Monday, February 4, 2013

Mengenang Suyuthi Barang Sekali


oleh Hasan Al-Jaizy

Suyuthi pulang ke kampung. Sorenya ia tiba di ambang pintu rumah. Terucap salam darinya; ibunya sedang terduduk di kursi...sendirian. Karena memang tidak punya apa-apa ia selain Sayuthi dan adiknya yang sedang mondok. Sayuthi pun adalah seorang ustadz di sebuah pondok.


Bermenit berlalu bercengkrama, Suyuthi mulai mengucurkan isi hatinya. 'Bu, aku mau berhenti ngajar di pondok.' Sang ibu kaget bukan kepalang, 'Kenapa mau berhenti, nak?'

'Gajiku terlampau sedikit, Bu. Padahal bertahun sudah ku mengabdi pada santri. Aku merasa miskin dan malu. Teman-teman lamaku sudah menikah dan berbangga; sementara aku di sini hanya berlumuran jengah dan papa.'

Ibu terdiam...

'Bukankah guru di manapun harus bergaji kecil? Tidakkah fikirmu akan pahala dan jasa mendidik anak manusia?' Ibu bertanya tiba-tiba.

Sunday, February 3, 2013

Mengadili Kuburan Keramat

oleh Hasan Al-Jaizy

Pertama, saya pribadi kangen dengan sosok Pak Dr. Daud Rasyid.

Kedua, nasehat Pak De Sa'id periode Mekkah untuk Pak De Sa'id periode Hizby sudah tersebar. Nasehat PK setengah S untuk PKS sedang disebar. Dan yang menyebarnya sekarang adalah ikhwah salafiyyuun, sebagai bentuk nasihat untuk saudaranya. Padahal sebenarnya sudah lama. Nah, suatu saat, jika ada nasehat dari Waskito AM aka Ath-Thaliby atau orang semacamnya untuk ikhwah salafiyyiin, mohon berlapang dada dan jangan langsung berpaling muka seolah-olah tidak punya dosa. Seperti yang tak sekali terjadi. Senang menasehati orang luar, rela dinasehati orang dalam, namun kurang berkenan dinasehati oleh orang yang dianggap bukan daleman. Just be fair lain kali.

Ketiga, setiap hizb senang dengan aturan dan kebersamaan sesama. 

Keempat, semakin hari politikus semakin banyak, bercokol di wall FB. Tidak masalah berkomentar dan mengeluarkan isi fikiran. Tapi, once again, try to be fair; karena adakalanya penasehat itu salah dalam bertingkah. Jika dinasehati orang luar, jangan salah tingkah.

Kelima, whatever...topik hizbiyyah (baik itu hizbiyyah resmi seperti ormas atau partai, maupun hizbiyyah terselubung seperti para fanatics pada gurunya atau hizbiyyah tembakan seperti dituding hizby karena berteman dengan kawan partai) adalah topik asin. Makan yang asin-asin sekali-kali enak. Namun, hati-hati jika terlalu sering, karena membahas hal-hal semacam itu terlalu sering, justru menaikkan tensi dan malah jadi kelihatan sebenarnya dia sendiri juga ber-hizb.

AIR MATA

oleh Hasan Al-Jaizy


Berzaman sudah tiada tangisku. Lalu fikirku kapan lagi bisa ku menangis.

Sempat berfikir kunjungi tempat-tempat yang pernah aku menangis di atasnya. Namun ku ingat air mataku telah mengering. Tak tertemu lagi. Takkan mampu dipungut.

Sempat berfikir meminjam mata-mata sayu milik mereka yang kukenal baik. Namun kuingat betapa rendahnya aku tuk menangis pun apa perlu meminjam mata.

Pernah berfikir mengumpulkan air-air mata penceramah dan khutabaa' di singgasana mereka. Namun mengapa kurasa mereka hanya penjual air mata yang dibeli manusia demi kehormatan dan pujian? Sementara aku tak membutuhkan air mata dagangan.

Lalu aku pun menjepit diriku sendiri di pintu kesengsaraan. Menahan perih lapar dan raungan haus. Mengoyak baju dan kulit. Yang ku dapatkan hanya ringisan dan sakit. Namun mataku tak hendak menyungai airnya.

Kusaksikan dan kubaca kisah-kisah cinta mengharu. Namun di sana kutemukan kepalsuan dan kedustaan dibuat-buat.

Kutemukan mushaf usang berkulit jaring laba-laba. Kubersihkan dan kutiup. Kubuka isinya. Al-Fatihah. Dan kutemukan hulu dan hilir sungai air mata di kalimat "Ihinash shiraathal mustaqiim"


Kalau Baru Selintas, Jangan Diomongi!

oleh Hasan Al-Jaizy


"Kalau Baru Selintas, Jangan Diomongi!"

Kalau memang berniat ingin memberi (sedekah) pada orang lain, baiknya jangan sekadar lafadz, "Saya ingin memberi dana ke fulan (B)" lalu disampaikan melalui A menuju B. Jangan sekadar lafadz, baik lisan maupun tulisan.

Dengan kabar dari A, maka B akan berbesar harapan; karena merasa ada yang akan membantunya. B tidak bisa disalahkan akan harapannya. A pun hanya menyampaikan kabar gembira.

Namun, jika kemudian calon pemberi sedekah ini lupa akan lafadznya, ini sangat tidak baik. Sangat tidak baik. Bahkan bisa mencederai hati manusia. B memang sebelumnya tidak ngarep; tetapi tentu ketika dibukakan pintu harapan, ia menjadi ngarep. Ini manusiawi sekali; terlebih dalam keadaan sulit. Ia akan kecewa dan malah menambah tidak enaknya hati.

Begitu pula A, sebagai penyampai kabar. Ia juga merasakan tidak enaknya. A , jika mau menanyakan atau menagih, ia pun tidak enak. Kesannya seperti peminta-minta. Terlebih B, yang tidak kenal dengan si calon pemberi. B jauh lebih malu lagi.

Saran kami: Jika Anda ingin melakukan sesuatu berkenaan dengan maslahat orang lain, selama itu BARU SEBATAS FIKIRAN TERLINTAS, lebih baik tidak usah diucapkan dulu. Jika memang sudah bertekad, kabarkanlah dan jangan lupakan ucapan setengah janji.

Ini lebih terjadi pada wanita; karena baru sekali terlintas fikiran, langsung diwartakan. Ini bisa berdampak negatif.

Saturday, February 2, 2013

Ku Tahu Yang Ku Mau

oleh Hasan Al-Jaizy


 Ku Tahu Yang Ku Mau

2013, tahun terakhir saya ngampus di Kampus Biru mudah-mudahan. Sebelum lulus, kudu meninggalkan jejak di beberapa sektor, terutama sektor dunia maya ini. Kenapa mematok sebelum lulus kuliah? Karena alam lulus kuliah itu tak selonggar alam kuliah, dari segi tanggung jawab, pekerjaan dan waktu. Karena itu, mahasiswa yang merasa punya kemampuan, skill atau kelebihan di satu sektor, ia HARUS mengexplore, bereksperimen, mengasah dan mendalaminya sebelum kesibukan dan raungan tangis anak bayi mengaburkan konsentrasinya. Lalu tuangkan itu semua ke berbagai tempat.

Seperti istilah yang berkali-kali diucapkan Syaikh Al-Arify, Dha' Bashmatak, atau enaknya diterjemahkan: "Cetak cap jempolmu!", "Taruh Jejakmu!"

Seperti beliau yang mencetak jejak di Somalia, Libya, Meskir, Saudi apalagi, Yaman, Suriah, Palestina, Amerika, Malaysia, dan mana-mana. Ah, beliau kan sudah punya nama. Sudah bergelar doktor dan senior. Mau cetak jejak di mana-mana tinggal masuk jadwal saja.

Tapi, bagi kita yang belum mampu sedahsyat beliau, setidaknya cetaklah jejak di sektor yang kita mampu. Kalau tidak mampu di dunia maya, ya di dunia nyata. Kalau tidak mampu di dunia nyata, ya di dunia maya. Tapi, kalau mencetak jejak di dunia maya, akan ada yang kritik begini: 'Cuma bisa di dunia maya ajah!' Kritik ini benar dan bagus. Karena memang dunia nyata selayaknya lebih diporsikan. Namun, baiknya fahami pula bahwa keberadaan dua dunia ini tidak semua orang bisa menguasai keduanya dengan seimbang. Tidak semua orang berdaya sehingga bisa berjaya di dunia nyata.