Showing posts with label Thahaarah. Show all posts
Showing posts with label Thahaarah. Show all posts

Thursday, November 15, 2012

Niat Memotong Wudhu

Niat Memotong Wudhu

Kapanpun seseorang berniat memotong suatu ibadah, seperti wudhu atau lainnya, ketika berada di tengahnya, maka terhukumi sebagaimana niatnya. Yakni batal ibadahnya. Dan jika ia ingin kembali melakukannya, maka ia melakukan dari awal.

Seperti ketika seorang siswa berwudhu, lalu berdering bel masuk. Ia pun pergi ke kelas dan melihat rupanya guru belum datang. Inginnya melanjutkan wudhunya. Maka ia tidak boleh meneruskan wudhu yang terpotong tadi. Melainkan harus mengulang dari awal.

Dalilnya [untuk masalah ini] adalah hadits Innama al-a'maalu bi an-niyyaat. Semua amalan tergantung niatnya. Dan karena ia telah meniatkan untuk memotong amalan, maka baginya apa yang ia niatkan. Wallahu a'lam.

[Liqa Al-Bab Al-Maftuuh: 2/14]

Tuesday, June 26, 2012

Anjing dan Liurnya

oleh Hasan Al-Jaizy


Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda:

طُهُورُ إنَاءِ أَحَدِكُمْ إذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ

"Sucinya tempat air seseorang diantara kamu jika dijilat anjing ialah dengan dicuci tujuh kali, yang pertamanya dicampur dengan debu tanah." [H.R. Muslim]


Pertanyaan: "Apakah kotoran dan air kencing anjing setara najisnya dengan liurnya; sehingga tatacara membersihkan dari keduanya harus dengan mencuci 7 kali dan di salah satu kalinya dicampur dengan debu?"

Jawab: Imam An-Nawawy menceritakan adanya 2 pendapat berbeda [dalam madzhab Syafi'i]:

[1] Tidak ada bedanya antara jilatan anjing dengan keringatnya, bulunya, kotorannya dan kencingnya dari segi pencucian. Artinya: Jika sesuatu mengenai salah satu anggota tubuh anjing, kotoran atau kencingnya, maka wajib dicuci 7x salah sekalinya dengan debu.

[2] Selain jilatan, dicukupkan pencucian sekali saja seperti hal-hal najis lainnya secara normal. Ini pendapat Imam Ar-Rafi'i dan dipilih oleh Imam An-Nawawy sebagai pendapat yang lebih kuat. 

[Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab: 2/586]

Jadi: Cukup sekali cuci saja tanpa debu hingga yakin atau mengira secara kuat bahwa najisnya telah hilang dari benda yang dicuci; karena hadits tak menunjukkan selain jilatan.


Air liur anjing dihukumi najis, sesuai dengan pemahaman hadits di atas.

Dalam Madzhab Syafi'i, air yang dikenai sesuatu yang najis, ditinjau dari banyak atau sedikitnya air, agar bisa dihukumi najis atau tidak.

[1] Air sedikit: -2 qullah. 
Jika air tersebut di bawah 2 qullah [sekitar 200 kg; ada yang katakan 220 kg], maka air tersebut najis dan tidak boleh dipakai untuk bersuci.

[2] Air banyak: 2 qullah atau +. 
Jika air tersebut setimbang 2 qullah atau lebih, maka jilatan anjing padanya tak berpengaruh pada kesuciannya.

Wallahu a'lam.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/409963795711678

Air Es Untuk Bersuci

oleh Hasan Al-Jaizy


"Es dan embun saat digunakan untuk bersuci sebelum mencairnya, ditimbang:

Jika ia mengalir ke anggota tubuh disebabkan panasnya cuaca, atau badan atau kelembutan es, maka wudhu tersebut sah. Jumhur Syafi'iyyah menetapkannya karena terjadinya aliran air di anggota tubuh [yang disucikan].
Ada yang mengatakan: 'Tidak sah!' karena hal tersebut tidak bisa dinamakan Ghasl [mencuci]. Ini dikatakan oleh Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad bin Habib Al-Mawardy [penulis kitab Al-Hawy Al-Kabir] dan Abu Al-Faraj Ad-Daarimy [penulis kitab Al-Istidzkaar]. Keduanya adalah imam besar Syafi'iyyah di Iraq."

[Al-Majmu' - An-Nawawy: 1/82] MS


Dalil yang membolehkan bersuci dengan air es dan embun adalah doa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam:

اللهم اغسل خطاياي بالماء والثلج والبرد

"Ya Allah, cucilah [bersihkanlah] kesalahan-kesalahanku dengan air, es dan embun." [H.R. Bukhari]


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/409698245738233

Thursday, June 21, 2012

Air I

oleh Hasan Al-Jaizy


[AIR I]

ولما كان الماء آلةً للطهارة استطرد المصنفُ لأنواع المياه،

"Mengingat karena air itu adalah merupakan alat bersuci, maka pengarang kitab ini [Abu Syujaa'] memandang perlunya menjelaskan macam-macam air tersebut.


Kemudian:

فقال: (المياهُ التي يجوز) أي يصحُّ (التطهير بها سبعُ مِياه: ماءُ السماءِ) أي النازل منها، وهو المطر (وماء البحر) أي الملح، (وماءُ النهر) أي الحلو (وماء البئر، وماء العين، وماء الثلج، وماء البرد). ويجمع هذه السبعة قولك: ما نزل من السماء أو نبع من الأرض على أي صفة كان من أصل الخِلْقَة.

"Beliau berkata: 'Air yang sah untuk bersuci itu ada 7 macam:

1. Air Hujan
2. Air Laut [air asin]
3. Air Sungai [air tawar]
4. Air Sumur
5. Air Sumber [mata air]
6. Air Es 
7. Air Embun 

Ketujuh macam air tersebut di atas, kemudian diringkas menjadi dua, yaitu:
1. Air yang turun dari langit
2. Air yang bersumber dari bumi."

[Fathul Qariib - Muhammad ibn Qasim Asy-Syafi'i]


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/407705695937488

Thaharah

oleh Hasan Al-Jaizy


[Thaharah]

والطَّهارة بفتح الطاء لغةً النظافةُ، وأما شرعًا ففيها تفاسير كثيرةٌ؛ منها قولهم: فعل ما تستباح به الصلاةُ، أي من وضوء وغسل وتيمم وإزالة نجاسة. أما الطُّهَارَة بالضم، فاسم لبقية الماء.

"Kata 'Thaharah' secara bahasa adalah Nadzafah [bersih atau suci]. Secara Syar'i, kata tersebut memiliki banyak penafsiran, di antaranya:

'Suatu perkara [perbuatan] yang menyebabkan seseorang diperbolehkan mengerjakan shalat.' Seperti wudhu, mandi, tayammum dan menghilangkan najis.

Adapun Thuharah, maka artinya adalah 'Kelebihan dari air yang dipergunakan untuk bersuci'."

[Fathul Qariib Al-Mujiib - SYaikh Muhammad ibn Qasim]

Melihat definisi thaharah secara syar'i, memungkinkan beberapa pertanyaan di benak dan serasa kurang puas. Maka kita berikan juga definisi-definis beberapa ulama lain yang bermadzhab Syafi'i tentang Thaharah:

[1] Imam Al-Hushainy:
عبارة عن رفع الحدث أو إزالة النجس أو ما في معناهما أو على صورتهما

"Sebuah ungkapan perihal menghilangkan hadats atau najis atau apa yang sesuai makna dengan keduanya atau bentuk keduanya." [Kifayat Al-Akhyaar: 1/11]

[2] Imam Asy-Syirbiny:
زَوَالِ الْمَنْعِ الْمُتَرَتِّبِ عَلَى الْحَدَثِ وَالْخَبَثِ

"Menghilangkan pencegah yang disebabkan oleh keberadaan hadats dan khabats" [Mughni Al-Muhtaaj 1/60]

[3] Imam An-Nawawy:
رفع حدث أو أزالة نجس أو ما في معناهما وعلي صورتهما

[Al-Majmu Syarh Al-Muhadzdzab: 1/79]

Friday, June 15, 2012

Hadats

oleh Hasan Al-Jaizy

 A. Pengertian Hadats secara Bahasa

Hadats secara bahasa adalah [الشَّيْءُ الْحَادِثُ] : "Sesuatu yang [baru] terjadi"

Syaikh ibn Jibrin -rahimahullah- mengatakan: "Sesuatu yang mewajibkan mandi ataupun yang membatalkan wudhu dinamakan HADATS, karena ia terperbaharui." [Syarh Umdah Al-Ahkaam: 1/8]


 B. Pengertian Hadats secara Istilah

Hadats secara istilah:

1. Syaikh Abdullah Aal Bassaam -rahimahullah-:

[وصف حكمي مقدر قيامه بالأعضاء، يمنع وجوده من صحة العبادة المشروط لها الطهارة.]

"Sifat yang terkira secara hukum keberadaannya di anggota tubuh, yang keberadaannya mencegah sahnya ibadah yang disyaratkan baginya bersuci" [Taysiir Al-Allaam: 1/3]

2. Syaikh Muhammad ibn Al-Utsaimiin -rahimahullah-: 

[وصفٌ قائمٌ بالبدن يمنع من الصَّلاة ونحوها مما تُشْتَرَطُ له الطَّهارةُ]

"Sifat berlaku di badan yang mencegah dari shalat dan amalan lainnya yang disyaratkan baginya bersuci." [Asy-Syarh Al-Mumti': 1/25]

3. Syaikh ibn Jibrin -rahimahullah-:

[ أمر معنوي يقوم بالبدن يمنع من الصلاة ومن الطواف ومن مس المصحف]
"Suatu perkara maknawi berlaku di badan yang mencegah dari shalat, thawaf dan memegang mushaf." [Syarh Umdah Al-Ahkam: 1/8]


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/404167192958005

Wednesday, December 7, 2011

Pengertian Air Suci Mesucikan dalam Madzhab Syafi'i

oleh Hasan Al-Jaizy

Pengertian Air Suci Mesucikan [الطاهر المطهر] dalam madzhab Syafi'i:

الماء المطلق الباقي على وصف خلقته التي خلقه الله عليها 

"Air mutlak yang tetap pada sifat kewujudan aslinya yang dicpitakan oleh Allah"



ولا يخرجه عن كونه ماء مطلقاً تغيره بطول مكث، أو بسبب تراب، أو طحلب أو تغيره بسبب مقرّه أو ممرّه كوجوده في أرض كبريتية، أو مروره عليه

"Dan tidak mengeluarkan dari wujudnya sebagai air mutlak: 
1. Perubahan sifatnya disebabkan oleh lama tergenang, atau karena debu/tanah, atau lumut, atau
2. Perubahannya disebabkan tempat air tersebut tergenang/tersimpan atau tempat mengalirnya, seperti keberadannya di tanah belerang, atau karena mengalir di tanah tersebut [sehingga mengubah bau atau warnanya



Sumber:

Kitab Al-Fiqh Al-Manhajy ala madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i
[الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي]

oleh: الدكتور مصطفى الخن و الدكتور مصطفى البغا وعلي الشربجي


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/288287741212618