Saturday, December 22, 2012

CAT : [54] "DIA BELUM TENTU INGIN BERGAYA"


oleh Hasan Al-Jaizy


Seseorang mengeluh menumpahkan rasa sebalnya, "Gue heran sama si Panjul. Anak kemarin sore baru ngustadz tadi pagi tapi lagak bibirnya kayak ngarab-ngarab gitu. Baru aje die selese ceramah di mesjid depan kite-kite. Kagak inget kayaknye kite biasa nongkrong ngobrol pake bahasa kampung biasa. Tadi lagaknye kayak Wan Abud baru dateng Haji dari Arab aje, banyak kata gak bisa dipahamin. Lagenye kayak orang gede!"

Bisa difahami keluhan itu. Kita juga harus memahami bahwa orang ini tidak faham gejala yang terjadi pada si Panjul. Karena seseorang yang tidak merasakan langsung, tidak memahami seluruhnya.

Seorang penceramah pemula, tidak bisa dituntut sehebat penceramah senior; karena pemula adalah pelajar. Ia masih BELAJAR ceramah. Kalau menuntut muqallid untuk berlaku seperti mujtahid, maka Anda lebih rendah dari muqallid.

Seorang thalib yang belajar agama langsung pada syaikh, atau ustadz dengan bahasa Arab, secara otomatis akan memberikan influence dan pengaruh pada dirinya. Lalu ditambah gizi dan vitamin dari kitab-kitab. Banyak sekali istilah-istilah syar'i yang secara otomatis akan diucapkan pegiat ilmu Syariah dalam pembelajaran ataupun pengajaran.

Istilah Ghuluw, misalnya. Kalau diartikan ke bahasa nasional: 'berlebih-lebihan' atau 'melampaui batas'. Kalau mau lebih gaul, Ghuluw bermakna 'lebay'. Saya fikir Anda tidak usah menyalahkan khatib atau penceramah ketika mengatakan, "Islam melarang ghuluw dalam beragama!" Karena kata tersebut sudah terceplos secara otomatis.

Jangan langsung mengatakan bahwa penceramah yang sering mengeluarkan istilah2 gharib bin aneh berarti ia sedang bergaya. Jangan karena kejahilan dan ketidaktahuan kita akan istilah2 tersebut, lantas kita menyalahkannya begitu saja. Saya teringat dengan daurah Ust. Abu Qotadah cs di Kalimantan awal 2006 dulu. Salah seorang ustadz dalam kajiannya berkata, "Ana yakin antum banyak yang bingung karena ana dan para asaatidzah sering mengucapkan istilah2 Arabic yang aneh. Itu bukan salah kami. Itu salah antum. Siapa suruh tidak belajar Arabic?" Setelah kalimat itu, jema'ah satu masjid langsung berbondong belajar bahasa Arab.

Ceramah dengan bahasa merakyat dan difahami mayoritas manusia dengan baik itu tidak mudah; karena -seperti yang saya katakan tadi- banyak istilah yang sering 'keceplosan' diucapkan tanpa berfikir bahwa audiens belum tentu fahaminya. Terlebih jika penceramahnya masih pemula. Sudah SYUKUR ia masih mau belajar berdakwah dan ceramah. Sudah SYUKUR ia bisa memulai mentransfer ilmu ke hadirin.

Sekarang, kiaskan dengan diri Anda. Misalnya, kataklah Anda adalah seorang doktor. Sekarang, ceramahlah di depan umat tentang pembedahan perut manusia. Saya yakin pasti Anda akan menceploskan beberapa istilah yang sangat familiar bagi Anda namun asing bagi wong ndeso. Satu contoh saja. Sekarang, belajar agama tentu memperkaya istilah2 dan wacana. Memangnya mudah membumikan istilah dan kalimat? Bahkan tidak semua ayat atau hadits bisa diterjemahkan seenaknya saja.

Karena itu, guru agama harus diapresiasi meski mungkin ada kekurangan secara individual. Untuk mengungkap materi dengan bahasa merakyat dan bisa difahami oleh akal-akal berbeda itu tidak semudah manusia mengomentari pertandingan bola.

Sekarang, justru baiknya kita ngaca masing-masing. Ketika kurang mengerti maksud penceramah karena ada beberapa istilah asing, salah siapa tidak mengerti? Apa si penceramah harus mendefinisikan semuanya?

You akan merasakan jika you berposisi seperti dia.

http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/477053709002686

CAT : [53] "DALAM KERAGAMAN"


oleh Hasan Al-Jaizy


Dalam keragaman, bukan klaim dan pengakuan yang dibutuhkan. Tetapi sosialisasi dan amalan lebih diminta ia punya perwujudan. Justru klaim dan pengakuan [self-proclaiming] seringkali menimbulkan kerutan di dahi manusia tak segolongan. 

Setelah membaca tulisan teman sekelas saya ini: [http://www.facebook.com/saed.clpy/posts/303411959778414] yang berjudul 'Aku Muhammadi Bukan Muhammadiyah', saya tertarik menulis tulisan ini. Pemuda asal Cilacap ini memang sedang gencar dan semangat menulis. Salah satu hal yang membuatnya termotivasi menulis adalah pembahasan tentang ikhtilaf dan tanawwu' di lapangan.

Sekarang, ada pertanyaan:

"Bangsa Indonesia, ada berapa suku [atau katakan sub-ras]?"

Katanya, ada ratusan. Baiklah. Sekarang, saya bertempat tinggal di daerah Kalibata, Jakarta. Masukkan semua perwakilan dari tiap suku di Indonesia ke daerah saya untuk tinggal menetap

Friday, December 21, 2012

CAT : [52] "JANGAN MERASA SUDAH BENAR!"


oleh Hasan Al-Jaizy


"Jangan juga merasa sudah salah," jawab Aliel, pentolan partai JSL Jaringan Sa'karep Lambene, sebuah partai peliharaan kerajaan.

Waduh, kalau begitu, saya harus merasa apa? Atau, saya harus tidak merasa apa-apa? Jadi, posisi perasaan saya ada di mana?

"Kamu harus mengerti, anak muda, bahwa kebenaran itu sifatnya relatif. Ketika kamu meyakini sebuah kebenaran, jangan yakini itu sudah benar."

Lho, kalau itu tidak boleh diyakini sudah benar, bagaimana sampeyan disebut 'kebenaran'?

"Memang itu bernama 'kebenaran', tapi kebenaran itu tidak menjadikan engkau sudah benar," ungkap Aliel.

Walah, Pak. Saya jadi pening. Sampeyan kalau bicara mbok jangan berbelit-belit begitu.

CAT : [51] "NAKAL 25 DESEMBER"


oleh Hasan Al-Jaizy


Sebentar lagi 25 Desember. Katanya ada perayaan kelahiran Yesus Kristus. Tanggal itu sakral bagi sebagian manusia. Recommended untuk yang kemarin hari merayakan Maulid Nabi Muhammad. Tidak heran kalau mereka ikut-ikutan merayakan kelahiran Nabi lain [Nabi Isa] yang dianggap tuhan oleh umat lain.

Pak De Su'aid tiba-tiba menyangkal, "Kami tidak akan merayakan perayaan agama lain! Itu tradisi mereka! Kita punya tradisi Islami sendiri. Dan itu masalah buatmu, anak muda?"

Betapa Pak Su'aid mungkin sedang alpa bahwa ada yang mengatakan sesungguhnya peringatan 40 harian dan semacamnya adalah hasil adopsi atau pernikahan antara 2 agama dalam bentuk praktek ritual. Itu tradisi siapa? Nabiku dan Nabimu serta para sahabatnya tidak kenal tradisi

Tentang Catatan Akhir Tahun


oleh Hasan Al-Jaizy

Tentang Catatan Akhir Tahun

Alhamdulillah, akhirnya bilangan 50 'nyampe' juga untuk status serial 'Catatan AKhir Tahun'. Penulis ingin mengungkapkan kepada pembaca jawaban-jawaban untuk pertanyaan ini:

[1] KENAPA disebut Catatan Akhir Tahun?
[2] KENAPA diberi nomor [urut]?

Jawaban:

[1] Karena momennya memang akhir tahun 2012. Dan tidak hanya itu, kata 'catatan' itu seolah menunjukkan bahwa ini adalah kumpulan tulisan di akhir tahun. Saya hendak menunjukkan pada siapapun -tanpa meninggi- bahwa tiap-tiap kita BISA membuat catatan dan PUNYA.

[2] Dengan adanya nomor urut, saya sejujurnya berharap siapapun agar terpincut dan