Showing posts with label Beberapa Point. Show all posts
Showing posts with label Beberapa Point. Show all posts

Tuesday, October 16, 2012

Beberapa Point

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point yang berupa sabda Al-Amiin -shallallahu alaihi wa sallam-:

[1] "Akan datang kepada manusia suatu zaman (ketika itu) seorang tidak lagi perduli dengan apa yang dia dapatkan, apakah dari yang halal atau haram?!" [H.R. Bukhary]

[2] "Sesungguhnya setiap umat mendapatkan fitnah dan fitnah umat ini adalah harta" [H.R. Tirmidzy]

[3] "Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta; pasti ia menginginkan yang ketiga, sedangkan perut anak Adam tidaklah dipenuhi kecuali dengan tanah, dan Allah memberi taubat-Nya kepada yang bertaubat." [H.R. Bukhary dan Muslim]

[4] "Tidaklah dua ekor srigala yang lapar dilepas pada seekor kambing lebih merusak baginya dari ketamakan seorang terhadap harta dan kehormatan terhadap agamanya." [H.R. Tirmidzy dan Ahmad]

[5] "Sesungguhnya tidak berkembang daging yang tumbuh dari makanan yang haram kecuali Neraka yang lebih pantas baginya" [H.R. Tirmidzy]

[6] "Sesungguhnya banyak orang beraktifitas pada harta Allah dengan tidak benar maka mereka berhak mendapatkan neraka di hari kiamat" [H.R. Bukhary]

...credit to almanhaj.or.id dan Ust. Khalid Syamhudi, jazaahullahu khaira



Wednesday, October 10, 2012

Beberapa Point


oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point untuk Kamis pagi ini:

[1] Kau memang bisa bersikap strict, keras, kaku dan seakan mengharuskan orang lain setubuh dengan fikiranmu. Percayalah kelak manusia akan berlaku serupa padamu, atau lebih tidak diperkenankan. Hukum itu sudah lazim teralami. Dan ketika itu ku merasa kenapa ada saja orang berlaku setidak menyenangkan itu padaku. Setelah mengais-ngais jawaban di lembaran kisah lama, rupanya ku temukan bahwa aku memang pernah seperti itu.

[2] Apa yang menjadi timbal balik bisa menjadi kenangan atau pelajaran untukmu, bukan? Ketika senyum tertabur di berlembar-lembar hari; maka manusia akan membalikkan senyum tersebut pada kita. Dan jikalau pentungan dan muram yang kau sinari dari wajahmu pada manusia, kau akan mengerti kelak wajah mereka adalah pantulan dan cerminan wajahmu dahulu. Kenanglah baik dan burukmu, yang kemudian menjadi pelajaran bagimu.

Friday, September 28, 2012

Beberapa Point


oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point yang prakteknya sulit sekali:

[1] Sebagaimana kita mampu menjatuhkan semangat diri sendiri atau orang lain, kita juga harus mampu membangkitkan semangat diri sendiri atau orang lain. Gambaran: Mas Purnomo yang mampu menahan temannya dari semangat berlebihan dalam suatu perkara, ia seharusnya juga mampu memberi motivasi pada teman lain yang tidak punya semangat atau patah semangat. 

[2] Sebagaimana kita mampu meruntuhkan sesuatu, kita juga harus mampu membangun sesuatu yang semacamnya atau lebih baik darinya. Gambaran: Mas Purnomo yang mahir meruntuhkan opini temannya yang salah atau sesat, seharusnya ia juga punya kaedah-kaedah atau prinsip terbangun sehingga melahirkan opini yang benar atau sempurna.

[3] Sebagaimana kita mampu men-tahdzir orang karena sebuah kesalahan, kita juga harus mampu memberi contoh yang tidak salah. Gambaran: Mas Purnomo yang bisa sekali men-tahdzir dan menentang kesalahan temannya, seharusnya ia juga bisa membentangkan sesuatu yang bisa mengganti kesalahan tersebut.

[4] Sebagaimana kita mampu mengingkari, kita juga harus mampu memberi solusi.
Iya kan, Mas Purnomo?

Dan praktek keempat point di atas tidak mudah. Karena kita ini sangat mampu menjatuhkan, meruntuhkan, men-tahdzir dan mengingkari, namun mengganti sesuatu yang jatuh, runtuh, ter-tahdzir dan teringkari dengan sesuatu yang sempurna, belum tentu kita termampu akannya.

Nah, nasihat pun berlaku untuk pemilik status terutama dan pembacanya.

Tuesday, September 25, 2012

Beberapa Point

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point untuk pagi ini:

[1] Kebersamaan dan kehangatannya itu begitu indah; sehingga ketika keduanya hilang untuk sementara atau untuk selamanya, bekasnya masih terkenang.

[2] Lalu kau berharap segala cerita indah kembali tertulis ulang di halaman-halaman kehidupan setelah kini, entah esok atau lusa atau sedepannya. Namun, sungguh wajib kita ingat bahwa tidak segala yang terharap adalah terjadi.

[3] Seram. Bisa saja di antara teman-teman yang sungguh pun ramah dan damai bersamamu, namun ada yang menyimpan bara dengki dan benci di hatinya padamu. Sementara yang kau kenal darinya adalah persahabatan. Dan senantiasakan doamu terujar pada Yang Maha Mengetahui sirr dan alaaniah, yang tersembunyi dan yang tampak.

[4] Mimpi itu ada ketika kau tertidur; dan kala terjagamu, maka itulah saatnya kau tegakkan jasad dan bergerak tuk hadirkan mimpi sebagai kenyataan. Jadi, ketika kita bermimpi, itu berarti kita berada dalam keterkulaian lemah bahkan tidak sadar. Dan jangan selamanya bermimpi. Melainkan terbangunlah, berdirilah tegak dan berjalan setelah merajut mimpi. Maka bisa kau temukan mimpi itu esok atau lusa atau mungkin sedepannya menyapa.


Saturday, September 22, 2012

Beberapa Point

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point untuk sore Ahad kali ini:

[1] Pencari ilmu muda yang tergesa-gesa dalam menuntut ilmu, menandakan adanya penyakit yang menyusup pada niatnya. Ia ingin cepat dapat ini dan itu, seperti gelar atau posisi di mata manusia. Inilah kengerian yang menjamur ada di zaman sekarang. Mari, kita melihat pada diri kita kemudian.

[2] Nah, sebagaimana pula yang terpaku pada dua hal: 'Khilafah' dan 'Penegakan Syariah', TANPA mengerahkan dan menyerahkan diri untuk belajar tekun bermasa-masa mendalami syariah. Ada juga yang sekadar menjadi ekor ikut kemana-mana sembari mempromosikan ide penegakan Syariah dan Khilafah [dua pencapaian yang mulia], namun sendirinya tidak menerapkan syariah pada dirinya dan tidak mampu menjadi khalifah bagi jiwa-nafsunya.

[3] Menunjukkan adanya kedangkalan pemahaman, atau kecacatan niat. Ketergesaan menyebabkan terhalangnya penggagas dari tujuan. Meskipun semangat membadai [hamasah] dan kekuatan gemuruh membahana [voice], tapi jika tidak diimbangi dengan isi [ilmu] dan penerapan [praktek], berarti itu seperti mengharapkan kucing jantan bertelur. Orang yang tak punya takkan memberi.

[4] Kalau begitu, jangan heran ketika idealisme gagap yang bergaram namun tanpa sayur-mayur, menghambarkan rasa. Sebenarnya kekosongan yang didapat. Jikalau ada sesuatu yang didapat, maka itu hanyalah sensasi semu semata. Terlihat seperti melihat oase di tengah padang pasir, namun setelah berlari semangat membunuh haus, haus kembali menjadi sebuah momok kekosongan yang menyebabkan asa mati, juga merasa semuanya sia-sia dan menganggap diri terkhianati.

You percaya atau tidak, tidak akan mengubah kepercayaan saya.

Saturday, September 8, 2012

Beberapa Point Untuk Yang Masih Muda


oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point yang berupa pesan-pesan berikut ini:

[1] Yang merasa masih muda, apalagi yang belum berkeluarga, cobalah mengasah skill 'menulis' setelah banyak-banyak membaca. Sebenarnya kalian [termasuk saya] ketinggalan oleh orang-orang umum dan kaum liberal dalam perkara menulis. 

[2] Kaum liberal yang edukatif dan intelektual, mereka menggunakan kemampuan linguistik untuk mengalirkan apa yang mereka fikirkan, bahkan untuk hal-hal kecil bisa dijadikan tema filosofis yang menarik. Padahal mereka tidak diimbangi dengan keilmuan syariah yang memadai atau manhaj yang sahih.

[3] Nah, sementara, bagi yang merasa belajar ilmu syariah dan merasa bermanhaj sahih, layaknya mengikuti perkembangan zaman juga. Bukan malah terpenjara dalam perasaan mentang-mentang sudah belajar dan bermanhaj. Perasaan ini sama saja dengan tazkiyyatun nafs yang negatif. Nanti siapa yang bisa melawan kedigdayaan kaum liberal yang mampu menyihir umat lewat karya tulis? Apa sekedar mengandalkan karya para ustadz? Atau mencari terjemahan?

[4] Karena itulah, mari kita sama-sama memulai melatih diri 'menulis'. Tidak mesti menulis topik yang berat. Kita mulai dengan topik ringan, seperti 'konfrontasi antara Khawarij dan Murji'ah'....lho???

[5] Itu bukan topik ringan, denk. Itu topik yang dianggap ringan oleh orang2 yang mencari sensasi saja atau pemula yang pengen cepat 'nyampe'. Topik-topik ringan itu seperti: 'bagaimana cara bobo dalam keadaan bersih?', atau menjabarkan pengalaman, bisa juga kampung halaman dan sebagainya. Tulisan itu toh tidak hanya berpatuk pada segi religius. Ada bidang2 lain yang bisa kita singgung sedikit, seperti sosial umum, kejiwaan, lingkungan, kesehatan, dan lain-lain.

NOTE:

Anak muda yang meremehkan perkara melatih diri untuk bisa membuat 'karya tulis' di zaman secanggih ini, dia laksana anak muda yang meremehkan perkara belajar bahasa Inggris. Untuk sekarang, ia boleh terkekeh, meremehkan, merendahkan, menurunkan nilai dan mengabaikan. Tapi, nanti saat semua orang sudah bisa menulis/berbahasa Inggris dan orang2 semakin maju dengan keduanya, ia baru menyesal kenapa dulu tidak begini-begitu; sementara dia ingin memulai belajar di masa tua, kendala waktu, anak, istri, pekerjaan dan problematika hidup tak mengizinkannya.

Mulailah menanam dari hari ini, insya Allah esok hari ada pertumbuhan. Jika esoknya semakin tumbuh, insya Allah suatu saat akan mendapatkan buahnya. 

Jika tidak menanam, ia takkan punya buah dari usahanya, melainkan sekedar melihat orang memetik buah di kebun, memanen dan meninggalkan ia dengan kekosongan tangan. Sementara, buah tersebut tidak bisa dibeli, sebagaimana kemampuan berkarya tulis dan berbahasa Inggris tidak bisa dibeli.

Thursday, September 6, 2012

Geleng-geleng


oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point yang disebaliknya ada geleng-geleng:

[1] Akhir-akhir ini kabar tentang sang dai yang diamankan oleh pihak keamanan tak henti dipajang di FB. Itu adalah sarapan manhajy bagi sebagian, cemilan manhajy bagi sebagian, tapi kadang justru terlihat seperti arem-arem murahan.

[2] Atau sebagian justru merasa di saat-saat seperti ini harus memakai seragam, dan menunjukkan merahnya. Sudahlah, merendahlah kalimat. Nyantai saja. Wong sang dai nyantai, kenapa kita jadi tukang komentar tak henti-henti. Ga ada ada pembahasan lain kah?

[3] Nah, ini dia pertanyaannya: 'Ga ada pembahasan lain, kah?' Saya pribadi jadi teringat beberapa ciri khas orang2 kita: a. Suka ngegosip [membicarakan orang atau hot news], b. Melebih-lebihkan kabar atau dramatisasi. Keduanya digabung, ditambah kebiasaan sebagian dari kita yang lesu berbicara mengenai ilmunya atau men-share, tetapi lidah langsung terjulur megap-megap ketika berbicara tentang fulan atau fulanah. Ga ada pembahasan lain, kah?

[4] Ga ada...atau, belum ada sebelum topik hot lain datang. Kita memang tidak perlu mengecek keikhlasan seseorang dalam berkontribusi, menjenguk, memotivasi dan sebagainya. Tapi, wahai kontibutor, wahai visitor, wahai motivator, cari topik lain yang menjaga keikhlasan dan jangan paksa kita untuk berburuk sangka bahwa apa yang anda-anda lakukan itu adalah kegagapan manhajy dan zahirnya malah mirip pameran amalan.

Kalau begitu, kembali ke kitab...baca lagi...jangan berlebihan, jangan cengeng [kata sebagian], dan pandang cuma dari sisi itu-itu saja.

Wednesday, September 5, 2012

Kalimat-kalimat Emas

Beberapa point yang berupa kalimat-kalimat emas dari mereka:

[1] [فكلما ازددت علماً ازددت معرفة بجهلي]
"Maka, setiap bertambah ilmuku, semakin bertambah aku tahu akan kebodohanku." 
-- Al-Imam Asy-Syafi'i --

[2] [بحسب المرء من العلم أن يخشى الله وبحسبه جهلاً أن يعجب بعلمه]
"Cukuplah seseorang dengan ilmunya [disebut alim] jika ia takut pada Allah, dan cukuplah ia disebut bodoh [jahil] ketika tertakjub [ujub] dengan ilmunya."
-- Masruuq --

[3] Seperti point ke-2, tambahan dari saya pribadi,

Saturday, September 1, 2012

Tentang Iri

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point tentang iri:

[1] Kita iri ketika melihat daftar muhsiniin, nama-nama penyumbang untuk yayasan atau apapun itu yang baik. Juga saya iri dengan jumlah uang yang mereka sumbang. Karena mungkin mereka sebenarnya tidak berilmu tinggi, namun dengan harta yang terberi, pahala bagi mereka mengalir tak henti. Belum lagi jika: dari sumbangsih mereka, tercipta para ulama masa depan. Saya iri sekali.

[2] Kita iri dengan teman-teman yang mencari ilmu dalam kesulitan ekonomi. Mereka tetap tegar dan berjalan menginspirasi. Betapa banyak orang miskin namun tegar, kisah hidupnya memberi inspirasi. Betapa banyak orang kaya namun kikir, kisah hidupnya diiringi benci. Iri sekali dengan mereka yang konsisten dalam keterbatasan, atau kefakiran. Imam Syafi'i, Imam Bukhari dan banyak lagi para ulama yang terhimpit ekonomi ketika belajar, sementara warisan mereka bukanlah dinar atau dirham, melainkan ilmu yang jika ia di langit, dinar dan dirham berada di kerak bumi.

[3] Kita sama sekali tidak iri dengan yang bermewah hidupnya namun tangannya kering akan memberi. Cukuplah namanya diingat oleh dirinya, keluarga dan teman terdekatnya. Setelah matinya, biarlah segala tentangnya terlupa.

[4] Kita sama sekali tidak iri dengan seorang pencari ilmu yang jenius, berprestasi dan penuh karya namun sombong; dan terlihat dari tingkahnya bahwa ia mencari semua itu demi pandangan dan penyebutan manusia akan namanya. Justru inilah yang paling mengerikan. Hati sendiri malah menipu hati sendiri. Menipu orang itu adalah keburukan. Namun menipu diri sendiri adalah keburukannya keburukan.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/435784139796310

Friday, August 31, 2012

Yang Tersulit Adalah Ikhlas

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point tentang keberatan dan kesulitan realisasi beberapa hal:

[1] Yang tersulit adalah ikhlas....yang tersulit setelah itu adalah tidak su'udzan pada ketulusan amalan orang lain.

[2] Betapa sulitnya seseorang yang sudah terlanjur fanatik akan golongannya. Biarpun jelas bersalah, tetap selalu ia bela dan mencari-cari positivisme di tengah cairan got yang menghitam.

[3] Jika manusia berfanatik buta pada dirinya, menampik kebenaran dan nasihat orang lain tentang dirinya, itu masih lebih bisa dianggap wajar. Tapi, jika manusia berfanatik pada orang lain atau kelompoknya, itu lebih buruk lagi.

[4] Yang tersulit adalah ikhlas...dan siapapun yang terbiasa tidak ikhlas, selalu ingin di-wow-kan ketika beramal, maka ditakutkan ia tidak bisa lagi ikhlas untuk seterusnya. Mengerikan.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/435440563164001

Thursday, August 30, 2012

Beberapa Point

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point yang setuju tidak setuju, memangnya saya nyuruh setuju?

[1] Penghujung Ramadhan kemarin, saya bercengkrama dengan seorang ustadz hafidz lulusan s1 Al-Azhar Mesir. Salah satu hal yang saya ingat adalah kalimat beliau: 'Kalau di Mesir, gelar akademik tidak disematkan di nama seseorang kecuali gelar Doktor. Tidak seperti negara kita, dengan embel Drs., dianggap sudah bergelar.' Tapi, memang sebenarnya sudah bergelar.

[2] Lalu saya berfikir. 'Lha, di Indonesia juga kalau seorang ustadz sudah ada sisipan dua huruf Lc setelah namanya, maka ia dapat perhatian. Kalau bikin pengajian2 mingguan atau bulanan, atau daurah, biasanya akan ada seperti ini:

Pemateri: Ust. Mujarrih Al-Mubaddi' Lc

[3] Kalau sudah ada Lc, orang akan berfikir: 'Ini kalau tidak lulus dari lipia, mungkin lulusan Madinah.' Padahal sebenarnya sematan seperti itu bisa saja kamuflase. Siapa tahu Pak Ustadz waktu ngampus juga belajar pas ujian saja? wkwkwk....

[4] Tapi, tidak boleh su'udzan juga. Bisa jadi sang ustadz sebenarnya tidak mau ada embel-embel seperti itu, cuma panitia penyelenggara dan desainernya yang sengaja; demi kemaslahatan. Karena itu adalah salah satu upaya dan daya tarik. Tidak salah toh menyihir orang dengan perkara2 mubah dan tidak dusta?



Tuesday, August 28, 2012

Tanah Indonesia

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point terkait tanah masyarakat Indonesia:

[1] Tanah kita sangat subur, berpotensi makmur, namun dibalas dengan kufur. Banyak dari penduduk tertipu oleh kekayaan sehingga hilang rasa syukur. Karena itulah, datang tsunami dan puting beliung menjadikan banyak yang lebur. Orang2 terserang ketakutan dan mencari jalan tuk kabur. Bangunan-bangunan dan hati-hati banyak yang hancur? Apakah kau masih berpura-pura tidak melihat banyak yang kufur?

[2] Sementara alam bersaksi bahwa dasarnya kita adalah muka-muka berseri. Ingatlah, Maghrib dulu banyak kodok di sini bernyanyi. Ingat juga dulu di siang hari masih banyak capung menari. Gali kembali memori dahulu di tengah kelurahan masih ada rawa bermisteri. Lalu sekarang, yang tersisa hanya kenangan dan sesal untuk kota ini.

[3] "Pancasila yang menjadi dasar negara ini, yang oleh kelompok sekular kerap dibenturkan dengan kelompok Islam, sebenarnya tidak berurat berakar dari nilai-nilai yang tertanam di negeri ini. Justru Islamlah, seperti yang dikatakan Buya Hamka, yang mengakar kuat di tanah ini. "Islam adalah dasar yang asli di tanah air kita dan pribadi sejati bangsa Indonesia," tegas Hamka. Sementara Pancasila, kata Hamka, tidak mempunyai dasar sejarah yang kuat di negeri ini." [Indonesia Tanpa Liberal, Artawijaya, hal. 154]

[4] "Tokoh Masyumi, Mohammad Natsir, juga mengatakan bahwa dasar negara haruslah sesuatu yang sudah mengakar di masyarakat. Islamlah yang sebenarnya cukup mengakar di mayoritas rakyat Indonesia. Islam mempunyai sumber yang jelas berasal dari wahyu. Sementara Pancasila, kata Natsir, meskipun masuk di dalamnya sila tentang Ketuhanan, tapi pijakan dasarnya adalah 'laa diiniyyah' [netral agama]." [ibid, ha. 155]

Laa Diiniyyah = netral agama atau bahkan tanpa agama sekalian

[5] Lalu 'kita' pun berpura-pura untuk menganggap itu wajar-wajar dan biasa saja. Karena memang susah jadi 'kita' ini. Mau menentang dan mengangkat suara, tapi takut disebut bibit teroris atau dikira sudah terkontaminasi pemikiran Khawarij. Mau diam dan tunduk demi maslahat, tapi ini menggemaskan dan apakah hanya diam dan tunduk?

[6] Tapi mungkin ada jalan yang lebih 'selamat' dan bermaslahat: diam, pura-pura tidak tahu, tunduk 90%, dan kalau mau angkat suara: suaranya harus selaras dengan pemikiran golongannya.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/434129176628473

Beberapa Point

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point yang acak pembahasannya:

[1] Sebenarnya amalanmu itu merupakan AMAL TERBAIK, karena membantu orang kesulitan dan bernilai kesalehan. Tadinya kamu adalah orang yang tulus ikhlas demi ridha Allah mengamalkannya. Namun kemudian, kamu menghinakan dirimu sendiri dengan tak henti memamerkan amalanmu itu pada manusia...siapapun. Untuk zaman modern ini, kamu gunakan jasa photo-uploader untuk memberitakan pada manusia bahwa kamu sedang begini-begitu. Manusia memang akan terkagum...namun duhai sayangnya, saya juga ingin sehebat kamu...namun kenapa kamu seakan ingin dilihat kehebatanmu?

[2] Dan pandangan manusia tentu berbeda-beda...penilaian takkan seragam. Boleh saja Paijo tak bermaksud pamer, namun semua orang menganggapnya pamer dan mengerutkan bibir. Boleh saja Tukiyem bermaksud pamer, namun sebagian orang berusaha berbak sangka padanya dan tetap mendoakannya.

[3] Mendengarkan pendapat manusia takkan ada ujungnya...mengemis perhatian manusia takkan ada puasnya. Bahkan, manusia takkan selesai menilaimu. Bahkan, kau takkan habis mencari perhatian karena kebiasaan. Namun, boleh sekali-kali kau dengarkan nasehat, sindiran dan tuduhan manusia; terlebih jika berdasar dan terbukti. Namun, tak masalah jika kau berusaha agar diperhatikan untuk maslahat; karena perhatian orang merupakan gerbang agar diterima.

[4] Perbedaan antara orang yang membuang jauh agama dengan binatang dan penjaja sepilis, apakah itu?
=> Binatang: "Mangan...turu...nelek"
=> Anti Religions: "Mangan...turu...nelek...jima'"
=> Liberalis, Sekularis, Pluralis: "Mangan...turu...nelek...sok intelek...jima'"


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/433901509984573

Monday, August 20, 2012

oleh Hasan Al-Jaizy
Beberapa point setelah menabur point tentang ketergelinciran di status sebelum ini:

[1] Salah satu perantara menimba ilmu adalah 'membaca'. Membaca buku, majalah atau apapun yang berfaedah adalah teranjurkan, SELAMA bacaan tersebut SESUAI dengan kadar kapasitas dan kualitas si pembaca. 

[2] 2 Syawal...apa agendamu kemudian perihal ilmu? Apakah rencanamu ingin menguasai suatu cabang ilmu Syar'i dengan target sekian tahun? Atau berencana mempertajam skill yang bermanfaat, semisal skill menulis atau skill ceramah?

[3] Mimpi itu adalah sekarang. Mimpi bisa menjadi modal awal. Sementara nyata atau tidaknya kemudian ia, kita serahkan pada Yang Maha Kuasa. Seseorang yang bermimpi bertemu kekasih yang ghaib nan majhul, ia layaknya setelah terbangun menjadi semangat dan menata hidupnya demi menyambut sang kekasih yang ditunggu-tunggu.

[4] Pun dengan apapun harapanmu untuk masa depan. Kini kau bermimpi menguasai segala maklumat tentang Khawarij, misalnya...sehingga kelak kau bisa menyebarkan yang haq di tengah manusia dan mematahkan argumen invalid berkaitan dengan Khawarij. Maka bersegeralah berbenah dengan cara belajar...belajar...belajar. Suatu saat insya Allah akan tampak buah manfaatnya. Belajar adalah pengakaran dan pembibitan ilmu. Jika akar telah tumbuh dan menjadi pohon kemudian, bukankah tinggal menunggu buahnya?

[5] Mungkin ada orang yang umurnya jauh melebihimu atau bahkan usiamu hanya setengahnya. Dia adalah orang berilmu dan ber-skill. Jangan merasa kau takkan bisa menjadi seperti dia. Kamu bisa menjadi seperti atau lebih baik darinya. Lihatlah usianya lebih tua darimu dan kamu bisa membalap kehebatannya dengan mentargetkan diri bahwa pada seusia beliau kamu HARUS bisa lebih hebat dari beliau.

[6] Hal, target dan tuntutan semacam itu tidak salah sama sekali. Justru itu menunjukkan tingginya pengharapan dan kekuatan hati. Jangan ikuti dan jangan seperti teman-temanmu yang menyerah dahulu sebelum mencoba....parahnya, mereka justru meledekmu yang tak henti-hentinya menyeka keringat selagi keras berusaha dan berlari. Yang mengatakan padamu: 'Kau takkan bisa' adalah orang yang sejatinya tak bisa. Lalu, kenapa harus kau dengar celotehan orang tak mampu? Go ahead!


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/431871906854200

Sunday, August 19, 2012

Ketergelinciran Alim dan Jahil

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point tentang ketergeliciran orang berilmu dan orang bodoh:

[1] Orang berilmu bisa tergelincir disebabkan riya, sum'ah, ujub dan takabbur. Juga ketidakinginan mengamalkan ilmunya merupakan sebuah fitnah besar bagi dirinya. Betapa banyaknya ketergelinciran ini di zaman sekarang. Apakah aku termasuk? Nas'alullaha as-salaamah.

[2] Orang bodoh tidak memerlukan riya, sum'ah, ujub dan takabbur agar tergelincir; karena kebodohannya sendirilah yang akan dengan sendirinya menggelincirkan ia. Dan ketergelinciran itu akan lebih teruk lagi jika ia bodoh namun berbicara dan menetapkan. Apakah aku termasuk? Nas'alullaaha as-salaamah.

[3] Tiap-tiap manusia pasti pernah dan akan masih sempat tergelincir dalam kesalahan. Jika orang berilmu saja bisa tergelincir, maka barang tentu orang bodoh lebih-lebih. Kalau begitu, mau jadi orang berilmu atau bodoh?

[4] Salah satu bibit ketergelinciran orang berilmu adalah merasa cukup dengan ilmunya. Ketahuilah, meskipun benar-benar tiap detik dalam detak hidup seseorang mencari ilmu syar'i dan menghafal segalanya, ia TIDAK AKAN mampu meraup semuanya...tidak mungkin seluruh ilmu syar'i dikuasai satu orang hingga mendetail segalanya.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/431868036854587

Pemetaan Fikiran

Beberapa point yang berupa pemetaan fikiran:

[1] "Sesungguhnya Islam datang sebagai penguasa dan 'penjajah' bagi kehidupan manusia, dari alif hingga ya' nya." [Dr. Salman Al-Audah]

[2] Lawan dari Islam adalah Kufur. Kekufuran pertama diprakarsai oleh Iblis. Iblis merupakan rajanya setan. Sekarang, ingin mana: kehidupan dikuasai dan dijajah setan atau dikuasai dan 'dijajah' oleh Islam? Hanya ada dua pilihan...tidak ada ketiganya.

[3] Sementara orang yang menganut paham sekuler tidak mungkin mengatakan: 'Saya ingin hidup saya dikuasai dan 'dijajah' oleh Islam.' Sementara mereka juga tidak akan terima jika kita katakan: 'Kehidupan kalian adalah jajahan setan dan dikuasai setan.' Tapi, kita lihat riil dan buktinya saja. Lihatlah orang-orang yang menjunjung sekularisme itu, mereka selalu su'udzan terhadap aturan agama; mirip dengan Iblis yang sedari awal Adam termuliakan, ia menggugat keputusan Allah. Mirip sekali.

[4] Termasuk juga kaum peminis yang menggugat keputusan Allah yang syar'i dan kauni. Keputusan syar'i yang mereka gugat, seperti: hukum bagian perempuan setengah dari laki-laki dalam perkara waris. Keputusan kauni [kodrat] yang mereka gugat: wanita harus menjajah pria, tidak mau 'diperbudak', dan tidak layak mengurung atau dikurung di dalam rumah.

[5] Sebaik-baik pengajar dan pendidik adalah Sang Mustafa, Muhammad Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam [sudahkah Anda berselawat hari ini?]. Sebaik-baik pelajar adalah para sahabat beliau -radhiyallahu anhum ajma'iin-. Sementara, seburuk-buruk pengajar dan pendidik adalah orang2 munafik yang mengusung faham kebebasan jua pelepasan agama dari kehidupan umum. Mereka berusaha mengajari dan mendidik umat bagaimana menggugat dan mengkritik Sang Rahman. Seburuk-buruk pelajar adalah pelajar yang bertaklid pada seburuk-buruk pengajar dan pendidik.

Saturday, August 18, 2012

Beberapa Point

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point yang disetujui atau tidak, who cares?

[1] Kasihan orang-orang ini: Yang terlanjur terlalu semangat dalam menganjurkan orang lain menikah, lalu menyamaratakan semua kisah hidup orang dan mengkiaskan alur hidupnya dengan orang lain. Benar, orang-orang yang menikah memang ada patutny dikasihani di beberapa sisi, tapi orang-orang semacam ini juga layak dikasihani.

[2] Lebih mulia mana: a. Menikah, b. Mendalami Ilmu, c. Menikah sambil Mendalami Ilmu? Tentu saja c; karena butuh pengorbanan yang dahsyat. Nah, orang yang berilmu, jika kemudian ia mentertawai atau meremehkan orang yang tak berilmu, pasti akan dicap: SOMBONG. Sekarang, kenapa ya, yang sudah diberi anugerah berupa berhasilnya ia menikah, namun setelahnya malah mentertawai dan merendahkan yang belum, kok tidak diangga[ sombong?

[3] Orang2 yang belum menikah disebut 'Lajangiyyun' oleh mereka. hehe. Gimana kalau mereka yang sudah menikah disebut 'Ranjangiyyun'? Kira-kira tersinggung ga tuh? Kan memang intinya ya di situ, meskipun mereka beralasan: 'Menikah itu bukan cuma untuk itu ya akhi', atau kilahan lainnya.

[4] Saking dangkalnya sebagian sungai yang airnya keras bergemericik mengalir, mereka katakan, 'Sudahlah, bismillah saja. Langsung tembak.' atau katakan, 'Urusan materi itu Allah yang mengatur. Allah pasti membantu.' Memang enak dan mudah memberi anjuran, tapi realitanya tak semudah itu. Orang tua mana yang mau anaknya dinikahkan dengan orang yang belum punya kepastian dan ketetapan finansial. Apa berani si calon mantu bilang ke calon mertua: 'Pak, insya Allah Allah akan membantu saya. Niat saya baik dalam menikah.'

[5] 'Masalahe niat baik ra cukup, tole. Harus ada usaha dan keliatan buahnya.'



Bukan Menggelapkan Yang Cerah

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point yang jangan sampai menggelapkan yang cerah:

[1] Apakah manhaj itu berbeda dengan aqidah? Ada dua kubu yang berpendapat. Kubu pertama: keduanya tidak berbeda; karena memang tidak ada dalil pembedanya dan aqidah adalah manhaj/jalan hidup muslim juga sebaliknya. Kubu kedua: keduanya berbeda. Manhaj lebih umum dari aqidah.

[2] Penjelasan. Manhaj adalah jalan/metode/tatacara dan semacamnya; sementara aqidah adalah keyakinan. Jalan lebih umum dari keyakinan. Iya kan? Manhaj mencakup segala tata cara atau peraturan dan batasan amalan semua anggota tubuh. Ia mencakup adab, akhlak, muamalah dan lain-lain. Sementara aqidah adalah keyakinan, dan keyakinan tempatnya di hati. Pemilik status ini condong mengamini kubu kedua.

[3] Lalu, yang manakah lebih didahulukan bagi seorang pencari ilmu baru [newbie/nubie]: manhaj atau aqidah? Jawabannya: Aqidah terlebih dahulu. Keyakinan dulu, baru manhaj.

[4] Manhaj itu tidak sekedar pelabelan semata. Beberapa dari kita -secara tidak langsung- menganggap bahwa manhaj itu adalah how to play group and how to labelize people. Karena itulah, ada saja yang mudah melabeli "si fulan bukan salafi, si fulan khariji, si fulan sururi, sementara gue? Lu bisa liat sendiri deh...". Tadinya 'bermaksud' memurnikan manhaj, namun justru manhajnya lah yang rusak.

[5] Termasuk cakupan manhaj: adab atau akhlak. Sedikit saja terjadi ketergelinciran akhlak, maka nama bisa rusak dan aroma permusuhan menjadi pekat. Jika ini terjadi pada seorang thalib seperti kita, mungkin kerusakannya tak seberapa besar [relatif]. Namun, ada jua cerita tentang ustadz yang memang diberi kelebihan intelegensi sehingga punya banyak hafalan dan orang menganggap manhajnya benar, rupanya ketika namanya terangkat, ia menjadi sombong. Mentang2 nahi munkar, orang tua yang juga berilmu seenaknya dituding langsung di depan muka.

Alaa kullin, kita semua tak luput dari salah dan masing-masing kita punya kecacatan spesial. Harapnya, semoga Allah membantu kita untuk terus konsisten memperbaiki diri, entah dengan cara bertahap atau langsung mengenyahkan keburukan. Semua ada kadar bijaknya.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/431386106902780

Betapa!

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point yang tiapnya berjudul 'betapa':

[1] Betapa adanya yang pamerkan kecepatan/speed bitrate download-nya; namun lupa bahwa itu suatu saat akan 'ditanya'.

[2] Betapa adanya yang pamerkan koleksi buku, kecepatan hafalan atau banyaknya; namun sungguh lupa, lalai dan enggan mengingat bahwa semua keutamaan itu pasti akan 'ditanya'.

[3] Betapa adanya yang pamerkan banyaknya anak, atau bahkan satu anak yang dipunya; namun sungguh lupa bahwa itu adalah titipan yang akan 'ditanya'. Bisa jadi menjadi pengangkat derajatnya di surga, atau bahkan menjadi penyeretnya ke neraka.

[4] Betapa adanya yang pamerkan apa yang ia punya di PC. HP atau segala alat elektronik; namun betapa pula terkabut ia akan lupa bahwa semua itu fana. Meskipun fana, kelak semuanya akan 'ditanya'.

Dan siapkah...siapkah...siapkah kita menjawabnya kelak jika 'ditanya'?

Friday, August 17, 2012

Beberapa Point

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point yaitu cerita tentang beberapa manusia akhir2 ini:

[1] Yang ditakdirkan berhalangan i'tikaf mungkin akan mengatakan, 'Duhai diriku...sesungguhnya biarpun tidak i'tikaf, semoga tetap aku beramal saleh dan diganjari besar.' Kemudian setidaknya hati lebih tenang; karena sebenarnya ia berhasrat untuk menghidupkan malam di rumah Allah...hanya...halangan itu menghalangi.

[2] Namun lain pandanganmu jika si fulan adalah orang yang sebenarnya diberi kesempatan, keluasan dan kemampuan untuk i'tikaf, namun memang berdasar malas atau memang sekedar mencukupkan diri pada amalan2 yang dirasa sudah besar dan mewakili. Sudah begitu kondisinya, masih sempat bicara: 'I'tikaf bukan segalanya! Yang terpenting kita beramal saleh. Toh amalan bukan cuma i'tikaf saja.'

[3] Jika tidak karena kejahilan [kebodohan/ketidaktahuannya], mungkin saja disebabkan sebenarnya memang ia 'kurang-niat' memperbaiki diri di bulan ini. Ya, hanya ada dua: imma jahil, imma kaslan. Bahasa dan sikap orang yang tidak beri'tikaf namun sebenarnya ingin melakukannya berbeda dengan bahasa dan sikap orang yang tidak beri'tikaf karena memang berdasar satu dari dua hal tersebut.

[4] Silahkan. Itu pilihan masing2. Yang mencukupkan diri dengan shalat Isya+taraweh akan mendapat ganjaran setimpal yang berlebih. Yang melebihkan dengan amalan2 mulia lain akan mendapat ganjaran setimpal yang berlebih. Namun, sebenarnya kita perlu juga mengaca dan ingat, bahwa akhir2 di bulan mulia ini adalah cerminan bagi siapapun sebagai gambaran ibadahnya selama sebulan. Artinya: semakin Anda 'nyantai' di akhir2 ini, semakin mengindikasikan 'lemahnya' hati Anda. Namun, jika ternyata Anda semakin sedih dan merasa akan kehilangan, maka you know your heart.

[5] Dan bukan termasuk pencita-cita tinggi: orang yang beribadah sederhana, padahal diberi baginya kemampuan untuk menjangkau jauh daripada yang sederhana, sembari mencari dalih dan pembenaran di muka orang bahwa 'I did it! I made it!'. Bukan...bukan...

[6] Kesempatan itu masih terbuka....sementara hari-hari jelangnya, akan menutup cerita bulan. Jangan tunggu menyesal, baru menelusuri rel kereta. Dan kereta takkan terkejar dengan merangkak, setelah kau tertinggalkannya.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/430933093614748