Showing posts with label Betawi. Show all posts
Showing posts with label Betawi. Show all posts

Sunday, September 16, 2012

Betawi Orangnya Ramah-ramah

oleh Hasan Al-Jaizy

Bahasa termasuk budaya juga, bukan? Bahasa Betawi, yang sedianya adalah pergeseran bahasa Melayu, adalah ciri khas Betawi [yang sebenarnya keasliannya sudah terkikis]. Dahulu, sebelum kemerdekaan, bahasa penyambung lidah dan hati bangsa Indonesia adalah bahasa Melayu. Dan tanah Batavia, sebagai pusat segalanya, tentu berbahasa Melayu. Dengan letak geografis yang nempel dengan tanah Sunda seperti Bogor, maka dalam beberapa spelling atau pronounciation, ada kesamaan antara Betawi dan Sunda Bogor. Tapi, saya juga ga tahu apa itu. Gubrak, bukan?

Bahasa Betawi, kata orang, adalah bahasa kasar. Tapi, mau pegimane lagi kalo udah dari sononye? Anak Betawi memakai bahasa kasar, nyablak dan tanpa basa-basi. Dan itu menunjukkan karakter asli. Tapi, bukan berarti hati anak Betawi kasar-kasar. Jangan salah.

Saya bisa membuktikan bahwa Betawi tidak kasar dan persoalan kasar, itu di bahasa dan sikap blak-blakan saja. Buktinya: ketika ribuan dan jutaan pendatang [sebagian kecil adalah pengemis] bererot menyerbu Jakarta, anak-anak Betawi redo-redo aje. Tidak ada yang langsung mengusir dan melawan. Bahkan sebagian anak Betawi menyediakan fasilitas kos-kosan, kontrakan dan lapak. Lebih dahsyat dan lebih ramahnya lagi, anak-anak Betawi rela kok diinjak-injak tanahnya, rela dapat petak sempit, rela tanahnya dijual, dan sebagiannya malah rela pindah ke pinggir ibukota. Gubrak, bukan?


Bandingkan Dengan Jawa:

Anak Betawi, Ketinggalan Jaman, Katenye

oleh Hasan Al-Jaizy


[Baca semuanya...Tidak Setengah-setengah]

Sebelum saya lanjutkan, ada perlunya pemberitahuan bahwa mengalir di darah saya darah Betawi, turunan emak, babehnya emak dan seterusnya. Dan saya terlahir plus tumbuh di masa kecil di tanah Betawi, di lingkungan Betawi dan seterusnya. 

Jawara Betawi sendiri yang menyanyikan: 'Anak Betawiii ketinggalan jaman, katenye.' Lalu dilawan dengan bait di lagu yang sama: 'Siape bilang anak betawi ga berbudaye?' Seakan lagu tersebut, yang berkibar di era 90-an, menjadi senjata untuk mendeklarasikan bahwa: 'Anak Betawi gak kayak yang lo sangke'. Hanya sayangnya, lagu yang menjadi theme 'Si Doel Anak Sekula'an' itu malah tidak memberikan jawaban pada tanda tanya dari orang2 Jawa dan selainnya. Yang seharusnya, ada kalimat yang benar-benar menegaskan bahwa Anak Betawi juga punya budaya, ikut perkembangan zaman dan bisa exist.

Wait! Sebentar. Lagu itu rupanya cuma theme atau anthem yang tidak mesti menjawab tanda tanya. Justru kalau kita mau mengamati, serial Si Doel itulah jawaban dari anak-anak Betawi. Karena kala itu, ketika orang2 Jawa, Sunda dan Sumatera mulai mengeroyoki anak Betawi dan mulai menggerogoti tanah dan budaya Betawi, anak Betawi menjawab dengan lugas. Apa Jawabannya? Jawabannya adalah Si Doel Anak Sekolahan.

Juga, Lenong Rumpi di era 90-an adalah jawaban. Saat itu, mernutu saya, acara Lenong Rumpi dan humor-humor Betawi masih lucu. Kalau sekarang, acara humor Betawi tidak lucu lagi. Sungguh ga lucu. Yang lucu malah kelakar Pak Gubernur atau kelompoknya ketika mengatakan, 'Orang Betawi yang ga milih orang betawi sebagai pemimpin kota ini, mendingan minggat aja.' Nah, ini baru lelucon yang berkualitas, merakyat namun berpengaruh pula pada kaum elite.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/440775472630510