oleh Hasan Al-Jaizy
Sekarang, selain dituntut 'pinter dikit', ternyata kita kadang tertuntut untuk modern dikit. Kenapa dituntut pinter dikit? Karena zaman sekarang informasi itu bagaikan banjir tak bermusim. Maksudnya, karena tidak ada musimnya, jadi banjir terus. Tiap hari [pagi, siang, sore, malam] Anda bisa menikmati luasnya pemandangan dunia, baik dengan audio maupun visual. Kenapa tertuntut modern dikit? Karena Uwong ndeso saja sudah kenal HP bagus, sewajarnya uwong kuto harus lebih bagus lagi.
Natijah Tuntutan Pinter
Di antara natijah tuntutan pinter dikit adalah menukil dengan menyebutkan sumber nukilah. Kalau Anda perhatikan buku karya modern, terutama yang berkaitan dengan Syariah [mencakup Aqidah, Al-Qur'an, Hadits, Fiqh, Akhlaq dll], kita mulai terbiasa melihat footnote di hampir tiap halaman. Cobalah Anda beli 5 buku yang semacam itu. Dikit-dikit, ada tulisan H.R. Bukhari, atau nama-nama kitab yang dinukil isinya. Baca buku semacam itu selama 1 bulan. Nah, di bulan kedua, beralihlah ke buku yang kering kerontang akan footnote. Isinya seolah-olah pendapat pribadi penulis, tanpa mengutip dari sumber lain. Anda akan merasa kekeringan. Kenapa? Karena terbiasa bermain di taman yang penuh bunga footnote. Dan ini adalah salah satu bentuk 'pinter dikit'; yaitu tumbuhnya benih kritis dan tidak cepat percaya.