kok paling keren:

Karena seolah-olah pelajarnya atau pegiatnya itu TAHU banyak. Tahu sana sini. Tahu ushul agama seberang. Tahu metode istinbath madzhab-madzhab. Nama yang cukup keren: Kristologi! Beuh. Lalu ada tulisan, Pak Fulan, pakar Kristologi. Keren sekali. Lalu, beberapa anak muda jadi ingin menyelami Kristologi karena 'kerennya'. Dalam bayangannya, kelak ia akan jadi orang besar dan tahu agama lain, seluk beluknya hingga mampu membantah hujjah agama lain.

Tapi, ngakaknya, ternyata ushul agama sendiri belebek-belebek. Ketika ditanya Rukun Islam dan Iman, mikir dulu. Ketika ditanya perkara lainnya yang dharury [yakni: yang tidak layak seorang muslim tidak tahu], jawabnya ngaco. Ditanya: "Allah itu ada di mana?"

Jawabannya malah: "Allah ada di mana? Allah ya ada di mana-mana!"

DAKWAHMU = SEDEKAHMU

Oleh Hasan Al-Jaizy

Dakwahmu = Sedekahmu

Jika merasa jahil [tidak tahu], maka itu bagus. Jika merasa masih standar atau kurang, maka itu ada bagusnya. Merupakan sebuah upaya tawadhu' adalah merasa diri belum seberapa memberi, belum banyak memiliki, dan belum hebat melampaui. Betapa banyak para masyaayikh dan asaatidzah yang mengatakan, "Saya hanyalah pencari ilmu [thalib]", bahkan mengatakan, "Saya hanyalah thuwalib al-ilm [penuntut ilmu yang kecil]."

Dan tak sekali dua kali mendengar seseorang berucap, "Ilmu saya masih cetek, ragu berdakwah disebabkannya. Lebih baik saya menjadi penyimak saja."

Amat disayangkan. 

Seorang muslim, selama dia merasa dirinya muslim dan selama dia memang muslim, telah Allah berikan kesempatan untuk berdakwah. Amat disayangkan jika seseorang merendah diri namun menafikan kesempatan yang terjulur di depan wajahnya. Mungkin ia berfikir bahwa berdakwah itu adalah seperti apa yang dilakukan para ustadz dengan ceramah, menulis kitab, atau seperti yang dilakukan para pencari ilmu yang pintar menulis status dan menjelaskan beberapa hukum.

Gambaran di atas benar. Namun, dakwah itu tidak hanya gambaran tersebut berupa! 

Jika seseorang copas sebuah ayat yang agung semisal ayat pertama surat Al-Ikhlas ke statusnya, lalu tekan post dengan niatan ibadah disertai harapan:

Pengangkatan Derajat Orang Alim

oleh Hasan Al-Jaizy


Fawaid 0025: "Pengangkatan Derajat Orang Alim"

Allah Ta'ala mengabarkan secara khusus tentang diangkatnya derajat orang berilmu dan beriman. Allah Ta'ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍۢ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌۭ

"Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." [Q.S. Al-Mujaadilah: 11]

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa Sallam- bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

"Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Al-Qur'an beberapa kaum dan Allah pun merendahkan beberapa kaum dengannya." [H.R. Muslim, no.817 dan Ahmad no.232]

Friday, January 25, 2013

Membangun Perpustakaan

oleh Hasan Al-Jaizy


Anda tidak bisa membangun perpustakaan pribadi dalam satu hari atau bahkan satu tahun. Tetapi, dimulai sejak Anda muda; membeli kitab satu persatu. Tiap mendapat uang saku ataupun gaji, sisihkan sekian persen untuk kitab. Lalu abadikan namamu di dalamnya. Baca meskipun tidak seluruhnya. Garis bawahi dan berikan ta'liq, komentar, tanggapan, ralat dan semacamnya dengan pensil[atau apapun]. 

Nanti, ketika Anda sudah menua, berusia 50 atau lebih, ketika anak-anak Anda sudah besar, ketika Anda sudah menjadi pengayom para murid, ketika Anda sudah menjadi murabbi umat, perpustakaan Anda tersedia. Dan semua kitab adalah milik Anda. Di tiapnya tertera nama, tanggal beli/diberi, tanda tangan dan tentu saja: tiapnya memiliki sejarah hidup Anda meski tak tertulis. 

Bisa jadi sekarang Anda memiliki sebuah kitab yang sulit dibaca, entah karena bahasanya yang begitu tinggi, atau karena memang Anda belum memiliki kapasitas. Tapi, seperti nasehat Ust. Wahyuddin Bakhtiar di tahun 2002, ketika saya mengawali masa SMA, jangan pernah kau buang kitab itu. Simpan! Karena suatu saat, kau akan benar-benar mampu membaca dan memahaminya. Percayakan itu.

Tak Kasih Tahu Step-stepnya


oleh Hasan Al-Jaizy

Tak kasih tahu step-step-nya:

[1] Tanam kecintaan atau fanatisme tersembunyi pada suatu golongan. Kemudian:

[2] Kritik pedas-pedas terus mereka yang belajar, mengamalkan dan mendakwahkan Sunnah, tapi lembek terhadap bid'ah dan pelakunya. Kemudian:

[3] Bongkar zallat dan kesalahan para asatidzah dari golongan itu. Kemudian:

[4] Mulai belajar kritik Al-Albany dan semacamnya. Bisa dimulai dengan sindir-sindiri dulu, not straight, tidak langsung. Tapi, kelamaan akan berani jika sudah 'merasa' cukup ilmu dan senjata pembantahnya. Jika Al-Albany sudah bisa dikritik, otomatis yang 'selevel' di bawahnya sangat lebih bisa. Kemudian:

[5] Telaah karya 3 mastero: Ibn Taimiyyah, Ibn Qayyim dan Ibn Abdul Wahhab. Pelajari sejarah hayat mereka dan karya-karya mereka. Untuk apa? Untuk mencari apa yang perlu dikritisi. Kalau ketemu, catat dan kumpulkan bahan bantahan. Atau pakai trik sebelumnya, boleh pakai sindir-sindir dulu, tidak langsung dan tidak sharih. Kemudian...

...kemudian...pertanyaan kita adalah, "Apakah benar kita mencari ilmu?"

Mungkin langkah-langkah di atas tak Anda lihat gejalanya pada manusia kini. Dan betapa banyak kini yang mencari ilmu. Tapi...

"Apakah benar kita mencari ilmu?"

Thursday, January 24, 2013

PINTER DIKIT dan MODERN DIKIT I

oleh Hasan Al-Jaizy


Sekarang, selain dituntut 'pinter dikit', ternyata kita kadang tertuntut untuk modern dikit. Kenapa dituntut pinter dikit? Karena zaman sekarang informasi itu bagaikan banjir tak bermusim. Maksudnya, karena tidak ada musimnya, jadi banjir terus. Tiap hari [pagi, siang, sore, malam] Anda bisa menikmati luasnya pemandangan dunia, baik dengan audio maupun visual. Kenapa tertuntut modern dikit? Karena Uwong ndeso saja sudah kenal HP bagus, sewajarnya uwong kuto harus lebih bagus lagi. 

Natijah Tuntutan Pinter

Di antara natijah tuntutan pinter dikit adalah menukil dengan menyebutkan sumber nukilah. Kalau Anda perhatikan buku karya modern, terutama yang berkaitan dengan Syariah [mencakup Aqidah, Al-Qur'an, Hadits, Fiqh, Akhlaq dll], kita mulai terbiasa melihat footnote di hampir tiap halaman. Cobalah Anda beli 5 buku yang semacam itu. Dikit-dikit, ada tulisan H.R. Bukhari, atau nama-nama kitab yang dinukil isinya. Baca buku semacam itu selama 1 bulan. Nah, di bulan kedua, beralihlah ke buku yang kering kerontang akan footnote. Isinya seolah-olah pendapat pribadi penulis, tanpa mengutip dari sumber lain. Anda akan merasa kekeringan. Kenapa? Karena terbiasa bermain di taman yang penuh bunga footnote. Dan ini adalah salah satu bentuk 'pinter dikit'; yaitu tumbuhnya benih kritis dan tidak cepat percaya. 

Monday, January 14, 2013

REALLY! JANGAN BACA INI! [2]


oleh Hasan Al-Jaizy


I

'Anda pernah sekolah? Jika pernah, saya tanya: apakah kita harus berterima kasih pada guru yang mengajari kebaikan pada kita?'

Anda jawab, "Tentu saja harus!"

'Tetapi, bukankah mereka sudah dibayar? Sudah digaji, bukan? Untuk apa berterima kasih lagi?'

Anda jawab, "Karena bayaran itu untuk upah upaya dan tenaga. Sedangkan berterima kasih itu di lisan saja, tidak berbentuk materi."

'Baiklah...kalau begitu pernah ikut majelis ta'lim or sumting like dad?'

Anda jawab, "Tentu saja pernah. Rutin malah!"

'Anda membayar ustadznya?'

Anda jawab, "Tentu tidak. Kan sudah saya beri Combantrin...lho?"

'Berarti gratis?'

Anda jawab, "Tentu saja gratis."

'Kalau begitu, mana yang lebih layak diucapkan terima kasih padanya, guru bayaran atau guru relaan?'

II

'Oh ya, Anda pesbukan?'

Kagum Pada Ulama


oleh Hasan Al-Jaizy

Kita akan terkagum pada ulama yang ahli dalam bidang Aqidah serta firaq [kelompok-kelompok] menyimpang, baik itu di zaman lalu maupun yang terkini. Mereka memiliki kekuatan dan hujjah dalam menegakkan kalimat thayyibah [Laa ilaaha illallaah] sehingga kemurnian aqidah islamiyyah tetap terjaga. Kita menelaah secara zahir kitab-kitab mereka, bertaburan dalil, hujjah dan bantahan di sana-sini. Semua itu dilakukan BUKAN karena kurang kerjaan atau semacamnya, tetapi demi tegaknya agama ini. Perhatikan dan fikirkan bagaimana mereka [para ulama] mampu menghabiskan waktu yang terberi untuk memeriksa satu persatu kelompok-kelompok sesat lalu mengerahkan segala upaya menghancurkan mereka dengan hujjah dan bayaan? Itu bukan hal mudah!

Kita juga akan terkagum pada ulama ahli tafsir, bagaimana mereka bisa tahu ayat-ayat yang ratusan hingga ribuan tersebut memiliki banyak arti dan faedah!? Bagaimana mereka bisa tahu satu [single] ayat saja bisa menuturkan di baliknya puluhan makna yang bermanfaat bagi hayat basyariyyah, entah untuk masa fana atau untuk masa baka!? Dan bagaimana mereka bisa menyempatkan diri menelaah kitab-kitab Tafsir sebanyak itu!? Sedangkan kita, membedah An-Naas pun belum kelar. Selama ini kita membacanya hanya zahir di lafadz. Jikalau mendalaminya, hanya zahir di pemahaman sederhana. Yang sebenarnya, tiada ayat kecuali besar maknanya, agung kadarnya, dan sempurna susunannya.

Kita tak bisa melarikan diri dari kekaguman terhadap ulama Hadits! Lihat juhd [upaya] dan ijtihad mereka dalam mencari periwayatan hadits. Lihat sirah mereka; perjalanan hidup atau perjalanan kaki dalam mencari ilmu. Lihat bagaimana cerminan kekuatan azam, hasrat, jiwa dan hafalan mereka. Itu semua mereka amalkan bukan karena mereka kurang kerjaan! Satu hadits saja, jika mereka berjasa dalam menyebarkannya, pahala terlipat-lipat hingga akhir zaman, selama hadits tersebut masih tergaung dan teramalkan! Lalu, bagaimana mereka mampu mengumpulkan hadits sebanyak itu, sedangkan meraih tiapnya tidak pada satu waktu, dan tidak dalam satu tempat, melainkan harus safar ke berbagai negeri!?

Friday, January 11, 2013

Sebuah Renungan

oleh Hasan Al-Jaizy

Mungkin di zaman dahulu, di awal-awal tersebarnya Islam dan di tengah gelora ilmu juga tadwiin-nya, jika para ulama diberi wasiat atau nasehat agar istiqamah dan tetap beradab, mereka merenung...atau mungkin menangis.

Mungkin di zaman sekarang, di saat kitab-kitab tersebar dengan 'seenaknya', soft copy maupun hard copy, jika para pencari ilmu 'senior' diberi wasiat atau nasehat agar istiqamah dan tetap beradab, mereka melebarkan dan menipiskan bibir. Bisa jadi senyum-senyum saja, namun dalam hati membatin:

'Siape elu!?'

Dan bukan tidak mungkin itu terjadi pada seorang ustadz sekalipun.

Ketika ilmu memang dipelajari sangat-sangat...namun tidak terasuki dalam jiwa, maka akhlak dan hati benar-benar mencerminkannya. Kita -anggaplah- banyak membaca, membahas, memperbincangkan, mengutip, menulis dan menghadiri majelis, namun apakah benar ilmu kita resapi?

Kadang kita sungguh-sungguh iri dengan seorang yang baru hafal doa sedikit tapi kemudian rutin mengamalkan. Sementara beberapa halaman dari buku-buku tebal kita lahap....

...knowledge collectors sometimes are worse than the "I-don't-know-anything" people.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/486355564739167

Thursday, January 10, 2013

Cabang Ilmu Pengaruhi Kepribadian


oleh Hasan Al-Jaizy


Jalaluddin As-Suyuuthy [w. 911 H] adalah seorang alim besar berilmu besar berkarya besar dan sangat besar perhatiannya pada SEMUA cabang disiplin ilmu syar'i. Beliau juga memperhatikan perkara bahasa dan memiliki karya padanya. 

As-Suyuuthy, dalam fiqh, bermadzhab Syafi'iyyah. Di setiap jurusan atau cabang ilmu Syariat, dia pasti memiliki peran. Di sini kita contohkan dalam ilmu Hadits saja, beliau memiliki kitab Al-Jaami' Al-Kabiir, ada pula Al-Jaami' Ash-Shaghiir. Pula kitab Tadriib Ar-Rawy, yang jamak terdapat di rak-rak buku para pelajar ilmu Hadits. Kitab tersebut tercetak tak henti-henti. Syaikh Mazin Sarsaawy -hafidzahullah-, seorang doktor dan ahli hadits Mesir, beberapa tahun kemarin selesai men-tahqiq kitab ini. Sebelumnya sudah dilakukan Syaikh Abu Mu'ad Thariq Awadhullah, namun tahqiq beliau -dikabarkan- memiliki kekurangan sana-sini dan terkesan tergesa-gesa. Wallahu a'lam.

Syaikh Badraan Al-Iyaari -hafidzahullah-, dalam kajian dirasat ilmu Ushul At-Takhrij yang diselenggarakan oleh channel Majd di seri ke 2 mengatakan bahwa As-Suyuuthy, jika dibandingkan dengan As-Sakhaawy [w. 902 H] dalam ilmu Hadits, ia [Suyuthy] akan kalah.

Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i


oleh Hasan Al-Jaizy


Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i [w. 204 H] hafal Al-Qur'an di umur 7 tahun. Ia pun telah khatam menghafal Al-Muwattha' karya Al-Imam Malik [w. 179 H] di usia 10 tahun. Dan di usia belasan tahun, ia menjadi sandaran fatwa. Banyak manusia mengambil manfaat darinya.

Ketika di Makkah, Beliau telah menulis sebuah risalah ilmiah penting yang kemudian beliau kirim ke Abdurrahman bin Mahdy, seorang hakim di Iraq. Risalah itu adalah cikal bakal pembuktian kehebatan seorang Asy-Syafi'i dan keberkahan ilmunya. Lalu setelah berada di Mesir, beliau mendikte kembali risalah tersebut pada Al-Muraady. Risalah yang serupa dengan sebelumnya. Awalnya, tiada judul. Namun, setelah tersebarnya, barulah diberi judul Ar-Risalah.

Ar-Risalah adalah kitab fenomenal disebabkan pengaruhnya terhadap perkembangan ilmu syariat, terutama Fiqh. Karena kitab tersebut adalah kitab Ushul Fiqh pertama! Masih murni dan asli ala Asy-Syafi'i. Tidak tercampur baur dengan pengaruh ilmu Kalam, atau Mantiq. Baku dan bertaburan ayat-ayat Al-Qur'an. Tidak bertele-tele, berbelit-belit, berbahasa lugas meski tidak mencakup seluruh materi Ushul Fiqh.

Tidak hanya Ushul Fiqh, bahkan banyak ulama mengatakan bahwa dalam kitab tersebut, tumbuhlah bibit-bibit ilmu Ushul Hadits!

Dan sekarang, jutaan kitab telah tercetak dengan sandaran label 'Fiqh Syafi'i'. Nama Asy-Syafi'i begitu hidup, meski pemiliknya sudah tiada.

Lalu, apa yang kita fikirkan ketika melihat satu rak berisikan kitab-kitab Fiqh bermadzhab Syafi'i? Tiap membuka kitab, pasti tercantum berpuluh-puluh kali...tidak, beratus-ratus kali nama beliau.

Seolah-olah beliau hidup...beliau sudah tidak hidup berkurun masa berlalu.

Ilmu, upaya dan karya, bisa menjadikan nama seorang alim hidup. Jika namanya hidup dikenal baik di tengah manusia, itu adalah alamat betapa berkahnya ilmu pemilik nama. Itu adalah keutamaan dari Allah yang tidak terberi untuk semua manusia. Maukah kau menjadi seperti mereka?

Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i


oleh Hasan Al-Jaizy


Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i [w. 204 H] hafal Al-Qur'an di umur 7 tahun. Ia pun telah khatam menghafal Al-Muwattha' karya Al-Imam Malik [w. 179 H] di usia 10 tahun. Dan di usia belasan tahun, ia menjadi sandaran fatwa. Banyak manusia mengambil manfaat darinya.

Ketika di Makkah, Beliau telah menulis sebuah risalah ilmiah penting yang kemudian beliau kirim ke Abdurrahman bin Mahdy, seorang hakim di Iraq. Risalah itu adalah cikal bakal pembuktian kehebatan seorang Asy-Syafi'i dan keberkahan ilmunya. Lalu setelah berada di Mesir, beliau mendikte kembali risalah tersebut pada Al-Muraady. Risalah yang serupa dengan sebelumnya. Awalnya, tiada judul. Namun, setelah tersebarnya, barulah diberi judul Ar-Risalah.

Ar-Risalah adalah kitab fenomenal disebabkan pengaruhnya terhadap perkembangan ilmu syariat, terutama Fiqh. Karena kitab tersebut adalah kitab Ushul Fiqh pertama! Masih murni dan asli ala Asy-Syafi'i. Tidak tercampur baur dengan pengaruh ilmu Kalam, atau Mantiq. Baku dan bertaburan ayat-ayat Al-Qur'an. Tidak bertele-tele, berbelit-belit, berbahasa lugas meski tidak mencakup seluruh materi Ushul Fiqh.

Tidak hanya Ushul Fiqh, bahkan banyak ulama mengatakan bahwa dalam kitab tersebut, tumbuhlah bibit-bibit ilmu Ushul Hadits!

Dan sekarang, jutaan kitab telah tercetak dengan sandaran label 'Fiqh Syafi'i'. Nama Asy-Syafi'i begitu hidup, meski pemiliknya sudah tiada.

Lalu, apa yang kita fikirkan ketika melihat satu rak berisikan kitab-kitab Fiqh bermadzhab Syafi'i? Tiap membuka kitab, pasti tercantum berpuluh-puluh kali...tidak, beratus-ratus kali nama beliau.

Seolah-olah beliau hidup...beliau sudah tidak hidup berkurun masa berlalu.

Ilmu, upaya dan karya, bisa menjadikan nama seorang alim hidup. Jika namanya hidup dikenal baik di tengah manusia, itu adalah alamat betapa berkahnya ilmu pemilik nama. Itu adalah keutamaan dari Allah yang tidak terberi untuk semua manusia. Maukah kau menjadi seperti mereka?

Ushul dan Furuu'


oleh Hasan Al-Jaizy


Boleh saya jujur? Boleh! Harus malah! Daripada saya bohong, kan?

Sejujurnya, saya lebih menyukai diskusi suatu perkara atau beberapanya, dengan orang-orang yang berlatar belakang berbeda. Itu lebih enak SELAMA orang tersebut berlapang dada. Paling minimal, ia tidak memaksa kita harus setuju dengan argumennya. Tapi, argumen syaadz dan gharib [aneh dan beda sendiri] juga diizinkan untuk dileweki. Jangan itu, argumen masyhuur pun tidak apa-apa untuk dijadikan sasaran sarkasme [sindiran].

Itu yang kadang kami lakukan di kelas. Diskusi sambil bercanda, ngenyek, ngece, nyindir, lewek-lewekan, mempertanyakan manhaj golongan masing-masing tetapi tidak memutuskan tali pertemanan dan persahabatan. Kalau masih mahasiswa saja sudah main putus-putusan, nanti saat sudah jadi orang mau main apaan? Hehe...

Kalau berdiskusi dengan 'lawan' bicara yang berlapang dada dan tidak keberatan mendengar pendapat lawan, rasanya enak. Meskipun sebenarnya kita saling bertentangan dalam topik bahasan. Tetapi, kalau sudah tidak suka dan tidak mau diajak duduk berbincang, ya tidak akan pernah enak.