Showing posts with label Hati. Show all posts
Showing posts with label Hati. Show all posts

Thursday, October 29, 2015

Pelipur Buat Perempuan

oleh Hasan al-Jaizy

Kondisi perempuan di dunia tidak lepas dari beberapa kemungkinan:
[1] Adakalanya dia meninggal sebelum menikah.
[2] Adakalanya dia mati setelah dicerai dan belum menikah dengan laki-laki lain.
[3] Adakalanya dia sudah menikah, tetapi suaminya tidak masuk ke dalam surga bersamanya.
[4] Adakalanya dia mati setelah pernikahannya.
[5] Adakalanya suaminya meninggal, dan dia tinggal dalam keadaan tanpa suami hingga dia mati.
[6] Adakalanya suaminya meninggal, kemudian dia menikah dengan suami lain setelahnya.

Mari kita jelaskan satu per satu:

[1] "Adakalanya dia meninggal sebelum menikah."

Zaman sekarang, betapa banyak perempuan belum menikah. Dan laki-laki kian tak sebanyak perempuan. Kelak satu laki-laki bisa sebanding dengan sekian banyak perempuan, saking banyaknya perempuan. Dan dari sedikitnya laki-laki, yang beneran laki-laki tidak semuanya. Dunia makin rumit. Justru kelak perempuan-perempuan yang menentang poligami, malah mendukung poligami, saking kesepiannya mereka. Dan para orang tua yang menentang poligami, justru akan berfikir meninjau ulang, setelah melihat anak perempuannya membutuhkan laki-laki yang sudah mulai menyedikit, dan laki-laki baik mulai langka.

Malah bisa jadi kelak perempuan bujangwati merasa lebih baik dengan laki-laki yang sudah beristri; tidak apa-apa menjadi yang kedua, ketiga, atau keempat. Bukan karena mau merendahkan gengsi, tapi karena saking banyaknya nanti para bujang laki-laki yang hidupnya ga jelas. Wajar perempuan cari aman, tidak cari ujian.

Nanti bagaimana dengan perempuan yang meninggal sebelum menikah? Allah akan menikahkannya di surga dengan seorang laki-laki dunia yang Allah kehendaki. Ingat sabda Nabi dalam Shahih Muslim:

وَمَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبُ

"Di Surga itu tidak ada bujangan!" [H.R. Muslim, no. 2834]

Kenikmatan Surga itu tidak cuma buat laki-laki saja.

Anda akan melihat mulai sekarang, betapa banyaknya perempuan yang menggalau, karena [1] mereka kerjanya menunggu, dan [2] lelaki yang masuk kriteria mereka kian punah. Ujian besar. Sudah menunggu, yang ditunggu juga entah. Saya bukan ingin menertawakan. Bayangkan jika Anda di posisi seperti mereka. Hanya ingin membuka cakrawala saja.

Namun banyak dari mereka bersabar dan berusaha menjaga diri. Yang seperti ini, insya Allah dan semoga Allah berikan Surga buat mereka kemudian dinikahkan seindah-indahnya di sana. Jangan sedih.

[2] "Adakalanya dia mati setelah dicerai dan belum menikah dengan laki-laki lain."

Sama seperti yang pertama, Allah akan menjodohkannya.

[3] "Adakalanya dia sudah menikah, tetapi suaminya tidak masuk ke dalam surga bersamanya."

Hisyam bin Khalid berkata: "Suami masuk neraka, dan istrinya masuk Surga, maka istrinya diwariskan kepada seorang penghuni Surga, sebagaimana istri Fir'aun akan diwarisi oleh ahli Surga." [Faydh al-Qadiir 5/468]

[4] "Adakalanya dia mati setelah pernikahannya."

Semoga sama Suaminya ke Surga nantinya. Aamiin.

[5] "Adakalanya suaminya meninggal, dan dia tinggal dalam keadaan tanpa suami hingga dia mati."

Semoga sama Suaminya ke Surga nantinya. Aamiin.

[6] "Adakalanya suaminya meninggal, kemudian dia menikah dengan suami lain setelahnya."

Dia untuk suaminya yang terakhir, meskipun suaminya yang terakhir itu punya istri banyak.

Akhirannya, saya ingin menyampaikan beberapa hadits Nabi buat para perempuan yang kadang punya rasa yang mengalahkan logika:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتِ الْجَنَّةَ

“Wanita mana saja yang meninggal dunia lantas suaminya ridha padanya, maka ia akan masuk surga.” [H.R. At-Tirmidzy]

Juga Sabda Nabi tentang istri terbaik:

الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

"Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” [H.R. An-Nasa'i]

Bukan pembenaran buat para suami, tetapi sebagai pelipur buat para perempuan dan para istri; bahwa ujian demi ujian jika ditabahi, maka Surga adalah yang terjanji.


Sunday, July 14, 2013

Hakekat Kesabaran

Hakekat kesabaran adalah suatu akhlak mulia yang dimiliki seseorang, yang dengannya ia mampu menahan diri dari perbuatan yang tak baik dan tak patut. Sabar adalah salah satu kekuatan seseorang yang dengannya pribadinya menjadi baik.

Al-Junaid bin Muhammad pernah ditanya perihal kesabaran. Ia pun menjawab:

تجرع المرارة من غير تعبس

"(Kesabaran ialah) seperti engkau meneguk minuman pahit tanpa bermuka masam."

Dzu An-Nun berkata:

التباعد عن المخالفات والسكون عند تجرع غصصى البلية وإظهار الغني مع حلول الفقر بساحات المعيشة

"(Kesabaran ialah) menjauhi segala amalan menyimpang, tabah kala cobaan datang, serta bersikap di depan manusia seolah berkecukupan, padahal sebenarnya ia miskin dan pada nafkah hidup betapa ia membutuhkan."

Ada yang berpendapat bahwa kesabaran adalah menghadapi musibah dengan etika yang baik. Ada pula yang berpendapat bahwa kesabaran adalah bersikap tidak membutuhkan apa pun kala alami musibah serta tak mengeluh.

Amr bin Utsman Al-Makky berkata:

Tuesday, March 26, 2013

Hatimu Rentan, Mohonlah Kesembuhan

oleh Hasan Al-Jaizy



Hati yang empunya jahil (bodoh) tak terasuki ilmu yang sahih sangat riskan. Jangankan hati yang bodoh, bahkan jika seseorang yang berilmu tinggi pun berpotensi tercelakakan dengan penyakit maknawi yang menjalar di lubuk hati. Sesungguhnya tiap-tiap manusia mempunyai nasib, kadar, bagian, takaran dan ukuran dari ujian hati. Ketahuilah, setiap amalanmu, setan berupaya memberi andil di dalamnya.

Penting untuk tidak kau abaikan, bahwa jikalau setan tak mampu menipumu dengan kemaksiatan yang benderang, ia akan menipumu dalam ibadah yang cemerlang. Karena itu, takutlah dan semakin takutlah jika ternyata engkau adalah orang berilmu. Jika engkau mampu membaca Al-Qur'an seindah bacaan, atau memiliki kapasitas ilmu agama yang mengagumkan, atau menuai derma sedekah bergunung-gunung, atau bergerak ke medan perang, secara zahir itu semua adalah keutamaan dan karunia yang begitu besar untukmu.
 

Tersiksa Tangisan

oleh Hasan Al-Jaizy 


Atau hanyakah aku menyaksikannya di layar televisi? Yaitu air mata buaya yang berlinang menyamudera menyandera hati-hati pemirsa dalam keharuan dan iba. Atau hanyakah aku menyaksikan kekonyolan itu di konser-konser boyband atau band pop-punk? Yaitu air mata dunia yang berlinang dan empunya berteriak menyebut nama-nama yang jikalau pemiliknya tak segera bertaubat, siksaan akhirat adalah janjinya.

Begitu banyak manusia kini tersiksa dengan ketenangan, kedamaian dan pemberian. Zahirnya ia tenang. Batinnya berusaha menenang. Namun sejatinya ia adalah siksaan dan penungguan terhadap masa-masa kehancuran. Kekufuran adalah sebuah siksaan sebelum siksaan, sebuah ujian sebelum ujian dan sebuah adzab sebelum adzab.

Kesombongan Tak Tersadari

Kesombongan lebih senang menjangkit di manusia berpunya, entah dari segi materi atau maknawi. Kesombongan lebih suka bercumbu dengan hati orang kaya. Kesombongan juga senang mengipas hati-hati orang berilmu. Kesombongan terburuk terjadi pada seorang yang miskin harta. Yang lebih buruk jika terjadi pada yang miskin ilmu, namun melabeli diri sebagai seorang yang berilmu, atau seorang pencari ilmu.

Betapa sering aku dan kamu tertipu.

Sebelum aku meneruskan, ku harap engkau kelak tak berkata, "Tidak semuanya begitu! Jangan menggeneralisir!" Diamlah dan mari mengacalah.

Kesombongan yang tak tersadari sering terjadi pada lelaki yang berbentuk tubuh kekar. Ia akan memakai kaos ketat berlengan pendek. Ia ingin dikagumi dengan pemberian Allah atas 'kesempurnaan' tubuhnya. Sementara ia tak menyadari akan kecacatan hatinya. Ia akan memamerkan kelebihan ototnya, terutama di bagian lengan, atau di bagian dada.

Kesombongan yang tak tersadari sering terjadi pada wanita yang berwajah manis atau cantik. Ia akan mengukur-ukur seberapa manis wajahnya dan menimbang apakah ada temannya yang semanis dia. Jikalau ada, ia akan iri sejadi-jadinya. Padahal, jikalau ia mempercantik akhlak dan merias bunga-bunga kesalihan hati, ia akan segera sadar bahwa kelak keriput adalah serangan untuk masa tua. Padahal seringkali wajah manis menjadi kesulitan bahkan bencana bagi dirinya. Lalu, mengapa ia merasa takjub pada pemberian yang tak seberapa, jika dibanding akhlak mulia!?

Tuesday, February 5, 2013

Mengenang Suyuthi Tuk Kedua Kali

oleh Hasan Al-Jaizy


Ini untuk orang-orang yang merasa dirinya sengsara. Kasihan sekali orang-orang semacam ini. Atau yang lebih kasihan adalah yang merasa paling sengsara, paling miskin dan paling menderita. Padahal ia hidup di negara aman. Ia tidak sedang dikejar hewan-hewan. Rumahnya tidak sembarangan digrebek Densus 88. Tetapi kenapa merasa paling besar ia punya kesengsaraan?

Padahl semua dari kita adalah orang kaya. Boleh kaya akan makna, tapi pastinya kaya akan fisik. Ada percakapan Haji Asnawi dan Suyuthi:

Haji Asnawi: "Ada apa, anakku?"

Suyuthi: "Pak Haji, hidup saya seolah paling sengsara. Saya kere sekali. Mau menikah dengan manusia, namun modal tidak ada. Mau beli laptop, namun uang tidak ada. Bayar kredit pun tak mampu. Mau beli baju pun tidak ada. Padahal saya pengen sekali membeli ketiganya: manusia, laptop dan baju. Tapi yang saya dapat malah gundukan puntung rokoknya Pak De Su'aid. Pak Haji, saya miskin sekali. Berikanlah solusi."

Haji Asnawi: "Baiklah, kamu bisa bahasa Arab, kan? Dan kamu suka baca kitab juga, kan? Lalu kamu mudah menghafal Al-Qur'an, Hadits dan matan-matan, kan?"

Suyuthi: "Yoi, Pak Haji."

Sunday, February 3, 2013

AIR MATA

oleh Hasan Al-Jaizy


Berzaman sudah tiada tangisku. Lalu fikirku kapan lagi bisa ku menangis.

Sempat berfikir kunjungi tempat-tempat yang pernah aku menangis di atasnya. Namun ku ingat air mataku telah mengering. Tak tertemu lagi. Takkan mampu dipungut.

Sempat berfikir meminjam mata-mata sayu milik mereka yang kukenal baik. Namun kuingat betapa rendahnya aku tuk menangis pun apa perlu meminjam mata.

Pernah berfikir mengumpulkan air-air mata penceramah dan khutabaa' di singgasana mereka. Namun mengapa kurasa mereka hanya penjual air mata yang dibeli manusia demi kehormatan dan pujian? Sementara aku tak membutuhkan air mata dagangan.

Lalu aku pun menjepit diriku sendiri di pintu kesengsaraan. Menahan perih lapar dan raungan haus. Mengoyak baju dan kulit. Yang ku dapatkan hanya ringisan dan sakit. Namun mataku tak hendak menyungai airnya.

Kusaksikan dan kubaca kisah-kisah cinta mengharu. Namun di sana kutemukan kepalsuan dan kedustaan dibuat-buat.

Kutemukan mushaf usang berkulit jaring laba-laba. Kubersihkan dan kutiup. Kubuka isinya. Al-Fatihah. Dan kutemukan hulu dan hilir sungai air mata di kalimat "Ihinash shiraathal mustaqiim"


Monday, January 7, 2013

Cerita Tentang Asa


oleh Hasan Al-Jaizy

[1] Ketika masih kecil, saya ingin suatu saat bisa tinggal di desa, setelah menyaksikan tiap Ahad acara 'Anak Seribu Pulau' dan 'Wiro Sableng 212'. Dan Allah menjawabnya. Saya tumbuh meremaja di desa Butuh, Kecamatan Tengaran, Salatiga, Semarang. Di Perguruan Sisir Putih, yang terletak di kaki Gunung Merbabu.

[2] Ketika hampir lulus, saya berharap akan tinggal mengabdi di daerah hutan-hutan selama beberapa masa. Dan Allah menjawabnya. Saya kemudian tinggal setahun di Perguruan Tarekat, daerah pelosok Pontianak.

[3] Ketika masih SD, saya suka menulis cerita dan dibaca teman atau guru. Ketika meremaja, saya suka menulis cerita dan artikel, dibaca makhluk hidup di pondok. Dulu, sempat berharap semoga kalimat-kalimat dari jemari saya tidak mati, masih ada manusia yang membaca jerihnya setelah lulus sekolah. Namun, beberapa tahun saya tidak menemukan wadah yang pas dan motivasi kuat untuk menulis kembali. Dan Allah menjawabnya. Kini tercipta jejaring sosial. Wadah untuk menulis dan mengajak manusia untuk menulis. Tidak masalah jika manusia mempermasalahkan banyaknya tulisan. Tidak sudi dengan eksistensi seseorang? Maka enyahkan eksistensi-nya dengan tekan Remove Friendship atau Block This Alien sekalian.

Tuesday, January 1, 2013

Pencarian Ilmu dan Ikhlasmu

oleh Hasan Al-Jaizy

Sesungguhnya mencari ilmu syar'i adalah seagung-agung amalan; karena dengan ilmu syar'i, amalan syar'i akan tertegak dengan baik. Mencari ilmu syar'i adalah sebuah ibadah yang membutuhkan pula asas. Asas pertama ada di hati. Yaitu keikhlasan.

Sebagaimana masyhur sudah firman Allah yang mulia ini:

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan (IKHLAS) kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus." [Q.S. Al-Bayyinah: 5]

Maka sudah bukan asing lagi bahwa keikhlasan adalah sepenting-penting kepentingan sebagai asas dari segala amalan, baik itu pentingnya maupu tidaknya. 

Friday, December 28, 2012

Ternyata Orang Asing Itu Mencintaimu

oleh Hasan Al-Jaizy


Ternyata Orang Asing Itu Mencintaimu

Ia tidak mengenalmu
Kamu tidak mengenalinya
Ia pun merasa kamu tidak wajib mengenalinya
Tetapi ia mencintaimu sungguh-sungguh; bahkan melebihi cinta teman-teman dekatmu padamu.
Ia mencintaimu karena ia menasihatimu...dalam kerimbaan dan ketidak-saling-kenalan.

Ingat, ia bukan siapa-siapamu
Ia hanyalah manusia di ujung sana...jauh dari rumahmu
Ia hanya menulis beberapa kalimat, yang ia nukil dari buku yang ia beli, dengan batin menggumam, 'Semoga ada di antara saudara-saudaraku yang membacanya; lalu ia mendapat faedah sebagaimana aku bahagia mendapatkannya'.

Atau ia hanya rajin mengutip ayat-ayat...atau hadits-hadits...atau kalam ulama...yang kemudian ada beberapa jarum menghujam menujunya, di tiap jarum itu ada pesan, 'Kamu hanya mampu copas!'

...yang membuat sakit hatinya
...yang bisa saja membuatnya berhenti berharap saudara-saudaranya dimanapun bisa mengambil manfaat dari usahanya

Yang ia sendiri akui ia bukanlah orang pintar...ia tahu ia bukan penceramah...ia tahu ia bukan penulis handal...namun ia hanya ingin semoga ia menjadi orang yang bermanfaat bagi manusia...ia hanya berusaha...ia hanya berikhtiar...ia hanya menterjemahkan kasih sayangnya kepadamu, tanpa perlu kau mengenalinya...dan ia pun tak bermaksud mengenalimu...

Ia bukan siapa-siapamu...namun bisa jadi ia menjadi wasilah hidayahmu...pengetahuanmu...penambah imanmu

Bayangkan teman-temanmu, mereka belum tentu mau memberi hikmah kecuali kau meminta
Namun ia rela menuliskan hikmah untukmu, tanpa pernah sebait pun kau pinta

Betapa sebenarnya ia menyayangimu
namun mengapa kau membencinya?

Karena sungguh ada manusia yang mengerti dirinya tak bisa melakukan apapun dari kebaikan untuk umat ini kecuali ia meniup pluit di tengah jalan dan mengatur arus, dengan kecacatan yang ia miliki...hanya itu yang bisa ia lakukan untuk manusia...dengan harapan diimbali....kau pun iba melihatnya...

Kenapa kau tak syukuri para penasehatmu yang asing itu?

=========================

Kau mungkin takkan tahu
dan tak pernah menyangka
satu kutipan ayat terjemahan yang kau tulis di dinding dekat rumahmu
dilalaikan beratus pengguna jalan
namun ada satu pengguna jalan
yang membacanya
lalu mengingatnya
merenunginya
meresapinya
hingga ternyata Allah beri melaluinya hidayah
akhirnya ia bertaubat
dan kembali pada-Nya
yang ternyata engkau
menjadi perantara hidayah
tanpa engkau ketahui
ia mendoakanmu
ia memintakan ampunan-Nya untukmu
meskipun kau dan dia tak saling kenal
tak pernah bertemu di dunia ini

Betapa teramat cintanya seseorang
yang doakan kebaikan
atau memberi kebaikan
pada saudaranya
sedangkan ia sendiri
tak mengenalinya
dan takkan bertemu dengannya

Apakah benar kau saudara?
Apakah benar kau mencintainya?



Monday, December 24, 2012

CAT: [61] "KARENA HUJAN ADA MUSIMNYA"

oleh Hasan Al-Jaizy


Jangan kiramu seorang yang lantang dan kuat di luar selalu seperti itu; karena bisa jadi di dalam ia sering menangis, mengadu dan mengaduh.

Jangan sangkamu seorang yang selalu ceria riang tampak berseri di muka; karena bisa jadi dalam kesendirian ia sering menangis...hati teriris.

Jangan merasa pasti desamu tak pernah tercurah hujan meski berintik ketika terjagamu; karena bisa jadi ketika terlelapmu tak sadarkan turun gerimis.

Sekuat-kuat hamba adalah yang tetap tegar di keramaian, meskipun di kesendirian wajahnya

Saturday, December 22, 2012

CAT : [54] "DIA BELUM TENTU INGIN BERGAYA"


oleh Hasan Al-Jaizy


Seseorang mengeluh menumpahkan rasa sebalnya, "Gue heran sama si Panjul. Anak kemarin sore baru ngustadz tadi pagi tapi lagak bibirnya kayak ngarab-ngarab gitu. Baru aje die selese ceramah di mesjid depan kite-kite. Kagak inget kayaknye kite biasa nongkrong ngobrol pake bahasa kampung biasa. Tadi lagaknye kayak Wan Abud baru dateng Haji dari Arab aje, banyak kata gak bisa dipahamin. Lagenye kayak orang gede!"

Bisa difahami keluhan itu. Kita juga harus memahami bahwa orang ini tidak faham gejala yang terjadi pada si Panjul. Karena seseorang yang tidak merasakan langsung, tidak memahami seluruhnya.

Seorang penceramah pemula, tidak bisa dituntut sehebat penceramah senior; karena pemula adalah pelajar. Ia masih BELAJAR ceramah. Kalau menuntut muqallid untuk berlaku seperti mujtahid, maka Anda lebih rendah dari muqallid.

Seorang thalib yang belajar agama langsung pada syaikh, atau ustadz dengan bahasa Arab, secara otomatis akan memberikan influence dan pengaruh pada dirinya. Lalu ditambah gizi dan vitamin dari kitab-kitab. Banyak sekali istilah-istilah syar'i yang secara otomatis akan diucapkan pegiat ilmu Syariah dalam pembelajaran ataupun pengajaran.

Istilah Ghuluw, misalnya. Kalau diartikan ke bahasa nasional: 'berlebih-lebihan' atau 'melampaui batas'. Kalau mau lebih gaul, Ghuluw bermakna 'lebay'. Saya fikir Anda tidak usah menyalahkan khatib atau penceramah ketika mengatakan, "Islam melarang ghuluw dalam beragama!" Karena kata tersebut sudah terceplos secara otomatis.

Jangan langsung mengatakan bahwa penceramah yang sering mengeluarkan istilah2 gharib bin aneh berarti ia sedang bergaya. Jangan karena kejahilan dan ketidaktahuan kita akan istilah2 tersebut, lantas kita menyalahkannya begitu saja. Saya teringat dengan daurah Ust. Abu Qotadah cs di Kalimantan awal 2006 dulu. Salah seorang ustadz dalam kajiannya berkata, "Ana yakin antum banyak yang bingung karena ana dan para asaatidzah sering mengucapkan istilah2 Arabic yang aneh. Itu bukan salah kami. Itu salah antum. Siapa suruh tidak belajar Arabic?" Setelah kalimat itu, jema'ah satu masjid langsung berbondong belajar bahasa Arab.

Ceramah dengan bahasa merakyat dan difahami mayoritas manusia dengan baik itu tidak mudah; karena -seperti yang saya katakan tadi- banyak istilah yang sering 'keceplosan' diucapkan tanpa berfikir bahwa audiens belum tentu fahaminya. Terlebih jika penceramahnya masih pemula. Sudah SYUKUR ia masih mau belajar berdakwah dan ceramah. Sudah SYUKUR ia bisa memulai mentransfer ilmu ke hadirin.

Sekarang, kiaskan dengan diri Anda. Misalnya, kataklah Anda adalah seorang doktor. Sekarang, ceramahlah di depan umat tentang pembedahan perut manusia. Saya yakin pasti Anda akan menceploskan beberapa istilah yang sangat familiar bagi Anda namun asing bagi wong ndeso. Satu contoh saja. Sekarang, belajar agama tentu memperkaya istilah2 dan wacana. Memangnya mudah membumikan istilah dan kalimat? Bahkan tidak semua ayat atau hadits bisa diterjemahkan seenaknya saja.

Karena itu, guru agama harus diapresiasi meski mungkin ada kekurangan secara individual. Untuk mengungkap materi dengan bahasa merakyat dan bisa difahami oleh akal-akal berbeda itu tidak semudah manusia mengomentari pertandingan bola.

Sekarang, justru baiknya kita ngaca masing-masing. Ketika kurang mengerti maksud penceramah karena ada beberapa istilah asing, salah siapa tidak mengerti? Apa si penceramah harus mendefinisikan semuanya?

You akan merasakan jika you berposisi seperti dia.

http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/477053709002686

Thursday, December 20, 2012

3


oleh Hasan Al-Jaizy

Ada 3 yang sulit kau jaga:

1. Pandangan
2. Hati 
3. Lisan 

Bisa pula kau bebas dari memandang yang haram, tapi jika mempunyai pandangan yang mengharamkan persaudaraan, maka keburukannya terus memburuk. 

Karena pandangan tersebut berasal dari...

Hati yang tak lepas dari prasangka buruk atau dengki. Dan hatimu yang menghitam itu kemudian menyetir...

Lisan untuk menaburkan kalimat-kalimat meranjau, yang jika tiap-tiap baitnya terucap, kau telah terkena ranjau-ranjau dosa.

Dan belum tentu kau menyadarinya...

betapa sulit mengenyahkan keburukan yang merasuk tanpa tersadarkan.

CAT : [46] "AIR TUBA DIBALAS AIR SUSU"


oleh Hasan Al-Jaizy


Ada seorang nenek berdagang dengan anaknya di pasar. Namun, anaknya tidak selalu ikut berdagang. Mereka menyewa tempat di depan rumah Pak Haji. Rumahnya rupanya di pasar itu dan ia pun juga menjual buah-buahan depan rumahnya. Namun, Pak Haji satu ini, meskipun sehari-hari ramah, ternyata memang 'tegaan'. 

Nenek ini berdagang makanan lauk. Di sampingnya pun ada pedagang tahu, seorang ibu-ibu. Sang nenek beberapa kali 'dianggap' telat membayar uang sewa tempat. Ia ditegur dengan kalimat tidak menyenangkan oleh Pak Haji. Kadang menyakitkan hati. Suatu hari, Pak Haji mengusirnya dengan kalimat pedas karena memang sang nenek telat membayar entah sehari atau selebihnya.

Nenek itu pun pulang ke rumah dengan sakit hati. Ia menceritakan itu semua pada anaknya dengan sedih. Mereka kemudian berembug mencari tempat lain untuk berniaga. Beberapa hari lamanya, mereka tak terlihat lagi di pasar hingga akhirnya mereka menemukan tempat lain yang cocok untuk berjualan padanya.

Namun, meski sakit hati, mereka tetap menyapa Pak Haji jika berpapasan di jalan. Dan itu membuatnya malu sendiri. Belum lagi, si anak kadang shalat di mushalla yang mana Pak Haji

CAT : [45] "KESOMBONGAN TAK TERSADAR"

oleh Hasan Al-Jaizy


Apakah seorang alim [berilmu] bisa berlaku sombong?

Jawabannya: Bisa. Bahkan potensi untuk menjadi sombong besar sekali. Lebih besar dari potensi kesombongan pada orang jahil. Terutama jika sang alim tersebut adalah pelajar pemula, atau sedang keenakan bertingkah bagai 'ayam kaget'; yaitu kaget dan takjub dengan kemampuan diri, atau bergelimangnya kitab atau mashaadir ilmiyyah, atau kesenangan berada di tengah orang-orang berilmu. Sehingga kekagetan dan ketakjuban itu membuat lidah dan jemarinya membusurkan panah-panah tak layak terbang di angkasa.

Jadikan tulisan ini nasehat untukmu, saudara-saudari. Dan sebelum tulisan ini tertulis, penulisnya pun juga berusaha membenamkan diri pada cermin. Bila memang ini pahit untuk yang

Wednesday, December 19, 2012

CAT : [44] "LUCUTI SEBELUM MENDARAH DAGING"

oleh Hasan Al-Jaizy


Jika seorang muda terbiasa mutaladzdzidz [menikmati] sensasi keangkuhan dalam dirinya ketika baru bisa menguasai suatu ilmu atau memahami suatu perkara atau 'merasa' keduanya, ditakutkan hingga tua ia terus menikmati rasa itu hingga hilang berkah ilmu dan fahamnya. Sungguh miskin jika seseorang mengerahkan segala juhd [daya dan upaya] untuk ilmu, namun ternyata tidak berkah ke depannya. Bahkan, seorang yang miskin ilmu namun senang berbagi dan lebih menikmati kerendahan hati, itu lebih memicu hadirnya keberkahan.

Karena ilmu tidak hanya tentang hafalan, pemahaman, banyaknya kitab, terkurasnya tinta pena, besarnya upaya dan frekuensi standar ikut kajian. Bahkan semua itu, jika tidak menghadirkan rasa takut [khasyyah] terhadap Yang Maha Tahu dan Yang Menelaah hati tiap

Tuesday, December 18, 2012

CAT : [41] "YANG TAK TERLUPA"

oleh Hasan Al-Jaizy


Seperti kata siapa...
"Orang yang sering berdoa
mendoakan kebaikan
bagimu
adalah ibumu, juga bapakmu
Hingga saking derasnya doa
dan harapan mereka padamu
mereka luput doakan mereka sendiri"

Seperti kata siapa...
"Orang yang menangis haru
ketika menangismu
memulai hari dunia
adalah ibumu, juga bapakmu
terlebih jika kau adalah
anak pertama
Hingga saking harunya
ketika besar kau lupa
betapa mereka mengawali hidupmu
dengan tangis bahagia
dan jangan kau buat mereka
ulangi tangisan berupa
tangisan didurhakai"

Seperti kata siapa...
"Orang yang dulu ajarimu
bahasa isyarat dan lisan
adalah ibumu
Maka ketika besarmu
jangan kau ajari mereka
menangis sakit hati
disebabkan bahasa lisanmu"

"Bayangkan ketika kau letih mendidik
mengajari anakmu bahasa
hingga sempurna
lalu tumbuh anakmu sempurna
dan ia menikammu dengan bahasa
yang dulu pernah kau ajari
padanya...
ketika ia tidak bisa apa-apa"

Masih ingatkah aku ketika itu?
Ketika aku dimandikan dengan air segar
oleh ibuku
Ketika aku dikenakan baju seragam
di awal-awal sekolah
Hingga ibuku menata kancing dan kerah
lalu mengusap-usap dada dan kepalaku
Kemudian antarkan aku
dengan sepeda sederhananya
Namun hati ibu tiada sederhana
megah akan kasih selama hayatnya

Masih ingatkah aku ketika itu?
Ketika ayah membeliku mainan
di awal bulan
Lalu gembiranya aku
dan gembiranya ayahku
Diajak di hari Minggu
tamasya ke taman bahagia

Ayah...Ibu...
masih ingatkah aku...
jasa-jasa kalian
sehingga hingga kini aku pun
belum sebanding
membalas yang terjasa
meski aku harus menguras
atau
memercikkan air mata
Meski segala keringatku
air mata bakti
belum sebanding dengan
kasihmu bermasa-masa

Jangan biarkan aku, wahai diriku
Jangan biarkan aku kelak
menitiskan hujan air mata
menuai sesal ditinggal
di tepi kubur ayah ibu
Dua hamba-Nya yang tak terlupa...

Wednesday, December 5, 2012

CAT : [9] "YANG TERDALAM"


oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa hari lalu, lebih dari seminggu, saya 'iseng' menonton klip atau cuplikan kajian Ust. Abdullah Taslim -hafidzahullah wa rahimah-. Tentang hubungan Jokowi dengan Megawati. Haiyah. Bukan. Tentang hubungan seorang gadis [baca: akhwat] dengan seorang pemuda [baca: ikhwan]. 

Diceritakan oleh si gadis perihal hubungannya bersamanya. Hingga kemudian sepakat 'bertaubat'. Keduanya ingin meneruskan trayek dengan cara menikah. Karena sebelumnya, keduanya adalah TTM [Teman Tapi Mmuahh]. Meskipun setelah saling diam beberapa masa, si gadis masih berupaya menekan 'send message' dengan alasan 'silaturrahmi' dan seterusnya.

Is it funny? Yes, it is. Itu lucu. Tetapi, ada yang seharusnya lebih kita perhatikan dari kelucuan itu. Dan belum tentu juga semua hadirin kajian yang tertawa, benar-benar menertawai curhatan si gadis itu. Bisa jadi di antara mereka yang tertawa, sebenarnya menertawai

Tuesday, December 4, 2012

CAT : [6] "ANAK PENGAJIAN JANGAN SONGONG"

oleh Hasan Al-Jaizy


Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya berusaha mengajak makhluk hidup yang membacanya untuk mengerti makna 'kaji', 'kajian', 'pengajian', 'mengaji', pengkajian' dan 'mengkaji'.

--> "Kaji" bermakna pelajaran dan penelitian atau penyelidikan atau sesuatu. 

--> "Kajian" bermakna sesuatu yang dikaji atau pengajian.

--> "Pengajian" bermakna pengajaran, pembelajaran, pembacaan Al-Qur'an atau kajian, atau proses perbuatan itu semua.

--> "Mengaji" bermakna membaca Al-Qur'an atau belajar membaca Al-Qur'an (tadarrus).

--> "Pengkajian" bermakna pembelajaran, penelitian, pembahasan, pencarian, penyelidikan, penelaahan, atau proses perbuatan itu semua.

--> "Mengkaji" bermakna mempelajari, meneliti, membahas, mencari, menyelidiki, menelaah.

Sementara...

"Anak Pengajian" = Anak di sini dimaknai orang yang secara rutin ikut pengajian, baik itu pengajian Al-Qur'an, maupun pengajian ilmu

Wednesday, November 28, 2012

Tentang Kerinduan


oleh Hasan Al-Jaizy

Tentang kesempatan bersua dan berkumpul kembali bersama teman-teman SD dulu, itu sangat mungkin. Karena mereka adalah anak-anak kelahiran sekota. Sebagian anak gedongan. Mudah dicari.

Tentang kesempatan bersua dan berkumpul kembali bersama teman-teman pondok dulu [SMP-SMA], itu masih mungkin namun cukup sulit. Mereka tinggal di kota lain, provinsi lain, bahkan beragam pulau. Ada yang kini berdomisili di perkotaan. Ada pula yang kembali ke desa.

Namun, tentang kesempatan bersua dan berkumpul kembali bersama rekan-rekan guru di Pondok Hidayatul Muslimin Parit Sembin Kalimantan Barat, belum terbayang mungkinnya. Sebagian mereka sudah berpencar tak berkabar kemana.

Terlebih tentang kesempatan bersua dan berkumpul bersama anak-anak kami,